Anda di halaman 1dari 18

A.

JUDUL PERCOBAAN : Sifat Koligatif Larutan

B. TANGGAL PERCOBAAN : 15 Oktober 2018, 13.00-15.30 WIB

C. TUJUAN PERCOBAAN : Mempelajari pengaruh jenis larutan


terhadap titik didihnya

D. DASAR TEORI

Hukum Rault merupakan dasar dari empat macam sifat larutan encer
yang disebut sifat koligatif. Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang
tidak bergantung pada jenis zat terlarut tetapi hanya bergantung pada
konsentrasi partikel zat terlarutnya. Meskipun sifat koligatif melibatkan
larutan, sifat koligatif tidak bergantung pada jumlah zat terlarut yang larut pada
suatu larutan. Sifat koligatif terdiri dari penurunan tekanan uap, kenaikan titik
didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik.

Suatu zat cair akan mendidih jika tekanan uap jenuh zat cair itu sama
dengan tekanan udara disekitarnya. Apabila air murni dipanaskan pada tekanan
1 atm (760mmHg) maka air akan mendidih pada temperatur 100°C, karena
pada tekanan uap jenuh zat cair yang sama dengan 1 atm disebut titik didih
normal zat cair itu. Jadi yang dimaksud dengan titik didih adalah temperatur
pada saat tekanan uap jenuh larutan sama dengan tekanan udara luar (tekanan
paad permukaan luar).

Jika pada suhu tertentu, suatu pelarut murni(air) ditambahkan zat terlarut
misalnya gula pasir, maka tekanan uap air akan turun. Jika semakin banyak zat
terlarut yang dilarutkan, maka makin banyak penurunan tekanan uapnya. Hal
ini mengakibatkan larutan gula belum mendidih pada suhu 100°C. Agar larutan
gula cepat mendidih, diperlukan suhu yang cukup tinggi, sehingga tekanan uap
jenuhnya sama dengan tekanan uap disekitarnya. Adanya penambahan zat
terlarut ini dapat menghalangi penguapan partikel pelarut. Sehingga,
penguapan partikel-partikel pelarut membutuhkan energi yang besar. Selisih
antara titik didih larutan dengan titik didih pelarut murni disebut kenaikan titik
didih(ΔTb)

ΔTb = Tb – Tb°

Dimana :

Tb = Tb larutan

Tb° = Tb pelarut

1
Kenaikan titik didih yang disebabkan oleh 1 mol zat yang dilarutkan
dalam 1000 gram zat pelarut mempunya harga yang tetap disebut tetapan
kenaikan titik didih (Kb).

Perhatikan grafik berikut ini.

Menurut hukum Roult, kenaikan titik didih(ΔTb) sebanding dengan hasil


kali kemolalan larutan(m) dengan kenaikan titik didih molal(Kb)

ΔTb = m.Kb

Pada konsentrasi yangn sama, sifat koligatif larutan elektrolit akan


berbeda dengan non-elektrolit. Hal ini dikarenakan jumlah partikel dalam
larutan elektrolit akan lebih banyak karena adanya proses ionisasi zat terlarut.
Banyaknya ion yang dihasilkan tergantung pada derajat ionisasinya(α). Larutan
elektrolit kuat mempunyai derajat ionisasi lebih besar daripada larutan
elektrolit lemah, yaitu mendekati satu untuk elektrolit kuat dan mendekati nol
untuk elektrolit lemah. Derajat ionisasi dirumuskan sebagai berikut :
i = 1 + (n-1) α

Dimana :

i = jumlah partikel yang diukur

α = jumlah molekul zat yang terurai

Untuk menentuksn kenaikna titik didih pada larutan elektrolit :

ΔTb = m.Kb.i

2
E. ALAT DAN BAHAN

Alat :

1. Gelas kimia 100 ml 3 buah


2. Kompor elektrik
3. Termometer
4. Pengaduk

Bahan :

1. Aquades secukupnya
2. Garam dapur ( NaCl)
3. Gula ( C12H24O12 )

F. ALUR PERCOBAAN

50 ml aquades 50 ml aquades
Dimasukkan ke dalam gelas kimia Dimasukkan ke dalam gelas kimia

Dipanaskan hingga mendidih Ditambahkan garam 0,6 gram

Dicatat suhunya Diaduk sampai larut

Dipanaskan hingga mendidih


Suhu
Dicatat suhunya

50 ml aquades Suhu
Dimasukkan ke dalam gelas kimia
50 ml aquades
Ditambahkan gula 3,4 gram
Dimasukkan ke dalam gelas kimia 1b
Diaduk sampai larut Dipanaskan hingga mendidih
Dipanaskan hingga mendidih Ditambahkan garam 0,6 gram

Dicatat suhunya Diaduk sampai larut

Dipanaskan hingga mendidih


Suhu
Dicatat suhunya

Dihitung molal larutan

Dibuat grafik antara suhu larutan terhadap


kadar garam

Suhu

3
50 ml aquades
50 ml aquades
Dimasukkan ke dalam gelas kimia 3b
Dimasukkan ke dalam gelas kimia 2b
Dipanaskan hingga mendidih
Dipanaskan hingga mendidih
Ditambahkan garam 2,4 gram
Ditambahkan garam 1,8 gram
Diaduk sampai larut
Diaduk sampai larut
Dipanaskan hingga mendidih
Dipanaskan hingga mendidih
Dicatat suhunya
Dicatat suhunya
Dihitung molal larutan
Dihitung molal larutan
Dibuat grafik antara suhu larutan
Dibuat grafik antara suhu larutan terhadap terhadap kadar garam
kadar garam

Suhu
Suhu

50 ml aquades 50 ml aquades
Dimasukkan ke dalam gelas kimia 1a Dimasukkan ke dalam gelas kimia 2a

Dipanaskan hingga mendidih Dipanaskan hingga mendidih

Ditambahkan gula 3,4 gram Ditambahkan gula 10,3 gram

Diaduk sampai larut Diaduk sampai larut

Dipanaskan hingga mendidih Dipanaskan hingga mendidih

Dicatat suhunya Dicatat suhunya

Dihitung molal larutan Dihitung molal larutan

Dibuat grafik antara suhu larutan terhadap Dibuat grafik antara suhu larutan
kadar gula terhadap kadar gula

Suhu Suhu

4
50 ml aquades
Dimasukkan ke dalam gelas kimia 3a

Dipanaskan hingga mendidih

Ditambahkan gula 13,7 gram

Diaduk sampai larut

Dipanaskan hingga mendidih

Dicatat suhunya

Dihitung molal larutan

Dibuat grafik antara suhu larutan terhadap


kadar gula

Suhu

G. HASIL PENGAMATAN

Percobaan 1

1. Air gula ( gula 3,4 gram)


Sebelum : berwujud larutan, berwarna kekuningan, dan suhu tidak
diketahui
Sesudah : berwujud larutan, berwarna kekuningan, dan mendidih
pada suhu 98C

2. Aquades
Sebelum : volume aquades 50 ml, tidak berwarna ( bening ), dan suhu
tidak diketahui
Sesudah : tidak berwarna ( bening ) dan mendidih pada suhu 98C

3. Air garam ( garam 0,6 gram)


Sebelum : berwujud larutan, tidak berwarna (bening), dan suhu tidak
diketahui
Sesudah : berwujud larutan, tidak berwarna ( bening), dan mendidih
pada suhu 99C

5
Percobaan 2

Air gula

1. Air gula ( gula 3,4 gram )


Sebelum : berwujud larutan, berwarna agak kuning, dan suhu tidak
diketahui
Sesudah : berwujud larutan, berwarna agak kuning, dan mendidih
pada suhu 98C

2. Air gula ( gula 10,3 gram )


Sebelum : berwujud larutan, berwarna kuning, dan suhu tidak
diketahui
Sesudah : berwujud larutan, berwarna kuning, dan mendidih pada
suhu 99C

Sebelum : berwujud larutan, berwarna kuning keruh, dan suhu tiak


diketahui
Sesudah : berwujud larutan, berwarna kuning, dan mendidih pada
suhu 99,5C

Air garam

1. Air garam ( garam 0,6 gram )


Sebelum : berwujud larutan, tidak berwarna ( bening ), dan suhu
tidak diketahui
Sesudah : berwujud larutan, tidak berwarna ( bening), dan mendidih
pada suhu 98C

2. Air garam ( garam 1,8 gram )


Sebelum : berwujud larutan, tidak berwarna ( bening ), dan suhu
tidak diketahui

Sesudah : berwujud larutan, tidak berwarna ( bening), dan mendidih


pada suhu 99C

3. Air garam ( garam 2,4 gram )


Sebelum : berwujud larutan, tidak berwarna ( bening ), dan suhu
tidak diketahui
Sesudah : berwujud larutan, tidak berwarna ( bening ), dan mendidih
pada suhu 100C

6
H. PEMBAHASAN
Pada percobaan pertama memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui
kenaikan titik didih dari masing-masing larutan dengan partikel zat pelarut
yang berbeda-beda. Pada gelas kimia 1 diisi aquades sebanyak 50 ml, pada
gelas kimia 2 diisi aquades 50 ml dengan penambahan gula sebanyak 3,4
gram, dan pada gelas kimia 3 diisi aquades 50 ml dengan penambahan garam
sebanyak 0,6 gram. Pada percobaan pertama ini massa dari gula dan garam
dibuat berbeda karena untuk menyamakan konsentrasi dari gula dan garam
tersebut. Apabila massa dibuat sama, maka akan membuat konsentrasi dari
gula dan garam tersebut berbeda. Setelah dilakukan penambahan dan
pengadukan, dipanaskan bersamaan sampai mendidih. Setelah didapatkan
mendidih, suhu dari masing-masing larutan tersebut diukur dengan
termometer dan diperoleh hasil : aquades mendidih pada suhu 98°C, air gula
mendidih pada suhu 98°C, dan air garam mendidih pada suhu 98°C. Sehingga
suhu yang diperoleh semua sama. Namun, berdasarkan dasar teori yang ada,
urutan kenaikan titik didih yang sebenarnya adalah : Air garam > Air gula >
Aquades. Kesalahan dalam percobaan tersebut terjadi karena beberapa faktor,
diantaranya kurang teliti praktikan dalam menimbang gula dan garam,
ketidaktelitian praktikan dalam mengukur banyaknya aquades, dan kurang
larut dalam pengadukan partikel.

Pada percobaan kedua memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui


pengaruh kadar partikel dalam larutan terhadap kenaikan ttik didih. Pada
gelas kimia 1 diisi 50 ml aquades dengan penambahan 3,4 gram gula, pada
gelas kimia 2 diisi 50 ml aquades dengan penambahan 10.3 gram gula, dan
pada gelas kimia 3 diisi 50 ml aquades dengan penambahan 13,7 gram gula.
Pada percobaan kedua ini massa ketiga gula dibuat berbeda agar partikel yang
terlarut memiliki jumlah yang berbeda, sehingga didapat kenaikan titik didih
yang berbeda. Setelah dilakukan pengadukan hingga seluruh partikel terlarut,
dipanaskan bersamaan sampai mendidih. Setelah didapatkan mendidih, suhu
dari masing-masing larutan gula tersebut diukur dengan termometer dan
diperoleh hasil : Air gula pertama mendidih pada suhu 98°C, air gula kedua
mendidih pada suhu 99°C, dan air gula ketiga mendidih pada suhu 99,5°C.
Berdasarkan teori, hasil yang diperoleh sudah benar yaitu semakin banyak
massa gula yang terlarut, maka kenaikan titik didih akan semakin lama atau
semakin besar. Hal ini terjadi karena penghalang partikel dengan massa yang
banyak akan semakin lama untuk mendidih. Namun, berdasarkan perhitungan
secara teori, hasil yang didapat dalam percobaan tidak sesuai. Hal ini terjadi
karena kesalahan dalam percobaan tersebut dengan beberapa faktor,
diantaranya kurang teliti praktikan dalam menimbang gula, ketidaktelitian
praktikan dalam mengukur banyaknya aquades, dan kurang larut dalam
pengadukan partikel. Percobaan selanjutnya adalah dengan garam. Pada gelas

7
kimia 1 diisi aquades 50 ml dengan penambahan garam sebanyak 0,6 gram,
pada gelas kimia 2 diisi aquades 50 ml dengan penambahan garam sebanyak
1,8 gram, dan pada gelas kimia 3 diisi aquades sebanyak 50 ml dengan
penambahan garam sebanyak 2,4 gram. Pada percobaan selanjutnya ini massa
ketiga garam dibuat berbeda seperti gula agar partikel yang terlarut memiliki
jumlah yang berbeda, sehingga didapat kenaikan titik didih yang berbeda.
Setelah dilakukan pengadukan hingga seluruh partikel terlarut, dipanaskan
bersamaan sampai mendidih. Setelah didapatkan mendidih, suhu dari masing-
masing larutan garam tersebut diukur dengan termometer dan diperoleh hasil
: Air garam pertama mendidih pada suhu 98°C, air garam 2 mendidih pada
suhu 99°C, dan pada air garam 3 mendidih pada suhu 100°C. Berdasarkan
teori, hasil yang diperoleh sudah benar yaitu semakin banyak massa garam
yang terlarut, maka kenaikan titik didih akan semakin lama atau semakin
besar. Hal ini terjadi karena penghalang partikel dengan massa yang banyak
akan semakin lama untuk mendidih.Namun, berdasarkan perhitungan secara
teori, hasil yang didapat dalam percobaan tidak sesuai. Hal ini terjadi karena
kesalahan dalam percobaan tersebut dengan beberapa faktor, diantaranya
kurang teliti praktikan dalam menimbang garam, ketidaktelitian praktikan
dalam mengukur banyaknya aquades, dan kurang larut dalam pengadukan
partikel.

I. KESIMPULAN

Pada percobaan pertama, kenaikan titik didih berdasarkan dasar teori yang
benar yaitu : Air garam > air gula > aquades. Namun, pada percobaan yang
dilakukan memiliki kenaikan titik didih yang sama, hal ini terjadi karena
beberapa faktor diantaranya kurang teliti praktikan dalam menimbang gula
dan garam, ketidaktelitian praktikan dalam mengukur banyaknya aquades,
dan kurang larut dalam pengadukan partikel.

Pada percobaan kedua, kenaikan titik didih sesuai dengan dasar teori yaitu
larutan gula dan garam dengan pelarut lebih banyak memiliki kenaikan titik
didih lebih banyak. Namun, dalam perhitungan secara teori hasil suhu yang
diperoleh tidak sesuai, hal ini terjadi karena kesalahan-kesalahan yang sama
pada percobaan pertama.

8
J. DAFTAR PUSTAKA

Brady, E. J.1999. Kimia Azas dan Struktur Edisi 5. Jakarta: Elangga.

Raymond and Chang.2015. Kimia Dasar Jilid I Edisi 3. Jakarta: Erlangga.

Sutrisno and Ela Turmala. 2011.Penuntut Praktikum Kimia Dasar . Pasundan:


Universitas Pasundan.

9
LAMPIRAN PERHITUNGAN DAN GRAFIK
 Berdasarkan Teori

Grafik Konsentrasi Larutan


Gula (molal) vs Titik Didih
100.5
Kenaikan Titik Didih
100.4 y = 0.5185x + 100
R² = 1
100.3
100.2 Y
100.1 Linear (Y)
100
0 0.2 0.4 0.6 0.8
Molalitas

Grafik Konsentrasi Larutan


Garam (molal) vs Titik Didih
101
Kenaikan Titik Didih
100.8 y = 1.04x + 100
R² = 1
100.6 y
100.4
100.2 Linear (y)
100
0 0.5 1
Molalitas

10
 Berdasarkan Percobaan

Titik didih (℃)


Grafik konsentrasi larutan garam vs titik
didih

Titik didih (℃)


9
8
9
7
.
5
0.0 0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
molal
11
DOKUMENTASI PERCOBAAN

No Gambar Keterangan
1. Alat dan bahan dalam
percobaan sifat
koligatif larutan
terdiri atas :
1. 3,4 gram gula
dan 0,6 gram
garam

2. 2. 3,4 gram gula,


10,3 gram, dan
13,7 gram

3. 3. 0,6 gram
garam, 1,8
gram garam,
dan 2,4 gram
garam

4. 4. Gelas Kimia
100 ml merk
pyrex

12
5. 5. Pengaduk

6. 6. Termometer

7. 7. Tiga larutan
gula dengan
massa pelarut
yang berbeda-
beda
dipanaskan
hingga
mendidih

13
8. 8. Tiga larutan
garam dengan
massa pelarut
yang berbeda-
beda
dipanaskan
hingga
mendidih

9. 9. Setelah
mendidih,
dilakukan
pengukuran
suhu pada
masing-masing
larutan

10. 10. Pengukuran


suhu dengan
menggunakan
termometer di
setiap masing-
masing larutan
gula dan larutan
garam

14
PERTANYAAN DAN JAWABAN

1. Mengapa titik didih larutan gula lebih tinggi dibandingkan titik didih air
?
Jawab : Pada larutan gula , memiliki titik didih lebih tinggi dari titik
didih aquades. Hal ini disebabkan adanya partikel - partikel zat terlarut
dalam larutan gula yang menghalangi peristiwa penguapan partikel -
partikel pelarut. Sedangkan, pada aquades tidak terdapat penghalang
partikel-partikel sehingga dapat mendidih lebih cepat jika
dibandingkan dengan larutan gula.

2. Mengapa sifat koligatif larutan elektrolit lebih besar dibandingkan


larutan non elektrolit ?
Jawab : Sifat koligatif larutan ditentukan oleh jumlah partikel (ion,
molekul) dalam larutan. Oleh karena itu, untuk konsentrasi yang sama,
sifat koligatif larutan elektrolit akan berbeda dengan sifat koligatif
larutan non-elektrolit. Hal ini dikarenakan jumlah partikel dalam
larutan elektrolit akan lebih banyak karena adanya proses ionisasi zat
terlarut. Zat elektrolit jika dilarutkan akan terionisasi menjadi ion-ion
yang merupakan partikel-partikel di dalam larutan. Hal ini
menyebabkan jumlah partikel pada satu mol larutan elektrolit lebih
banyak daripada larutan nonelektrolit.

15