Anda di halaman 1dari 11

BAB

TINJAUAN PUSTAKA

1. Uji Benedict (semikuantitatif)


Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula
(karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan
beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa. Pada uji Benedict, pereaksi ini
akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan
alpha hidroksi keton. Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi,
namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah
menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif
dengan pereaksi benedict. Uji Benedict bertujuan untuk mengetahui kandungan
glukosa. Urine yang mengandung glukosa dapat menjadi tanda adanya penyakit
diabetes. Jika urine diketahui mengandung gula pereduksi, pengujian lebih jauh
harus dilakukan untuk memastikan jenis gula pereduksi apa yang terdapat dalam
urine. Hanya glukosa yang mengindikasikan penyakit diabetes.

Reaksi benedict sensitive karena larutan sakar dalam jumlah sedikit


menyebabkan perubahan warna dari seluruh larutan, sedikit menyebabkan
perubahan warna dari seluruh larutan, hingga praktis lebih mudah mengenalnya.
Hanya terlihat sedikit endapan padadasar tabung. Uji benedict lebih peka karena
benedict dapat dipakai untuk menafsir kadar glukosa secara kasar, karena dengan
berbagai kadar glukosa memberikan warna yang berlainan.

Prinsip uji benedict adalah glukosa yang memiliki gugus aldehid/ keton
bebas mereduksi ion kupri dalam suasana alkalis membentuk kuprooksida yang
tidak larut dan berwarna merah bata. Banyaknya endapan merah bata sebanding
dengan jumlah glukosa yang terdapat didalam urin.
2. Uji Obermeyer
Indikan berasal dari pertumbuhan bakteri, sering di usus kecil. Indican
merupakan indole diproduksi oleh bakteri pada suatu asam amino tryptophan
dalam usus. Kebanyakan indol dibuang dalam kotoran. Sisanya akan diserap dan
dimetabolisme serta diekskresi sebagai indicant dalam urin. Urine normal, jumlah
indicant tersekresinya kecil. Hal ini meningkat dengan diet protein tinggi atau
kurang efisiennya pencernaan protein. Jika tidak benar dicerna, atau jika salah
jenis protein yang dikosumsi, pembusukan usus dapat terjadi.
Asam amino triptofan akan membentuk indol danskatol. Indol dan skatol
akan diserap dari usus, selanjutnya dalam hati akan dioksidasimenjadi indoksil.
Indoksil akan berkombinasi dengan sulfat (proses konjugasi) membentuk indikan
(=indoksilsulfat). Indikan akan dieksresi kedalam urin dan merupakan salah satu
sulfatetereal dalam urin.
Pada keadaan normal, dalam sehari diekskresi 10-20 mg. Variasi ekskresi
terutama ditentukan oleh jenis makanan. Makanan tinggi protein akan
meningkatkan ekskresi indikan dalam urin dan sebaliknya pada makanan tinggi
karbohidrat. Bila terjadi peningkatan proses pembusukan dalam usus atau bila ada
stagnasi isi usus juga akan terjadi peningkatan ekskresi indikan urin. Peningkatan
indikan dalam urin juga dapat ditemukan bila ada deomposisi protein dalam tubuh
oleh bakteri, seperti gangrene. Indikan dalam urin ditetapkan dengan uji
obermeyer dimana gugus indoksil dari indikan oleh pereaksi obermeyer yang
mengandung FeCl3 dalam HCl pekat akan membentuk warna biru yang larut dalam
kloroform.
BAB

METODE KERJA

A. Uji Benedict

Alat :

- Beaker glass
- Gelas ukur
- Pipet
- Tabung reaksi
- Penangas air

Bahan :

- Urin
- Pereaksi benedict

Cara kerja :

1. Alat dan bahan praktikum disiapkan terlebih dahulu.


2. Pereaksi Benedict dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak
2,5 mL.
3. Urin yang sudah disiapkan ditambahkan ke dalam tabung reaksi
yang berisi pereaksi Benedict sebanyak 4 tetes.
4. Tabung reaksi dikocok, lalu diinkubasi pada suhu 100°C selama 8
menit dengan penangas air yang mendidih.
5. Hasil percobaan dibandingkan dengan acuan seri pemeriksaan
kadar glukosa yang telah disiapkan.

B. Uji Indikan (Obermeyer)

Alat :

- Beaker glass
- Gelas ukur
- Pipet
- Tabung reaksi

Bahan :

- Urin
- Aquades
- Pereaksi obermeyer
- Kloroform

Cara Kerja :

1. Alat dan bahan disiapkan terlebih dahulu.


2. Urin uji yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam tabung reaksi
sebanyak 4 mL.
3. Blanko berupa aquadest dimasukkan ke dalam tabung reaksi lain
sebanyak 4 mL.
4. Pereaksi obermeyer dimasukkan ke dalam kedua tabung reaksi
yang sudah berisi urin uji dan blanko, masing-masing sebanyak 4
ml lalu didiamkan selama 3 menit.
5. Setelah didiamkan masing-masing campuran ditambahkan
kloroform sebanyak 1,5 mL.
6. Kedua tabung reaksi dibalik-balikkan sebanyak 10x dan jangan
dikocok.
7. Hasil yang didapat, diamati perubahan warna yang terjadi.
BAB

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Uji Benedict
No. Bahan Hasil Warna Larutan
Reduksi
Urin
1. Standar 0% - Biru jernih atau
Glukosa sedikit kehijauan
dan agak keruh
2. < 0,5% + Hiaju kekuningan
dan agak keruh
3. 0,5-1% ++ Kuning keruh
4. 1-2% +++ Jingga atau warna
lumpur keruh
5. >2% ++++ Merah keruh
6. Urin Uji - Biru jernih atau
sedikit kehijauan

2. Uji Indikan
No. Bahan Hasil Pengamatan Keterangan
1. Urin Uji - Tidak
membentuk
warna biru
indigo dan
warna agak
kuning
2. Blanko (aquadest) - Tidak
membentuk
warna biru
indigo
B. Pembahasan

1. Uji Benedict

Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula


(karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan
beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa. Pada uji Benedict, pereaksi ini
akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan
alpha hidroksi keton. Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi,
namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah
menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif
dengan pereaksi benedict.
Praktikum ini diawali dengan menyiapkan 2,5 ml larutan benedict yang
dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan 4 tetes urin yang
akan diuji kadar glukosanya. Tabung reaksi yang berisi campuran kemudian
dipanaskan selama 8 menit dalam penangas air mendidih dengan suhu 100ºC.
Pada proses pemanasan ini akan terjadi perubahan warna pada larutan yang
diujikan. Jika warna berubah menjadi biru maka urin tersebut negatif tidak
mengandung gula namun jika terjadi perubahan warna seperti hijau, kuning,
merah, atau coklat diduga urin mengandung kadar gula. Cuprisulfat dalam larutan
tembaga alkali akan direduksi oleh glukosa menjadi cuprooksida yang akan
membentuk endapan merah bata. Pada urin yang positif mengandung glukosa
dapat menjadi tanda adanya penyakit diabetes pada urin yang diujikan.
Pada hasil praktikum ini ditunjukkan bahwa larutan urin yang diuji kelompok
kami menunjukkan larutan uji tetap berwarna biru yang menandakan negatif
mengandung glukosa. Glukosa adalah jenis gula yang ditemukan dalam darah.
Biasanya glukosa sangat sedikit atau tidak ada dalam urin. Ketika tingkat gula
darah sangat tinggi seperti seperti pada diabetes yang tidak terkontrol, ginjal
mengeksresikan glukosa ke dalam urin untuk mengurangi konsentrasinya di
dalam darah. Keberadaan glukosa dalam urin yang disebut glukosuria dapat
disebabkan oleh gangguan hormonal, penyakit hati, obat-obatan, dan kehamilan.
Ketika terjadi glukosuria, tes lain seperti tes glukosa darah biasanya dilakukan
untuk identifikasi penyebab lebih spesifik.
Sama halnya dengan protein, jika urin mengandung glukosa maka terdapat
masalah yang terjadi pada ginjal khususnya pada bagian Tubulus Kontortus
Proksimal. Dengan uji glukosa, juga dapat diketahui jika urin menghasilkan
endapan maka orang yang urinnya diuji menderita diabetes. Hal ini berhubungan
dengan pankreas karena pancreas menghasilkan sedikit insulin bahkan tidak,
sehingga menyebabkan diabetes. Dari pengujain urin yang telah kami lakukan
bahwa data yang diperoleh oleh kelompok kami urin yang telah diuji tidak
terbentuk endapan yang artinya bahwa orang yang urinnya diuji tersebut tidak
menderita diabetes.

2. Uji Indikan (Obermeyer)

Bahan makanan akan diserap dari usus halus dan sisa makanan yang tidak
diserap akan terus ke usus besar. Dalam usus besar terjadi penyerapan air
sehingga gradual isi usus akan menjadi lebih padat. Dalam usus besar terjadi
proses fermentasi dan pembusukan terhadap sisa bahan makanan oleh pengaruh
enzim-enzim bakteri usus. Pada proses ini akan dihasilkan gas seperti CO2, metan,
hidrogen, nitrogen, H2S, asam asetat, asam laktat dan asam butirat. Dalam usus
besar asam amino akan mengalami dekarboksilasi oleh enzim bakteri usus
menghasilkan amin toksik (=ptomain). Asam amino triptofan akan membentuk
indol dan skatol. Indol dan skatol akan diserap oleh usus, selanjutnya dalam hati
akan dioksidasi menjadi indoksil. Indoksil akan berkombinasi dengan sulfat
(proses konjugasi) membentuk indikan (indoksil sulfat). Indikan akan diekskresi
ke dalam urin dan merupakan salah satu sulfat etereal dalam urin. Reaksi
pembentukan indikan adalah sebagai berikut.
Indikan dalam urin berasal dari proses pembusukan asam amino triptofan
dalam usus, bukan berasal dari katabolisme protein dalam tubuh. Ekskresi indikan
ke dalam urin memberi gambaran proses pembusukan dalam usus. Pada keadaan
normal, dalam sehari diekskresi 10 –20 mg. Variasi ekskresi terutama ditentukan
oleh jenis makanan. Makanan tinggi protein akan meningkatkan ekskresi indikan
dalam urin dan sebaliknya pada makanan tinggi karbohidrat. Bila terjadi
peningkatan proses pembusukan dalam usus atau bila ada stagnasi isi usus juga
akan terjadi peningkatan ekskresi indikan dalam urin. Peningkatan indikan dalam
urin juga dapat ditemukan bila ada dekomposisi protein dalam tubuh oleh bakteri,
seperti pada gangren.
Dalam uji indikan (Obermeyer) ini, sebanyak 4 mL urin dimasukkan ke
dalam tabung reaksi, selanjutnya ditambahkan pereaksi Obermeyer sebanyak 4
mL. pereaksi Obermeyer merupakan larutan FeCl3.6H2O dalam asam klorida
pekat. Setelah ditambahkan pereaksi Obermeyer, diamkan beberapa menit,
kemudian ditambahkan 1,5 mL kloroform. Setelah penambahan kloroform,
terbentuk dua lapisan. lalu campur dengan membalik-balik tabung sampai 10 kali.
Dari hasil pengamatan tidak terbentuk warna biru indigo yang larut dalam
kloroform, yang menandakan bahwa di dalam urin tidak terkandung indikan
(indoksil sulfat). Hal tersebut karena Pereaksi Obermeyer yang mengandung
FeCl3 dalam HCL pekat tidak mengoksidasi gugus indoksil sehingga tidak
membentuk biru indigo yang larut dalam kloroform. Ekskresi indikan meninggi
pada beberapa keadaan seperti stagnasi usus, pembusukan dalam usus meningkat,
dan pada pemecahan protein jaringan atau protein cairan tubuh (abses, gangren,
emfisema).
BAB

PENUTUP

Kesimpulan

A. Uji Benedict
1. Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula
(karbohidrat) pereduksi.
2. Dari hasil uji benedict jika warna larutan berubah menjadi biru maka
urin tersebut negatif tidak mengandung gula namun jika terjadi
perubahan warna seperti hijau, kuning, merah, atau coklat diduga urin
mengandung kadar gula.
3. Ketika tingkat gula darah sangat tinggi, ginjal mengeksresikan glukosa
ke dalam urin untuk mengurangi konsentrasinya di dalam darah.
4. Dengan uji glukosa, juga dapat diketahui jika urin menghasilkan
endapan maka orang yang urinnya diuji menderita diabetes.
5. Hasil uji benedict yang kami peroleh adalah negatif dengan ditandai
warna larutan biru jernih yang berarti bahwa urin orang yang diuji
tidak menderita diabetes.

B. Uji indikan
1. Indikan dalam urin berasal dari proses pembusukan asam amino
triptofan dalam usus.
2. Dari hasil uji indikan yang kami peroleh tidak terbentuk warna biru
indigo yang larut dalam kloroform, yang menandakan bahwa di dalam
urin tidak terkandung indikan (indoksil sulfat).
3. Pereaksi Obermeyer mengandung FeCl3 dalam HCL pekat yang tidak
mengoksidasi gugus indoksil sehingga tidak membentuk warna indigo.
4. Ekskresi indikan dapat meningkat pada beberapa keadaan seperti
stagnasi usus, pembusukan dalam usus meningkat, dan pada
pemecahan protein jaringan atau protein cairan tubuh.
LAMPIRAN

1. Uji Benedict

2. Uji Indikan