Anda di halaman 1dari 9

PROSES PRODUKSI GARAM

Oleh : Sukino Subiyantoro

Produktivitas pembuatan garam masih rendah, menurut


catatan dalam satu tahun Indonesia membutuhkan garam
sekitar 2,1 juta ton. Namun Indonesia hanya mampu
memenuhinya sebesar 1 ,12 juta ton. Sisa kebutuhan
sebesar 900 juta ton garam masih diimpor.

A. PENDAHULUAN Pembuatan garam dapat dilakukan dengan beberapa


kategori berdasarkan perbedaan kandungan NaCl nya
Garam merupakan salah satu kebutuhan yang sebagai unsur utama garam., Jenis garam dapat dibagi
merupakan pelengkap dari kebutuhan pangan dan dalam beberapa kategori seperti; kategori baik sekali,
merupakan sumber elektrolit bagi tubuh manusia. baik dan sedang. Dikatakan berkisar baik sekali jika
Walaupun Indonesia termasuk negara maritim, namun mengandung kadar NaCl >95%, baik kadar NaCl 90–
usaha meningkatkan produksi garam belum diminati, 95%, dan sedang kadar NaCl antara 80–90% tetapi yang
termasuk dalam usaha meningkatkan kualitasnya. Di diutamakan adalah yang kandungan garamnya di atas
lain pihak untuk kebutuhan garam dengan kualitas baik 95%.
(kandungan kalsium dan magnesium kurang) banyak
diimpor dari luar negeri, terutama dalam hal ini garam Garam industri dengan kadar NaCl >95% yaitu sekitar
beryodium serta garam industri. 1.200.000 ton sampai saat ini seluruhnya masih
diimpor, hal ini dapat dihindari mengingat Indonesia
Indonesia termasuk Negara kepulauan, tetapi pusat sebagai negara kepulauan.
pembuatan garam terkonsentrasi di jawa dan Madura,
yaitu Jawa seluas 10.231 Ha ( Jawa Barat 1.159 Ha, Jawa
Tengah seluas 2.168 Ha, Jawa Timur 6.904 Ha) dan
B. METODE PEMBUATAN GARAM
Madura 15.347 Ha (Sumenep 10.067 Ha, Pemekasan
3.075 Ha, Sampang 2.205 Ha) luas area yang dikelola
Proses pembuatan garam dibagi dalam empat tahap
oleh PT,Garam hanya 5.116 Ha yang seluruhnya berada yaitu:
di Pulau Madura yaitu di Sumenep 3.163 Ha,
Pemekasan 907 Ha dan di Sampang 2.205 Ha. Lokasi 1. Penyiapan lokasi penggaraman
lainnya yaitu Nusa Tenggara Barat seluas 1.885 Ha,
2. Sarana dan Prasarana
sehingga luas areal penggaraman seluruhnya sebesar
30.658 Ha sejumlah 25.542 Ha dikelola secara 3. Lokasi penggaraman
tradisional oleh rakyat.
4. Produksi garam
Kualitas garam yang dikelola secara tradisional pada
umumnya harus diolah kembali untuk dapat dijadikan
garam komsumsi maupun garam industri.
1. Penyiapan Lokasi Penggaraman
Areal penggaraman yang dikelola oleh rakyat cukup Proses pembuatan garam yang sederhana adalah
luas, sedangkan produksi dan hasilnya belum sesuai menguapkan air laut sehingga mineral-mineral
untuk dapat dijadikan garam komsumsi maupun garam yang ada di dalamnya mengendap. Hanya saja
industri. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan, untuk mineral-mineral yang kurang diinginkan sedapat
membuat garam dengan beberapa kategori berdasarkan mungkin hanya sedikit yang dikandung oleh garam
perbedaan kandungan NaCI- nya sebagai unsur utama yang diproduksi.
garam. Lahan pembuatan garam dibuat berpetak-petak
secara bertingkat, sehingga dengan gaya gravitasi

1
air dapat mengalir ke hilir kapan saja dikehendaki. antara 10 – 30 cm dengan luasan lahan 40 %
Dalam tulisan ini diberikan dua model peningkatan dari total lahan tambak garam.
mutu garam, yaitu mengendapkan Ca dan Mg 3. Kolam Penampungan Air Tua
dengan menggunakan Natrium Karbonat atau Kolam ini berfungsi sebagai tempat
Natrium Oksalat yang dikombinasikan dengan cara penampungan air tua (20 Be).
pengendapan bertingkat. Kedalaman air pada kolam ini paling tidak 10
Kalsium dan magnesium sebagai unsur yang cukup cm. Luas kolam 20 % dari total lahan tambak
banyak dikandung dalam air laut selain NaCl perlu garam.
diendapkan agar kadar NaCl yang diperoleh 4. Meja Garam (Kristalisasi)
meningkat. Kalsium dan magnesium dapat Petakan ini berfungsi sebagai petakan
terendapkan dalam bentuk garam sulfat, karbonat penguapan garam, kedalaman air pada
dan oksalat. Dalam proses pengendapan atau petakan ini sekitar 5 cm. Luas kolam sekitar
kristalisasi garam karbonat dan oksalat mengendap 15 % dari total areal lahan.
dahulu, menyusul garam sulfat, terakhir bentuk 5. Pintu air
garam kloridanya. Terdiri dari pintu air pemasukan dan pintu
Prinsip dasar dari proses pembuatan garam yang air pengeluaran yang berfungsi memasukkan
dilakukan adalah menghasilkan garam yang dan mengeluarkan air.
kualitasnya lebih baik. Untuk itu, diperlukan studi 6. Saluran air tua.
lapangan yang menunjang kualitas garam antara Berfungsi menyalurkan air muda dari
lain kondisi lahan yang digunakan, kemiringan, uji penampungan ke peminihan. Lebar saluran
laboratorium, termasuk kondisi iklim dan disesuaikan dengan luas lahan pegaraman
sebagainya, sehingga dihasilkan garam sesuai 7. Gudang
kualitas yang diharapkan Berfungsi sebagai tempat penyimpanan
Data yang diperlukan yaitu : garam setelah dipanen. Volume gudang
• Evaporasi / penguapan (tinggi) penyimpanan di sesuaikan dengan kapasitas
• Kecepatan dan arah angin (>5 m/detik) produksi. Gudang tidak boleh bocor dan
• Suhu udara (>32°C) terkena rembesan air hujan.
• Penyinaran matahari (100%) b. Peralatan
• Kelembaban udara (<50% H) 1. Mesin pompa air
• Curah hujan (rendah) dan hari hujan (kurang) Berfungsi untuk memompa dan mengelirkan
• Pasang surut air dari petakan yang satu ke petakan yang
lain apabila di butuhkan.
2. Beaumemeter
Berfungsi untuk mengukur konsentrasi kadar
2. Sarana dan Prasarana
garam pada air laut.
a. Sarana:
3. Kincir Angin
1. Kolam Penampungan Air laut
Berfungsi untuk memompa air secara
Kolam ini berfungsi untuk menampung air
manual menggunakan tenaga angin.
laut (3 be), kedalaman air maksimal 1 meter
4. Guluk
dan luasan kolam paling tidak 25 % dari total
lahan tambak garam. Berfungsi untuk meratakan dasar petakan
garam pada meja garam.
2. Kolam peminihan (penguapan)
5. Waring, Ember, Karung, Terpal serta peralatan
Kolam ini berfungsi sebagai kolam
lain yang dibutuhkan dalam operaional
penguapan. Pada kolam inilah air laut
tambak garam.
dengan kadar garam 3 – 3,5 Be di uapkan
sehingga mencapai konsentrasi > 16 Be dan
c. Prasarana:
siap di kristralkan di meja – meja garam.
1. Pematang sekitar (pematang keliling).
Kedalaman air pada kolam ini bervariasi
2. Pematang waduk.

2
3. Saluran pemasukan. tepat untuk diterapkan perkembangan teknologi
4. Saluran air muda. dan ekonomi di Indonesia pada waktu sekarang.
5. Pematang peminihan dan pematang
penghalang. Pada dasarnya pembuatan garam dari air laut
6. Pematangan meja-meja. terdiri dari langkah-langkah proses pemekatan
7. Saluran pembuangan. (dengan menguapkan airnya) dan pemisahan
garamnya (dengan kristalisasi).
8. Jalan (akses transportasi)

3. Lokasi Penggaraman
Tanah untuk penggaraman yang dipilih harus A. Teknik Pembuatan Garam
memenuhi kriteria yang berkaitan dengan 1. Teknik Tradisional
ketinggian dari permukaan laut, topografi tanah, Pembuatan garam rakyat di Indonesia yang
sifat fisis tanah, kehidupan (hewan/tumbuhan) dan ada saat ini rata-rata masih menggunakan
gangguan bencana alam. teknik yang masih tradisional dimana hasil
a. Letak terhadap permukaan air laut : produksi baik secara kualitas maupun
  kuantitas masih rendah. Kondisi ini terjadi
Untuk mempermudah suplai air laut
Untuk mempermudah pembuangan karena penerapan proses produksi pada
b. Topografi : teknik tradisional masih sederhana

Dikehendaki tanah yang landai atau kemiringan teknologinya. Alur proses produksi yang
kecil. biasa diterapkan para petani garam di

Untuk mengatur tata aliran air dan Indonesia yaitu air laut (3 Be) dimasukkan
meminimilisasi biaya konstruksi
dalam petak penampungan air laut
c. Sifat fisis tanah :
(tandon) kemudian air tersebut dialirkan
Dikehendaki sifat-sifat :

Permeabilitas rendah pada beberapa petak peminihan dengan

Tanah tidak mudah retak tujuan untuk menguapkan air laut
Pasir : Permeabilitas tinggi sehingga kandungan garam didalamnya
Tanah liat : Permeabilitas rendah akan semakin pekat (16 Be) seiring
Retak pada kelembaban perjalanan air laut tersebut dari petak
rendah peminihan yang satu ke petak peminihan
Untuk peminihan tanah liat untuk yang terakhir (penampungan air tua). Dari
penekanan resapan air (kebocoran) petak pemihan ini selanjutnya air yang
Untuk meja-meja campuran pasir dan tanah konsentrasi kandungan garamnya makin
liat guna kualitas dan kuantitas hasil tinggi ini langsung di alirkan ke meja garam
produksi untuk di kristalkan. Tahapan-tahapan pada
d. Gangguan kehidupan : teknik tradisional ini memerlukan waktu

Tanaman pengganggu yang cukup lama (> 10 hari) untuk

Binatang tanah
menghasilkan garam yang kualitasnya juga
e. Gangguan bencana alam :
masih rendah. Rendahnya kualitas garam
Daerah banjir / gempa / gelombang pasang
tersebut bisa disebabkan oleh kandungan
NaCl yang kurang karena proses produksi
4. Produksi Garam
yang masih sangat sederhana dan cara
Ada bermacam-macam cara pembuatan garam panen yang seringkali mengakibatkan
yang telah dikenal manusia, tetapi dalam tulisan ini lumpur dasar petakan masih melekat pada
hanya akan diuraikan secara singkat cara garam.
pembuatan garam yang proses penguapannya
menggunakan tenaga matahari (solar evaporation),
mengingat cara ini dinilai masih

3
Gambar. Pola Teknik Tradisional

Gambar. Pola Teknik Semi Intensif


2. Teknik Semi Intensif
Pada proses pembuatan garam
menggunakan teknik semi intensif
3. Teknik Back Yard
membutuhkan modifikasi lahan tambak
Pembuatan garam secara sederhana tanpa
dengan penambahan ulir pada tahap
memerlukan lahan tambak yang sangat
peminihan dengan tujuan untuk
luas tetapi memanfaatkan pekarangan
mempercepat proses penuaan air.
rumah sebagai lahan produksi garam.
Penambahan ulir disini dimaksudkan untuk
Bahan baku air tua ini dapat di datangkan
mempercepat penguapan pada air laut
dari tambak-tambak garam yang sengaja
sehingga saat tiba di petak penampungan
membuat air tua untuk didistribusikan
sudah mencapai 20 Be dalam waktu yang
pada usaha pembuatan garam
lebih singkat apabila kondisi cuaca dan
menggunakan backyard. Jadi dengan
iklim memungkinkan.
teknik ini terdapat beberapa elemen usaha
Pada teknik semi intensif ini, ulir dibuat
yang saling mendukung, saling
berbentuk petakan – petakan kolam tanah
membutuhkan dan saling menguntungkan.
yang berkelok – kelok dengan dasar yang
Bahan baku dapat berupa air tua dengan
tidak rata untuk membuat arus air secara
kadar kepekatan minimum 20 Be sehingga
alami sehingga terjadi proses penguapan
langsung mengalami tahap kristalisasi.
yang di bantu cahaya matahari dan angin.
Untuk membuat air tua tersebut menjadi
Dengan adanya ulir ini diharapkan dapat
Kristal-kristal garam maka dapat di buat
mempercepat waktu penuaan air laut
meja kristalisasi menggunakan terpal
sehingga proses produksi dapat lebih
plastic sehingga bebas bocor, mudah
singkat. Ketinggian air pada ulir berkisar
dirawat dan dapat dipindahkan. Luas meja
antara 10 – 20 cm. Perbandingan luas
kristalisasi minimal 2,4 m x 1,2 m x 0,04 m.
lahan peminihan dengan lahan kristalisasi
Proses kristalisasi air tua dilakukan dengan
adalah 65 : 35. Meja kristalisasi dapat
penyinaran matahari. Diusahakan letak
dilapisi terpal plastik sehingga bebas bocor,
meja kristalisasi ini mendapatkan sinar
mudah dirawat dan dapat segera
matahari penuh dari pagi sampai sore atau
digunakan bila musim garam tiba.
tidak tertutup oleh pepohongan atau
bangunan.

4
2. Penampungan Air Tua
Proses penampungan air tua yang harus
dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Air dari petak peminihan (16 s.d 20 Be)
selanjutnya ditampung dalam petak air
tua
2. Ketinggian air pada petak air tua 30 cm
3. Air dalam petak air tua dapat dialirkan
ke meja-meja garam dan dilakukan
secara terus - menerus.
3. Pengolahan Tanah dan Air di Meja-meja
Gambar. Pola Teknik Back Yard Beberapa tahapan dalam pengolahan
tanah di meja garam dilakukan sebagai
berikut:
B. Proses Produksi Garam
1. Peminihan (Penguapan) 1. Pengeringan pendahuluan dilakukan
sebelum atau pada waktu air laut
Setelah dari kolam penampungan (air laut
dialirkan untuk menghilangkan lumut-
3 Be) dialirkan ke petak peminihan
lumut. Pengeringan pertama dilakukan
(penguapan). Berikut ini merupakan alur
mulai dari meja terendah dalam satu
proses dalam kolam peminihan :
seri, sehingga konsentrasinya
a. Selama tiga hari pertama air laut yang
mencapai maksimum 3 – 6 °Be.
keluar masuk digunakan untuk
membersihkan waduk dari air hujan 2. Pemadatan dengan menggunakan
atau air tawar. Mulai hari keempat guluk pertama pada meja dilakukan
sesuai dengan perkembangan iklim, setelah pengeringan pertama selesai
air laut mulai ditahan di dalam tambak dan lahan dijemur hingga kering
sampai konsentrasi minimal 2 °Be atau selama 1 – 2 hari, kemudian dasarnya
20 gram/liter. dipemadatan dengan menggunakan
guluk menggunakan pemadatan
b. Setelah seluruh areal peminihan
dengan menggunakan guluk kayu.
terendam air laut pintu air ditutup,
sehingga tebal air di peminihan sesuai 3. Setelah meja mengalami proses
dengan urutan-urutannya memiliki pengeringan pertama dan pemadatan
ketebalan minimal 7,5 cm. dengan menggunakan guluk pertama
konsentrasi air akan mencapai
c. Bersamaan dengan pengaturan
maksimum 10 –14 °Be. Selanjutnya
ketebalan air laut pada peminihan
dilakukan pengeringan kedua yang
dimulai pekerjaan penimbangan
secara teknis sama dengan
konsentrasi air laut pada pintu air
pengeringan pertama.
utama, di dalam tambak (sedikitnya di
3 tempat kalau tambaknya sangat luas) 4. Pemadatan dengan menggunakan
dan pada masing-masing peminihan guluk kedua dilakukan 1 – 2 hari
tepatnya pada tempat-tempat dimana setelah pengeringan kedua pada
terdapat patok ukuran air yang kondisi dasar meja dalam keadaan
dipasang. kering. Pelaksanaan teknis pemadatan
dengan menggunakan guluk kedua
d. Air laut ditimbang dengan Baume
sama seperti pemadatan dengan
meter, pencatatan dilakukan secara
menggunakan guluk pertama sehingga
tertib setiap hari selama musim
pembuatan garam. dasar meja yang sudah menjalani
proses pengeringan kedua dan
pemadatan dengan menggunakan

5
guluk kedua benar- benar bersih, rata, 5. Kristalisasi
keras dan padat.
5. Setelah air di dalam meja yang telah Setelah proses meja LAT berakhir terjadi
dipengeringan kedua dan pemadatan kristalisasi garam, selanjutnya dilakukan
dengan menggunakan guluk kedua, pemeliharaan proses kristalisasi dalam meja
konsentrasi air akan mencapai yang sudah LAT dengan menambahkan air
maksimum 20 – 23 °Be selanjutnya tua yang memiliki konsentrasi 25 - 29 °Be
dilakukan pengeringan terakhir pada setiap hari ke dalam meja serta tetap
meja tersebut. menjaga ketebalan air minimal 5 cm, ke
dalam meja kristal dilakukan penambahan
6. Pemadatan dengan menggunakan
brine dengan konsentrasi minimal 25 – 26
guluk terakhir dilakukan 1 – 2 hari
°Be.
setelah pengeringan terakhir dan pada
kondisi dasar meja dalam keadaan
Pada sistem pemanenan yang dilakukan PT.
kering. Pelaksanaan teknis pemadatan
GARAM (Persero), kristal garam dipelihara
dengan menggunakan guluk terakhir
selama 30 hari sebelum dilakukan perataan.
sama dengan pemadatan pertama dan
Selang waktu dari LAT ke proses perataan
kedua, dilakukan dengan selama 30 hari. Lapisan garam yang berumur
menggunakan guluk beton besar 30 hari disebut lantai garam yang menjadi
sebagai syarat untuk persiapan lepas dasar pada pemanenan garam selanjutnya.
air. Pada metode maduris kristal garam
4. Pengeluaran Air Tua (Lepas Air Tua) dipelihara selama 15 – 20 hari, setelah itu
langsung dipungut diatas lantai tanah.
Setelah meja mengalami proses
pengeringan terakhir dan pemadatan 6. Pemanenan
dengan menggunakan guluk terakhir, serta 1. Jenis pemanenan garam Terdiri dari dua
konsentrasi air yang ada diatasnya telah sistem yaitu:
mencapai 25 Be, selanjutnya Lepas Air Tua a. Sistem Portugis
(LAT) pada meja tersebut dapat dilakukan.
Pungutan garam di atas lantai garam,
Proses LAT adalah sebagai berikut : yang terbuat dari kristal garam yang
dibuat sebelumnya selama 30 hari,
1. LAT dilakukan antara jam 10.00 s/d
berikut tiap 10 hari dipungut.
13.00, pada konsentrasi 25 Be.
2. LAT pada meja-meja lainnya berurutan b. Sistem Maduris
keatas di dalam seri yang sama.
(tambahkan gambar) Pungutan garam yang dilakukan di
atas lantai tanah, selama antara 10–
Perlu diperhatikan ketertiban dalam 15 hari garam diambil di atas dasar
melakukan pencatatan urutan timbangan tanah
air pada meja-meja dalam buku produksi
setiap hari, ketebalan air pada masing- 2. Teknis pemanenan garam adalah sebagai
masing meja dijaga minimal 5 cm, meja berikut:
yang berfungsi sementara sebagai a. Perataan meja garam
gentongan memiliki ketebalan air minimal 
Lantai garam diratakan terlebih dahulu
8 cm serta kekuatan persediaan air baik
agar kristal garam yang terbentuk pada
konsentrasi dan volumenya. hari-hari berikutnya tidak melekat pada
lantai garam untuk memudahkan
pelaksanaan pungutan.

6
 f. Pemanenan dilanjutkan setelah 10 hari
Perataan lantai garam dilakukan minimal
oleh 3 orang pekerja menggunakan sorkot kemudian dan seterusnya, hari pungut
besi. tidak boleh diperpendek meskipun sudah
 mendekati akhir musim garam.
Pekerja yang bertugas meratakan dasar
g. Pemanenan darurat dilaksanakan bila
garam harus membersihkan kakinya
musim produksi tidak mungkin diteruskan,
sebelum masuk ke meja, menghadap ke
arah angin dan berjalan mundur secara misalnya kondisi cuaca hujan terus
hati-hati agar tidak merusak lantai garam. menerus.
7. Penanganan Hasil Panen

Meja diratakan dalam keadaan terendam
air tua. Setelah dilakukan pemanenan, selanjutnya
penanganan garam melalui beberapa tahapan

Pungutan garam dilakukan setelah sebagai berikut:
pekerjaan meratakan lantai garam selesai.
1. Pengangkutan Garam
b. Pungutan garam a. Pengangkutan garam dilakukan dari

Dilakukan setelah 10 hari meja garam timbunan garam pertama dengan tetap
diratakan. menjaga kebersihan garam.

Disiapkan profil untuk menentukan b. Semua garam hasil pungutan diangkut
volume garam dan jembatan pungut. dan dimasukkan ke gudang.
 2. Penyimpanan Garam
Kristal garam dilonggarkan
menggunakan sorkot besi setiap 3 hari
sekali untuk memudahkan proses Hal-hal yang perlu diperhatikan pada proses
pungutan garam. penyimpanan garam yaitu:

Pungutan dilakukan dengan a. Pastikan kondisi dasar gudang dalam
menggunakan sorkot kayu.
keadaan baik, tidak ada bagian cekung
 yang memungkinkan adanya genangan
Kristal garam ditarik (dikais) dari tengah
air.
ke tepi meja, membentuk lenceran
sejajar dengan galengan meja yang b. Selokan-selokan di sekeliling gudang
dibersihkan agar air dapat mengalir.
membujur ke arah pejemuran dalam
c. Garam disimpan didalam gudang
jarak 1 m dari tepi galengan meja.
berbentuk curah/ dikemas dalam karung
c. Garam hasil pungutan ditimbun di
penjemuran yang terletak sejajar dengan
meja terendah. Timbunan dibentuk
menurut profil yang sudah dipersiapkan, C. KRITERIA KUALITAS GARAM
ukuran disesuaikan dengan ukuran
Garam yang diproduksi rakyat pada umumnya
penjemuran.
tidak mengalami pencucian, sehingga pada
d. Penjemuran terbuat dari batu kapur / batu
umumnya berkualitas rendah. Kadar NaCl dalam
karang yang kuat dan bersih, apabila
garam rakyat biasanya bervariasi sekitar 88 %. Oleh
penjemuran terbuat dari tanah dan dalam
karena itu garam rakyat tidak dapat memenuhi
keadaan rusak, perlu dibuatkan alas dari
standar kualitas garam untuk pembelian stok
dinding / anyaman bambu yang diletakkan
nasional. Sehingga harga jual garam rakyat
di atas penjemuran untuk menjaga
cenderung rendah. Berdasarkan Peraturan Menteri
kebersihannya, sehingga garam tidak
Perdagangan Republik Indonesia Nomor : 44/M-
terkontaminasi dengan tanah atau debu.
Dag/Per/101 2007 kualitas Garam rakyat
e. Jika konsentrasi air tua kurang dari 29 °Be dikelompokan 3 jenis yaitu:
bisa dipergunakan dan ditambahkan air tua
hingga ketebalannya minimal 5 cm.

7
1. K-1 
Curah hujan (intensitas) dan pola hujan
distribusinya dalam setahun rata-rata
Yaitu kualitas terbaik yang memenuhi syarat merupakan indikator yang berkaitan erat
untuk bahan industri maupun untuk dengan panjang kemarau yang kesemuanya
mempengaruhi daya penguapan air laut.
konsumsi. merupakan hasil proses kristalisasi
pada larutan 24-29,5 Be dengan kadar NaCl

Kecepatan angin, kelembaban udara dan
suhu udara sangat mempengaruhi kecepatan
minimal 97,46 %. Dengan komposisi sebagai penguapan air, dimana makin besar
berikut: penguapan maka makin besar jumlah kristal
garam yang mengendap.
a. NaCl : 97.46 %
b. CaCl2 : 0.723 % c. Tanah
c. CaSO4 : 0.409 %
d. MgSO4: 0.04 %

Sifat porositas tanah mempengaruhi
kecepatan perembesan (kebocoran) air laut
e. H2O : 0.63 % kedalam tanah yang di peminihan ataupun di
f. Impurities: 0.65 % meja.
2. K-2 
Bila kecepatan perembesan ini lebih besar
daripada kecepatan penguapannya, apalagi
Yaitu kualitas dibawah K-1, garam jenis ini bila terjadi hujan selama pembuatan garam,
harus dikurangi kadar berbagai zat agar maka tidak akan dihasilkan garam. Jenis
memenuhi standart sebagai bahan baku tanah mempengaruhi pula warna dan
ketidakmurnian (impurity) yang terbawa
industri. Secara fisik garam K-2 berwarna
oleh garam yang dihasilkan.
putih agak kecoklatan dan sedikit lembab.
Garam ini merupakan sisa kristalisasi di atas d. Pengaruh air
pada kondisi kelarutan 29,5-35 Be dengan
kadar NaCl 94,7%. 
Pengaturan aliran dan tebal air dari
peminihan satu ke berikutnya dalam
3. K-3 kaitannya dengan faktor-faktor arah
kecepatan angin dan kelembaban udara
Merupakan garam kualitas terendah, merupakan gabungan penguapan air
tampilan fisik yang putih kecoklatan dan (koefisien pemindahan massa).

bercampur lumpur. Garam ini merupakan Kadar/kepekatan air tua yang masuk ke meja
kristalisasi akan mempengaruhi mutu hasil.
sisa larutan kepekatan di atas pada kondisi > 
Pada kristalisasi garam konsentrasi air garam
35 Be dengan kadar NaCl < 94,7%.
harus antara 25–29°Be. Bila konsentrasi air
tua belum mencapai 25°Be maka gips
(Kalsium Sulfat) akan banyak mengendap,
bila konsentrasi air tua lebih dari 29°Be
D. FAKTOR TEKNIS YANG MEMPENGARUHI Magnesium akan banyak mengendap.
PRODUKSI GARAM

a. Air Laut

Mutu air laut (terutama dari segi kadar


garamnya (termasuk kontaminasi dengan air
sungai), sangat mempengaruhi waktu yang
diperlukan untuk pemekatan (penguapan).

b. Keadaan Cuaca

 Panjang kemarau berpengaruh langsung 8


kepada “kesempatan” yang diberikan kepada
kita untuk membuat garam dengan
pertolongan sinar matahari.
Daftar Pustaka

Aris, Kabul. 2011. Pedoman Garam. Dirjen KP3K,


Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik
Indonesia. Jakarta.

Julianty, Elissa. 2006. Teknologi Pengemasan.


Universitas Sumatera Utara.

Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia


Nomor : 44/M-Dag/Per/101 2007 tentang Perubahan
Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20/M-
Dag/Per/9/2005 tentang Ketentuan Impor Garam.

Nonny. 2004. Pembesaran Udang. Departemen


Pendidikan Nasional. Jakarta.

Vita, Mayasari. 2009. Penelitian Garam Rakyat. Jurnal


Pedesaan. Surabaya.

__________mr.Q_________