Anda di halaman 1dari 14

I.

Latar Belakang
A. Rute Pemberian
Topikal : Pemberian obat melalui rute topikal untuk terapi lokal
(Ernawati, 2013).
B. Efek Farmakologi
 Khasiat
Parafin Cair penggunaan sebagai emolien (Pionap, 2018)
 Mekanisme Kerja
Parafin srbagai pelembab kulit yang digunakan pada permukaan
kulit. Efek obat ini singkat dan sebaiknya tetap sering dioleskan
walaupun tetap terjadi perbaikan (Pionap, 2018).
 Absorpsi
Parafin di absorpsi di kulit

C. Dosis
Sesuai Kebutuhan
II. Pendekatan Formula
1. Parafin Cair ( HPE, Hal:446)
Sebagai zat aktif parafin cair memiliki suatu yang licin dan lembut
sehingga memiliki khasiat sebagai emulien yang dapat melembutkan
dan mengurangi kulit kering dan kasar.
2. Aquadest (Pengantar sediaan farmasi, hal 314-315)
Tentu saja terdapatnya air menimbulkan efek melarutkan pada sebagian
besar zat-zat yang berhubungan dengannya dan menjadi tidak murni
serta mengandung garam-garam anorganik dalam jumlah yang berbeda.
Biasanya Natrium, kalium, Magnesium dan besi klorida, bikarbonat dan
juga zat organik yang tidak larut serta jasad renik.
3. Gom Arab
Gom arab digunakan sebagai suspending agent karena sangat stabil dan
tidak terlalu kental sehingga cocok untuk pemakaian topikal seperti lotio
4. BHT (Butil Hidroksi Toluen).
Digunakan sebagai antioksidan untuk mencegah ketengikan oksidatif
lemak dan minyak dan untuk mencegah hilangnya aktivitas larut dalam
minyak ( HPE, 2009).
5. Oleum Rosae
Digunakan sebagai pengaroma emulsi.
6. Propil Paraben dan metil paraben
Digunakan untuk mengawetkan atau sebagai antimikroba pada sediaan
yang berbentuk cair yang umumnya mudah ditumbuhi mikroba.
III. Pendekatan Formula

NO Permasalahan Solusi
1. Zat aktif tidak larut dalam air Ditambahkan emulgator yaitu
Gom Arab.
2. Zat aktif tidak memiliki Diberikan Pengaroma yaitu
aroma Oleum Rosae.

3. Sediaan mudah ditumbuhi Ditambhakan pengawet


mikroba kombinasi propil paraben dan
metil paraben.

4. Sediaan kurang larut Ditambahkan kosolvent yaitu


IV. Pre Formulasi
A. Zat Aktif
1. Parafin ( FI III, 1979 Hal 474)
Nama Resmi :PARAFFINUM LIQUIDUM
Nama Lain :Parafin Cair
RM/ BM :C4H10/-
Titik Didih :> 360˚ C
Titik Lebur :96- 105˚C

Pemerian :Cairan Kental, transparan, tidak


berfluoresensi, tidak berwarna, hampir
tidak berbau, hampir tidak mempunyai rasa.

Kelarutan :Praktis tidak larut dalam air dan dalam


etanol (95%)P.Larut dalam kloroform P dan
dalam eter P.

Inkompabilitas :Inkompatibel dengan oksidat kuat.

Stabilitas :Parafin stabil meskipun dalam bentuk cair


dan mungkin dapat terjadi perubahan secara
fisik, parafin harus disimpan pada
temperatur tidak melebihi 40˚C.

Pka dan Kp :-
Fungsi : Sebagai zat aktif
B. Zat Tambahan
1. Aquadest ( FI III, 1979 Hal 96)
Nama Resmi : AQUA DESTILLATA
Nama Lain : Air Suling
RM/BM : H2O/18,02
Titik Didih : 100˚C

Pemerian : Cairan jernih, tidak berbau, tidak berwarna,

tidak memiliki rasa.

Kelarutan :-

Inkompabilitas : Air dapat bereaksi dengan obat dan


berbagai eksipien yang rentang akan
hidrolisis. Air bereaksi kilat dengan logam
alkali dan bereaksi cepat dengan logam
alkali tanah dan oksidasinya seperti kalsium
oksida dan magnesium oksida.

Stabilitas : Stabil baik pada keadaan fisik


Pka dan Kp :-
Fungsi : Sebagai Pelarut

2. Gom Arab (FI III, 1979)

Nama Resmi : PULVIN GUMMI ACACIAE

Nama Lain : Gom Arab

RM/BM : C16H12O6/-

Titik Lebur :-

Titik Didih :-

Pemerian : Serbuk putih atau putih kekuningan, tidak


berbau

Kelarutan : Larut hampir sempurna dalam air, tetapi


sangat lambat meninggalkan serat bagian
tanaman dalam jumlah sedikit dan
memberikan cairan seperti mucilago tidak
berwarna atau kekuningan kental kertas
lakmus biru. Praktis tidak larut dalam
etanol dan eter.

Inkompabilitas :Dalam jumlah banyak tidak dapat


bercampur dengan garam.
Stabilitas :
Pka dan Kp :-

Fungsi : Suspending Agent

3. Butil Hidroksi Toluen ( FI III, 1979: 664)

Nama Resmi : BUTYL HYDROXY TOLUENUM

Nama Lain : Butil Hidroksi Toluen/BHT

RM/BM : C15H24O/-

Titik Didih : -

Titik Lebur : 70˚C

Pemerian : Hablur padat, Putih, bau khas

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalm


propilenglikol P mudah larut dalam etanol
(95%) P dalam kloroform P dan dalam
eter P.

Inkompabilitas : BHT adalah fenolik dan mengalami reaksi


karakteristik fenol. Hal ini tidak
kompatibel dengan oksidator kuat seperti
peroksida dan permanganat. Kontak
dengan agen oksida dapat menyebabkan
pembakaran konstan. Garam besi
menyebabkan perubahan warna dengan
hilangnya aktivitas pemanasan dengan
jumlah katalitik asam menyebabkan
dekomposisi yang cepat dengan rilis dari
isobutene gas yang mudah terbakar (HPE,
2009).
Stabilitas : Paparan cahaya, kelembapan dan panas
menyebabkan perubahan warna dan
hilangnya aktivitas (HPE,2009).

Pla dan Kp : -
Fungsi : Sebagai Antioksidan

4. Metil Paraben ( HPE Hal 441)

Nama Resmi : METHYLIS PARABENUM

Nama Lain : Metil Paraben

RM/BM : C8I8O3/ 152,15

Pemerian : Kristal berwarna taua kristal putih tidak


berbau atau hampir tidak berbau dan
memiliki sedikit rasa.

Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian


air mendidih dalam 3,5 bagian etanol
(95%) P dan dalam 3 bagian aseton P
mudah larut dalam eter P dan dalam
larutan alkali hidroksida, larut dalam 60
bagian gliserol P panas dan dalam 40
bagian minyak lemak nabati panas. Jika
didinginkan larutan jernih.

Kegunaan : Sebagai Pengawet antimikroba (HPE, 2009)

Inkompabilitas : Aktivitas antimikroba metil paraben dan


paraben lainnya sangat berkurang dengan
adanya surfaktan non ionik. Tidak
kompatibel dengan bahan lain seperti
magnesium trisilakat, tragakan metil
paraben berubah warna dengan adanya
besi dan terhidrolisis dengan basa lemah
dan asam kuat.

Stabilitas : Larutan metil paraben pada ph 3-6 dapat


disterilkan dengan autoklaf pada suhu
120˚C selama 20 menit tanpa
dekomposisi. Larutan pada ph 3-6 stabil
(kurang dari 10% dekomposisi) sampai
sekitar 4 tahun pada suhu kamar
sedangkan larutan pada ph 8 atau diatas 8
terjadi hidrolisis.

Pka dan Kp : -
Fungsi : Sebagai pengawet antimikroba

5. Propil paraben (FI III, 1979:335)

Nama Resmi : PROPYLIS PARABENUM


Nama Lain : Propil paraben
RM/BM : C10H12O3/180,12
Titik didih : -
Titik Lebur : 95-99˚C
Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berbau, berasa
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air, larut dalam 3,5
bagian etanol (95%) dalam 3 bagian
aseton P dalam 140 bagian gliserol P dan
dalam 40 bagian minyak lemak, mudah
larut dalam larutan alkali hidroksida.

Stabilitas : Larutan propil paraben cair pada ph 3-6


dapat disterilkan dengan autoklaf tanpa
dekomposisi. Pada ph 3-6 larutan cairnya
stabil (kurang dari 10%) sementara pada
ph 8 atau lebih maka akan cepat
mengalami hidrolisis.

Pka dan Kp : -
Fungsi : Sebagai Pengawet Antimikroba

6. Propilen Glikol (FI III, 1979:354)


Nama Resmi : PROPYLENGLYCOLUM
Nama Lain : Propilen Glikol
RM/BM : C3H8O2/ 76,10
Titik Didih : 185˚-189˚C
Titik Lebur : -59˚C
Pemerian : Propilen glikol adalah cairan jernih, tidak
berwarna, praktis tidak berbau, rasa sediit
tajam menyerupai gliserin.
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol
(95%) P dan kloroform P dalam 6 bagian
eter P, tidak dapat becampur dengan eter
minyak tanah P dan dengan minyak
lemak.
Inkompabilitas : Tidak kompatibel dengan reagen oksidasi
seperti kalium permanganat.
Stabilitas : Stabil pada suhu dingin dan tempat
tertutup, higroskopik, harus disimpan
ditempat yang tidak terkena matahari.
Pka dan Kp : -
Fungsi : Sebagai Kosolvent
V. Rancangan Vormula
NO Bahan Range Jumlah Fungsi Kadar
1. Parafin - 18 ml Zat Aktif 30%
2. BHT 0,0075- 0,06 ml Antioksidan 0,1%
0,1%
3. Gom Arab 10-20% 9 gram Emulgator 15%
4. Oleum Rosae q.s - Pengaroma -
5. Propilen 5-80% 6 ml Kosolvent 10%
Glikol
6. Metil Paraben 0,02-0,3% 0,18 ml Pengawet 0,3%
7. Propil Paraben 0,01-0,6% 0,36 ml Pengawet 0,6%
8. Aquadest q.s - Pelarut -
9. Cetyl Alkohol 2-10% 6 ml Stiffening 10%
agent
V.I Perhitngan
a. Perhitungan Bahan
 Parafin
30% x 60 ml = 30 x 60 ml
100

= 18 ml
 BHT
0,1% x 60 ml = 0,1 x 60 ml
100

= 0,06 ml
 Propilen Glikol
10% x 60 ml = 10 x 60 ml
100

= 6 ml

 Metil Paraben = 0,3 x 60 ml


100

= 0,18 ml

 Propil Paraben
0,6% x 60 ml = 0,6 x 60 ml
100

= 0,36 ml
 Cetil Alkohol
10% x 60 ml = 10 x 60 ml
100

= 6 gram

b. Dosis

Sesuai Kebutuhan

c. Aturan Pakai

Oles pada permukaan kulit yang kering dan kasar


VI. Prosedur Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Ditimbang bahan yang akan digunakan
3. Ditambahkan metil paraben dalam propilen glikol sebagai fase air
4. Dilarutkan gom dalam air hangat tunggu hingga mengembang
5. Dilarutkan propil paraben pada minyak dan ditambahkan oleum
rosae, BHT dan cetyl alkohol
6. Diletakkan fase air dibawah magnetik stirer
7. Dihomogenkan dengan magnetik stirer dengan kecepatan 300 rpm
selama 15 menit
8. Dimasukkan fase minyak pada fase air
9. Dihomogenkan kembali dengan magnetik stirer
10. Dimasukan ke dalam wadah
11. Diberi etiket
XI. Hasil dan Pembahasan
 Pembahasan
Emulsi adalah sediaan yang mengandung obat cair atau larutan obat
terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau
surfaktan yang cocok (FI III, 1979: 9)
Tipe-tipe emulsi menurut (Syamsuni, H. 2016), emulsi digolongkan
menjadi 2 macam yaitu:
1. Emulsi tipe o/w (oil in water) atau minyak dalam air adalah emulsi
yang terdiri dari butirn minyak yang tersebar ke dalam air, minyak
sebagai fase internal dan air fase eksternal.
2. Emulsi tipe w/o (water in oil) atau air dalam minyak adalah emulsi
yang terdiri dari butiran air yang tersebar ke dalam minyak air sebagai
fase internal sedangkan fase minyak sebagai fase eksternal.
Penggunaan emulsi dibagi menjadi 2 yaitu emulsi pemakaian dalam
dan emulsi pemakaian luar. Emulsi pemakaian luar digunakan pada kulit
atau membran mukosa yaitu lotion, krim dan salep. Emulsi yang dipakai
pada kulit sebagai obat luar biasa dibuat sebagai emulsi m/a atau a/m
tergantung pada bebagai faktor sep
erti sifat zat terapi yang akan dimasukkan ke dalam emulsi keinginan untuk
mendapatkan efek emolien akan pelembut jaringan dari preparat tersebar
dan dengan keadaan permukaan kulit (Ansel, 1989).
Lotio adalah sediaan kosmetika golongan emolien yang mengandung
udara lebih banyak. Sediaan ini memiliki beberapa sifat yaitu sebagai
sumber lembab bagi kulit dan memberi lapisan minyak yang hampir dsms
dengan sabun.Membuat tangan dan badan menjdi lembab tetapi tidak berada
minyak dan mudah dioleskan (Sudarso,et al, 1995).
X.II Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwa:
1. Emulsi adalah sediaan yang mengandung obat cair atau larutan obat
terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi
atau surfaktan yang cocok.
2. Penggunaan emulsi dibagi menjadi 2 yaitu emulsi pemakaian dalam
dan emulsi pemakaian luar. Emulsi pemakaian luar digunakan pada
kulit atau membran mukosa yaitu lotion, krim dan salep. Emulsi yang
dipakai pada kulit sebagai obat luar biasa dibuat sebagai emulsi m/a
atau a/m tergantung pada bebagai faktor seperti sifat zat terapi yang
akan dimasukkan ke dalam emulsi keinginan untuk mendapatkan efek
emolien akan pelembut jaringan dari preparat tersebar dan dengan
keadaan permukaan kulit.