Anda di halaman 1dari 33

Makalah Pendidikan

Agama Islam

Nama : Alif Wahyudianto


Kelas : XII MM2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT. Karena


atas rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini. Shalawat serta salam semoga tetap
tercurahkan kepada junjungan kita Rasulullah SAW beserta
keluarganya, para shahabatnya, serta kita semua para
penganut ajarannya hingga akhir zaman.
Makalah yang berjudul TAYAMUM ini, saya susun sebagai
salah satu tugas mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di
Sekolah SMK Bakti Idhata.
Makalah ini menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan
dengan thaharah dalam hal ini tayamum, termasuk tata cara,
beserta dalilnya dan lain sebagainya. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi pembacanya, ataupun bagi masyarakat
umum.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Roshidi selaku
guru Pendidikan Agama Islam yang turut berkontribusi dalam
penyusunan makalah ini. Saya menyadari masih banyak
kekurangan dalam penyusunan makalah ini, segala kritik dan
saran yang membangun dari para pembaca sangat Saya
harapkan demi menyepurnakan makalah ini.Sekian dan terima
kasih.

Penyusun

Alif Wahyudianto
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................i
DAFTAR ISI ........................................................................................ii

BAB I : PENDAHULUAN....................................................................1

BAB II : PEMBAHASAN......................................................................3
A. Pengertian tayamum.......................................................................3
B. Sebab-sebab diperbolehkannya tayamum..................................4
C. Srarat-syarat tayamum................................................................5
D. Rukun-rukun tayamum.................................................................6
E. Sunat-sunat tayamum..................................................................7
F. Batalnya tayamum......................................................................7
G. Beberapa masalah yang bersangkutan dengan tayamum...........8

BAB III : PENUTUP.............................................................................11


A.Kesimpulan.......................................................................................11
B.Saran................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................13
BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Dalam setiap dimensi kehidupan manusia, hidup bersih sudah


merupakan kebutuhan hidup. Apalagi bagi umat islam yang memang
ada syari’at yang mewajibkan umatnya untuk hidup bersih. Lebih dari
itu, kaum muslimin diperintahkan untuk mensucikan raganya dari hadats
besar dan kecil pada saat-saat tertentu, terutama ketika mereka hendak
menghadap Rabbnya dalam shalat. Yang dalam istilah fiqihnya disebut
“Thaharah (bersuci)”.

Ketika kita tidak bisa bersuci dari hadats dengan berwudhu atau mandi
karena sebab/keadaan darurat, maka kita masih dapat untuk
menghilangkan hadats dengan cara tayamum. Tayamum ini adalah
bentuk kecintaan Allah kepada umat Islam dengan memberikan
keringanan (rukhsah) dalam beribadah menurut kemampuan masing-
masing.

Semua rukhsah itu tidak bisa dilakukan jika kita tidak mengetahui syarat,
rukun dan tata caranya. Untuk itu kami susun makalah ini yang memuat
didalamnya tentang hal-hal yang berkaitan dengan thaharah dalam
keadaan darurat, dalam hal ini tayamum.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian tayaamum ?


2. Apa sebab-sebab sehingga diperbolehkannya tayamum?
3. Apa syarat-syarat tayamum ?
4. Apa saja rukun / fardu tayamum?
5. Apa sunat-sunat dalam tayamum ?
6. Apa hal-hal yang membatalkan tayamum ?
7. Apa saja masalah yang bersangkutan dengan tayamum ?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui apa pengertian dari tayamum.


2. Untuk mengetahui apa saja sebab-sebab sehingga
diperbolehkannya tayamum.
3. Untuk mengetahui syarat-syarat tayamum.
4. Untuk mengetahui rukun-rukun / fardu-fardu tayamum.
5. Untuk mengetahui sunat-sunat tayamum.
6. Untuk mengetahui hal-hal yang membatalkan tayamum.
7. Untuk mengetahui beberapa masalah yang sering kita jumpai yang
bersangkutan dengan tayamum.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Semester 1

1.1 Mujahadah an Nafs (pengedalian diri)

1.1.1 Pengertian Mujahadah an Nafs


Pengendalian diri atau kontrol diri (Mujāhadah an-Nafs) adalah menahan diri
dari segala perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan juga orang lain,
seperti sifat serakah atau tamak. Pengedalian diri sering disebut juga sebagai
kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk
perilaku yang dapat membawa kearah konsekuensi positif, kontrol diri pun
merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan dan digunakan individu
selama proses-proses dalam kehidupan.

1.1.2 Fungsi Mujahadah an Nafs


mengendalikan emosi dan hawa nafsunya dengan selalu mengedepankan
kejernihan hati dan pikiran serta perilaku mulia yang dapat meninggikan
derajatnya di hadapan Allah swt

1.1.3 Ciri-ciri Mujahadah an Nafs


a. Kemampuan untuk mengontrol perilaku yang ditandai dengan kemampuan
mengahadapi situasi yang tidak diinginkan.
b. Kemampuan menunda kepuasan dengan segera mengatur perilaku.
c. Kemampuan mengantisipasi peristiwa dengan mengantisipasi keadaan
melalui pertimbangan secara objektif.
d. Kemampuan menafsirkan peristiwa dengan melakukan penilaian dan
penafsiran suatu keadaan dengan cara memperhatikan segi-segi positifnya.
e. Kemampuan mengontrol keputusan.
Orang yang rendah kemampuan mengontrol diri cenderung akan reaktif dan
terus tidak stabil.
1.1.4 Manfaat Mujahadah an Nafs
1. Terhindar dari perbuatan-perbuatan yang merusak diri sendiri maupun orang
lain. Sebab apabila kita dapat mengontrol diri, maka kita dapat berpikir dan
bertindak dengan tenang.
2. Menumbuhkan sikap penyabar dan tasamuh.
3. Lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebab kontrol diri identik dengan
sabar.
4. Menciptakan kehidupan yang damai, tenang, terarah, serta teratur.
5. Mampu menjaga pandangan serta kemaluan sehingga terhindar dari
perbuatan zina.
6. Mendapat jaminan balasan pahala yang berlipat-lipat di akhirat.

1.1.5 Sikap yang mencerminkan Mujahadah an Nafs


1. Bersabar jika ada orang yang mengejek atau mencomooh kita.

2. Memaafkan kesalahan orang lain.

3. Ikhlas terhadap berbagai macam musibah yang menimpa, dengan terus


mencoba memperbaiki diri dan lingkungan.

4. Menjauhi penyakit hati seperti sifat dengki atau iri hati kepada orang lain
dengan tidak membalas kedengkian mereka kepada kita.

5. Mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan Allah Swt. kepada kita,
dan tidak merusak nikmat tersebut; seperti menjaga lingkungan agar
selalu bersih, menjaga tubuh dengan merawatnya, berolahraga,
mengonsumsi makanan dan minuman yang halal, dan sebagainya.
1.1.6 Mujahadah an nash dalam surat an-nafs ayat 27

Artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad


dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan
tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu
satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman,
tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi
mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta
pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib
memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian
antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

1.1.7 Asbabun Nuzul Surat Al Anfal ayat 72


Asbabun nuzul Al Anfal adalah kekhawatiran kaum muslimin tentang bagaimana
jika mereka menerima atau memberi harta waris dari saudara mereka masyrik.
Menurut Ibnu Munzir, ayat ini turun sebagai jawaban dari pertanyaan harta waris
dari saudara kami yang musyrik?” Ayat ini diturunkan sebagai penjelasan bahwa
antara mukmin dan kafir tidak saling mewarisi harta.

1.1.8 kandungan isi surat Al Anfal ayat 72


a. Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah swt. menjelaskan kepada kaum muslim
tentang sikap yang harus dilakukan saat berhadapan dengan orang kafir,
sementara ayat-ayat ini (khususnya Q.S. Al-Anfal [8]: 72-75) menjelaskan
hubungan yang harus dijalin antarsesama umat Islam dalam membentuk tatanan
umat yang kuat dan kokoh.
b. Jalinan kasih dan sayang, senantiasa saling melindungi harus selalu dibina
antar kaum muslim. Bukan hanya sekadar mengorbankan harta, namun harus
juga melalui jiwa dan raga seperti yang telah diperankan oleh kaum Muhajirin
dan Anshar. Mereka saling mengorbankan apa saja yang dipunya dalam
menegakkan kehormatan dan martabat agama

c. Sesama orang beriman harus saling membantu, menolong. dan memperkuat,


terutama saat-saat menghadapi musibah atau kesulitan. Sebaliknya, mukmin
harus melakukan kontrol diri untuk tidak saling berdebat, berselisih paham,
apalagi bertengkar yang pada akhirnya hanya menimbulkan kekacauan dan
kerusakan yang lebih besar (Q.5. Al-Anfal 18) 73) karena akibat selanjutnya
kekuatan umat akan semakin neburun dan lemah di hadapan musuh-musuhnya.

d. Perlu kesungguhan bagi setiap muslim untuk bersama sama memikul beban
berat perjuangan, saling menolong dan melindungi, baik melalui harta maupun
jiwa, dalam mengemban risalah llahi yang kini tantangannya semakin berat dan
kompleks.

e. Pada setiap kurun atau masa selalu ada sekelompok umat yang bersikap
mementingkan diri-sendiri, tidak mau berbagi dan peduli, apalagi berkorban
dengan harta dan jiwa mereka. Melalui ayat ini, kita diingatkan oleh Allah swt
dengan teladan dan contoh yang bagus, yakni perjuangan dua kelompok umat
Islam, yaitu kaum Muhajirin dan Anshar. Sementara satu kelompok yang tidak
perlu ditiru, yaitu kaum muslim yang tidak ikut hijrah bersama Rasulullah saw.

e. Keberhasilan dan kesuksesan sangat dipengaruhi komitmen yang tinggi,


ikhtiar yang sungguh-sungguh, kontrol diri yang terus terjaga (stabil), dan
kebersamaan dalam merasakan suka dan duka.

f. Perlunya umat melakukan hijrah di saat menghadapi situasi dan kondisi yang
serba tidak menentu. Hijrah bukan hanya berpindah dalam makna fisik, namun
yang lebih penting adalah hijrah dalam makna rohani, yaitu bertekad bulat
untuk senantiasa mengubah pola hidup (life style) yang buruk menjadi baik,
lemah semangat menjadi bersemangat, miskin cita-cita menjadi tinggi cita dan
asa.

1.1.9 Hadits tentang Mujahadah an Nash


1. Jalinan kasih sayang harus senantiasa saling melindungi antar kaum
muslim
2. Sesama orang beriman harus saling membantu, menolong dan
memperkuat, terutama saat menghadapi musibah dan kesulitan.

3. Perlu kesungguhan bagi setiap muslim untuk bersama-sama memikul


beban berat perjuangan.
4. Keberhasilan dan kesusksesan sangat dipengaruhi komitmen yang tinggi,
ikhtiar yang sungguh-sungguh dan kebersamaan dalam merasakan suka
dan duka.

5. Perlunya umat melakukan hijrah di saat menghadapi situasi dan kondisi


yang serba tidak menentu.

1.1.10 Contoh Mujahadah an nash

1) Memaafkan kesalahan teman dan orang lain yang berbuat “aniaya” kepada
kita.

2) Bersabar dengan tidak membalas terhadap ejekan atau cemoohan teman yang
tidak suka terhadap kamu.

3) apabila suara kita tidak didengar , atau kita kalah dalam pemilu , kita juga
harus bisa menahan diri , dan menerimanya dengan lapang dada

4) apabila kita terpilih menjadi salah satu pimpinan dalam pemerintahan , kita
juga harus bisa menahan diri , untuk tidak berlaku sewenang"

2.1 Husnuzzan (Berprasangka baik)

2.1.1 Pengertian Husnuzzan

Pengertian husnuzan artinya berbaik sangka, lawan katanya adalah suuzan yang
artinya berburuk sangka. Berbaik sangka dan berburuk sangka merupakan
bisikan jiwa, yang dapat diwujudkan melalui perilaku yakni ucapan dan
perbuatan. husnuzan juga dapat diartikan sebagai sikap mental terpuji yang
mendorong pemiliknya untuk bersikap, bertutur kata dan berbuat yang baik dan
bermanfaat, sehingga dapat dikatakan bahwa husnuzan termasuk kedalam
akhlak terpuji.
2.1.2 Pengertian Suuzan

Suuzan adalah berprasangka buruk terhadap seseorang yang dapat berakibat


buruk terhadap hubungan persaudaraan dalam masyarakat.

2.1.3 Contoh Husnuzzan

Adapun contoh-contoh perilaku husnuzan sebagai berikut :

1. Husnuzan terhadap Allah Swt : Husnuzan terhadap Allah Swt artinya


berbaik sangka pada Allah Swt sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam
semesta dan segala isinya yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan serta
bersih dari segala sifat kekurangan.

2. Husnuzan terhadap diri sendiri : Muslim dan muslimah yang husnuzan atau
berbaik sangka terhadap diri sendiri tentu akan berprilaku terpuji terhadap
dirinya sendiri, seperti :

a. percaya diri yakni yakin dengan kemampuan dirinya, sehingga berani


mengeluarkan pendapat dan berani pula melakukan suatu tindakan

b. gigih dalam mencapai apa yang dinginkan dengan berkeras hati, tabah dan
rajin

c. mampu berinisiatif yang positif dalam bidang yang ditekuninya dan sesuai
dengan keahliannya

3. Husnuzan terhadap sesama manusia

Husnuzan atau berbaik sangka terhadap sesama manusia merupakan sikap


mental terpuji yang harus diwujudkan melalui sikap lahir batin, ucapan dan
perbuatan yang baik, diridahi Allah Swt dan bermanfaat

2.1.4 Hukum Husnuzan

Hukum husnuzan terbagi atas dua yaitu :

1.Husnuzan terhadap Allah dan Rasulnya

Adapun hukum dari husnuzan terhadapa Allah dan Rasulnya adalah


hukumnya wajib. Artinya setiap muslim dan muslimat wajib memiliki husnuzan
(prasangka baik) kepada Allah dan Rasulnya dengan cara :
1. Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua perintah Allah dan Rasulnya
(perintah agama) adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri
2. Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua yang dilarang oleh agama
pasti berakibat buruk jika dilanggar
3. Meyakini bahwa apapun cobaan yang diberikan Allah kepada manusia ada
hikmahnya dan manusia harus ikhlas menerima, karena disaat manusia
diberikan cobaan itu artinya Allah masih memperhatikan kita.

2.Husnuzan kepada sesama manusia


Husnuzan kepada sesama manusia berarti menaruh kepercayaan atau mengira
bahwa dia telah berbuat suatu kebaikan, dan menaruh kepercayaan terhadapa
orang lain serta selalu mengembangkan sikap baik dalam lingkungan, baik
dalam lingkungan keluarga sendiri maupun dalam lingkungan dimana kita
berada dan sekitarnya sehingga terjalin hidup yang nyaman. Oleh sebab itu,
husnuzan berdampak positif, baik kepada pelakunya maupun pihak lain.
Sebaliknya suuzan berarti menaruh kecurigaan yang tidak baik terhadap pihak
lain, sehingga suuzan kepada siapapun hukumnya haram.

2.1.5 Kewajiban Bersikap hati-hati Terhadap Zan (Prasangka)

Islam mendidik umatnya agar selalu bersikap hati-hati terhadap sikap zan, karena
dalam Al-Qur'an Allah swt memperingatkan kepada hambanya untuk
menjauhinya sebagaimana firman-Nya sebagai berikut :
Arinya :
"Wahai orang yang beriman!jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu dosa" (QS.Al-hujurat ayat 12)

Dalam buku tafsir djalalaini dijelaskan bahwa "Hai orang-orang yang beriman,
jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.
Artinya menjerumuskan kepada dosa, dan jenis prasangka itu banyak sekali
diantaranya sangka buruk.

kepada orang mukmin yang selalu berbuat baik. Orang-orang mukmin yang
selalu berbuat baik cukup banyak. Berbeda keadaannya dengan orang-orang fasik
dari kalangan kaum muslimin maka tiada dosa bila kita berbutuk sangka
kepadanya menyangkut masalah keburukan yang tampak dari mereka. Dan
janganlah mencari-cari kesalah orang lain.

Dari penjelasan tersebut diatas secara tegas mewajibkan kita secara hati-hati
dalam hal zan (prasangka). Dan adapun prasangka yang tergolong dosa ialah
prasangka buruk (suuzan). Berprasangka yang buruk berarti mencurigai orang
lain telah berbuat yang tidak baik, padahal hal itu belum tentu benar. Dengan
demikian hubungan persaudaraan dia dengan orang yang dicurigai pasti semakin
menjadi jauh.

2.1.6 Surat Al-hujurat ayat 12

Artinya : Wahai orang yang beriman!jauhilah banyak dari prasangka,


sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.Dan janganlah mengunjing satu
sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.Dan
bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi
Maha Penyayang.

2.1.7 Asbabun nuzul

Menurut Ibnu Munzir dan Ibnu Juraij, ayat ini turun berkaitan dengan kebiasaan
salman Al-Farisi yang makan lalu tidur dengan mendengkur. Sebagian orang
membicarakan, maka turunlah ayat ini yang melarang umat Islam untuk
menggunjing dan mengumpat.

2.1.8 Kandungan isi surat Al-hujurat ayat 12

1) orang" yang beriman diharamkan mengghibah dan mencari" keburukan orang

2) ghibah atau mencari" keburukan orang karena diharamkan, jika dilanggar


akan mendapat dosa

3) mengghibah diperumpamakan oleh Allah memakan daging bangkai teman


sendiri

4) orang" yang beriman diwajibkan untuk husnudzan


5) perintah untuk bertaqwa kepada Allah

6) mengingatkan bahwa Allah maha menerima taubat hambaNya yang mau


bertaubat

2.1.9 Dampak Positif Husnuzan

Adapun dampak positif dari prilaku husnuzan, antara lain :

1. Semakin dekat hubungan batin antara pelaku dengan pihak lain yang
diduga berbuat kebaikaan
2. memperoleh kepercayaan diri orang yang menduga dirinya telah berbuat
baik
3. memperkuat hubungan persaudaraan antara keduanya (yang menduga dan
yang diduga)

Membiasakan Berprilaku Husnuzan

1. tidak mudah menerima suatu berita yang tidak jelas sumber dan
kebenarannya
2. berusaha untuk sering bertemu dengan sesama teman atau anggota
masyarakat
3. dengan sering bertemu, maka dapat mengantisipasi munculnya gosip yang
sering merusak hubungan persaudaraan.

2.1.10 Larangan suuzan

Dalam agama Suuzan sangat dilarang karena hukumnya haram, karena dapat
meretakkan hubungan keharmonisan, baik kepada kerabat, temana, sahabat atau
dalam lingkungan masyarakat. Buruk sangka adalah sifat yang dapat membuat
seseorang menjadi curiga terhadap seseorang yang pada akhirnya dirinya menjadi
tidak nyaman pada seseorang.

Orang yang mempunyai sifat tersebut selalu merasa dirinya terancam oleh
sebuah bahaya, yang sebenarnya tidak akan terjadi. Dengan dihantuinya fikiran
seperti itu maka selalu dipenuhi oleh hal-hal yang mencurigakan terhadap
seseorang akhirnya perasaannya tidak akan pernah merasa tenang.
2.1.11 Hadits tentang Husnuzan

‫اَل يا ُموتان‬
ُ ‫أ ا احدُ ُك ْم ِإَل او ُه او يُ ْحس‬
‫ِن الظن ِباَّللِ اعز او اجل‬
Artinya :
"Janganlah salah satu diantara kalian mati, kecuali berprasangka baik
terhadap Allah." ( HR : Muslim )

ُ ‫اع ْن أ ا ِبى‬
‫س ْف ايانا‬
ٍ ‫ قا ْب ال اوفااتِ ِه بِثاالا‬-‫صلى هللا عليه وسلم‬- ‫س ِم ْعتُ النبِى‬
‫ث‬ ‫اع ْن اجابِ ٍر قاا ال ا‬
‫ِن بِاَّللِ الظنا‬ ُ ‫ياقُو ُل « َلا يا ُموتان أ ا احدُ ُك ْم ِإَل او ُه او يُ ْحس‬
Artinya : “
Janganlah seorang diantara kalian meninggal kecuali dia telah berbaik sangka
kepada Allah “ ( H.R. Muslim )

‫احدثاناا ِب ْش ُر‬
‫ع ْبد ُ َّللاِ أ ا ْخ اب ارناا ام ْع ام ٌر اع ْن هام ِام ب ِْن‬
‫ب ُْن ُم احم ٍد أ ا ْخ اب ارناا ا‬
‫سل ام‬‫صلى َّللاُ اعلا ْي ِه او ا‬ ‫ُمنابِ ٍه اع ْن أابِي ُه اري اْرة ا اع ْن النبِي ِ ا‬
‫سوا‬ ُ ‫ث او اَل ت ا احس‬ ِ ‫ب ْال احدِي‬ ُ ‫قاا ال ِإيا ُك ْم اوالظن فاإِن الظن أ ا ْكذا‬
‫ضوا او ُكونُوا‬ ُ ‫سدُوا او اَل تاداا اب ُروا او اَل ت ا ابا اغ‬ ‫سوا او اَل ت ا احا ا‬ ُ ‫او اَل ت ا اجس‬
‫ِع ابادا َّللاِ ِإ ْخ اوانًا‬
Artinya : “Telah
menceritakan kepada kami [Bisyr bin Muhammad] telah mengabarkan kepada
kami
[Abdullah] telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Hammam bin
Munabbih]
dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda:
"Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang
paling dusta, janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari
isu, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci, tetapi,
jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." ( H.R : Bukhari No 5604)

2.1.12 Sikap yang mencerminkan Husnuzzan


1. Tetap berusaha meski hasil tak sesuai harapan.
2. Tidak menyalahkan takdir Allah.
3. Tetap bersabar ketika terkena musibah.

3.1 Ukhuwwah (Indahnya persaudaraan)

3.1.1 Pengertian Ukhuwwah


Kata ukhuwah berasal dari bahasa arab yang kata dasarnya adalah akh yang
berarti saudara, sehingga kata ukhuwah berarti persaudaraan.

3.1.2 Pengertian Ukhuwwah dalam Islamiyah


kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allaah kepada hamba-Nya yang
beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan,
kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah.

3.1.3 Macam-macam ukhuwwad

1. Ukhuwah Islamiyah
Yaitu persaudaraan yang berlaku antar sesama umat Islam atau persaudaraan
yang diikat oleh aqidah/keimanan, tanpa membedakan golongan selama
aqidahnya sama maka itu adalah saudara kita dan harus kita jalin dengan sebaik-
baiknya. Sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam Alqur’an surat Al Hujarat :
10, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah saudara,
oleh karena itu peralatlah simpul persaudaraan diantara kamu, dan bertaqwalah
kepada Allah, mudah-mudahan kamu mendapatkan rahmatnya “.
2. Ukhuwah Insaniyah/Basyariyah
Yaitu persaudaraan yang berlaku pada semua manusia secara universal tanpa
membedakan ras, agama, suku dan aspek-aspek kekhususan lainnya.
Persaudaraan yang di ikat oleh jiwa kemanusiaan, maksudnya kita sebagai
manusia harus dapat memposisikan atau memandang orang lain dengan penuh
rasa kasih sayang, selalu melihat kebaikannya bukan kejelekannya.

3. Ukhuwah Wathoniyah
Yaitu persaudaraan yang diikat oleh jiwa nasionalisme tanpa membedakan
agama, suku, warna kulit, adat istiadat dan budaya dan aspek-aspek yang lainnya.
Semua itu perlu untuk dijalin karena kita sama-sama satu bangsa yaitu Indonesia.
Mengingat pentingnya menjalin hubungan kebangsaan ini Rosulullah bersabda
“Hubbui wathon minal iman”, artinya: Cinta sesama saudara setanah air termasuk
sebagian dari iman.

3.1.4 Manfaat Ukhuwwad

1. Menumbuhkan rasa empati dan simpati terhadap saudara-saudara


kita baik saudara sesama muslim, saudara sesama bangsa dan saudara
sesama manusia.

2. Menumbuhkan rasa tolong menolong terhadap saudara yang


mengalami kesulitan.

3. Menumbuhkan tenggang rasa sesama manusia sehingga antara


manusia satu dan lainnya tidak akan berbuat zholim.

4. Terciptanya solidaritas antar sesama muslim, tercipta persatuan


dan kesatuan bangsa dan tercipta kerukunan antar umat manusia
didunia.

Untuk meningkatkan rasa ukhuwah antar sesama manusia maka dapat


dilakukan dengan cara :

Membiasakan saling bertegur sapa antar sesama


Ketika kalian bertemu dengan orang lain maka biasakanlah untuk bertegur sapa
dapat dengan mengucapkan salam “Assalamu’alaikum” (bagi sesama muslim)
atau selamat pagi, selamat siang, selamat malam atau apa kabar. Dengan
membiasakan diri untuk bertegur sapa maka kita akan menjadi lebih akrab.

Meningkatkan silahturahmi antar sesama


Silaturahmi merupakan kegiatan menyambung kekerabatan atau persaudaraan
antar sesama. Dengan meningkatkan silaturahmi berarti kita telah menyambung
tali persaudaraan terhadap sesama, namun dengan memutus silaturahmi maka
kita juga telah memutus tali persaudaraan kita.

Menjauhi prasangka buruk terhadap sesama


Untuk meningkatkan rasa persaudaraan kita maka jauhilah berprasangka buruk
terhadap orang lain karena dengan kita selalu berprasangka buruk terhadap
orang lain, selain akan memutuskan tali persaudaraan juga akan membuat dosa.

3.1.5 Kajian surah Al-hujurat tentang Ukhuwwad

Artinya : “Sesungguhnya setiap mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah


kedua saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah agar kalian mendapatkan
rahmat.”
Selain itu, juga dijelaskan pada Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 103 di bawah
ini :

Artinya : “Dan berpegang tegulah kamu sekalian dengan tali (agama) Allah dan
janganlah kamu sekalian terpecah belah dan ingatlah atas nikmat Allah kepada
dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan
hatimu lalu menjadilah kamu atas nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.
Dan kamu telah berada ditepi jurang neraka lalu Allah menyelamatkan kamu
dari padanya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat Nya kepadamu, agar
kamu mendapatkan petunjuk.”

3.1.6 Isi kandungan dalam kajian surah Al-Hujurat

Isi kandungan surat Al-hujurat ayat 10 :


menjelaskan setiap umat muslim merupakan saudara dan janganlah saling
bermusuhan dan kita selalu saudara berkewajiban mendamaikan kedua umat
muslim yang berselisih dan bertakwalah kita pada Allah SWT untuk
mendapat rahmatnya

Isi kandungan surat Ali imran ayat 103 :

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali agama allah.dan janganlah
kamu bercerai berai.dan ingatlah nikmat allah kpadamu ktika kmu dahulu (masa
jahiliyah)bermusuhan.lalu allah mempersatukan hatimu.sehingga dngan
karunianya kamu menjadi bersaudara.sedangkan (ketika itu) kamu berada di
tepi jurang neraka.lalu allah menyelamatkanmu dari sana.
3.1.7 Sikap yang mencerminkan Ukhuwwad
1. Menjenguk/mendoakan/membantu teman/orang lain yang sedang sakit
atau terkena musibah.
2. Mendamaikan teman atau saudara yang berselisih agar mereka sadar dan
kembali bersatu.
3. Bergaul dengan orang lain dengan tidak memandang suku, bahasa,
budaya, dan agama yang dianutnya.
4. Menghindari segala bentuk permusuhan, tawuran, ataupun kegiatan yang
dapat merugikan orang lain.
5. Menghargai perbedaan sukur, bangsa, agama, dan budaya teman/orang
lain.

3.1.8 Hadits tentang Ukhuwwad


1. “Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu
sama lain saling menguatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

2. “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi,


dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya
merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan
merasakan demam.” (HR. Muslim)

3. Rasulullah saw pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah


kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga”.
Rasulullah menjawab; “Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-
Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau
menyambung silaturahmi”. (HR. Bukhari)

4. Dari Hudzaifah Bin Yaman ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa
yang tidak ihtimam (peduli) terhadap urusan umat Islam, maka bukan
termasuk golongan mereka.” (HR. At Tabrani)

5. “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta


kepadanya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

6. Dari Anas ra. mengatakan bahwa seseorang berada di sisi Rasulullah saw,
lalu salah seorang sahabat melewatinya. Orang yang berada di sisi Rasulullah
saw tersebut mengatakan, “Aku mencintai dia, ya Rasulullah.” Lalu
Rasulullah saw bersabda, “Apakah kamu sudah memberitahukan dia?” Orang
itu menjawab, “Belum.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Beritahukan
kepadanya.” Lalu orang tersebut memberitahukannya dan berkata,
“Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Kemudian orang yang
dicintai itu menjawab, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau
mencintaiku karena-Nya.” (HR. Abu Dawud)

7. “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar bertemu


saudaramu dengan wajah ceria.” (HR. Muslim)

8. “Tidak ada dua orang muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan
keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (HR. Abu Dawud)

9. Nabi Muhammad saw bersabda, “Allah swt. berfirman, ‘Pasti akan mendapat
cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena Aku, keduanya saling
berkunjung karena Aku, dan saling memberi karena Aku’.” (HR. Imam
Malik dalam Al-Muwaththa’)

10.Dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa bertemu


saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti
Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat.” (HR. Thabrani)

11.Dari Anas bahwa, “Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena hadiah
itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran
hati.” (Thabrani)

12.Dari Thabrani meriwayatkan, dari Aisyah ra. bahwa, “Biasakanlah kamu


saling memberi hadiah, niscaya kamu akan saling mencintai.”Rasulullah saw
bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia
niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang
memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan
(urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang
muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan
Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong
saudaranya.” (HR. Muslim)

13.“Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan
diakhirat? Memberi maaf orang yang mendzalimimu, memberi orang yang
menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang
memutuskanmu” (HR. Baihaqi)

14.“Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya,


hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim)

15.“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada
salat dan saum?” Sahabat menjawab, “Tentu saja!” Rasulullah pun kemudian
menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan
persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang
terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan
ukhuwah di antara mereka, (semua itu) adalah amal saleh yang besar
pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan
rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-
Muslim)

16.“Sesungguhnya Rahmat itu tidak diturunkan kepada kaum yang di dalamnya


ada seorang pemutus keluarga.” (HR. Bukhari)

17.“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah
menyambung keluarga (silaturahmi).” (HR. Bukhari)

18.“Tidak masuk surga orang yang memutus keluarga.” (HR. Bukhari dan
Muslim)

3.1.9 Hikmat tentang Ukhuwwad

1.Saling menghormati sesama


2.Menjalin silaturahmi antar manusia
3.Mendekatkan diri pada allah

4.1 menjaga martabat diri dari pergaulan bebas dan zina

4.1.1 Pengertian pergaulan bebas dan zina

Pergaulan bebas : yang dimaksud pada bagian ini adalah pergaulan yang tidak di
batasi oleh aturan agama maupun susila.Salah satu dampak negatif dari
pergaulan bebas adalah perilaku yang sangat dilarang oleh agam islam ,yaitu
ziana.

Zina : Secara bahasa,zina berasal dari kata zana-yazni yang artinya hubungan
persetubuhan antara perempuan dengan laki-laki yang sudah mukallaf (Balig)
tanpa akad nikah yang sah. Jadi,zina adalah melakukan hubungan biologis
layaknya suami istri di luar tali pernikahan yang sah menurut syariat islam.

4.1.2 Pergaulan bebas dan zina menurut islam

Zina membawa akibat buruk bagi di dunia maupun di akhirat kelak.


Gejala penyakit yang sukar diobati hingga kini membuktikan betapa dahsyat nya
akibat dari dosa tersebut..
Godaan syetanlah yang mengajak anak adam melakukan zina, pesta miras,
selingkuh, dan pergaulan bebas.

4.1.3 Hukum pergaulan bebas dan zina


Dari masa jahiliah hingga kini, pergaulan bebas sudah mulai ada dan terbentuk
dalam suatu masyarakat. Termasuk dalam masa kini. Yang berbeda adalah
penerpaan, jenis, dan teknologinya. Akan tetapi, masyarakat yang bebas
hidupnya, tidak ada nilai-nilai dan juga panduan dalam hidup pasti akan bebas
hidupnya berdasarkan atas hawa nafsu mereka sendiri.

Pergaulan bebas sendiri bisa jadi, menjadi hal yang menyenangkan dan
membahagiakan bagi sebagian orang atau masyarakat. Ia tidak dipenuhi dan
direpotkan oleh berbagai aturan yang mengekang dan juga harus diterapkan
oleh dirinya. Padahal, bagaimanapun juga pergaulan bebas adalah sistem yang
rusak. Bisa jadi malah membantu dan membuat seseorang itu lebih baik dan
tidak terkena oleh berbagai kesesatan.

4.1.4 Dampak Pergaulan bebas dalam islam


Pergaulan bebas dalam islam tentunya adalah hal yang dilarang. Hal ini karena
memiliki dampak yang sangat besar terhadap diri dan suatu masyarakat.
Apalagi jika dampak tersebut buruk atau menyesatkan, tentu sudah pasti
diharamkan dan sangat dilarang. Bahkan melakukannya berarti keji karena
sudah diberi akal namun tidak digunakan untuk memahaminya.

1. Munculnya Perzinahan

Perzinahan adalah salah satu perbuatan keji yang dibenci oleh Allah. Dengan
adanya pergaulan bebas, perzinahan bisa sanagt memungkinkan muncul bahkan
perzinahan yang dilakukan terang-terangan serta dilegalisasi oleh pemerintah
bisa saja terjadi.
Dari perilaku perzinahan juga akan muncul berbagai macam hal yang bisa
merusak keluarga, hilangnya akar keluarga dari anak, penyakit berbahaya dan
lain sebagainya. Untuk itu, jangan sampai pergaulan bebas ada karena efeknya
bisa terjadi pada perzinahan.
2. Rusaknya Moralitas

Moralitas bisa rusak dari adanya pergaulan bebas. Aturan-aturan kebenaran


universal dan islam tetapkan tidak akan dilakukan oleh orang-orang yang
bergaul secara bebas. Pergaulan bebas akan mengedepankan kepada hawa nafsu
dan kesenangan pribadi. Minum minuman khamr, membuak aurat, tanpa ada
batasan lawan jenis tentu akan membuat moral masyarakat menjadi rusak tidak
terkendali. Untuk itu, kerusakan moral bisa juga bermula dari pergaulan bebas
tanpa batas.

3. Berpotensi Hilangnya Fitrah Manusia

Dari pergaulan bebas juga bisa berpotensi muncul hilangnya fitrah manusia. Hal
ini bisa kita lihat di zaman sekarang bahwa potensi LGBT atau homoseksual
dan berbagai kelainan manusia lainnya muncul akibat salah dari pergaulan dan
mengenal fitrah manusia. Pergaulan bebas yang tidak mengenal batas tersebut
akan membuat manusia menjadi hilang kendali dan tidak dilingkupi oleh nilai-
nilai islam yang membawa pada fitrah.

4. Kerusakan Sistem Masyarakat

Kerusakan sistem masyarkaat bisa terjadi karena pergaulan bebas. Penerapan


pergaulan bebas di masyrakat bisa berefek terhadap rendahnya kesadaran
masyarakat, egoisitas diri, sistem pendidikan yang melemah, dan juga ekonomi
yang rusak karena beredarnya barang-barang untuk melegalkan seks bebas atau
barang-barang haram lainnya.

4.1.5 Cara menghindarkan Pergaulan bebas


Untuk menghindari pergaulan bebas islam telah menetapkan aturan-aturan baku
agar umat islam tidak merusaknya. Berikut adalah hal-hal yang harus dijaga dan
diikuti oleh umat islam agar tidak terjebak kepada pergaulan bebas.

1. Menjaga Aurat

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri


orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu
mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS Al Ahzab : 59)
Setiap manusia, baik laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban untuk
menutupi aurat dan dilarang untuk memperlihatkannya kepada orang lain selain
dari yang muhrim. Bahkan terhadap muhrim pun ada batasan yang juga harus
dijaga, mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang bisa mengundang
kesalahan dan khilaf. Untuk itu, menghindari pergaulan bebas maka mulai lah
dari menjaga aurat kita masing-masing.

2. Menjaga Pandangan

“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah


mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.
Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah
menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka,
atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami
mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara
lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-
wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-
laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang
belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan
kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah
kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu
beruntung.” (QS An-Nur : 31)
Di dalam ayat di atas, diperintahkan manusia untuk menjaga
pandangannya. Cara Menjaga Pandangan Mata dan Cara Menjaga Pandangan
Menurut Islam sangat ditekankan. Hal ini dikarenakan dari matalah kemaksiatan
dan segala hawa nafsu bisa bermula. Untuk itu, menjaga pandangan adalah hal
yang harus dilakukan. Menjaga agar tidak terjadi pergaulan bebas bisa bermula
dari menjaga pandangan kita sendiri untuk tidak melihat hal-hal yang di luar
dari yang dihalalkan.

3. Batasan Pergaulan Antara Muhrim dan Non Muhrim

Antara muhrim dan non muhrim atau lawan jenis, hendaknya kita pun menjaga
pergaulan. Dengan lawan jenis hendanya tidak terlalu mengumbar perasaan,
apalagi sampai menimbulkan hal yang berpotensi fitnah. Selain itu dalam
pergaulan hendaknya ada batasan hijab bukan berarti harus hijab secara fisik
namun hijab secara jarak dan pembicaraan. Hendaklah pembicaraan tidak
membicarakan hal-hal yang berbau seksual atau sensual, agar kejernihan pikirna
tetap terjaga.
4. Menjaga Nilai-Nilai Islam dalam Pergaulan

Yang lebih penting dari itu semua adalah menjaga nilai-nilai islam dalam
pergaulan. Jangan sampai pergaulan kita rusak karena tidak ada nilai-nilai islam
didalamnya. Untuk itu hal-hal dalam rukun iman, rukun islam, Iman dalam
Islam,Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, dan Hubungan Akhlak
dengan Iman harus tetap dipegang teguh dalam setiap pergaulan dan kehidupan
sosial kita.
4.1.6 Hukum Zina
Semua ulama sepakat bahwa zina hukmnya haram, bahkan zina dianggap sebagai
puncak keharaman. Menurut pandangan hukum Islam, perbuatan zina merupakan
dosa besar yang di kategorikan sebagai perbuatan yang keji, hina, dan buruk.
4.1.7 Kategori Zina
Kategori zina di bedakan menjadi 2, yaitu :

a. Zina Muhsan, yaitu pezina sudah balig, berakal, merdeka, sudah pernah
menikah. Hukuman terhadap zina muhsan adalah di rajam (di lempari dengan
batu sederhana sampai meninggal).

b. Zina Gairu Muhsan, yaitu pezina yang masih lajang, belum pernah menikah.
Hukumannya adalah didera seratus kali dan di asingkan selama satu tahun.

4.1.8 Hadits tentang Pergaulan bebas dan zina


Bergaul dengan orang banyak di tengah-tengah masyarakat mempunyai nilai
keutamaan lebih dibanding dengan hidup menyendiri menjauh dari mereka
dengan syarat mengikuti mereka dalam kegiatan-kegiatan keagamaan maupun
sosial seperti menghadiri shalat jum’ah, shalat berjamaah, majlis-majlis ta’lim,
mengunjungi orang sakit, mengantar jenazah (ta’ziyah), membantu meringankan
beban sebagian anggota masyarakat yang memerlukan, memberikan bimbingan
kepada yang tidak tahu/tidak mengerti atas suatu persoalan keagamaan maupun
sosial serta mampu mengendalikan diri dari mengikuti hal-hal yang tidak baik
dan tabah serta sabar atas segala gangguan yang mungkin timbul.
Agama islam menyeru dan mengajak kaum muslimin melakukan pergaulan di antara
kaum muslimin baik yang bersifat pribadi orang seorang, maupun dalam bentuk
kesatuan. Karena dengan pergaulan kita dapat saling berhubungan mengadakan
pendekatan satu sama lain, bisa saling menunjang dan mengisi antara satu dengan
lainnya.
4.1.9 Sikap yang mencerminkan pergaulan bebas dan zina
Bergaul dengan lawan jenis,saling menatap dengan lawan jenis,berbuat yang tidak
baik seperti melakukan hubungan intim tanpa ,ada ikatan suami isteri ,semoga
membantu

4.1.10 Kajian surah tentang Pergaulan bebas dan Zina


Allah berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 32 yang berbunyi:

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah
suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“.
4.1.11 Kandungan isi surah Al-Isra ayat 32
1) larangan untuk mendekati zina
2) zina termasuk perbuatan keji dan mungkar
3) zina merupakan jalan yang buruk
4) mendekati saja sudah dilarang, apalagi melakukan

5.1 Memahami Asmaul husna


5.1.1 Pengertian Asmaul husna
Mengenal Allah swt. dapat ditempuh melalui cara memahami nama-namanya
yang terbaik dan sifat-sifatnya yanh muhur. Nama-nama dan sifat-sifat itulah
yang digunakan Allah swt. sebagai wasilah agar manusia mengenalnya.
Sebenarnya, semua namanya menunjukkan sifatnya pula, tetapi ada nama-nama
tertentu yang dikenalkan dengan istilah Asma’ul Husna dan sifat-sifat tertentu
yang wajib dipelajari oleh umat islam dalam rangka mengenal lebih dalam
tentang sifat-sifatnya.
5.1.2 Fungsi Asmaul husna
Untuk mengenal nama-nama allah dan sifat-sifat allah
5.1.3 Keuntamaan Asmaul husna
• Barang siapa membaca Asmaul husna secara rutin setiaphari sebanyak
1000 kali, dengan ucapan Yaa Allaah ya
huu,niscaya Allah akan mengaruniakan kepada orang itukesempurnaan ke
yakinan, semua keraguan danketidakpastian akan hilang di hatinya
• Barang siapa membacanya pada hari Jum’at sebelum sholat,dalam keadaan
suci dan bersih pakaiannya, serta terbebasdari segala kesibukan, maka
Allah akan memudahkan segalapermintaannya
• Jika orang yang sedang menderita suatu penyakit yang sulitdisembuhkan
oleh dokter, lalu ia berdoa kepada Allahdengan Asmaul husna, niscaya ia
akan sembuh dengan izinAllah, selama ajalnya belum tiba.

5.1.4 Kajian surah tentang Asmaul husna

Artinya : Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya


dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang
menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka
akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. ” (QS. Al A’raf
7:180)

5.1.5 Kandungan isi surah Al A’raf ayat 180


1) Dia mempunyai "Asmaul Husna" dan menyerukan agar hamba-hamba-Nya
berdoa dan memuji-Nya dengan menyebut asmul husna itu, mudah-mudahan
mereka terhindar jauh dari sifat-sifat yang buruk dan lepas dari neraka Jahanam.

2) Allah swt. memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menyebutkan nama-nama


yang paling baik ini dalam berdoa atau berzikir. Karena dengan berdoa dan
berzikir itu, mereka bertambah hidup dan subur dalam jiwa mereka.
3) Allah swt. memerintahkan pula kepada orang-orang yang beriman agar mereka
meninggalkan perilaku orang-orang yang menyimpangkan pengertian nama-
nama Allah swt. dan pengertian yang benar,

5.1.6 Nama-nama dan sifat Allah dari Asmaul husna


1. Al-karim
Al-karim termaksud sifat nama Allah swt. artinya yang banyak kebaikannya,
yang maha memberi (tanpa diminta), yang tidak akan habis pemberiannya, yang
maha pemaaf atas kebodohan hamba-hambanya sehingga tidak segera
mnghukum mereka (yang berbuat dosa dan maksiat), dan maha memberi secara
mutlak
2. Al-Mu’min
Al-mu'min secara bahasa berasal dari kata amina yang berarti pembenaran,
ketenangan hati, dan aman. Allah SWT al-mu'min artinya Dia Maha Pemberi
rasa aman kepada semua makhluknya, terutama manusia. Keamanan dan rasa
aman yang kita peroleh tidak terlepas dari kekuasaan Allah. Ketenangan hati
hanya didapat bila kita dekat dengan Allah, rajin membaca Al - Qur'an, rajin
sholat, dan lain - lain. Ketidak nyamanan bukan hanya akibat ulah manusia tapi
bisa juga karena binatang buas, bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tanah
longsor dan lain - lain. Ada orang yang merasa tidak aman walaupun situasinya
aman dan tentram. Sebaliknya ada orang yang merasa, tenang, tidak gelisah
walaupun situasi dan keadaan genting dan kacau. Allah adalah al-mu’min yang
muthlaq, karena hanya kepada-Nyalah keamanan dapat diraih dan Dia adalah
pencipta keamanan, baik didunia maupun di akhirat. Allah juga Maha
tepercayadalam menepati janji-Nya.

3. Al-Wakil

Al-Wakil artinya Yang Maha Mewakili atau Yang Maha Pemelihara. Al-
Wakil dimaknai Allah swt. yang memelihara dan mengurusi segala kebutuhan
makhluk-Nya, baik itu urusan dunia maupun urusan akhirat.

4. Al-Matin

Makna “al-Matîin” adalah Yang Maha sangat kuat. Dia Maha Mampu
memberlakukan perintah dan ketentuan-Nya kepada semua makhluk-Nya (tanpa
ada satupun yang mampu menghalangi). Dia mampu memuliakan siapapun
yang dikehendaki-Nya dan mampu menjadikan hina siapapun yang
dikehendaki-Nya.
5. Al-Jami

Al-Jami' secara bahasa artinya Yang Maha Mengumpulkan/Menghimpun, yaitu


bahwa Allah Swt. Maha Mengumpulkan/Menghimpun segala sesuatu yang
tersebar atau terserak. Allah Swt. Maha Mengumpulkan apa yang dikehendaki-
Nya dan di mana pun Allah Swt. berkehendak.

6. Al-‘Adl

Al-Adl berarti Maha Adil. Keadilan Allah SWT bersifat mutlak, tidak
dipengaruhi apapun dan siapapun. Allah Mahaadil karena Allah selalu
menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya, sesuai dengan keadilan-
Nya yang Maha Sempurna.

7. Al-Akhir

Al Akhir artinya yang maha akhir yang tidak ada sesuatupun setelah Allah
SWT. Dia Maha Kekal tatkala semua makhluk hancur, maha kekal dengan
kekekalan-Nya.