Anda di halaman 1dari 51

CASE REPORT SESSION (CRS)

*Kepaniteraan Klinik Senior/G1A217037

**Pembimbing

NYERI PUNGGUNG BAWAH

Yaumil Khalida Putri, S.Ked* dr. Idrat Riowastu, Sp.S**

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF RSUD RADEN MATTAHER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JAMBI

2018

1
HALAMAN PENGESAHAN

Case Report Session (CRS)

NYERI PUNGGUNG BAWAH

DISUSUN OLEH

Yaumil Khalida Putri, S.Ked

G1A217037

Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior

Bagian Ilmu Penyakit Saraf RSUD Raden Mattaher

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi

Laporan ini telah diterima dan dipresentasikan

Jambi, Oktober 2018

PEMBIMBING

dr. Idrat Riowastu, Sp.S

2
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas segala limpahan kasih dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan
Case Report Session ini dengan judul “Nyeri Punggung Bawah”.Laporan ini
merupakan bagian dari tugas Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Penyakit
Saraf RSUD Raden Mattaher Jambi.

Terwujudnya laporan ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan


dorongan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan
terima kasih kepada dr. Idrat Riowastu, Sp.S selaku pembimbing yang telah
memberikan arahan sehingga laporan Case Report Session ini dapat terselesaikan
dengan baik dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian
laporan Case Report Session ini.

Penulis menyadari laporan ini masih banyak kekurangannya, untuk itu


saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penulis.Sebagai
penutup semoga kiranya laporan Case Report Session ini dapat bermanfaat bagi
kita khususnya dan bagi dunia kesehatan pada umumnya.

Jambi, Oktober 2018

Penulis

3
BAB I
PENDAHULUAN

Nyeri punggung bawah (NPB) atau Low back pain (LBP) adalah sindroma
nyeri yang terjadi pada daerah punggung bagian bawah atau daerahlumbosakral.
Nyeri pada NPB ini merupakan suatu kondisi yang tidak spesifik dan mengacu
pada keluhan nyeri akut ataupun nyeri kronik.Nyeri yang dirasakan ini dapat
berhubungan dengan spinal lumbalis, diskus intravertebralis, ligamen yang
mengelilingi spinalis dan diskus, medula spinalis dan saraf, otot dari punggung
bawah, organ dalam dari pelvik dan abdomen, atau kulit yang menutupi area
lumbalis.Nyeri ini dapat disebabkan oleh proses inflamasi, degeneratif, keganasan,
kelainan ginekologi, trauma dan gangguan metabolik. Faktor resiko yang dapat
menyebabkan NPB adalah faktor demografi (umur, jenis kelamin, genetik, IMT)
dan faktor gaya hidup (merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, bahaya kerja,
riwayat trauma pada tulang belakang dan stres).1,2
Anamnesa dan pemeriksaan fisik memegang peranan penting untuk bisa
mengetahui penyebab dari terjadinya nyeri punggung bawah ini seperti, riwayat
trauma, demam, riwayat kanker, penggunaan steroid yang lama, dan lain-lain.
Terdapat hasil penelitian yang menyebutkan bahwa hampir 48% pasien
dengan LBP tidak diketemukan penyebabnya yang jelas (Croft, 1999).Croft juga
menyebutkan bahwa 90 % klien dengan LBP menghentikan pengobatannya
setelah 3 bulan pengobatan walaupun nyerinya masih terasa.Pilihan terapi
digolongkan sebagai “konservatif”, tindakan pembedahan untuk nyeri punggung
bawah baru dipertimbangkan apabila terapi konservatif gagal dan nyeri punggung
bawah (low back pain) yang menetap untuk waktu yang lama.
NPB merupakan penyebab kedua penyakit yang menyebabkan
ketidakmampuan (disability) pada orang dewasa di Amerika Serikat dan juga
merupakan sebagai alasan umum untuk tidak masuk kerja.NPB telah menjadi
masalah kesehatan pada individu di seluruh dunia.Dengan prevalensi seumur
hidup berkisar antara 60% sampai 90%.NPB terutama mempengaruhi penduduk
yang bekerja baik di negara maju maupun berkembang.Dampak nyeri punggung
bawah tidak hanya mempengaruhi individu tetapi juga negara, melalui

4
pengeluaran medis yang terjadi serta mengurangi produktivitas pekerja.Penderita
mengeluarkan 60% dari biaya kesehatannya untuk pengobatan. Di negara-negara
industri maju seperti Amerika, biaya yang dikeluarkan akibat hilangnya jam kerja
dan biaya pengobatan per tahun bias mencapai lebih dari 200 milyar dolar.3-6
Pada tahun 2003 WHO memperkirakan prevalensi gangguan otot rangka
mencapai hampir 60% dari semua penyakit akibat kerja. Prevalensi nyeri
punggung bawah di negara negara Eropa mencapai lebih dari 70% dan puncaknya
terjadi pada usia produktif yaitu antara 35 sampai 55 tahun. Sedangkan di
Thailand prevalensi dalam waktu 6 bulan mencapai lebih dari 50% pada populasi
penelitian lebih dari 50 tahun. Di Indonesia sendiri data epidemiologi mengenai
nyeri punggung bawah belum ada, namun diperkirakan 40% penduduk pulau
Jawa Tengah berusia 65 tahun pernah menderita nyeri punggung. Insidensi
berdasarkan kunjungan pasien ke beberapa rumah sakit di Indonesia berkisar 3-
17%.7

5
BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTITASPASIEN
Nama : Tn. A
Umur : 43 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : RT. 05 Telang Bayung Lincir
Pekerjaan : Wiraswasta
MRS : 20 Oktober 2018

DAFTAR MASALAH
No. Masalah Aktif Tanggal Masalah Pasif Tanggal
1. Nyeri punggung 20-10- 2018

II. DATA SUBYEKTIF (Anamnesis)


1. Keluhan utama :
Os mengeluh nyeri di punggung bawah bagian kanan sejak ± 1 minggu
SMRS.

2. Riwayat Penyakit Sekarang


a. Lokasi : Punggung kanan bawah sampai ujung jari kaki kanan
b. Onset : Perlahan lahan semakin memberat.
c. Kualitas : Nyeri jika banyak digerakkan sehingga mengganggu
aktivitas.
d. Kuantitas : terus meneus
e. Kronologis :
Tn. A, berusia 43 tahun, datang ke IGD RSUD Raden Mattaher dengan
keluhan:
Sejak ± 1 minggu SMRS, pasien mengeluh nyeri pada punggung bawah
kanan .Nyeri dirasakan secara perlahan yang makin lama makin memberat
setelah pasien mengangkat beban berat, Nyeri di rasakan terus menerus dan bila nyeri

6
pasien sampai sulit untuk beraktivitas.Nyeri dirasakan mulai dari pinggang
hingga ujung-ujunga jari kaki kanan.Nyeri semakin hebat saat pasien
berjalan dan banyak bergerak/beraktivitas.Nyeri juga dirasakan semakin
berat saat pasien melakukan perubahan posisi (duduk ke berdiri ataupun
tidur ke duduk).Nyeri berkurang saat pasien beristirahat dan
berbaring.Skala nyeri menurut pasien adalah 9
Riwayat jatuh sebelumnya tidak ada.Pasien tidak mengalami keluhan
buang air kecil dan buang air besar.Riwayat demam (-), batuk lama (-),
penurunan berat badan (-),riwayat trauma (-),Pasien tidak mengeluhkan
nyeri kepala, pusing berputar (-), pelihatan ganda (-), bicara pelo (-
),kehilangan kesadaran (-), saat dianamnesis pasien sadar dan dapat
menjawab pertanyaan yang diberikan dengan baik.
Menurut pengakauan pasien, keluhan ini sudah pernah diobati namun
tidak kunjung ada perbaikan.

3. Riwayat penyakit dahulu:


Riwayat keluhan serupa sebelumnya nyeri pinggang disangkal
Riwayat jatuh pada daerah pinggang disangkal
Riwayat penyakit kencing manis disangkal
Riwayat stroke disangkal
Riwayat penyakit ginjal disangkal
Riwayat batuk lama disangkal
Riwayat stress emosi disangkal
Riwayat hipertensi
Riwayat keganasan atau tumor disangkal
Riwayat operasi disangkal

4. Riwayat penyakit keluarga: Tidak ada anggota keluarga yang mengalami


keluhan yang sama seperti pasien.

Riwayat sosial, ekonomi, kebiasaan :Pasien seorang laki-laki yang memiliki


tiga orang anak, perekonomian menengah, Riwayat sering mengangkat dan

7
melakukan pekerjaan berat diakui, pasien memiliki rumah yang bertingkat
sehingga sehari-hari pasien sering naik-turun tangga.

5. Anamnesis Sistem:

Sistem serebrospinal : tidak ada keluhan

Sistem kardiovaskuler : tidak ada keluhan

Sistem respirasi : tidak ada keluhan

Sistem gastrointestinal : tidak ada keluhan

Sistem musculoskeletal : Nyeri pinggang kanan

Sistem integumentum : tidak ada keluhan

Sistem urogenital : tidak ada keluhan

III. OBYEKTIF
1. Status Presens
Kesadaran : Compos mentis,GCS: 15 E:4 M:6 V: 5
Tekanan darah : 160/110 mmHg.
Nadi :70x/menit.
Suhu : 37oC.
Respirasi : 22x/menit.
SpO2 : 98%

2. Status Internus
Kepala : Mata : CA-/-, SI -/-.
Pupil : Isokor, refleks cahaya (+/+).
Leher : Kelenjar thyroid tidak membesar, KGB tidakmembesar,
tidak ada deviasi trakhea.
Dada : Simetris, tidakada retraksi.
Jantung : Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat.

8
Palpasi : Ictus cordis teraba pada ICS V, 2
jari medial LMC sinistra, selebar ±
2 cm, tidak kuat angkat.
Perkusi :
 Batas Atas : Linea parasternal dextraICS II
 Pinggang Jantung : Linea parasternal sinistra ICS II
 Batas kiri : 2 jari medial LMC sinistra ICS V.
 Batas kanan : Linea parasternal dextra ICS IV.
Auskultasi: BJ I/II reguler, gallop (-), murmur (-).
Paru :Inspeksi : Simetris, retraksi (-/-), ketinggalan gerak (-/-)
Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri, Nyeri tekan (-/-),
krepitasi (-/-).
Perkusi : Sonor paru kanan= kiri.
Auskultasi :Vesikuler (+/+),wheezing(-/-), ronkhi (-/-).
Perut :Inspeksi : Datar, luka operasi (-).
Auskultasi : Bising usus (+) Normal.
Palpasi : Distensi (-), sikatrik (-), Supel, nyeri tekan(-
),massa (-), hepar lien tidakteraba.
Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen.
Alat kelamin : tidak diperiksa.
Ekstremitas : akral hangat, edema (-/-), sianosis (-), CRT < 2 detik.

3. Status Psikitus
Cara berpikir : Baik.
Perasaan hati : Cukup Baik.
Tingkah laku : Normoaktif.
Ingatan : Baik.
Kecerdasan : Baik.

4. Status neurologikus
a. Kepala
Nyeri tekan : (-)

9
Simetri : (+)
Pulsasi : (-)
b. Leher
Sikap : Normal
Pergerakan : Normal
Kaku kuduk : (-)

Nervus Kranialis Kanan Kiri


N I (Olfaktorius)
Subjektif Baik Baik
Objektif (dengan bahan) Baik Baik
N II (Optikus)
Tajam penglihatan Baik Baik
Lapangan pandang Baik Baik
Melihat warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Funduskopi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
N III (Okulomotorius)
Sela mata Simetris Simetris
Ptosis Tidak ada Tidak ada
Pergerakan bola mata Normal Normal
Nistagmus Tidak ada Tidak ada
Ekso/endotalmus Tidak ada Tidak ada
Pupil :
bentuk Bulat, isokor, 3 mm Bulat, isokor, 3 mm
reflex cahaya + +
reflex konvergensi + +
Melihat kembar - -
N IV (Trochlearis)
Pergerakan bola mata ke Normal Normal
bawah-dalam
Diplopia - -
N V (Trigeminus)
Motorik
Otot Masseter Normal Normal
Otot Temporal Normal Normal
Otot Pterygoideus Normal Normal
Sensorik
Oftalmikus Normal Normal
Maksila Normal Normal
Mandibula Normal Normal
N VI (Abdusen)
Pergerakan bola mata Normal Normal
(lateral)

10
Diplopia - -
N VII (Fasialis)
Mengerutkan dahi Simetris Simetris
Menutup mata Normal Normal
Memperlihatkan gigi Normal Normal
Bersiul Normal Normal
Sensasi lidah 2/3 depan Normal Normal
N VIII (Vestibularis)
Suara berbisik Normal Normal
Detik arloji Normal Normal
Rinne test Normal Normal
Weber test Normal Normal
Swabach test Normal Normal
Nistagmus Tidak ada Tidak ada
N IX (Glossofaringeus)
Sensasi lidah 1/3 blkg Normal Normal
Refleks muntah + +
N X (Vagus)
Arkus faring Simetris
Berbicara Normal
Menelan Baik
Refleks muntah Baik
Nadi Normal
N XI (Assesorius)
Menoleh ke kanan + +
Menoleh ke kiri + +
Mengangkat bahu + +
N XII (Hipoglosus)
Kedudukan lidah Lurus ke depan
dijulurkan
Atropi papil -
Disartria -

Badan dan Anggota Gerak Kanan Kiri


Badan
Motorik
Respirasi Simetris Simetris
Duduk Normal Normal
Bentuk kolumna vertebralis Normal Normal
Pergerakan kolumna vertebralis Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Sensibilitas
Taktil Normal Normal
Nyeri Normal Normal
Thermi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Reflek
Reflek kulit perut atas Normal Normal

11
Reflek kulit perut tengah Normal Normal
Reflek kulit perut bawah Normal Normal
Anggota Gerak Atas
Motorik
Pergerakan Cukup Cukup
Kekuatan 5 5
Tonus Normal Normal
Trofi - -
Sensibilitas
Taktil Normal Normal
Nyeri Normal Normal
Thermi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Reflek
Biseps + +
Triseps + +
Hoffman-Tromner - -
Anggota Gerak Bawah
Motorik
Pergerakan + +
Kekuatan 5 5
Tonus Normal Normal
Trofi Eutrofi Eutrofi
Sensibilitas
Taktil Normal Normal
Nyeri Normal Normal
Thermi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Reflek
Patella + +
Achilles + +
Babinsky - -
Chaddock - -
Rossolimo - -
Mendel-Bechterew - -
Schaefer - -
Oppenheim - -
Klonus Paha - -
Klonus Kaki - -
Tes Laseque + -
Kontra Laseque + -
Patrick + -
Kontra Patrick + -
Bragard - -
Sicard - -

12
Koordinasi, Gait dan Keseimbangan Hasil Pemeriksaan
Cara berjalan Butuh bantuan
Test Romberg -
Disdiadokinesis -
Ataksia -
Rebound Phomenon -
Dismetria -

Gerakan-gerakan Abnormal Hasil Pemeriksaan


Tremor -
Athetosis -
Miokloni -
Khorea -

Alat Vegetatif Hasil Pemeriksaan


Tidak ada kelainan 2-3 kali
Miksi sehari, warna kuning, nyeri (-),
darah (-).
Tidak ada kelainan 1-2 kali
Defekasi
sehari, nyeri (-), darah (-)

Tes tambahan
Tes Nafziger Tidak dilakukan
Tes Valsava Tidak dilakukan

5. Status lokalis punggung


 Look (inspeksi)
Tidak tampak deformitas, bengkak, kemerahan, panas.
 Feel (palpasi)
Nyeri tekan pada area punggung sekitar lumbal 3-5
 Move (gerak)
Pasien terbatas melakukan gerakan-gerakan tertentu karena
menimbulkan nyeri.

IV. RINGKASAN
S:
 Nyeri punggung kanan bawah ± 1 minggu SMRS
 Kualitas Nyeri dirasakan secara perlahan yang makin lama makin memberat
sepertidi tusuk-tusuk

13
 Nyeri di rasakan hilang timbul dan bila nyeri pasien sampai sulit untuk beraktivitas.
 Nyeri semakin hebat saat pasien berjalan dan membungkuk. Nyeri juga
dirasakan semakin berat saat pasien melakukan perubahan posisi (duduk ke
berdiri ataupun tidur ke duduk). Nyeri berkurang saat pasien beristirahat dan
berbaring.
 Riwayat sering mengangkat dan melakukan pekerjaan berat diakui, pasien
memiliki rumah yang bertingkat sehingga sehari-hari pasien sering naik-turun
tangga.

O: Kesadaran : Compos mentis,GCS: 15 E:4 M:6 V: 5


Tekanan darah : 160/110 mmHg.
Nadi : 70x/menit.
Suhu : 37oC.
Respirasi : 22x/menit.
SpO2 : 98%
Nyeri tekan vertebra (+)
IMT : 23 (normoweight)

A : Diagnosis Klinis : LBP


Diagnosis Topis : Vertebra Lumbalis L5-S1
Diagnosis Etiologi : Angkat beban berat

P :Non-medikamentosa:
Tidur pada kasur yang datar dan tidak terlalu empuk
Beristirahat yang cukup
Jangan terlalu banyak melakukan aktivitas
Jangan mengangkat beban yang berat

Medikamentosa:
IVFD RL 20 tpm
Tramadol extra bolus
Diazepam 2x2mg

14
Rencana pemeriksaan penunjang :
Foto Rontgen Lumbosakral AP/Lateral

Mx:Pantau tanda-tanda vital dan skala nyeri

Ex:Beri penjelasan kepada pasien mengenai penyakitnya, faktor risiko,


mengatur pola makan yang sehat, penanganan stress dan istirahat yang cukup,
komplikasi serta prognosisnya.

V. PROGNOSIS
- Quo ad vitam : dubia ad bonam
- Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
- Quo ad sanam : dubia ad bonam

15
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Punggung


Garis besar struktur punggung bawah terdiri dari (1) kolumna vertebralis
dengan jaringan ikatnya, termasuk discus intervertebralis dan nukleus pulposus,
(2) jaringan saraf yang meliputi konus medularis, filum terminalis, durameter dan
araknoid, radiks dengan saraf spinalnya, (3) pembuluh darah dan (4) muskulus
atau otot skelet.8

2.1.1 Kolumna Vertebralis


Kolumna vertebralis berfungsi menyanggah kranium, gelang bahu,
ekstremitas superior, dan dinding toraks serta melalui gelang panggul meneruskan
berat badan ke ekstremitas inferior. Di dalam rongganya terletak medulla spinalis,
radiks nervi spinales, dan lapisan penutup meningen.9

Unit Fungsional Kolumna Vertebralis


1. Segmen anterior
Sebagian besar fungsi segmen ini adalah sebagai penyangga badan.
Segmen ini meliputi korpus vertebrae dan diskus intervertebralis yang diperkuat
oleh ligamentum longitudinale anterior dan ligamentum longitudinale posterior.8

2. Segmen posterior
Segmen ini dibentuk oleh arkus, prosesus transversus dan prosesus
spinosus. Satu sama lain dihubungkan dengan sepasang artikulasi dan beberapa
ligamentum serta otot. Gerakan tubuh yang terbanyak ialah gerakan fleksi dan
ekstensi.Dan gerakan ini paling banyak dilakukan oleh sendi L5-S1, yang
dimungkinkan oleh bentuk artikulasinya yang tidak datar tetapi membentuk sudut
30 derajat dengan garis datar. Titik tumpu berat badan terletak kira-kira 2,5 cm di
depan S2. Titik ini penting karena setiap pemindahan titik tersebut akan memaksa
tubuh untuk mengadakan kompensasi dengan jalan mengubah sikap.8

16
Komposisi Kolumna Vertebralis
Kolumna vertebralis terdiri atas 33 vertebra, yaitu 7 vertebra servikalis, 12
vertebra torakalis, 5 vertebra lumbalis, 5 vertebra sakralis (yang bersatu
membentuk os sacrum), 4 vertebra koksigis.9
Struktur kolumna ini fleksibel, karena kolumna ini bersegmensegmen dan
tersusun atas vertebra, sendi-sendi, dan bantalan fibrokartilago yang disebut
diskus intervetebralis. Pada bagian servikal dan lumbal tulang belakang
menunjukkan posisi lordosis (melengkung ke dalam) dan pada bagian torakal dan
sacral tulang belakang menunjukkan posisi kifosis (melengkung ke luar).9

Ciri-ciri umum vertebra


Vertebra tipikal terdiri atas korpus yang bulat di anterior dan arkus
vertebra di posterior.Keduanya melingkupi sebuah ruang disebut foramen
vertebralis, yang dilalui oleh medulla spinalis dan bungkus-bungkusnya.Arkus

17
vertebra terdiri atas sepasang pedikulus yang berbentuk silinder, yang membentuk
sisi-sisi arkus, dan sepasang lamina gepeng yang melengkapi arkus dari posterior.
Arkus vertebra mempunyai tujuh prosesus yaitu satu prosesus spinosus yang
menonjol ke posterior dari pertemuan kedua lamina, dua prosesus transversus
yang menonjol ke posterolateral dari pertemuan lamina dan pedikulus, dan empat
prosesus artikularis (masing-masing dua pada bagian superior dan inferior).9
Prosesus spinosus dan prosesus transversus berfungsi sebagai pengungkit
dan menjadi tempat melekatnya otot dan ligamentum.Prosesus artikularis yang
terletak vertikal ini menonjol dari pertemuan antara lamina dan pedikulus, dan
fasies artikularisnya diliputi oleh kartilago hialin. Kedua prosesus artikularis
superior dan sebuah arkus vertebra bersendi dengan kedua prosesus artikularis
inferior dari arkus yang ada di atasnya, membentuk sendi sinovial.9
Pedikulus mempunyai lekuk pada pinggir atas dan bawahnya, membentuk
incisura vertebralis superior dan inferior.Pada masing-masing sisi, incisura
vertebralis superior sebuah vertebra dan incisura vertebralis inferior dari vertebra
di atasnya membentuk foramen intervetebralis.Foramen ini berfungsi sebagai
tempat lewatnya nervus spinalis dan pembuluh darah. Radiks anterior dan
posterior nervus spinalis bergabung di dalam foramen ini, bersama dengan
pembungkusnya membentuk saraf spinalis segmentalis.9

Ciri-ciri vertebra lumbalis tipikal


1. Korpus besar dan berbentuk ginjal
2. Pedikulus kuat dan mengarah ke belakang
3. Lamina tebal
4. Foramen vertebralis berbentuk segitiga
5. Prosesus transversus panjang dan langsing
6. Prosesus spinosus pendek, rata, dan berbentuk segiempat dan mengarah ke
belakang.
7. Fasies artikularis prosesus artikularis superior menghadap ke medial dan fasies
artikularis prosesus inferior menghadap kelateral.

18
Vertebra lumbal tidak mempunyai fasies artikularis untuk bersendi dengan
kosta dan tidak ada foramen pada prosesus transversus.9

Os Sacrum
Os sacrum mempunyai lima vertebra rudimenter yang bergabung menjadi
satu membentuk sebuah tulang berbentuk baji yang cekung di anterior dan seperti
segitiga jika dilihat dari arah depan. Pinggir atas atau basis tulang bersendi dengan
vertebra lumbalis V. Pinggir bawah bersendi dengan os coccygis.Di lateral, os
sacrum bersendi dengan dua os coxae untuk membentuk artikulasio sakroiliaka.
Pinggir anterior dan atas vertebra S1 menonjol ke depan sebagai margo posterior
apertura pelvis superior dan dikenal sebagai promontorium sakralis.9
Terdapat foramina vertebralis dan membentuk kanalis sakralis.Lamina
vertebra sakralis kelima dan kadang-kadang juga vertebra sakraliske empat tidak
mencapai garis tengah dan membentuk hiatus sakralis.Kanalis sakralis berisi
radiks anterior dan posterior nervi spinalis sakraliscoccygealis, filum terminale
dan zat-zat fibroadiposa. Permukaan anteriordan posterior sakrum mempunyai

19
empat foramen pada setiap sisi, untuktempat lewatnya ramus anterior dan
posterior nervus spinalis S1-S4.9

Diskus Intervertebralis
Diskus intervetebrlis menyusun seperempat dari panjang
kolumnavertebralis.Diskus ini paling tebal di daerah servikal dan lumbal,
tempatbanyak terjadi gerakan kolumna vertebralis.Tetapi diskus
intervetebralistidak ditemukan di antara vertebra C1 dan 2, di dalam os sacrum
dan tulangkoksigis.Struktur ini dapat dianggap sebagai diskus semi elastis,
yangterletak di antara korpus vertebra yang berdekatan dan bersifat kaku.
Cirifisiknya memungkinkannya berfungsi sebagai peredam benturan bilabeban
pada kolumna vertebralis mendadak bertambah, seperti bilaseseorang melompat
dari tempat yang tinggi.9
Setiap diskus terdiri atas bagian pinggir yaitu annulus fibrosus danbagian
tengah yaitu nukleus pulposus. Annulus fibrosus terdiri atasjaringan fibrokartilago,
di dalamnya serabut-serabut kolagen tersusundalam lamel-lamel yang konsentris.9
Nukleus pulposus pada anak-anak dan remaja merupakan masalonjong
dari zat gelatin yang banyak mengandung air, sedikit serabutkolagen, dan sedikit
sel-sel tulang rawan.Permukaan atas dan bawahkorpus vertebra yang berdekatan
yang menempel pada diskus diliputi olehkartilago hialin yang tipis.Sifat nukleus
pulposus yang setengah cair memungkinkannyaberubah bentuk dan vertebra dapat
menjungkit ke depan atau ke belakang,seperti pada gerakan fleksi dan ekstensi
kolumna vertebralis. Strukturnukleus pulposus yang elastis memungkinkan diskus
untuk menahankompresi dan torsi. Seiring bertambahnyausia, diskus akan
menjadi lebih kaku dan lebih sulit untuk menahan kompresi.9
Peningkatan beban kompresi yang mendadak pada kolumnavertebralis
menyebabkan nukleus pulposus yang semi cair ini menjadigepeng. Dorongan
keluar dari nukleus ini dapat ditahan oleh daya pegasannulus fibrosus
disekelilingnya.9

Ligamentum
1. Ligamentum longitudinal anterior dan posterior

20
Ligamentum longitudinal anterior meliputi bagian depan dan sisibadan
vertebra yang berjalan turun dari kranium sampai ke sakrum.Ligamentum
longitudinal anterior melekat pada tepi atas dan tepibawah setiap korpus vertebra
untuk membatasi ekstensi tulangbelakang dan mencegah gerakan maju mundur
relatif terhadap satusama lainnya. Ligamentum longitudinal posterior
membentang darioksiput sampai sakrum, berjalan melalui bagian belakang
korpusvertebra serta melekat pada pinggir posterior diskus. Ligamentum
inimembantu membatasi gerakan fleksi vertebra.8,9
2. Ligamentum supraspinalis
Berjalan diantara ujung-ujung prosesus spinosus yang berdekatan.
3. Ligamentum interspinalis
Menghubungkan prosesus spinosus yang berdekatan.
4. Ligamentum intertransversaria
Berjalan diantara prosesus transversus yang berdekatan.
5. Ligamentum flavum
Menghubungkan lamina dari vertebra yang berdekatan.9

Gerakan kolumna vertebralis


a. Fleksio adalah gerakan ke depan, dan ekstensio adalah gerakan kebelakang.
Keduanya dapat dilakukan leluasa di daerah servikal danlumbal, tetapi terbatas
di daerah torakal.
b. Laterofleksio adalah melengkungnya tubuh ke salah satu sisi. Gerakanini
mudah dilakukan di daerah servikal dan lumbal, tetapi terbatas didaerah torakal.
c. Rotasio adalah gerakan memutar kolumna vertebralis. Gerakan inisangat
terbatas di daerah lumbal.
d. Sirkumdiksio adalah kombinasi dari seluruh gerakan-gerakan diatas.

Di daerah lumbal, fleksio dilakukan oleh m. rectus abdominis dan


mm.psoas.Ekstensio dilakukan oleh mm. postvertebrales.Laterofleksiodilakukan
oleh mm. postvetebralis, m.quadratus lumborum, dan otot-ototserong dinding
anterolateral abdomen.M. psoas mungkin ikut dalamgerakan ini. Rotasio
dilakukan oleh otot-otot rotator dan otot-otot dindinganterolateral abdomen.9

21
2.1.2 Otot-otot Punggung
Otot-otot superfisial
Otot-otot ini merupakan bagian ekstremitas superior yaitu, m.trapezius, m.
lattisimus dorsi, m. levator scapulae, dan m. rhomboideusmajor dan minor9

Otot-otot intermedia
Otot-otot ini berhubungan dengan respirasi dan terdiri atasm.serratus
posterior superior, m.serratus posterior inferior danm.levatores costarum.9

Otot-otot profunda punggung (otot-otot postvertebralis)


Pada posisi berdiri, garis gaya berat berjalan melalui dens axis, dibelakang
pusat sendi koksa, dan di depan sendi lutut dan pergelangankaki. Akibatnya bila
tubuh dalam posisi ini, sebagian besar berat badanjatuh di depankolumna
vertebralis. Oleh karena itu, otot postvertebralispada manusia berkembang dengan

22
lebih baik. Tonus posturnal otot-ototpostvertebralis ini merupakan faktor utama
dalam mempertahankankelengkungan normal kolumna vertebralis.9
Otot-otot punggung profunda membentuk kolum jaringan ototyang lebar
dan tebal, yang menempati lekukan di kanan kiri prosesusspinosus.Otot-otot ini
terbentang dari sakrum sampai kranium.Prosesus spinosus dan prosesus
transversus vertebra berfungsisebagai pengungkit yang mempermudah kerja
otot.Otot-ototterpanjang terletak superfisial dan berjalan vertical dari sakrum
keangulus kosta, prosesus transversus, dan prosesus spinosus vertebrabagian
atas.Otot-otot dengan panjang sedang (intermedia) berjalanmiring dari prosesus
spinosus ke prosesus transversus. Otot-otot palingpendek dan paling dalam
berjalan di antara prosesus spinosus dandiantara prosesus transversus vertebra
yang berdekatan.9

2.1.3 Fasia Profunda Punggung (Torakolumbal)


Fasia torakolumbal berfungsi untuk membantu menyatukan gerakantubuh
bagian atas dengan bagian bawah. Hal ini didukung oleh bentuk danlokasinya
yang cukup terpusat di bagian belakang, serta memiliki tingkatfleksibilitas dan
memungkinkan fasia torakolumbal untuk melakukantransmisi kekuatan untuk
kontraksi dan relaksasi otot.10
Pars lumbalis fasia profunda terletak di dalam celah antarakristailiaka dan
kosta XII. Bagian ini membentuk aponeurosis kuat dan dilateral menjadi tempat
origo serabut-serabut tengah m.transversusabdominus dan serabut-serabut atas
m.obliquus internus dindingabdomen.9,10
Di medial, pars lumbalis fasia profunda pecah menjadi tiga lamel.Lamel
posterior menutupi otot-otot profunda punggung dan melekat padaprosesus
spinosus vertebra lumbalis. Lamel tengah berjalan ke arahmedial, dan melekat
pada ujung prosesus transversus vertebra lumbalis,lamel ini terletak di depan otot
punggung profunda dan di belakangm.quadratus lumborum. Lamel anterior
berjalan ke medial dan melekatpada permukaan anterior prosesus transversus
vertebra lumbalis, lamel initerletak di depan m.quadratus lumborum. Di daerah
torakal, fasia profundamelekat dimedial pada prosesus spinosus vertebra dan di

23
lateral padaangulus kosta. Fasia ini menutupi permukaan posterior otot
punggungprofunda. Di daerah servikal, fasia profunda jauh lebih tipis.9

2.1.4 Pendarahan Punggung


Arteri
Di daerah servikal, cabang-cabang yang berasal dari a.occipitalis,sebuah
cabang a.carotis externa dari a.vertebralis, sebuah cabanga.subclavia dari
a.cervicalis profunda, sebuah cabang dan truncuscostoservikalis, cabang dari
a.subclavia, dan dari a.cervicalis ascenden,sebuah cabang dari a.thyroidea
inferior.9
Di daerah torakal, cabang-cabang berasal dari aa. Intercostalesposteriors,
dan di daerah lumbal cabang-cabang dari a.subcostalis danlumbalis. Di daerah
sakrum, cabang-cabang berasal dari a.iliolumbalisdan a.sacralis lateralis, cabang-
cabang dari a.iliaca interna.9

Vena
Vena-vena yang mengalirkan darah dari struktur-struktur dipunggung
membentuk pleksus rumit yang terbentang sepanjangkolumna vertebralis dari
kranium sampai ke koksigis.Vena-vena inidapat dibagi menjadi (a) yang terletak
di luar kolumna vertebralis danmengelilinginya membentuk pleksus venosus
vertebralis eksternus dan(b) yang terletak di dalam kanalis vertebralis dan
membentuk pleksusvenosus vertebralis internus.Pleksus-pleksus ini berhubungan
secarabebas dengan vena-vena di leher, toraks, abdomen dan pelvis. Di
atas,pleksus ini berhubungan dengan sinus venosus oksipitalis dan basilarisdi
dalam kavum kranial melalui foramen magnum.9
Pleksus venosus vertebralis internus terletak di dalam kanalisvertebralis
tetapi di luar durameter medulla spinalis.Pleksus initertanam di dalam jaringan
areolar dan menampung cabang-cabang darivertebra dengan perantaraan
vv.basivertebralis dan dari meningen sertamedulla spinalis.Pleksus internus
bermuara ke dalamv.intervertebralis, yang berjalan ke luar bersama dengan saraf
spinalmelalui foramen intervertebralis. Lalu, vena ini akan bergabung
dengancabang-cabang dari pleksus venosus vertebralis eksternus danselanjutnya

24
bermuara berturut-turut ke dalam v.vertebralis,v.intercostalis, v.lumbalis, dan
v.sacralis lateralis.9

2.1.5 Persarafan Punggung


Kulit dan otot-otot pinggang dipersarafi secara segmental oleh
ramiposterior 31 pasang saraf spinalis.Rami posterior C1, C6, C7 dan C8 sertaL4
dan L5 mempersarafi otot punggung profunda, tetapi tidakmempersarafi kulitnya.
Ramus posterior C2 (n. occipitalis major) berjalanke atas melalui tengkuk dan
mempersarafi kulit kepala, rami posteriorberjalan ke bawah dan lateral serta
mempersarafi sebagian kulit, sedikit dibawah tempat keluarnya foramen
intervertabralis. Setiap ramus posteriorterbagi menjadi dua, yaitu cabang medial
dan lateral.9

2.1.6 Aliran Limfe Punggung

25
Pembuluh-pembuluh limfe profunda mengikuti vena dan bermuarake
dalam nodi lymphoidei cervicalis profunda, mediastinalis posterior,aortica
lateralis dan sacralis. Pembuluh limfe dari kulit leher bermuara kenodulus
servikalis, yang berasal dari batang tubuh diatas crista iliacabermuara ke nodus
axillaris, dan yang berasal dari daerah di bawah cristailiaca bermuara ke nodus
inguinalis superficialis.9

2.2 Nyeri Punggung Bawah (NPB)


2.2.1 Definisi NPB
Nyeri Punggung Bawah (NPB) adalah perasaan nyeri di
daerahlumbosakral dan sakroiliakal.8 Sensasi nyeri pada area lumbosacral
meliputi vertebra lumbalis pertama hingga vertebra sakralis
pertama.Inimerupakan area spinalis dimana kurva lordotic terbentuk. Sisi yang
palingsering terkena adalah pada segmen lumbalis keempat dan kelima.11
Sebagian besar nyeri punggung bersifat sederhana, yaitu berkaitandengan
kerja tulang, ligamen dan otot punggung.Gejala nyeri punggungdapat bervariasi
pada tiap orang, meliputi sakit dan kaku otot, kebas (matirasa), rasa berat, pegal,
serta kesemutan. Nyeri punggung dapat menjalarke bagian tubuh lain, seperti
bokong, tungkai dan kaki.12,13

26
2.2.2 Klasifikasi NPB
Macnab menyusun klasifikasi NPB sebagai berikut: (a) viserogenik,(b)
vaskulogenik, (c) neurogenik, (d) psikogenik, dan (e) spondilogenik.8
a. NPB Viserogenik
NPB yang bersifat viserogenik disebabkan oleh adanya prosespatologik di
ginjal atau visera di daerah pelvis, serta tumorretroperitoneal.
b. NPB Vaskulogenik
Aneurisma atau penyakit vaskular perifer dapat menimbulkannyeri
punggung atau nyeri menyerupai iskialgia. Iskialgia adalahnyeri yang terasa
sepanjang N. Iskiadikus ditandai dengan adanya nyeriatau rasa tidak enak di
tungkai, baik yang terasa setempat maupun yangmenjalar sampai ke lutut atau
lipatan lutut, atau yang menjalar keselangkangan.
c. NPB Neurogenik
Keadaan patologik pada saraf dapat menyebabkan nyeripunggung bawah,
yaitu pada:
1. Neoplasma
Neoplasma seperti neurinoma, hemangioma, ependimoma,dan meningioma
sering menyebabkan nyeri punggung bawah.
2. Araknoiditis
Araknoiditis merupakan gangguan rasa sakit yang disebabkanoleh peradangan
pada araknoid, salah satu dari membran yangmengelilingi dan melindungi saraf
tulang belakang.
3. Stenosis kanalis spinalis
Menyempitnya kanalis spinalis disebabkan oleh karena prosesdegenerasi
diskus intervertebralis dan biasanya disertai olehligamentum flavum. Gejala
klinik yang timbul ialah adanyaklaudikasio intermiten yang disertai rasa
kesemutan dan pada saatpenderita istirahat maka rasa nyerinya masih tetap ada.
d. NPB Psikogenik
Pada umumnya disebabkan oleh ketegangan jiwa atau kecemasandan
depresi.

27
e. NPB Spondilogenik
NPB spondilogenik ialah suatu nyeri yang disebabkan olehberbagai proses
patologik di kolumna vertebralis yang terdiri dari unsurtulang (osteogenik), diskus
intervertebralis (diskogenik), dan miofasial(miogenik), serta proses patologik di
artikulasio sakroiliaka.
1. NPB osteogenik disebabkan oleh:
 Radang atau infeksi misalnya osteomielitis vertebral danspondilitis
tuberkulosa.
 Trauma, yang dapat mengakibatkan fraktur maupunspondilolistesis.
 Keganasan, dapat bersifat primer (terutama mieloma multipleks)maupun
sekunder/metastatik yang berasal dari proses keganasandi kelenjar tiroid,
paru-paru, payudara, hati, prostat dan ovarium.
 Kongenital, misalnya skoliosis lumbal. Nyeri yang timbuldisebabkan oleh
iritasi dan peradangan selaput artikulasiposterior satu sisi.
 Metabolik, misalnya osteoporosis, osteofibrosis,
alkaptonuria,hipofosfatemia familial.
2. NPB diskogenik, disebabkan oleh:
 Spondilosis, disebabkan oleh proses degenerasi progresif padadiskus
intervertebralis, yang mengakibatkan makinmenyempitnya jarak antar
vertebra sehingga mengakibatkanterjadinya osteofit, penyempitan kanalis
spinalis dan foramenintervertebra serta iritasi persendian posterior. Rasa
nyeri padaspondilisis ini disebabkan oleh terjadinya osteoartritis dan
tertekannya radiks oleh kantong duramater yang mengakibatkaniskemi dan
radang.
 Hernia Nukleus Pulposus (HNP), ialah keadaan di mana nucleus pulposus
keluar menonjol untuk kemudian menekan ke arahkanalis spinalis melalui
anulus fibrosus yang robek.
 Spondilitis Ankilosa, proses ini mulai dari sendi sakroiliaka,yang
kemudian menjalar ke atas, ke daerah leher yang terusberlanjut selama
lebih dari tiga bulan. Gejala permulaan beruparasa kaku di punggung
bawah waktu bangun tidur dan hilangsetelah mengadakan gerakan.

28
3. NPB miogenik, disebabkan oleh ketegangan otot, spasme otot,defisiensi otot
dan hipersensitif.
 Ketegangan otot, disebabkan oleh sikap tegang yang konstanatau
berulang-ulang yang akhirnya akan menimbulkan perasaannyeri. Keadaan
ini tidak akan terlepas dari kebiasaan buruk atausikap tubuh yang tidak
atau kurang fisiologik. Pada struktur yangnormal, kontraksi otot
mengurangi beban pada ligamentumdalam waktu yang wajar. Apabila
otot-otot menjadi lelah, makaligamentum yang kurang elastis akan
menerima beban yanglebih berat. Rasa nyeri timbul oleh karena iskemia
ringan padajaringan otot, regangan yang berlebihan pada
perlekatanmiofasial terhadap tulang, serta regangan pada kapsula.
 Spasme otot atau kejang, disebabkan oleh gerakan yang tiba-tibadimana
jaringan otot sebelumnya dalam kondisi yang tegangatau kaku atau kurang
pemanasan. Spasme otot ini memberikangejala yang khas, yaitu adanya
kontraksi otot yang disertaidengan nyeri yang hebat. Setiap gerakan akan
memperberat rasa
 nyeri sekaligus menambah kontraksi. Akan terjadi lingkaranantara nyeri,
kejang atau spasme dan ketidakmampuan bergerak.
 Defisiensi otot, disebabkan oleh kurang latihan sebagai akibatdari
mekanisasi yang berlebihan, tirah baring yang terlalu lamamaupun karena
imobilisasi.
 Otot yang hipersensitif, akan menciptakan satu daerah kecil yangapabila
dirangsang akan menimbulkan rasa nyeri dan menjalarke daerah tertentu.
Daerah kecil tadi disebut sebagai noktah picu(trigger point). Dalam
pemeriksaan klinik terhadap penderitaNPB, tidak jarang dijumpai adanya
noktah picu ini.

2.2.3 Etiologi NPB


1. Kongenital
a. Spina bifida
Defek pada arcus spinosus lumbal/sacral akibat gangguanproses pembentukan
sehingga tidak terdapat ligament interspinosusyang menguatkan daerah

29
tersebut. Hal ini menyebabkan mudahtimbulnya lumbosacral strain yang
bermanifestasi sakit pinggang.6
b. Spondilolisis
Bagian posterior ruas tulang belakang terputus sehinggatidak terdapat
diskontinuitas antara prosesus artikularis superiordan inferior. Kelainan ini
terjadi karena arcus neuralis putus tidaklama setelah neonatus dilahirkan.6
c. Spondilolistesis
Suatu keadaan dimana terjadi pergeseran lumbar ke arahanterior ruas vertebrae.
Biasanya antara lumbar L4 dan L5.6

2. Trauma
a. Trauma besar
Trauma besar merupakan tercabutnya insersi otot erectortrunci, dimana pada
keadaan ini penderita dapat menunjuk daerahyang nyeri tekan pada daerah
tersebut (udem atau hematom).Ruptur ligament interspinosum, secara mutlak
atau parsialmengakibatkan nyeri tajam pada tempat ruptur yang makin
beratjika pasien membungkuk. Fraktur korpus vertebrae lumbal,penderita
merasakan nyeri setempat yang kemudian dapat disertairadiasi ke tungkai
(referred pain).6
b. Trauma kecil
Trauma kecil terdiri dari sacroiliaca strain dan lumbosacralstrain. Hal ini
disebabkan daerah tersebut merupakan penunjangutama dari tubuh dan
aktivitas fisik.Kelainan terjadi karena daerahtersebut bekerja terus
menerus.Keluhan utamanya berupa pegal,ngilu, panas pada bagian bawah
punggung. Tidak didapatkan nyeritekan dan mobilitas tulang masih baik.6

3. Inflamasi
a. Rheumatoid arthritis
Rheumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun yangmenyerang persendian
tulang.Sendi yang terjangkit mengalamiperadangan sehingga terjadi
pembengkakan, nyeri dan kemudiansendi mengalami kerusakan. Akibat

30
peradangan pada sinovium(sinovitis) yang menahun, maka akan terjadi
kerusakan pada tulangrawan, sendi, tulang, tendon, dan ligament di sendi.6
b. Spondilitis angkilopoetika
Kelainan pada artikulasio sakroiliaka yang merupakanbagian dari poliarthritis
rheumatoid. Rasa nyeri timbul akibatterbatasnya gerakan pada kolumna
vertebralis, artikulasiosakroiliaka, artikulasio costovertebralis dan penyempitan
foramenintervertebralis.6

4. Tumor
a. Tumor benigna
Osteoma osteoid yang bersarang di pedikel atau laminavertebra dapat
mengakibatkan nyeri hebat yang dirasakan terutamapada malam
hari.Hemangioma merupakan tumor yang berada didalam kanalis vertebralis
dan dapat membangkitkan nyeripunggung bawah.Meningioma merupakan
suatu tumor intraduralnamun ekstramedular.Tumor ini dapat menjadi besar
sehinggamenekan pada radiks-radiks. Maka dari itu tumor ini
seringkalimembangkitkan nyeri hebat pada daerah lumbosakral.6
b. Tumor maligna
Tumor ganas di vertebra lumbosakralis dapat bersifat primerdan
sekunder.Tumor primer yang sering dijumpai adalah myeloma multiple. Tumor
sekunder yaitu tumor metastatik mudah bersarangdi tulang belakang, oleh
karena tulang belakang kaya akanpembuluh darah. Tumor primernya bisa
berada di glandula mamae,prostat, ginjal, paru dan glandula tiroid.6

5. Gangguan metabolik
Osteoporosis akibat gangguan metabolik yang merupakanpenyebab
banyak keluhan nyeri pada pinggang dapat disebabkan olehkekurangan protein
atau gangguan hormonal (menopause, penyakitcushing). Sering oleh karena
trauma ringan timbul fraktur karenakolaps korpus vertebra. Penderita menjadi
bongkok dan pendek dengannyeri difus di daerah pinggang.6

31
6. Sebagai referred pain
Nyeri punggung bawah dirasakan oleh seseorang penderita ulkuspeptikum,
pankreatitis, tumor lambung, penyakit ginjal danseterusnya.6

7. Psikoneurotik
Nyeri punggung bawah yang tidak mempunyai dasar organik dantidak
sesuai dengan kerusakan jaringan atau batas-batas anatomis.6

8. Infeksi
Nyeri punggung bawah yang disebabkan infeksi akut misalnyakuman
pyogenik (stafilokokus, streptokokus). Sedangkan nyeripunggung bawah yang
disebabkan infeksi kronik misalnya spondylitis TB, osteomyelitis kronik.6

9. Proses degeneratif
 Spondilosis
Pada spondilosis terjadi rarefikasi korteks tulang belakang,penyempitan discus
dan osteofit-osteofit yang dapat menimbulkanpenyempitan dari foramina
intervertebralis.6
 Hernia nukleus pulposus (HNP)
Perubahan degeneratif mengenai annulus fibrosus discusintervertebralis yang
bila suatu saat terobek dapat disusul denganprotusio discus intervertebralis yang
akhirnya menimbulkan hernianukleus pulposus (HNP). HNP paling sering
mengenai discusintervertebralis L4-L5 dan L5-S1.6
 Osteoarthritis
Pada osteoartrhritis terjadi degenerasi akibat trauma kecilyang terjadi
berulang-ulang selama bertahun-tahun. Terbatasnyapergerakan sepanjang
kolumna vertebralis akan menyebabkantarikan dan tekanan otot-otot/ligament
pada setiap gerakansehingga menimbulkan nyeri punggung bawah.6
 Stenosis spinal
Pada setiap tingkat terdapat tiga persendian, yaitu satu didepan yang dibentuk
oleh korpus vertebrae dengan discusintervertebralis dan dua di belakang yang
dibentuk oleh prosesusartikularis superior dan inferior kedua korpus vertevra yang

32
ada diatas dan di bawah diskus intervertebralis tersebut. Kelainandegeneratif yang
terjadi di sekitar ketiga persendian itu berupaosteofit dan proliferasi jaringan
kapsul persendian yang kemudianmengeras (hard lesion).Bangunan degeneratif
itu menyempitkanlumen kanalis intervertebralis setempat dan
menyempitkanforamen intervertebra.6

2.2.4 Faktor Risiko NPB


Faktor resiko untuk NPB antara lain: usia, jenis kelamin, genetik,indeks
massa tubuh (obesitas), merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik,pekerjaan,
riwayat trauma / cedera punggung.14
1. Usia
Usia merupakan faktor yang mendukung terjadinya NPB,sehingga
biasanya diderita oleh orang berusia lanjut karena penurunanfungsi-fungsi
tubuhnya terutama tulangnya yang tidak lagi elastisseperti diwaktu muda.
Biasanya nyeri mulai dirasakan pada merekayang berusia dekade kedua dan
insiden tertinggi dijumpai pada decade kelima. Bahkan keluhan nyeri punggung
bawah ini semakin lamasemakin meningkat hingga usia sekitar 55 tahun.
Penelitian telahmemperlihatkan bahwa resiko dari NPB meningkat pada pasien
yangsemakin tua, hingga ketika mencapai usia sekitar 65 tahun resiko
akanberhenti meningkat. Tetapi saat ini sering ditemukan orang berusiamuda
sudah terkena NPB.

2. Jenis kelamin
laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang sama terhadapkeluhan nyeri
punggung bawah sampai usia 60 tahun, namun padakenyataannya jenis kelamin
seseorang dapat mempengaruhi timbulnyakeluhan nyeri punggung bawah, karena
pada wanita keluhan ini lebihsering terjadi misalnya pada saat mengalami siklus
menstruasi, danproses menopause juga dapat menyebabkan kepadatan tulang
berkurangakibat penurunan hormon estrogen sehingga memungkinkan
terjadinyanyeri punggung bawah. Selain itu wanita hamil juga memiliki
risikoyang besar untuk nyeri punggung karena kelebihan berat badan dibagian
depan dan mengendurnya ligamen di daerah panggul.

33
3. Genetik
Ada bukti bahwa beberapa jenis gangguan tulang belakangdipengaruhi
oleh genetik.Misalnya degeneratif diskus yang biasanyaditurunkan. Mekanisme
genetik yang mendasari degenerasi diskussehingga memberikan persepsi nyeri di
daerah punggung yaituinterleukin-1 secara khusus memberikan kontribusi untuk
degenerasidiskus dengan cara menginduksi enzim sehingga merusak
proteoglycanyang terkait dalam mediasi nyeri.

4. Indeks Massa Tubuh (IMT)


Seseorang yang memiliki berat badan berlebih (obesitas)cenderung
meningkatkan tekanan pada bagian punggung bawah.Salahsatu daerah pada
tulang belakang yang paling beresiko akibat efek dariobesitas adalah verterba
lumbal. Selain itu kelebihan berat badan jugaakan menekan sendi lain (misalnya
lutut). Kelebihan berat badan akandisalurkan pada daerah perut yang berarti
menambah kerja tulanglumbal sehingga mengakibatkan mudahnya terjadi
kerusakan danbahaya pada stuktur tulang belakang. Hal inilah yang menjadi
faktorrisiko untuk beberapa jenis gejala sakit punggung.
Dari hasil analisis, seseorang yang overweight lebih berisiko 5
kalimenderita NPB dibandingkan dengan orang yang memiliki berat badanideal.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukanRichard dan
Weinstein et al. (2001) yakni faktor risiko LBP meningkatpada seseorang yang
overweight.

5. Merokok
Perokok atau mantan perokok lebih berisiko terkena nyeripunggung bawah
dibandingkan dengan yang bukan perokok. Kebiasaanmerokok akan menurunkan
kapasitas paru-paru, sehinggakemampuannya untuk mengonsumsi oksigen akan
semakin menurun.Bila orang tersebut dituntut untuk melakukan tugas yang
menuntutpengerahan tenaga, maka akan mudah lelah karena kandungan
oksigendalam darah rendah.
Ditemukan bahwa perokok berisiko 31% lebih tinggi mengalaminyeri
punggung bawah dibandingkan dengan tidak pernah merokok.Tapi perkiraan ini

34
hanya untuk nyeri punggung bawah selama satu hariatau lebih selama 12 bulan
terakhir.

6. Konsumsi Alkohol
Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat mengurangi kemampuantubuh
menyerap kalsium dan menghambat pembentukan tulang yangdapat menyebabkan
osteoporosis sekunder dan menimbulkan nyeripunggung bawah bila terjadi
pengeroposan.

7. Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang
meningkatkanpengeluaran tenaga dan energi.Sikap tubuh yang salah
merupakanpenyebab nyeri punggung bawah yang sering tidak disadari
olehpenderitanya.Terutama sikap tubuh yang menjadi
kebiasaan.Kebiasaanseseorang seperti duduk, berdiri, tidur, mengangkat beban
pada posisiyang salah dapat menyebabkan nyeri punggung bawah.
Beberapa aktivitas berat seperti melakukan aktivitas dalam posisiberdiri
lebih dari 1 jam dalam sehari, melakukan aktivitas dengan posisiduduk yang
monoton lebih dari 2 jam dalam sehari, naik turun anaktangga lebih dari 10 anak
tangga dalam sehari, berjalan lebih dari 3,2km dalam sehari dapat juga
meningkatkan risiko timbulnya nyeripunggung bawah.
Menurut Departemen Kesehatan (2009) mengangkat bebansebaiknya tidak
melebihi dari aturan yaitu laki-laki dewasa sebesar 15-20 kg dan wanita (16-18
tahun) sebesar 12-15 kg.

8. Pekerjaan
Faktor risiko di tempat kerja yang banyak menyebabkan gangguanotot
rangka terutama adalah kerja fisik berat, penanganan dan carapengangkatan
barang, gerakan berulang, posisi atau sikap tubuh selamabekerja, getaran serta
kerja statis. Oleh karena itu, riwayat pekerjaansangat diperlukan dalam
penelusuran penyebab nyeri punggung bawah.Pada pekerjaan tertentu, misalnya
seorang kuli pasar yang biasanyamemikul beban di pundaknya setiap hari.Pekerja

35
kantoran, pengemudidan penjahit di suatu perusahaan dimana sikap kerja yang
statis danlama dengan posisi duduk memiliki risiko nyeri punggung bawah.

9. Riwayat trauma / cedera


Seseorang yang pernah mengalami trauma / cedera sebelumnyaberisiko
untuk mengalami nyeri punggung bawah dikarenakan faktor kekambuhan atau
karena cedera tersebut belangsung kronis.

2.2.5 Patofisiologi NPB


Tulang belakang merupakan struktur yang kompleks.Berbagaistruktur
bangunan peka nyeri terdapat di punggung bawah, sepertiperiosteum, 1/3 bagian
luar anulus fibrosus, ligamentum, kapsulaartikularis, fasia dan otot. Semua
bangunan tersebut mengandungnosiseptor yang peka terhadap berbagai stimulus
(mekanikal, termal,kimiawi). Bila reseptor dirangsang oleh berbagai stimulus
lokal, makaakan menyebabkan pengeluaran berbagai mediator inflamasi dan
substansilainnya. Hal inilah yang menimbulkan persepsi nyeri, hiperalgesia
maupunalodinia yang bertujuan mencegah pergerakan untuk
memungkinkanberlangsungnya penyembuhan.6
Salah satu mekanisme untuk mencegah kerusakan atau lesi yanglebih berat
adalah dengan spasme otot yang nantinya dapat menyebabkaniskemi dan
sekaligus menyebabkan munculnya titik picu nyeri (triggerpoint).6
Hampir semua orang akan mengalami nyeri punggung bawah, cepatatau
lambat. Salah satu penyebab utama nyeri punggung, baik akut ataukronik adalah
ketegangan (strain) otot dan keregangan (sprain)ligamentum tulang
belakang.Otot-otot dan ligamen di punggungmembungkus kolumna spinalis pada
satu tempat. Otot-otot dan ligament tersebut dapat diregangkan sejauh mungkin
yang menyebabkanjaringannya menjadi tipis, kemudian jaringannya akan
melemah sehinggatidak mampu lagi untuk menahan tulang-tulang belakang pada
tempatyang seharusnya, tulang menjadi kurang stabil dan menimbulkan
nyeripunggung bawah.15,16
Pada penderita obesitas terjadi ketidakseimbangan energi, dimanaenergi
yang masuk sangat berlebihan sedangkan penggunaan energi tubuh untuk

36
metabolisme, termoregulasi dan aktivitas fisik menurun.Akumulasilemak tubuh
pada orang obesitas terjadi terutama di daerah viseral yangdapat menurunkan
sensitivitas terhadap insulin pada otot, hati dan jaringanlemak.Keadaan ini disebut
sebagai insulin resistance yang merupakanfaktor predisposisi intoleransi glukosa
dan hipertrigliserida.Hal inimengakibatkan terjadinya kelemahan otot abdominal
pada penderitaobesitas. Kelemahan otot abdominal menyebabkan terjadinya
perubahangaris gravitasi dan pusat gravitasi lebih mengarah ke depan sehingga
bebanaksial hanya terjadi pada kolumna vertebralis saja terutama pada L5-S1,
gaya tekan yang berlebih akan meningkatkan kurva lordotic. Padapenderita
obesitas juga terjadi kelemahan otot gluteal yang menyebabkanpelvis bergerak ke
arah ventral sehingga akan meningkatkan sudutinklinasi pelvis dan menambah
lordotic lumbal.17
Akibat pembentukan kurva abnormal yang disebut kurva lordodictersebut.
Maka akan terjadi kerusakan pada otot sekitar area yangmenghasilkan lesi kronik.
Lesi kronik tersebut lama kelamaan akanmerusak pembungkus saraf pada regio
ini yang akan mengalami kerusakanpada selubungnya. Selain itu, lesi kronik
tersebut juga akan menghasilkanpeningkatan kepadatan akhiran saraf bebas.
Kerusakan pada selubung danpeningkatan kepadatan akhiran saraf pada area lesi
kronik inimengakibatkan rangsangan rendah, yang tidak mengaktifkan
reseptornyeri, akan menghasilkan respon nyeri pada area lumbosacralis.
Nyeridengan intensitas rendah tetapi dengan waktu yang terus menerus
akanmenghasilkan reaksi berlebihan pada saraf yang disebut
hipersensitivitas.Hipersensitivitas pada daerah lumbosacral inilah yang biasa
dikeluhkansebagai nyeri punggung bawah.17

2.2.6 Manifestasi Klinis NPB


Nyeri terjadi pada gerakan ke depan, ke lumbosakcral, dengan atautanpa
nyeri alih ke regio gluteal. Bila beristirahat nyeri menghilang.Padapemeriksaan
didapatkan spasme sebagian atau seluruh otot erector trunkus, titik nyeri tekan dan
spasme berupa benjolan kecil di otot.Pergerakan tulang belakang terbatas karena
nyeri.Pada pemeriksaanneurologis tidak ditemukan kelainan.Tidak ada tanda

37
rangsang radikuler.Pemeriksaan pencitraan tidak menunjukkan kelainan, kecuali
mungkintanda arthrosis degeneratif sesuai dengan usia.18
Biasanya nyeri punggung bawah ini hilang secara spontan.Kekambuhan
sering terjadi karena aktivitas yang disertai pembebanantertentu.18

2.2.7 Diagnosis Banding


 NPB Mekanikal
NPB akibat kondisi mekanik antara lain: kongenital, degeneratif,trauma dan
gangguan mekanik, serta gangguan metabolik.
 NPB Nonmekanikal
NPB akibat kondisi nonmekanik antara lain: radang, tumor, kelainanpada alat
visera, infeksi, dan problem psikoneurotik.
 NPB Penyakit Viseral
NPB karena penyakit viseral adalah penyakit yang berhubungan denganorgan
pelvis (prostatitis, endometriosis dan lain-lain) dan alat-alatdalam lain (penyakit
ginjal dan ureter, aneurisme aorta dan lain-lain).19

2.2.8 Penegakan Diagnosis NPB


1. Anamnesis
Dasar diagnosis nyeri punggung bawah:
 Nyeri pinggang paraspinal
 Nyeri diperhebat oleh pembebanan pinggang
 Nyeri alih ke regio gluteus atau paha
 Nyeri hilang bila istirahat.18
a. Awitan
Penyebab mekanis nyeri punggung menyebabkan nyeri mendadakyang
timbul setelah posisi mekanis yang merugikan.Mungkin terjadirobekan otot,
peregangan fasia atau iritasi permukaan sendi. Keluhankarena penyebab lain
timbul bertahap.20

b. Lama dan frekuensi serangan

38
Nyeri punggung akibat sebab mekanik berlangsung beberapa harisampai
beberapa bulan.Herniasi diskus bisa membutuhkan waktu 8hari sampai
resolusinya. Degenerasi diskus dapat menyebabkan rasatidak nyaman kronik
dengan eksaserbasi selama 2-4 minggu.20

c. Lokasi dan penyebaran


Kebanyakan nyeri punggung akibat gangguan mekanis atau medisterutama
terjadi di daerah lumbosakral.Nyeri yang menyebar ketungkai bawah atau hanya
di tungkai bawah mengarah ke iritasi akarsaraf.Nyeri yang menyebar ke tungkai
juga dapat disebabkanperadangan sendi sakroiliaka. Nyeri psikogenik tidak
mempunyai polapenyebaran yang tetap.20

d. Faktor yang memperberat/memperingan


Pada lesi mekanis keluhan berkurang saat istirahat dan bertambahsaat
aktivitas.Pada penderita HNP duduk agak bungkuk memperberatnyeri. Batuk,
bersin atau manuver valsava akan memperberat nyeri.Pada penderita tumor, nyeri
lebih berat atau menetap jika berbaring.20

e. Kualitas/intensitas
Penderita perlu menggambarkan intensitas nyeri serta
dapatmembandingkannya dengan berjalannya waktu.Harus dibedakanantara nyeri
punggung dengan nyeri tungkai, mana yang lebih dominandan intensitas dari
masing-masing nyerinya, yang biasanya merupakannyeri radikuler.Nyeri pada
tungkai yang lebih banyak daripada nyeripunggung dengan rasio 80-20%
menunjukkan adanya radikulopati danmungkin memerlukan suatu tindakan
operasi. Bila nyeri punggunglebih banyak daripada nyeri tungkai, biasanya tidak
menunjukkanadanya suatu kompresi radiks dan juga biasanya tidak
memerlukantindakan operatif.20
Gejala nyeri punggung yang sudah lama dan intermiten, diselingioleh
periode tanpa gejala merupakan gejala khas dari suatu NPB yang terjadinya secara
mekanis.Walaupun suatu tindakan atau gerakan yang mendadak dan berat,yang
biasanya berhubungan dengan pekerjaan, bisa menyebabkan suatuNPB, namun

39
sebagian besar episode herniasi diskus terjadi setelahsuatu gerakan yang relatif
sepele, seperti membungkuk atau memungutbarang yang enteng.Harus diketahui
pula gerakan-gerakan mana yang bias menyebabkan bertambahnya nyeri NPB,
yaitu duduk dan mengendaraimobil dan nyeri biasanya berkurang bila tiduran atau
berdiri, dan setiapgerakan yang bisa menyebabkan meningginya tekanan intra-
abdominalakan dapat menambah nyeri, juga batuk, bersin dan mengejan
sewaktudefekasi.20
Selain nyeri oleh penyebab mekanik ada pula nyeri non-mekanik.Nyeri
pada malam hari bisa merupakan suatu peringatan, karena bisamenunjukkan
adanya suatu kondisi terselubung seperti adanya suatukeganasan ataupun
infeksi.20

2. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi :
Pemeriksaan dimulai dengan inspeksi dan bila pasien tetap berdiridan
menolak untuk duduk, maka harus sudah dicurigai adanya suatuherniasi
diskus.Gerakan aktif pasien harus dinilai, diperhatikangerakan mana yang
membuat nyeri dan juga bentuk kolumnavertebralis, berkurangnya lordosis serta
adanya skoliosis. Berkurangsampai hilangnya lordosis lumbal dapat disebabkan
oleh spasme otot paravertebral.21
Gerakan-gerakan yang perlu diperhatikan pada penderita:
 Keterbatasan gerak pada salah satu sisi atau arah.
 Ekstensi ke belakang (back extension) seringkali menyebabkannyeri pada
tungkai bila ada stenosis foramen intervertebralis dilumbal dan artritis
lumbal, karena gerakan ini akan menyebabkanpenyempitan foramen
sehingga menyebabkan suatu kompresi padasaraf spinal.
 Fleksi ke depan (forward flexion) secara khas akan menyebabkannyeri
pada tungkai bila ada HNP, karena adanya ketegangan padasaraf yang
terinflamasi diatas suatu diskus protusio sehinggameninggikan tekanan
pada saraf spinal tersebut dengan jalanmeningkatkan tekanan pada
fragmen yang tertekan di sebelahnya(jackhammer effect).

40
 Lokasi dari HNP biasanya dapat ditentukan bila pasien
disuruhmembungkuk ke depan ke lateral kanan dan kiri. Fleksi ke
depan,ke suatu sisi atau ke lateral yang meyebabkan nyeri pada
tungkaiyang ipsilateral menandakan adanya HNP pada sisi yang sama.
 Nyeri pada ekstensi ke belakang pada seorang dewasa mudamenunjukkan
kemungkinan adanya suatu spondilolisis atauspondilolistesis, namun ini
tidak patognomonik.21

b. Palpasi :
Adanya nyeri (tenderness) pada kulit bisa menunjukkan
adanyakemungkinan suatu keadaan psikologis di bawahnya
(psychologicaloverlay).
Kadang-kadang bisa ditentukan letak segmen yang menyebabkannyeri
dengan menekan pada ruangan intervertebralis atau dengan jalanmenggerakkan ke
kanan ke kiri prosesus spinosus sambil melihatrespons pasien.Pada
spondilolistesis yang berat dapat diraba adanyaketidak-rataan (step-off) pada
palpasi di tempat/level yang terkena.Penekanan dengan jari jempol pada prosesus
spinalis dilakukan untukmencari adanya fraktur pada vertebra. Pemeriksaan fisik
yang lainmemfokuskan pada kelainan neurologis.21

c. Pemeriksaan motoris
Harus dilakukan dengan seksama dan harus dibandingkan kedua sisiuntuk
menemukan abnormalitas motoris yang seringan mungkindengan memperhatikan
miotom yang mempersarafinya.21

d. Pemeriksaan sensorik
Membantu menentukan lokalisasi lesi sesuai dermatom yangterkena.
Gangguan sensorik lebih bermakna dalam menunjukkaninformasi lokalisasi
dibanding motoris.21

e. Tes provokasi
 Tanda Laseque

41
Menunjukkan adanya ketegangan pada saraf spinal khususnya L5atau S1.
Secara klinis tanda Laseque dilakukan dengan fleksi pada lututterlebih dahulu,
lalu di panggul sampai 90° dengan perlahan-lahankemudian dilakukan ekstensi
lutut dan gerakan ini akan menghasilkannyeri pada tungkai pasien terutama di
betis (tes yang positif) dan nyeriakan berkurang bila lutut dalam keadaan fleksi.
Terdapat modifikasi tes ini dengan mengangkat tungkai denganlutut dalam
keadaan ekstensi (straight leg rising). Modifikasimodifikasitanda laseque yang
lain semua dianggap positif bilamenyebabkan suatu nyeri radikuler.21
Pada tanda laseque, makin kecil sudut yang dibuat untukmenimbulkan
nyeri makin besar kemungkinan kompresi radiks sebagaipenyebabnya. Demikian
juga dengan tanda laseque kontralateral.21

 Tanda Laseque kontralateral (contralateral Laseque sign)


Dilakukan dengan cara yang sama, namun bila tungkai yang tidaknyeri
diangkat akan menimbulkan suatu respons yang positif padatungkai kontralateral
yang sakit dan menunjukkan adanya suatu HNP.8

42
 Tes Patrick
Tes ini dilakukan untuk mendeteksi kelainan di pinggang dan padasendi
sakroiliaka.Penderita dalam posisi berbaring.Tungkai dalamposisi fleksi di sendi
lutut sementara tumit diletakkan di atas lututtungkai yang satunya lagi, kemudian
lutut tungkai yang difleksikan tadiditekan ke bawah. Apabila ada kelainan di sendi
panggul makapenderita akan merasakan nyeri di sendi panggul tadi.8

 Tes Kontra-Patrick
Tungkai dalam posisi fleksi di sendi lutut dan sendi panggul,kemudian lutut
didorong ke medial; bila di sendi sakroiliaka ada kelainan maka disitu akan terasa
sakit.8

3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Evaluasi komprehensif yang dapat dilakukan termasuk hitung darah
lengkap, penentuan laju endap darah dan tes spesifik. Secarakhusus, tes ini sangat
berguna ketika infeksi atau keganasan dianggapsebagai kemungkinan penyebab
nyeri punggung pasien.21
b. X-ray
X-ray merupakan tes yang sederhana dan sangat membantu
untukmenunjukkan keabnormalan pada tulang. Seringkali X-ray merupakan
penunjang diagnosis pertama untuk mengevaluasi nyeri punggung.Foto X-ray
dilakukan pada posisi anteroposterior (AP), lateral dan bilaperlu oblique kanan
dan kiri.21
c. Myelografi
Myelografi adalah pemeriksaan X-ray pada spinal cord dan
kanalisspinalis.Myelografi merupakan tindakan invasif, yaitu cairan

43
yangberwarna medium disuntikkan ke kanalis spinalis, sehingga strukturbagian
dalamnya dapat terlihat pada layar fluroskopi dan gambar Xray.Myelogram
digunakan untuk diagnosa pada penyakit yangberhubungan dengan diskus
intervertebralis, tumor spinalis, atau absesspinal.21
d. Computted Tomografi Scan (CT-scan) dan MagneticResonance Imaging
(MRI)
CT scan adalah sarana diagnostik yang efektif bila vertebra danlevel
neurologis telah jelas dan kemungkinan karena kelainan tulang.Sedangkan MRI
dapat menunjukkan gambaran tulang belakang yanglebih jelas daripada CT-
scan.Selain itu MRI menjadi pilihan karenatidak mempunyai efek radiasi.MRI
dapat menunjukkan gambarantulang secara sebagian sesuai dengan yang
dikehendaki. MRI jugadapat memperlihatkan diskus interveretebralis, nervus dan
jaringanlainnya pada punggung.21
MRI atau CT-Scan harus dipertimbangkan pada pasien dengandefisit
neurologis yang makin memburuk atau diduga adanya penyebabsistemik yang
menyebabkan nyeri punggung seperti infeksi atauneoplasma. Pemeriksaan tulang
terutama digunakan untuk mendeteksimetastasis tulang, fraktur yang tidak terlihat
dan infeksi.21

2.2.9 Penatalaksanaan NPB


Pada dasarnya dikenal dua tahapan terapi NPB yaitu konservatif danoperatif.
1. Terapi konservatif
Terapi konservatif meliputi rehat baring (bed rest), medikamentosa dan fisioterapi.
Rehat baring
Pada rehat baring, penderita harus tetap berbaring ditempat tidurselama
beberapa hari dengan sikap tertentu. Tempat tidur tidak bolehmemakai pegas atau
per dengan demikian tempat tidur harus daripapan yang lurus, dan kemudian
ditutup dengan lembar busa tipis.Setelah tirah baring dianggap cukup, maka dapat
dilakukan latihantertentu, atau terlebih dahulu dipasang korset. Tujuan latihan ini
adalahuntuk mencegah terjadinya kontraktur dan mengembalikan lagi fungsiotot-
otot.8

44
Medikamentosa
Pada medikamentosa, ada dua jenis obat dalam tatalaksana NPB,yaitu obat
yang bersifat simtomatik dan yang bersifat kausal. Obatobatsimptomatik antara
lain analgetika (salisilat, parasetamol, dll),kortikosteroid (prednison, prednisolon),
Obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS) misalnya piroksikam, antidepressan
trisiklik (secarasentral) misalnya amitriptilin, dan obat penenang minor
misalnyadiazepam, klordiasepoksid. Sedangkan obat-obat kausal misalnya
antituberkulosis, antibiotika untuk spondilitis piogenik, nukleolisismisalnya
khimopapain, kolagenase (untuk HNP).8

Fisioterapi21
 Terapi panas
Menggunakan kantong dingin–kantong panas.Lakukan denganmenaruh
sebuah kantong dingin di tempat daerah punggungyang terasa nyeri atau sakit
selama 5-10 menit. Jika selama 2hari atau 48 jam rasa nyeri masih terasa gunakan
heating pad(kantong hangat).
 Elektro stimulus
Contohnya seperti acupunture, ultra sound, radiofrequencylesioning, spinal
endoscopy, percutaneous electrical nervestimulation (PENS), electro thermal disc
compression, dantranscutaneous electrical nerve stimulation (TENS).
 Traksi
Tarikan pada badan (punggung) untuk kontraksi otot.
 Massage
Dengan terapi ini bisa menghangatkan, merelaksasikan ototbelakang dan
melancarkan perdarahan.

2. Terapi operatif21
Terapi operatif dikerjakan apabila dengan tindakan konservatif
tidakmemberikan hasil yang nyata, atau terhadap kasus fraktur yang
langsungmengakibatkan defisit neurologik.
Indikasi dilakukan tindakan operatif yaitu :

45
 Sciatica dengan terapi konservatif selama lebih dari 4 minggu;nyeri
berat/intractable/menetap/progresif.
 Sindroma kauda equine, dimana diskus bagian tengah menekankauda
equine dengan gejala inkontinensia urin dan alvi,paraparesis dan deficit
sensorik pada kedua tungkai.
 Bila kompresi radiks saraf disertai deficit motoric terutamakelumpuhan
quadricep atau tidak dapat dorsofleksi kaki.
 Terdapat iskialgia berat >4 bulan.
Beberapa tindakan operatif yang dapat dilakukan :
a. Laminectomy : prosedur bedah untuk memisahkan lamina darivertebrae.
b. Discectomy : prosedur bedah untuk memisahkan bagian yangkeluar dari diskus.
Biasanya dilakukan pada kasus HNP.
c. Endoscopy : prosedur bedah menggunakan serat fiber optic
yangmemungkinkan tidak dilakukannya operasi terbuka.

46
BAB IV

ANALISIS KASUS

Nyeri merupakan suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak


menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang sudah atau
berpotensi terjadi.Pada saat mencapai usia pertengahan, sebagian orang mulai
didera oleh rasa nyeri pada tulang belakang, khususnya leher (servikal) dan
punggung bawah (lumbal). Kedua bagian ini mengalami degenerasi karena
banyak dipakai untuk gerakan menekuk ke depan atau berputar ke kanan dan ke
kiri. Di antara tulang-tulang belakang leher/servikal dan punggung bawah/lumbal
terdapat bantalan yang disebut diskus intervertebralis. Karena usia dan sering
digunakan, diskus tersebut aus dan menipis sehingga ruas-ruas tulang saling
bergesekan. Gesekan inilah yang menimbulkan peradangan dan pengapuran
sehingga terjadi rasa nyeri.

Berdasarkan anamnesis, diperoleh data bahwa pasien merasa sakitdi


daerah punggung bawah dengan intensitassedang sejak 1 minggu yang lalu.Sakit
dirasakan seperti menusuk-nusuk tidak menjalar dan tidak terdapat
kesemutan.Punggung bawahsakit bila digerakkan pada semua posisi.Berdasarkan
keterangan inidisimpulkan bahwa pasien menderita Low Back Pain (Nyeri
Punggung Bawah).LBP adalah perasaan nyeri yang di rasakan di daerah antara iga
terbawah dan lipat bokong bawah (lumbal/lumbosacral), nyeri ini dapat berupa
nyeri local, nyeri radikuler, atau campuran.Untuk low back pain sendiri
penyebabnya dapat berasal dari otot,saraf, atau tulang belakang sendiri.Melihat
keluhan pasien nyerinya bersifat local dan disertai penjalaran ke tungkai dapat
diduga bahwa masalahnya adalah saraf(ganguan pada saraf penjalaran nyeri atau
masalah sensorik sesuai dengan daerah yang dipersarafinya).Diduga bahwa
terdapat keterlibatan tulang belakang mengingat nyeri terasa berat jika pinggang
digerakkan pada semua posisi.
Mengingat riwayat kebiasaan pasien sering mengangkat dan melakukan
pekerjaan berat dan pasien memiliki rumah yang bertingkat sehingga sehari-hari
pasien sering naik-turun tangga, dengan landasan tersebut dapat diperkirakan
bahwasering terjadi jejas minimal pada vertebra, jejas ini merangsang kerja

47
osteoblas yang akan membentuk tulang baru (osteofit) yang tujuan awalnya
adalah menstabilkan rangka, tetapi osteofit tersebut justru dapat menekan otot,
ligament sekitar sehingga menimbulkan nyeri.
Terapi Non-Farmakologis berupa Penerangan, Maksud dari penerangan
adalah agar pasien mengetahui sedikit seluk beluk tentang penyakitnya,
bagaimana menjaganyaagar penyakitnya tidak bertambah parah serta
persendiannya tetap dapat terpakai.
Terapi Farmakologis berupa analgesik oral non opiate, untuk mengurangi
rasa sakit Asetaminofen dapat digunakan sebagaianalgesik, tetapi tidak untuk
mengurangi peradangan.Terbukti cukup efektif untuk orang yang memiliki OA
dengan skala nyeriringan sampai sedang.Obat anti inflamasi non sterold (OAINS),
apabila dengan cara-cara tersebut diatas tidak berhasil,pada umum nya pasien
mulai datang ke dokter.Dalam hal seperti ini kita pikirkan untuk pemberian
OAINS, oleh karena obatgologan ini di samping mempunyai epek analgetik
jugamempunyai epek anti inflamasi. Oleh karena pasien OAkebanyakan usia
lanjut, maka pemberian obat-obatan jenis ini harussangat berhati-hati. Jadi
pilihlah obat yang efek samping nyaminimal dan dengan cara pemakaian yang
sederhana. Nyeri pinggang pada pasien ini adalah nyeri pinggang bawah kronik
yang lamanya lebih dari3 bulan.Sehingga pada pasien ini perlu ditambahkan
Amitriptilin.

Pada pemeriksaan fisik, kesadaran pasien Compos Mentis dan vital sign
dalam batas normal, status pshychicus dan neurologis pasien tidak ditemukan
kelainan. Pada pemeriksaan reflek fisiologis tidak didapatkan kelainan, Untuk
penatalaksanaan, tidak dibutuhkan penatalaksanaan emergensi dikarenakan secara
klinis pasien dalam keadaan cukup baik.

48
BAB V
KESIMPULAN
LBP sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga sebagian besar
dari kita pernah menderita LBP pada suatu waktu dalam masa hidup
kita.Penyebab LBP beraneka ragam dan dibagi dalam kausa neurologis dan non-
neurologis.Kausa neurologis dibagi lagi dalam non-diskogenik dan
diskogenik.Sebagian besar kausa neurologis disebabkan oleh sindroma radikuler
spinal khususnya lumbal.
Secara ideal, maka patofisologi serta diagnosis spesifik dari kausa LBP
harus di mengerti dengan baik, sehingga dapat dianalisa lebih lanjut dan diberikan
terapi yang adekuat. Dan hendaknya dalam menangani nyeri pinggang bawah kita
harus mencermati anamnesis mula terjadinya, perjalanan penyakit serta analisis
rasa nyeri dilaksanakan dengan teliti agar pemeriksaan penunjang berupa
pemeriksaan radiologis (rontgen, CT Scan, MRI), EMG dan laboratorium lebih
terarah dan berindikasi tepat mengingat biaya dan waktu untuk penderita.
Pengobatan pada LBP berputar pada masalah pemilihan cara pengobatan yang
merubah perjalanan penyakit, karena bila tidak demikian, maka terapi hanya
dianggap sementara dan juga pemilihan antara terapi konservatif atau operatif
memerlukan suatu pertimbangan yang matang dan tepat dari hasil yang
menyeluruh baik anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang

49
DAFTAR PUSTAKA

1. Putri AS, Saftarina F, Wintoko R. Correlation between working period and


working position with the incidence of low back pain (LBP) in cleaning
workers of onion shell at unit dagang bawang lanang Iringmulyo Metro
City. Lampung: FK UNILA; 2013
2. Tiwari RR, Pathak MC, Zodpey SP. Low back pain among textile
workers. Indian Journal of Occupational and Environmental Medicine.
2003;7(1)
3. Janet KF, George MH, Robert PA, Anne MJ, Jane DD, Andrea SW et al.
The rising prevalence of chronic low back pain. North Carolina: American
Medical Association; 2009
4. Lela M, Frantz JM. The relationship between low back pain and physical
activity among nurses in kanombe military hospital. AJPARS. 2012;4(1-2)
5. McGlynn EA, Clark KA. Low back pain. Quality of care for general
medical conditions: a review of the literature and quality indicators (serial
online) 2000 (diakses 21 Nov 2014); Diunduh dari: URL:
http//www.rand.org/publications/MR/MR1280/mr1280,ch.15,pdf
6. Fauci AS, Kasper DL, Longo DL. Back and neck pain. Harrison’s
Principles of Internal Medicine. 17th ed. New York: McGraw-Hill; 2008
7. Tomita S, Arphorn S, Muto T, Koetkhlai K, Naing SS, Chaikittiporn C.
Prevalence and risk factors of low back pain among thai and myanmar
migrant seafood processing factory workers in Samut Sakorn Province,
Thailand. Thailand: Industrial Health; 2010
8. Harsono. Kapita selekta neurologi Edisi ke-dua. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press; 2009
9. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran Edisi ke-enam.
Jakarta: EGC; 2006
10. Asher A. Thoracolumbar fascia (serial online) 2012 May 15 (diakses 21
Nov 2014). Diunduh dari: URL:
http://backandneck.about.com/od/t/p/thoracolumbar-fascia.htm

50
11. Naude B. Factors associated with low back pain in hospital employees. A
research report submitted to the faculty of health sciences, university of
the witwatersrand, Johannesburg, in partial fulfillment of the requirements
for the degree of Master of Science in Physiotherapy. Johannesburg; 2008
12. Bull E. Nyeri punggung. Jakarta: Erlangga; 2007
13. Cole AJ, Herring SA. Low back pain handbook. 2nd ed. Philadelphia:
Hanley and Belfus Inc; 2003
14. Fahrenheit. 2015. Hubungan Obesitas dengan Kejadian Nyeri Punggung
Bawah Spondilogenik. FKIK UNJA
15. Samara D. Lama dan sikap duduk sebagai faktor risiko terjadinya nyeri
pinggang bawah. J Kedokter Trisakti. 2004;23(2):67-63
16. Low back strain [editorial] (serial online) (diakses 23 Nov 2014). Diunduh
dari: URL: http://www.webmd.com/back-pain/guide/low-back-strain
17. Vismara L. Effect of obesity and low back pain on spinal mobility: a cross
sectional study in women (serial online) 2010 (diakses 23 Nov 2014);
Diunduh dari: URL : http://www.jneuroengrehab.com/content/7/1/3
18. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku ajar ilmu bedah. 2nd ed. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003
19. Ginting NB. Karakteristik penderita nyeri punggung bawah (NPB) yang
dirawat inap santa elisabeth Medan tahun 2010. FK USU 2010 (diakses 22
Nov 2014); Diunduh dari: URL:
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/21268
20. Sudoyo AW, Setiyohadi B. Nyeri. Dalam: Buku ajar ilmu penyakit dalam.
Edisi ke-lima. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI; 2009. hal. 2484,2488-2489
21. Ngoerah IG. Dasar-dasar ilmu penyakit saraf. Surabaya: Airlangga
University Press; 1995

51