Anda di halaman 1dari 5

Kota Semarang terletak di pantai Utara Jawa Tengah, pada posisi 060 05’ 07” LS - 1100 35’28”

Bujur Timur, dengan luas wilayah mencapai 37.366.838 Ha atau 373,7 km2 . Letak geografi Kota

Semarang pertemuan dari daerah daerah peyangganya dari utara berbatasan langsung pantai Utara,

Dari Selatan ke arah kota-kota dinamis seperti Kabupaten Magelang dan Surakarta, dari Timur ke

arah Kabupaten Demak atau Grobogan dan Barat menuju Kabupaten Kendal.

Gelombang laut merupakan suatu fenomena alam berupa penaikan dan penurunan air

secara perlahan dan dapatdijumpai di seluruh dunia. Gelombang yang berada di laut sering nampak

tidak teratur dan sering berubah-ubah. Hal ini bisa diamati dari permukaan airnya yang diakibatkan

oleh arah perambatan gelombang yang sangat bervariasi serta bentuk gelombangnya yang tidak

beraturan, apalagi jika gelombang tersebut dibawah pengaruh angin. Arus merupakan gerakan air

yang sangat luas yang sering terjadi pada seluruh lautan. Gelombang yang datang menuju pantai

dapat menimbulkan arus pantai (nearshore current). Arus juga dapat terbentuk akibat oleh angin

yang bertiup dalam selang waktu yang sangat lama, dapat juga disebabkan oleh ombak yang

membentur pantai secara miring. Dapat pula disebabkan oleh gelombang yang terbentuk dari

gelombang yang datang menuju garis pantai. Dengan demikian akan terjadi dua system arus yang

mendominasi pergerakan air laut yaitu arus meretas pantai (rip current) dan arus sejajar pantai atau

arus susur pantai (longshore current). Arus dapat juga membawa sedimen yang mengapung

(suspended sediment) maupun yang terdapat didasar laut. Begitu pula dengan arus susur pantai dan

arus meretas pantai. Keduanya merupakan arus yang berperan dalam transport sedimen di

sepanjang pantai serta pembentukan berbagai sedimen yang terdapat di pantai (Loupatty, 2013).

Arus sejajar pantai atau longshore current mengalir sejajar dengan garis pantai dan terbatas pada

daerah perairan tempat gelombang pecah hingga garis pantai. Faktor utama penentu kecepatan arus

menyusur pantai adalah sudut gelombang pecah dan tinggi gelombang pecah(Meilistya, Sugianto,

& Indrayanti, 2012)


Pola Arus di perairan Semarang memperlihatkan bahwa pasang surut yang terjadi di

perairan Semarang berpola campuran condong ke harian tunggal. Amplitudo pasang surut di

perairan Semarang relatif kecil dan berkisar antara 5 - 22 cm. Sedangkan arah dan kecepatan arus

perairan pantai Semarang dipengaruhi oleh pola arus di laut Jawa. Pola arus yang terjadi di Laut

Jawa sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh musim. Pada musim barat yang berlangsung dari bulan

Desember Februari, arus bergerak lebih cepat dari arah Barat menuju ke Timur dengan kecepatan

arus berkisar antara 38-50 detik. Pada musim timur yang berlangsung dari bulan JuniAgustus,

kecepatan arus lebih lambat berkisar antara 12-25 cm/detik. Kota Semarang mempunyai beberapa

sungai besar yang bermuara ke wilayah garis pantai sehingga faktor sungai sangat berpengaruh

terhadap pola arus yang terbentuk (Riyadi, Widodo, & Wibowo, 2005).

Kerusakan pantai akibat erosi yang terjadi di Perairan Semarang hampir sebagian

diakibatkan oleh pembangunan di kawasan pesisir, yang mana dengan leluasa mengubah fungsi

pantai dengan mendirikan bangunan, baik di wilayah pantai maupun laut dengan cara mereklamasi

pantai. Aktifitas tersebut dapat berimbas terhadap perubahan penjalaran gelombang. Perubahan

arah penjalaran gelombang ini akan mempengaruhi arus yang terjadi dan mempengaruhi transport

sedimennya. Arus yang terbentuk dari gelombang laut yang telah pecah di pantai, salah satunya

adalah longshore current. Terjadinya arus longshore current ini dapat mengakibatkan mengikisnya

pantai dan menyebabkan erosi (Meilistya et al., 2012).

(Pettijohn, 1975) menyatakan sedimentasi sebagai proses pembentukan sedimen atau

batuan sedimen yang diakibatkan oleh pengendapan dari material pembentukannya atau asalnya

pada suatu tempat yang disebut dengan lingkungan pengendapannya yaitu delta, danau, pantai,

estuari, laut dangkal sampai laut dalam. Sedimen pantai adalah partikel-partikel yang berasal dari

hasil pembongkaran batuan-batuan dari daratan dan potongan-potongan kulit (shell) serta sisa-sisa

rangka-rangka organisme laut. Tidaklah mengherankan jikalau ukuran partikel-partikel ini sangat

ditentukan oleh sifat-sifat fisik mereka dan akibatnya sedimen yang terdapat pada berbagai tempat
di dunia mempunyai sifat-sifat yang sangat berbeda satu sama lain. Misalnya sebagian besar dasar

laut yang dalam ditutupi oleh jenis partikel yang berukuran kecil yang terdiri dari sedimen halus.

Sedangkan hampir semua pantai ditutupi oleh partikel berukuran besar yang terdiri dari sedimen

kasar. Keseimbangan antara sedimen yang dibawa sungai dengan kecepatan pengangkutan

sedimen di muara sungai akan menentukan berkembangnya dataran pantai. Apabila jumlah

sedimen yang dibawa ke laut dapat segera diangkut oleh ombak dan arus laut, maka pantai akan

dalam keadaan stabil. Sebaliknya apabila jumlah sedimen melebihi kemampuan ombak dan arus

laut dalam pengangkutannya, maka dataran pantai akan bertambah. Proses sedimentasi dicirikan

dengan adanya pendangkalan di sekitar muara hingga menutup aliran sungai. Akibat tertutupnya

aliran sungai oleh material sedimen menyebabkan muara sungai sering berpindah-pindah dan

membentuk morfologi lagun di belakang pematang pantai. Morfologi beting pasir (sandy spit) yang

juga terbentuk di setiap mulut sungai menunjukkan tingginya suplai sedimen yang dihempaskan

kembali oleh gelombang laut ke arah pantai dan dibawa oleh arus sejajar pantai (longshore current)

menutupi aliran sungai di muara(Solihuddin, 2011). Sedangkan Proses abrasi terjadi di banyak

tempat, akan tetapi masing-masing proses tersebut sebetulnya mempunyai karakteristik masing-

masing.Pengaruh kedudukan geografis dan interaksi dengan perairan sekitarnya memegang

peranan yang sangat penting terhadap karakteristik dinamika pantai suatu perairan (Hadikusumah,

2009).

(Triatmodjo, 1999) menyatakan bahwa transpor sedimen sepanjang pantai banyak

menyebabkan permasalahan seperti pendangkalan di pelabuhan, erosi pantai dan sebagainya. Oleh

karena itu prediksi transpor sedimen sepanjang pantai adalah sangat penting. Proses sedimentasi

dan erosi dipengaruhi oleh faktor–faktor hidro-oseanografi. Faktor – faktor tersebut diantaranya

adalah gelombang, arus, dan pasang surut. Faktor hidro–oseanografi tersebut dapat menyebabkan

proses sedimentasi yang cukup besar sehingga berdampak pada terjadinya pendangkalan

perairan.Proses pendangkalan terjadi karena adanya sedimen yang mengalami pergerakan secara
signifikan, dan tersebar diantara dasar perairan. Persebaran sedimen yang terjadi dapat

diklasifikasikan dalam bentuk pola sebaran berdasarkan ukuran dan jenis sedimen yang ada di

perairan tersebut (Siregar, Handoyo, & Rifai, 2014). sedimen permukaan dasar di perairan Marina,

Semarang diperoleh tiga satuan sedimen yaitu satuan pasir (sand), satuan pasir lanauan (silty sand),

dan satuan lanau pasiran (sandy silt) (Satriadi, 2012). Pada perairan semarang analisa butir sedimen

diketahui bahwa jenis sedimen didominasi oleh pasir. Sedimen jenis pasir dominan tersebar di

daerah dekat garis pantai didaerah sepanjang utara Semarang sampai dengan Demak. Untuk jenis

arus yang mendominasi di perairan Semarang adalah arus pasang surut dengan persentase dominasi

arus pasang surut sebesar 84,079 % dan persentase dominasi arus residu (non pasang surut) sebesar

15,921 %. Kecepatan arus maksimum dalam pengukuran adalah 0,184 m/detik pada arah 212,8

NE, dan kecepatan arus minimum adalah 0,002 m/detik pada arah 333,4 NE. Dapat dikataan arus

perairan relatif tanang(Permana, Hariadi, & Rochaddi, 2012).


DAFTAR PUSTAKA

Hadikusumah. (2009). Karakteristik gelombang dan arus di eretan, indramayu. Makara Sains,

13(2), 163–172.

Loupatty, G. (2013). Karakteristik Energi Gelombang Dan Arus Perairan Di Provinsi Maluku.

Jurnal Barekeng, 7(1), 19–22.

Meilistya, I., Sugianto, D. N., & Indrayanti, E. (2012). Kajian Arus Sejajar Pantai (Longshore

Current Longshore Current) Akibat Pengaruh Transformasi Gelombang Di Perairan

Semarang. Journal of Oceanography, 1(2), 128–138.

Permana, H., Hariadi, & Rochaddi, B. (2012). Kajian Kondisi Arus Dan Sebaran Sedimen Dasar

Pada Saat Musim Timur di Perairan Semarang - Demak. JOURNAL OF OCEANOGRAPHY,

1(1), 121–128.

Pettijohn, F. J. (1975). Sedimentary rocks (third edition). New York: Harper & Row Publishers.

Riyadi, A., Widodo, L., & Wibowo, K. (2005). Kajian Kualitas Perairan Laut Kota Semarang

Dan Kelayakannya Untuk Budidaya Laut. J. Tek. Ling. P3TL – BPPT, 6(3), 497–501.

Satriadi, A. (2012). Studi Batimetri dan Jenis Sedimen Dasar Laut di Perairan Marina, Semarang,

Jawa Tengah. Buletin Oseanografi Marina, 1, 53–62.

Siregar, C. R. E., Handoyo, G., & Rifai, A. (2014). Studi Pengaruh Faktor Arus dan Gelombang

Terhadap Sebaran Sedimen Dasar di Perairan Pelabuhan Kaliwungu Kendal. Jurnal

Oseanografi, 3(3), 338–346.

Solihuddin, T. (2011). Karakteristik Pantai Dan Proses Abrasi di Pesisir Padang Pariaman,

Sumatera Barat. Globe, 13(2), 113–121.

Triatmodjo, B. (1999). Teknik Pantai. Yogyakarta: Betta Offset.