Anda di halaman 1dari 9

BAB III

METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu Kegiatan


Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) rotasi Kesehatan
Masyarakat Veteriner dilakukan mulai tanggal 5-16 November 2018 yang
bertempat di Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Kesmavet) Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya Malang.
3.2 Peserta Kegiatan
Peserta koasistensi rotasi Kesehatan Masyarakat Veteriner adalah
mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan
(PPDH FKH) Universitas Brawijaya.
Nama : Sylvia Dean Setiyolaras, S.KH
NIM : 170130100011036
yang berada dibawah bimbingan drh. Ajeng Erika PH, M.Si.
3.3 Metode Kegiatan
Metode yang digunakan dalam koasistensi di Laboratorium Kesehatan
Masyarakat Veteriner adalah:
1. Melaksanakan pengujian terhadap sampel susu kambing.
2. Melaksanakan diskusi dengan dokter hewan pembimbing koasistensi.
3.4 Metode Prosedur Pengujian
3.4.1 Uji Organoleptik (SNI 01-2782-1998, Metode Pengujian Susu Segar)
Prinsip :
Uji organoleptik melakukan pengujian pada sampel dengan
menggunakan panca indra untuk mengetahui adanya perubahan warna,
bau, rasa dan konsistensi dari susu.
Alat dan bahan :
Bekker glass dan sampel susu kambing.
Cara kerja :
- Bekker glass diisi dengan sampel susu kambing sebanyak ± 5 ml,
kemudian dilakukan pengamatan warna sampel susu kambing.
- Sampel susu kambing dicium dengan jarak ± ½ cm dari hidung
untuk mengetahui aromanya.
- Selanjutnya sampel diamati dan digoyangkan untuk mengetahui
konsistensi sampel, terjadi pemisahan atau tidak antara komponen
padat dan cairan.
- Sebanyak ± 1 sendok sampel diambil dan dirasakan dengan lidah.
Interpretasi :
Hasil susu kambing normal :
- Susu kambing berwarna putih.
- Memiliki aroma dan rasa yang aromatis khas susu kambing.
- Konsistensi baik, tidak meninggalkan butiran-butiran pada dinding.
3.4.2 Uji Kebersihan/ Penyaringan (SNI 01-2782-1998, Metode Pengujian
Susu Segar)
Prinsip :
Prinsip kerja dari uji kebersihan adalah kotoran yang terdapat di
dalam susu akan tampak dengan kasat mata tertinggal di kertas saring.
Alat dan bahan :
Tabung erlenmeyer, kertas saring, corong kaca dan sampel susu
kambing.
Cara kerja :
- Sampel susu kambing disiapkan sebanyak 250 ml.
- Secara perlahan susu dituangkan sampai habis ke tabung erlenmeyer
melewati corong kaca dan kertas saring. Selanjutnya diamati dan
diperiksa kotoran yang tertinggal pada kertas saring.
Interpretasi :
Hasil positif ditunjukkan dengan adanya kotoran yang tersangkut di
kertas saring.
3.4.3 Uji pH dengan pH Strip (Padaga et al., 2014)
Prinsip :
Prinsip kerja pengukuran pH dengan pH strip yaitu kertas pH strip
akan berubah warna sesuai dengan tingkat keasaman dan dibandingkan
dengan warna standar indikator.
Alat dan bahan :
Sampel susu kambing, kertas tisu, cawan petri dan kertas indikator
universal.
Cara kerja :
- Kertas pH strip dicelupkan ke dalam sampel susu kambing.
Kemudian dibandingkan dengan deret standar warna indikator untuk
mengetahui pH sampel susu.
Interpretasi :
- Perubahan warna < 7 : bersifat asam
- Perubahan warna > 7 : bersifat basa
3.4.3 Uji Didih (Padaga et al., 2014)
Prinsip :
Prinsip kerja dari uji didih adalah kestabilan kasein susu akan
berkurang jika susu menjadi asam, sehingga susu yang tidak baik akan
pecah atau menggumpal apabila dipanaskan sampai mendidih.
Alat dan bahan :
Sampel susu kambing segar, tabung reaksi, api bunsen dan penjepit
kayu.
Cara kerja :
- Tabung reaksi diisi dengan sampel susu sebanyak 5 ml.
- Selanjutnya dengan bantuan penjepit kayu sampel susu dipanaskan
sampai mendidih.
- Diamati ada atau tidaknya gumpalan pada bagian dinding tabung
reaksi.
Interpretasi :
- Positif : terdapat gumpalan atau butiran halus pada dinding tabung.
3.4.5 Uji Alkohol (70%) (SNI 01-2782-1998, Metode Pengujian Susu Segar)
Prinsip :
Prinsip kerja dari uji alkohol adalah kestabilan sifat koloid susu
tergantung pada selubung air (micelle casein phosphate) yang menyelimuti
butiran protein terutama kasein. Alkohol yang ditambahkan ke dalam susu
menyebabkan susu pecah, karena alkohol memiliki daya dehidrasi
sehingga protein akan terkoagulasi.
Alat dan bahan :
Tabung reaksi, alkohol 70% dan sampel susu kambing.
Cara kerja :
- Satu bagian sampel susu kambing (5 ml) ditambahkan alkohol 70%
sama banyak (5 ml) (perbandingan 1:1), lalu dikocok. Kemudian
diamati hasilnya. Susu akan pecah pada keasaman susu >9oSH.
- Satu bagian sampel susu kambing (5 ml) ditambahkan 2 bagian
alkohol 70% (10 ml) (perbandingan 1:2), lalu dikocok. Kemudian
diamati hasilnya. Susu akan pecah pada keasaman susu >8oSH.
Interpretasi :
Hasil positif ditunjukkan dengan adanya gumpalan yang menempel
pada dinding tabung.
3.4.6 Uji Titrasi Keasaman Soxhlet Henkel (SNI 01-2782-1998, Metode
Pengujian Susu Segar)
Prinsip :
Prinsip kerja uji titrasi keasaman Soxhlet Henkel adalah jumlah ml
NaOH 0,25 N yang diperlukan untuk menetralisasi asam yang berada dalam
100 ml sampel dengan phenolpthalein sebagai indikator.
Alat dan bahan :
Sampel susu kambing, buret dengan skala 0,05-0,01 ml, 2 tabung
erlenmeyer 100 ml, pipet berskala, larutan NaOH 0,25 N dan phenolpthalein
1%.
Cara kerja :
- Susu sebanyak 50 ml dimasukkan ke dalam 2 tabung erlenmeyer.
- Pada tabung erlenmeyer pertama ditambahkan indikator
phenolphthalein sebanyak 2 tetes, sedangkan tabung erlenmeyer
yang ke-2 sebagai kontrol.
- Tabung erlenmeyer pertama dititrasi dengan NaOH 0,25N setetes
demi setetes sambil digoyang-goyangkan sampai terbentuk warna
merah muda, pada kondisi ini sudah tercapai bagian antara asam dan
basa. Jumlah NaOH 0,25 N yang digunakan dikali dua karena
jumlah ml susu yang dipakai 50 ml.
3.4.7 Uji Berat Jenis (SNI 01-2782-1998, Metode Pengujian Susu Segar)
Prinsip :
Prinsip kerja dari uji berat jenis adalah benda padat yang dicelupkan
ke dalam cairan akan mendapatkan tekanan ke atas sebesar benda yang
dipindahkan. Berat jenis diukur pada suhu 20-30oC.
Alat dan bahan :
Laktodensimeter yang ditera pada suhu 27,5oC (26oC), termometer, 2
gelas ukur 500 ml dan sampel susu kambing.
Cara kerja :
- Sampel susu kambing sebanyak 250 ml dihomogenkan dengan cara
menuangkan dari gelas ukur satu ke gelas ukur lainnya tanpa
menimbulkan buih supaya lemak merata.
- Dimasukkan sampel susu homogen tersebut ± 2/3 gelas ukur
- Laktodensimeter dan termometer dimasukkan secara perlahan ke
dalam gelas ukur. Ditunggu sampai laktodensimeter berhenti
bergerak.
- Skala laktodensimeter dan suhu kemudian dibaca. Skala yang
ditunjukkan dan angka yang terbaca menunjukkan angka ke-2 dan
ke-3 dibelakang koma (1,0…).
- Kemudian hasilnya disesuaikan dengan BJ pada suhu 27,5oC.
Perhitungan :
BJ = n + {(T-27,5) x 0,0002}
Keterangan :
n : angka BJ pada laktodensimeter
T : suhu pada thermometer
3.4.8 Uji Kadar Lemak (Metode Gerber) (SNI 01-2782-1998, Metode
Pengujian Susu Segar)
Prinsip :
Prinsip kerja dari uji kadar lemak adalah penambahan H 2SO4 pekat
pada susu akan merombak dan melarutkan kasein serta protein susu yang
lain. Penambahan amylalkohol dan panas akan mencairkan lemak,
sehingga butir-butir lemak menjadi lebih besar yang berupa cairan jernih
di atas H2SO4.
Alat dan bahan :
Tabung butyrometer Gerber, rak, penangas air, sentrifus, pipet
otomatis 10 mL, 1 mL dan 11 mL, kain lap, sumbat karet, larutan H2SO4
pekat 92%, larutan amylalkohol dan sampel susu kambing.
Cara kerja :
- Butyrometer ditegakkan pada rak, kemudian diisi dengan 10 ml
H2SO4 pekat 92% menggunakan pipet otomatis.
- Ditambahkan 10,75 ml sampel susu yang sudah diaduk sebelumnya
melalui dinding tabung supaya cairan tetap terpisah.
- Amylalkohol ditambahkan sebanyak 1 ml, kemudian tabung
butyrometer disumbat dengan karet. Bungkus butyrometer Gerber
dengan lap karena saat mengocok akan timbul panas.
- Butyrometer dikocok membentuk angka delapan, sampai terbentuk
warna coklat kehitaman.
- Butyrometer disentrifus dengan kecepatan 1200 rpm selama 5 menit.
- Butyrometer direndam dalam penangas air suhu 65oC selama 5
menit, posisi sumbat karet di bawah.
- Kadar lemak (warna kekuningan) dibaca pada bagian berskala
(dinyatakan dalam % yang artinya jumlah gram lemak dalam 100
gram susu).
3.4.9 Uji Kadar Bahan Kering (BK) (Padaga et al., 2014)
Perhitungan menggunakan metode Fleishmann (%) :

Keterangan :
BK : Bahan kering
L : Lemak (%)
BJ : Berat jenis susu pada suhu 27,5oC
3.4.10 Uji Kadar Bahan Kering Tanpa Lemak (BKTL) (Padaga et al., 2014)
Rumus BKTL :
BKTL = BK - L
Keterangan :
BKTL : Bahan Kering Tanpa Lemak (%)
L : Kadar Lemak (%)
3.4.11 Uji Kadar Protein (Padaga et al., 2014)
Pengukuran kadar protein dengan rumus :
Kadar protein (%) = L/2 + 1,4
Keterangan :
L : Kadar Lemak
3.4.12 Uji Residu Antibiotik (SNI 7424:2008)
Prinsip :
Residu antibiotika akan menghambat pertumbuhan
mikroorganisme pada media agar. Penghambatan dapat dilihat dengan
terbentuknya daerah hambatan sekitar kertas cakram/paper disc. Diameter
daerah hambatan menunjukkan konsentrasi residu antibiotika.
Alat dan bahan :
Sampel susu kambing, paper disc, Mueller Hinton Agar (MHA)
dan bakteri standar Bacillus subtilis yang dibiakkan pada media Nutrien
Agar (NA).
Cara Kerja:
- Bakteri Bacillus subtilis dibiakkan pada media NA, diinkubasi
36oC selama 24 jam.
- Biakkan bakteri Bacillus subtilis 1 streak ose diencerkan dengan 5
ml NaCl fisiologis. 0,1 ml biakkan bakteri yang sudah diencerkan
ditanam pada media MHA secara spreader.
- Paper disc ditempelkan pada sampel susu kambing, kemudian
diletakkan di atas media MHA yang bercampur dengan bakteri
Bacillus subtilis.
- Diinkubasi pada suhu 36oC selama 24 jam.
Interpretasi :
Sampel dinyatakan positif mengandung residu antibiotika apabila
terbentuk daerah hambatan minimal 2 mm lebih besar dari diameter paper
disc (adanya zona bening).
3.4.13 Uji Perhitungan Sel Somatis (Metode Breed) (SNI 01-2782-1998,
Metode Pengujian Susu Segar)
Prinsip :
Prinsip kerja perhitungan sel somatis dengan metode breed yaitu
menghitung jumlah sel somatis dan bakteri dalam 0,01 ml susu dengan
menggunakan pewarnaan Breed (methylen blue).
Alat dan bahan :
Object glass, kertas breed, ose berujung siku, mikroskop, bunsen,
eter alkohol, pewarna methylen blue loffler dan sample susu kambing.
Cara kerja :
- Object glass dibersihkan dengan eter alkohol dan diletakkan diatas
kertas breed.
- Sampel susu dihomogenkan, kemudian diambil dengan pipet breed
sebanyak 0,01 ml, diteteskan di atas object glass yang terletak tepat
diatas kotak 1 cm2.
- Sampel susu disebarkan diatas permukaan object glass seluas 1 cm2
menggunakan ose berujung siku.
- Selanjutnya dikeringkan di udara selama 5-10 menit, kemudian
difiksasi dengan api bunsen.
- Dilakukan pewarnaan breed (rendam object glass dalam eter alkohol
selama 2 menit, digoyang-goyangkan untuk melarutkan lemak susu,
diteteskan methylen blue di atas preparat susu. Object glass
dimasukkan ke dalam larutan alkohol 96%).
- Jumlah sel somatis dihitung menggunakan mikroskop perbesaran
100x.
Perhitungan jumlah sel somatis :
Jumlah sel somatis = F x B
Keterangan :
F : Faktor mikroskop
B : Rataan jumlah sel somatis dari 10-30 lapang pandang
3.4.14 Uji California Mastitis Test (CMT) (Padaga et al., 2014)
Prinsip :
Prinsip kerja uji CMT adalah pereaksi CMT akan bereaksi dengan
DNA dari inti sel somatis, sehingga akan terbentuk massa kental seperti
gelatin. Semakin kental massa yang terbentuk, maka semakin tinggi
tingkat reaksinya, yang berarti jumlah sel somatis semakin tinggi.
Alat dan bahan :
Paddle, pereaksi CMT dan sampel susu kambing.
Cara kerja :
- Sampel susu sebanyak 2-3 ml dimasukkan ke dalam paddle.
- Kemudian ditambahkan pereaksi CMT dengan perbandingan 1 : 1
dan dihomogenkan dengan memutar paddle selama 20-30 detik.
- Diamati reaksi yang terjadi (mulai mencampur sampai pembacaan
hasil jangan lebih dari 30 detik (dapat terjadi false positif).
Interpretasi hasil :
- Positif 1 (+) : terbentuk lendir
- Positif 2 (++) : terbentuk lendir kental
- Positif 3 (+++) : terbentuk lendir yang sangat kental seperti
massa gelatin
3.4.15 Uji Perhitungan Total Plate Count (TPC) (Padaga et al., 2014)
Prinsip :
Prinsip dari metode TPC adalah apabila sel mikroba yang masih
hidup ditumbuhkan pada medium, maka mikroba tersebut akan
berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung.
Kemudian dihitung tanpa menggunakan mikroskop.
Alat dan bahan :
Cawan petri, pipet ukur, tabung reaksi, bunsen, jarum inokulasi,
inkubator, autoclave, colony counter, Buffer Pepton Water (BPW) 0,1%,
Violet Red Bile Agar (VRB) agar, Plate Count Agar (PCA) dan sampel
susu kambing.
Cara kerja :
- Dilakukan pengenceran susu 10-1 dengan memasukkan 1 ml susu ke
tabung reaksi dan ditambahkan 9 ml larutan BPW 0,1%, lalu
dihomogenkan.
- Sebanyak 1 ml pengenceran 10-1 diambil dengan menggunakan pipet
steril dan ditambahkan ke dalam 9 ml larutan BPW 0,1% pada tabung
reaksi lain untuk mendapatkan pengenceran 10-2.
- Pengenceran dilanjutkan sampai dengan pengenceran10-7 dengan cara
yang sama seperti pada prosedur sebelumnya.
- Sebanyak 1 ml sampel dari hasil pengenceran 10-110-210-3 dimasukkan
ke dalam cawan petri yang berbeda. Setiap pengenceran yang dituang
pada cawan petri, dibuat duplo.
- Kemudian media VRB cair yang telah didinginkan hingga suhu 45 oC
dituangkan sebanyak 10-15 ml. Kemudian cawan petri digerakkan
membentuk angka delapan agar homogen dan didiamkan hingga media
padat.
- Setelah agar VRB memadat, ditambahkan 3-4 ml agar VRB cair
(45oC), dibiarkan memadat kembali.
- Setelah memadat, diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam.
Kemudian dihitung jumlah koloni berwarna merah keunguan yang
dikelilingi oleh zona merah.
- Sebanyak 1 ml sampel dari hasil pengenceran 10-510-610-7 dimasukkan
ke dalam cawan petri yang berbeda. Setiap pengenceran yang dituang
pada cawan, dibuat duplo.
- Selanjutnya media PCA cair yang telah didinginkan hingga suhu 45 oC
dituangkan sebanyak 10-15 ml. Cawan petri digerakkan secara
melingkar agar homogen, media didiamkan hingga padat.
- Kemudian diinkubasi dengan posisi terbalik dalam inkubator suhu
37oC selama 24 jam.
- Jumlah koloni dihitung setiap seri pengenceran dengan tally counter.
Dipilih cawan yang mempunyai jumlah koloni 25 sampai dengan 250.
3.4.16 Uji Perhitungan Total Jumlah Coliform dengan Metode Hitung Cawan
Prinsip :
Total Plate Count (TPC) untuk menunjukkan jumlah mikroba yang
terdapat dalam suatu produk dengan cara menghitung koloni bakteri yang
ditimbulkan pada media agar.
Alat dan bahan :
Sampel susu kambing 1 ml, 12 cawan petri, 7 tabung reaksi, 7
pipet ukur steril 1 ml, bunsen, inkubator, autoclave, colony counter,
gunting, pinset, timbangan, Violet Red Bile Agar (VRB) dan Buffer Pepton
Water (BPW) 0,1%.
Cara kerja :
- Sampel susu kambing sebanyak 1 ml secara aseptik dimasukkan ke
dalam tabung reaksi steril dengan ditambahkan 9 ml BPW (10-1).
- Dipindahkan 1 ml suspensi pengenceran 10-1 tersebut dengan pipet
steril ke dalam larutan 9 ml BPW untuk mendapatkan pengenceran
10-2 dan seterusnya dengan cara yang sama dibuat pengenceran 10-
3
,10-4, 10-5.
- Pemupukan dari masing-masing pengenceran dengan cara
memasukkan 1 ml sampel ke dalam cawan petri steril.
- Untuk pengenceran 10-1, 10-2, 10-3 dituang ke cawan petri yang
akan di tuang media VRB.
- Penanaman pada media agar dibuat duplo. Jumlah media VRB
yang dituang adalah 15-20 ml yang sudah didinginkan hingga
temperatur 50oC pada masing-masing cawan yang sudah berisi
suspensi.
- Dilakukan pemutaran cawan ke depan dan belakang atau
membentuk angka delapan dan diamkan sampai memadat.
- Diinkubasikan pada suhu 36oC selama 24 jam dengan meletakkan
cawan pada posisi terbalik.
- Dihitung semua koloni yang berwarna merah keunguan yang
dikelilingi oleh zona merah.
Interpretasi :
Cawan petri yang digunakan dalam perhitungan adalah yang
memiliki jumlah koloni 30-100, jika jumlah koloni lebih besar dari 100
maka biasanya diameter coliform lebih kecil dari 0,5 mm.
3.4.17 Uji Cemaran E. coli (SNI 2897:2008), Metoda Pengujian Cemaran
Mikroba Daging, Telur dan Susu serta Hasil Olahannya)
Prinsip :
Prinsip kerja uji E.coli adalah media Eosin Methylene Blue Agar
(EMBA) menggunakan eosin dan methylene blue sebagai indikator yang
akan memberikan perbedaan yang nyata antara koloni yang dapat
memfermentasikan laktosa dan yang tidak. Mikroba yang
memfermentasikan laktosa menghasilkan koloni dengan inti berwarna
gelap dengan kilap logam, sedangkan mikroba lain yang dapat tumbuh
koloninya tidak berwarna.
Alat dan bahan :
Cawan petri, jarum inokulasi, bunsen, sampel susu kambing yang
diencerkan dalam BPW, sampel susu kambing dan media Eosin Methylene
Blue Agar (EMBA).
Cara kerja :
- Sampel susu kambing yang sudah diencerkan dalam larutan BPW
(pengenceran 10-1) di streak dengan ose pada media EMBA.
- Lakukan metode yang sama dengan menggunakan sampel
langsung dari susu kambing.
- Cawan petri diinkubasi pada suhu 36oC selama 24 jam. Setelah
inkubasi, diamati kemungkinan adanya koloni bakteri E. Coli yang
tumbuh pada media EMBA.
Morfologi koloni E. coli :
- Koloni E. coli berwarna hijau metalik.