Anda di halaman 1dari 5

Resume Etika Bisnis Chapter 3

Oleh : Budi Hartono (F0215033)


Christine Debora Pasaribu (F0215034)
Emil Abdul Aziz (F0215044)

Ethical Decision Making : Personal and Professional Context

Proses Pengambilan Keputusan untuk Etika

LANGKAH-LANGKAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG ETIS


1. Menentukan fakta-fakta
2. Mengidentifikasi para pemegang kepentingan dan mempertimbangkan situasi-
situasi dari sudut pandang mereka
3. Mempertimbangkan alternatif-alternatif yang tersedia juga disebut dengan
“imajinasi moral”
4. Mempertimbangkan bagaimana sebuah keputusan dapat memengaruhi para
pemegang kepentingan, membandingkan dan mempertimbangkan alternatif-alternatif
berdasarkan:
a. Konsekuensi-konsekuensi
b. Kewajiban-kewajiban, hak-hak, prinsip-prinsip
c. Dampak bagi integritas dan karakter pribadi
5. Membuat sebuah keputusan
6. Memantau hasil
Langkah pertama dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab secara etis
adalah menentukan fakta-fakta dalam situasi tersebut, membedakan fakta-fakta dari
opini belaka, adalah hal yang sangat penting. Perbedaan persepsi dalam bagaimana
seseorang mengalami dan memahami situasi dapat menyebabkan banyak perbedaan
etis. Sebuah penilaian etis yang dibuat berdasarkan penentuan yang cermat atas fakta-
fakta yang ada merupakan sebuah penilaian etis yang lebih masuk akal daripada
penilaian yang dibuat tanpa fakta. Seseorang yang bertindak sesuai dengan
pertimbangan yang cermat akan fakta telah bertindak dalam cara yang lebih
bertanggung jawab secara etis daripada orang yang bertindak tanpa pertimbangan
yang mendalam.
Langkah kedua dalam pengambilan keputusan yang etis yang bertanggung
jawab mensyaratkan kemampuan untuk mengenali sebuah keputusan atau
permasalahn sebagai sebuah keputusan etis atau permasalahan etis.
Langkah ketiga melibatkan satu dari elemen vitalnya. Kita diminta untuk
mengidentifikasi dan mempertimbangkan semua pihak yang dipengaruhi oleh sebuah
keputusan, orang-orang ini biasa disebut dengan para pemangku kepentingan
(stakeholder).
Langkah selanjutnya dalam proses pengambilan keputusan adalah
membandingkan dan mempertimbangkan alternatif-alternatif, membuat suatu
spreadsheet mental yang mengevaluasi setiap dampak tiap alternatif yang telah
dipikirkan terhadap masing-masing pemegang kepentingan yang telah identifikasi.
Salah satu cara yang paling mudah adalah menempatkan diri terhadap posisi orang
lain. Sebuah elemen penting dalam evaluasi ini adalah pertimbangan cara untuk
mengurangi, meminimalisasi atau mengganti kensekuensi kerugian yang mungkin
terjadi atau meningkatkan dan memajukan konsekuensi-konsekuensi yang
mendatangkan manfaat. Selain itu juga perlu mempertimbangkan kewajiban, hak-hak
dan prinsip-prinsip, serta dampak bagi integritas dan karakter pribadi.
Langkah kelima adalah pengambilan keputusan yang diakhiri dengan evaluasi
yang merupakan langkah terakhir dalam proses pengambilan keputusan sebagai
sarana untuk menilai apakah keputusan kita sudah berdampaka baik atau malah tidak
sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Pengambilan Keputusan yang Etis dalam Peran Manajerial


Keadaan sosial dapat mempermudah ataupun mempersulit kita untuk
bertindak sesuai dengan penilaian kita. Dalam dunia bisnis, terkadanga konteks
organisasi mempersulit kita untuk bertindak secara etis bahkan bagi orang yang
berniat paling baik sekalipun, atau mempersulit orang yang tidak jujur untuk
bertindak tidak etis. Tanggung jawab atas keadaan yang dapat mendorong perilaku
etis dan menekan perilaku tidak etis jatuh kepada manajemen bisnis dan tim eksekutif.
Dalam situasi bisnis, para individu harus mempertimbangkan implikasi etis
dan pengambilan keputusan pribadi dan profesional (personal and prosfessionanl
decision making). Beberapa dari peran yang kita emban bersifat sosial : teman, anak,
pasangan, warga negara, tetangga. Beberapa bersifat institusional : manajer, pengajar,
pengacara, akuntan, auditor, analis keuangan, dan sejenisnya. Pengambilan keputusan
dalam konteks ini menimbulkan pertanyaan yang lebih luas berkaitan dengan
tanggung jawab sosial dan keadilan sosial.
Dalam konteks bisnis, para individu mengisi peran sebagai karyawan,
manajer, eksekutif senior, dan anggota dewan. Para manajer, eksekutif, dan anggota
dewan memiliki kemampuan untuk menciptakan dan membentuk konteks organisasi
di mana semua karyawan mengmbil keputusan. Oleh karena itu, mereka memiliki
sebuah tanggung jawab untuk meningkatkan pengaturan organisasi yang mendorong
perilaku etis dan menekan perilaku tidak etis.

Etika Individu
Etika individual ini adalah etika yang berkaitan dengan kewajiban dan sikap manusia
terhadap dirinya sendiri, misalnya:
1) Memelihara kesehatan dan kesucian lahiriah dan batiniah.
2) Memelihara kerapian diri, kamar, tempat tingggal, dan lainnya.
3) Berlaku tenang
4) Meningkatkan ilmu pengetahuan.
5) Membina kedisiplinan , dan lainnya.

Etika sosial
Etika social adalah etika yang membahas tentang kewajiban, sikap, dan pola perilaku
manusia sebagai anggota masyarakat pada umumnya. Dalam hal ini menyangkut
hubungan manusia dengan manusia, baik secara individu maupun dalam kelembagaan
(organisasi, profesi, keluarga, negara, dan lainnya).Etika sosial yang hanya berlaku
bagi kelompok profesi tertentu disebut kode etika atau kode etik.

Stakeholder merupakan individu, sekelompok manusia, komunitas atau masyarakat


baik secara keseluruhan maupun secara parsial yang memiliki hubungan serta
kepentingan terhadap perusahaan. Individu, kelompok, maupun komunitas dan
masyarakat dapat dikatakan sebagai stakeholder jika memiliki karakteristik seperti
yang diungkapkan oleh Budimanta dkk, 2008 yaitu mempunyai kekuasaan, legitimasi,
dan kepentingan terhadap perusahaan.
1. Stakeholder Utama (primer)
Stakeholder utama merupakan stakeholder yang memiliki kaitan kepentingan secara
langsung dengan suatu kebijakan, program, dan proyek. Mereka harus ditempatkan
sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan.

2. Stakeholder Pendukung (sekunder)


Stakeholder pendukung (sekunder) adalah stakeholder yang tidak memiliki kaitan
kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan, program, dan proyek, tetapi
memiliki kepedulian (consern) dan keprihatinan sehingga mereka turut bersuara dan
berpengaruh terhadap sikap masyarakat dan keputusan legal pemerintah.

Kode etik terhadap stakeholder


1. Pelanggan
a. Memberikan produk jasa dengan kualitas terbaik sesuai kebutuhan.
b. Memberikan perlakuan yang adil dalam setiap transaksi.
c. Memelihara kesehatan produk dan kesehatan lingkungan konsumen.
d. Tanggap dan hormat terhadap martabat konsumen.
e. Menghormati integritas kultur yang berlaku pada konsumen.

2. Pekerja
a. Memberikan pekerjaan dan imbalan yang dapat memperbaiki kondisi kehidupan
mereka.
b. Memberikan kondisi yang menghormati kesehatan dan martabat pekerja.
c. Bersikap jujur dalam berkomunikasi dengan pekerja dan terbuka dalam
memberikan informasi.
d. Bersedia mendengarkan dan sejauh mungkin bertindak atas saran, gagasan,
permintaan dan keluhan pekerja.
e. Mengajak bermusyawarah apabila terjadi konflik.
f. Mengindari praktik diskriminasi dan menjamin perlakuan dan kesempatan yang
sama pada pekerja sekalipun berbeda gender, usia, suku, dan agama.
g. Mengembangkan diverfikasi pekerjaan dalam bisnis agar pekerja dapat sungguh-
sungguh bermanfaat.
h. Melindungi pekerja dari kemungkinan terkena penyakit dan kecelakaan di tempat
kerja.
3. Pemegang Saham
a. Menetapkan menejemen yang profesional dan tekun.
b. Memperlihatkan informasi yang relefan terhadap investor.
c. Menghemat, melindungi, dan menumbuhkan aset-aset investor.
d. Menghormati permintaan, saran dan keluhan solusi dari investor

4. Pemasok
a. Mengusahakan terwujudnya prinsip keadilan dan kejujuran.
b. Menjamin aktifitas bisnis terbebas dari pemaksaan.
c. Membantu terciptanya stabilitas hubungan jangka panjang dengan pemasok.
d. Berbagi informasi dengan pemasok.
e. Membayar pemasok tepat pada waktunya.
f. Mencari, mendukung dan mengutamakan pemasok.

5. Pesaing
a. Mengembangkan pasar terbuka untuk perdagangan dan investasi.
b. Mengembangkan perilaku yang bersaing dan menguntungkan secara sosisal.
c. Menghindari dari pemberian gaji atau hadiah yang dapat dipertanyakan.
d. Menghormati hak cipta dan hak paten.
e. Menolak untuk mencuri gagasan baik inofasi maupun penciptaan produk.

6. Masyarakat
a. Menghormati hak asasi manusia dan lembaga-lembaga demokrasi.
b. Mengakui kewajiban kepada pemerintah dan masyarakat.
c. Bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan yang ada di masyarakat.
d. Mengembangkan pembangunan berkelanjutan.
e. Mendukung perdamaian keamanan, keanekaragaman, dan keutuhan sosial