Anda di halaman 1dari 5

Analisis Relevansi Ketentuan Pasal 52 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris dengan Pasal 297 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Oleh:

TEGAR PRAKOSA WILIS

NIM.186010202111003

1.

LATAR BELAKANG

Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainya sebagai mana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris. Pembuatan akta otentik ada yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dalam rangka menciptakan kepastian, ketertipan dan perlindungan hukum.

Pengertian dari jabatan atau pejabat berkaitan dengan wewenang, jabatan Notaris diadakan atau dikehendaki kehadiranya oleh hukum dengan maksud untuk membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti tertulis yang sifatnya otentik mengenai keadaan, pristiwa dan perbuatan hukum.

Jabatan Notaris merupakan suatu lembaga yang diciptakan oleh Negara. Menempatkan Notaris sebagai jabatan merupakan suatu bidang pekerjaan atau tugas yang sengaja dibuat oleh hukum untuk keperluan dan fungsi tertentu atau kewenangan tertentu serta bersifat berkersinambungan sebagai suatu lingkungan pekerjaan tetap.

Dalam melankan tugas dan kewajibanya tentunya Notaris memiliki pedoman-pedoman tertentu yang harus dipenuhi Notaris agar suatu alat bukti yang dibuat dan dikeluarkan Notaris dapat menjadi alat bukti yang sah dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang.

Untuk memahami lebih dalam lagi mengenai batasan batasan dari kewenangan Notaris tersebut Ibu Notaris Titik Soeryanti Soekesi, S.H. (Selaku Dosen Peraturan Jabatan dan Etika Profesi Notaris) memberi tugas Mahasiswa S2 Magister Kenotariatan FH UB ntuk menganalisis “Relevansi Ketentuan Pasal 52 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris dengan Pasal 297 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata”.

2. RUMUSAN MASALAH

Relevansi Ketentuan Pasal 52 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris dengan Pasal 297 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

3. KAJIAN PASAL 52 AYAT 1 UUJN NO.30/2004 DAN PASAL 297 KUH PERDATA

Pasal 52 Undang Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris menyatakan:

1)

Noratis tidak diperkenankan membuat akta untuk diri sendiri, istri/suami, atau orang lain yang mempunyai hubungan keluarga dengan Notaris baik karena perkawinan maupun karena hubungan darah dalam garis keturunan ke bawah dan/atau ke atas tanpa pembatasan derajat, serta dalam garis kesamping sampai dengan deajat ketiga, seta menjadi pihak untuk diri sendiri,

2)

maupun dalam suatu kedudukan ataupun dalam perantara kuasa. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku, apabila orang tersebut pada ayat

(1) kecuali Notaris sendiri, menjadi penghadap dalam penjualan di muka umum, sepanjang penjualan itu dapat dilakukan dihadapan Notaris, persewaan umum, atau pemborongan umum, atau menjadi anggota rapat yang risalahnya dibuat oleh Notaris. 3) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksutd pada ayat (1) berakibat akta hanya mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan apabila akta tersebut ditandatangani oleh penghadap, tanpa mengurangi kewajiban Notais yang membuat akta itu untuk membayar biaya, ganti rugi, dan bunga kepada yang bersangkutan. Pasal 297 KUH Perdata menyatakan:

“Dengan bubarnya suatu perkawinan, kekeluargaan semenda antara yang satu diantara suami-istri dan para keluarga sedarah yang lain tidak dihapus.”

Dari Pasal 52 UUJN tersebut dapat kita lihat batasan-batasan subjek hukum yang bisa/boleh menggunakan jasa Notaris. Pada akta Notaris , Notaris juga memiliki peran sebagai saksi (gentuige), Kesaksian yang diberikan Notaris mengandung makna kepercayaan yang besar sekali oleh karena itu Notaris dalam menjalankan tugas dan kewajibanya harus berprinsip bebas, independen dan tidak memihak salah satu pihak sesuai dengan isi sumpah jabatan yang sudah Notaris ucapkan, bahwa Notaris akan menjalankan jabatannya dengan jujur, seksama dan tidak berpihak.

Agar Notaris tidak memihak salah satu pihak dalam akta Notaris selalu menyatakan (mengkonstatir) keterangan ataupun perbuatan yang diberikan atau yang dibuat olehnya atas permintaan dari keluarganya yang terdekat dicantumkan tindakan-tindakan atau keterangan-keterangan yang mereka lakukan atau berikan. Dalam hal-hal seperti itu pembuat undang-undang tidak memberikan kepercayaan kepada notaris; pembuat undang-undang menyatakan notaris tidak berwenang dan melarang untuk memberikan bantuannya bagi dirinya sendiri, isterinya dan bagi keluarga yang dimaksud dalam pasal 52 UUJN dan pasal 297 KUHPerdata. Berdasar pasal 52 UUJN tersebut seseorang dapat dengan dua cara menjadi pihak dalam suatu akta notaris, yakni : 1. Dengan kehadiran sendiri (in persoon) dan 2. Dengan perantaraan kuasa (door gemachtigde), selain dengan kedua cara tersebut, masih ada disebutkan cara lain, yakni “in hoedanigheid” (dalam jabatan atau kedudukan), bahwa orang-orang yang dimaksud dalam pasal 52 tersebut tidak hanya tidak diperkenankan untuk menjadi pihak dalam akta “melalui kuasa” (door gemachtigde), akan tetapi juga tidak “in hoedanigheid” (dalam jabatan atau kedudukan), misalnya sebagai wali, kurator atau pelaksana wasiat. Orang-orang yang tidak boleh menjadi pihak dalam akta yang dibuat oleh notaris. Pihak-pihak yang tidak boleh menjadi pihak dalam akta menurut pasal 52 UUJN adalah Notaris sendiri, hal mana berarti bahwa ia tidak boleh mencantumkan keterangannya sendiri dalam akta, kecuali keterangan-keterangan dalam rangka pemenuhan formalitas-formalitas yang berhubungan dengan pembuatan akta dan yang diharuskan oleh undang-undang, walaupun dalam akta notaris terdapat banyak keterangan kesaksian mengenai perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh notaris sendiri, semuanya itu adalah berupa pemenuhan formalitas-formalitas yang diharuskan oleh undang-undang mengenai pembuatan akta, seperti yang dimaksud di atas. Dengan melakukan perbuatan itu Notaris tidak menjadi pihak dalam akta yang Selain notaris sendiri, maka menurut pasal 52 UUJN tersebut juga tidak boleh menjadi pihak dalam akta yang dibuat oleh notaris, yakni para keluarga sedarah dan semenda dari notaris, satu dan lain sebagaimana yang diperinci dalam pasal tersebut. Dalam pada itu hendaknya diperhatikan, bahwa yang dimaksudkan dengan keluarga dan semenda dalam pasal tersebut hanya keluarga sedarah dan semenda dari notaris. Dengan demikian notaris dapat membuat akta, di mana keluarga semenda dari isterinya menjadi pihak, oleh karena keluarga tersebut tidak ada hubungan dengan notarisnya. Semua keluarga isteri atau suami dari keluarga sedarah dari notaris adalah keluarga semenda (aanverwanten) dari notaris. Akan tetapi tidak semua istri atau suami dari keluarga semenda juga menjadi keluarga sedarah dari Notaris, misalnya suami dari saudara perempuan dari isteri Notaris tidak merupakan keluarga sedarah dari Notaris. Notaris dapat menerimanya sebagai pihak dalam akta yang dibuatnya. Menurut pasal 297 KUH Perdata, laranga tersebut di atas tetap berlaku mengenai keluarga semenda, sekalipun Notaris tersebut telah becerai atau suami/isteri Notaris itu telah meninggal dunia. dalam pasal 52 UUJN tersebut tidak mengadakan pengecualian terhadap larangan itu dalam hal suami/isteri Notaris meskipun telah berpisah/bercerai dan atau meninggal dunia dan terhadap keluarga sedarah atau semenda tersebut bertindak dalam akta yang bersangkutan sebagai pembeli, penyewa, pengepah, pemborong atau penjamin, di mana penjualan di muka umum, sepanjang penjualan itu dapat dilakukan dihadapan notaris, persewaan, pengepahan atau pemborongan dikonstatir atau sebagai anggota rapat di mana dari apa yang dibicarakan oleh notaris dibuat beritaacaranya. Dalam pasal 52 UUJN tersebut pada hakekatnya mempunyai arti karena penjualan, penyewaan dan yang lainnya dimuka umum tidak dapat dilakukan oleh notaris. hanya yang terakhir yang mempunyai arti, yakni tentang pembuatan berita-acara dari rapat, di mana orang-orang yang dimaksud dalam pasal 52 tersebut menjadi anggota rapat. Akibat pelanggaran terhadap ketentuan dalam pasal 52 UUJN , bahwa akta itu masih mempunyai kekuatan seperti akta yang dibuat di bawah tangan, apabila akta itu ditanda tangani oleh para penghadap dan jika terdapat alasan, notaris yang bersangkutan berkewajiban untuk membayar

biaya, ganti kerugian dan bunga kepada yang berkepentingan. Kadang-kadang tidak mudah untuk mengetahui, apakah sesuatu perbuatan melanggar ketentuan dalam pasal 52 UUJN Di bawah ini diberikan beberapa contoh :

1. Jika dalam akta yang dibuatnya notaris menerangkan, bahwa para penjamin (borgen) ada “solvabel,” maka notaris adalah pihak dalam akta itu, sehingga dalam hal ini terdapat pelanggaran terhadap ketentuan dalam pasal 52 UUJN;

2. Apabila notaris menyatakan dalam aktanya tentang telah dilakukannya penyerahan dari barang yang bersangkutan atau tentang telah dilakukannya pembayaran dari harga penjualan barang itu, maka dalam hal itu notaris bukan menjadi pihak dalam akta itu;

3. Jika para pihak dalam akta, untuk pelaksanaan perjanjian dengan segala akibatnya, memilih tempat kedudukan (domisili) yang umum di kantor notaris yang membuat akta itu, maka notaris dalam hal ini bukan pihak, berdasarkan alasan bahwa karenanya tidak terjadi sesuatu ikatan hukum apapun antara para pihak dan notaris;

4. Bila suami hadir untuk memberikan bantuan (bijstand) kepada isterinya, maka si-suami adalah pihak dalam akta yang bersangkutan (sepanjang menyangkut orang-orang terhadap siapa masih berlaku hukum barat)

Refernsi

Kitab Undang Undang Hukum Perdata UU Jabatan Notaris No 30 Tahun 2004