Anda di halaman 1dari 9

PANDUAN PENGAMANAN KEBAKARAN

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia dan
anugerahnya yang telah diberikan kepada penyusun, sehingga buku Panduan Pengamanan
Kebakaran Rumah Sakit ini dapat selesai disusun. Buku panduan ini merupakan panduan kerja
bagi semua pihak yang terkait dalam rangka memberikan pelayanan kepada karyawan, pasien
dan keluarga pasien di rumah sakit. Tidak luput penyusun menyampaikan terima kasih yang
sedalam dalamnyanatas bantuan semua pihak yang telah membantu dab menyelesaikan buku
PANDUAN PENGAMANAN KEBAKARAN DI RUMAH SAKIT

…………………..

Penyusun
BAB I

DEFINISI

1. DEFINISI

1.1 Penurunan Resiko Kebakaran


Suatu cara atau tatanan dalam mengurangi resiko bahaya kebakaran di RS, segala upaya
untuk mengurangi penyalaan api yang tidak terkendali.

1.2 Deteksi Kebakaran Dini


Merupakan suatu system terintegrasi yang didesain untuk mendeteksi adanya gejala
kebakaran. Alarm tersebut memberikan peringatan dalam system evaluasi dan dilanjutkan
dengan system instalasi pemadam kebakaran secara otomatis maupun manual.

1.3 Sarana Jalan Keluar :


Sarana jalan keluar saat terjadi kegawatan darurat menuju titik kumpul avakuasi yang
berada di rumah sakit.

1.4 Sistem Ventilasi


System pertukaran udara yang terdapat di rumah sakit yang bekerja secara mekanik, elektrik
ataupun alamiah.

1.5 Bahan-Bahan Mudah Terbakar


Semua jenis bahan di rumah sakit yang mudah terbakar baik berbentuk padat, cair ataupun
gas dapat menimbulkan bahaya kebakaran.

1.6 Alat Pemadam Api Ringan ( APAR)

Alat yang ringan dan mudah dilayani oleh satu orang untuk memedamkan api pada mula
terjadi kebakaran yang terpasang di rumah sakit.
BAB II
RUANG LINGKUP

2. RUANG LINGKUP

Panduan ini digunakan untuk diseluruh rumah sakit.


BAB III
TATA LAKSANA
3. TATA LAKSANA

3.1 Penurunan Resiko Kebakaran


Upaya penurunan resiko kebakaran di rumah sakit antara lain dilakukan dengan cara
penyimpanan dan penanganan yang aman dari bahan-bahan berbahaya yang berpotensi
terbakar, termasuk bahan bakar dan gas yang mudah terbakar, misalnya solar dan gas
oksigen. Seluruh bahan berbahaya yang mudah terbakar dikelola dengan cara :

3.1.1 Membatasi jumlah bahan-bahan mudah terbakar.


3.1.1.1 hanya menyimpan bahan mudah terbakar sesuai kebutuhan.
3.1.1.2 Menyimpan bahan mudah terbakar, termasuk limbahnya dalam gudang dan
container yang sesuai.
3.1.1.3 Tidak membiarkan penumpukan sampah yang mudah terbakar dilokasi kerja.
3.1.2 Menyediakan ventilasi yang mencukupi sehingga uap dari bahan mudah terbakar
tidak terakumulasi.
3.1.2.1 Memasang ventilasi dengan design yang sesuai di area penyimpanan.
3.1.2.2 Pemeliharaan system ventilasi secara teratur.
3.1.3 Mengendalikan sumber penyalaan.
3.1.3.1 Memastikan bahwa tidak ada yang merokok di area-area dimana bahan-bahan
mudah terbakar disimpan dan digunakan.
3.1.3.2 Tidak menyimpan bahan-bahan mudah terbakar dekat peralatan yang panas
dan api terbuka serta lingkungan yang panas > 28˚C.
3.1.3.3 Pemakaian peralatan yang aman dan tidak memicu api.
3.2 Penilaian Resiko Kebakaran Saat Konstruksi.

KRITERIA
Lama >3 bulan 1 – 3 bulan ˂ 1 bulan ˂ 2 minggu ˂ 1 minggu
Pekerjaan
Dampak bagi Area rawat Area rawat Area staf dan Hanya area Tidak dipakai
perawatan inap jalan pengunjung staf
pasien
Bahaya Bahan Bahan dapat Bahan
bahan mudah terbakar dengan
bangunan terbakar bahaya
rendah
Bahaya Pengelasan Memproduksi Hanya
metode dengan api panas metode
konstruksi terbuka bahaya
rendah
Pemisah api Pemisah Lubang atau Lubang- 1-2 lubang Pemisah
dan asap tidak ada jarak besar lubang kecil kecil tahan 1 jam
Jalan keluar >Jalan keluar 2 jalan keluar 1 jalan keluar Tangga Tak ada
tertutup tertutup tertutup keluar gangguan
terhambat jalan keluar
Dampak Berbagai Suatu zona Bekerja System
terhadap zona atau tidak pada berfungsi
alarm system tidak berfungsi system penuh
kebakaran berfungsi alarm tidak
berfungsi
Partisi Partisi tidak Banyak Satu partisi Celah kecil Tidak ada
kontruksi tahan asap partisi bukaan 1 jam
sementara
Area Berbagai Satu tempat Tempat Tidak ada
penyimpanan tempat penyimpanan penyimpanan penyimpanan
penyimpanan di zona ditempat di zona
di zona yang
berdekatan
Akses ke Jalan keluar Satu jalan Eksterior Tidak ada
gedung dan tertutup keluar gedung hambatan di
ekterior tertutup tertutup >75 seluruh
gedung

Total Point : Dievaluasi Oleh : Tanggal :

˂ 50 : tidak perlu pengawasan khusus.

50 – 95 : Perlu pengawasan kebakaran harian

100 – 245 : perlu pengawasan api tiap jam

>250 : Perlu pengawasan api terus menerus


Sumber : Elmhurst Memorial Healtcare

3.3 Deteksi Dini Kebakaran dan Asap.


3.3.1 Deteksi dini kebakaran di Rumah Sakit dilakukan dengan metode system proteksi
aktif, yakni alarm dengan sensor panas maupun asap. Alarm dihubungkan dengan
sentral monitor sehingga lokasi alarm yang berbunyi dapat diketahui oleh system
deteksi RS.
3.3.2 Deteksi dini dapat juga dilakukan secara manual dengan cara pengaktifan manual
alarm kebakaran yang ada disetiap lantai pada box hydrant, sehingga setiap staf
yang melihat adanya kebakaran sekala kecil dapat mengaktifkan secara manual
system alarm kebakaran yang memacu aktivasi system penanggulangan kebakaran.
3.4 Pengurangan Kebakaran dan Penahanan Asap.
3.4.1 Sistem Perlindungan Pasif
System perlindungan kebakaran pasif adalah kontruksi atau rakitan yang
mempunyai sifat menahan api atau asap yang dimaksudkan untuk :
3.4.1.1 Mengurung atau membatasi pergerakan api dan atau asap kedaerah spesifik
didalam bangunan.
3.4.1.2 Mengendalikan penjalaran api dan asap didalam bangunan.
3.4.1.3 Meminimalkan bahaya atau memperlambat kegagalan dan distirsi komponen
struktur bangunan.
3.4.1.4 Dan menyediakan jalan keluar yang aman.
3.4.1.5 Suatu sarana /bahan tahan api yang berfungsi untuk melindungi stryktur
bangunan terutama konstruksi baja dari bahaya deformasi struktur akibat panas
api tanpa perlu diaktifkan/dioperasikan.
3.4.1.6 Difungsikan untuk memberikan waktu yang cukup pada saat terjadinya
kebakaran, sehingga evakuasi korban dan penghuni dapat diselamatkan.
3.4.1.7 Memperkecil resiko penyebaran/penjalaran api sehingga tidak menimbulkan
kerusakan/kerugian yang lebih besar ataupun melokalisir kebakaran di area
tersebut.
3.4.2 Proteksi kebakaran pasif tidak memerlukan suatu intervensi baik manual atau
otomatik dari operasi normal bangunan.
Proteksi kebakaran pasif meliputi :
3.4.2.1 sistem/rakitan langit-langit.
3.4.2.2 Dinding kompartemen.
3.4.2.3 Dinding dan partisi tahan api.
3.4.2.4 Tangga kebakaran, lantai, damper kebakaran, cerobong udara.
3.4.2.5 Proteksi rangka struktur bangunan, membrane atau pratisi horizontal.
3.4.2.6 Pintu tahan api ( pintu dan perlengkapan seperti kaca tahan api, daun pintu,
rangka, engsel, pengunci dan penutup pintu otomatik), ditempatkan disetiap
pintu menuju tangga darurat dan dikoridor ruang perawatan pasien.
3.4.3 Sistem Perlindungan Aktif
System perlindungan kebakaran aktif system mekanikal atau elektrikal yang
memerlukan intervensi manual atau secara otomatik untuk mendeteksi dan
memadamkan atau mengendalikan kebakaran atau asap. System proteksi aktif
meliputi :
3.4.3.1 Sistem Deteksi Alarm.
Detektor asap menggunakan system addressable yaitu setiap titik detector bilaa
terjadi indikasi kebakaran akan termonitor posisi detector yang sedang aktif
sesuai ruangan terpasang. Total digedung yang terpasang 57 titik smoke
detector. System deteksi alarm dapat dimonitor di Fire Control dan Posko
Keamanan. Saat terjadi general alarm system terintegrasi sarana gedung
meliputi : Lift stand by semua dilantai 1 tidak bias dioperasikan, menonaktifkan
AC sentral, mengaktifkan Pressurize Air Fan, mengaktifkan smoke extrak fan,
membuka semua pintu acces card public area, membuka pintu kaca di
emergency dan lobby utama dan mengaktifkan paging seluruh gedung dengan
pengumuman perintah evakuasi seluruh gedung.
3.4.3.2 Sistem Pemadam Api.
a. Water Base
b. Hydrant berjumlah …. buah, dilayani oleh pompa kebakaran terdiri dari
pompa pacu, pompa elektrik dan pompa diesel. Ketersediaan air pemadam
kebakaran berfungsi untuk menyediakan air pemadam kebakaran selama 60
menit. Tanki air pemadam kebakaran ini berkombinasi dengan tangki air
bersih berlokasi menjadi satu dengan pompa kebakaran yaitu di ground
tank dekat parker motor sebagai utility area.
c. Chemical Base
1. Alat Pemadam Api Ringan (APAR)/ Fire Extingusher diletakkan disetiap
selasar dan public area dan area-area beresiko tinggi, seperti kichen,
area-area listrik, area bahan bakar, housekeeping, sentral gas medic dan
LPG, ruang pompa.
2. Tersedia 2 jenis bahan yaitu powder dan CO2 dan total tersedia siap
pakai …. Tabung APAR.
3.5 Jalan Keluar yang Aman Dari Fasilitas Kebakaran.
3.5.1 rumah Sakit telah merencanakan jalan keluar yang aman dari fasilitas. Setiap area di
RS dilengkapi dengan rambu-rambu jalur evakuasi menuju pintu darurat yang dapat
menyala dalam kegelapan. Koridor dirancang menggunakan kompaetemen dan
pintu darurat dirancang tahan api selama 2 jam sehingga aman untuk rposes
evakuasi. Tangga darurat sebagai jalur evakuasi menuju areaberkumpul dilengkapi
oleh fresh air, dan lampu darurat yang tersambung dengan UPS, sehingga dapat
tetap menyala dalam kondisi arus listrik terputus dengan durasi waktu 1 s/d 2 jam
nyala. Hal ini sesuai dengan KEPMENNEG Pekerjaan Umum No 10/KPTS/2000
Tentang Ketentuan Teknis Pengamanan Terhadap Bahaya Kebakaran Pada
Bangunan Gedung dan Lingkungan.
3.5.2 Terdapat ….tempat titik kumpul evakuasi yang tersedia saat dilakukan evakuasi
seluruh gedung.

3.6 Inspeksi , Pengujian dan Pemeliharaan Sistem Deteksi Kebakaran dan Pengurangan
Kebakaran.
3.7 Program inspeksi, pengujian dan pemeliharaan system deteksi dan pengurangan kebakaran
dilakukan secara teratur, seluruh kegiatan dilakukan sesuai waktu yang tealah ditentukan
dan hasilnya dicatat dan disimpan untuk dievaluasi dan peningkatan.
3.8 Perizinan sarana dan prasarana kebakaran ditinjau instansi Pemerintah Depnakertras dan
Dinas Pemadam Kebakaran 1 tahu sekali untu ketentuan kelayakan.
3.9 Kebijakan /Prosedur dilarang Merokok.
Kebijakan kawasan dilarang merokok di RS adalah area / lingkungan bebas tembakau / rokok
baik didalam maupun diluar RS. Merokok dilarang dimana saja di area RS, termasuk didepan
dan ditrotoar sekeliling bangunan RS. Merokok juga dilarang di bangunan yang disewakan.
Sebagai pengawas dan pelaksana kebijakan ini dilakukan uleh satgas yang berasal dari
keamanan gedung untuk malukukan patrol dengan identitas tersendiri sesuai standart
BPLHD setempat.
BAB IV

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI

Semua hasil kegiatan harus terdokumentasikan dan disimpan dibagian umum.