Anda di halaman 1dari 18

TUGAS LITERATUR REVIEW

KEPERAWATAN ANAK

DISUSUN OLEH :

NAMA : APRIANA BURA

NIM : C1514201050

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN


STELLA MARIS
MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
BCG ( Bacillus Calmette Guerin ) merupakan vaksin yang paling banyak di
gunakan di dunia ( 85 % bayi menerina 1 dosis BCG pada tahun 1993 ) . tetapi
perkiraan derajat proteksinya sangat bervariasi dan belum ada penanda proteksi
imunologis terhadap tuberkulosis yang dapat di percaya . kemampuan klinis untuk
mencegah tuberkulosis paru berkisar dari nol di Amerika Serikat sebelah selatan dan
India Selatan , sampai sekitar 80 % di Inggris ( Fine and Rodrigues , WHO 1990 ) .
Kemampuan proteksi ini tidak tergantung pada strain BCG yang digunakan ataupun
pabrik pembuatnya ( Milstien and Gibson , 1990 ) . BCG ( Bacille Calmette Guerin )
adalah vaksin yang berisi bakteri hidup Mycobacterium bovis ( di indonesia ) yang
sudah dilemahkan sehingga di dapatkan hasil yang tidak virulen , tetapi memiliki
imunogenitas . Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap penyakit tuberkulosis (
TBC ) . Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis . penyakit
ini biasanya menyerang sistem pernapasan ( TB Paru ) , tetapi ia dapat juga
menyerang organ tubuh lainnya . Imunisasi ini di gunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau yang
ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukanimunisasi BCG , pencegahan imunisasi
BCG untuk TBC yang berat seperti TBC pada selaput otak , TBC milier ( pada
seluruh lapangan paru ) atau TBC tulang . Imunisasi BCG ini merupakan vaksin yang
mengandung kuman TBC yangtelah dilemahkan . Frekuensi pemberian imunisasi
BCG adalah satu kali dan waktu pemberian imunisasi BCG pada umur 0 – 11 bulan ,
akan tetapi pada umumnya diberikan pada bayi umur 2 atau 3 bulan , kemudian cara
pemberian imunisasi BCG melalui intra dermal . Efek samping pada BCG dapat
terjadi ulkus pada daerah suntikan dan dapat terjadi limfadenitis regional , dan reaksi
panas .
Imunisasi BCG juga bukan dimaksudkan untuk mencegah TBC , tetapi
mengurangi risikoTBC berat seperti tuberkulosis meningitis dan tuberkulosis miliar .
Faktor yang memengaruhi efektifitas BCG terhadap tuberkulosis antara lain adalah
perbedaan vaksin BCG , lingkungan , genetik ,dan ststus gizi . Efek proteksi dari
vaksin ini adalah 8 -12 minggu setelah penyuntikan .
 Kemasan vaksin
Vaksin BCG dikemas dalam ampul , beku kering . Satu kotak berisi
10 ampul vaksin , dan setiap ampul dilengkapi dengan 4 mL pelarut .
Sebelum digunakan , vaksin harus diencerkan terlebih dahulu .
Vaksin BCG tidak boleh terkena sinar matahari dan harus di simpan
pada suhu 2 – 8ᵒC ( tidak boleh beku ) . Vaksin yang sudah
diencerkan tidak boleh digunakan kembali dan harus di buang dalam 8
jam .
 Cara pemberian dan dosis
Vaksin BCG diberikan pada bayi berusia ≤ 2 bulan . sebaliknya vaksin
ini di berikan pada bayi dengan uji tuberkulin ( uji Mantoux )
negatif . dosis BCG untuk bayi ( < 1 tahun ) adalah 0,05 mL ,
sedangkan dosis BCG untuk anak adalah 0,10 mL . Vaksin BCG di
berikan melalui suntikan secara intrakutan di daerah intersio muskulus
deltoideus kanan ( lengan kanan atas ) . Lokasi ini dipilih karena
penyuntikan lebih mudah dilakukan di daerah ini ( lemak subkutis
tebal ) ulkus yang terbentuk tidak mengganggu struktur otot setempat .
jarum suntik yang digunakan di sesuaikan dengan usia bayi atau anak .
umumnya jarum suntik yang digunakan berukuran 26 dengan panjang
10 mm . Vaksin BCG ulangan tidak dianjurkan karena manfaatnya di
ragukan , mengingat beberapa hal berikut : (1) efektivitas perlindungan
hanya 40 % , (2) sekitar 70 % kasus tuberkulosis berat ( meningitis )
ternyata memiliki parut BCG , (3) kasus dewasa dengan BTA ( bakteri
tahan asam ) positif di Indonesia cukup tinggi ( 25 – 30 %) walaupin
mereka telah mendapatkan imunisasi BCG pada masa kanak – kanak .
 kontraindikasi
imunisasi BCG tidak boleh diberikan pada kondisi :
 Reaksi tes Montoux lebih dari 5 mm
 Menderita infeksi HIV atau resiko tinggi infeksi HIV
 Immunocompromised (luluh imun ) akibat pengobatan
kortikosteroid
 Efek imunosupresif
 Pengobatan radiasi
 Keganasan sumsum tulang atau sistem limfe
 Gizi buruk
 Demam tinggi
 Penyakit kulit yang berat atau menahun , misalnnya eksim dan
firunkulosis
 Pernah menderita TBC
 Menderita imunodefisiensi
 KIPI dan reaksi samping pasca imunisasi
Setelah imunisasi BCG , reaksi yang timbul tidak seperti pada
imunisasi dengan vaksin yang lain . Imunisasi ini tidak menyebabkan
demam . KIPI pada imunisasi BCG adalah bisul kecil ( papula ) yang
timbul 2 -6 minggu setelah imunisasi . Papula tersebut semakin
membesar dan dapat terjadi ulserasi selam 4 – 6 bulan , kemudian
menjadi sembuh secara perlahan ( 2- 3 bulan ) dan menimbulkan
jaringan parut bulat dengan diameter 4- 8 mm . Kadang – kadang
terjadi pembesaran kelenjar limfe ( limfadenitis ) di ketiak ( aksila )
atau leher . Jika limfadenitis melekat pada kulit atau timbul fistula ,
kelenjar tersebut harus dibersihkan dan didrainase untuk megeluarkan
cairan , setelah itu , diberikan obat tuberkulosis lokal . komplikasi
berupa BCG –itis , eritema nodusum , iritis , lupus vulgaris , dan
osteomielitis jarang terjadi . Jika terjadi , komplikasi tersebut harus
diterapi dengan kombinasi obat antituberkulosis
Imunisasi adalah salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu antigen, sehingga apabila kelak ia terpajan antigen yang serupa tidak
terjadi penyakit.
Secara umum imunisasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu imunisasi aktif dan
imunisasi pasif.
a) Imunisasi aktif
Imunisasi aktif adalah pemberian suatu bibit penyakit yang telah dilemahkan
(vaksin) untuk meransang pembentukan antibody spesifik dan memori terhadap
antigen ini sehingga ketika terpapar lagi, tubuh dapat mengenali dan
meresponnya. Contoh imunisasi aktif adalah imunisasi polio dan campak.
b) Imunisasi pasif
Imunisasi pasif adalah proses peningkatan kekebalan tubuh dengan cara
pemberian immunoglobulin, yaitu zat yang dihasilkan melalaui proses infeksi
yang berasal dari plasma manusia ( kekebalan yang didapat bayi dari ibu melalui
plasenta ) yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang sudah masuk ke dalam
tubuh yang terinfeksi. Contoh imunisasi pasif adalah penyuntikan antibody ATS
(Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka akibat kecelakaan.

B. RUMUSAN MASALAH
1. apa yang dimaksud dengan penyakit tuberculosis ?
2. Apa etiologi dan manifestasi klinik dari penyakit tuberculosis ?
3. Berapa lama patofisiologi , pemeriksaan penunjang, dan terapi dari penyakit
tuberculosis ?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian penyakit tuberculosis
2. Untuk mengetahui etiologi dan patofisiologi penyakit tuberculosis
3. Untuk mengetahui manisfestasi klinik, pemeriksaan penunjang, dan terapi dari
penyakit tuberculosis
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi
Tuberkulosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh basilus tuberkel,
anggota famili Mycobacteriaceae . Di Amerika Serikat , penyakit yang di
sebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis paling sring terjadi . Dibelahan dunia
yang tidak megendalikan tuberkulosis pada susu ternak atau susu yang diolah
dengan pasteurisasi , penyakit yang disebabkan oleh M. Bovis juga terjadi .
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tubeculosis yaitu suatu bakteri tahan asam, atau Tuberculossis
(TB) adalah penyakit akibat infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis sistemik
sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh, dengan lokasi terbanyak di
paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.

2. Etiologi
Penyebab tuberkulosis ini adalah Mycobacterium tuberculosis , Mycobacteriun
bovis , dan Mycobacterium africanum .
Faktor – faktor yang menyebabkan seseorang dapat terinfeksi Mycobacterium
tuberculosis paru adalah :
1. Usia
Usia bayi kemungkinan besar mudah terinfeksi karena imaturitas imun tubuh
bayi . Pada masa puber dan remaja terjadi masa pertumbuhan cepat namun
kemungkinan mengalami infeksi cukup tinggi karena asupan nutrisi tidak
adekuat
2. Jenis kelamin
Angka kematian dan kesakitan lebih banyak terjadi pada anak perempuan
pada masa akhir kanak – kanak dan remaja
3. Herediter
Daya tahan tubuh seseorang diturunkan secara genetik
4. Keadaan stres
Situasi yang penuh stres menyebabkan kurangnya asupan nutrisi sehingga
daya tahan tubuh menurun.
5. Anak yang mendapatkan terapi kortikosteroid
Kemungkinan mudah terinfeksi karena daya tahan tubuh anak di tekan
oleh obat kortikosteroid .

3. Manifestasi Klinis
Gejala klinis TB tergantung faktor pejamu (usia, status imun, kerentanan) dan
faktor agen (jumlah, virulensi). Gejala TB pada anak yang umum terjadi adalah
demam yang tidak tinggi (subfebris), berkisar 38 derajat Celcius, biasanya timbul
sore hari, 2-3 kali seminggu dan belangsung 1-2 minggu dengan atau tanpa batuk
dan pilek. Gejala lain adalah penurunan nafsu makan, dan gangguan tumbuh
kembang. Batuk kronik yang merupakan gejala tersering pada TB paru dewasa,
tidak terlalu mencolok pada anak. Sebab lesi primer TB paru pada anak umumnya
terdapat di daerah parenkim yang tidak mempunyai reseptor batuk. Kalaupun
terjadi, berarti limfadenitis regional sudah menekan bronkus dimana terdapat
reseptor batuk. Batuk kronik pada anak lebih sering dikarenakan oleh
asma. Gejala-gejala yang tersebut di atas dikategorikan sebagai gejala
nonspesifik. Perlu dicatat bahwa gejala nonspesifik dapat juga ditemukan pada
kasus infeksi lain. Maka dari itu, keberadaan infeksi lain perlu dipikirkan agar
anak tidak over treated. Selanjutnya, gejala spesifik tergantung dari organ yang
terkena seperti kulit (skrofuloderma), tulang, otak, mata, usus, dan organ lain.
Atau secara singkat tanda dan gejala umum/nonspesifik tuberkulosis pada
anak dapat disebutkan sebagai berikut :
a. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau tidak naik dalam 1 bulan
dengan penanganan gizi
b. Anoreksia dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik secara adekuat
(failure to thrive)
c. Demam lama dan berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria,
atau infeksi saluran napas akut), dapat disertai keringat malam
d. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit dan biasanya
multiple
e. Batuk lama lebih dari 30 hari
f. Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan
4. Patofisiologi
Infeksi M . tuberculosis terjadi ketika droplet mikro yang terkontaminasi oleh
tuberkulosis infeksius terinhalasi dan mencapai bronkiolus terminal dan alveoli .
oleh sebab itu , sebagian besar lesi primer terjadi di paru . pada area fokal , reaksi
inflamasi terjadi , yang diikuti oleh bronkopneumonia akut terlokalisasi .
Tuberkel tipikal terbentuk saat sel epitel yang berproliferasi mengelilingi dan
membungkus basil yang berkembang biak dalam upaya memisahkan organisme
yang berinvasi . Penyakit ini juga dapat menyebar melalui multiplikasi intrasel
basil tuberkel atau melalui aliran darah dari area fokal ke sistem organ lain .
Nodus limfe , meningens , dan tulang sering terkena . Basil tuberkulosis memiliki
kemampuan untuk tetap dorman selama beberapa tahun . Reaktivitas penyakit
dapat terjadi pada waktu berikutnya jika daya tahan anak menurun . Tuberkulosis
yang terjadi pada masa kanak – kanak dapat di klasifikasiakan sebagai
tuberkulosis yang terjadi intratoraks ( sebagian besar kasus pediatrik ) atau
ekstratoraks.
Anak biasanya terinfeksi tuberkulosis dari orang dewasa yang memiliki lesi
kavitasi progresif yang mengeluarkan droplet yang terinfeksi keudara . Kontak
yang lama ( seperti melalui pajanan berulang pada batuk , ciuman , dan debu di
lingkungan ) harus terjadi sebelum anak mengembangkan penyakit aktif .
Beberapa faktor meningkatkan penuralan tuberkulosis . kemiskinan dan tempat
tinggal yang snagt padat dapat meningkatkan higiene yang buruk , dan malnutrisi
dan keletihan dapat menurunkan daya tahan individu terhadap penyakit . Saat ini ,
angka tertinggi kejadian infeksi terjadi pada kelompok minoritas . Pasien yang
menderita AIDS juga mengalami peningkatan insiden tuberklosis
Anak yang menderita tuberklosis dapat asimtomatik atau mengembangkan
banyak gejala . Infeksi sering sembuh secara spontan tanpa berkembang menjadi
penyakit klinis . Hospitalisasi biasanya hanya diperlukan oleh anak yang
mengalami bentuk penyakit yang lebih berat atau untuk melakukan pemeriksaan
diagnostik . Isolasi jarang diperlukan karena sebagian besar anak yang menderita
tuberkulosis paru primer aktif tidak bersifat infeksius . Anak sering dianggap
tidak bersift infeksius kerena lesi yan dimiliki terbatas , hasil basil kecil , dan
batuk minimal atau tidak terjadi . Diagnosis tuberkulosis pada anak lain yang
sehat biasanya ditegakkan jika anak telah terpajan dengan kasus infeksius ,
memiliki uji tuberkulin positif , dan sinar – X dada yang abnormal . Metode
diagnostik baru sedang diteliti untuk menegaskan tuberkulosis pada anak .

5. Pemeriksaan diagnostik
a. Uji kulit tuberkulin untuk mendiagnosis tuberkulosis . Hasil dari tes kulit kulit
tuberkulin positif , uji ini mengindikasikan seseorang terinfeksi dan
menghasilkan antibodi terhadap basilus , namun tidak dapat mengidentifikasi
keaktifan penyakit tuberkulosis , yang penting yaitu bahan yang digunakan
untuk uji ini dengan hasil standar minimum posostif palsu dan negatif palsu .
b. Kultur sputum . Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi keaktifan
penyakit tuberkulosis
c. Radiologi dada yang didapat pada pemeriksaan ini terjadi perubahan
kareakteristik terhadap nodul , klasifikasi , rongga – rongga dan pelebaran
hilus dimana terjadi pembesaran nodus limfe mediastinal yang tampak pada
bagian lobus atas paru .

6. Terapi
a. Terapi antituberculosis . Berikut ini merupakan terapi obat antituberkulosis
pada anak :
1) Isoniazid ( INH )
Obat ini bekerja berdifusi ke dalam semua jaringan dan cairan tubuh ,
dan efek yang amat merugikan sangat rendah . Obat ini diberikan
melalui oral atau intramuskuler . Dosis obat harian biasa 10 mg / kg ,
dengan kadar puncak obat dalam darah , sputum , dan cairan
serebrospinal di capai sekurang – kurangnya 6 – 8 jam . Isoniazid
memiliki dua pengaruh toksik utama yaitu neuritis perifer dan
hepatotoksik . Tanda klinis fisik pada neuritis perifer yang paling
sering adalah mati rasa dan rasa gatal pada tangan dan kaki . Tanda
klinis pada hepatotoksik jarang terjadi , namun lebih mungkin terjadi
pada anak dengan tuberculosis berat dan anak remaja .
2) Rifampin ( RIF )
Obat ini merupakan obat kunci pada manajemen terapi tuberculosis
modern , RIF diserap dengan baik di saluran pencernaan selama puasa .
Obat ini bekerja dengan berdifusi luas ke dalam jaringan dan cairan
tubuh termasuk cairan serebrospinal . Obat RIF dieksresi utama
melalui saluran empedu . Obat RIF diberikan melalui oral dan intra
vena .RIF tersedia dalam takaran 150 mg dan 300 mg sesuai berat
badan anak . Suspensi dapat digunakan sebagai pelarut tetapi tidak
boleh diminum bersamaan dengan makanan karena malabsorpsi .
Kadar puncak serum dicapai dalam waktu 2 jam . Efek samping RIF
adalah terjadinya perubahan warna oranye pada urin dan air mata ,
gangguan saluran pencernaan , dan hepatotoksisitas , hal ini muncul
karena peningkatan kadar transaminase serum namun tidak
menimbulkan keluhan pada penderita tuberkulosis .
3) Pirazinamid (PZA )
Dosis optimum obat ini pada anak belum diketahui . Reaksi
hipersensitivitas jarang pada anak . Satu – satunya bentuk dosis PZA
adalah tablet dengan dosis 500 mg sehingga menimbulkan masalah
dosis pada anak terutama bayi . Tablet ini dapat dihancurkan dan di
berikan bersamaan dgn makanan .
4) Etambutol ( EMB )
Kemungkinan toksisitas etambutol terjadi pada mata . Dosis
bakteriostatik adalah 15 mg / kg / 24 jam , tujuannya untuk mencegah
munculnya resistensi terhadap obat lain . Kemungkinan toksisitas
utama obat ini adalah neuritis optik . Etambutol tidak dianjurkan untuk
penggunaan umum pada anak yang muda karena pemeriksaan
penglihatannya tidak mendapatkan hasil yang tepat tetapi harus
dipikirkan pada anak dengan tuberculosis terjadi resistensi obat , bila
obat lain tidak dapat digunakan sebagai terapi .
b. Terapi antibiotik . Terapi antibiotik yang diberikan pada anak dengan
tuberculosis yaitu :
1) Streptomisin
streptomisin kurang sering digunakan pada anak yang menderita
tuberculosis paru , tetapi obat ini penting untuk pengobatan dan
pencegahan resistensi obat . Obat ini harus diberikan dengan cara
melalui injeksi intramuskular . Obat ini bekerja dapat menembus
meningen yang mengalami peradangan . Toksisitas streptomisin yaitu
terjadi pada vestibuler dan sraf kranial VIII auditorius , tetapi toksisitas
pada ginjal jarang terjadi .
c. Nutrisi adekuat

B. KONSEP IMUNISASI
1. Pengertian imunisasi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk melindungi seseorang terhadap penyakit
menular tertentu agar kebal dan terhindar dari penyakit infeksi.
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten, anak di imunisasi berarti
diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten
terhadap suatu penyakit, tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain
(Notoatmodjo, 2007)
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara
aktif terhadap suatu antigen, sehingga apabila kelak ia terpajan antigen yang
serupa tidak terjadi penyakit (Ranuh, 2008).
BCG ( Bacillus Calmette Guerin ) merupakan vaksin yang paling banyak di
gunakan di dunia ( 85 % bayi menerina 1 dosis BCG pada tahun 1993 ) . tetapi
perkiraan derajat proteksinya sangat bervariasi dan belum ada penanda proteksi
imunologis terhadap tuberkulosis yang dapat di percaya . kemampuan klinis
untuk mencegah tuberkulosis paru berkisar dari nol di Amerika Serikat sebelah
selatan dan India Selatan , sampai sekitar 80 % di Inggris ( Fine and Rodrigues ,
WHO 1990 ) . Kemampuan proteksi ini tidak tergantung pada strain BCG yang
digunakan ataupun pabrik pembuatnya ( Milstien and Gibson , 1990 ) . BCG (
Bacille Calmette Guerin ) adalah vaksin yang berisi bakteri hidup Mycobacterium
bovis ( di indonesia ) yang sudah dilemahkan sehingga di dapatkan hasil yang
tidak virulen , tetapi memiliki imunogenitas . Vaksin ini memberikan
perlindungan terhadap penyakit tuberkulosis ( TBC ) .

2. Tujuan dan Manfaat Imunisasi


a. Tujuan Imunisasi
Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada
seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat
(populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit. Pada saat ini penyakit-
penyakit tersebut adalah difteri, tetanus, batuk rejan (pertusis), campak
(measles), polio, dan tuberkulosis (Fida & Maya, 2012)
Tujuan imunisasi di Indonesia untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan,
dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)
(Depkes, 2006)

b. Manfaat Imunisasi
Manfaat imunisasi tidak hanya dirasakan oleh pemerintah dengan menurunnya
angka kesakitan dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi, tetapi juga dirasakan oleh :
1) Untuk anak : mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan
kemungkinan cacat atau kematian.
2) Untuk keluarga : menghilangkan kecemasan dan biaya pengobatan yang
akan dikeluarkan bila anak sakit. Hal ini mendorong penyiapan keluarga
yang terencana, agar sehat dan berkualitas.
3) Untuk negara : memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang
kuat untuk melanjutkan pembangunan negara dan memperbaiki citra
bangsa.
c. Jadwal pemberian imunisasi pada anak
Jadwal imunisasi anak usia 0-18 tahun rekomendasi Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI)
Usia Pemberian Vaksin

Jenis Bulan Tahun


Vaksin
1 2 1 18
Lhr 1 2 3 4 5 6 9 12 15 3 5 6 7 8 12
8 4 0
Hepatitis
1 2 3
B

Polio 0 1 2 3 4 5

BCG 1

7(T
DTP 1 2 3 4 5 6(Td) d)
Hib 1 2 3 4

PCV 1 2 3 4

Rotaviru
1 2 3
s

Influenza Diberikan 1 kali per tahun

Campak 1 2

MMR 1 2

Tifoid Ulangan setiap 3 tahun

Hepatitis 2 kali, interval 6-12 bulan


A

Varisela 1 kali

HPV 3 kali

d. Efek samping imunisasi


Setelah imunisasi BCG , reaksi yang timbul tidak seperti pada
imunisasi dengan vaksin yang lain . Imunisasi ini tidak menyebabkan demam
. KIPI pada imunisasi BCG adalah bisul kecil ( papula ) yang timbul 2 -6
minggu setelah imunisasi . Papula tersebut semakin membesar dan dapat
terjadi ulserasi selam 4 – 6 bulan , kemudian menjadi sembuh secara perlahan
( 2- 3 bulan ) dan menimbulkan jaringan parut bulat dengan diameter 4- 8 mm
. Kadang – kadang terjadi pembesaran kelenjar limfe ( limfadenitis ) di ketiak
( aksila ) atau leher . Jika limfadenitis melekat pada kulit atau timbul fistula ,
kelenjar tersebut harus dibersihkan dan didrainase untuk megeluarkan cairan ,
setelah itu , diberikan obat tuberkulosis lokal . komplikasi berupa BCG –itis ,
eritema nodusum , iritis , lupus vulgaris , dan osteomielitis jarang terjadi . Jika
terjadi , komplikasi tersebut harus diterapi dengan kombinasi obat
antituberkulosis .
C. IKTHISAR HASIL PENELITIAN
Pada jurnal dengan judul “ HUBUNGAN ANTARA PEMBENTUKAN SCAR
VAKSIN BCG DENGAN KEJADIAN INFEKSI TUBERKULOSIS ” di
dapatkan ikthisar yaitu :
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium
tuberculosis. Orang dewasa yang menderita tuberkulosis sangat mudah menularkan
kuman TB kepada orang disekitarnya terutama pada anak-anak. Salah satu cara
pencegahan penyakit tuberkulosis adalah pemberian imunisasi BCG pada saat bayi
baru lahir. Scar vaksin BCG dapat terbentuk setelah penyuntikan, kadang Scar tidak
terbentuk setelah penyuntikan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan
antara pembentukan Scar vaksin BCG dan kejadian infeksi tuberkulosis. Penelitian ini
menggunakan desain cross sectional dengan jumlah subjek sebanyak 80 orang.
Pengambilan data berupa melakukan pengamatan terhadap Scar pada lengan atas serta
wawancara kepada responden dengan menggunakan pedoman wawancara. Kemudian
data ditabulasi dalam bentuk persentase dan dianalisis dengan uji chisquare. Hasil
penelitian menunjukan bahwa responden yang terbanyak adalah perempuan dan usia
yang terbanyak 35-44 tahun. Terdapat hubungan yang bermakna antara pembentukan
tuberkulosis (p < 0,05). Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara pembentukan
Scar vaksin BCG terhadap kejadian infeksi tuberkulosis.

Pada jurnal dengan judul “ HUBUNGAN PEMBERIAN IMUNISASI BCG


DENGAN KEJADIAN TUBERCULOSIS PARU PADA ANAK BALITA DI
BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU – PARU AMBARAWA TAHUN
2007 ” di dapatkan ikthisar yaitu:
Penyakit TB paru sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Prevalensi TB paru dari tahun ke tahun di kabupaten Semarang tetap tinggi meskipun
strategi penanganan yang diterapkan relatif sama, yaitu pencegahan dengan imunisasi.
Penemuan penderita dan pengobatan dengan strategi DOT atau pengobatan dengan
pengawasan minum obat secara langsung. Pencegahan dengan imunisasi merupakan
tindakan mengakibatkan seseorang mempunyai ketahanan tubuh yang lebih baik,
sehingga mampu mempertahankan diri terhadap penyakit atau masuknya kuman dari
luar. Imunisasi terhadap penyakit TB adalah imunisasi Bacillus Calmette Guerin .
Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen dengan design penelitian studi
komparatif yang bersifat Case Control erdasarkan penelitian yang telah dilakukan
maka dapat disimpulkan bahwa hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut : Pertama,
Anak balita yang berobat di Balai Pengobatan Penyakit Paru - paru Ambarawa,
sebagian besar responden diberikan imunisasi BCG. Kedua, Kejadian Tuberkulosis
paru sebagian besar terjadi pada anak yang tidak diberikan imunisasi BCG. Ketiga,
Ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pemberian imunisasi BCG
dengan kejadian Tuberkulosis Paru pada anak balita.

Dari jurnal dengan judul “HUBUNGAN PEMBERIAN IMUNISASI BCG


DENGAN KEJADIAN TB PARU PADA ANAK DI PUSKESMAS DI
TUMINTING PERIODE JANUARI 2012 – JUNI 2012 .” di dapatkan ikthisar
yaitu :
Penyakit TB paru sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Prevalensi TB paru dari tahun ke tahun di Kota Manado tetap tinggi meskipun strategi
penanganan yang diterapkan relative sama, yaitu pencegahan dengan imunisasi.
Penemuan penderita, dan pengobatan dengan strategi DOT atau dengan pengawasan
minum obat secara langsung. Pencegahan dengan imunisasi merupakan tindakan yang
mengakibatkan seseorang mempunyai ketahanan tubuh yang lebih baik. Imunisasi
terhadap penyakit TB telah diwajibkan di beberapa negara serta direkomendasikan di
beberapa negara lainnya. Penyakit TB banyak terjadi pada anak di Kota Manado
padahal anak balita tersebut sebagian besar sudah divaksinasi BCG. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian imunisasi BCG dengan
kejadian TB Paru pada anak di Puskesmas Tuminting Manado. Hasil penelitian
memperlihatkan bahwa sebagian besar anak balita yang berobat di Puskesmas
Tuminting telah diberikan imunisasi BCG. Kejadian tuberkulosis ditemukan pada
umur >3 tahun dan terdapat hubungan bermakna antara pemberian imunisasi BCG
dengan kejadian tuberkulosis paru dengan nilai OR 0,804.

Berdasarkan hasil penelitian dan bahasan dapat disimpulkan bahwa:


1. Sebagian besar anak balita yang berobat di Puskesmas Tuminting telah
diberikan imunisasi BCG.
2. Kejadian tuberkulosis pada anak di Puskesmas Tuminting sebagian besar
ditemukan pada umur >3 tahun.
3. Terdapat hubungan bermakna antara pemberian imunisasi BCG dengan kejadian
tuberkulosis paru pada anak.
DAFTAR PUSTAKA

Bibliography
Astuti, H. W. (2010). asuhan keperawatan anak dengan gangguan sistem pernapasan . Jakarta: TIM.

Alimul Aziz .A.(2005).Pengantar ilmu keperawatan anak 1 . Surabaya: Salemba Medika

Axton S. & Fugate T.(2014).Rencana asuhan keperawatan pediatrik .Jakarta:ECG

Crofton J.(2002).Tuberculosis klinis .Widya Medika