Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Siapakah manusia? Manusia pertama tidak lepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Asal
usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies baru yang
berasal dari spesies lain yang sebelumnya melalui proses evolusi.

Mencari makna manusia melalui ilmu pengetahuan. Membicarakan tentang manusia dalam
pandangan ilmu pengetahuan sangat tergantung pada metologi yang digunakan. Dan terhadap
filosofis yang mendasari.

Konsep manusia dalam al-quran dipahami dengan memperhatikan kata-kata yang saling menunjuk
pada makna manusia yaitu kata basyar, insan, dan al-nas. Manusia sebagai basyar tunduk kepada
takdir Allah, sama dengan makhluk lain. Manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan
hembusan roh Allah memiliki kebebasan dalam tunduk atau menentang takdir Allah.

Namun, pada umumnya nampak lebih sering melanggar perintah Allah dan senang sekali
melakukan dosa. Jika demikian maka manusia semacam ini jauh dibawah standar malaikat yang
selalu beribadah dan menjalankan perintah Allah SWT, padahal dijelaskan dalam al-quran,
malaikat pun sujud pada manusia. Kemudian, bagaimanakah mempertanggung jawabkan firman
Allah yang menyebutkan bahwa manusia adalah sebaik-baiknya makhluk Allah?

Dalam al-quran dijelaskan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan untuk melanggar
perintah Allah, padahal Allah telah menjanjikan “Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya
kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan
hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya
diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidah nya juga. Demikian
itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah kepada
mereka kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

Dari aytat ini dapat dilihat bahwa sejak awal Allah menghendaki manusia untuk menjadi hamba-
Nya yang paling baik, tetapi karena dasar alamiahnya, manusia mengabaikan itu. Jika manusia

1
ingin mewujudkan potensi-potensi baik dalam dirinya, ia harus benar-benar menjalankan
perintahh dan menjauhi larangan-Nya. Dan tentu manusia mempu untuk menjalankan itu.

Jelas sekali bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya dengan kadar yang tak dapat
dilaksanakan oleh mereka. Kemudian, bila perintah-perintah Allah itu tak dapat dikerjakan, hal itu
karena kelalaian manusia sendiri. Penutup manusia adalah manusia dengan segala potensinya. Ia
dapat memilih mendayagunakan potensialitasnya atau mengabaikannya.

1.2 Rumusan masalah

1. Apakah defini manusia?


2. Apakah persamaan dan perbedaan manusia dengan makhluk lain?
3. Apakah tujuan penciptaan manusia?
4. Bagaimana fungsi dan peranan manusia?
5. Apakah tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah?
6. Apakah tanggung jawab manusia sebagai khalifah Allah?
7. Bagaimanakah kosep manusia menurut Al-quran dan istilah-istilah untuk sebutan manusia
dalam Al-quran?
8. Bagaimanakah sikap yang harus ditunjukkan manusia dalam kehidupan sehari-hari sesuai
dengan tujuan penciptaannya?
9. Apa saja hal-hal yang harus dilakukan manusia dalam kehidupan di dunia dalam
kedudukannya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi?
10. Bagaimana periodesasi kehidupan manusia di dunia sampai ke akhirat?
11. Bagaimanakah pemahaman tentang hamfijas dalam kajian manusia?
12. Bagaimanakah hak asasi manusia menurut kajian islam?
13. Apa saja kebutuhan hidup manusia menurut islam?
14. Bagaimana program-program pengisian kehidupan manusia di dunia?
15. Apa saja alam-alam yang dilalui manusia di dunia dan akhirat?
16. Apa saja macam-macam nafsu manusia?

2
1.3 Tujuan

1. Mengetahui pengertian manusia.


2. Mengetahui persamaan dan perbedaan manusia dan makhluk lain.
3. Mengetahui tujuan penciptaan manusia.
4. Mengetahui fungsi dan peranan manusia.
5. Mengetahui tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah.
6. Mengetahui kosep manusia menurut Al-quran & istilah-istilah untuk sebutan manusia
dalam Al-quran.
7. Mengetahui sikap yang harus ditunjukkan manusia dalam kehidupan sehari-hari sesuai
dengan tujuan penciptaannya.
8. Mengetahui hal-hal yang harus dilakukan manusia dalam kehidupan di dunia dalam
kedudukannya sebagai hamba Allah & khalifah di bumi
9. Mengetahui priodesasi kehidupan manusia di dunia sampai ke akhirat.
10. Mengetahui pemahaman tentang hamfijas dalam kajian manusia.
11. Mengetahui hak asasi manusia menurut kajian islam.
12. Mengetahui kebutuhan hidup manusia menurut islam.
13. Mengetahui program-program pengisian kehidupan manusia di dunia.
14. Mengetahui alam-alam yang dilalui manusia di dunia dan akhirat.
15. Mengetahui macam-macam nafsu manusia.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Siapa manusia?

2.1.1. Pengertian Manusia


Dalam kamus bahasa Indonesia “Manusia" diartikan sebagai ‘makhluk yang berakal,
berbudi (mampu menguasai makhluk lain); insane, orang’. Menurut pengertian ini maka dapat
dikatakan bahwa Manusia adalah makhluk Tuhan yang diberi potensi akal dan budi, nalar dan
moral untuk dapat menguasai makhluk lainnya demi kemakmuran dan kemaslahatannya.
Dalam bahasa Arab, kata ‘manusia’ ini bersepadan dengan kata-kata nâs, basyar, insân,
mar’u, ins dan lain-lain. Meskipun bersinonim, namun kata-kata tersebut memiliki perbedaan
dalam hal makna spesifiknya. Kata nâs misalnya lebih merujuk pada makna manusia sebagai
makhluk sosial. Sedangkan kata basyar lebih menunjuk pada makna manusia sebagai makhluk
biologis.
Dalam pandangan Islam manusia adalah mahluk yang mulia, dan sempurna di bandingkan
mahluk ciptaan allah lainnya, ini disebabkan manusia diberi kelebihan berupa akal untuk berfikir,
sehingga dengan akal tersebut bisa membedakan mana yang hak mana yang batil, selain dari itu
manusia juga diberikan Allah berupa Nafsu. Namun apabila mereka tidak bisa memanfa’atkan
kelebihan tersebut dengan sebaik-baiknya, maka mereka akan menjadi mahluk yang paling hina,
bahkan lebih hina dari pada binatang.

2.1.2. Pengertian manusia menurut agama islam


Dalam Al-Quran manusia dipanggil dengan beberapa istilah, antara lain al-insaan, al-naas,
al-abd, dan bani adam dan sebagainya. Al-insaan berarti suka, senang, jinak, ramah, atau makhluk
yang sering lupa. Al-naas berarti manusia (jama’). Al-abd berarti manusia sebagai hamba Allah.
Bani adam berarti anak-anak Adam karena berasal dari keturunan nabi Adam.
Namun dalam Al-Quran dan Al-Sunnah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang
paling mulia dan memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam
menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.
Allah selaku pencipta alam semesta dan manusia telah memberikan informasi lewat wahyu
Al-quran dan realita faktual yang tampak pada diri manusia. Informasi itu diberi-Nya melalui ayat-

4
ayat tersebar tidak bertumpuk pada satu ayat atau satu surat. Hal ini dilakukan-Nya agar manusia
berusaha mencari, meneliti, memikirkan, dan menganalisanya. Tidak menerima mentah demikian
saja. Untuk mampu memutuskannya, diperlukan suatu peneliti Alquran dan sunnah rasul secara
analitis dan mendalam. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan penelitian laboratorium sebagai
perbandingan, untuk merumuskan mana yang benar bersumber dari konsep awal dari Allah dan
mana yang telah mendapat pengaruh lingkungan.
Hasil peneliti Alquran yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulannya bahwa manusia
terdiri dari unsur-unsur: jasad, ruh, nafs, qalb, fikr, dan aqal.

Jasad
Jasad merupakan bentuk lahiriah manusia, yang dalam Alquran dinyatakan diciptakan dari
tanah. Penciptaan dari tanah diungkapkan lebih lanjut melalui proses yang dimulai dari sari pati
makanan, disimpan dalam tubuh sampai sebagiannya menjadi sperma atau ovum (sel telur), yang
keluar dari tulang sulbi (laki-laki) dan tulang depan (saraib) perempuan (a-Thariq: 5-7). Sperma
dan ovum bersatu dan tergantung dalam rahim kandungan seorang ibu (alaqah), kemudian menjadi
yang dililiti daging dan kemudian diisi tulang dan dibalut lagi dengan daging. Setelah ia berumur
9 (sembilan) bulan, ia lahir ke bumi dengan dorongan suatu kekuatan ruh ibu, menjadikan ia
seorang anak manusia.
Meskipun wujudnya suatu jasad yang berasal dari sari pati makanan, nilai-nilai kejiwaan
untuk terbentuknya jasad ini harus diperhatikan. Untuk dapat mewujudkan sperma dan ovum
berkualitas tinggi, baik dari segi materinya maupun nilainya, Alquran mengharapkan agar umat
manusia selalu memakan makanan yang halalan thayyiban (Surat Al-baqarah: 168, Surat Al-
maidah 88, dan surat Al-anfal 69). Halal bermakna suci dan berkualitas dari segi nilai Allah.
Sedangkan kata thayyiban bermakna bermutu dan berkualitas dari segi materinya.
Ruh
Ruh adalah daya (sejenis makhluk/ciptaan) yang ditiupkan Allah kepada janin dalam
kandungan (Surat Al-Hijr 29, Surat As-Sajadah 9, dan surat Shaad 27) ketika janin berumur 4
bulan 10 hari. Walaupun dalam istilah bahasa dikenal adanya istilah ruhani, kata ini lebih
mengarah pada aspek kejiwaan, yang dalam istilah Al-Qur’an disebut nafs. Dalam diri manusia,
ruh berfungsi untuk :
1. Membawa dan menerima wahyu (Surat As-Syuara 193)

5
2. Menguatkan iman (Surat Al-Mujadalah 22)
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa manusia pada dasarnya sudah siap menerima beban
perintah-perintah Allah dan sebagai orang yang dibekali dengan ruh, seharusnya ia selalu
meningkatkan keimanannya terhadap Allah. Hal itu berarti mereka yang tidak ada usaha untuk
menganalisa wahyu Allah serta tidak pula ada usaha untuk menguatkan keimanannya setiap saat
berarti dia mengkhianati ruh yang ada dalam dirinya.

Nafs
Para ahli menyatakan manusia itu pasti akan mati. Tetapi Al-Qur’an menginformasikan
bahwa yang mati itu nafsnya. Hal ini diungkapkan pada Surat Al-Anbiya ayat 35 dan Surat Al-
Ankabut ayat 57, Surat Ali-Imran ayat 185. Hadist menginformasikan bahwa ruh manusia menuju
alam barzah sementara jasad mengalami proses pembusukan, menjelang ia bersenyawa kembali
secara sempurna dengan tanah.
Alquran menjelaskan bahwa, nafs terdiri dari 3 jenis:
1. Nafs Al-amarah (Surat Yusuf ayat 53),
Ayat ini secara tegas memberikan pengertian bahwa nafs amarah itu mendorong ke
arah kejahatan.
2. Nafs Al-lawwamah (Surat Al-Qiyamah ayat 1-3 dan ayat 20-21)
dari penjelasan ayat tersebut terlihat bahwa yang dimaksud dengan nafs lawwamah ini
adalah jiwa yang condong kepada dunia dan tak acuh dengan akhirat.
3. Nafs Al-Muthmainnah (Surat Al-Fajr ayat 27-30).
Nafs muthmainnah ini adalah jiwa yang mengarah ke jalan Allah untuk mencari
ketenangan dan kesenangan sehingga hidup berbahagia bersama Allah.

2.2 Perbedaan dan persamaan manusia dengan makhluk yang lain.


2.2.1. Perbedaan manusia dengan makhluk lain
Perbedaan Manusia dengan makhluk lainnya adalah manusia mempunyai akal budi yang
merupakan kemampuan berpikir manusia sebagai kodrat alami Budi berasal dari bahasa sanskerta
Budh artinya akal, tabiat, perangai, dan akhlak. Menurut Sutan Takdir Alisyahbana Budi yang
menyebabkan manusia mengembangkan suatu hubungan bermakna dengan alam sekitarnya
dengan jalan memberikan penilaian objektif terhadap objek dan kejadian. Manusia dengan akal

6
budinya mampu memperbaruhi dan mengembangkan sesuatu untuk kepentingan hidup dalam
rangka memenuhi kebutuhan hidup,
a. Perbedaan Manusia dengan Malaikat
Manusia adalah makhluk yang paling bermartabat. Malaikat dan semua makhluk
lain melayani manusia. Perbedaan antara malaikat dan manusia di antaranya sebagai
berikut :
1. Malaikat diciptakan dari cahaya ( nur ) , manusia diciptakan dari tanah;
2. Berbeda dengan manusia, malaikat tidak terbatas dalam penampilan tertentu;
3. Malaikat tidak memiliki jenis kelamin;
4. Malaikat memiliki sayap yang sesuai dengan sifat mereka;
5. Malaikat tidak membutuhkan makan, minum,dan prokreasi;
6. Malaikat tidak akan mati sampai hari kiamat, sedangkan setiap manusia memiliki usia
hidup dan kematian yang ditentukan;
7. Malaikat tidak memiliki nafs (hawa nafsu) dan mereka tidak diuji,namun karena
manusia memiliki nafs (hawa nafsu) mereka diuji di dunia ini;
8. Hunian malaikat adalah surga dan masjid, namun,tempat tinggal dan masjid manusia
adalah bumi;
9. Malaikat menjadi saksi keagungan Allah swt. secara dekat dan jelas, manusia sebagai
keperluan pengujian mereka;
10. Karena perbedaan dalam penciptaan mereka, Malaikat tidak dapat menunjukkan semua
nama dan sifat Allah swt. seperti manusia;
11. Manusia memiliki kemampuan untuk memiliki kasih yang lebih besar kepada Allah;
12. Di alam semesta, malaikat adalah perwakilan dari sifat “iradat” (Maha kehendak)
Allah swt. sedangkan manusia adalah perwakilan dari sifat “kalam” ( Maha Berbicara);
13. Malaikat memiliki kemampuan untuk menyembah Allah swt.tanpa lelah dan terus-
menerus dengan antusiasme dan kesenangan yang besar dan tidak pernah berkurang.
“Dan milik-Nya segala yang ada di langit dan di bumi . Dan (malaikat-malaikat) yang
di sisi-Nya tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya, dan tidak juga
merasa letih; Mereka bertasbih tidak henti-hentinya siang dan malam” (Surah al-
Anbiya, 19–20);

7
14. Malaikat meminta ampunan kepada Allah swt. bagi manusia,khususnya kaum beriman;
manusia menganggap malaikat sebagai perantara untuk dikabulkannya doa mereka
“Mereka yang menyangga Arsy,dan malaikat yang berada di sekelilingnya,bertasbih
dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohon ampunan
untuk orang-orang yang beriman ( seraya berkataka ) : Ya Tuhan kami ! Rahmat dan
ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu,maka ampunilah orang-orang yang
bertobat dan mengikuti jalan -Mu . dan peliharalah mereka dari azab neraka . Ya
Tuhan kami !measukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan
kepada mereka,dan orang yang sholeh di antara nenek moyang mereka,istri-istri
mereka dan keturunan mereka. Sungguh ! Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana . Dan peliharalah mereka dari (bencana) kejahatan. Dan orang-orang yang
Engkau pelihara dari (bencana) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya Engkau
menganugerahkan rahmat kepadanya dan demikian itulah kemenangan yang agung.”
(QS. al – Mu’min 7,9);
15. Malaikat tidak memiliki kemampuan dan kecenderungan untuk berpikir jahat atau
melakukan perbuatan jahat;
16. Tempat ganjaran manusia adalah surga sedangkan malaikat adalah tepi dan sekitar arsy;
17. Malaikat lebih unggul daripada manusia dalam hal kekuatan.

b. Perbedaan Manusia dengan Hewan


Perbedaan mendasar antara hewan dan manusia terletak pada adanya akal dan
aturan hidup.Hewan tidak mempunyai aturan, sehingga ketika berprilaku pun hewan
terbiasa hidup bebas,sebebas-bebasnya tanpa adanya beban aturan.Sedangkan manusia
mempunyai aturan, dimana segala perbuatan manusia itu terikat dengan hukum syara, tak
bisa sebebas-bebasnya bertindak, karena manusia mempunyai aturan. Aturan yang
bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Manusia adalah makhluk yang berbeda dengan
hewan, maka manusia harus senantiasa terikat dengan aturan hukum yang telah Allah
tetapkan untuk manusia. Dan harus selalu menggunakan akalnya untuk memahami segala
apa yang bisa terindra dan memahami teks-teksyang bersumber dari Al-Khaliq.
Tidak boleh manusia membangkang apa-apa yang diperintahkan Allah swt. Ketika
ada perintah untuk melaksanakan berbagai kewajiban, maka laksanakanlah secara

8
menyeluruh, tidak dipilih-pilih, karena pada hakikatnya semua kewajiban itu adalah taklif
yang apabila dilaksanakan dengan akal untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah,
mempunyai telinga tetapi tidak mau mendengarkan kebenaran yang bersumber dari Allah.
Makaorang tersebut derajatnya sama dengan Hewan bahkan lebih sesat lagi, lebih hina dari
padahewan.
Dalam bahasa Arab ada ungkapan yang sangat terkenal, yakni Al insaanu
hayawaan naatiq, yang bermakna: manusia adalah hewan yang berakal. Dengan kata lain,
jika manusia tidakmenggunakan akalnya akan menjadi seperti binatang. Itu pula yang
disebut al Qur’an dalam QS.7: 179, yakni “orang-orang yang tidak menggunakan Hati
(Qalb), penglihatan (bashar), dan pendengaran (sama’) untuk memahami dan mengerti
suatu masalah yang dihadapinya.”.

2.2.2. Persamaan Manusia dengan Makhluk yang Lain


Persamaan yang dimiliki manusia dengan makhluk hidup lainnya, khususnya hewan adalah
dianugerahi “nafsu”. Nafsu umumnya berkaitan dengan hal yang kurang positif. Salah satunya
adalah marah atau emosi. Kadangkala, manusia dalam meluapkan emosi selalu menggunakan
nafsu. Apalagi, manusia memiliki marah yang tidak terkontrol, maka hati manusia dikuasai oleh
nafsu. Begitu pula, manusia yang dalam hidupnya selalu berorientasi pada menumpuk harta
kekayaan dengan melakukan segala cara untuk memperoleh harta sebanyak mungkin maka
sebenarnya hawa nafsu telah menguasai hati manusia. Hal ini merupakan salah satu gambaran
bahwa hawa nafsu memiliki banyak mudharatnya daripada manfaatnya.
Sedangkan hewan pada umumnya menggunakan nafsunya dimana hewan akan melakukan
aktivitas seksualnya saja karena hewan tidak memiliki nafsu untuk menumpuk harta kekayaan,
dan sebagainya. Hewan dalam melakukan aktivitas seksualnya tidak berpikir mengenai halal dan
haramnya, karena hewan tidak dibekali dengan akal. Hal ini pula yang menjadi pembeda pada
manusia, manusia dalam melakukan aktivitas seksualnya harus selalu menggunakan
akalnya.Manusia hanya berorientasi pada kehalalan dalam aktivitas tersebut, karena apabila
manusia tidak menggunakan akalnya dan tidak berorientasi pada kehalalan dalam aktivitas
seksualnya maka manusia akan mendapatkan dosa besar. Pasalnya, hal tersebut termasuk zina
yang berakibat dosa besar bagi manusia yang melakukannya.

9
2.3 Tujuan penciptaan manusia

Tujuan penciptaan manusia adalah untuk penyembahan Allah. Pengertian penyembahan kepada
Allah tidak boleh diartikan secara sempit, dengan hanya membayangkan aspek ritual yang
tercermin salam solat saja. Penyembahan berarti ketundukan manusia pada hukum Allah dalam
menjalankan kehidupan di muka bumi, baik ibadah ritual yang menyangkut hubungan vertikal
(manusia dengan Tuhan) maupun ibadah sosial yang menyangkut horizontal ( manusia dengan
alam semesta dan manusia).

Penyembahan manusia pada Allah lebih mencerminkan kebutuhan manusia terhadap terwujudnya
sebuah kehidupan dengan tatanan yang adil dan baik.Oleh karena itu penyembahan harus
dilakukan secara sukarela, karena Allah tidak membutuhkan sedikitpun pada manusia termasuk
pada ritual-ritual penyembahannya. Dalam hal ini Allah berfirman:

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyambah-Ku. Aku tidak
menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka member
aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah maha pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi
sangat kokoh. (az-Zaariyaat, 51:56-58).

Penyembahan yang sempurna dari seseorang manusia akan menjadikan dirinya sebagai
khalifah Allah di muka bumi dalam mengelola kehidupan alam semesta. Keseimbangan alam dapat
terjaga dengan hukum-hukum alam yang kokoh. Keseimbangan pada kehidupan manusia tidak
sekedar akan menghancurkan bagian-bagian alam semesta yang lain, inilah tujuan penciptaan
manusia di tengah-tengah alam.

Menyadari Manusia diciptakan Allah bukan secara main-main,

Artinya:“Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada
maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” [Al-Mu’minun: 115]
Mampu mengemban amanah atau tugas keagamaan;

10
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-
gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu, dan mereka khawatir tidak dapat
melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat
dzalim dan sangat bodoh.” [Al-Ahzab; 72]
Untuk Mengabdi atau Beribadah

Artinya : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah
kepadaKu”. [Adz-Dzariyat: 56]
Menjadi Khalifah di muka bumi
Dari segi bahasa, khalifah bermaksud pengganti. Ia menjelaskan bahawa Allah
mengamanahkan manusia sebagai ‘pengganti’ untuk mentadbir bumi dengan merujuk kepada
manual dan panduan daripadaNya. Mengingat kejadian yang diabadikan dalam Al-Qur’an, ketika
Allah Swt berdialog dengan malaikat soal rencana menciptakan khalifah di bumi.

Artinya:“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Aku hendak
menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang
merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan mensucikan
nama-mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [Al-
Baqarah: 30]
Dan Allah menjadikan kita (manusia) di muka bumi, yang dibedakan derajat satu dengan yang
lain, untuk menguji manusia.

11
Artinya:“Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi, dan Dia mengangkat
derajat sebagian kamu diatas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya
kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat member hukuman, dan sungguh, Dia Maha
pengampun, Maha penyayang .” [Al-An-‘Am: 165]
Menjadi da’i di muka bumi

Artinya: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena
kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada
Allah. Sekiranya Ahli kitab beriman, tentu itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang
beriman, namun kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang fasik.” [Ali Imran: 110]
selalu ingat bahwa kita diciptakan bukan tanpa maksud dan tujuan, dan Allah akan meminta
pertanggung jawaban terhadap kita atas apa yang kita lakukan.

Artinya:“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung
jawaban).” [Al-Qiyamah: 36]
2.4 Fungsi dan peranan manusia dalam islam

Berpedoman kepada QS Al Baqoroh 30-36, maka peran yang dilakukan adalah sebagai
pelaku ajaran Allah dan sekaligus pelopor dalam membudayakan ajaran Allah. Untuk menjadi
pelaku ajaran Allah, apalagi menjadi pelopor pembudayaan ajaran Allah, seseorang dituntut
memulai dari diri dan keluarganya, baru setelah itu kepada orang lain.

12
Peran yang hendaknya dilakukan seorang khalifah sebagaimana yang telah ditetapkan Allah,
diantaranya adalah :

1. Belajar (surat An naml : 15-16 dan Al Mukmin :54) ; Belajar yang dinyatakan pada ayat
pertama surat al Alaq adalah mempelajari ilmu Allah yaitu Al Qur’an.
2. Mengajarkan ilmu (al Baqoroh : 31-39) ; Khalifah yang telah diajarkan ilmu Allah maka
wajib untuk mengajarkannya kepada manusia lain.Yang dimaksud dengan ilmu Allah
adalah Al Quran dan juga Al Bayan.
3. Membudayakan ilmu (al Mukmin : 35 ) ; Ilmu yang telah diketahui bukan hanya untuk
disampaikan kepada orang lain melainkan dipergunakan untuk dirinya sendiri dahulu agar
membudaya. Seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW.
Di dalam Al Qur’an disebutkan fungsi dan peranan yang diberikan Allah kepada manusia.

 Menjadi abdi Allah. Secara sederhana hal ini berarti hanya bersedia mengabdi kepada
Allah dan tidak mau mengabdi kepada selain Allah termasuk tidak mengabdi kepada nafsu
dan syahwat. Yang dimaksud dengan abdi adalah makhluk yang mau melaksanakan
apapun perintah Allah meski terdapat resiko besar di dalam perintah Allah. Abdi juga tidak
akan pernah membangkang terhadap Allah. Hal ini tercantum dalam QS Az Dzariyat :
56“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”
 Menjadi saksi Allah. Sebelum lahir ke dunia ini, manusia bersaksi kepada Allah bahwa
hanya Dialah Tuhannya.Yang demikian dilakukan agar mereka tidak ingkar di hari akhir
nanti sehingga manusia sesuai fitrahnya adalah beriman kepada Allah tapi orang tuanya
yang menjadikan manusia sebagai Nasrani atau beragama selain Islam. Hal ini tercantum
dalam QS Al A’raf : 172
 “Dan (ingatlah), keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhanmu?”.
Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan Kami),kami menjadi saksi”.(Kami lakukan yang
demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (Bani
Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini(keesaan Tuhan)”
 Khalifah Allah sebenarnya adalah perwakilan Allah untuk berbuat sesuai dengan misi yang
telah ditentukan Allah sebelum manusia dilahirkan yaitu untuk memakmurkan bumi.

13
Khalifah yang dimaksud Allah bukanlah suatu jabatan sebagai Raja atau Presiden tetapi
yang dimaksud sebagai kholifah di sini adalah seorang pemimpin Islam yang mampu
memakmurkan alam dengan syariah-syariah yang telah diajarkan Rosulullah kepada umat
manusia. Jadi, manusia yang beriman sejatilah yang mampu memikul tanggung jawab
ini.Kholifah adalah wali Allah yang mempusakai dunia ini.

2.5 Tanggung jawab manusia sebagai Hamba Allah

Kewajiban manusia kepada khaliknya adalah bagian dari rangkaian hak dan kewajiban manusia
dalam hidupnya sebagai suatu wujud dan yang maujud.Didalam hidupnya manusia tidak lepas dari
adanya hubungan dan ketergantungan.Adanya hubungan ini menyebabkan adanya hak dan
kewajiban. Hubungan manusia dengan allah adalah hubungan makhluk dengan khaliknya. Dalam
masalah ketergantungan, hidup manusia selalu mempunyai ketergantungan kepada yang lain. Dan
tumpuan serta ketergantungan adalah ketergantungan kepada yang maha kuasa, yang maha
perkasa, yang maha bijaksana, yang maha sempurna, ialah allah rabbul’alamin, Allah Tuhan yang
Maha Esa.

Kebahagian manusia di dunia dan akhirat, tergantung kepada izin dan ridho allah. Dan
untuk itu Allah memberikan ketentuan-ketentuan agar manusia dapat mencapainya. Maka untuk
mencapainya kebahagian dunia dan akhirat itu dengan sendirinya kita harus mengikuti ketentuan-
ketentuan dari allah SWT. Apa yang telah kita terima dari allah SWT. Sungguh tak dapat dihitung
dan tak dapat dinilai dengan materi banyaknya. Jika, kita ingin menghitung nikmat dari Allah, kita
tidak dapat menghitungnya, karena sangat banyak. Secara moral manusiawi, manusia mempunyai
kewajiban kepada Allah sebagai khaliknya, yang telah memberi kenikmatan yang tak terhitung
jumlahnya.

Jadi berdasarkan hadits AL-Lu’lu uwal kewajiban manusia kepada Allah pada garis besar besarnya
ada 2 :

1) Mentauhidkan-Nya yakni tidak memusyrik-Nya kepada sesuatu pun.


2) Beribadat kepada-Nya

14
Orang yang demikian ini mempunyai hak untuk tidak disiksa oleh Allah, bahkan akan diberi pahala
dengan pahala yang berlipat ganda, dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat bahkan
dengan ganda yang tak terduga banyaknya oleh manusia. Dalam al-quran kewajiban ini
diformulasikan dengan :

1) Iman.
2) Amal saleh

Beriman dan beramal saleh itu dalam istilah lain disebut takwa. Dalam ayat (Q.S Al-Baqarah ayat
177) iman dan amal saleh, yang disebut takwa dengan perincian :

1) Iman kepada Allah, iman kepada hari akhir, iman kepada malaikat-malaikat, iman kepada kitab-
kitab, dan iman kepada nabi-nabi.

2) Amal saleh :

a. Kepada sesama manusia : dengan memberikan harta yang juga senang terhadap harta itu, kepada
kerabatnya kepada anak-anak yatim kepada orang-orang miskin kepada musafir yang
membutuhkan pertolongan (ibnu sabil).

b. Kepada Allah : menegakan / mendirikan shalat, menunaikan zakat.

c. Kepada diri sendiri : menempati janji apabila ia berjanji, sabar delam kesempitan, penderitaan
dan peperangan.

Kesemuanya itu adalah dalam rangka ibadah kepada allah memenuhi manusia terhadap khalik.

2.6 Tanggung jawab manusia sebagai khalifah Allah

Sebagai makhluk Allah, manusia mendapat amanat yang harus di pertanggung jawabkan
di hadapan-Nya.Tugas hidup yang di pikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifahan, yaitu
tugas kepemimpinan; wakil Allah di muka bumi untuk mengelola dan memelihara alam.

15
Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan. Manusia menjadi
khalifah, berarti manusia memperoleh mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka
bumi.Kekuasaan yang di berikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya
mengolah dan mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya sesuai
dengan ketentuan yang di tetapkan oleh Allah. Agar manusia bisa menjalankan kekhalifahannya
dengan baik, Allah telah mengajarkan kepadanya kebenaran dalam segala ciptaan-Nya dan melalui
pemahaman serta penguasaan terhadap hukum-hukum yang terkandung dalam ciptaan-Nya,
manusia bisa menyusun konsep-konsep serta melakukan rekayasa membentuk wujud baru dalam
alam kebudayaan.

Dua peran yang di pegang manusia di muka bumi. Sebagai khalifah dan ‘abd merupakan
perpaduan tugas dan tanggung jawab yang melahirkan dinamika hidup, yang sarat dengan
kreatifitas dan amaliah yang selalu berpihak pada nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu hidup
seorang muslim akan di penuhi dengan amaliah, kerja keras yang tiada henti, sebab bekerja bagi
seorang muslim adalah membentuk satu amal shaleh. Kedudukan manusia di muka bumi sebagai
khalifah dan sebagai makhluk Allah, bukanlah dula hal yang bertentangan melainkan suatu
kesatuan yang padu dan tidak terpisahkan.Kekhalifaan adalah ralisasi dari pengabdiannya kepada
Allah yang menciptakannya.

Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa.
Apabila terjadi ketidakseimbangan, maka akan lahir sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajat
manusia meluncur jatuh ke tingkat yang paling rendah, seprti firman Allah dalam surat ath-Thin:4.

Dengan demikian, manusia sebagai khalifah Allah merupakan satu kesatuan yang
menyampurnakan nilai kemanusiaan yang memiliki kebebasan berkreasi dan sekaligus
menghadapkannya pada tuntutan kodrat yang menempatkan posisinya pada ketrbatasan.

Perwujudan kualitas keinsanian manusia tidak terlepas dari konteks sosial budaya, atau
dengan kata lain kekhalifaan manusia pada dasarnya diterapkan pada konteks indvisu dan sosial
yang berporos pada Allah, seperti firman Allah dalam Muthathohirin:112.

16
2.7 Konsep manusia menurut Al-Quran dan istilah-istilah untuk sebutan manusia dalam Al-
Quran

2.7.1 Konsep manusia menurut Al-Quran

Manusia diciptakan oleh Allah dengan segala kesempurnaannya. Manusia diberi akal pikiran
sehingga dengan akal tersebut mereka dapat berpikir. Dengan berpikir, manusia mampu
mengajukan pertanyaan serta memecahkan masalah. Dengan adanya akal pula, manusia berbeda
dari makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lain. Islam mendorong manusia agar menggunakan
potensi yang dimiliki secara seimbang. Akal yang berlebihan mendorong manusia pada kemajuan
materiil yang hebat, namun mengalami kekosongan dalam hal ruhaniyah, sehingga manusia
terjebak dalam segala kesombongan yang merusak dirinya sendiri.

Dalam menggunakan potensi-potensinya, manusia harus menjadi makhluk psiko-fisik,


berbudaya, dan beragama untuk tetap mempertahankan kapasitas dirinya sebagai makhluk yang
paling mulia. Al-Quran menegaskan kualitas dan nilai manusia dengan menggunakan tiga macam
istilah yang saling berhubungan satu sama lain, yaitu al-insan, an-nas, al-basyar, dan bani Adam.

2.7.2 Istilah istilah untuk sebutan manusia dalam alquran

1. Basyar

Istilah basyar berarti “penampakan sesuatu secara baik dan indah”. Manusia disebut basyar
karena kulitnya tampak jelas. Seperti yang tertulis di dalam Al Qur’an QS. Al-Kahfi 18:110

Basyar adalah gambaran manusia secara materi, yang dapat dilihat, memakan sesuatu,
berjalan dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia dalam pengertian ini
terdapat dalam Al-qur’an sebanyak 35 kali di berbagai surat. Dari pengertian-pengertian tersebut,
25 kali diantaranya berbicara tentang “kemanusian” para rasul dan nabi, 13 ayat diantaranya
menggambarkan polemik para rasul dan nabi dengan orang-orang kafir yang isinya keengganan
orang-orang kafir terhadap apa yang dibawa para rasul dan nabi, karena menurut mereka para rasul
itu adalah manusia seperti mereka juga. Sejumlah ayat yang mengandung pengakuan bahwa
memang rasul-rasul itu adalah manusia yang sama seperti manusia-manusia lainnya.

17
QS Al-Anbiyaa’ (21) :2-3:

2. Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan
mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main.

3. (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan
mereka: “Orang Ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, Maka apakah kamu
menerima sihir itu[951], padahal kamu menyaksikannya?”

Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan; sesungguhnya Saya ini adalah seorang manusia
seperti kamu juga, kamu datang kepada saya untuk berpekara; barangkali sebagian kamu lebih
pandai mengemukakan alat bukti dan sebagian alat yang lain, lalu aku putuskan perkara tersebut
sesuai dengan keterangan yang saya terima. (HR. Bukhari dan Muslim dari Ummu Salamah).

2. An-naas

Sebutan An-Naas didalam Al-qur’an terdapat sebanyak 240 kali dengan keterangan yang
jelas menunjukkan pada korps atau kumpulan, yaitu seluruh umat manusia sebagai keturunan Nabi
Adam AS. Misalnya, yang terdapat dalam Surat Al-Hujuraat (49):13.

18
Artinya:Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah
orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal.

3. Insan dan Al-Ins

Kata Al-Ins senantiasa dipertentangkan dengan kata Al-Jinn, yakni sejenis makhluk hidup
diluar alam manusia. Sedangkan kata Al-Insan mengandung pengertian makhluk Mukallaf (ciptaan
tuhan yang dibebani tangung jawab), pengemban amanah dan Khalifah Allah di atas bumi.

Dalam Al Qur’an, istilah yang digunakan untuk menyebut makhluq yang bernama manusia
ini adalah insan atau al-nas. Insan atau ins atau unas atau al-nas sering diartikan sebagai jinak,
harmonis dan tampak. Hal ini telah disebutkan dalam Al Qur’an QS. Al-Thariq 86:5

ُ ‫فَ ْليَ ْن‬


َ ‫ظ ِر اإل ْن‬
)٥( َ‫سانُ ِم َّم ُخلِق‬

 Al-Insan dihubungkan dengan keistimewaan manusia sebagai makhluk yang cerdas dan
diberi ilmu.
 Al-Insan dihubungkan dengan makhluk pemikul amanah.
 Al-Insan dihubungkan dengan pre-disposisi negative seperti sifat kafir, zalim, gelisah,
berbuat dosa, membantah, tergesa - gesa.

Sebutan Al-Insan dalam pengertian ini didapati pada 65 tempat dalam Al-Qur’an.
Penjelasan tersebut menunjukkan keistimewaan dan ciri-ciri manusia dalam pengertian Al-Insan.
Dalam ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW, yaitu Surat AL-Alaq,
terdapat tiga kali menyebutkan Al-Insan, yaitu 1) yang menceritakan bahwa manusia itu diciptakan
dari (segumpal darah); (2) Manusia dikatakan memiliki keistimewaan, yaitu ilmu; dan (3) Allah
SWT menggambarkan bahwa manusia dengan segala keistimewaannya telah melampaui batas
karena telah merasa puas dengan yang ia punyai.

Perhatikan firman Allah di QS Al-Alaq (96):1-5:

19
1.Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia Telah menciptakan
manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam[1589], 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya

4. Bani Adam

Istilah bani Adam menunjukkan bahwa seluruh manusia adalah anak dari manusia ciptaan Allah
yang pertama yaitu Adam. Hal ini disebutkan didalam QS. Al-A’raaf 7:172

‫ش ِهدْنَا أَ ْن تَقُولُوا يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة إِنَّا ُكنَّا َع ْن‬


َ ‫ور ِه ْم ذ ُ ِ ِّريَّت َ ُه ْم َوأ َ ْش َهدَ ُه ْم َعلَى أ َ ْنفُ ِس ِه ْم أَلَ ْستُ بِ َر ِِّب ُك ْم قَالُوا بَلَى‬ ُ ‫َوإِذْ أ َ َخذَ َربُّكَ ِم ْن بَنِي آدَ َم ِم ْن‬
ِ ‫ظ ُه‬
)١٧٢( َ‫َهذَا غَافِلِين‬

dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini
Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani
Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"

5.'Abdun (hamba)
Mengacu pada aspek posisinya selaku hamba Allah Swt. yang harus taat dan selalu patuh serta
tunduk kepada Allah Swt.
6. Khalifah
Digunakan dalam Al-Quran mengacu kepada pengertian manusia yang memiliki fungsi sebagai
khalifah, pengemban amanah Allah Swt di muka bumi ini.

2.8 Sikap yang harus ditunjukkan manusia dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan
tujuan penciptaannya

20
2.8.1 Sikap dan perilaku sebagai khalifah di bumi seperti yang terdapat dalam surat
Al Baqarah ayat 30.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 30 dijelaskan bahwa manusia ditunjuk oleh Allah swt, untuk
menjadi khalifah (pemimpin) di bumi, meskipun penunjukan Allah tersebut mendapat protes dari
para malaikat dengan menyebutkan beberapa sikap prilaku buruk manusia yang tak pantas
disandang oleh seorang khalifah, sehingga terjadi dialog yang cukup seru antara Allah dengan para
malaikat. Dari dialog inilah kita dapat mengidentifikasi beberapa sikap perilaku khalifah yang
semestinya dimiliki oleh setiap manusia, diantaranya sebagai berikut :

1. Tidak berbuat kerusakan baik kerusakan fisik (membabat hutan secara ilegal dll) maupun
kerusakan mental (menjerumuskan diri ke dalam dunia narkoba dll).

2. Tidak gemar membunuh atau menumpahkan darah orang lain, baik membunuh secara fisik
seperti menghilangkan nyawa seseorang maupun membunuh secara mental dan kejiwaan seperti
dengan cara menfitnah, mengadu domba, menganiaya, dan sebagainya.

3. Gemar beribadah kepada Allah Swt dan selalu berbuat kebaikan kepada sesama, sehingga
kehidupan di muka bumi dapat berjalan dengan damai, adil, dan sejahtera.

2.8.2 Menyayangi kedua orang tua


Manusia yang memiliki kecerdasan transendental yang tinggi menyayangi dan
menghormati kedua orang tuanya secara tulus. Sikap ini akan memberikan kemuliaan dan
kesuksesan kepada manusia. Sebab, doa tulus dari orang tua terhadap anaknya akan dikabulkan
oleh Allah. Apapun kondisi hidup yang harus dijalani, wajib hukumnya untuk menghormati kedua
orang tua karena besarnya pengorbanan orang tua terhadap dirinya, seperti terdapat dalam Surat
(46) Al Ahqaat ayat 15
Ayat ini menjelaskan betapa besarnya pengorbanan ibu bapak, khususnya ibu, terhadap anak-
anaknya. Itu sebabnya, dalam salah satu hadisnya, Nabi Muhammad SAW mengatakan, surga
berada di bawah telapak kaki ibu.

Kasih sayang anak kepada ibu bapak harus diwujudkan baik semasa beliau masih hidup hingga
beliau sudah meninggal sekalipun (misalnya dengan rutin mengirim doa). Jangan sekali-kali
meninggikan suara, berbuat tidak hormat, dan berbicara yang tidak baik kepada ibu bapak,

21
kendatipun Anda capai merawatnya hingga usia lanjut. Al Quran secara rinci mengatur adab anak
terhadap kedua orang tua dalam Surat (17) Al Israa' ayat 23yang artinya:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah
kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara
keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak
mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
2.8.3 Selalu berbuat kebajikan dan menghindari kemungkaran
Umat Muslim diciptakan oleh Allah menjadi umat terbaik yang selalu berbuat kebajikan sekaligus
mencegah kemungkaran seperti dijelaskan Al Quran dalam Surat (3) Ali Imran ayat 110: Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan
mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.
Ayat ini menegaskan bahwa mereka yang memiliki kecerdasan transendental tinggi akan selalu
berusaha mengerjakan perbuatan baik dan meninggalkan pekerjaan yang buruk di sisi Allah (Oleh
karena buruk di sisi Allah, maka otomatis hal itu buruk di sisi manusia). Surat (16) An Nahl ayat
90:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi
pengajaran agar kamu dapat mengambil pelalajaran.
Tak hanya mengerjakan kebajikan, mereka juga harus mencegah terjadinya kemungkaran. Bila
mereka diajak untuk melakukan pekerjaan yang tidak baik misalnya mencuri, merampok,
melakukan korupsi, menipu orang lain, berbuat zina, mabuk-mabukan, bersikap iri dengki,
melakukan fitnah, melupakan kewajiban agama atau mempersekutukan Allah - dan berbagai
bentuk kemungkaran lainnya - maka mereka harus menolak dan mencegahnya semaksimal
mungkin. Mereka tidak hanya bisa menolaknya (untuk diri sendiri), tetapi mencegahnya (agar hal
itu tidak dilakukan oleh orang lain) padahal dia mengetahui kemudharatan hal tersebut. Adalah
dosa jika membiarkan kemungkaran terjadi tanpa berusaha sedikitpun untuk mencegahnya, Surat
(103) Al `Ashr ayat 3:
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya
mentaati kebenaran dan nasehat menasehati seupaya menetapi kesabaran.

22
2.8.4 Berlaku adil
Bersikap adil terhadap siapa saja, diri sendiri, keluarga, bawahan, atasan, masyarakat,
teman atau musuh sekalipun adalah salah satu nilai utama yang diajarkan Islam. Bersikap adil ini
sungguh berat, tetapi manusia yang memiliki kecerdasan transendental tinggi berusaha untuk
benar-benar bersikap adil. Banyak sekali ayat Allah yang memerintahkan untuk bersikap adil
seperti Surat (16) An Nahl ayat 90.
2.9 Hal-hal yang harus dilakukan manusia dalam kehidupan di dunia dalam kedudukannya
sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi
2.9.1 Kedudukan Manusia Di Muka Bumi.

1. Manusia sebagai Abdullah

Kedudukan manusia yang pertama adalah sebagai Abdullah, yang artinya adalah sebagai hamba
Allah. Sebagai hamba Allah maka manusia harus menuruti kemauan Allah, yang tidak boleh
membangkang pada-Nya. Jika kita membangkang maka kita akan terkena konsekwensi yang
sangat berat. Kita adalah budak Allah, karenanya setiap perilaku kita harus direstui oleh-Nya,
harus menyenangkan-Nya, harus mengagungkan-Nya.

Untuk pedoman hidup manusia Allah SWT menurunkan Al Qur'an agar supaya manusia bisa
mengemban amanah yang diberikan oleh Allah SWT, disamping itu juga kita juga wajib untuk
melaksanakan pedoman hidup dan cara beribadah dan bermuamalah berdasarkan Sunnah
Rasullullah SAW, serta ijtihad para ulama dan tabiin yang berdasarkan pada Al Quran dan Al
Hadist.

2. Manusia Sebagai Khalifatullah

Fungsi dan kedudukan manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah di bumi. Tujuan
penciptaan manusia di atas dunia ini adalah untuk beribadah. Sedangkan tujuan hidup manusia di
dunia ini adalah untuk mendapatkan kesenangan dunia dan ketenangan akhirat. Jadi, manusia di
atas bumi ini adalah sebagai khalifah, yang diciptakan oleh Allah dalam rangka untuk beribadah
kepada-Nya, yang ibadah itu adalah untuk mencapai kesenangan di dunia dan ketenangan di
akhirat.

Apa yang harus dilakukan oleh khalifatullah itu di bumi? Dan bagaimanakah manusia
melaksanakan ibadah-ibadah tersebut? Serta bagaimanakah manusia bisa mencapai kesenangan

23
dunia dan ketenangan akhirat tersebut? Banyak sekali ayat yang menjelaskan mengenai tiga
pandangan ini kepada manusia. Antara lain seperti disebutkan pada Surah Al-Baqarah ayat 30:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Khalifah adalah seseorang yang diberi tugas sebagai pelaksana dari tugas-tugas yang telah
ditentukan. Jika manusia sebagai khalifatullah di bumi, maka ia memiliki tugas-tugas tertentu
sesuai dengan tugas-tugas yang telah digariskan oleh Allah selama manusia itu berada di bumi
sebagai khalifatullah.

Jika kita menyadari diri kita sebagai khalifah Allah, sebenarnya tidak ada satu manusia pun
di atas dunia ini yang tidak mempunyai “kedudukan” ataupun “jabatan”. Jabatan-jabatan lain yang
bersifat keduniaan sebenarnya merupakan penjabaran dari jabatan pokok sebagai khalifatullah.
Jika seseorang menyadari bahwa jabatan keduniawiannya itu merupakan penjabaran dari
jabatannya sebagai khalifatullah, maka tidak ada satu manusia pun yang akan menyelewengkan
jabatannya. Sehingga tidak ada satu manusia pun yang akan melakukan penyimpangan-
penyimpangan selama dia menjabat.

Jabatan manusia sebagai khalifah adalah amanat Allah. Jabatan-jabatan duniawi, misalkan
yang diberikan oleh atasan kita, ataupun yang diberikan oleh sesama manusia, adalah merupakan
amanah Allah, karena merupakan penjabaran dari khalifatullah. Sebagai khalifatullah, manusia
harus bertindak sebagaimana Allah bertindak kepada semua makhluknya.

Pada hakikatnya, kita menjadi khalifatullah secara resmi adalah dimulai pada usia akil
baligh sampai kita dipanggil kembali oleh Allah. Manusia diciptakan oleh Allah di atas dunia ini
adalah untuk beribadah. Lantas, apakah manusia ketika berada di dalam rahim ibunya tidak
menjalankan tugasnya sebagai seorang hamba? Apakah janin yang berada di dalam rahim itu tidak
beribadah?

24
Pada dasarnya, semua makhluk Allah di atas bumi ini beribadah menurut kondisinya.
Paling tidak, ibadah mereka itu adalah bertasbih kepada Allah. Disebutkan dalam Al-Qur’an Surah
Al-Baqarah:

2.9.1 Tugas Manusia di Muka Bumi.

1. Beribadah Kepada Allah Baik Dalam Pengertian Sempit (Ibadah Mahdoh) Maupun Luas
(Ibadah Ghairu Mahdoh).

Beribadah dalam arti sempit artinya mengerjakan Ibadah secara ritual saja, seperti, Sholat, puasa,
haji, dan sebagainya. Sedangkan ibadah dalam arti luas adalah melaksanakan semua aktifitas baik
dalam hubungan dengan secara vertikal kepada Allah SWT maupun bermuamalah dengan sesama
manusia untuk memperoleh keridoan Allah sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT dan
Hadist. Dan tentunya dari makna ibadah dalam arti luas ini akan terpancarkan pribadi seorang
muslim sejati dimana seorang muslim yang mengerjakan kelima rukun Islam maka akan bisa
memberikan warna yang baik dalam bermuamalah dengan sesama manusia dan banyak
memberikan manfaat selama bermuamalah itu.

Disamping itu, segala aktifitas yang kita lakukan baik itu aktifitas ibadah maupun aktifitas
keseharian kita dimanapun berada di rumah, di kampus di jalan dan dimanapun haruslah hanya
dengan niat yang baik dan lillahi ta'ala, tanpa ada motivasi lain selain ALLAH, sebagai misal
beribadah dan bersedekah hanya ingin dipuji oleh orang dengan sebutan “alim dan dermawan”;
ingin mendapatkan pujian dari orang lain; ingin mendapatkan kemudahan dan fasilitas dari atasan
selama bekerja dan studi dengan menghalalkan segala cara dan lain sebagainya. Sekali lagi jika
segala aktifitas bedasarkan niatnya karena Allah, dan dilakukan dengan peraturan yang Allah
turunkan maka hal ini disebut sebagai ibadah yang sesungguhnya. Di dalam Adz Dzariyat 56:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."

Kita beribadah kepada Allah bukan berarti Allah butuh kepada kita, Allah sama sekali tidak
membutuhkan kita. Bagi Allah walaupun semua orang di dunia ini menyembah-Nya, melakukan
sujud pada-Nya, taat pada-Nya, tidaklah hal tersebut semakin menyebabkan meningkatnya
kekuasaan Allah. Demikian juga sebaliknya jika semua orang menentang Allah, maka hal ini tak
akan mengurangi sedikitpun kekuasaan Allah. Jadi sebenarnya yang membutuhkan Allah ini
adalah kita, yang tergantung kepada Allah ini adalah kita, yang seharusnya mengemis minta belas

25
kasihan Allah ini adalah kita. Yang seharusnya menjadi hamba yang baik ini adalah kita. Allah
memerintahkan supaya kita beribadah ini sebenarnya adalah untuk kepentingan kita sendiri,
sebagai tanda terimakasih kepada-Nya, atas nikmat yang diberikan-Nya, agar kita menjadi orang
yang bertaqwa, Allah SWT berfirman: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah
menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” [2 : 21]

Dan satu hal penting yang harus dicatat adalah bahwa beribadah hanyalah kepada Allah saja,
menggantungkan hidup ini hanyalah kepada-Nya saja. Dunia ini adalah instrumen semata, yang
akan berperan sebagai bahan ujian dari-Nya. Karenanya, dalam beribadah, janganlah menduakan
Allah, karena hanya Allahlah satu-satunya dzat yang harus kita sembah dan ibadahi.

Ingatkah kita akan apa yang wajib kita ucapkan minimal 17 kali sehari, dalam shalat-shalat kita,
Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, hanya kepada Allah lah kami menyembah, dan hanya kepada
Allah lah kami minta pertolongan. Tiada yang lain. Karenanya, Allah tiada mengampuni jika kita
mensekutukannya, menduakannya dengan yang lain. Hanya berbuat karena Allah, dan hanya
meminta pertolongan kepada Allah lah yang membuat kita aman dari murkanya, dan akan
mendapatkan rahmat-Nya.

2. Pemimpin (khalifah)

Tugas yang kedua, sebagai khalifah. Yang dimaksud dengan tugas ini adalah bahwa manusia
memilki kewajiban untuk mengelola, merawat, dan memelihara bumi dengan sebaik-baiknya.
Segala sesuatu yang ada di dunia ini telah ditaklukkan Allah bagi manusia, Hewan, tumbuhan,
binatang, bumi dengan segala apa yang terpendam di dalamnya. Allah memberikan perintah ini
dapat kita simak dalam firman Allah, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,
‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata,
‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?’ Tuhan Berfirman, ‘SAesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui.’ “ (QS. Al-Baqarah : 2)

Manusia adalah makhluk yang termulia di antara makh-luk-makhluk yang lain (Q.S. al-Isra’: 70)
dan ia dijadikan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk/kejadian, baik fisik maupun psikhisnya (Q.S.
al-Tin: 5), serta dilengkapi dengan berbagai alat potensial dan potensi-potensi dasar (fitrah) yang

26
dapat dikembangkan dan diaktualisasikan seoptimal mungkin melalui proses pendidikan. Karena
itulah maka sudah selayaknya manusia menyandang tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi sebagaimana yang tersebut di atas yakni
menyangkut tugas mewujudkan kemakmuran di muka bumi (Q.S. Hud : 61), serta mewujudkan
keselamatan dan kebahagiaan hidup di muka bumi (Q.S. al-Maidah : 16), dengan cara beriman dan
beramal saleh (Q.S. al-Ra’d : 29), bekerja­sama dalam menegakkan kebenaran dan bekerjasama
dalam mene-gakkan kesabaran (Q.S. al-’Ashr : 1-3). Karena itu tugas kekhalifahan merupakan
tugas suci dan amanah dari Allah sejak manusia pertama hingga manusia pada akhir zaman yang
akan datang, dan merupakan perwujudan dari pelaksanaan pengabdian kepadaNya (’abdullah).

Tugas-tugas kekhalifahan tersebut menyangkut: tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri; tugas
kekhalifahan dalam keluarga/rumah tangga; tugas kekhalifahan dalam masyarakat; dan tugas
kekhalifahan terhadap alam.

Tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri meliputi tugas-tugas:

1) Menuntut ilmu pengetahuan (Q.S.al-Nahl: 43), karena manusia itu adalah makhluk yang
dapat dan harus dididik/diajar (Q.S. al-Baqarah: 31) dan yang mampu mendi-dik/mengajar (Q.S.
Ali Imran: 187, al-An’am: 51);

2) Menjaga dan memelihara diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya dan
kesengsaraan (Q.S. al-Tahrim: 6) termasuk di dalamnya adalah menjaga dan memelihara
kesehatan fisiknya, memakan makanan yang halal dan sebagainya; dan

3) Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Kata akhlaq berasal dari kata khuluq atau khalq.
Khuluq merupakan bentuk batin/rohani, dan khalq merupakan bentuk lahir/ jasmani. Keduanya
tidak bisa dipisahkan, dan manusia terdiri atas gabungan dari keduanya itu yakni jasmani (lahir)
dan rohani (batin). Jasmani tanpa rohani adalah benda mati, dan rohani tanpa jasmani adalah
malaikat. Karena itu orang yang tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia sama halnya
dengan jasmani tanpa rohani atau disebut mayit (bangkai), yang tidak saja membusukkan dirinya,
bahkan juga membusukkan atau merusak lingkungannya.

Tugas kekhalifahan dalam keluarga/rumah tangga meliputi tugas membentuk rumah tangga
bahagia dan sejahtera atau keluarga sakinah dan mawaddah wa rahmah/cinta kasih (Q.S. ar-Rum:

27
21) dengan jalan menyadari akan hak dan kewajibannya sebagai suami-isteri atau ayah-ibu dalam
rumah tangga.

Tugas kekhalifahan dalam masyarakat meliputi tugas-tugas : (1) mewujudkan persatuan dan
kesatuan umat (Q.S. al-Hujurat: 10 dan 13, al-Anfal: 46); (2) tolong menolong dalam kebaikan
dan ketaqwaan (Q.S. al-Maidah: 2); (3) menegakkan keadilan dalam masyarakat (Q.S. al-Nisa’:
135); (4) bertanggung jawab terhadap amar ma’ruf nahi munkar (Q.S. Ali Imran: 104 dan 110);
dan (5) berlaku baik terhadap golongan masyarakat yang lemah, termasuk di dalamnya adalah para
fakir dan miskin serta anak yatim (Q.S. al-Taubah: 60, al-Nisa’: 2), orang yang cacat tubuh (Q.S.
’Abasa: 1-11), orang yang berada di bawah penguasaan orang lain dan lain-lain.

Sedangkan tugas kekhalifahan terhadap alam (natur) meliputi tugas-tugas:

1) Mengkulturkan natur (membudaya-kan alam), yakni alam yang tersedia ini agar dibudayakan,
sehingga menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi kemaslahatan hidup manusia;

2) Menaturkan kultur (mengalam-kan budaya), yakni budaya atau hasil karya manusia harus
disesuaikan dengan kondisi alam, jangan sampai merusak alam atau lingkungan hidup, agar tidak
menimbulkan malapetaka bagi manusia dan lingkungannya; dan

3) MengIslamkan kultur (mengIslamkan budaya), yakni dalam berbudaya harus tetap komitmen
dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-’alamin, sehingga berbudaya berarti mengerahkan
segala tenaga, cipta, rasa dan karsa, serta bakat manusia untuk mencari dan mene-mukan
kebenaran ajaran Islam atau kebenaran ayat-ayat serta keagungan dan kebesaran Ilahi.

Jika kita memperhatikan ayat-ayat yang tersebut di atas, maka setidaknya ada beberapa perilaku
positif yang harus dimiliki seorang khalifah, yaitu tidak membuat kerusakan di muka bumi.
Kerusakan ini meliputi seluruh keburukan yang diperbuat oleh manusia, seperti melakukan
kerusakan terhadap lingkungannya (melakukan pembabatab hutan secara illegal dan perbuatan
buruk lainnya yang sejenis.), atau menjerumuskan diri sendiri dan orang lain ke dalam kubangan
narkoba dan pergaulan bebas. Seorang khalifah juga tidak akan menumpahkan darah sesame
manusia dengan sangat mudah. Ini juga memiliki pengertian membunuh karakter saudara kita yang
lain dengan melakukan fitnah dan adu domba diantara sesama manusia. Dan tentunya seorang
khalifah juga mertupakan seorang manusia yang rajin beribadah kepada Allah SWT dan selalu

28
mengekalkan kebaikan di sepanjang hidupnya. JIka seorang khalifah mnampu bertindak seprti
disebutkan di atas, kehidupan di bumi dapat berlangsung penuh kebahagiaan dan kedamaian.

3. Berdakwah.

Yang ketiga, berdakwah. Tugas berdakwah bukan hanya pekerjaan guru agama, ustadz ataupun
seorang kiai. Ini adalah kewajiban seorang muslim. Untuk berdakwah sesrorang tidak perlu
menjadi ustadz, hanya sampaikan kebaikan yang hari ini kita ketahui, Jika esok hari kita
mengetahui kebaikan maka sampaikan kebaikan tersebut kepasa saudara yang lain. Tetapi
sampaikan informasi mengenai kebaikan tersebut dalam dengan bijaksana, perkataan yang sopan.
Jangan memaksakan kehendak kepada orang lain, ketika kita menyambaikan kebaikan yang
datangnya dari sisi Allah. Ingatlah saudara, betapapun indahnya sebuah kebaikan, ia tidak akan
bias disampaikan dengan kekerasan dan keburukan yang baru.

2.10 Periodesasi kehidupan manusia di dunia sampai ke akhirat

5 periode perjalanan sejarah umat manusia lebih khusus lagi umat Islam atau umat yang beriman
kepada Allah, yaitu:
1. Manusia dipimpin oleh para nabi dan para rasul (masa kenabian)
2. Manusia dipimpin oleh Khulafaur Rasyidin (masa khilafah sesuai dengan pedoman Rasulullah
SAW
3. Manusia dipimpin oleh raja-raja yang menggigit (masa malik ‘adhon)
4. Manusia dipimpin oleh raja-raja ada penguasa yang diktator dan tidak berpedoman pada ajaran
Islam.
5. Manusia dipimpin kembali oleh sistem khilafah sesuai pedoman yang dibawa nabi Muhammad
SAW.
Informasi yang pertama telah terjadi dan benar adanya, bahwa manusia pada saat itu dipimpin oleh
para nabi dan para rasul, mulai dari nabi Adam as sampai nabi Muhammad SAW. Pada masa ini
para nabi dan para rasul yang diutus Allah kepada manusia sekaligus berfungsi sebagai pemimpin
mereka. Ketika seorang nabi wafat maka Allah mengutus lagi nabi yang baru yang akan
meluruskan keyakinan dan sikap hidup manusia. Para nabi dan para rasul memimpin manusia dan

29
membimbing mereka untuk beriman dan beribadah kepada Allah. Walaupun begitu banyak juga
di antara kaumnya yang mengingkari ajaran nabi-nabi atau rasul-rasul tersebut.
Manusia yang ingkar dan tidak beriman kepada Allah pada masa nabi-nabi dan rasul-rasul
sebelum nabi Muhammad SAW, biasanya dihancurkan oleh Allah. Sehingga yang tersisa adalah
nabi dan pengikutnya yang beriman. Setelah nabi tersebut wafat, maka semakin lama jarak
wafatnya nabi, semakin banyak pula yang tersesat dari ajaran Allah yang dibawa nabi tersebut.
Maka Allah pun mengutus nabi baru kemudian membimbing mereka dan mengajak mereka untuk
kembali beriman pada Allah dan beribadah kepada-Nya. Begitulah seterusnya sampai Allah
mengutus nabi dan rasul terakhir Muhammad SAW.
Masa kepemimpinan nabi Muhammad SAW selama 23 tiga tahun, yaitu masa beliau
diangkat menjadi rasul dan menjalankan tugas dakwah yang diembannya. Lebih riil lagi,
kepemimpinan Muhammad SAW semenjak beliau hijrah ke Madinah sampai wafatnya, yaitu
selama 13 tahun. Karena di Madinah nabi Muhammad SAW sudah memiliki kekuatan hukum dan
memiliki basis wilayah. Memang pada masa kepemimpinan Muhammad SAW khususnya di
Madinah, pada saat itu belum ada istilah daulah (negara). Tetapi bagi yang berpikiran jernih dan
memahami sirah rasul SAW bahwa Rasulullah SAW memimpin lebih dari sebuah negara. Karena
di sana Rasulullah SAW memiliki otoritas menegakkan hukum dan menjatuhkan sangsi bagi yang
melanggarnya. Dan tidak ada institusi yang memiliki wewenang menjalankan hukum,
melaksanakan perang dan menerapkan sangsi kecuali institusi negara.
Wafatnya Rasulullah SAW. berarti menandakan berakhirnya masa kenabian untuk
kemudian beralih pada masa khilafah sesuai dengan pedoman kenabian khususnya pedoman Nabi
Muhammad SAW. Maka masa kepemimpinan manusia dan umat Islam berpindah pada Khulafaur
Rasyidin (khalifah Rasul SAW yang mendapat petunjuk), yaitu Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin
Khattab, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib. Sebagian ulama dan ahli sejarah memasukkan
masa kepemimpinan Umar bina Abdul Aziz pada masa ini karena kesamaan sistem yang diikuti
Umar bin Abdul Aziz dan keluhuran akhlaq beliau. Masa ini pun tidak jauh berbeda dengan masa
kepemimpinan Rasulullah SAW, karena masih mengacu pada Rasulullah SAW dan berpegang erat
pada Al-Qur’an dan Sunnah. Masa khilafah sesuai dengan manhaj nabi berlangsung selama sekitar
40 tahun. Terhitung dari diangkatnya Abu Bakar menjadi khalifah sampai wafatnya Ali bin Abi
Thalib.

30
Dalam waktu yang relatif singkat ini Islam sudah menjadi super power yang memberikan
rahmat pada dunia. Kekuasaannya sudah mencapai seluruh jazirah Arab, Afrika Utara, Sebagian
Asia Tengah dan Sebagian Eropa. Persia dan Romawi dua super power dunia saat sebelum Islam,
di masa Khulafaur Rasyidin sudah jatuh ke pangkuan Islam. Manusia hidup sejahtera dalam
naungan Islam dan mereka berbahagia dalam keindahan Islam. Kaum yang lemah tidak dizhalimi
haknya dan kaum yang miskin mendapatkan santunan dari negara. Rahmat lil ‘alamin, memang
hanya dapat direalisasikan secara maksimal manakala Islam dan umat Islam memimpin dan
berkuasa. Karena konsep kekuasaan dalam Islam adalah konsep pelayanan dan Sayidul kaum
khodimuhum (pemimpin suatu kaum adalah pelayan kaum tersebut).
Setelah Ali bin Abi Thalib wafat masa kekuasaan berpindah ke Muawiyah. Dan mulai saat
itu sistem kekuasaan mengalami distorsi dari ajaran Islam. Masa ini sesuai dengan hadits Nabi
SAW disebut masa malikan ‘adhon (raja yang menggigit). Pada masa ini sistem hukum yang
dipakai masih bersandar pada Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi sistem pergantian kepemimpinan
berubah dari sistem syura’ menjadi sistem kerajaan yang diangkat secara turun temurun. Dan pada
masa ini juga ada di antara raja yang zhalim yang menindas rakyatnya, walaupun secara formal
mereka masih berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah. Masa ini sesuai dengan perjalanan sejarah
berlangsung cukup lama, yaitu dari mulai Muawiyah memimpin yang diteruskan oleh
keturunannya dari dinasti Bani Umayyah, kemudian berpindah ke Bani Abbasiyah dan yang
terakhir kekuasaan Turki Utsmani yang runtuh pada tahun 1924 M. Sehingga masa ini adalah masa
yang cukup lama yaitu dari abad ke 6 sampai abad ke 20, yaitu sekitar 14 abad.
Setelah keruntuhan khilafah Turki Utsmani masa berpindah dari malikan ‘adhon ke
malikan jabariyan (penguasa diktator). Inilah masa kejatuhan umat Islam dari semua sisi
kehidupan, termasuk sisi politik, karena umat Islam pada masa ini tertindas oleh penjajahan barat
atau timur yang tidak beriman pada Allah dan menerapkan sistem sekuler yang jauh dari ajaran
Islam. Dunia Islam terpecah belah menjadi negara-negara kecil yang tidak berpedoman pada
Syariat Islam. Sehingga dengan mudahnya bangsa barat menjajah dan mengendalikan dunia Islam
yang sudah terpecah ini demi kepentingan dan kekuasaan mereka. Malikan Jabariyan dipimpin
oleh penguasa kafir yang sekarang di bawah kekuasaan Amerika Serikat dan Israel. Hampir
seluruh penguasa dunia Islam tunduk dan dikendalikan oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
AS, Israel dan sekutunya berupaya mempertahankan hegemoni kekuasaannya dengan
menghalalkan segala macam cara. Badan-badan dunia seperti PBB, IMF, Bank Dunia dll.

31
dikuasainya. Mereka menguasai aset dan kekayaan dunia Islam dengan berbagai macam dalih.
Mereka juga berupaya menguasai opini dunia dengan mengendalikan media masa. AS benar-benar
memposisikan dirinya sebagai rezim Firaun di abad ini. Walaupun begitu siklus kehidupan di
dunia akan terus berjalan. Dan setiap umat dan bangsa pasti memiliki masa berakhirnya, begitu
juga sebuah kekuasaan. Allah SWT berfirman yang artinya:
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu
(pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar)
mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara
manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang
beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai)
syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim, dan agar Allah membersihkan
orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir” (QS
Ali Imran 139 –141)
Malikan Jabariyan pasti akan berakhir dan akan beralih pada masa Khilafah ‘ala Manhajin
Nubuwah (Khilafah sesuai pedoman kenabian). Tanda tersebut sudah semakin dekat, AS, Israel
dan sekutunya sudah demikian zhalim dan brutal terutama terhadap umat Islam. Mereka ibarat
bangsa yang sedang menghadapi sakaratul maut, maka tindakannya kalap dan menghajar siapa
saja yang dianggapnya musuh. Masa penguasa diktator yang dipimpin AS, Israel dan sekutunya
tidak akan berlangsung lama lagi karena di hampir seluruh dunia Islam sudah mulai marak gerakan
Islam yang tidak dapat dimusnahkan dan dibendung. Dan gerakan Islam tersebut semakin kuat
dalam memperjuangkan kembalinya sistem Islam termasuk dalam dunia politik.
Allah SWT berfirman yang artinya “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah
dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun
orang-orang kafir benci”. (QS As-Shaaf 8) Prediksi Rasulullah SAW menunjukkan bahwa masa
kepemimpinan akan kembali ke tangan umat Islam, dan sistem yang dipakai adalah sistem khilafah
sesuai dengan pedoman nabi Muhammad SAW. Inilah kabar gembira yang juga disebutkan dalam
Al-Qur’an, Allah SWT berfirman yang artinya:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan
amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi,
sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh

32
Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-
benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman
sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan
Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang
yang fasik” (QS An-Nuur 55). Wallahu A’lam Bishawaab.
2.11Pemahaman tentang Hamfijas dalam kajian manusia
H = HEWANI
U = UBUDI (IBADAH)
M = MAKRIFATI (Pemahaman mendalam)
Fi = FITRATI (kesucian)
Ja = JAMALI (keindahan)
S = SYAHWATI (keinginan/hawa nafsu)

2.12 Hak asasi manusia menurut islam

Hak asasi manusia dalam Islam tertuang secara jelas untuk kepentingan manusia, lewat
syari’ah Islam yang diturunkan melalui wahyu. Menurut syari’ah, manusia adalah makhluk bebas
yang mempunyai tugas dan tanggung jawab, dan karenanya ia juga mempunyai hak dan
kebebasan. Dasarnya adalah keadilan yang ditegakkan atas dasar persamaan atau egaliter, tanpa
pandang bulu. Artinya, tugas yang diemban tidak akan terwujud tanpa adanya kebebasan,
sementara kebebasan secara eksistensial tidak terwujud tanpa adanya tanggung jawab itu sendiri.
Sistem HAM Islam mengandung prinsip-prinsip dasar tentang persamaan, kebebasan dan
penghormatan terhadap sesama manusia. Persamaan, artinya Islam memandang semua manusia
sama dan mempunyai kedudukan yang sama, satu-satunya keunggulan yang dinikmati seorang
manusia atas manusia lainya hanya ditentukan oleh tingkat ketakwaannya. Hal ini sesuai dengan
firman Allah dalam Surat Al-Hujarat ayat 13, yang artinya sebagai berikut : “Hai manusia,
sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia
di antara kaum adalah yang paling takwa.”

2.12.1 Pengaturan Hak Asasi Manusia dalam Hukum Islam

33
Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber hukum dalam Islam memberikan penghargaan yang
tinggi terhadap hak asasi manusia. Al-Qur’an sebagai sumber hukum pertama bagi umat Islam
telah meletakkan dasar-dasar HAM serta kebenaran dan keadilan, jauh sebelum timbul pemikiran
mengenai hal tersebut pada masyarakat dunia. Ini dapat dilihat pada ketentuan-ketentuan yang
terdapat dalam Al-Qur’an, antara lain : 1.) Dalam Al-Qur’an terdapat sekitar 80 ayat tentang hidup,
pemeliharaan hidup dan penyediaan sarana kehidupan, misalnya dalam Surat Al-Maidah ayat 32.
Di samping itu, Al-Qur’an juga berbicara tentang kehormatan dalam 20 ayat. 2.) Al-Qur’an juga
menjelaskan dalam sekitas 150 ayat tentang ciptaan dan makhluk-makhluk, serta tentang
persamaan dalam penciptaan, misalnya dalam Surat Al-Hujarat ayat 13. 3.) Al-Qur’an telah
mengetengahkan sikap menentang kezaliman dan orang-orang yang berbuat zalim dalam sekitar
320 ayat, dan memerintahkan berbuat adil dalam 50 ayat yang diungkapkan dengan kata-kata :
‘adl, qisth dan qishash. 4.) Dalam Al-Qur’an terdapat sekitar 10 ayat yang berbicara mengenai
larangan memaksa untuk menjamin kebebasan berpikir, berkeyakinan dan mengutarakan aspirasi.
Misalnya yang dikemukakan oleh Surat Al-Kahfi ayat 29.

2.12.2 Hukum Islam dan HAM

Hukum Islam telah mengatur dan melindungi hak-hak asasi manusia. Antar lain sebagai
berikut :

1. Hak hidup.

Hak hidup adalah hak asasi yang paling utama bagi manusia, yang merupakan karunia dari
Allah bagi setiap manusia. Perlindungan hukum islam terhadap hak hidup manusia dapat dilihat
dari ketentuan-ketentuan syari’ah yang melinudngi dan menjunjung tinggi darah dan nyawa
manusia, melalui larangan membunuh, ketentuan qishash dan larangan bunuh diri. Membunuh
adalah salah satu dosa besar yang diancam dengan balasan neraka, sebagaimana firman Allah
dalam Surat Al-Nisa’ ayat 93 yang artinya sebagai berikut : “Dan barang siapa membunuh seorang
muslim dengan sengaja maka balasannya adalah jahannam, kekal dia di dalamnya dan Allah murka
atasnya dan melaknatnya serta menyediakan baginya azab yang berat.”

2. Hak kebebasan beragama

34
Dalam Islam, kebebasan dan kemerdekaan merupakan HAM, termasuk di dalmnya
kebebasan menganut agama sesuai dengan keyakinannya. Oleh karena itu, Islam melarang keras
adanya pemaksaan keyakinan agama kepada orang yang telah menganut agama lain. Hal ini
dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat AL-Baqarah ayat 256, yang artinya: “Tidak ada paksaan untuk
(memasuki) agama Islam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dan jalan yang salah.”

3. Hak atas keadilan.

Keadilan adalah dasar dari cita-cita Islam dan merupakan disiplin mutlak untuk
menegakkan kehormatan manusia. Dalam hal ini banyak ayat-ayat Al-Qur’an maupun Sunnah ang
mengajak untuk menegakkan keadilan, di antaranya terlihat dalam Surat Al-Nahl ayat 90, yang
artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi
kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji , kemungkaran dan permusuhan.”

4. Hak persamaan

Islam tidak hanya mengakui prinsip kesamaan derajat mutlak di antara manusia tanpa
memndang warna kulit, ras atau kebangsaan, melainkan menjadikannya realitas yang penting. Ini
berarti bahwa pembagian umat manusia ke dalam bangsa-bangsa, ras-ras, kelompok-kelompok
dan suku-suku adalah demi untuk adanya pembedaan, sehingga rakyat dari satu ras atau suku dapat
bertemu dan berkenalan dengan rakyat yang berasal dari ras atau suku lain.

Al-Qur’an menjelaskan idealisasinya tentang persamaan manusia dalam Surat Al-Hujarat ayat 13,
yang artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu laki-laki dan perempuan, dan
Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling takwa.”

5. Hak mendapatkan pendidikan

Setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran. Setiap orang
berhak mendapatkan pendidikan sesuai dengan kesanggupan alaminya. Dalam Islam,
mendapatkan pendidikan bukan hanya merupakan hak, tapi juga merupakan kewajiban bagi setiap

35
manusia, sebagaimana yang dinyatakan oleh hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhari :
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”

Di samping itu, Allah juga memberikan penghargaan terhadap orang yang berilmu, di mana dalam
Surat Al-Mujadilah ayat 11 dinyatakan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang
beriman dan orang-orang yang berilmu.

6. Hak kebebasan berpendapat

Setiap orang mempunyai hak untuk berpendapat dan menyatakan pendapatnya dalam
batas-batas yang ditentukan hukum dan norma-norma lainnya. Artinya tidak seorangpun
diperbolehkan menyebarkan fitnah dan berita-berita yang mengganggu ketertiban umum dan
mencemarkan nama baik orang lain. Dalam mengemukakan pendapat hendaklah mengemukakan
ide atau gagasan yang dapat menciptakan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kebebasan
berpendapat dan mengeluarkan pendapat juga dijamin dengan lembaga syura, lembaga
musyawarah dengan rakyat, yang dijelaskan Allah dalam Surat Asy-Syura ayat 38, yang artinya :
“Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”

7. Hak Kepemilikan
Islam menjamin hak kepemilikan yang sah dan mengharamkan penggunaan cara apa pun untuk
mendapatkan harta orang lain yang bukan haknya, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-
Baqarah ayat 188, yang artinya : “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang
lain di antara kamu dengan jalan bathil dan janganlah kamu bawa urusan harta itu kepada hakim
agar kamu dapat memakan harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa padahal kamu
mengetahuinya.”

8. Hak Mendapatkan Pekerjaan


Islam tidak hanya menempatkan bekerja sebagai hak, tetapi juga sebagai kewajiban. Bekerja
merupakan kehormatan yang perlu dijamin, sebagaimana sabda Nabi saw : “Tidak ada makanan
yang lebih baik yang dimakan seseorang dari pada makanan yang dihasilkan dari tangannya
sendiri.” (HR. Bukhari)

36
Di samping itu, Islam juga menjamin hak pekerja, seperti terlihat dalam hadits : “Berilah pekerja
itu upahnya sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah)

2.13 Kebutuhan hidup manusia menurut Islam

2.13.1 Pengertian Kebutuhan

a. Secara Umum

Kebutuhan adalah segala sesuatu yang diperlukan manusia terhadap benda atau jasa yang
dapat memberikan kepuasan dan kemakmuran kepada manusia itu sendiri, baik kepuasan jasmani
maupun kepuasan rohani..

b. Menurut Islam (Maslahah)


Maslahah adalah kepemilikan atau kekuatan barang/jasa yang mengandung elemen-
elemen dasar dan tujuan kehidupan umat manusia di dunia ini dan perolehan pahala untuk
kehidupan akhirat.

2.13.2 Konsep Islam Tentang Kebutuhan

Kebutuhan adalah senilai dengan keinginan. Di mana keinginan ditentukan oleh konsep
kepuasan. Dalam perspektif Islam kebutuhan ditentukan oleh konsep kepuasan. Dalam perspektif
Islam kebutuhan di tentukan oleh konsep maslahah. Pembahasan konsep kebutuhan dalam Islam
tidak dapat dipisahkan dari kajian perilaku konsumen dari kerangka maqasid syari’ah (tujuan
syari’ah). Tujuan syari’ah harus dapat menentukan tujuan perilaku konsumen dalan Islam. Tujuan
syari’ah Islam adalah tercapainya lesejahteraan umat manusia (maslahat-al-‘ibad). Oleh karena
itu, semua barang dan jasa yang dimiliki maslahah akkan dikatakan menjadi kebutuhan manusia.

Teori ekonomi konvensional menjabarkan kepuasan (utility) seperti memiliki barang/jasa


untuk memuaskan keinginan manusia. Kepuasan (satisfaction) ditentukan secara subyektif. Tiap-
tiap orang memiliki atau mencapai kepuasannya menurut ukuran atau kriterianya sendiri. Suatu
aktivitas ekonomi untuk menghasilkan sesuatu adalah didorong karena adanya kegunaan dalam
sesuatu itu. Jika sesuatu itu dapat memenuhi kebutuhan, maka manusia akan melakukan usaha
untuk mengkonsumsi sesuatu itu.

37
Dalam konteks ini, konsep maslahah sangat tepat untuk diterapkan. Menurut Syatibi,
maslahah adalah pemilikan atau kekuatan barang/jasa yang mengandung elemen-elemen dasar dan
tujuan kehidupan umat manusia di dunia ini (dan perolehan pahala untuk kehidupan akhirat = pen).
Syatibi membedakan maslahah menjadi tiga, yaitu: kebutuhan (daruriyah), pelengkap (hajiyah),
dan perbaikan (tahsiniyah).

Khallaf memberikan penjelasan mengenai maslahah sebagai berikut, bahwa tujuan umum
syar’i dalam mensyari’atkan hukum ialah terwujudnya kemaslahatan umum dalam kehidupan,
mendapatkan keuntungan dan menghindari bahaya. Karena kemaslahatan manusia dalam
kehidupan ini terdiri dari beberapa hal yang bersifat daruriyah, hajiyah, dan tahsiniyah telah
terpenuhi, berarti telah nyata kemaslahatan mereka. Seorang ahli hokum yang muslim, tentunya
mensyari’atkan hokum dalam berbagai sektor kegiatan manusia untuk merealisasikan pokok-
pokok daruriyah, hajiyah, dan tahsiniyah bagi perorangan dan masyarakat.

Lebih jauh khallaf mengatakan, “yang terpenting dari tiga tujuan pokok itu adalah darury
dan wajib dipelihara. Hajiyi boleh ditinggalkan apabila memeliharanya merusak hukum darury,
dan tahsiny boleh ditinggalkan apabila dalam menjaganya merusak hukum darury dan tahsiny.

Jadi semua barang dan jasa yang memiliki kekuatan untuk memenuhi elemen pokok
(darury) telah dapat dikatakan memiliki maslahah bagi umat manusia. Semua kebutuhan adalah
tidak sama penting. Kebutuhan ini meliputi tiga tingkatan, yaitu:
 Tingkat di mana lima elemen pokok di atas dilindungi secara baik.
 Tingkat di mana perlindungan lima elemen pokok di atas dilengkapi untuk
memperkuat perlindungannya.
 Tingkat di mana lima elemen pokok di atas secara sederhana di peroleh secara
lebih baik.

Semua barang dan jasa yang memiliki kekuatan, atau kualitas untuk melindungi, menjaga
dan memperbaiki, atau salah satu daripadanya terhadap lima elemen pokok, maka barang dan jasa
tersebut memiliki maslahah. Seorang muslim secara agamis didorong untuk mencari dan
memproduksi barang dan jasa yang memiliki maslahah, tergantung pada tingkat di mana
barang/jasa mampu mengenai elemen pokok tersebut. Barang/jasa yang melindungi elemen ini
38
akan lebih maslahah jika diikuti oleh barang/jasa untuk melindungi/menjaga barang/jasa itu dari
kemungkinan memperbaiki elemen pokok tersebut.

2.13.3 Jenis-Jenis Kebutuhan

Macam-macam kebutuhan dalam Islam1

Dalam teori konvensioanal kepuasan (utility) digambarkan dengan memiliki barang /jasa
untuk memuaskan keinginan manusia. Keinginan manusia ditentukan secara subjektif. Tiap-tiap
orang memiliki atau mencapai kepuasan menurut kriterianya masing-masing. Dalam perspektif
Islam, kebutuhan ditentukan oleh konsep maslahah.

Menurut Syatibi, maslahah dibedakan menjadi tiga:

 Kebutuhan Dharuriyyah.

Daruriyyah adalahsesuatuyangwajibadanyamenjadipokokkebutuhanhidupuntukmenegak
kankemaslahatanmanusia.Kebutuhandaruriyyahdalampengertianiniberpangkaldaripadapemelihar
aan lima hal, yaitu: agama, jiwa, akal, kehormatan, dan harta.

Contoh kebutuhan dharuriyyah

a. Pengeluaran untuk mempertahankan jiwa dan raga: pangan, sandang, papan dan kesehatan

b. Pengeluaran untuk keagamaan: pengeluaran untuk peribadatan, pemeliharaan hasil-hasil


kebudayaan dan dakwah Islam.

c. Pengeluaran untuk memelihara akal: pengeluaran untuk pendidikan

d. Pengeluaran untuk memelihara kehormatan: pengeluaran untuk biaya perkawinan dan


sejenisnya

e. Pengeluaran untuk menjaga harta kekayaan, misalnya membeli brankas-brankas yang


cocok untuk menyimpan harta.

39
 Kebutuhan Hajiyah

Hajiah adalah sesuatu yang diperlukan oleh manusia dengan maksud untuk
membuat ringan, lapang dan nyaman dalam menanggulangi kesulitan-kesulitan hidup. Suatu
kebutuhan dimana kehidupan tetap berjalan tanpanya walaupun akan banyak menghadapi
kesulitan.

Setiap barang di luar kebutuhan dharuriyyah seperti yang terdapat dalam contoh yang
telah disebutkan sebelumnya dapat dikategorikan sebagai barang kebutuhan hajiyyah. Karenanya,
setiap barang-barang kebutuhan daruriyyah atau setiap tambahan pengeluaran perkawinan,
pendidikan dan lain-lain dianggap termasuk barang-barang kebutuhan hajiyah.

 Kebutuhan Tahsiniyah

Tahsiniyah adalah sesuatu yang diperlukan oleh norma atau tatanan hidup serta perilaku
menurut jalan yang lurus. Hal yang bersifat tahsiniyah berpangkal dari tradisi yang baik dan
segala tujuan perikehidupan manusia menurut jalan yang baik. Secara lebih spesifik tahsiniyah
adalah semua barang yang membuat hidup menjadi lebih mudah dan gampang tanpa berlebih-
lebihan atau bermewahan, seperti makanan yang baik, pakaian yang nyaman, peralatan kecantikan,
interior rumah yang tertata lengkap dan tertata indah, serta semua barang yang menjadikan hidup
manusia menjadi lebih baik.

Barang kebutuhan ini berhubungan dengan hadits nabi:

“Diantara kebahagiaan seseorang adalah tetangga yang baik, kendaraan yang nyaman, dan
rumah yang luas” (HR.Ahmad).

Contoh barang kebutuhan tahsiniyah:

a. Pengeluaran untuk acara perayaan tertentu yang diperbolehkan oleh syara’

b. Pengeluaran untuk membeli beberapa perlengkapan yang memudahkan pekerjaan


perempuan di rumah

c. Pengeluaran untuk memperindah rumah.

40
2.13.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan

Jika kita teliti, ternyata ada perbedaan kebutuhan antara satu individu dan individu lainnya,
atau antara satu kelompok dan kelompok lainnya. Ada beberapa hal yang menyebabkan kebutuhan
itu berbeda. Di antaranya adalah peradaban, lingkungan, adat istiadat, dan agama.

a. Peradaban

Peradaban adalah salah satu faktor yang membuat kebutuhan tiap zaman berbeda. Pada
zaman dahulu, peradaban manusia masih sangat rendah. Kebutuhan manusia pada masa itu masih
tertuju pada kebutuhan primer. Jenis kebutuhan serta cara pemenuhannya pun masih sangat
sederhana. Misalnya, nenek moyang kita cukup berpakaian seadanya dengan menggunakan kulit
kayu atau daun-daunan. Makan pun cukup dengan umbi-umbian.

Seiring dengan berkembangnya peradaban, semakin berkembang pula jenis kebutuhan.


Manusia membutuhkan makanan lain yang lebih bervariasi dan pakaian yang terbuat dari bahan
yang bagus.

b. Lingkungan

Lingkungan termasuk salah satu faktor yang memengaruhi kebutuhan manusia. Kebutuhan
masyarakat yang mendiami sebuah pesisir berbeda dengan masyarakat yang mendiami
pegunungan. Penduduk pesisir lebih membutuhkan jaring, perahu, panting, atau kapal motor agar
dapat menangkap ikan di laut. Sedangkan penduduk pegunungan lebih membutuhkan cangkul,
benih tanaman, atau pupuk untuk bercocok tanam.

c. Adat istiadat

Adat istiadat atau tradisi juga banyak memengaruhi perbedaan kebutuhan setiap individu
atau kelompok individu. Pria Jawa memiliki tradisi untuk menggunakan blangkon. Sementara pria
di daerah lainnya tidak demikian.

d. Agama

Agama juga termasuk salah sate faktor yang membuat kebutuhan setiap individu berbeda.
Misalnya, penganut agama Islam membutuhkan sajadah untuk salat dan dilarang mengonsumsi
41
daging babi, sedangkan penganut agama Hindu membutuhkan sesajen dalam upacara
keagamaannya dan dilarang mengonsumsi daging sapi.

Macam-macam kebutuhan dalam Islam

Dalam teori konvensioanal kepuasan (utility) digambarkan dengan memiliki barang /jasa
untuk memuaskan keinginan manusia. Keinginan manusia ditentukan secara subjektif. Tiap-tiap
orang memiliki atau mencapai kepuasan menurut kriterianya masing-masing. Dalam perspektif
Islam, kebutuhan ditentukan oleh konsep maslahah.

2.14 Program-program pengisian kehidupan manusia di dunia

A. Arti Hidup dalam Islam

Ulama besar, Muhammad Al Ghazali, pernah berkata bahwa pemahaman hidup yang
dangkal adalah sebuah tindak ‘kriminal’ yang keji. Disebut demikian karena pemahaman yang
dangkal ini akan membawa kepada ketersesatan dari jalan menuju akhirat yang bahagia. Semisal,
jika seseorang memandang hidup dengan dangkal, boleh jadi ia akan menghalalkan segala cara
untuk memperoleh harta, tidak memperdulikan apakah itu halal ataukah haram.

Makna hidup dalam tinjauan Islam paling tidak meliputi pemahaman bahwa:

Hidup ini kesemuanya adalah ujian dari Allah SWT. Hidup adalah untuk menguji apakah
seorang manusia bersyukur atau kufur kepada Allah SWT.Allah berfirman dalam QS Al Mulk [67]
: 2 yang terjemahnya, ” (ALLAH) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Ujian
dalam hidup kita bukan saja kesulitan ataupun musibah, namun juga berupa nikmat atau
kemudahan dari Allah SWT, seperti keluarga, suami, istri, anak-anak, harta, kekuasaan, pangkat,
dsb.

Kita bisa meneladani Nabi Sulaiman as. yang diberikan nikmat luar biasa oleh Allah SWT.
Allah SWT memberikan kerajaan yang sangat kaya, luas dan besar, yang pasukannya terdiri dari
manusia, jin, hewan, dan angin. Semua kenikmatan itu tidak menjadi Nabi Sulaiman as menjadi
sombong kemudian mengingkari Allah SWT, namun menjadikannya sering ber-muhasabah,
melakukan introspeksi diri, berhati-hati jangan sampai menjadi kufurkepada Allah SWT.Allah
berfirman dalam QS Al Mulk [67] : 2 yang terjemahnya, ” (Allah Swt) yang menjadikan mati dan

42
hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha
Perkasa lagi Maha Pengampun. ”

Kehidupan dunia ini hanya sementara

Boleh jadi saat ini kita dalam kondisi sehat wal ‘afiat, gagah, cantik, kulit mulus, dll. Tapi
ada saatnya ketika kita kemudian menjadi tua, keriput, lemah, pikun, dan akhirnya dipanggil ke
sisi Allah Swt.

Dalam QS Al Mu’min [40]:39, Allah berfirman, “ Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia
ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. “ Dalam
QS Al Anbiyaa [21]:35, “ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu
dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-
lah kamu dikembalikan. “

Kehidupan ini adalah ladang amal untuk kesuksesan akhirat

Ali bin Abi Thalib ra. Berkata bahwa sesungguhnya hari ini adalah hari untuk beramal
bukan untuk hisab (perhitungan) dan esok (akhirat) adalah hari perhitungan bukan untuk beramal.
Ketika seseorang meninggal dunia maka terputuslah semua amal perbuatannya dan ia tinggal
menunggu masa untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya di dunia. Bekal kita
adalah ibadah kepada Allah SWT. Ibadah bukan sekedar sholat atau zakat, tetapi segala aktivitas
hidup kita akan bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah SWT.[3]

Fungsi dan kedudukan manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah di buini. Tujuan
penciptaan manusia di atas dunia ini adalah untuk beribadah. Sedangkan tujuan hidup manusia di
dunia ini adalah untuk mendapatkan kesenangan dunia dan ketenangan akhirat. Jadi, manusia, di
atas bumi ini adalah sebagai khalifah, yang diciptakan oleh Allah dalam rangka, untuk beribadah
kepada-Nya, yang ibadah itu adalah untuk mencapai kesenangan di dunia dan ketenangan di
akhirat.

Apa yang harus dilakukan oleh khalifatullah itu di bumi? Dan bagaimanakah manusia
melaksanakan ibadah-ibadah tersebut? Serta bagaimanakah manusia bisa mencapai kesenangan
duma, dan ketenangan akhirat tersebut? Banyak sekali ayat yang menjelaskan mengenai tip
pandangan ini kepada, manusia. Antara lain seperti disebutkan pada Surah Al-Bagarah ayat 30.

43
Khalifah adalah seseorang yang diberi tugas sebagai pelaksana dari tugas-tugas yang telah
ditentukan. Jika manusia sebagai khalifatullah di bumi, maka ia, memiliki tugas-tugas tertentu
sesuai dengan tugas-tugas yang telah digariskan oleh Allah selama manusia, itu berada di bumi
sebagai khalifatullah.

2.15 Alam-alam yang dilalui manusia di dunia dan akhirat

2.15.1 Alam Ruh

Manusia merupakan makhluk terakhir yang diciptakan Allah swt. setelah sebelumnya
Allah telah menciptakan makhluk lain seperti malaikat, jin, bumi, langit dan seisinya. Allah
menciptakan manusia dengan dipersiapkan untuk menjadi makhluk yang paling sempurna.
Karena, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi dan
memakmurkannya.

Persiapan pertama, Allah mengambil perjanjian dan kesaksian dari calon manusia, yaitu
ruh-ruh manusia yang berada di alam arwah. Allah mengambil sumpah kepada mereka
sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa
mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu
tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap
ini (keesaan Tuhan).” (Al A’raf: 172).

Dengan kesaksian dan perjanjian ini maka seluruh manusia lahir ke dunia sudah memiliki
nilai, yaitu nilai fitrah beriman kepada Allah dan agama yang lurus. Maka hadapkanlah wajahmu
dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Ruum: 30). Rasulullah saw. bersabda: “Setiap anak
dilahirkan secara fitrah. Maka kedua orang tuannya yang menjadikan Yahudi atau Nashrani atau
Majusi.” (HR Bukhari)

44
2.15.2 Alam Rahim

Rihlah pertama yang akan dilalui manusia adalah kehidupan di alam rahim: 40 hari berupa
nutfah, 40 hari berupa ‘alaqah (gumpalan darah), dan 40 hari berupa mudghah (gumpalan daging),
kemudian ditiupkan ruh dan jadilah janin yang sempurna. Setelah kurang lebih sembilan bulan,
maka lahirlah manusia ke dunia.

Allah swt. berfirman: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari
kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna
kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam
rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan
kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan,
dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan
umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah
diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di
atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan
yang indah.” (Al-Hajj: 5)

Setelah mencapai 6 bulan sampai 9 bulan atau lebih, dan persyaratan untuk hidup normal
sudah lengkap, seperti indra, akal, dan hati, maka lahirlah manusia ke dunia dalam keadaan
telanjang. Belum bisa apa-apa dan tidak memiliki apa-apa.

2.15.3 Alam Dunia

Di dunia perjalanan manusia melalui proses panjang. Dari mulai bayi yang hanya minum
air susu ibu lalu tubuh menjadi anak-anak, remaja dan baligh. Selanjutnya menjadi dewasa, tua
dan diakhiri dengan meninggal. Proses ini tidak berjalan sama antara satu orang dengan yang
lainnya. Kematian akan datang kapan saja menjemput manusia dan tidak mengenal usia. Sebagian
meninggal saat masih bayi, sebagian lagi saat masa anak-anak, sebagian yang lain ketika sudah
remaja dan dewasa, sebagian lainnya ketika sudah tua bahkan pikun.

Di dunia inilah manusia bersama dengan jin mendapat taklif (tugas) dari Allah, yaitu
ibadah. Dan dalam menjalani taklifnya di dunia, manusia dibatasi oleh empat dimensi; dimensi
tempat, yaitu bumi sebagai tempat beribadah; dimensi waktu, yaitu umur sebagai sebuah

45
kesempatan atau target waktu beribadah; dimensi potensi diri sebagai modal dalam beribadah; dan
dimensi pedoman hidup, yaitu ajaran Islam yang menjadi landasan amal.

Allah Ta’ala telah melengkapi manusia dengan perangkat pedoman hidup agar dalam
menjalani hidupnya di muka bumi tidak tersesat. Allah telah mengutus rasulNya, menurunkan
wahyu Al-Qur’an dan hadits sebagai penjelas, agar manusia dapat mengaplikasikan pedoman itu
secara jelas tanpa keraguan. Sayangnya, banyak yang menolak dan ingkar terhadap pedoman hidup
tersebut. Banyak manusia lebih memperturutkan hawa nafsunya ketimbang menjadikan Al-Qur’an
sebagai petunjuk hidup, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.

Maka, orang yang bijak adalah orang yang senantiasa mengukur keterbatasan-keterbatasan
dirinya untuk sebuah produktifitas yang tinggi dan hasil yang membahagiakan. Orang-orang yang
beriman adalah orang-orang yang senantiasa sadar bahwa detik-detik hidupnya adalah karya dan
amal shalih. Kehidupannya di dunia sangat terbatas sehingga tidak menyia-nyiakannya untuk hal-
hal yang sepele, remeh apalagi perbuatan yang dibenci (makruh) dan haram.

Dunia dengan segala kesenangannya merupakan tempat ujian bagi manusia. Apakah yang
dimakan, dipakai, dan dinikmati sesuai dengan aturan Allah swt. atau menyimpang dari ajaran-
Nya? Apakah segala fasilitas yang diperoleh manusia dimanfaatkan sesuai perintah Allah atau
tidak? Dunia merupakan medan ujian bagi manusia, bukan medan untuk pemuas kesenangan
sesaat. Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana hidup di dunia. Ibnu Mas’ud menceritakan
bahwa Rasulullah saw. tidur diatas tikar, ketika bangun ada bekasnya. Maka kami bertanya:
“Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau kami sediakan untukmu kasur.” Rasululah saw.
bersabda: “Untuk apa (kesenangan) dunia itu? Hidup saya di dunia seperti seorang pengendara
yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)

Perjalanan hidup manusia di dunia akan berakhir dengan kematian. Semuanya akan mati,
apakah itu pahlawan ataukah selebriti, orang beriman atau kafir, pemimpin atau rakyat, kaya atau
miskin, tua atau muda, lelaki atau perempuan. Mereka akan meninggalkan segala sesuatu yang
telah dikumpulkannya. Semua yang dikumpulkan oleh manusia tidak akan berguna, kecuali amal
shalihnya berupa sedekah yang mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih. Kematian
adalah penghancur kelezatan dan gemerlapnya kehidupan dunia. Kematian bukanlah akhir
kesudahan manusia, bukan pula tempat istirahat yang panjang. Tetapi, kematian adalah akhir dari

46
kehidupannya di dunia dengan segala yang telah dipersembahkannya dari amal perbuatan untuk
kemudian melakukan rihlah atau perjalanan hidup berikutnya.

Bagi orang beriman, kematian merupakan salah satu fase dalam kehidupan yang panjang.
Batas akhir dari kehidupan dunia yang pendek, sementara, melelahkan, dan menyusahkan untuk
menuju akhirat yang panjang, kekal, menyenangkan, dan membahagiakan. Di surga penuh dengan
kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan belum terlintas oleh
pikiran manusia. Sementara bagi orang kafir, berupaya menghindar dari kematian dan ingin hidup
di dunia 1.000 tahun lagi. Tetapi, sikap itu adalah sia-sia. Utopia belaka. Karena, kematian pasti
datang menjumpainya. Suka atau tidak suka.

2.15.4 Alam Barzakh

Fase berikutnya manusia akan memasuki alam kubur atau alam barzakh. Di sana mereka
tinggal sendiri. Yang akan menemaninya adalah amal mereka sendiri. Kubur adalah taman dari
taman-taman surga atau lembah dari lembah-lembah neraka. Manusia sudah akan mengetahui
nasibnya ketika mereka berada di alam barzakh. Apakah termasuk ahli surga atau ahli neraka. Jika
seseorang menjadi penghuni surga, maka dibukakan baginya pintu surga setiap pagi dan sore.
Hawa surga akan mereka rasakan. Sebaliknya jika menjadi penghuni neraka, pintu neraka pun
akan dibukakan untuknya setiap pagi dan sore dan dia akan merasakan hawa panasnya neraka.

Al-Barra bin ’Azib menceritakan hadits yang panjang yang diriwayat Imam Ahmad tentang
perjalanan seseorang setelah kematian. Seorang mukmin yang akan meninggal dunia disambut
ceria oleh malaikat dengan membawa kafan surga. Kemudian datang malaikat maut duduk di atas
kepalanya dan memerintahkan ruh yang baik untuk keluar dari jasadnya. Selanjutnya disambut
oleh malaikat dan ditempatkan di kain kafan surga dan diangkat ke langit. Penduduk langit dari
kalangan malaikat menyambutnya, sampai di langit terakhir bertemu Allah dan Allah
memerintahkan pada malaikat: “Catatlah kitab hambaku ke dalam ’illiyiin dan kembalikan
kedunia.” Maka dikembalikan lagi ruh itu ke jasadnya dan datanglah dua malaikat yang bertanya:
Siap Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa lelaki yang diutus kepadamu? Siapa yang mengajarimu?
Hamba yang beriman itu dapat menjawab dengan baik. Maka kemudian diberi alas dari surga,
mendapat kenikmatan di kubur dengan selalu dibukakan baginya pintu surga, dilapangkan
kuburnya, dan mendapat teman yang baik dengan wajah yang baik, pakaian yang baik, dan aroma
yang baik. Lelaki itu adalah amal perbuatannya.

47
2.15.5 Alam Akhirat (Hari Akhir)

Dan rihlah berikutnya adalah kehidupan di hari akhir dengan segala rinciannya. Kehidupan
hari akhir didahului dengan terjadinya Kiamat, berupa kerusakan total seluruh alam semesta.
Peristiwa setelah kiamat adalah mahsyar, yaitu seluruh manusia dari mulai nabi Adam as. sampai
manusia terakhir dikumpulkan dalam satu tempat. Di sana manusia dikumpulkan dalam keadaan
tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan. Saat itu matahari sangat dekat jaraknya sekitar
satu mil, sehingga mengalirlah keringat dari tubuh manusia sesuai dengan amalnya. Ada yang
sampai pergelangan kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai pusar, ada yang sampai dada,
bahkan banyak yang tenggelam dengan keringatnya.

Dalam kondisi yang berat ini manusia berbondong-bondong mendatangi para nabi untuk
meminta pertolongan dari kesulitan yang maha berat itu. Tetapi semuanya tidak ada yang dapat
menolong. Dan terakhir, hanya Rasulullah saw. yang dapat menolong mereka dari kesulitan
mahsyar. Rasulullah saw. sujud di haribaan Allah swt. di bawah Arasy dengan memuji-muji-Nya.
Kemudian Allah swt. berfirman: “Tegakkan kepalamu, mintalah niscaya dikabulkan. Mintalah
syafaat, pasti diberikan.” Kemudian Rasululullah saw. mengangkat kepalanya dan berkata: “Ya
Rabb, umatku.” Dan dikabulkanlah pertolongan tersebut dan selesailah mahsyar untuk kemudian
melalui proses berikutnya.

Peristiwa berikutnya adalah hisab (perhitungan amal) dan mizan (timbangan amal) bagi
manusia. Ada yang mendapatkan proses hisab dengan cara susah-payah karena dilakukan dengan
sangat teliti dan rinci. Sebagian yang lain mendapatkan hisab yang mudah dan hanya sekadar
formalitas. Bahkan sebagian kecil dari orang beriman bebas hisab.

Di antara pertanyaan yang akan diberikan pada manusia di hari Hisab terkait dengan
masalah prinsip dalam hidupnya. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan melangkah kaki anak
Adam di hari kiamat sehingga ditanya 5 hal di sisi Allah: tentang umurnya untuk apa dihabiskan,
tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana mencarinya, dan ke mana
menginfakkannya, dan apa yang diamalkan dari ilmunya.” (HR At-Tirmidzi). Di masa ini juga
dilakukan proses qishash, orang yang dizhalimi meng-qishash orang yang menzhalimi.

Kejadian selanjutnya manusia harus melalui shirath, yaitu sebuah jembatan yang sangat
tipis dan mengerikan karena di bawahnya neraka jahanam. Semua manusia akan melewati

48
jembatan ini dari mulai yang awal sampai yang akhir. Shirath ini lebih tipis dari rambut, lebih
tajam dari pedang, dan terdapat banyak kalajengking. Kemampuan manusia melewati jembatan itu
sesuai dengan amalnya di dunia. Ada yang lewat dengan cepat seperti kecepatan kilat, ada yang
lewat seperti kecepatan angin, ada yang lewat seperti kecepatan burung, tetapi banyak juga yang
berjalan merangkak, bahkan mayoritas manusia jatuh ke neraka jahanam.

Bagi orang-orang yang beriman, akan minum telaga Rasulullah saw. yang disebut Al-
Kautsar. Rasulullah saw. bersabda: “Telagaku seluas perjalanan sebulan, airnya lebih putih dari
susu, aromanya lebih wangi dari misik, dan gayungnya sebanyak bintang di langit. Siapa yang
meminumnya, maka tidak akan pernah haus selamanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

2.15.6 Surga dan Neraka

Pada fase yang terakhir dari rihlah manusia di hari akhir adalah sebagian mereka masuk
surga dan sebagian masuk neraka. Surga tempat orang-orang bertakwa dan neraka tempat orang-
orang kafir. Kedua tempat tersebut sekarang sudah ada dan disediakan. Bahkan, surga sudah rindu
pada penghuninya untuk siap menyambut dengan sebaik-baiknya sambutan. Neraka pun sudah
rindu dengan penghuninya dan siap menyambut dengan hidangan neraka. Al-Qur’an dan Sunnah
telah menceritakan surga dan neraka secara detail. Penyebutan ini agar menjadi pelajaran bagi
kehidupan manusia tentang persinggahan akhir yang akan mereka diami.

Orang-orang kafir, baik dari kalangan Yahudi, Nashrani maupun orang-orang musyrik, jika
meninggal dunia dan tidak bertobat, maka tempatnya adalah neraka. Neraka yang penuh dengan
siksaan. Percikan apinya jika ditaruh di dunia dapat membakar semua penghuni dunia. Minuman
penghuni neraka adalah nanah dan makanannya zaqum (buah berduri). Manusia di sana tidak
hidup karena penderitaan yang luar biasa, dan juga tidak mati karena jika mati akan hilang
penderitaannya. Di neraka manusia itu kekal abadi.

Orang-orang beriman akan mendapatkan surga dan kain sutra karena kesabaran mereka.
Dalam surga mereka duduk-duduk bersandar di atas dipan, tidak merasakan panas teriknya
matahari dan dingin yang sangat. Mereka dinaungi pohon-pohon surga dan buahnya sangat mudah
untuk dipetik. Mereka juga mendapatkan bejana-bejana dari perak dan piala-piala minuman yang
sangat bening. Mereka akan minum minuman surga yang rasanya sangat nikmat seperti minuman
jahe yang didatangkan dari mata air surga bernama Salsabila. Di surga juga ada banyak sungai

49
yang berisi beraneka macam minuman, sungai mata air yang jernih, sungai susu, sungai khamr,
dan sungai madu.

Penghuni surga akan dilayani oleh anak-anak muda yang jika dilihat sangat indah bagaikan
mutiara yang bertaburan. Surga yang penuh dengan kenikmatan dan kerajaan yang besar. Orang
beriman di surga memakai pakaian sutra halus berwarna hijau dan sutra tebal, juga memakai
gelang terbuat dari perak dan emas. Allah swt. memberikan minuman kepada mereka minuman
yang bersih.

Dan yang tidak kalah nikmatnya yaitu istri-istri dan bidadari surga. Mereka berwarna putih
bersih berseri, bermata bulat, pandangannya pendek, selalu gadis sebaya belum pernah disentuh
manusia dan jin. Buah dadanya montok dan segar, tidak mengalami haidh, nifas, dan buang
kotoran. Puncak dari semua kenikmatan di surga adalah melihat sang pencipta Allah yang Maha
Indah, Sempurna, dan Perkasa. Sebagaimana manusia dapat melihat bulan secara serentak, begitu
juga manusia akan memandang Allah secara serentak. Indah, mempesona, takzim, dan suci. Allah
Akbar.

Allah akan memasukkan hamba–Nya ke dalam surga dengan rahmat-Nya, dan surga adalah
puncak dari rahmat-Nya. Allah Ta’ala akan memasukan hamba-Nya ke dalam rahmat (surga)
berdasarkan rahmat-Nya juga. Disebutkan dalam hadits shahih: “Sesungguhnya Allah Ta’ala
memiliki 100 rahmat. Diturunkan (ke dunia) satu rahmat untuk jin, manusia, dan binatang. Dengan
itu mereka saling simpati dan kasih sayang. Dengan satu rahmat itu pula binatang buas menyayangi
anaknya. Dan Allah swt. menyimpan 99 rahmat bagi hamba-Nya di hari kiamat.” (Muttafaqun
alaihi) .

Maka, sejatinya nikmat surga itu jauh dari apa yang dibayangkan manusia. Rasulullah saw.
bersabda: “Allah swt. berkata, “Aku telah siapkan bagi hambaKu yang shalih sesuatu yang belum
dilihat mata, belum didengar telinga, dan belum terlintas pada hati manusia” (Muttafaqun ‘alaihi).

50
2.16 Pengertian dan fungsi macam-macam nafsu manusia

a. Nafsul Muthma’innah

Apabila nafsu tenang kepada Allah ‘azza wa jalla, tenang dengan mengingat-Nya, berserah diri
kepada-Nya, rindu berjumpa dengan-Nya, senang karena dekat dengan-Nya, ia dinamakan Nafsul
Muthma’innah.

Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu berkata,”Al-Muthma’innah artinya yang membenarkan.”

Qatada rahimahullaah menuturkan,”Orang mukmin ialah orang yang jiwanya tenang kepada apa
yang dijanjikan Allah.”

Pemilik nafsu ini merasa tenang dgn pemberitaan dari Allah dan Rasul-Nya tentang diri-
Nya. Kemudian, ia juga merasa tenang dengan pemberitaan-Nya mengenai apa yang akan terjadi
setelah kematiannya, yaitu berupa urusan-urusan alam barzakh dan peristiwa yang mengiringinya.
Misalnya, huru-hara kiamat, hingga seolah-olah ia menyaksikannya dengan jelas.

Ia tenang terhadap ketetapan Allah subhaanahu wa ta’ala. Sehingga, ia pun pasrah dan
ridha dengan ketetapan-Nya, tidak marah, dan tidak merusak keimanannya. Karena itu, ia tidak
berputus asa thd apa yang tidak ia peroleh dan tidak merasa terlalu senang terhadap apa yang telah
diberikannya kepadanya.

b. Nafsul Lawwamah

Ada ulama yang berpendapat, An Nafsul Lawwamah ialah jiwa yang tidak konsisten pada
satu keadaan. Ia adalah hati yang banyak berbolak-balik dan berwarna-warni. Terkadang ia ingat
dan lalai, menghadap dan berpaling, cinta dan benci, bahagia dan sedih, ridha dan marah, serta
patuh dan takut.

Al Hasan Al basri mengatakan,”Anda akan melihat seorang mukmin selalu menyesali dirinya
sendiri, sembari berkata,’Aku tidak mau ini? Mengapa aku melakukannya? Padahal, yang ini lebih
utama daripada yang ini’.”

Lawwamah (yang sangat menyesali diri) ada dua macam:

51
Yang mencela lagi dicela ialah nafsu yang bodoh dan zalim. Allah ‘azza wa jalla dan para
malaikat-Nya pun mencelanya.

Yang mencela tapi tidak dicela ialah jiwa yang suka mencela karena menyesal. Jiwa yang selalu
mencela pemiliknya atas kekurang optimalannya dalam mentaati Allah, sambil ia kerahkan segala
daya upayanya.

c. Nafsul Ammaarah bis Suu’

Ia adala nafsu yang tercela. Ia selalu menyuruh berbuat keburukan. Allah berfirman, yang
artinya

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Yunus:53)

Ammaarah adalah lawan kata dari muthma’innah. Setiap kali nafsu muthma’innah datan
dengan membawa kebaikan, nafsu ammaarah menyainginya dengan membawa kejahatan yang
menyelisihinya untuk merusaknya. Sehingga, hakikat jihad seperti bunuh diri, menyebabkan istri
dinikahi orang lain, anak-anak menjadi yatim, dan harta benda dibagikan. Hakikat zakat dan
sedekah terlihat sekedar membuang dan mengurangi harta, menyebabkan miskin, butuh kepada
manusia dan berstatus sama dengan orang faqir.

Dan tidak ada jalan yang terbaik untuk membersihkan segenap nafsu ini selain dzikr. Oleh
karena itu, para ulama thoriqoh mengajarkan metode dzikir terutama dzikir nafi itsbat (laa ilaaha
illalloh) yang tekniknya mengatur aliran dzikir ke seluruh lathifah-lathifah. Setiap manusia yang
diciptakan oleh Allah Ta’ala mempunyai nafsu. Nafsu yang terdapat pada manusia adalah ujian
Allah Ta’ala. Jika manusia mampu menguasai atau mengendalikan nafsunya bermakna dia tengah
berusaha mengatasi salah satu ujian dari Allah Ta’ala. yang cukup berat ini.

Sekiranya nafsu dididik ke arah kejahatan, maka nafsu akan menjadi jahat dan liar. Maka
akan lahirlah orang yang pandai tetapi jahat, orang bodoh yang jahat, pemimpin yang jahat dan
pendidik yang jahat. Ini sangat membahayakan kepada kehidupan manusia. Sebab itu nafsu perlu
dikenali tahap-tahapnya dan tingkatannya. Nafsu secara fitrahnya berwatak jahat, kalau dibiarkan
maka nafsu akan tetap jahat. Sebab itu Allah ta’ala mengingatkan kita tentang hal ini di dalam

52
firman-Nya: “Mereka yang berjuang ke jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan jalan jalan
Kami. Sesungguhnya Allah berserta dengan orang-orang yang berbuat baik.” (Surah al- Ankabut
ayat 69)

53
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dalam al-quran manusia dipanggil dengan beberapa istilah, antara lain al-insaan,al-
naas,al-abd, dan bani adam dan sebagainya. Al-insaan berarti suka,senang,jinak,
ramah, atau makhluk yang sering lupa. Al-naas berarti manusia (jama’). Al-abd berarti
manusia sebagai hamba Allah. Bani adam berarti anak-anak Adam karena berasal dari
keturunan nabi Adam. Namun dalam al-quran dan al-sunnah disebutkan bahwa
manusia adalah makhluk yang paling mulia dan memiliki berbagai potensi serta
memperoleh petunjuk kebenaran dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.
Sesuai yang terkandung dalam surat az-Zaariyaat, 51: 56-58, manusia diciptakan
untuk menyembah Allah. Penyembahan manusia pada Allah lebih mencerminkan
kebutuhan manusia terhadap terwujudnya sebuah kehidupan dengan tatanan yang adil
dan baik. Oleh karena itu penyembahan harus dilakukan secara sukarela karena Allah
tidak sedikitpun membutuhkan manusia termasuk pada ritual-ritual penyembahannya.
Menurut hadist Al-Lu’lu uwal kewajiban manusia kepada Allah pada garis besar
ada 2, yaitu mentauhidkan Allah yakni tidak memusyrikkan Allah kepada sesuatu pun
dan beribadat kepada Allah.
Dalam surat Al-Baqarah ayat 30 dijelaskan bahwa manusia ditunjuk oleh Allah swt,
untuk menjadi khalifah (pemimpin) di bumi, meskipun penunjukan Allah tersebut
mendapat proses dari para malaikat dengan menyebutkan beberapa sikap perilaku
buruk manusia yang berbeda dari malaikat.

54
DAFTAR PUSTAKA

http://insa24.blogspot.co.id/2014/12/konsep-kebutuhan-dalam-islam.html

http://www.angelfire.com/id/sidikfound/ham.html

http://hadislambeng.blogspot.co.id/2013/02/hak-asasi-manusia-ham-menurut-islam.html

Djatnika, Rachmat. 1996. Sistem Ethika Islam. Jakarta: pustaka panjimas.

Hasan, Aliah B purwakania . 2006 . Psikologi Perkembangan Islam . Jakarta: Rajagrafindo


persada.

http://dprasetiabudi.wordpress.com/2007/03/06/makna-hidup-dalam-tinjauan-islam/

http://abibakarblog.com/agama/tujuan-hidup-manusia/

http://www.gagakmas.org/qolbu/?postid=97

https://www.academia.edu/4727825/KONSEP_MANUSIA_DALAM_ISLAM_Manusia_dicipta
kan_Allah_Swt

55