Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Neonatus (AKN), Angka Kematian Bayi
(AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan beberapa indikator status
kesehatan masyarakat. Dewasa ini AKI dan AKB di Indonesia masih tinggi dibandingkan
dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia
(SDKI) 2007, AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup, AKB 34 per 1.000 kelahiran hidup,
AKN 19 per 1.000 kelahiran hidup, AKABA 44 per 1.000 kelahiran hidup.
Penduduk Indonesia pada tahun 2007 adalah 225.642.000 jiwa dengan CBR 19,1 maka
terdapat 4.287.198 bayi lahir hidup. Dengan AKI 228/100.000 KH berarti ada 9.774 ibu
meninggal per tahun atau 1 ibu meninggal tiap jam oleh sebab yang berkaitan dengan
kehamilan, persalinan dan nifas. Besaran kematian Neonatal, Bayi dan Balita jauh lebih
tinggi, dengan AKN 19/1.000 KH, AKB 34/1.000 KH dan AKABA 44/1.000 KH berarti ada
9 Neonatal, 17 bayi dan 22 Balita meninggal tiap jam.
Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Development Goals/MDGs, 2000) pada
tahun 2015 diharapkan Angka Kematian Ibu menurun sebesar tiga-perempatnya dalam
kurun waktu 1990-2015 dan Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Balita menurun
sebesar dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015. Berdasarkan hal itu Indonesia
mempunyai komitmen untuk menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 102/100.000 KH,
Angka Kematian Bayi dari 68 menjadi 23/1.000 KH, dan Angka Kematian Balita 97
menjadi 32/1.000 KH pada tahun 2015.
Penyebab langsung kematian Ibu sebesar 90% terjadi pada saat persalinan dan segera
setelah persalinan (SKRT 2001). Penyebab langsung kematian Ibu adalah perdarahan (28%),
eklampsia (24%) dan infeksi (11%). Penyebab tidak langsung kematian Ibu antara lain
Kurang Energi Kronis/KEK pada kehamilan (37%) dan anemia pada kehamilan (40%).
Kejadian anemia pada ibu hamil ini akan meningkatkan risiko terjadinya kematian ibu
dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia. Sedangkan berdasarkan laporan rutin PWS
tahun 2007, penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (39%), eklampsia (20%),
infeksi (7%) dan lain-lain (33%).
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN

Konsep PDCAcycle pertama kali diperkenalkan oleh Walter Shewhart pada tahun 1930
yang disebut dengan “Shewhart cycle“. Selanjutnya konsep ini dikembangkan oleh Dr.
Walter Edwards Deming yang kemudian dikenal dengan ” The Deming Wheel”. PDCAcycle
berguna sebagai pola kerja dalam perbaikan suatu proses atau sistem.
Ada beberapa tahap yang dilakukan dalam PDCAcycle, yaitu:

a. Plan
1) Mengidentifikasi output pelayanan, siapa pengguna jasa pelayanan, dan harapan
pengguna jasa pelayanan tersebut melalui analisis suatu proses tertentu.
2) Mendeskripsikan proses yang dianalisis saat ini
 Pelajari proses dari awal hingga akhir, identifikasi siapa saja yang terlibat
dalam prose tersebut.
 Teknik yang dapat digunakan : brainstorming
3) Mengukur dan menganalisis situasi tersebut
 Menemukan data apa yang dikumpulkan dalam proses tersebut
 Bagaimana mengolah data tersebut agar membantu memahami kinerja
dan dinamika proses
 Teknik yang digunakan : observasi
 Mengunakan alat ukur seperti wawancara
4) Fokus pada peluang peningkatan mutu
 Pilih salah satu permasalahan yang akan diselesaikan
 Kriteria masalah : menyatakan efek atas ketidakpuasan, adanya gap
antara kenyataan dengan yang diinginkan, spesifik, dapat diukur.
5) Mengidentifikasi akar penyebab masalah
 Menyimpulkan penyeba
 Teknik yang dapat digunakan : brainstorming
 Alat yang digunakan : fish bone analysis ishikawa
6) Menemukan dan memilih penyelesaian
 Mencari berbagai alternatif pemecahan masalah
 Teknik yang dapat digunakan : brainstorming

b. Do
1. Merencanakan suatu proyek uji coba
 Merencanakan sumber daya manusia, sumber dana, dan sebagainya.
 Merencanakan rencana kegiatan (plan of action)
2. Melaksanakan Pilot Project
Pilot Project dilaksanakan dalam skala kecil dengan waktu relatif singkat (± 2
minggu)

c. Check
a) Evaluasi hasil proyek
 Bertujuan untuk efektivitas proyek tersebut
 Membandingkan target dengan hasil pencapaian proyek (data yang
dikumpulkan dan teknik pengumpulan data harus sama)
 Target yang ingin dicapai 80%
 Teknik yang digunakan: observasi dan survey
 Alat yang digunakan: kamera dan kuisioner
b) Membuat kesimpulan proyek
 Hasil menjanjikan namun perlu perubahan
 Jika proyek gagal, cari penyelesaian lain
 Jika proyek berhasil, selanjutnya dibuat rutinitas
d. Action
a. Standarisasi perubahan
 Pertimbangkan area mana saja yang mungkin diterapkaN
 Revisi proses yang sudah diperbaiki
 Modifikasi standar, prosedur dan kebijakan yang ada
 Komunikasikan kepada seluruh staf, pelanggan dan suplier atas
perubahan yang dilakukan.
 Lakukan pelatihan bila perlu
 Mengembangkan rencana yang jelas
 Dokumentasikan proyek
b. Memonitor perubahan
 Melakukan pengukuran dan pengendalian proses secara teratur
 Alat yang digunakan : …….

Penyebab kematian ibu adalah :

1. Perdarahan

Perdarahan merupakan gangguan kehamilan yang pasti membuat ibu cemas. Khawatir
akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada janin. Perdarahan memang belum tentu
gejala keguguran, tapi perlu diperhatikan juga.
Perdarahan memang bisa terjadi kapan pun sepanjang kehamilan. Pada kehamilan
trimester pertama ada empat jenis perdarahan yang bisa terjadi:
 Abortus iminiens. Ini adalah perdarahan pada rahim yang akan menyebabkan
keluarnya sedikit darah, namun embrio utuh dan aman.
 Abortus insipiens. Ini adalah perdarahan yang lebih banyak diikuti rasa mulas,
embrio masih utuh tapi sudah terjadi pembukaan rahim.
 Abortus inkomplet. Ini adalah perdarahan yang sangat banyak dan dapat
menimbulkan syok. Sudah terjadi pengeluaran embrio meski masih ada sisa
yang tertinggal di rahim.
 Hamil ektopik. Disebut juga hamil di luar kandungan, 95% kasusnya berupa
calon janin menempel di saluran telur (tuba falopi). Jika terjadi, tindakan yang
harus dilakukan adalah operasi untuk mengeluarkan janin dan mengangkat
saluran telur yang robek.

Pada kehamilan trimester 2 dan 3, perdarahan bisa terjadi akibat:


 Plasenta di bawah (plasenta previa), di mana kondisi posisi plasenta menutupi jalan
lahir. Gejalanya, perdarahan tanpa disertai nyeri.
 Plasenta lepas (solutio plasenta), di mana pelekatan plasenta robek sebagian atau
lepas. Gejalanya, perdarahan berupa bercak darah warna merah gelap.

1. HPP
Perdarahan paska persalinan adalah perdarahan yang terjadi pada masa post partum yang
lebih dari 500 cc segera setelah bayi lahir.
Klasifikasi Perdarahan Post Partum
 Perdarahan post partum / early HPP/ primary HPP adalah perdarahan berlebihan (
600 ml atau lebih ) dari saluran genitalia yang terjadi dalam 12 - 24 jam pertama
setelah melahirkan.
 Perdarahan paska persalinan lambat / late HPP/ secondary HPP adalah perdarahan
yang terjadi antara harikeduasampai enam minggu paska persalinan.

Penyebab perdarahan dibagi dua sesuai dengan jenis perdarahan yaitu :

Penyebab perdarahan paska persalinan dini :

 Perlukaan jalan lahir : ruptur uteri, robekan serviks, vagina dan perineum, luka
episiotomi.
 Perdarahan pada tempat menempelnya plasenta karena : atonia uteri, retensi
plasenta, inversio uteri.
 Gangguan mekanisme pembekuan darah.
Penyebab perdarahan paska persalinan terlambat biasanya disebabkan oleh sisa
plasenta atau bekuan darah, infeksi akibat retensi produk pembuangan dalam
uterus sehingga terjadi sub involusi uterus.
2. Pre Eklampsia dan Eklampsia pada kehamilan
Pre-eklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah 140/90
mmHg setelah kehamilan 20 minggu (akhir triwulan kedua sampai triwulan ketiga) atau
bisa lebih awal terjadi.
Sedangkan pengertian eklampsia adalah apabila ditemukan kejang-kejang pada penderita
preeklampsia, yang juga dapat disertai koma.

Pre-eklampsia adalah salah satu kasus gangguan kehamilan yang bisa menjadi
penyebab kematian ibu. Kelainan ini terjadi selama masa kelamilan, persalinan, dan masa
nifas yang akan berdampak pada ibu dan bayi. Kasus pre-eklampsia dan eklampsia terjadi
pada 6-8% wanita hamil di Indonesia. Hipertensi (tekanan darah tinggi) di dalam
kehamilan terbagi atas pre-eklampsia ringan, pre-eklampsia berat, eklampsia, serta
superimposed hipertensi(ibu hamil yang sebelum kehamilannya sudah memiliki
hipertensi dan hipertensi berlanjut selama kehamilan). Tanda dan gejala yang terjadi serta
tatalaksana yang dilakukan masing-masing penyakit di atas tidak sama
Berikut ini akan dijelaskan mengenai pembagian di atas.
Penyebab:
Penyebab pre-eklampsia belum diketahui secara jelas. Penyakit ini dianggap sebagai
“maladaptation syndrome” akibat penyempitan pembuluh darah secara umum yang
mengakibatkan iskemia plasenta (ari – ari) sehingga berakibat kurangnya pasokan darah
yang membawa nutrisi ke janin.
Faktor Risiko :

 Kehamilan pertama
 Riwayat keluarga dengan pre-eklampsia atau eklampsia
 Pre-eklampsia pada kehamilan sebelumnya
 Ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
 Wanita dengan gangguan fungsi organ (diabetes, penyakit ginjal, migraine, dan
tekanan darah tinggi)
 Kehamilan kembar
Deteksi dini :
 Menyaring semua kehamilan primigravida (kehamilan pertama), ibu menikah dan
langsung hamil, dan semua ibu hamil dengan risiko tinggi terhadap pre-eklampsia
dan eklampsia.
 Pemeriksaan kehamilan secara teratur sejak awal triwulan satu kehamilan
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui terdapatnya protein dalam air seni, fungsi
organ hati, ginjal, dan jantung, fungsi hematologi / pembekuan darah

3. Infeksi
Secara umum infeksi dalam kehamilan berdasarkan penyebabnya dikelompokan
menjadi tiga penyebab, yaitu :
 Infeksi Virus ; meliputi varisella zooster, influenza, parotitis, rubeola, virus
pernafasan, enterovirus, parfovirus, rubella, sitomegalovirus.
 Infeksi bakteri ; meliputi Streptokokus grup A, Streptokokus grup B,
Listeriosis, Salmonella, Shigella, Mourbus Hansen.
 Infeksi protozoa; meliputi Toksoplasmosis, Amubiasis, amubiasis, infeksi
jamur.

4. 3 Terlambat, 4 Terlalu
Angka kematian ibu masih tinggi di Indonesia. Hal ini terjadi karena banyak sekali
faktor-faktor penyulit yang dapat menyebabkan terjadinya keadaan berbahaya bagi
kehamilan dan persalinan.
Untuk mencegah terjadinya penyulit kehamilan, maka perlu untuk menghindari apa
yang disebut dengan 3T dan 4T.
3 Terlambat :
 Terlambat dalam mencapai fasilitas (Transportasi ke rumah sakit/puskesmas
kerana jauh)
 Terlambat dalam mendapatkan pertolongan yang cepat dan tepat di fasilitas
pelayanan(kurang lengkap atau tenaga medis kurang)
 Terlambat dalam mengenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan
4 Terlalu :
 Terlalu muda (usia di bawah 16 tahun)
 Terlalu tua (usia diatas 35 tahun)
 Terlalu sering (perbedaan usia antara anak sangat dekat)
 Terlalu banyak (memiliki lebih dari empat orang anak)

5. Pertolongan Persalinan Tenaga Kesehatan non-medis ( dukun )


1. Pengertian
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan non-medis seringkali dilakukan oleh
seseorang yang disebut sebagai dukun beranak, dukun bersalin atau peraji. Pada
dasarnya dukun bersalin diangkat berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat atau
merupakan pekerjaan yang sudah turun temurun dari nenek moyang atau keluarganya
dan biasanya sudah berumur ± 40 tahun ke atas ( Prawirohardjo, 2005).
Pendidikan dukun umumnya adalah Kejar Paket A atau tamat SD, bisa baca tulis
dengan kapasitas yang rendah, mereka tidak mendapat ilmu tentang cara pertolongan
persalinan secara teori di bangku kuliah, tetapi mereka hanya berdasarkan
pengalaman saja. Peralatan yang digunakannya hanya seadanya seperti memotong
tali pusat menggunakan bambu, untuk mengikat tali pusat menggunakan tali naken,
dan untuk alasnya menggunakan daun pisang
2. Cara-cara Pertolongan Oleh Tenaga Non-medis
Tak berbeda dengan seorang bidan, dukun beranak melakukan pemeriksaan
kehamilan melalui indri raba (palpasi). Biasanya perempuan yang mengandung,
sejak mengidam sampai melahirkan selalu berkonsultasi kepada dukun, bedanya
dibidan perempuan yang mengandunglah yang datang ketempat praktek bidan untuk
berkonsultasi. Sedangkan dukun ia sendiri yang berkeliling dari pintu ke pintu
memeriksa ibu yang hamil. Sejak usia kandungan 7 bulan control dilakukan lebih
sering. Dukun menjaga jika ada gangguan, baik fisik maupun non fisik terhadap ibu
dan janinnya. Agar janin lahir normal, dukun biasa melakukan perubahan posisi janin
dalam kandungan dengan cara pemutaran perut (diurut-urut)disertai doa
Ketika usia kandungan 4 bulan, dukun melakukan upacara tasyakuran katanya
janin mulai memiliki roh.hal itu terasa pada perut ibu bagian kanan ada gerakan
halus. Pada usia kandungan 7 bulan, dukun melakukan upacara tingkeban. Katanya
janin mulai bergerak meninggalkan alam rahim menuju alam dunia, melalui
kelahiran. Calon ibu mendapat perawatan khusus, selain perutnya dielus-elus,
badannya juga dipijat-pijat, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Malah disisir dan di
bedaki agar ibu hamil tetap cantik meskipun perutnya makan lama makin besar

3. Faktor-faktor Penyebab Mengapa Masyarakat Lebih Memilih Penolong Bersalin


Dengan tenaga Kesehatan Non-medis
Masih banyak masyarakat yang memilih persalinan ditolong oleh tenaga
kesehatan non- medis daripada tenaga kesehatan disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain:
 Kemiskinan
 Masih langkanya tenaga medis di daerah-daerah pedalaman
 Kultur budaya masyarakat
 Masalah Yang Dapat Ditimbulkan Apabila Persalinan Ditolong Oleh
Non-medis

5. Kematian Ibu akibat sarana transportasi


Selain itu, faktor lain yang membuat angka kematian ibu tinggi dikarenakan kendala
transportasi, terutama di pedesaan. Menurutnya, banyak ibu meninggal karena saat
ingin melahirkan anak biasanya harus ke kota atau keluar daerah, mereka mengalami
keterlambatan transportasi.
Faktor ketiga ialah keterlambatan fasilitasi, terutama di pedesaan. Apalagi, kesadaran
masyarakat menjadi satu kesatuan yang tak bisa pisahkan. Sehingga, hasilnya
melipatgandakan angka kematian ibu yang harus ditangani
BAB 3

TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

3.1 KASUS

Di Desa Suka Mundur terdapat 100 orang ibu hamil. Di desa tersebut terdapat Bidan
desa baru pindah, kadesnya aktif, Kader yang aktif ada 10 orang,terdapat kelas ibu hamil
ada 2 kelas, Tabulin baru di buka. Disana ada banyak faktor yang dapat menjadi penyebab
dan dapat berpengaruh terhadap kematian ibu di desa ini. Presentasenya adalah Perdarahan
memiliki presentase 29,35 %, Pre Eklamsi/Eklamsi 27.27%, infeksi 6,06%, dan lain – lain
21, 85%. Sebagai Bidan Langkah – langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah
ini adalah sebagai berikut melalui Pembuatan Siklus PDCA :
Pembuatan Siklus PDCA

1. Perencanaan/ Planing
Unsur-unsur rencana kerja
a. Judul Rencana
Menurunkan angka Kematian ibu di desa Sukamundur
b. Rumusan Pernyataan dan uraian masalah
10% AKI di Desa Suka Mundur pada tahun ini mengalami peningkatan.
AKI : Jumlah Kematian Ibu pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas.
Kematian Ibu bisa disebabkan :
1. Perdarahan
2. Pre Eklampsia dan Eklampsia pada kehamilan
3. Infeksi
4. 3 Terlambat, 4 Terlalu
5. Pertolongan Persalinan Tenaga Kesehatan non-medis ( dukun )

6. Kematian Ibu akibat sarana transportasi

c. Rumusan tujuan
Menurunkan angka kematian ibu di Desa Suka mundur

d. Uraian kegiatan

3. Melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat (termasuk kades)

4. Melakukan pendekatan kepada kader dan paraji

5. Melakukan pendekatan kepada masyrakat setempat

6. Melakukan konseling kepada ibu hamil mengenai tanda bahaya dalam kehamilan, persiapan
persalinan , dll )

7. Melaksanakan kelas ibu hamil

8. Menyarankan/mengajak ibu untuk menabung sebagai persiapan untuk biaya persalinan ( tabulin)

e. Metode dan kriteria penilaian

1. Melakukan kunjungan rutin Antenatal Care

2. Deteksi dini bahaya kehamilan

3. Melakukan penyuluhan tentang kehamilan

4. Membagikan leaflet seputar kehamilan


f. Waktu

September oktober
NO KEGIATAN
1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pengumpulan Data x
2 Melaporkan hasil data x
3 Konsultasi x
Penyuluhan dan melakukan kunjungan
4
rumah x x
5 Menyusun rencana kerja baru x
Memantau pelayanan yang telah
6
diberikan x
7 Menilai hasil yang dicapai x

g. Pelaksana

No Pelaksana Uraian tugas dan tanggung jawab


1. Virgilia Pengumpulan data, konsultasi
2. Agustin Penyuluhan
3. Dian P. Memberikan pelayanan kebidanan

h. biaya

Biaya yang diperlukan untuk melakukan kegiatan posyandu ini + Rp. 1.500.000
Pengeluaran Biaya
Pengetikan Rp. 250.000
Fotocopi Rp. 150.000
Peralatan penyuluhan RP. 700.000
Konsumsi Rp. 200.000
Transportasi Rp. 200.000
Jumlah Rp. 1.500.000

1. Menetapkan Prioritas Masalah

Dalam kasus di atas yang menjadi priorias masalah adalah kematian ibu sebanyak 5
kasus. Karena selain kematian ibu menjadi indikator kesehatan, selain itu peran ibu itu sangat
penting , anak tidak dapat berkembang dengan baik tanpa kehadiran seorang ibu. Bukan dengan
maksud mengesampingkan bayi, tetapi hidup bayi itu masih panjang, bagaimana kehidupan bayi
itu selanjutkan kalau ibunya tidak ada.

2. Menetapkan Prioritas Penyebab Masalah

Penyebab kematian ibu adalah :

2. Perdarahan

3. Eklampsia

4. Infeksi
5. 3T + 4T

6. Persalinan oleh dukun bayi

7. Kematian Ibu akibat Sarana Transportasi

3. Menetapkan Prioritas Pemecahan Masalah

a. Konseling pada ibu hamil

b. Menjalin kemitraan dengan Paraji

c. Bekerjasama dengan Kader dan masyarakat setempat

d. Mengembangkan kelas ibu hamil

B. DO/ PELAKSANAAN

4. Melaksanakan prioritas pemecahan masalah dengan POA dan Gantt Chart

a. Membuat POA → Format rencana pelaksanaan kegiatan

No. Uraian Sasaran/ target Langkah kegiatan Sumber Penanggung Batas


Masalah daya Jawab waktu
1. Tingginya Menurunkan - Menyediakan alat tersedia  Kades
kematian ibu kematian ibu di bantu untuk melakukan
desa konselng (poster, lembar balik, Bidan
Sukamundur dll.) koordinator
- Melakukan pendekatan dengan  Bidan desa
tokoh masyarakat (termasuk
kades)
- Melakukan pendekatan kepada
kader dan paraji
- Melakukan pendekatan kepada
masyrakat setempat
- Melakukan konseling kepada
ibu hamil mengenai tanda
bahaya dalam
kehamilan,persiapan persalinan
, dll )
- Melaksanakan kelas ibu hamil
- Bermitra dengan paraji
(memberi penjelasan tentang
saja yang bisa dilakukan paraji)
- Menyarankan/mengajak ibu
untuk menabung sebagai
persiapan untuk biaya
persalinan ( tabulin)
- Mengajak masyarakat untuk
menyisihkan uangnya tiap
minggu secara sukarela untuk
digunakan jika ada bumil yang
kurang mampu membutuhkan
biaya persalinan (dabulin) atau
dengan menggunakan sumber
daya yang ada di desa tersebut.
- Bekerjasama dengan
masyarakat untuk pengadaan
transfortasi untuk mencapai
tempat kesehatan, misalnya
dengan menggunakan
kendaraan milik masyarakat
setempat.

b. Membuat Gantt Chart

No Kegiatan Bulan / I II III


Minggu 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Menyediakan alat bantu untuk X n X X X X
melakukan konselng (poster, x
lembar balik, dll.) x
x
x
2. Melakukan pendekatan dengan X X X X X X
tokoh masyarakat (termasuk
kades)
3. Melakukan pendekatan kepada X X X X X X
kader dan paraji
4. Melakukan pendekatan kepada X X X X X X X X X X X X
masyrakat setempat
5. Melakukan konseling kepada ibu X X X X X X X X X X X X
hamil mengenai tanda bahaya
dalam kehamilan, persiapan
persalinan , dll )
6. Melaksanakan kelas ibu hamil X X X X X X
7. Bermitra dengan paraji (memberi X X X X X X
penjelasan tentang apa saja yang
bisa dilakukan paraji)
8. Menyarankan/mengajak ibu X X X X X X
untuk menabung sebagai
persiapan untuk biaya persalinan
( tabulin)
9. Mengajak masyarakat untuk X X X X X
menyisihkan uangnya tiap
minggu secara sukarela untuk
digunakan jika ada bumil yang
kurang mampu membutuhkan
biaya persalinan (dabulin) atau
dengan menggunakan sumber
daya yang ada di desa tersebut.
10. Bekerjasama dengan masyarakat X X X X X
untuk pengadaan transfortasi
untuk mencapai tempat
kesehatan, misalnya dengan
menggunakan kendaraan milik
masyarakat setempat.

c. CHECK/ PEMANTAUAN

Setelah melakukan rencana kerja, selanjutnya melakukan check / penilaian apakah


tindakan yang kita lakukan sudah sesuai dengan rencana/ belum, apakah ibu hamil sudah
memahami konseling yang kita berikan/belum memahami, dan apakah ada perubahan pola hidup
yang lebih positif/tidak di desa tersebut.
d. ACTION/PERBAIKAN

Selanjutnya merumuskan tindakan perbaikan apabila terdapat penyimpangan dari


pemantaun yang telah dilakukan

DAFTAR PUSTAKA

www.ayahbunda.co.id

Mochtar, Rustam. Sinopsis Obstetri. 1998. Jakarta : EGC

Sulaiman, Sastrawinata. Obstetri Patologi. Jakarta : Unpad

Wikipedia. Org.

Mochtar, Rustam. Obstetri Fisiologi. Jakarta : EGC