Anda di halaman 1dari 8

STRUKTUR BETON 1

DISUSUN OLEH :

Nama : Ramadhani Putri


NIM : 1211600046

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA
SERPONG
2018
TUGAS 5-1
CONTOH 2.1

Tentukan Mn dari suatu balok dengan penampang seperti tampak pada Gambar 2.7 , dengan
tulangan baja tarik saja. fc ’= 25 MPa, fy = 400MPa

Penyelesaian :
Dengan menggunakan anggapan bahwa tulangan baja tarik telah mencapai tegangan luluh,
kemudian harus diperiksa sebagai berikut:

ND = NT
(0,85 fc ’)ab = As fy
As fy 1472,6(400)
a= ′
= = 92,39 mm
0,85 fc 𝑏 0,85(250)(300)

Nilai a adalah kedalaman blok tegangan yang harus terjadi bila dikehendaki keseimbangan
gaya gaya arah horizontal.
Menghitung Mn :
Berdasarkan pada gaya beton tekan:
a
Mn = ND (𝑑 − )
2
a
Mn = 0,85 fc′ (𝑎𝑏)(𝑑 − 2)
92,39
= 0,85(25)(92,39)(300)(600 − )(10−6 ) = 298,97 kNm
2
Berdasarkan pada gaya tarik tulangan beton :
a
Mn = NT (𝑑 − 2)
a
Mn = As fy (𝑑 − 2)
92,39
= 1472,6(400)(600 − )(10−6 ) = 326,21 kNm
2
Perhitungan di atas didasarkan pada asumsi bahwa tulangan baja telah mencapai regangan
luluh (berarti juga tegangan luluhnya) sebelum beton mencapai regangan batas maksimum
0,003. Asumsi tersebut kemudian diperiksa kebenarannya.
Menentukan letak garis netral penampang adalah sebagai berikut:
a = β1 𝑐
β1 = 0,85 untuk fc′ = 25 MPa
Maka.
a 92,39
c = 0,85 = = 108,69 mm
0,85
dengan menggunakan segitiga sebangun pada diagram, dicari regangan yang terjadi dalam
tulangan baja tarik bila regangan beton mencapai 0,003.
0,003 εs
= (d−c)
c
(d−c) 600−108,69
Jadi, εs = (0,003) = ( )(0,003) = 0,0135 mm/mm
𝑐 108,69
Regangan luluh tulangan baja (εy ) dapat ditentukan berdasarkan hokum Hooke,
fy
Es = ε
y
fy 400
εy = E = 200000 = 0,0020 mm/mm
s
Hasil tersebut menunjukkan nilai regangan tulangan baja saat tegangan baja fy mencapai nilai
400 MPa. Karena regangan yang timbul pada baja tulangan (0,0135) lebih besar dari regangan
luluhnya (0,002), baja tulangan mencapai tegangan luluh sebelum beton mencapai regangan
maksimum 0,003 dan berarti asumsi yang digunakan pada awal analisis benar, bahwa tegangan
yang terjadi pada baja tulangan tarik sama dengan tegangan luluh baja.
CONTOH 2.2

Pada contoh 2.1, tentukan jumlah tulangan baja tarik yang diperlukan untuk mencapai
keadaan seimbang, di mana d = 600 mm, b = 300 mm, εy = 0,002. Dengan mengacu kepada

definisi keadaan keseimbangan, diagram regangan haruslah seperti ditunjukkan pada gambar
2.10

Penyelesaian.

Cb (d − Cb )
=
0,003 0,002
0,002 Cb = 0,003 (600 − Cb )
0,002 Cb + 0,003 Cb = 1,8
1,8
Cb = = 360 mm
0,005
ab = β1 cb = 0,85(360) = 306 𝑚𝑚
NDb = (0,85fc′ ) ab b
= 0,85 (25)(306)(300)10−3 = 1950,75 kN
NTb = Asbf y

NTb = NDb
Maka tulangan yang diperlukan,
NTb NDb
Asb = =
fy fy

1950,75 (10)3
= = 4876,87 mm2
400
Dengan membandingkan luas tulangan baja yang diperlukan untuk mencapai keadaan
seimbang dengan luas tulangan tersedia pada penampang balok (3 < P25 = 1473 mm2), dapat
disimpulkan penampang tersebut bertulangan kurang, di mana hancumya diawali dengan
meluluhnya tulangan baja tarik.
Pemeriksaan apakah persyaratan balok tipe daktail terpenuhi dilakukan sebagai berikut:
0,75 Asb = 0,75(4876,87) mm2 = 3657,65 mm2 > 1473 mm2
Sampai di sini harap diperhatikan bahwa untuk balok yang sama, penulangan ringan ternyata
lebih efisien dibandingkan dengan penulangan berat. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa
untuk balok dengan dimensi tertentu, pertambahan As akan disertai dengan berkurangnya
panjang lengan momen pada kopel momen dalam (z = d− 1⁄2a).

Agar didapat gambaran yang jeias kita tlniau ulang permasalahan pada Contoh 2.1
terdahulu dengan As digandakan dua kali dan kemudian dihitung nilai Mn untuk
dibandingkan hasilnya, sebagai berikut:
𝐴𝑠 = 2(1473) = 2946 mm2 (naik 100%)
2946 (400)
a = 0,85 (25)(300) = 184,8 mm

184,8
𝑀𝑛 = 0,85 (25)(184,8)(300) (600 − ) (10)−6 = 598 kNm
2
Padahal seperti didapat dari Contoh 2.1, Mn= 326,21 kNm, hanya ada kenaikan sebesar :
(598 − 326,21)
× 100% = 83,31%
326,21
Contoh 2.3
Pemeriksaan ulang daktilitas pada permasalahan Contoh 2. 1 dengan menggunakan
0, 75 𝜌𝑏 sebagai pembatas, menggunakan Tabel A-6 Apendiks A.
Penyelesaian :
As 1473
ρ= = = 0,00818
𝑏𝑑 300 (600)
DariTabel A-6 Apendiks A, untuk fy = 400 MPa dan fc′ = 25 MPa, didapat :

ρ𝑚𝑎𝑘𝑠 = 0,75 𝜌𝑏 = 0,00613 < 0,0103


Persyaratan peraturan dapat jug a diungkapkan dalam persamaan 𝐴𝑠 (maks) = 0, 75 Asb ,
dimana Asb sudah dihitung pada Contoh 2.2.
𝐴𝑠 (maks) = 0,75 (4876,87) = 3657,65 mm2 > 1473 mm2
Tabet A-6 pada Apendiks A memberikan nilai 0,75 𝜌𝑏 dan 𝜌 yang disarankan untuk berbagai
kombinasi tegangan luluh baja dan kuat beton, untuk komponen balok dan plat. Tabel tersebut
digunakan sebagai acuan praktis untuk menentukan agar balok memenuhi persyaratan
daktilitas yang ditetapkan. Dengan demikian konsep dan kriteria penampang seimbang
berguna sebagai acuan atau patokan, baik untuk perencanaan ataupun analisis dalam
menentukan cara hancur yang sesuai dengan peraturan. Apabila jumlah tulangan baja tarik
melebihi tulangan baja tarik yang diperfukan untuk mencapai keadaan seimbang, akan terjadi
hancur getas, sedangkan di lain pihak bila jumlah luas tulangan baja tarik kurang dari
tulangan baja tarik yang diperlukan untuk mencapai keadaan seimbang, terjadi hancur daktail.
SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.3.5. persamaan (3.3-3) juga memberikan batas
minimum rasio penulangan sebagai berikut:
1,4
𝜌𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 =
fy

Batas minimum penulangan tersebut diperlukan untuk lebih rnenjamin tidak terjadinya hancur
secara tiba-tiba seperti yang terjadi pada balok tanpa tulangan. Karena bagaimanapun, balok
beton dengan penulangan tarik yang sedikit sekalipun harus mempunyai kuat momen yang
lebih besar dari balok tanpa tulangan, di mana yang terakhir tersebut diperhitungkan
berdasarkan modulus pecahnya. Pembatasan minimum seperti di atas tidak berlaku untuk plat
tipis dengan ketebalan tetap dan plat dari balok T yang tertarik. Penulangan minimum plat
harus mempernitungkan kebutuhan memenuhi persyaratan tulangan susut dan suhu seperti yang
telah diatur dalam SK SNI T-15-1991-03 pasaJ 3. 16. 12.
TUGAS 5-2
 Di buku Ebook ali asroni tugas halaman 37 panjang balok ganti 10 m, yang
penampangnya ganti 4 m :

JAWAB :
a) Menghitung momen perlu Mu baok
Beban mati: Berat balok 𝑞𝐷𝑏𝑎𝑙𝑜𝑘 = 0,40.0,50.25 = 5 kN/m′
Berat plat, 𝑞𝐷𝑝𝑙𝑎𝑡 = 2,00 kN/m′
Jumlah beban mati 𝑞𝐷 = 7 kN/𝑚′
Momen akibat beban mati,
1 1
𝑀𝐷 = 8 . 𝑞𝐷 . 𝐿2 = 8 . 7. 102 = 8,75 kN-m
Beban hidup 𝑞𝐿 = 1 kN/m′
Momen akibat beban hidup,
1 1
𝑀𝐿 = 8 . 𝑞𝐿 . 𝐿2 = 8 . 1,0. 102 = 12,5 kN-m
Momen perlu Mu = 1,2. 𝑀𝐷 + 1,6. 𝑀𝐿
= 1,2.(8,75) + 1,6.(12,5) = 30,5 kN-m
Dapat juga dihitung Mu dengan cara lain yang memberikan hasil sama, yaitu:
Beban perlu 𝑞𝑢 = 1,2. 𝑞𝐷 + 1,6. 𝑞𝐿
= 1,2. (7) + 1,6. (1) = 10 kN/m′
1 1
Momen perlu Mu = . 𝑞𝑢 . 𝐿2 = .10. 102 = 125 kN-m
8 8

b) Menghitung momen nominal Mn balok


Pada Bab II.C.I telah dijelaskan, pada perencanaan balok harus dipenuhi syarat bahwa
nilai kuat rencana minimal sama dengan kuat perlu balok. Kuat perlu ini sudah
dihitung yaitu Mu sebesar 125 kN-m (lihat soal a).
Nilai kuat rencana = ∅ × kuat nominal
Mr
Jadi momen rencana Mr = ∅. Mn, atau Mn = ∅
Menurut persamaan (II-6) diperoleh : Mr ≥ Mu
Jika diambil Mr-Mu =125 kNm, dan faktor reduksi kekuatan ∅ untuk balok (struktur
yang menahan lentur) = 1,25 maka diperoleh hasil momen nominal Mn berikut :
125
Mn = Mr/∅ = 1,25 = 100 kN-m.