Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

RADIKALISME AGAMA

D
I
S
U
S
U
N

OLEH :

Nama : Rodiah,S.A
NIP : 197111012005 042006
Pangkat/Golongan : Penata Muda III.c

PENYULUH AGAMA ISLAM FUNGSIONAL


KECAMATAN TANJUNG RAJA
KABUPATEN OGAN ILIR
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Praktek kekerasan yang mengatasnamakan agama, dari fundamentalisme,
radikalisme, hingga terorisme, akhir-akhir ini semakin marak di tanah air. Kesatuan dan
persatuan bangsa saat ini sedang diuji eksistensinya. Berbagai indikator yang
memperlihatkan adanya tanda-tanda perpecahan bangsa, dengan transparan mudah kita
baca. Konflik di Ambon, Papua, maupun Poso, seperti api dalam sekam, sewaktu-waktu
bisa meledak, walaupun berkali-kali bisa diredam. Peristiwa tersebut, bukan saja telah
banyak merenggut korban jiwa, tetapi juga telah menghancurkan ratusan tempat ibadah
(baik masjid maupun gereja).
Bila kita amati, agama seharusnya dapat menjadi pendorong bagi ummat
manusia untuk selalu menegakkan perdamaian dan meningkatkan kesejahteraan bagi
seluruh ummat di bumi ini. Namun, realitanya agama justru menjadi salah satu
penyebab terjadinya kekerasanan dan kehancuran ummat manusia. Oleh karena itu,
diperlukan upaya-upaya preventif agar masalah pertentangan agama tidak akan terulang
lagi di masa yang akan datang. Misalnya, dengan mengintensifkan forum-forum dialog
antar ummat beragama dan aliran kepercayaan (dialog antar iman), membangun
pemahaman keagamaan yang lebih pluralis dan inklusif, dan memberikan pendidikan
tentang pluralisme dan toleransi beragama melalui sekolah (lembaga pendidikan).
Pada sisi yang lain, pendidikan agama yang diberikan di sekolah-sekolah pada
umumnya juga tidak menghidupkan pendidikan multikultural yang baik, bahkan
cenderung berlawanan. Akibatnya konflik sosial sering kali diperkeras oleh adanya
legitimasi keagamaan yang diajarkan dalam pendidikan agama di sekolah-sekolah
daerah yang rawan konflik. Hal ini membuat konflik mempunyai akar dalam keyakinan
keagamaan yang fundamental sehingga konflik sosial kekerasan semakin sulit diatasi,
karena dipahami sebagai bagian dari panggilan agamanya.
Realita tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama baik di sekolah umum
maupun sekolah agama lebih bercorak eksklusive, yaitu agama diajarkan dengan cara
menafikan hak hidup agama lain, seakan-akan hanya agamanya sendiri yang benar dan
mempunyai hak hidup, sementara agama yang lain salah, tersesat dan terancam hak
hidupnya, baik di kalangan mayoritas maupun minoritas. Seharusnya pendidikan agama
dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengembangkan moralitas universal yang ada
dalam agama-agama sekaligus mengembangkan teologi inklusif dan pluralis. Berkaitan
dengan hal ini, maka penting bagi institusi pendidikan dalam masyarakat yang
multikultur untuk mengajarkan perdamaian dan resolusi konflik seperti yang ada dalam
pendidikan multikultural.

B. Rumusan Masalah
1 Bagaimana Tata Pergaulan Masyarakat Indonesia ?
2 Apakah Pengertian Pendidikan Islam dan Multikulturalisme ?
3 Bagaimana Islam dan Multikulturalisme ?
4 Bagaimanakah Pendidikan Islam Sebagai Upaya Membangun Multikulturalisme?

C. Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut:
1. menganalisis tentang Urgensi Pendidikan di dalam Tata Pergaulan
masyarakat Indonesia.
2. menganalisis Pendidikan Islam dan Multikulturalisme yang ada di Indonesia.
3. menganalisis upaya Pendidikan Islam guna Membangun Multikulturalisme tata
Pergaulan Masyarakat Indonesia.

D. Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Penulis
Pembuatan makalah ini telah memberikan berbagai pengalaman bagi penulis,
seperti pengalaman dalam mengumpulkan bahan dari berbagai sumber baik buku-buku
maupun artikel-artikel yang relevan dengan masalah yang dikaji. Selain itu penulis juga
mendapatkan berbagai pengalaman mengenai teknik penulisan makalah, teknik
pengutipan, dan teknik penggabungan materi dari berbagai sumber.
2. Bagi Pembaca
Strategi pendidikan Islam tidak hanya bertujuan agar supaya siswa mudah
memahami pelajaran yang dipelajarinya, akan tetapi juga untuk meningkatkan
kesadaran mudah memahami pelajaran yang dipelajarinya, akan tetapi juga untuk
meningkatkan kesadaran
Agaknya menarik perhatian kita untuk berfikir ulang tentang peran agama, lebih
khusus pendidikan agama Islam dalam mewarnai kehidupan masyarakat yang majemuk
ini. Pendidikan Islam harus mampu menumbuhkan kesadaran pluralisme-
multikulturtalisme sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang ada pada sesama
manusia, apa pun jenis perbedaannya, serta bagaimana agar perbedaan tersebut diterima
sebagai hal yang alamiah (natural, sunnatullah) dan tidak menimbulkan tindakan
diskriminatif, sebagai buah dari pola perilaku dan sikap hidup yang mencerminkan iri
hati,dengki dan buruk sangka. Makalah ini berusaha membahas tentang urgensi
pendidikan Islam dalam membangun kesadaran multikulturalisme dalam masyarakat
multikultural yang sarat dengan berbagai permasalahan seperti telah disebutkan.
Dengan problem-problem tersebut, apa yang bisa ditawarkan oleh lembaga pendidikan
Islam untuk turut andil mengatasinya sehingga pada akhirnya pendidikan Islam mampu
memberikan kontribusinya terhadap stabilitas nasional.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Tata Pergaulan Masyarakat Indonesia


Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kebenaran
dari pernyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosiokultural maupun geografis yang
begitu beragam dan luas. Sekarang ini jumlah pulau yang ada di wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesiia (NKRI) sekitar 13.000 pulau besar dan kecil. Populasi
penduduknya berjumlah lebih dari 200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang
menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. Selain itu, mereka juga menganut
agama dan kepercayaan yang beragama seperti Islam, Katolik, Kristen Protestan,
Hindu, Budha, Konghucu serta berbagai macam aliran kepercayaan.1 Kemajemukan
dan keberagaman agama, suku bangsa, adat istiadat, kebudayaan, bahasa, cara hidup
dan pandangan nilai yang dianut oleh kelompok-kelompok etnis yang ada dalam
masyarakattersebut terikat dalam motto Bhinneka Tunggal Ika yang artinya beragam
dalam satu ikatan. Pluralitas bukan hal yang merugikan bagi keberadaan kehidupan.
Pluralitas adalah kehendak Sang Pencipta (sunnatullah) agar kehidupan ini dapat
berjalan dalam keseimbangan.
Adanya pluraliatas dalam kehidupan masyarakat sesungguhnya membuat
kehidupan masyarakat itu dinamis, penuh warna, tidak membosankan, dan membuat
antara yang satu dengan lainnya saling melengkapi dan saling membutuhkan. Dengan
kata lain pluralitas meniperkaya kehidupan dan menjadi esensi kehidupan masyarakat
sehingga tindakan untuk menolak ataupun menghilangkan adanya pluralitas, pada
hakekatnya menolak esensi kehidupan. Sungguhpun demikian, kita juga tidak dapat
menutup mata pada adanya kenyataan bahwa dalam kehidupan masyarakat yang plural
seringkali terjadinya konflik yang pada akhirnya akan menyebabkan terganggunya
stabilitas dan ketidakharmonisan.

B. Pengertian Pendidikan Islam dan Multikulturalisme


1. Pengertian pendidikan Islam
Istilah pendidikan dalam perspektif Islam dapat diderivasi dari dua istilah sentral
yang secara tekstual dan historis telah dipakai sampai sekarang, yaitu tarbiyah dan
ta'dib. Kedua istilah ini mempunyai perbedaan-perbedaan yang cukup mendasar.6
[2]Naquib Al-Atas seperti yang dikutip Sembodo Ardi widodo mengatakan bahwa
secara semantik tarbiyah mempunyai arti mengasuh, menanggung, memberi makan,
memelihara, membuat, membesarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang dan
menjinakkan. Istilah tarbiyah dalam hal ini tidak hanya ditujukan untuk manusia saja
tetapi juga berlaku untuk spesies lainnya, seperti mineral, tanaman dan hewan.7
Sedangkan istilah ta'dib menurut Naquib, istilah inilah yang paling tepat untuk
menunjukkan proses pendidikan dalam Islam, karena istilah ta'dib merupakan sebuah
sistem Islam yang di dalamnya terdapat tiga sub sistem penting yang saling berkaitan
yaitu pengetahuan ('Urn), pengajaran (ta'lim) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah).
Jadi tarbiyah adalah bagian atau sub sistem dari ta'dib itu sendiri.

2. Pengertian Multikulturalisme
Akar kata multikulturalisme adalah kebudayaan. Secara etimologis,
multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya) dan isme
(aliran/paham). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat
manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang
unik.15 Ada banyak ilmuwan dunia yang memberikan definisi kultur dan sangat
beragam, walaupun demikian ada beberapa titik kesamaan yang mempertemukan
keragaman definisi yang ada tersebut. Salah satunya dapat dilakukan lewat
pengidentifikasian karakbaik berkenaan dengan pribadi peserta didik, masyarakat
maupun lingkungan. Keberadaan tujuan antara juga harus jelas sehingga keberhasilan
pendidikan
Islam dapat diukur secara bertahap.
teristiknya. Conrad P. Kottak menjelaskan bahwa kultur memiliki beberapa
karakter khusus, antara lain:16
1. kultur adalah sesuatu yang general dan spesifik sekaligus.
2. kultur adalah sesuatu yang dipelajari.
3. Kultur adalah sebuah simbol
4. Kultur dapat membentuk dan melengkapi sesuatu yang alami
5. Kultur adalah sesuatu yang dilakukan secara bersama-sama yang menjadi atribut
bagi individu sebagai anggota dari kelompok masyarakat.
6. Kultur adalah sebuah model
7. Kultur adalah sesuatu yang bersifat adaptif
Dari karakteristik ini, dapat dikembangkan pemahaman terhadap
multikulturalisme, yaitu sebuah paham tentang kultur yang beragam. Dalam keragaman
kultur ini meniscayakan pemahaman, saling pengertian, toleransi dan sejenisnya, agar
tercipta suatu kehidupan yang damai dan sejahtera serta terhindar dari konflik
berkepanjangan. Sementara Abdullah menyatakan bahwa multikulturalisme adalah
sebuah paham yang menekankan pada kesenjangan dan kesetaraan budaya-budaya lokal
dengan tanpa mengabaikan hakhak dan eksistensi budaya yang ada. Dengan kata lain,
penekanan utama multukulturalisme adalah pada kesetaraan budaya.17 Sosiolog UI
Parsudi Suparlan menyatakan bahwa, multikulturalisme adalah konsep yang mampu
menjawab tantangan perubahan zaman. Alasanya, multikulturalisme adalah sebuah
idiologi yang mengagungkan perbedaan budaya, atau sebuah keyakinan yang mengakui
dan mendorong terwujudnya pluralisme budaya sebagai suatu corak kehidupan
masyarakat. Multikulturalisme akan menjadi pengikat dan jembatan yang
mengakomodasi perbedaan-perbedaan, termasuk perbedaan kesukubangsaan.18
Dalam konteks pendidikan Islam, multikultural adalah sikap menerima
kemajemukan ekspresi budaya manusia dalam memahami pesan utama agama, terlepas
dari rincian anutannya. Basis utamanya dieksplorasi dengan melandaskan pada ajaran
Islam, sebab dimensi Islam menjadi dasar pembeda sekaligus titik tekan dari konstruksi
pendidikan ini. Penggunaan kata pendidikan Islam tidak dimaksudkan untuk
menegasikan ajaran agama lain atau pendidikan non Islam, tetapi justru untuk
meneguhkan bahwa Islam dan pendidikan Islam sarat dengan ajaran yang menghargai
dimensi pluralis-multikultur al ,
Multikulturalisme sebenarnya merupakan konsep dimana sebuah komunitas
dalam konteks kebangsaan dapat mengakui keberagaman, perbedaan dan kemajemukan
budaya, baik ras, suku, etnis dan agama. Sebuah konsep yang memberikan pemahaman
kita bahwa sebuah bangsa yang plural atau majemuk adalah bangsa yang dipenuhi
dengan budaya-budaya yang beragam (multikultur). Bangsa yang multikultur adalah
bangsa yang kelompok-kelompok etnik atau budaya yang ada dapat hidup
berdampingan secara damai dalam prinsip co-existence yang ditandai oleh kesediaan
untuk menghormati budaya lain. Pluralitas itu juga dapat ditangkap oleh agama,
selanjutnya agama mengatur untuk menjaga keseimbangan masyarakat yang plural
tersebut Paradigma multikulturalisme memberi pelajaran kepada kita untuk memiliki
apresiasi
dan respek terhadap budaya dan agama agama orang lain (the others). Atas
dasar ini maka penerapan multikulturalisme menuntut kesadaran dari masing-masing
budaya lokal untuk saling mengakui dan menghormati keanekaragaman identitas
budaya yang dibalut semangat kerukunan dan perdamaian. Diharapkan dengan
kesadaran dan kepekaan terhadaap kenyataan kemajemukan, pluralitas bangsa, baik
dalam dan etnis, agama, budaya hingga orientasi politik, akan bisa mereduksi berbagai
potensi yang dapat memicu konflik sosial di belakang hari.
Teologi multikulturalis adalah jalan keluar dari simtom eksklusivisme,
kebebalan dan kekakuan sikap terhadap yang lain. Gagasan multikulturalisme yang
dinilai mengakomodir kesetaraan dan perbedaan merupakan sebuah konsep yang
mampu meredam konflik vertikal dan horizontal dalam masyarakat yang heterogen
dimana tuntutan akan pengakuan atas eksistensi dan keunikan budaya kelompok etnis
sangat lumrah terjadi. Dengan demikian, akan tercipta suatu sistem budaya dan tatanan
sosial yang mapan dalam kehidupan masyarakat yang akan menjadi pilar kedamaaian
sebuah bangsa. Pada bagian fundamental teologi multikulturalis memandang
keragaman sebagai peluang untuk membangun harmoni dan

15. Abdullah,”multikulturalisme”, Kompas, 16 Maret 2006


16. Zubaedi, Pendidikan Berbasis Masyarakat, Upaya Menawarkan Solusi Terhadap
Berbagai Problem Sosial, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2006 ). Hlm. 61
17. Ngainun Nairin dan Ahmad Syauqi, Pendidikan Multikulturalisme....hlm. 51
18. Nanih Mahendrawati dan Ahmad Syauqi, Pengembangan Masyarakat Islam. Dari
Idiologi, Strategi Samapai Tradisi, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 34

kerjasama; saling percaya dan berfikir positif adalah modal sosial membangun
kesefahaman; pengorbanan dari dan untuk kemaslahatan bersama merupakan titik
pangkal jejaring solidaritas antariman, antaretnik dan antarkultur; perdamaian tidak
akan terwujud melalui aksi balas dendam melalui kekerasan; dan hanya melalui
pengampunan, perdamaian umat manusia menjadi mungkin. Sebagai stratregi dari
integrasi sosial maka multikulturalisme mengakui dan menghormati keanekaragaman
budaya. Hal ini membawa implikasi dalam bersikap bahwa realitas sosial yang sangat
polimorfik atau majemuk tak akan menjadi kendala dalam membangun pola hubungan
sosial antarindividu penuh toleransi.

C. Islam dan Multikulturalisme

Menurut bahasa, kata Islam berarti tunduk, patuh dan damai. Jadi, karakteristik
dan watak dasar Islam sebenarnya adalah gagasan konprehensif tentang perlunya
perdamaian dalam hidup dan kehidupan manusia. Islam sebagai agama diturunkan
untuk mewujudkan kedamaian dan perdamaian. Dengan demikian, segala bentuk
terorisme, brutalisme, perusakan dan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh
kelompok-kelompok muslim radikal yang mengatasnamakan Islam sebenarnya
bertentangan dengan watak dasar dan missi damai Islam itu sendiri. Tidak ada doktrin
dalam Islam juga agama-agama lain yang mengajarkan terorisme, brutalisme,
perusakan, pembakaran atau pun tindak tanduk kekerasan lainnya.[4] Islam sebagai
suatu perangkat ajaran dan nilai, meletakkan konsep dan doktrin yang memberikan
rahmat bagi al-'alamin. Islam sebagai ajaran yang memuat nilai-nilai normatif, sarat
dengan ajaran yang menghargai dimensi pluralis-multikultural begitu bagusnya dalam
memandang dan menempatkan martabat dan harkat manusia, baik sebagai individu
maupun sebagai anggota sosial.

Diantara nilai-nilai Islam yang menghargai dimensi pluralismultikultural adalah:


a. Konsep kesamaan (as-sawiydti) yang memandang manusia pada dasarnya sama
derajatnya. Satu-satunya pembedaan kualitatif dalam pandangan Islam adalah
ketakwaan. Konsep ini secara sosiologis membongkar pandangan feodalisme, baik
feodalisme religius, feodalisme kapitalis atau pun fiodalisme aristokratis.26 Islam pada
esensinya memandang manusia dan kemanusiaan secara sangat positif dan optimistik.
Menurut Islam, seluruh manusia berasal dari satu asal yang sama, yaitu Nabi Adam dan
Hawa. Meskipun nenek moyangnya sama, namun dalam perkembangannya kemudian
terpecah menjadi bersuku-suku, berkaum-kaum atau berbangsa-bangsa, lengkap dengan
segala kebudayaan dan peradaban khas masing-masing. Semua perbedaan yang ada
selanjutnya mendorong mereka untuk saling mengenal dan menumbuhkan apresiasi
satu sama lain. Mereka harus tetap saling mendekati, saling menghormati dalam
interaksi sosial. (an-Nisa'r 1 dan al-Hujurat: 13). Inilah yang kemudian oleh Islam
dijadikan dasar perspektif "kesatuan umat manusia" (universal humanity), yang pada
gilirannya akan mendorong solidaritas antar manusia.
25. Ruslani, Masyarakat Kitab dan Dialog Antaragama, Studi atas Pemikiran
Mohammed Arkoun, (Yogyakarta: Bentang, 2000), him. 2
26. Muhammad Tholhah Hasan, Islam dalam..., him. 280.
27. Ibid., him. 142.
Dengan demikian, toleransi dapat diartikan memberikan kemerdekaan kepada
golongan kecil untuk menganut dan menyatakan pandangan-pandangan politik dan
agamanya, memberikan hakhak istimewa seperti yang diperoleh golongan besar.35
Toleransi berarti membolehkan, membiarkan yang pada prinsipnya tidak perlu terjadi.
Jadi toleransi mengandung konsesi, artinya, pemberian yang hanya didasarkan kepada
kemurahan dan kebaikan hati, bukan didasarkan kepada hak. Jelaslah bahwa toleransi
terjadi dan berlaku karena terdapat perbedaan prinsip, dan dalam menghormati
perbedaan atau prinsip orang lain iru hendaklah tanpa mengorbankan prinsip sendiri.
Maka toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama bukanlah toleransi dalam
masalah-masalah keagamaan, melainkan perwujudan sikap keberagamaan pemeluk
suatu agama dalam pergaulan hidup antara orang yang tidak seagama, dalam masalah-
masalah kemasyarakatan atau kemaslahatan umum.36 Suatu tanda bahwa ada sikap dan
suasana toleransi di antara sesama manusia, atau katakanlah di antara pemeluk agama
yang berbeda ialah ketika adanya sikap mengakui hak setiap orang, menghormati
keyakinan orang lain, agree in disagreement atau setuju dalam perbedaan, saling
mengerti dan adanya kesadaran serta kejujuran.[6] Kita harus mampu mensosialisasikan
semangat ajaran serta keteladanan Nabi Muhammad Saw. Toleransi dan moderasi yang
beliau ajarkan harus senantiasa menjadi acuan dan pedoman dalam interaksi kita
dengan umat agama lain. Islam sebagai agama rahmatan lil'alamin memiliki perspektif
yang konstruktif terhadap perdamaian dan kerukunan hidup yang merupakan tujuan dari
multikulturaUsme. Dalam Al-Qur'an, manusia digolongkan menjadi tiga golongan;
kaum muslim, ahl al- Kitab, dan golongan di luar Muslim dan ahl al-Kitab, yaitu
golongan watsany (pagan). Menurut al-Qur'an, semua golongan tersebut mempunyai
tempat dan kedudukan tersendiri dalam hubungan sosial dengan umat Islam.38 Jika
ditengok kebelakang, dalam sejarah Islam, pengalaman mengenai pluralisme agama,
setidaknya dalam pengertian aktual pluralitas, telah berkembang sejak permulaan
sejarah. Hal in terekam dalam al-Qur'an yang menyebut ahl al-Kitab sebagai suaru
kategori orang lain agama (the religion others). Di Madinah, ketika Nabi Muhammad
hijrah bersama para pengikutnya yang merupakan orang-orang Muslim awal, ditemukan
kelompok-kelompok suku Aus dan Khazraj, yang kemudian memeluk agama Islam, dan
komunitas Yahudi yang terdiri lebih dari dua puluh satu suku.39 Kedua komunitas
agama ini kemudian dimasukkan kedalam kategori "orang lain agama" yang diakui dan
diterima kehadirannya dalam komunitas muslim. Didalam Tradisi Islam terdapat
beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan pengakuan terhadap orang lain agama
sebagaimana dapat dilihat berikut ini:40
1. Konsep utama dalam Piagam Madinah tidak hanya meliputi orang-orang muslim
tetapi juga meliputi orang lain agama. Dalam pasal 25 dari piagam tersebut dinyatakan:
"Bahwa orang-orang Yahudi Bani 'Auf adalah satu umat bersama orang-orang
mukmin; bagi orang-orang Yahudi itu agama mereka dan bagi orang-orang Mukmin
agama mereka. (Ketentuan ini berlaku bagi) klien-klien dan diri mereka sendiri,
kecuali bagi orang yang berlaku zhalim dan bertindak salah, maka ia tidak lain hanya
membawa keburukan atas dirinya dan keluarganya". Ruslani, Masyarakat kitab..., him.
8-9.
Kunfirmasi terhadap kenyataan sejarah Madinah ini dapat dirujuk pada beberapa
ayat dalara al-Qur'an, misalnya firman Allah yang artinya: "Sesungguhnya ini adalah
umatmu, umat yang satu, dan aku adalah Tuhanmu, maka bertakzualah kepada-Ku".
(23:52)
2. hukum Islam memberikan pengakuan yang tegas terhadap orang lain agama (dalam
hal ini Ahl al-Kitab). Dua aspek hukum Islam yang sangat erat kaitannyta dengan
hubungan Muslim-orang lain ( Muslim-other relations), yaitu hukum makanan dan
perkawinan, menunjukkan sifat inklusif Islam. Dalam surat Al-Maidah ayat 5
dinyatakan bahwa makanan (sembelihan) "orang-orang yang di beri kitab" adalah halal
bagi Muslim. Ayat yang sama juga menyatakan bahwa laki-laki Muslim boleh
mengawini ahl al- Kitab tersebut.

3. Fikih sebagai terjemahan dari nilai-nilai syari'ah juga memberikan pengakuan yang
tegas terhadap kehadiran orang lain agama dalam komunitas Islam.
4. Islam bahkan mengakui spiritualitas Ahlul Kitab seperti tercermin dalam firman
Allah QS. Ali Imran (3): 113-115 "Mereka tidaklah sama; diantara Ahlul Kitab itu ada
golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah beberapa waktu di
malam hari sembari melakukan sujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah
dan hari Kemudian, memerintahkan yang ma'ruf, mencegah yang mungkar dan
bergegas dalam (mengerjakan) kebajikan; dan mereka itu termasuk orang-orang yang
shaleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka mereka tiada sekali-sekali
dihalangi (menerima pahala)-nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang
bertakwa." 255

Berdasarkan keterangan diatas dapat dipahami bahwa Islam sebagai agama


rahmatan lil'alamin sudah mengembangkan prinsip-prinsip multikulturalisme jauh
sebelum wacana multikulturalisme
itu muncul. Islam adalah agama yang sempurna, didalamnya ada aturan-aturan tentang
urusan dunia dan akhirat. Diantaranya adalah terdapat dasar-dasar peraturan untuk
hidup berdampingan secara damai dengan siapa pun. Dasar-dasar membina masyarakat
damai secara umum, yakni termasuk kepada golongan selain Islam memang ada dalam
al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad Saw.
Di antaranya adalah:
- "Bukan orang mu'min, orang yangsuka mencela, suka melaknat, perbuatannya keji
dan rendah budinya". (H.R. Turmitdzy).
- "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu golongan menganggap rendah
kepada golongan yang lain, sebab barangkali merekalah justru yang lebih baik, dan
perempuan jangan menganggap rendah kepada perempuan yang lain pula, sebab
barangkali merekalah yang lebih baik, dan janganlah kamu mencela diri-diri kamu
serta janganlah kamu memanggil kawanmu dengan gelar yang tidak baik, karena
seburuk-buruk nama ialah berbuatfasik sesudah beriman. Barang siapa yang tidak mau
bertaubat, maka mereka itulah sebenarnya yang berlaku aniaya".
- Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman jauhilah daripada banyak
prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa, dan jangan pula kamu suka
menyelidiki keadaan kawan kamu serta janganlah sebagian kamu mengumpat pada
sebagiannya, apakah kamu suka makan daging kawanmu dalam keadaan ia tidak
berdaya, padahal kau sebenarnya tidak menyukainya? Takutlah kepada Allah karena
sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha menerima taubat dan berkasih saying".
Dengan demikian, seseorang tidak boleh mencela, mencaci, mengumpat
menganggap rendah, berprasangka buruk, benci membenti, menghasut, berkata yang
menyakitkan orang lain, tidak memandang apakah orang itu Muslim atau bukan
Muslim. Semuanya itu adalah untuk menjaga agar persaudaraan dan suasana aman
damai tetap berjalan. Maka semua anggota masyarakat hendaknya menghindari hal-hal
yang menjurus kepada panasnya suasana masyarakat.
D. Pendidikan Islam Sebagai Upaya Membangun Multikulturalisme
If a child lives with criticism, he learns to condemn
If a child lives with hostility, he learns to fight
If a child lives with ridicule, he learns to be shy
If a child lives with shame, he learns to feel guilty
If a child lives with tolerance, he learns to be patience
If a child lives with encouragement, he learns to be confident
If a child lives with praise, he learns to appreciate
If a child lives with fairness, he learns justice
If a child lives with security, he learns to have faith
If a child lives with approval, he learns to like himself
If a child lives with acceptance and friendship, he learns to find love in the world.42
***Dorothy Law Notle***
[1] 34. Ibid., him. 202.
35. Zul Asyri LA, Toleransi Islam Terhadap Agama Lain, Dalam Al-Fikra Jurnal
Ilmiah Keislaman Vol I, No.l, (Yogyakarta: IAIN Suka Press, 2002), him. 22.
36. Ibid., him. 13.
Keragaman adalah anugerah Ilahi yang harus dirangkai menjadi simfoni
keindahan yang harmonis. Mustahil kita hidup dalam satu kesatuan yang seragam.
Anak didik harus dibuka mata dan wawasannya untuk melihat sekian perbedaan yang
ada disekitarnya, dimana masyarakat Indonesia merupakan masyarakat ynag heterogen
dan plural. Paling tidak heterogenitas dan pluralitas masyarakat itu bisa dilihat dari
eksistensi keragaman suku (etnis), ras, agama (aliran kepercayaan), dan budaya (kultur).
Inilah realitas bangsa yang multi-kultural dan multi religius. Kekayaan ini harus dijaga
menjadi keragaman dibawah semangat kebersamaan, bukan penyatuan.[7]
Pendidikan Agama memang masih banyak menuai kritik. Salah satu faktor
penyebab kegagalan pendidikan agama adalah karena praktik pendidikannya lebih
banyak memperhatikan aspek kognitif dari pertumbuhan kesadaran nilai-nilai (agama),
dan kurang pembinaan aspek afektif dan konatif-volutif, yakni kemauan dan tekad untuk
mengamalkan nilai-nilai ajaran agama. Atau dalam praktiknya, pendidikan agama
berubah menjadi pengajaran agama, sehingga tidak mampu membentuk pribadi-pribadi
Islami. Pendidikan agama lebih mengutamakan pengajaran agama daripada pendidikan
moral. Padahal intisari pendidikan agama justru terletak pada pendidikan moral
tersebut. Selain itu, ada juga beberapa kelemahan lainnya, baik dalam pemahaman
materi pendidikan maupun dalam pelaksanaannya, yaitu: 1) dalam bidang teologi, ada
kecenderungan mengarah pada paham fatalistik; 2) bidang akhlak yang hanya
berorientasi pada urusan sopan santun dan belum dipahami sebagai keseluruhan pribadi
manusia beragama; 3) bidang ibadah diajarkan sebagai kegiatan rutin agama dan kurang
ditekankan sebagai proses pembentukan kepribadian; 4) dalam bidang hukum (fiqh)
cenderung dipelajari sebagai tata aturan yan tidak akan berubah sepanjang masa, dan
kurang memahami dinamika dan jiwa hukum Islam; 5) agama Islam cenderung
diajarkan sebagai dogma dan kurang mengembangkan rasionalitas serta kecintaan pada
kemajuan ilmu pengetahuan; 6) orientasi mempelajari al-Qur'an masih cenderung pada
kemampuan membeca teks, belum mengarah pada pemahaman arti dan penggalian
makna. Siti Malikah Towaf juga mengamati adanya kelemaham-kelemahan pendidikan
agama Islam di sekolah, antara lain: 1) pendekatan masih cenderung normatif, dalam
arti pendidikan agama menyajikan norma-norma yang seringkali tanpa ilustrasi konteks
sosial budaya, sehingga peserta didik kurang menghayati nilai-nilai agama sebagai nilai
hidup dalam keseharian; 2) Para guru kurang berupaya menggali berbagai metode yang
mungkin bisa dipakai untuk pendidikan agama sehingga pelaksanaan pembelajaran
cenderung monoton; 3) keterbatasan sarana prasarana yang mengakibatkan pengelolaan
cenderung seadanya. Pendidikan agama yang diklaim sebagai aspek penting seringkali
kurang diberi prioritas dalam urusan fasilitas; 4) pendidikan agama lebih menitik
beratkan pada aspek korespondensi-tekstual, yang lebih menekankan hafalan teksteks
keagamaan yang sudah ada; 5) dalam sistem evaluasi, bentuk soal-soal ujian agama
Islam menunjukkan prioritas utama pada kognitif dan jaranng pertanyaan tersebut
mempunyai bobot muatan 'nilai' dan 'makna' spiritual keagamaan yang fungsional
dalam kehidupan sehari-hari.48
Orientasi semacam ini menyebabkan terjadinya keterpisahan dan kesenjangan
antara ajaran agama dan realitas perilaku pemeluknya. Oleh karena itu diperlukan
reorientasi dalam pembelajaran agama Islam. Menurut Mastuhu, jika pendidikan Islam
ingin kontekstual dengan perkembangan zaman, paradigma pendidikan yang selama ini
dikembangkan harus diubah. perubahan paradigma yang dimaksud adalah mengubah
cara belajar dari model warisan menjadi cara belajar pemecahan masalah, dari hafalan
ke dialog, dari pasif ke heuristic, dari

43. Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarva, 1996),


him. 102,
44. Faisal Ismail, Islam Idealitas..., hal. 193.
45. Choirul Mahfud, Pendidikan..., him. 208.
46. Ngainun Nairn dan Ahmad Syauqi, Pendidikan Mitltikultural..., him. 53-54.
47. Ibid., 184.

strategi menguasai materi sebanyak-banyaknya menjadi menguasai metodologi,


dari mekanis ke kreatif, dari memandang dan menerima ilmu sebagai hasil final yang
mapan menjadi memandang dan menerima ilmu dalam dimensi proses, dan fungsi
pendidikan bukan hanya mengasah dan mengembangkan akal, namun mengolah dan
mengembangkan hati (moral) dan keterampilan.[9] Selain itu, paradigma pendidikan
yang ditawarkan oleh UNESCO untuk menghadapi masyarakat modern yang semakin
kompleks dan plural agaknya perlu dicermati oleh para pelaku dan pemerhati
pendidikan Islam. Paradigma yang ditawarkan tersebut adalah bahwa proses pendidikan
bukan hanya mengarahkan dan membimbing peserta didik untuk learning to think
(berfikir), learning to do (berbuat), dan learning to be (menjadi) saja, namun proses
pendidikan juga hendaknya dapat membentuk peserta didik untuk learning to live
together (hidup bersama) dengan orang lain.51 Tiga paradigma pertama cenderung
mengoptimalkan peserta didik sebagai individu, baik yang menyangkut ranah kognitif,
afektif maupun psikomotorik. Sedangkan paradigma yang keempat adalah upaya
mengoptimalkan potensi sosial. Bahwa manusia tidak hidup sendirian, disekitarnya
banyak orang yang mempunyai kedudukan yang sama di dunia meskipun berbeda jenis
kelamin, agama, warna kulit maupun etnis. Inilah sebenarnya yang menjadi tantangan
paling serius bagi pendidikan Islam pada era globalisasi. Karenanya, pendidikan Islam
dalam pelaksanaannya paling tidak metodologi pengajaran, silabi dan kurikulumnya
harus memenuhi tiga hal berikut ini, yairu:
1. Membongkar kurikulum yang eksklusif doktriner dengan kurikulum yang
pluralis yang mampu membebaskan peserta didik keluar dari pandangan eksklusif.
Melihat fakta sosial yang berisikan banyak konflik bernuansa SARA, maka pendidikan
agama harus direvisi dari konsep indoktrinasi menjadi relevansi. Artinya pendidikan
agama harus dikembangkan bukan hanya indoktrinasi berupa ajaran surga-neraka, baik-
buruk, halalharam, mukmin-kafir tetapi juga relevansinya yakni berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari sehingga akan bisa dihayati dan diamalkan. Pendidikan agama
harus mengajarkan pengetahuan menjadi pengetahuan yang fungsional, artinya
pengetahuan yang membantu orang untuk menanggapi, menilai dan menemukan sikap
dalam hidup. Oleh karena itu pengajaran agama sebaiknya bertitik tolak dari dan
dikaitkan kepada situasi hidup kongkret sehari-hari, seperti bagaimana berfikir dan
bertindak baik untuk diri sendiri maupun orang lain, berhubungan dengan orang lain,
bermasyarakat, toleransi, hidup dalam masyarakat plural dan sejenisnya.
2. Porsi moralitas dan etika universal harus diberikan secara lebih proporsional
dengan pengajaran ritualitas-formalis. Sebab, dititik inilah setiap agama dapat bertemu
dalam saru tujuan. Karena mustahil agama mengajak penganutnya untuk berbuat jelek
terhadap orang lain. Harapannya sejak dini peserta didik telah diperkenalkan untuk
bekerjasama dan beraksi sosial tanpa kenal batas agama. Kalau selama ini pendidikan
agama lebih menekankan pada aspek keshalihan vertikal (aspek ritual), maka harus
diperbaharui dengan menekankan baik aspek keshalihan vertikal maupun horizontal.
Dengan arah pendidikan seperti itu diharapkan anak didik disamping tetap akan
memiliki keimanan yang benar sesuai dengan agamanya, juga memiliki sikap toleransi
yang tinggi seperti yang dituntut oleh kondisi masyarakat yang plural.
3. Peserta didik perlu diberi wawasan yang cukup mengenai agamaagama lain,
karna ketidakmengertian terhadap hal tersebut sering kali menimbulkan asumsi miring
bahkan negatif terhadap agama lain. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang
plural ini, tentu saja sikap hidup yang inklusif sangat diperlukan dalam hidup bersama.
Sementara sikap eksklusif harus dijauhi karena akan menimbulkan prasangka,
permusuhan dan disintegrasi. Jadi pemahaman keagamaan termasuk pendidikan agama,
harus ditekankan pada sikap inklusivitas. Artinya kita boleh berbeda pemahaman dan
keyakinan agama, namun tetap bisa hidup rukun dan damai. Sikap yang serba kaku dan
mudah menyalahkan orang lain akan mengganggu keharmonisan hidup sama baik
dalam bermasyarakt, berbangsa dan bernegara. Berkaitan dengan tantangan modernitas
yang ian kompleks, terutama dengan pluralitas dan multikulturalitas, selain
langkahlangkah tersebut, erlu juga melakukan beberapa hal yang lain.[10]Pertama,
selain memberi uraian tentang ilmu-ilmu keislaman klasik, anak didik perlu juga
diperkenalkan dengan persoalan-persoalan modernitas yang arnat kompleks sebagaiman
yang dihadapi umat Islam sekarang ini dalam hidup keseharian mereka. Kedua,
pengajaraan ilmu-ilmu keislaman tidak seharusnya selalu doktrinal, melainkan perlu
dikedepankan uraian dimensi histories dari doktrin-doktrin keagamaan tersebut. Hal ini
dimaksudkan agar dapat melatih para peserta didik untuk merumuskan ulang
pokokpokok rumusan realisasi agama yang sesuai dengan tantangan dan tuntutan zaman
serta bagaimana mereka dapat mencari jalan keluar (problem solving) sesuai dengan
nilai-nilai keagaamaan Islam yang meraka yakini. Ketiga, pengajaran yang dulunya
hanya bertumpu pada teks (nash) perlu diimbangi dengan telaah yang cukup mendalam
dan cerdas terhadap konteks dan realitas, mengingat bahwa nash itu terbatas, sedangkan
kejadian-kejadian yang dialami manusia selalu berkembang. Keempat, Penekanan pada
aspek kognitif anak hams diimbangai dengan aspek afektif dan psikomotorik.
Penghayatan dan internalisasi budi pekerti dan akhlak batiniah yang bernuansa
penghayatan tasawuf merupakan sebuah metode pendidikan dan pengajaran yang lebih
menekankan pada kematangan dan kedewasaan berpikir dan berprilaku, seperti
penanaman sifat rendah hati, kesabaran, toleransi, tenggang rasa, kepuasan batiniah,
cara berfikir yang matang dan seterusnya.
Kelima, Pendidikan agama Islam era modernitas tidak lagi memadai jika hanya terfokus
pada pembentukan "moralitas individual" yang saleh, namun kurang begitu peka
terhadap , "moralitas public". Karena moralitas publik sangat terkait dengan realitas
struktur sosial-ekonomi, sosial-politik, dan sosial budaya yang mempunyai logika
kepentingan sendiri-sendiri. Pendidikan Islam
perlu memasuki diskursus moralitas publik, lantaran sumber kejahatan moral tidak lagi
hanya dari individu-individu, melainkan telah bergeser ke struktur jaringan yang sangat
kompleks. Dr. Simuh seperti yang dikutip Syamsul Arifin menyatakan pentingnya
pendekatan etis-filosofis dan pendekatan Afektif- Partisipatoris dalam pendidikan
Againa. Pendekatan etis dibutuhkan untuk memahami nilai-nilai sakral (transendental)
dari diktumdiktum Ilahiyah. Sedangkan pendekatan filosofis diorientasikan pada
pengembangan daya kritis dan nalar dalam memahami ajaran agama untuk membaca
persoalan-persoalan yang tengah terjadi di masyarakat,54 Pendekatan afektif
dibutuhkan untuk menanamkan nilai agama kepada anak sebagai kerangka spiritual dan
pedoman moral untuk menatap masa depannya. Sedangkan dengan pendekatan
partisipatoris ini peserta didik diajak untuk mendiskusikan persoalan-persoalan
kehidupan riil yang terjadi di masyarakat yang sebenarnya memerlukan pemikiran dan
telaah kritis sehingga agama benar-benar berfungsi dan masuk dalam perilaku
kehidupannya.
Pendidikan agama Islam harus bersifat autentik, selain menyajikan bahan-bahan
pengetahuan, juga mengusahakan pengalaman dan penghayatan nilai-nilai didalam
situasi dan lingkungan hidup seharihari. Dengan kata lain pendidikan agama hendaknya
tidak hanya mementingkan atau menekankan pada ranah kognitif saja dan
mengedepankan pendekatan indoktrinisasi yang akhirnya akan melahirkan sikap sikap
dogmatis yang ekstrim bukan pendekatan parsipatoris.
Dari segi metode pengajaran, hendaknya hubungan guru dan murid bersifat
dialogis-komunikatif. Guru tidak dipandang sebagai satu-satunya sumber belajar, murid
bukan sebagai obyek pengajaran. Namun guru dan murid sama-sama sebagai subyek
belajar sehingga suasana belajar di kelas akan dinamis dan hidup. Dalam hal ini
pendidikan bisa dimaknai sebagai pemberdayaan manusia agar mandiri dan kreatif.
Reorientasi pelaksanaan pendidikan Islam diharapkan dapat menghasilkan out put yang
memiliki kesalehan individual juga kesalehan social sebagai modal utama dalam
menghadapi kehidupan yang sangat kompleks dengan kondisi masyarakat yang
multicultural dan multireligius. Terbentuknya anak didik yang memiliki cakrawala
pandang luas, menghargai perbedaan, penuh toleransi, memiliki sikap simpatik, respek,
apresiasi dan empati terhadap penganut agama dan budaya yang berbeda serta jauh dari
sikap stereotip, egoistic, individualistic dan eksklusif akan menciptakan suasana
masyarakat yang bermoral, toleran, damai dan harmoni.

56. Mudjia Rahardjo, Quo Vadis Pendidikan Islam, (Malang: UIN-Malang Press,
2006),hal. 59.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Indonesia memiliki masyarakat multikultural yang menyimpan kemajemukan


dan keberagaman dalam hal suku bangsa, adat istiadat, kebudayaan, bahasa, agama,
cara hidup dan pandangan nilai yang dianut oleh kelompok-kelompok etnis yang ada
dalam masyarakat tersebut. Pluralitas adalah kehendak Sang Pencipta (sunnatullah)
agar kehidupan ini dapat berjalan dalam keseimbangan. Adanya pluralitas dalam
kehidupan masyarakat sesungguhnya membuat kehidupan masyarakat itu dinamis,
penuh warna, tidak membosankan, dan membuat antara yang satu dengan lainnya saling
melengkapi dan saling membutuhkan. Tetapi ketika pluralitas ini tidak mampu dikelola
dengan baik, maka ia akan menjadi sumber konflik yang pada akhirnya akan
menyebabkan terganggunya stabilitas dan ketidakharmonisan. Agar keragaman dan
perbedaan yang ada dapat dikelola menjadi aset yang akan melahirkan simfoni
kehidupan yang harmonis, bukan sebagai sumber perpecahan, maka dibutuhkan
instrumen yang tepat untuk dapat mengarahkan kemajemukan yang ada. Pendidikan
Islam merupakan wahana yang tepat untuk membangun kesadaran multikulkturalisme
serta sebagai salah satu media penting yang dapat membentuk bagaimana corak
pandangan hidup seseorang atau masyarakat. Islam sebagai rahmatan lil'alamin
memuat nilai-nilai normatif yang sarat dengan ajaran yang menghargai dimensi
pluralis-multikultural. Islam sebagai ajaran, begitu bagusnya dalam memandang dan
menempatkan martabat dan harkat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai
anggota sosial. Hal ini terbukti dengan konsep-konsep Islam tentang as-sawiyah atau
kesamaan, al-'adalah atau keadilan, al hurriyah atau kebebasan juga tasamuh atau
toleransi yang merupakan modal dasar dari teologi multikulturalisme.

SARAN
Dengan pemaparan makalah ini semoga bermanfaat bagi saya khususnya dan
juga kita semua sebagai generasi penerus bangsa harus dapat menumbuhkan nilai-nilai
multikulturalisme dari jati diri kita sendiri.
Nilai-nilai yang akan membentuk kesadaran multikulturalisme tersebut tidak
akan terbentuk dengan sendirinya dalam pribadi pribadi individu, akan tetapi nilai-nilai
tersebut harus ditanamkan sejak dini melalui proses pendidikan. Pendidikan Islam yang
merupakan bagian dari pendidikan nasional selama ini masih banyak menuai kritik,
untuk itu pendidikan Islam harus merubah paradigma pendidikannya agar mampu
membentuk generasi-generasi yang bukan saja memiliki keshalehan individual tetapi
juga harus memiliki keshalehan sosial. Terbentuknya anak didik yang memiliki
cakrawala pandang luas, menghargai perbedaan, penuh toleransi, memiliki sikap
simpatik, respek, apresiasi dan empati terhadap penganut agama dan budaya yang
berbeda serta jauh dari sikap stereotip, egoistic, individualistic dan eksklusif akan
menciptakan suasana masyarakat yang bermoral, toleran, damai dan harmoni. Pada saat
inilah pendidikan Islam memberikan kontribusinya kepada stabilitas nasional.
DAFTAR PUSTAKA

[1] Alwi Syihab, Islam Inklusif, (Bandung: Mizan 1Q9S), him. 40.
2.Musa Asy’arie, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual,(Yogyakarta:
Lesfi,2002, hal.10)
3.Afif Nadjih Anies,Islam dalam Perspektif SosioKultural,(Jakarta:Lantabora
Press,2005),hal.277
4.Sudarto, H., Konflik Islam Kristen : Menguak Akar Masalah Hubungan Antar Umat
Beragama di Indonesia,(Semarang:Pustaka Rizqi Putra, 1999), hal. 2-4.
5.M. Ainul Yaqin, Pendidikan Multikultural; Cross-Cultural Understanding untuk
Demokrasi(Yogyakarta: Filar Media, 2005), him. 4.

[2] 6.Sembodo Ardi Widodo, Kajian FHosofis Pendidikan Barat dan Islam, (Jakarta:
Nimas Multima, 2003), hlm.170.
7. Ibid, hal. 171
8. Ibid, hal. 171
9. Abdullah Idi dan Toto Suharto, Revitalisasi Pendidikan Islam, (Tiara Wacana,
2006), hal. 47.
10. Ibid, hal. 47
11. op cit, hal. 173
[3] 12. H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003), him. 29.
13. Ibid, hal. 50.
13. Ibid. Hal. 50
14. Choirul Mahfiid, Pendidikan Multikultuml, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006),
him. 75.