Anda di halaman 1dari 5

Data wawancara

Narasumber :

Umur : 82 tahun

SEJARAH BERDIRINYA DESA HILINAWALO FAU

Sejarah pertama orang Nias berasal dari daerah Gomo atau Kecamatan Gomo sekarang ini. Dari
penuturan beliau, Dia mengatakan bahwa dulu ada seorang bernama amada Loloana’a. Amada
Loloana’a ini mempunyai 6 orang anak, yaitu Bawaulu, Fau, Maniamolo, Hondro, Sarumaha,
Ulutosi. Amada Loloana’a ini pergi dari gomo menuju ke daerah Nias bagian selatan.

Pada suatu hari Amada Loloana’a menyuruh ke-6 orang anaknya untuk menanam pisang.
Kemudian dia berkata “apabila pisang yang sudah kalian tanam tumbuh dan memiliki jantung
pisang, maka kemana arah jatung pisang tersebut tertuju maka disitulah tanah bagianmu”.
Jantung pisang yang ditanam oleh Bawaulu menunjuk kearah desa Hilinawalofau tersebut.
Namun sebelum berubah nama menjadi Hilinawalo Fau, tanah atau daerah ini bernama
Solawayo dan masih belum dihuni. Kemudian hiduplah Amada Bawaulu dengan istrinya di tanah
tersebut hingga mereka memiliki anak dan mendirikan perkampungan yang dia beri nama
Bawafarono.

Amada Bawaulu memiliki anak bernama Amada Taogo Mbowo. Kemudian Amada Taogo
mbowo Mendirikan tiga buah batu besar sebagai tugu penanda dari pada anak laki-lakinya.
Ketiga anak Amada Taogo mbowo adalah Amada Bawaojaoli, Amada Eho, Amada Fatuyu
mbowo. Namun pada masa Amada Taogo mbowo nama desa ini berubah menjadi Batu salawa
hingga dia meninggal dunia.

Kemudian Amada Eho memiliki anak yakni Amada Ndrereu. Amada Bawaojaoli juga memiliki
anak (tidak disebutkan). Pada masa ini terjadi perpecahan didalam desa tersebut. Akibat dari
perpecahan tersebut, Amada Bawaojaoli keluar dan pergi menuju Hilialawa dan Bawamataluo.
Kemudian anak dari Amada Eho yakni Amada Ndrereu pergi menuju Mbotohesi.

Setelah Amada Ndrereu beranjak dewasa dia kembali ke kampung halamannya yaitu Desa Batu
salawa. Amada Nrereu kemudian membangun desa tersebut dan memperbaiki semua
kerusakan akibat perang saudara yang terjadi sebelumnya. Yang pertama sekali dibangun oleh
Amada Ndrereu adalah Omo sebua, newali gorahua (tempat berkumpul/pengadilan), dodo lala
(jalan). Kemudian dia menamakan desa tersebut dengan nama Hilinawalo sampai sekarang.

Desa Hilinawalo fau ini sudah dari tahun 1268-sekarang. Omo sebua yang ada di desa Hilinawalo
fau merupakan yang tertua dan pertama yang ada di kecamatan Maniamolo termasuk lebih tua
dari pada Omo sebua yang ada di desa Bawamataluo.
Sistem hukum dan pengadilan

Pada masa kepemimpina Amada Taogombowo, dia membuat sebuah tempat pengadilan dan
tempat Orahua (berkumpul) yang letaknya berada tepat didepan Omo sebua(rumah raja). Juga
terdapat sebuah batu yang bentuknya seperti batu karang dan bergerigi yang berfungsi sebagai
tempat eksekusi mati para pelaku kejahatan di desa tersebut.

Jika terjadi suatu kesalahan yang diperbuat oleh warganya, maka raja(si Ulu) yakni Amada taogo
mbowo akan memanggil dan mengadili pelaku kejahatan tersebut sesuai dengan ketentuan
yang sudah dibuatnya ini biasanya disibut dengan Nikhau. Dia akan berjalan menuju sebuah
batu berbentuk kotak persegi yang berada didepan kursinya. Batu tersebut disusun seperti
piramida, dari yang kecil ke bentuk yang lebih besar. Jenis hukuman yang dijatuhi berdasarkan
takaran yang sudah ditentukan oleh si Ulu. Jika dia berdiri di kotak batu yang kecil maka
kejahatannya tergolong ringan dan masih bisa diampuni, namun jika dia berdiri di kotak batu
yang besar maka, kejahatannya tergolong berat dan akan dihukum dengan takaran emas dan
babi. Namun apabila jenis hejahatannya sangat berat dan tidak bisa diampuni seperti,
Membunuh, Pemerkosaan, maka akan dijatuhi hukuman mati. Biasanya, jika kesalahannya
sudah fatal maka dia akan langsung menuju batu eksekusi dan akan membanting kepala pelaku
hingga tewas.

Adat istiadat

Pada zaman dulu masyarakat desa Hilinawalo fau sangat menjujung tingga adat istiadat yang
berlaku didesa tersebut bahkan tergolong ekstrim dengan system penghakiman berdasarkan
peraturan adat yang sudah ditetapkan oleh raja/ siUlu. Dulu jika seseorang kedapatan mencuri,
maka dia akan dihukum dengan Fogau sara gana’a dan sageu mbawi (Emas dan Babi). Pelaku
pencuran juga akan diberi hukuman berdasarkan takaran yang sudah ditetapkan oleh raja.
Orang yang suka memaki juga mendapatkan hukuman karena di desa Hilinawalo fau dilarang
keras bagi orang-orang yang suka memaki. Orang yang berkelahi juga akan di khau dan diberi
hukuman adat sesuai takaran.

Pada zaman dulu di desa Hilinawalo fau sering terjadi perang antar kerajaan. Hal ini kemudia
membuat Raja memerintahkan agar seiap warganya untuk membuat Goli (pagar dari bambu)
untuk menhindari musuh masuk dan serangan tiba tiba dari musuh. Apabila terdapat warga
yang tidak ikut membuat Goli maka akan dihukum oleh raja dengan hukuman efaalisi (ukuran
babi).

Namun sekarang ini hukuman adat tersebut sudah mulai ditinggalkan terutama hukuman mati
karena dianggap sudah tidak etis dan wajar oleh para pemuka dan penduduk desa Hilinawalo
fau. Selain itu, terdapat aturan yang mengharuskan para pendatang untuk berjalan ditengah
Ewali atau halaman desa yang sudah diberi jalur oleh raja. Setiap orang yang berjalan melalui
jalur tersebut jika dia pendatang maka tidak boleh melihat kiri kanan karena akan diawasi oleh
raja dan akan dianggap musuh jika melanggar.

Dalam urusan pernikahan terdapat aturan-aturan adat yang harus di patuhi oleh setiap
mempelai dan keluarga. Pertama-tama pihak keluarga laki-laki akan mendatangi pihak keluarga
perempuan dengan tujuan untuk mengutarakan keinginan mereka untuk meminang anak
perempuan dari keluarga perempuan tersebut. Kemudian setelah disepakati maka akan di
lanjutkan dengan membicarakan mahar atau jujuran. Untuk takaran makal akan diukur dengan
emas dan babi. Setelah disepakati maka pihak laki-laki akan pergi meninggalkan rumah pihak
perempuan dan keluarga pihak perempuan akan berkumpul dan akan mengundang si Ulu dan si
Ila untuk membicarakan tentang pernikahan tersebut.

Proses pendirian rumah (Omo hada)

Pada zaman dulu, jika seseorang ingin mendirikan rumah di desa Hilinawalofau maka yang
pertama dia lakukan adalah mencari kayu kemudian menebang dan memotongnya sesuai
dengan kebutuhan. Seteah mendapatkan kayu, maka orang tersebut harus memberitahu
kepada raja (siUlu dan siIla) tentang niatnya memdirikan rumah tersebut. Setelah dia mendapat
persetujuan dari SiUlu maka dia baru boleh memulai pekerjaannya mendirikan rumah.

Dalam proses mendirikan rumah, maka akan banyak proses yang harus dilewati, mulai dari
pendirian pondasi. Sebelum mendirikan pondasi, Iwa sialawe (saudara perempuan dari pemilik
rumah) harus memotong babi dan membuat pesta adat dan mendoakannya setelah itu pondasi
baru bisa didirikan. Dalam proses pemasngan lantai rumah, maka Iwa simatua (saudara laki-laki)
harus memotong babi dan berdoa. Setelah proses pemasangan lantai dan dinding, maka
dilanjutkan dengan proses pemasangan Sikoli dan mertua dari pada pemilik rumah harus
memotong babi dan berdoa. Kemudian pada proses pemasangan atap dimulai, maka
sebelumnya Sibaya (paman) akan memotong babi dan membuat pesta adat dan berdoa. Setelah
rumah adat tersebut selesai dibangun maka, pemiliknya akan mengadakan pesta sebagi tanda
ucapan syukurnya atas berdirinya rumah tersebut.

Setelah Omo hada tersebut selesai maka ada proses adat dimana pemilik rumah harus meminta
ijin kepada tukang untuk memasuki rumah tersebut. Menurut penuturan narasumber, alur
prosestersebut adalah pertama-tama tukang akan berdiri didepan pintu rumah sembari
menunggu sang pemilik datang bersama siIla. Pemilik akan bersama-sama dengan siIla pergi
menuju lokasi rumah tersebut. Setelah sampai, tukang tersebut akan seolah olah bertanya “mau
kemana?” maka pemilik akan menjawab “mau melihat rumah di mazino”. Kemudian tukang
tersebut akan berkata “ngapain jauh-jauh cari rumah, ini ada rumah silahkan masuk”. Barulah si
pemilik rumah tersebut boleh masuk kedalam Omo hada itu.
Ukuran dan bentuk rumah adat sudah ditentukan oleh raja dan tidak boleh diubah sebagaimana
mestinya. Besaran dari Omo hada tidak boleh lebih besar dari Omo sebua. Setelah Indonesia
merdeka, maka masuklah rumah-rumah dari beton di desa Hilinawalo fau.

Kepercayaan

Masyarakat di desa Hilinawalo fau pada zaman dulu menganut system animisme yaitu percaya
dengan patung-patung (Adu) .