Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

HERPES GENITAL

A. DEFINISI
Herpes genitalis merupakan salah satu penyakit menular seksual yang sering
ditemui dan telah berhasil mempengaruhi kehidupan jutaan pasien beserta pasangannya.
Kebanyakan individu mengalami gangguan psikososial sebagai akibat dari nyeri yang
timbul serta gejala lain yang menyertai ketika terjadi infeksi aktif. Oleh karena itu
penyakit herpes genital tidak dapat disembuhkan serta bersifat kambuh-kambuhan,
maka terapi sekarang difokuskan untuk meringankan gejala yang timbul, menjarangkan
kekambuhan, serta menekan angka penularan sehingga diharapkan kualitas hidup dari
pasien menjadi lebih baik setelah dilakukan penanganan dengan tepat.
B. ETIOLOGI
HSV tipe I dan II merupakan virus herpes homonis yang merupakan virus DNA.
Virus herpes simpleks hanya menginfeksi manusia. Terdapat dua tipe virus herpes
simpleks, yaitu HSV-1, yang biasanya menyebabkan infeksi herpes nongenital
(orofacial); dan HSV-2, yang biasanya menyebabkan infeksi herpes genital pada laki-
laki dan perempuan (Melancon, 2014). Akan tetapi kedua tipe virus tersebut dapat
menginfeksi baik pada area orofacial maupun genital dan dapat menyebabkan infeksi
akut dan rekuren (Marques,2008). Pembagian tipe I dan II berdasarkan karakteristik
pertumbuhan pada mediakultur, antigenic marker, dan lokasi klinis (tempat predileksi).
Terdapat perbedaanantara kedua tipe HSV secara biologis, contohnya tingkat rekurensi
infeksi HSV-2 padagenital lebih sering daripada HSV-1. Sebaliknya, infeksi nongenital
yang disebabkanHSV-1 tingkat rekurensinya lebih tinggi daripada HSV-2. Infeksi HSV
genital terjadienam kali lebih sering daripada infeksi HSV pada orolabial (Melancon,
2014).Penularan herpes genitalis diperlukan kontak langsung dengan jaringan

1
atau sekret dari penderita infeksi HSV. Kebanyakan infeksi pada alat genitali
didapatkan dari partner dengan infeksi subklinis. Pasangan yang aktif secara seksual
dan sama- samaterinfeksi HSV tidak akan mengalami reinfeksi satu sama lain.
Autoinokulasi dapatmenyebabkan herpetic whitlow atau keratokonjungtivitis,
terutama saat infeksi primer,namun jarang pada infeksi herpes rekuren. Belum ada
bukti penelitian bahwa HSVdapat menular melalui fomites, penggunaan pakaian
atau handuk secara bersamaataupun dari lingkungan. Penularan perinatal kepada bayi
baru lahir dapat terjadi,terutama jika infeksi baru terjadi pada kehamilan trimester
akhir (Handsfield, 2011).
HSV memiliki kemampuan untuk menyerang dan melakukan replikasi di
dalam jaringan saraf, kemudian virus tersebut memasuki masa laten di dalam
jaringan saraf,terutama di ganglia trigeminal untuk HSV-1, dan pada ganglia sacralis
untuk HSV-2.Akhirnya, virus laten tersebut melakukan reaktivasi dan bereplikasi
sehinggamenyebabkan penyakit pada kulit (Melancon, 2014).
C. FAKTOR RESIKO
Timbulnya penyakit herpes bisa dipicu oleh:
1. pemaparan cahaya matahari
2. Demam
3. Stres fisik/emosional
4. Penekanan sistem kekebalan
5. Obat-obatan atau makanan tertentu
D. KLASIFIKASI
Tempat predileksi HSV-1 di daerah pinggang ke atas terutama di daerah
mulutdan hidung, biasanya dimulai pada usia anak-anak. Inokulasi dapat terjadi
secarakebetulan, misalnya kontak kulit pada perawat, dokter gigi, atau pada orang yang
seringmenggigit jari (herpetic Whitlow). Virus ini juga sebagai penyebab herpes
ensefalitis.Infeksi primer oleh HSV-2 mempunyai tempat predileksi di daerah pinggang
ke bawah,terutama di daerah genital, juga dapat menyebabkan herpes meningitis dan
infeksineonatus. Daerah predileksi ini sering kacau karena adanya cara hubungan
seksualseperti oro-genital, sehingga herpes yang terdapat di daerah genital

2
kadang-kadang disebabkan oleh HSV-1 sedangkan di daerah mulut dan rongga mulut
dapat disebabkanoleh HSV-2 (Handoko,2010).
1. Primary Genital Herpes
Kondisi dimana saat pasien pertama kali terinfeksi HSV. Infeksi primer
berlangsung lebih lama dan lebih berat, kira-kira 3 minggu dan sering disertai
gejalasistemik misalnya demam, malese, dan anoreksia, dan dapat ditemukan
pembengkakan kelenjar getah bening regional, limfadenopati regional,neuropati
regional dan keterlibatan mukosa (cervicitis, uretritis). Kelainan klinis yang
dijumpai berupa vesikel yang berkelompok di atas kulit yangsembab dan
eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadiseropurulen, dapat menjadi
krusta dan kadang-kadang mengalami ulserasiyang dangkal, biasanya sembuh tanpa
sikatriks. Pada perabaan tidak terdapat indurasi. Kadang-kadang dapat timbul
infeksi sekunder sehingga memberi gambaran yang tidak jelas. Umumnya didapati
pada orang yang kekurangan antibodi virus herpes simpleks. Pada wanita ada
laporan yang mengatakan bahwa 80% infeksi HSV pada genitalia eksterna disertai
infeksi pada serviks.
2. Initial Nonprimary Genital Herpes
Infeksi terjadi pada orang yang sebelumnya pernah terinfeksi oleh HSV tipelain,
biasanya orang yang baru saja terinfeksi HSV-2 sebelumnya seropositifterhadap
HSV-1. Pada jenis ini, manifestasi penyakit secara sistemik jarang terjadi
(Handsfield, 2011).
3. Recurrent Genital Herpes
Pada jenis ini, infeksi terjadi untuk kedua kalinya atau berikutnya olehtipe virus
yang sama. Infeksi ini berarti HSV pada ganglion dorsalis yangdalam keadaan tidak
aktif, dengan mekanisme pacu menjadi aktif danmencapai kulit sehingga
menimbulkan gejala klinis. Mekanisme pacu tersebutdapat berupa trauma fisik
(demam, infeksi, kurang tidur, hubungan seksual,dsb), trauma psikis (gangguan
emosional, menstruasi), dan dapat pula timbulakibat jenis makanan dan minuman

3
yang merangsang. Infeksi rekurens inidapat timbul pada tempay yang sama (loco)
atau tempat lain/tempat disekitarnya (non loco) (Handoko,2010). Herpes genitalis
akibat HSV-2 biasanya lebih sering mengalamireaktivasi daripada herpes genitalis
akibat HSV-1. Manifestasi klinis padaherpes genitalis rekuren biasanya lebih ringan
dan lebih singkat dari padainfeksi pertama, biasanya berlangsung kira-kira 7 sampai
10 hari. Seringditemukan gejala prodormal lokal sebelum timbul vesikel berupa rasa
panas,gatal, dan nyeri. Bersama dengan herpes genital rekuren dapat ditemukan
cervicitis, uretritis, limfadenopati, neuropati, gejala sistemik, namun sangat jarang
(Handsfield, 2011).
4. Subclinical Infection
Sebagian besar infeksi HSV bersifat subklinis, termasuk tipe primary,
nonprimary initial , atau recurrent herpes. Pada herpes genitalis fase ini berarti
pada penderita tidak ditemukan gejala klinis, tetapi HSV dapat ditemukan dalam
keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis.
E. PATOFIOLOGI
Herpes zoster bermula dari Infeksi primer dari VVZ (virus varisells zoster) ini
pertama kali terjadi di daerah nasofaring. Disini virus mengadakan replikasi dan dilepas
ke darah sehingga terjadi viremia permulaan yang sifatnya terbatas dan asimptomatik.
Keadaan ini diikuti masuknya virus ke dalam Reticulo Endothelial System (RES) yang
kemudian mengadakan replikasi kedua yang sifat viremianya lebih luas dan
simptomatik dengan penyebaran virus ke kulit dan mukosa. Sebagian virus juga
menjalar melalui serat-serat sensoris ke satu atau lebih ganglion sensoris dan berdiam
diri atau laten didalam neuron. Selama antibodi yang beredar didalam darah masih
tinggi, reaktivasi dari virus yang laten ini dapat dinetralisir, tetapi pada saat tertentu
dimana antibodi tersebut turun dibawah titik kritis maka terjadilah reaktivasi dari virus
sehingga terjadi herpes zoster.
Patofisiologi herpes simpleks masih belum jelas, ada kemungkinan :

4
a. Infeksi primer akibat transmisi virus secara langsung melalui jalur neuronal dari
perifer ke otak melalui saraf Trigeminus atau Offactorius.
b. Reaktivitas infeksi herpes virus laten dalam otak.
c. Pada neonatus penyebab terbanyak adalah HSV-2 yang merupakan infeksi dari
secret genital yang terinfeksi pada saat persalinan.
F. TANDA DAN GEJALA
Masa inkubasi herpes genitalis biasanya berkisar antara 3-5 hari untuk infeksi
primer yang simtomatik, kadang 10 hari, jarang mencapai 3 minggu.
1. Primary Genital Herpes
Lesi pada daerah genital atau perianal multipel, biasanya bilateral. Umumnya
dapat ditemukan vaginal discharge, Urethral discharge umum ditemukan pada laki-
laki, biasanya disertai dengan disuria berat. Lesi kutaneus muncul setelah 7-15 hari
berupa papul, menjadi vesikel, menjadi pustul, menjadiulkus, lalu menjadi krusta.
Lesi pada mukosa atau permukaan yang lembab (misalnya introitus vagina,labia
minor, uretra, rektum) mengalami ulserasi lebih awal, sering disertaidengan nyeri
yang berat dan tidak berubah menjadi krusta. Nyeri dan bengkak pada daerah
inguinal juga sering ditemukan, biasanya bilateral. Infeksi yang didapatkan melalui
seks secara anal dapat dirasakan nyeri pada rektum, keluarcairan, tenesmus, dan
beberapa gejala dari proctitis. Demam, malaise, nyerikepala juga sering ada, dan
kadang-kadang fotofobia dan kaku pada leher (Handsfield, 2011).
2. First Episode Nonprimary Genital Herpes
Lesi yang ditemukan pada tipe ini biasanya lebih sedikit daripada infeksi
primer. Biasanya terjadi selama 10-20 hari. Nyeri dan bengkak pada daerah inguinal
lebih jarang ditemukan daripada infeksi primer.
3. Recurrent Genital Herpes
Pada herpes genitalis rekuren biasanya terbentuk lesi berkelompok yang
terdiridari 2-10 lesi, lokasinya di bagian lateral dari garis tengah dan hanya
terdapatdi satu sisi tubuh. Lesi tersebut biasanya timbul 2-3 cm dari lokasi
lesisebelumnya. Gejala infeksi rekuren selain dapat terjadi di genital dan

5
perianal, juga dapat terjadi di daerah bokong, paha, dan perut bagian bawah (d
isebut juga area “boxer shorts”). Lesi yang paling sering ditemukan adalah lesi
ulseratif atipikal, tanpa didahului oleh periode vesikular ataupun pustular.
Gejala neurologis prodormal biasanya muncul 1-2 hari sebelum timbul lesi ,
biasanya berupa paresthesia (rasa terbakar, kesemutan), atau hypesthesia pada
daerah lesi atau di sepanjang perjalanan nervus sakralis. Gejala sistemik dan
pembengkakan daerah inguinal jarang ditemukan.

Gambar 1. Herpes genitalis rekuren pada penis. Vesikel berkelompok dengan


krusta di bagian sentral,dasar yang meninggi dan berwarna merah. 4B. Herpes
genitalis rekuren pada vulva. Erosi berukuran besar dan sangat nyeri di labia.

Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 7th ed

G. PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
Tidak ada obat untuk herpes genitalis. Sampai saat ini belum ada terapi
yang memberikan penyembuhan radikal, artinya tidak ada pengobatan yang
mencegah episode rekurens secara tuntas. Apabila lesi basah karena cairan vesikel
dapat dikompres terlebih dahulu. Pengobatan dengan obat antivirus dapat
(Handoko, 2008):

 Membantu luka sembuh lebih cepat selama infeksi awal


 Mengurangi keparahan dan durasi gejala pada infeksi berulang
 Mengurangi frekuensi kekambuhan
 Meminimalkan kemungkinan penularan virus herpes ke orang lain

6
Obat antivirus yang digunakan untuk herpes genitalis meliputi (Salvaggio, 2013):

 Idoksuridin
Pada lesi yang dini dapat digunakan obat topikal berupa salap/krim yang
mengandung preparat idoksuridin (stoxil, viruguent, virunguent-P) dengan cara
aplikasi, yang sering dengan interval beberapa jam. Analog timidin, dimasukkan
ke dalam DNA virus menggantikan timidin mengakibatkan cacat sintesis DNA &
akhirnya penghambatan replikasi virus. Juga menghambat timidilat fosforilase.
 Acyclovir (Zovirax)
Analog nukleosida purin sintetik dengan aktivitas terhadap sejumlah
herpesvirus, termasuk herpes simplex dan varicella-zoster. Sangat selektif untuk
sel yang terinfeksi virus karena afinitas tinggi untuk enzim timidin kinase virus.
Efek ini berfungsi untuk memusatkan monofosfat asiklovir dalam sel yang
terinfeksi virus. Monofosfat kemudian dimetabolisme menjadi bentuk trifosfat
aktif oleh kinase seluler. Molekul ini menginhibisi polimerase HSV dengan 30-50
kali potensi polimerase DNA alpha manusia. Preparat asiklovir yang dipakai secara
topikal tampaknya memberikan masa depan yang lebih cerah dibanding
idoksuridin. Klinis hanya bermanfaat bila penyakit sedang aktif. Dosis ganda
disarankan untuk herpes simpleks infeksi proktitis atau okular. Infeksi pada mata
dapat juga diobati dengan asiklovir topikal.
Pengobatan infeksi primer: 200 mg per oral setiap 4 jam (5 kali / hari) selama 7-10
hari, atau 400 mg per oral 3 kali / hari selama 5-10 hari.
Terapi intermiten untuk rekurensi: 200 mg per oral setiap 4 jam (5 kali / hari)
selama 5 hari, dimulai di awal tanda atau gejala rekurensi.
Supresi untuk rekurensi (bila rekuren >8 kali / tahun): 400 mg per oral 2 kali / hari
sampai 12 bulan, regimen alternatif berkisar dari 200 mg 3 kali / hari sampai 200
mg 5 kali / hari.
Ensefalitis HSV: 10-15 mg/kgBB intravena setiap 8 jam selama 14-21 hari.
 Famsiklovir (Famvir). Prodrug yang ketika berbiotransformasi menjadi
metabolit aktif, penciclovir, dapat menghambat sintesis / replikasi DNA virus.
Digunakan untuk melawan virus herpes simpleks dan varicella-zoster.
Diindikasikan untuk pengobatan episode rekuren atau terapi supresif dari herpes
genital pada orang dewasa imunokompeten.
Pengobatan episode rekuren: 1000 mg per oral 2 kali / hari selama 1 hari, dimulai

7
dalam waktu 6 jam dari onset gejala atau lesi.
Terapi supresif: 250 mg per oral 2 kali / hari sampai 1 tahun.
Pengobatan episode primer (off-label): 250 mg per oral 3 kali / hari selama 5-10
hari
 Valacyclovir (Valtrex).
Prodrug yang cepat dikonversi ke obat aktif asiklovir. Lebih mahal namun
memiliki regimen dosis lebih nyaman dibandingkan asiklovir.
Episode primer:
 1 g per oral setiap 12 jam selama 10 hari
 CrCl 10-29 mL / menit: 1 g per oral per hari
 CrCl <10 mL / menit: 500 mg per oral per hari
Episode rekuren:
 500 mg setiap 12 jam selama 3 hari (tidak ada data tentang kemanjuran
jika mulai> 24 jam)
 CrCl <30 mL / menit: 500 mg per oral per hari
Supresi, imunokompeten:
 1 g per oral per hari
 CrCl <30 mL / menit: 500 mg per oral per hari
Supresi, imunokompeten dan 9 atau kurang rekurensi per tahun:
 500 mg per oral per hari
 CrCl <30 mL / menit: 500 mg per oral setiap 48 jam
Pengurangan transmisi, sumber pasangan : 500 mg per oral per hari
Obat diberikan bila mengalami gejala infeksi. Dapat juga minum obat setiap
hari, bahkan ketika tidak mengalami tanda-tanda infeksi, untuk meminimalkan
peluang infeksi berulang. Pasien yang mengalami komplikasi berat mungkin perlu
dirawat di rumah sakit, sehingga mereka dapat menerima obat antiviral intravena.

Untuk mencegah rekurens macam-macam usaha dapat dilakukan dengan


tujuan meningkatkan imunitas seluler, misalnya pemberian preparat lupidon H
(untuk VHS tipe I) dan lupidon G (untuk VHS tipe II) dalam satu seri pengobatan.
Pemberian levamisol dan isoprinosin atau asiklovir secara berkala menurut
beberapa peneliti memberikan hasil yang baik. Efek levamisol dan isoprinosin
ialah sebagai imunostimulator. Pemberian vaksinasi cacar sekarang sudah tidak
dianut lagi. (Handoko, 2008)

8
2. TERAPI NONMEDIKEMENTOSA
Saran untuk mencegah herpes genitalis adalah sama seperti untuk mencegah
infeksi menular seksual lainnya. Kuncinya adalah untuk menghindari terinfeksi
dengan HSV, yang sangat menular sementara lesi timbul. Cara terbaik untuk
mencegah infeksi adalah untuk menjauhkan diri dari aktivitas seksual atau
membatasi hubungan seksual hanya untuk satu orang yang bebas infeksi. Edukasi
yang dapat diberikan antara lain (Richwald, 2002):

 Gunakan kondom lateks selama setiap kontak seksual


 Batasi jumlah pasangan seks
 Hindari hubungan seksual jika salah satu pasangan memiliki herpes di
daerah genital atau tempat lain

9
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Dalam dokumentasi pada bagian ini sudah sesuai dengan kebutuhan yang
diperlukan untuk mengkaji status pasien yang dapat dijadikan pedoman dalam
mengarahkan pemenuhan kebutuhan oksigenasi. Yang perlu didokumentasikan
dalam pengkajian yaitu:
1. Identitas
Dalam format ini, dituliskan tentang identitas dari pasien. Contohnya:
Nama :
No. rekam medis :
Umur :
Alamat :
Jenis kelamin :
Status perkawinan :
Agama :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Diagnosa medis :
Tanggal masuk :
Tanggal pengkajian:
2. Keluhan Utama
Keluhan yang sangat dirasakan pasien saat masuk rumah sakit dan pengkajian.
3. Riwayat Penyakit (Keluhan) Sekarang
Kronologis penyakit dan pencaharian pengobatan dari muncul gejala penyakit
sampai sesaat sebelum pengkajian.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat dirawat di rumah sakit, riwayat operasi, alergi obat, penggunaan obat
psikotropika.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Genogram: apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama
(minimal 3 generasi)
6. Pengkajian 11 Fungsional Gordon
 Pola persepsi terhadap kesehatan

10
- Tanyakan bagaimana klien memandang menangani penyakit yang
dideritanya dan pentingnya kesehatan bagi klien.
- Kaji kepatuhan klien terhadap pengobatan/tindakan medis.
 Pola aktivitas dan latihan
- Kaji bagaimana klien melakukan aktivitasnya sehari-hari sebelum
sakit dan saat sakit apakah ada perbedaan, apakah kilen dapat
melakukannya sediri atau malah dibantu oleh keluarganya.
- Kaji Apakah aktivitas klien terganggu karena penyakit yang
dihadapinya saat ini.
 Pola istirahat dan tidur
- Kaji perubahan pola tidur klien, berapa lama klien tidur dalam sehari.
- Apakah klien mengalami gangguan dalam tidurnya, misalalnya
terasa nyeri?
 Pola nutrisi-metabolik
- Tanyakan kepada klien bagaiman pola makannya sebelum sakit dan
saat sakit.
- Kaji adakah klien mempunyai alergi terhadap makanan, minuman
atauapun obat-obatan tertentu.
 Pola eleminasi
- Kaji bagaimana pola miksi dan defekasi klien apalakah mengalami
gangguan
- Kaji apakah mengunakan alat bantu saat eliminasinya
- Kaji apakah ketika eliminasi klien merasakan nyeri
 Pola kognitif-perseptual
- Kaji tingkat kesadaran klien apakah panca indra klien mengalami
gangguan
- Kaji Bagaimana komunikasi klien dengan orang lain ataupun tenaga
kesehatan
 Pola konsep diri
- Bagaimana klien memandang tentang dirinya dengan penyakit yang
dideritanya. Apakah klien merasa rendah diri?
- Kaji apakah klien merasa kurang percaya diri dengan keadaannya
saat ini karena penyakitnya?
 Pola koping

11
- Kaji bagaimana stressor yang dihadapi, tingkat toleransi, dan metode
penanggulangan masalah mengenai penyakit yang dideritanya.
 Pola seksual-reproduksi
- Kaji bagaimana fungsi, kebutuhan, dan tingkat kebahagiaan seksual
klien.
 Pola peran-hubungan
- Kaji bagaimana dengan peran klien di dalam keluarga sebelum sakit
dan saat sakit serta hubungan sosial klien dengan masyarakat.
 Pola nilai dan kepercayaan
- Kaji bagaimana klien memandang tentang Nilai kehidupan agama
dan keyakinan.
7. Pemeriksaan Fisik
 Kepala
- Inspeksi: kesimetrisan wajah dan tengkorak, warna dan distribusi
rambut pada kulit kepala.
- Palpasi: keadaan rambut, tengkorak, kulit kepala, massa,
pembengkakan, nyeri tekan, fontanel (pada bayi)
 Kulit dan kuku
- Inspeksi kulit: kesimetrisan wajah, jaringan parut, lesi, dan kondisi
vaskularisasi superficial
- Palpasi kulit: suhu kulit, tekstur (halus, kasar), mobilitas/tugor, dan
adanya lesi
- Inspeksi dan palpasi kuku: warna, bentuk, dan setiap
ketidaknormalan/lesi
 Mata
- Inspeksi: bola mata, kelopak mata, bulu mata, kulit, keluasan mata
membuka, konjungtiva dan sclera, warna dan ukuran iris, reaksi
pupil terhadap cahaya, gerakan mata, lapang pandang (visus)
- Palpasi: tekanan bola mata, nyeri tekan
 Hidung
- Inspeksi: bentuk hidung, keadaan kulit, kesimetrisan lubang hidung
- Palpasi: bagian luar hidung, mobilitas septum, sinus maksilaris,
sinus frontalis, sinus etmoidalis.
 Telinga

12
- Inspeksi: telinga luar (bentuk, warna, massa)
- Palpasi: jaringan lunak, jaringan keras, tragus
- Pemeriksaan: bisikan
 Mulut
- Inspeksi: bibir, gigi, gusi, bau mulut, lidah, selaput lendir mulut,
faring
- Palpasi: pipi, palatum, dasar mulut, lidah
 Leher
- Inspeksi: bentuk kulit (warna pembengkakan, jaringan parut, massa),
tiroid
- Palpasi: keadaan dan lokasi kelenjar limfe, kelenjar tiroid, dan
trakea.
 Paru-paru
- Inspeksi: postur, bentuk, dan kesimetrisan ekspansi, serta keadaan
kulit
- Palpasi: kedaan dinding dada nyeri tekan, massa, peradangan,
kesimetrisan ekspansi, dan taktil premitus
- Perkusi: terdengar suara/bunyi resonan, seperti : dug,dug,dug
- Auskultasi: aliran udara melalui batang trakeobronkial dan adanya
sumbatan aliran udara.
 Jantung
- Inspeksi: ketidaknormalan denyutan
- Palpasi: pembesaran jantung
- Perkusi: mengetahui ukuran dan bentuk jantung secara kasar
- Auskultasi: mendengar suara jantung, seperti: lub dub
 Abdomen
- Inspeksi: bentuk, warna, dan gerakan abdomen
- Auskultasi: untuk mendengar bising usus
- Perkusi: mendengar adanya gas, cairan/massa
- Palpasi: bentuk ukuran, konstitensi organ serta struktur di dalam
abdomen
 Genitalia
- Perhatikan tanda kemerahan, bengkak, ulkus, nodular, ukuran,
konsistensi, bentuk

13
 Urogenital
- Penimbunan urine atau distensi
 Ekstermitas
- Superior
Akral teraba hangat, teraba tonus otot, terdapat kekuatan otot yang
normal pada tangan kanan dan kiri, mampu menahan tarikan yang
diberikan oleh perawat.
- Inferior
Akral teraba hangat, teraba tonus otot, terdapat kekuatan otot yang
normal pada kaki kanan dan krir, mampu menahan tarikan yang
diberikan oleh perawat.
B. DIAGNOSA KEPEARAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses inflamasi virus
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan vesikel yang mudah pecah
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan, sekunder
akibat penyakit herpes.
4. Potensial terjadi penyebaran penyakit berhubungan dengan infeksi virus
Kurang pengetahuan.
C. INTERVENSI
1. Gangguan rasa nyaman nyeri
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi setelah tindakan keperawatan

Kriteria hsil :

- Rasa nyeri berkurang/hilang


- Klien bisa istirahat dengan cukup
- Ekspresi wajah tenang
- Kaji kualitas & kuantitas nyeri
Intervensi :
- Kaji respon klien terhadap nyeri
- Jelaskan tentang proses penyakitnya
- Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
- Hindari rangsangan nyeri
- Libatkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang teraupeutik

14
- Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program
2. Gangguan integritas kulit
Tujuan : Integritas kulit tubuh kembali dalam waktu 7-10 hari
Kriteria hasil :
- Tidak ada lesi baru
- Lesi lama mengalami involusi
Intervensi :
- Kaji tingkat kerusakan kulit
- Jauhkan lesi dari manipulasi dan kontaminasi
- Kelola tx topical sesuai program
- Berikan diet TKTP
3. Gangguan citra tubuh

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan gangguan citra tubuh


akan hilang/berkurang
Kriteria hasil :
- Klien mengatakan dan menunjukkan penerimaan atas
penampilannya
- Menunjukkan keinginan dan kemampuan untuk melakukan
perawatan diri
- Melakukan pola-pola penanggulangan yang baru
Intervensi :
- Ciptakan hubungan saling percaya antara klien- perawat.
- Dorong klien untuk menyatakan perasaannya , terutama tentang
cara iamerasakan , berpikir, atau memandang dirinya.
- Jernihkan kesalahan konsepsi individu tentang dirinya,
penatalaksanaan,atau perawatan dirinya.
- Hindari mengkritik .

- Jaga privasi dan lingkungan individu.


- Berikan informasi yang dapat dipercaya dan penjelasan informasi
yang telah diberikan.
- Tingkatkan interaksi social.
- Dorong klien untuk melakukan aktivitas.

15
- Hindari sikap terlalu melindungi, tetapi terbatas pada permintaan
individu.
- Dorong klien dan keluarga untuk menerima keadaan.
- Beri kesempatan klien untuk berbagi pengalaman dengan orang
lain.
- Lakukan diskusi tentang pentingnya mengkomunikasikan
penilaian klien dan pentingnya sistem daya dukungan bagi
mereka.
- Dorong klien untuk berbagi rasa, masalah, kekuatiran, dan
persepsinya.
4. Potensial terjadi penyebaran penyakit
Tujuan : Setelah perawatan tidak terjadi penyebaran penyakit
Kriteria hasil :
Intervensi :
- Isolasikan klien
- Gunakan teknik aseptic dalam perawatannya
- Batasi pengunjung dan minimalkan kontak langsung
- Jelaskan pada klien/keluarga proses penularannya
D. IMPLEMENTASI
Implementasi merupakan pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat
terhadap pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan
rencana keperawatan diantaranya:
Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi:
keterampilan interpersonal, teknikal dan intelektual dilakukan dengan cermat dan
efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta
di dokumentasi intervensi dan respon klien.
Pada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara konkrit dari rencana
intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan perawatan yang
muncul pada klien.

E. EVALUASI

16
Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan, dimana
evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan
pasien, perawatan dan anggota tim kesehatan lainnya.

Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dan rencana
keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang.

17
DAFTAR PUSTAKA
1. Handoko RP. Herpes Simpleks. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu
PenyakitKulit dan Kelamin. 6th ed. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2018
2. Legoff J, Pere H, Belec L. Diagnosis of Genital Herpes Simplex Virus Infection in.
Diakses pada tanggal 19 Oktober 2018
3. Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. 2014. NANDA International Nursing Diagnoses.
Diakses pada tanggal 20 Oktober 2018

18