Anda di halaman 1dari 13

I.

Judul Percobaan : Distilasi


II. Hari/ Tanggal Percobaan : 16 Oktober 2012 pukul 07.00 WIB
III. Selesai Percobaan : 16 Oktober 2012 pukul 09.30 WIB
IV. Tujuan Percobaan :
1. Memisahkan dan memurnikan zat cair.
2. Menentuka titik didih zat cair.
V. Tinjauan Pustaka

Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. Dalam penyulingan,
campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali
ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih
dulu. Dimana zat yang mempunyai titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu,
kemudian uap tadi akan mengalami proses pendinginan pada kondensor. Di dalam
kondensor akan terjadi proses perubahan fasa, uap akan berubah menjadi fasa cair yang
akan mengalir keluar sebagai distilat. Titik didih air murni adalah 100 ºC.
Pada proses destilasi terjadi perubahan wujud dari cair ke uap hasil pemanasan
berdasarkan titik didihnya. Kemudian uap tersebut didinginkan dan terjadi proses
pengembunan sehingga memperoleh cairan murni (destilat). Metode ini merupakan
termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan
pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik
didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.
Pada operasi distilasi, terjadinya pemisahan didasarkan pada gejala bahwa bila
campuran cair ada dalam keadaan setimbang dengan uapnya, komposisi uap dan cairan
berbeda. Uap akan mengandung lebih banyak komponen yang lebih mudah menguap,
sedangkan cairan akan mengandung lebih sedikit komponen yang mudah menguap. Bila
uap dipisahkan dari cairan, maka uap tersebut dikondensasikan, selanjutnya akan
didapatkan cairan yang berbeda dari cairan yang pertama, dengan lebih banyak
komponen yang mudah menguap dibandingkan dengan cairan yang tidak teruapkan.
Bila kemudian cairan dari kondensasi uap tersebut diuapkan lagi sebagian, akan
didapatkan uap dengan kadar komponen yang lebih mudah menguap lebih tinggi.
Bahan yang dipisahkan dengan metode ini adalah bentuk larutan atau cair, tahan
terhadap pemanasan, dan perbedaan titik didihnya tidak terlalu dekat.
Proses pemisahan yang dilakukan adalah bahan campuran dipanaskan pada suhu
diantara titik didih bahan yang diinginkan. Pelarut bahan yang diinginkan akan
menguap, uap dilewatkan pada tabung pengembun (kondensor). Uap yang mencair
ditampung dalam wadah. Bahan hasil pada proses ini disebut destilat, sedangkan sisanya
disebut residu.
Secara garis besar tahap distilasi adalah sebagai berikut :

 Evaporasi : memindahkan pelarut sebagai uap dari cairan


 Pemisahan uap cairan di dalam kolom dan untuk memisahkan komponen dengan
titik didih lebih rendah yang lebih mudah menguap komponen lain yang kurang
volatil.
 Kondensasi dari uap, serta untuk mendapatkan fraksi pelarut yang lebih volatil.

Pembagian distilasi

1. Distilasi berdasarkan prosesnya terbagi menjadi dua yaitu :


a. Distilasi kontinyu
Proses ini berlangsung terus-menerus yaitu pertama-tama cairan campuran
diumpankan ke dalam menara column. Selanjutnya cairan yang tidak berubah
menjadi uap menuju ke bawah akibat gaya gravitasi, sedangkan cairan yang
menjadi uap bergerak ke atas. Untuk cairan ke bawah selanjutnya keluar column
untuk diumpankan ke reboiler. Hasil reboiler yang berupa gas dikembalikan lagi
ke dalam column dan yang tidak langsung mengalir keluar menjadi produk
bawah. Untuk gas hasil distilasi selanjutnya dikondensasikan menjadi cairan
yang disebut dengan produk distilasi. Sedangkan gas yang tidak terkondensasi
selanjutnya dikembalikan ke dalam column distilasi untuk diproses kembali.
Pada proses distilasi secara kontinyu dikenal dengan istilah bagian rectifying dan
bagian stripping. Bagian rectifying adalah proses bagian atas setelah gas keluar
dari column distilasi dan bagian stripping adalah proses bagian bawah setelah
cairan keluar dari column distilasi. Biasanya dalam column ini digunakan untuk
memisahkan umpan multikomponen untuk menghasilkan dua atau lebih produk
murni.
b. Distilasi batch
Proses distilasi ini merupakan proses yang paling tua yang diketahui untuk
memisahkan suatu cairan campuran. Pada zaman dahulu proses ini seering
digunakan untuk menyuling minuman beralkohol, minyak parfum, untuk farmasi
dan penghasil minyak tanah. Selain itu proses ini juga digunakan untuk
memproduksi bahan kimia yang bagus dan spesialis. Metode ini dipakai hanya
untuk sekali proses saja, setelah itu proses pembersihan alat kemudian proses
distilasi dapat dimulai kembali. Sekarang ini metode distilasi batch merupakan
metode yang sering digunakan dalam berbagai industri kimia.

Alat pada distilasi batch berbeda bentuknya dengan alat distilasi kontinyu
yaitu pada bagian stripping di distilasi kontinyu dihilangkan pada proses distilasi
batch. Pada bagian ini diganti dengan aliran umpan menuju column pada distilasi
batch. Selain itu pada bagian retifying output produk di distilasi kontinyu hanya
satu, sedangkan pada distilasi batch ada 2 produk dan 1 produk intermediet. Alat
ini digunakan pada proses distilasi batch secara konvensional. Tentu sekarang
sudah ada modifikasi terhadap metode distilasi batch saat ini dengan adanya
penelitian-penelitian mengenai optimasi distilasi batch.

Prinsip kerja dari distilasi bacth adalah pertama-tama umpan masuk melalui
bawah column. Setelah itu dipanaskan yang mana menghasilkan gas yang akan
naik keatas column. Cairan yang tidak menguap akan tetap dibawah sampai
pemanasan selesai. Gas hasil pemanasan akan keluar dari column lalu
dikondensasikan menjadi cairan yang diinginkan, sedangkan gas yang tidak
dapat terkondensai akan dikembalikan ke column. Akan tetapi hasil dari distilasi
pertama belum 100% murni. Untuk itu hasil distilasi pertama dapat didistilasi
kembali untuk mendapatkan produk dengan kemurnian yang lebih tinggi dari
produk sebelumnya.

c. Distilasi semi-batch/ kontinyu


Proses kerja dari distilasi semi batch/kontinyu adalah menggabungkan
prinsip kerja dari distilasi batch dan distilasi kontinyu. Contohnya adalah dimana
terjadi kesamaan antara prinsip kerja pada proses batch, akan tetapi terdapat
perbedaan pada pengumpanan bahan baku. Dimana pengumpanan bahan baku
hampir sama prinsip kerjanya pada proses distilasi kontinyu.Metode distilasi ini
cocok untuk proses distilasi ekstraktif, distilasi reaktif dan sebagainya.
2. Distilasi berdasarkan basis tekanan operasinya terbagi menjadi tiga yaitu :
a. Distilasi atmosferis
Distilasi atmosfer adalah proses pemisahan fraksi-fraksi minyak bumi
berdasarkan perbedahan titik didihnya pada tekanan atmosfer dan temperatur
maksimum 350˚C. Proses distilasi mencakup dua kegiatan yaitu penguapan dan
pengembunan. Pada penguapan memerlukan panas untuk menaikkan temperatur.
Sebaliknya pada pengembunan dilakukan dengan mengambil atau melepas panas
penguapan.
Minyak mentah atau crude oil sebelum diolah harus dilakukan analisa
terlebih dahulu untuk mengetahui jenis karakteristiknya dan adanya unsur-unsur
yang tidak diinginkan (impurities) yang terkandung didalamnya. Hal ini perlu
dilakukan untuk menentukan kondisi operasi yang sesuai dengan jenis minyak
bumi yang akan diolah dan proses penghilangan senyawa-senyawa impurities.
Produk yang dihasilkan dari proses ini adalah :
•Gas
•Nafta
•Kerosin
•Gas oil (solar)
•Residu (long residue)
b. Distilasi vakum
Distilasi Vakum disebut juga distilasi dengan tekanan rendah. Untuk
mencegah penguraian senyawa-senyawa organik dianjurkan melakukan distilasi
dengan metode ini. Distilasi ini terutama digunakan untuk sampel-sampel
dengan titik didih diatas 180˚C. Dengan bantuan aspirator air, tekanan dapat
diturunkan sampai 12-15 mmHg. Sedangkan dengan bantuan pompa vakum
tekanan dapat diturunkan sampai 0.01 mmHg. Untuk terakhir ini diperlukan cold
trap untuk keamanan dan jangan sekali-kali melepaskan keadaan vakum dengan
melepaskan labu atau termometer.
Sampel dimasukkan ke dalam labu distilasi, selanjutnya masukkan batu
didih agar pendidihan berlangsung halus dan teratur. Pengontrolan suhu labu
distilasi diperlukan supaya pendidihan berlangsung dengan baik.
Proses destilasi menggunakan sumber panas untuk menguapkan air. Tujuan
dari destilasi adalah memisahkan molekul air murni dari kontaminan yang punya
titik didih lebih tinggi dari air. Destilasi, mirip dengan R.O., menyediakan air
bebas mineral untuk digunakan di laboratorium sains atau keperluan percetakan.
Destilasi membuang logam berat seperti timbal, arsenic, dan merkuri.
Meskipun destilasi dapat membuang mineral dan bakteri, tapi tetap tidak bias
menghilangkan klorin, atau VOC (volatile organic chemicals) yang mempunyai
titik didih lebih rendah dari air. Destilasi, seperti halnya R.O., memberikan air
bebas mineral yang bisa berbahaya lagi tubuh karena keasamannya. Air bersifat
asam dapat merampas kandungan mineral dari tulang dan gigi.
Penguapan yang berlangsung juga tidak dapat dipisahkan oleh Air, jika
material air tidak dimasukkan kedalam ketel maka suatu kesalahan besar jika
menganggap proses hidrodestilasi dapat berlangsung karena air jika dimasukkan
kedalam tabung yang dipanaskan pada temperature tinggi akan menghasilkan
Uap panas, dan jika air tersebut dicampur dengan senyawa hidro lainnya maka
80% kemungkinan uap yang ada akan menimbulkan bau dari senyawa hidro
tersebut.
Saat ini tersedia beberapa macam teknologi yang mampu memisahkan air
tawar yang terkandung di dalam air laut, salah satunya adalah dengan perubahan
fasa air (destilasi). Pada proses destilasi, air laut dipanaskan agar air tawar yang
terkandung dalam air laut menguap, selanjutnya uap tersebut diembunkan untuk
mendapatkan air tawar. Kelemahan utama metode uap air adalah kecepatan
penyulingan yang paling rendah.
c. Distilasi tekanan
Distilasi yang tekanan operasinya lebih besar dari 80psia pada bagian
ataskolom. Contoh: Minyak yang sudah menguap pada temperatur
kamar.Aplikasi: Light End Unit (Debutanizer, Depropanizer, Naptha Splitter)

3. Distilasi berdasarkan komponen penyusunnya terbagi dua yaitu :


a. Distilasi system biner
Distilasi yang dilakukan untuk memisahkan dua komponen
b. Distilasi system multi komponen
Distilasi yang dilakukan untuk memisahkan banyak komponen
4. Distilasi berdasarkan system operasinya terbagi menjadi dua yaitu :
a. Single-stage distillation
Single stage distillation sering disebut dengan flash vaporation
atauquilibrum distillation, dimana campuran cairan diuapkan secara parsial. Pada
keadaan setimbang, uap yang dihasilkan bercampur dengan cairan yang tersisa
namun pada akhirnya uap tersebut akan dipisahkan dari kolom seperti juga fase
cair yang tersisa. Distilasi jenis ini dapat dilakukan dalam kondisi batch maupun
kontinyu.
b. Multi-stage distillation
Multi Stage Distillation sering disebut dengan rectification dimana distilat
yang diperoleh dari hasil distilasi sebeumnya didistilasi kembali, maka distilat
baru yang diperoeh akan memiliki konsentrasi komponen volatile yang lebih
tinggi. ketika prosedur diulang, konsentrasi komponen volatile dalam distilat
meningkat pada setiap prosesnya.

Selain pembagian di atas, ada referensi lain yang menyebutkan macam-macam distilasi,
yaitu:

1. Destilasi sederhana
Distilasi jenis ini digunakan apabila sampel yang dipakai berupa campuran dari
senyawa-senyawa yang mempunyai perbedaan titik didih yang jauh. jika campuran
dipanaskan maka senyawa yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih
dulu. Selain perbedaan titik didih juga perbedaan kevolatilan, yaitu cenderung
sebuah substansi untuk menjadi gas. distilasi dilakukan pada tekanan atmosfir..
2. Destilasi vakum
Distilasi Vakum disebut juga distilasi dengan tekanan rendah. Untuk mencegah
penguraian senyawa-senyawa organik dianjurkan melakukan distilasi dengan
metode ini. Distilasi ini terutama digunakan untuk sampel-sampel dengan titik didih
diatas 180˚C. Dengan bantuan aspirator air, tekanan dapat diturunkan sampai 12-15
mmHg. Sedangkan dengan bantuan pompa vakum tekanan dapat diturunkan sampai
0.01 mmHg. Untuk terakhir ini diperlukan cold trap untuk keamanan dan jangan
sekali-kali melepaskan keadaan vakum dengan melepaskan labu atau termometer.
Sampel dimasukkan ke dalam labu distilasi, selanjutnya masukkan batu didih
agar pendidihan berlangsung halus dan teratur. Pengontrolan suhu labu distilasi
diperlukan supaya pendidihan berlangsung dengan baik.

Proses destilasi menggunakan sumber panas untuk menguapkan air. Tujuan dari
destilasi adalah memisahkan molekul air murni dari kontaminan yang punya titik
didih lebih tinggi dari air. Destilasi, mirip dengan R.O., menyediakan air bebas
mineral untuk digunakan di laboratorium sains atau keperluan percetakan.

Destilasi membuang logam berat seperti timbal, arsenic, dan merkuri. Meskipun
destilasi dapat membuang mineral dan bakteri, tapi tetap tidak bias menghilangkan
klorin, atau VOC (volatile organic chemicals) yang mempunyai titik didih lebih
rendah dari air. Destilasi, seperti halnya R.O., memberikan air bebas mineral yang
bisa berbahaya lagi tubuh karena keasamannya. Air bersifat asam dapat merampas
kandungan mineral dari tulang dan gigi.

Penguapan yang berlangsung juga tidak dapat dipisahkan oleh Air, jika material
air tidak dimasukkan kedalam ketel maka suatu kesalahan besar jika menganggap
proses hidrodestilasi dapat berlangsung karena air jika dimasukkan kedalam tabung
yang dipanaskan pada temperature tinggi akan menghasilkan Uap panas, dan jika
air tersebut dicampur dengan senyawa hidro lainnya maka 80% kemungkinan uap
yang ada akan menimbulkan bau dari senyawa hidro tersebut.

Saat ini tersedia beberapa macam teknologi yang mampu memisahkan air tawar
yang terkandung di dalam air laut, salah satunya adalah dengan perubahan fasa air
(destilasi). Pada proses destilasi, air laut dipanaskan agar air tawar yang terkandung
dalam air laut menguap, selanjutnya uap tersebut diembunkan untuk mendapatkan
air tawar. Kelemahan utama metode uap air adalah kecepatan penyulingan yang
paling rendah.

3. Destilasi bertingkat (fraksional)


Distilasi jenis ini digunakan apabila sampel yang dipakai berupa campuran dari
senyawa-senyawa yang memiliki perbedaan titik didih yang relative kecil/
berdekatan (pemurnian zat/ senyawa cair). Distilasi bertingkat sebenarnya
merupakansuatu prosese distilasi berulang. Proses berulang ini terjadi pada kolom
fraksional dimana kolom tersebut terdiri atas beberapa plat yang pada setiap plat
memiliki suhu yang berbeda-beda dan terjadi pengembunan. Uap yang naik ke plat
yang lebih tinggi, banyak mengandung cairan yang lebih astiri (mudah menguap)
sedangkan cairan yang kurang astiri lebih banyak dalam kondensat.
Tujuan dari penggunaan kolom ini adalah untuk memisahkan uap campuran
senyawa cair yang titik didihnya hampir sama/ tidak terlalu berbeda. Dengan adanya
penghalang dalam kolom fraksinasi menyebabkan senyawa yang titik didihnya
rendah akan sama-sama menguap hingga akhirnya mengembun sedangkan senyawa
yang titik didihnya lebih tinggi jika belum mencapai titik didihnya maka senyawa
tersebut akan menguap, mengembun dan menetes sebagai destilat.
4. Destilasi azeotrop
Distilasi jenis ini digunakan apabila sampel yang digunakan berupa campuran
atau lebih komponen yang mimiliki titik didih yang konstan (azetrop). komposisi
azetrop tetap konstan dalam pemberian atau penambahan tekanan sehingga kondisi
tersebut dapat menyebabkan hasil distilasi menjadi tidak maksimal. Akan tetapi,
ketika tekanan total berubah, kedua titik didih dan komposisi dari azetrop berubah.
Pada umumnya, prosese tersebut ditambahkan senyawa lain yang dapat
memecahkan ikatan azetrop tersebut hingga menghasilkan azetrop heterogen yang
dapat mendidih pada suhu lebih rendah. Azetrop dapat didistilasi dengan
menggunakan pelarut tertentu, misalnya penambahan benzene ke dalam campuran
air dan alcohol. Air dan pelarut akan ditangkap oleh penangkap Dean-Stark. Air
akan tetap tinggal didasar penangkap dan pelarut akan kembali ke campuran dan
akan memisahkan air lagi. Azetrop merupakan penyimpangan dari hokum Raoult.
5. Destilasi kering
Distilasi kering merupakan jenis distilasi yang melakukan pemanasan terhadap
material padat untuk mendapatkan produk berupa gas dan mengembun menjadi
produk cair atau padat dari material tersebut. Metode ini biasanya memerlukan suhu
yang lebih tinggi dari jenis-jenis distilasi yang lain.
VI. Cara Kerja

1 gram NaCl

dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi 100mL air

larutan NaCl

batu didih dimasukkan ke dalam labu destilasi, kemudian air dijalankan


melalui kondensator dan dipanaskan sampai suhu konstan

10 mL destilat

5 mL destilat 5 mL H2O 5 mL larutan NaCl


ditambah AgNO3 0.1 M ditambah AgNO3 0,1M ditambah AgNO3
0,1M

dibandingkan

hasil pengamatan
VII. Hasil Pengamatan
Warna zat atau larutan
No. Zat/ larutan Sebelum diberi Setelah diberi Endapan
AgNO3 AgNO3
1. Larutan NaCl 1 gram + 100 Tidak berwarna Putih keruh Endapan putih
mL H2O
2. Distilat Tidak berwarna Agak keruh Tidak ada
sedikit endapan
3. Aquades Tidak berwarna Tidak berwarna Tidak ada
endapan
4. AgNO3 Tidak berwarna

 Suhu awal larutan NaCl 1 gr + 100 ml H2O = 30° C


 Suhu akhir ketika larutan NaCl mendidih = 95° C
 Warna NaCl keruh kemudian didistilasi menjadi jernih tetapi agak keruh.

REAKSI :
NaCl(aq) + AgNO3(l) → AgCl(l) + NaNO3(aq)
NaCl (s) + H2O (l) → NaCl (aq)
AgNO3(l) + H2O (l) → AgNO3 (aq)

VIII. Analisis Data/ Perhitungan/ Persamaan Reaksi yang Terlibat


Dalam percobaaan destilasi ini dilakukan pemisahan secara penguapan pada larutan
NaCl. Karena titik didih air lebih rendah daripada garam maka yang keluar sebagai
distilat adalah air ( H2O). Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan
Hukum Dalton. Hukum Raolut secara umum didefinisikan sebagai fugasitas dari tiap
komponen dalam larutan yang sama dengan hasil kali fugasitasnya dalam keadaan
murni pada temperatur dan tekanan yang sama serta fraksi molnya dalam larutan
tersebut. Tekanan uap parsial dari sebuah komponen di dalam campuran adalah sama
dengan tekanan uap komponen tersebut dalam keadaan murni pada suhu tertentu.
Larutan NaCl, aqudes, dan distilat diuji kemurniannya dengan AgNO3 maka warna
aquades tetap jernih., warna larutan NaCl menjadi putih keruh dan terdapat endapan
berwarna putih, sedangkan distilat menjadi berwarna jernih tetapi agak sedikit keruh
tanpa adanya endapan. Berdasarkan teori distilat yang di uji dengan AgNO3 warnanya
tetap jernih, tetapi pada percobaan kami distilat yang ditetesi dengan AgNO3 warnanya
berubah menjadi sedikit keruh. Air yang mengalir pada pipa destilasi berfungsi untuk
mendinginkan uap air hasil destilasi yang keluar melalui pipa destilasi agar berubah
menjadi embun dan dapat menetes ke dalam gelas kimia.

IX. Pembahasan/ diskusi


Pada saat percobaan, terjadi kesalahan pada hasil destilat dan aquades yang telah
diberi AgNO3. Hasil dari destilasi seharusnya jernih tetapi hasil yang kami dapatkan
agak keruh sedikit. Hal ini mungkin dikarenakan pada alat yang kami gunakan kurang
steril.

X. Kesimpulan

Dari hasil analisa data dan pembahasan, maka dalam praktikum ini dapat disimpulkan
sebagai berikut:

 Pada proses destilasi terdapat kondesor yang berfungsi untuk mengubah fase gas
menjadi fase cair.
 Pengeluaran uap yang terbentuk melaalui sebuah pipa uap yang kosong dan lebar,
tanpa perpindahan panas dan perpindahan massa yang dipaksakan, dapat
mengakibatkan kondesat mengalir kembali ke alat penguap.
 Destilasi pada umumnya merupakan suatu proses pemisahan satu tahap, dimana
proses ini dilakukan secara kontinue atau tak kontinue, pada tekanan normal atau
vakum.
 Dalam proses penguapan atau destilasi pemisahan dua komponen campuran
tergantung pada tekanan uap atau titik didih komponen tersebut.
 Proses penentuan suhu juga didasarkan pada tekanan udara di lingkungan tersebut

XI. Jawaban Pertanyaan

Apa sebab aliran di dalam pendingin dibuat berlawanan arah dengan aliran destilat?
Arah aliran air dibuat berlawanan arah dengan aliran destilat supaya seluruh ruang
di selang kondensor penuh terisi oleh air. Apabila air diisi searah dengan aliran destilat,
ruangan di selang kondensor tidak akan terisi penuh karena air yang masuk bisa
langsung keluar sebelum selang terisi penuh. Hal ini dimaksudkan agar suhu larutan
menjadi tinggi dan tekanannya juga menjadi tinggi, sehingga uap yang dihasilkan
banyak. Uap tersebut akan didinginkan dan berubah menjadi distilat. Jika uap yang
dihasilkan banyak, maka jumlah distilat yang dihasilkan pun juga banyak.

XII. Daftar Pustaka


Atmojo, Susilo Tri. 2012. file//pengertian-destilasi.html. Diakses pada 12 Oktober 2012.
Yakup. 2011. file://destilasi.html. Diakses pada 12 Oktober 2012.
Tim Kimia Dasar. 2012. Petunjuk Praktikum Kimia Dasar 1. Surabaya : Universitas
Negeri Surabaya.
Achmad, Hiskia. 1993. Penuntun Dasar-Dasar Praktikum Kimia. Bandung : Institut
Teknologi Bandung.
Yazid, Estien. 2005. Kimia Fisika untuk Para Medis. Yogyakarta: Andi.
LAMPIRAN