Anda di halaman 1dari 5

C.

INTERVENSI KEPERAWATAN STENOSIS PULMONALIS

NO DIAGNOSA TUJUAN & K.H INTERVENSI RASIONAL


1. Pola napas tidak Efektifnya pola nafas setelah 1. Pantau adanya pucat atau 1. Pucat atau sianosis merupakan
efektif yang tindakan keperawatan. sianosis tanda bahwa klien kekurangan O2
berhubungan dengan Suhu : 36,5-37,5 º C 2. Pantau kecepatan irama, 2. Untuk mengetahui apakah keluhan
hiperventilasi TD : 110-120/70-80 mmHg kedalaman, usaha respirasi pasien sudah berkurang setelah
Nadi : 80-100 x/menit 3. Kaji kebutuhan insersi jalan tindakan keperawatan dilakukan.
RR : 16-20 x/menit nafas. Auskultasi bunyi nafas, 3. Untuk mengetahui seberapa tingkat
Sianosis (-) kaji adanya bunyi nafas kebutuhan klien terhadap oksigen
Konjungtiva normal tambahan yang akan diberikan untuk
Wheezing (-) 4. Informasikan kepada klien dan mengetahui sebab dari sesak nafas .
keluarga tentang teknik 4. Teknik relaksasi akan
relaksasi untuk meningkatkan mempermudah klien untuk
pola pernafasan mengurangi sesak nafasnya serta
5. Informasikan pada klien dan memberikan rasa yang tenang.
keluarga bahwa meraka harus 5. Untuk melakukan pertolongan
memberitahukan pada perawat dengan segera.
saat terjadi ketidakefektifan 6. Meningkatkan sediaan oksigen
pola pernafasan untuk kebutuhan miokardium untuk
6. Berikan oksigen tambahan melawan efek hipoksia / iskemi
dengan kanula nasal/ masker
sesuai indikasi 7. Posisi yang tepat akan membantu
7. Posisikan pasien untuk pengoptimalan pernafasan klien
mengoptimalkan pernafasan

2 Penurunan curah Penurunan curah jantung 1. Palpasi nadi perifer 1. Tanda penurunan curah jantung
jantung yang teratasi setelah dilakukan 2. Kaji perubahan pada sensorik, dapat diperlihatkan dengan ciri
berhubungan dengan tindakan keperawatan. contoh letargi, cemas dan menurunnya nadi, radial, popliteal,
penurunan volume Suhu : 36,5-37,5 º C depresi dorsalis pedis, dan post-tibial, nadi
sekuncup TD : 110-120/70-80 mmHg 3. Berikan istirahat semi mungkin cepat hilang atau tidak
Nadi : 80-100 x/menit recumbent pada tempat tidur teratur untuk dipalpasi, dan
RR : 16-20 x/menit atau kursi, kaji dengan gangguan pulsasi (denyut kuat
Akral normal pemeriksaan fisik sesuai disertai dengan denyut lemah)
Sianosis (-) indikasi mungkin ada.
Konjungtiva normal 4. Berikan istirahat psikologis 2. Penurunan curah jantung dapat
Wheezing (-) dengan lingkungan dengan mengakibatkan tidak efektifnya
Tidak ada oedema tenang, menjelaskan perfusi serebral
CRT < 3 detik manajemen medis atau 3. Istirahat fisik harus dipertahankan
keperawatan, membantu klien selama gagal jantung kongestif akut
menghindari stress, atau refraktori untuk memperbaiki
mendengar/berespons terhadap efisiensi kontraksi jantung dan
ekspresi perasaan takut. menurunkan kebutuhan atau
5. Batasi aktifitas seperti BAB konsumsi oksigen miokardium dan
dan BAK di samping tempat kerja berlebihan.
tidur, hindari maneuver 4. Stress emosi menghasilkan respon
valsava: mengejan, defekasi, vasokontriksi, yang terkait
menahan nafas selama langsung dengan peningkatan
perubahan posisi. tekana darah, frekuensi, dan kerja
6. Berikan oksigen tambahan jantung.
dengan kanula nasal/ masker 5. Pispot digunakan untuk
sesuai indikasi mengurangi aktifitas ke kamar
7. Pantau serial EKG mandi atau kerja keras
8. Pemberian cairan IV, menggunakan beban. Maneuver
pembatasan jumlah total sesuai valsava menyebabkan rangsang
dengan indikasi, hindari cairan vagal di ikuti dengan takikardia
garam yang selanjutnya berpengaruh pada
fungsi jantung/curah jantung.
6. Meningkatkan sediaan oksigen
untuk kebutuhan miokardium untuk
melawan efek hipoksia / iskemi
7. EKG merupaka indicator utama
terhadap perubahan konduksi
elektrikal jantung. adanya
perubahan dapat di pantau dengan
serial EKG
8. Karena adanya peningkatan
tekanan ventrikel kiri klien tidak
dapat menoleransi peningkatan
beban wal (preload) klien juga
mengeluarkan sedikit natrium yang
menyebabkan retensi cairan dan
meningkatkan kerja miokardium.

3 nutrisi kurang dari anak dapat makan dan 1. Anjurkan ibu untuk terus 1. air susu akan mempertahankan
kebutuhan tubuh menyusu dan tidak terjadi memberikan anak susu, kebutuhan nutrisi anak.
berhubungan dengan penurunan berat badan selama walaupun sedikit tetapi sering 2. meningkatan intake atau masukan
anoreksia terjadi perubahan status nutrisi 2. Pada anak yang sudah tidak dan mencegah kelemahan.
tersebut. menyusui lagi maka berikan 3. infuse akan menambah kebutuhan
makanan dengan porsi sedikit nutrisi yang tidak dapat dipenuhi
tapi sering dengan diet sesuai melalui oral.
instruksi (TKTP). 4. selama makan atau menyusui
3. Jika anak menunjukkan mungkin dapat terjadi anak sesak
kelemahan akibat atau tersedak.
ketidakadekuatannya nutrisi 5. mengawasi penurunan berat badan
yang masuk maka pasang atau efektivitas intervensi nutrisi.
infuse. 6. mengawasi masukkan kalori dan
4. Observasi selama pemberian kualitas kekurangan konsumsi
makan atau menyusui. makanan.
5. Timbang berat badan setiap 7. meningkatkan nafsu makan dan
hari dengan timbangan yang pemasukan oral, menurunkan
sama dan waktu yang sama. pertumbuhan bakteri,
6. Observasi dan catat masukan meminimalkan kemungkinan
makanan anak/ intake dan infeksi.
output secara benar.
7. Berikan dan bantu hygiene
mulut yang baik sebelum dan
sesudah makan, gunakan sikat
gigi halus untuk penyikatan
yang lembut, berikan pencuci
mulut yang di encerkan bila
mukosa oral luka.