Anda di halaman 1dari 10

BAB III

METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) rotasi Kesehatan Masyarakat
Veteriner (KESMAVET) dilakukan mulai tanggal 5-16 November 2018 yang
bertempat di Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Kesmavet) Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya Malang.
3.2 Peserta dan Pembimbing
Peserta koasistensi rotasi Kesehatan Masyarakat Veteriner (KESMAVET)
adalah mahasiswa PPDH FKH Universitas Brawijaya.
Nama : Sylvia Dean Setiyolaras, S.KH
NIM : 170130100011036
yang berada dibawah bimbingan drh.Ajeng Erika PH, M.Si.
3.3 Metode Kegiatan
Metode yang digunakan dalam koasistensi di Laboratorium KESMAVET
adalah pengujian terhadap sampel mentega dan melaksanakan diskusi dengan
dokter hewan pembimbing koasistensi.
3.4 Jenis Pengujian
- Pemeriksaan kualitas telur utuh
- Pemeriksaan kesegaran telur
- Pemeriksaan kualitas telur setelah dibuka
- Pemeriksaan Mikrobiologi Telur
3.5 Metode Pengujian Telur Ayam Ras
3.5.1 Pemeriksaan Organoleptik Telur Ayam Ras (SNI 3926:2008)
Prinsip :
Pemeriksaan kerabang telur dapat dilihat secara organoleptik,
yaitu dengan mengamati keutuhan telur, bentuk, warna, kehalusan dan
kebersihan cangkang telur. Selain itu berat telur juga diukur.
Alat dan bahan :
Alat dan bahan yang digunakan dalam uji ini adalah timbangan
dan telur ayam ras.
Cara Kerja :
-
Kerabang telur ayam ras dilihat dan diraba mulai dari ujung tumpul
sampai lancip untuk mengamati keutuhan, bentuk, warna, kehalusan dan
kebersihan.
-
Kemudian timbang berat telur ayam ras dan hasil pengamatan dicatat.
-
Telur yang baik memiliki bentuk normal, permukaan kerabang halus dan
tebal, tidak ada keretakan atau pecah dan bersih.
3.5.2 Pemeriksaan Kesegaran Telur Ayam Ras
3.5.2.1 Peneropongan Telur Ayam Ras (Candling) (SNI 3926:2008)
Prinsip :
Prinsip uji ini meneropong (candling) kearah sinar yang lebih kuat
dapat dilihat bagian luar dan dalam telur, seperti: keretakan kerabang,
kantung hawa, kuning telur, adanya bercak darah dan pertumbuhan
embrio.
Alat dan bahan:
Alat peneropong telur (candler) dan telur ayam ras yang akan
diuji.
Cara kerja :
-
Telur yang akan diperiksa diarahkan ke sinar dari alat peneropong telur
sambil diputar untuk melihat kemungkinan adanya kelainan isi telur,
seperti tinggi kantung udara, adanya bercak dan kematian embrio yang
menunjukkan warna hitam.
-
Dicatat hasilnya.
3.5.2.2 Pengukuran Tinggi Kantung Udara (SNI 3926:2008)
Prinsip :
Prinsip uji ini dengan melihat kantung hawa dari telur. Semakin
tinggi kantung hawa, maka umur telur sampel semakin tua.
Alat dan bahan :
Telur ayam ras, candler, dan pengukur kantung udara.
Cara Kerja :
-
Telur diletakkan di depan alat peneropong telur.
-
Kemudian dengan menggunakan alat pengukur dihitung diameter dan
tinggi kantung udara.
-
Pemberian grade atau kelas dilakukan dengan mengukur tinggi kantung
udara yaitu kelas AA (0,30 cm), kelas A (0,60 cm), kelas B (0,75 cm) dan
kelas C (0,90 cm).
3.5.2.3 Perendaman Air Garam (SNI 3926:2008)
Prinsip :
Telur yang baru dikeluarkan mempunyai kantung udara relatif
kecil, sehingga telur akan tenggelam bila dimasukkan ke dalam larutan
air garam 10% atau air biasa. Dengan bertambahnya umur telur, maka
kantung udara akan membesar dan telur akan melayang sampai
mengambang dipermukaan larutan air garam 10%.
Alat dan bahan :
Telur ayam ras, beker glass, timbangan, garam, dan air.
Cara kerja :
-
Larutan garam 10% dibuat dengan cara mencampur 10 gram garam
dan 100 mL air kemudian dimasukkan ke dalam gelas piala.
-
Dimasukkan telur ayam ras ke dalam larutan garam 10%.
-
Dicatat hasil pengamatan.
-
Telur yang segar akan tenggelam jika direndam air garam, mengambang
ketika mulai rusak dan terapung pada kerusakan yang parah.
3.5.3 Pemeriksaan Kualitas Telur Ayam Ras Setelah Dibuka

3.5.3.1 Pemeriksaan Putih dan Kuning Telur (SNI 3926:2008)


Prinsip :
Prinsip uji ini adalah pengamatan kebersihan, kekentalan dan
bau putih telur serta kebersihan, bau, bentuk dan posisi kuning telur
dilakukan dengan pancaindra.
Alat dan bahan :
Telur ayam ras, cawan petri besar, dan alkohol 70%.
Cara Kerja :
-
Kulit telur dibersihkan.
-
Kemudian didesinfeksi dengan alkohol 70% dibagian lancip
telur.
-
Kulit telur bagian lancip dibuka dan isi telur dituangkan ke dalam cawan
petri steril.
-
Diamati kebersihan dan konsistensi putih telur dan kuning telur, bentuk
dan posisi.
-
Dicatat hasil pengamatan.

3.5.3.2 Indeks Kuning Telur (Yolk Index) (SNI 3926:2008)


Prinsip :
Prinsip uji ini adalah semakin besar kuning telur, semakin kecil
indeks kuning telur. Telur yang baru mempunyai indeks kuning telur
antara 0,33 dan 0,52 dengan rata – rata 0,42.
Alat dan bahan :
Telur ayam ras, cawan petri besar, dan jangka sorong.
Cara kerja :
-
Kuning telur dipisahkan dari putihnya.
-
Kemudian diukur tinggi (a) dan diameter kuning telur (b).
-
Dihitung indeks kuning telur dengan menggunakan rumus :

Indeks A
Kuning Telur = B

3.5.3.3 Indeks Putih Telur (Albumin Index) (SNI 3926:2008)


Prinsip :
Prinsip uji ini adalah semakin tua umur telur, semakin lebar
diameter putih telur, sehingga semakin kecil indeks putih telur. Telur
baru mempunyai indeks putih telur antara 0,050 dan 0,174 dengan angka
normal antara 0,090 dan 0,120.
Alat dan bahan :
Telur ayam ras, cawan petri besar dan jangka sorong.
Cara kerja :
-
Putih telur dipisahkan dari kuningnya.
-
Kemudian diukur tinggi dari putih telur (a), tebal/ diameter rata-rata dari
tebal putih telur (b= b1+b2/2).
-
Dihitung indeks putih telur dengan menggunakan rumus :
A
Indeks Putih Telur =
B

3.5.3.4 Pemeriksaan Haugh Unit (HU) (SNI 3926:2008)


Prinsip :
Pemeriksaan Haugh Unit digunakan untuk melihat kesegaran
telur berdasarkan pengukuran tinggi putih telur, kental dan berat telur.
Semakin tinggi nilai HU maka kualitas telur semakin baik.
Alat dan bahan :
Timbangan, cawan petri, gunting, mikrometer, dan telur ayam
ras.

Cara Kerja :
-
Telur ayam ras ditimbang beratnya dan dicatat.
-
Telur dipecah di atas cawan petri.
-
Diukur tebal atau tinggi putih telur dengan menggunakan mikrometer.
-
Pengukuran dibatas putih telur dan kuning telur.
-
Dihitung HU menggunakan rumus:

HU= 100 log (H-√G(30W0,37-100) + 1,9

100

HU= 100 log (H+7,57-1,7W0,37)

Keterangan:
HU= Haugh Unit;
H= Tinggi Putih Telur (mm);
W= Berat Telur (gram).
Interpretasi Hasil :
Semakin tinggi nilai HU maka menunjukkan bahwa telur itu
semakin baik.

Nilai HU >72 61 - 72 31 – 60 < 31

Kualitas AA A B C
3.5.4 Pemeriksaan Mikrobiologis Telur Ayam Ras
3.5.4.1 Pemeriksaan Total Plate Count (TPC) dengan Media PCA (SNI
2897:2008)
Prinsip :
Menunjukkan jumah mikroba yang terdapat dalam suatu produk
dengan cara menghitung koloni bakteri yang ditumbuhkan pada media
agar.

Alat dan bahan :


Spuit 3cc, cawan petri, 6 tabung reaksi, pipet volumetric,
alumunium voil, botol media, colony counter, gunting, pinset, jarum
inokulasi, stomacher, bunsen, timbangan, vortex, inkubator, Plate Count
Agar (PCA), Buffer Pepton Water (BPW) 0,1 % dan telur ayam ras.
Cara kerja :
-
Timbanglah sebanyak 1 g sampel secara aseptic, kemudian masukkan
kedalam tabung reaksi.
-
Tambahkan larutan BPW 0,1 % hingga 10 ml kedalam kantong steril yang
sudah berisi sampel tersebut. Ini merupakan larutan dengan pengenceran
10-1.
-
Pindahkan 1 ml suspense pengenceran 10-1 tersebut dengan pipet steril
kedalam larutan 9 ml BPW untuk mendapatkan pengenceran 10-2
-
Buat pengenceran 10-3, 10-4, 10-5 dan seterusnya dengan cara yang sama
seperti pada prosedur sebelumnya sesuai kebutuhan.
-
Tambahkan 15 ml sampai dengan 20 ml PCA yang sudah didinginkan
hingga temperatur 45oC pada masing-masing cawan yang sudah berisi
suspense. Supaya larutan sampel dan media PCA tercampur seluruhnya,
lakukan pemutaran cawan kedepan dan kebelakang atau membentuk angka
delapan dan diamkan sampai memadat.
-
Inkubasikan pada suhu 37˚C selama 24 jam sampai 48 jam dengan
meletakkan cawan pada posisi terbalik.
-
Untuk perhitungan koloni, hitung jumlah koloni pada setiap seri
pengenceran kecuali cawan petri yang berisi koloni menyebar (spreader
colony). Pilih cawan yang mempunyai jumlah koloni 25 sampai dengan
250.
Penghitungan:
TPC (koloni/g) = N x F
Keterangan:
N = rata – rata koloni dari 2 cawan petri dari satu pengenceran
F = faktor pengenceran dari rata – rata koloni yang dipakai
3.5.4.2 Perhitungan Bakteri Coliform dengan Media VRB (SNI 2897-2008)
Alat dan bahan :
Cawan petri, pipet steril, bunsen, autoclave, inkubator, media
VRB, dan telur ayam ras.

Cara kerja :
-
Buatlah media VRB dengan cara melarutkan media VRB ke dalam
akuades (38,5 g/1 L). Panaskan larutan tersebut hingga mendidih.
Masukkan ke dalam waterbath suhu 50oC agar media tidak memadat.
-
Sama dengan metode TPC, namun pemupukan yang dilakukan berasal dari
tabung BPW 0,1 % pengenceran ke 10-1 sampai 10-3. Lakukan pemupukan
secara duplo.
-
Buka tutup cawan petri sedikit, kemudian tuang media VRB cair steril
yang telah didinginkan sampai suhu 45 – 50oC sebanyak 15 – 20 ml dan
cawan ditutup. Selanjutnya cawan digerak-gerakkan membentuk angka
delapan agar media merata. Biarkan media VRB hingga padat.
-
Cawan petri diinkubasi dengan posisi tutup dibalik ke dalam inkubator.
Inkubasi pada suhu 37oC selama 24 – 36 jam.
-
Hitung jumlah koloni dengan menggunakan colony counter.
Interpretasi :
Jumlah coliform normal maksimum 1 x 102 cfu/g. Koloni
berwarna merah ungu, dengan atau tanpa zona di sekitar koloni.
3.5.4.3 Pemeriksaan E. coli menggunakan media EMBA
Prinsip :
E. coli dapat memfermentasi laktosa yang mengakibatkan
peningkatan kadar asam dalam media. Kadar asam yang tinggi akan
mengendapkan methylen blue dalam media EMBA, sehingga terbentuk
warna hijau metalik.
Alat dan bahan :
Bunsen, cawan petri, inkubator, media EMBA, BPW 0,1 %,
tabung reaksi, pipet dan sampel telur ayam ras.
Cara kerja :
-
1 mL suspensi sampel dari pengenceran dengan BPW 0,1% yaitu
pengenceran 10-1 dimasukkan ke dalam cawan petri steril, kemudian 15-20
mL media EMBA dituangkan ke dalam cawan petri yang berisi suspensi
tadi.
-
Cawan petri diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Setelah diinkubasi,
koloni bakteri yang tumbuh pada media EMBA diamati.

Interpretasi :

Koloni E. coli berwarna hijau metalik

3.5.4.4 Pemeriksaan Salmonella sp. sesuai SNI 2897:2008


Prinsip :
Adanya pertumbuhan Salmonella sp. pada media Salmonella
Shigella Agar (SSA) yang diinkubasi selama 24 jam. Pertumbuhan
koloni Salmonella sp. ditandai dengan adanya koloni berwarna coklat,
abu–abu hingga hitam dan terkadang kilap logam. Apabila masa inkubasi
bertambah, maka warna media sekitar koloni mula-mula coklat
kemudian menjadi hitam.
Alat dan bahan :
Cawan petri, jarum inokulasi, pipet tabung reaksi, bunsen,
inkubator, autoclave, alkohol 70%, BPW 0,1%, telur ayam ras dan media
Salmonella Shigella Agar (SSA).
Cara kerja :
-
Diambil sampel dari pengenceran 10-1 sampel dan di streak dengan
menggunakan kawat ose pada media Salmonella Shigella Agar (SSA).
-
Kemudian cawan petri diinkubasi pada suhu 36oC selama 24 jam. Setelah
diinkubasi, diamati koloni bakteri yang tumbuh pada media Salmonella
Shigella Agar (SSA).
-
Jika warna koloni berwarna berwarna coklat, abu-abu hingga hitam dan
terkadang kilap logam maka sampel tersebut positif mengandung cemaran
Salmonella.
Interpretasi :
Secara normal telur konsumsi negatif salmonella.
3.5.5 Pengujian Residu Antibiotik (SNI 7424:2008)
Prinsip :
Pertumbuhan mikroorganisme pada media agar dihambat oleh
residu antibiotik yang terlihat dengan terbentuknya zona hambatan
disekitar kertas cakram. Konsentrasi residu antibiotik dapat ditunjukkan
berdasarkan besarnya diameter hambatan.

Alat dan bahan :


Paper disk, Mueller Hinton Agar (MHA), biakan bakteri dan
sampel telur ayam.
Cara kerja :
-
Biakan bakteri ditanam pada media MHA dengan cara spreader
sebanyak 0,1 ml.
-
Sampel ditempelkan paper disk dan dilakukan pembuatan kontrol positif
dengan menempelkan paper disk yang telah berisi antibiotik, sedangkan
disc satu nya dicelupkan pada sampel telur.
-
Semua paper disk diletakkan diatas media MHA yang telah bercampur
dengan biakan bakteri dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam.
Interpretasi :
Sampel dinyatakan positif mengandung residu antibiotika apabila
terbentuk daerah hambatan minimal 2 mm lebih besar dari diameter
paper disc (adanya zona bening).