Anda di halaman 1dari 12

POLITIK Jurnal Kajian Politik Dan Masalah Pembangunan

Tafsir Kekuasaan Menurut Gajah Mada


The Commentary of Power According to Gajah
Mada

Yusak Farchan dan Firdaus Syam


Universitas Nasional Jakarta
yusak1982@gmail.com
firdaussyam@yahoo.com

Abstrak
Dalam perspektif membaca pemikiran politik Gajah Mada tentang kekuasaan ini, akan
digunakan perangkat analisis wacana Pecheux dengan metode deskriptif kualitatif. Di sini,
wacana merupakan terjemahan dari kata discourse; sebuah konsep yang diperkenalkan oleh
Foucault. Dalam hal ini, kekuasaan dalam pandangan Gajah Mada adalah kemampuan untuk
mengendalikan tingkah laku orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kata Kunci: Gajah Mada, Kekuasaan, analisis wacana

Abstract
The Perspective of political thought reading by Gajah Mada towards its power will use discourse
analysis device of Pecheux with qualitative methods. Herein, discourse; a concept presented by
Foucault. In this matter, the power in Gajah Mada’s thought is the ability to control someone’s
behavior both direct and indirect.

Keywords: Gajah Mada, Power, Discourse Analysis

JURNAL POLITIK 1589 VOL. 11 No. 01. 2015


Jurnal Kajian Politik Dan Masalah Pembangunan POLITIK

Pendahuluan (Althusser, 1984).


Umumnya, kajian populer terhadap Gajah Dalam konteks wacana Pecheux dan
Mada, selalu terkait dengan gagasan pokoknya, ideologi model Althusser, maka pemikiran politik
yakni penyatuan Nusantara. Jika kita mau Gajah Mada dapat dipandang sebagai sebuah
merunut sejenak ke belakang, sejatinya, gagasan gagasan yang terdiri dari gagasan yang dihasilkan
penyatuan wilayah-wilayah Nusantara telah dari proses berpikir; dan gagasan sebagai hasil
muncul pada masa kerajaan Singashari --- Prabu dari berpikir itu sendiri yang kemudian disebut
Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singashari ide atau ideologi yang tampak di permukaan.
mulai mengupayakan terwujudnya gagasan Sementara, posisi seseorang dapat menentukan
penyatuan Nusantara (Krisna Bayu Adji dan model dan tipologi ideologinya.
kawan-kawan, 2013). Namun sebelum upayanya Jika kepentingan adalah masalah orienta-
terwujud, Singashari mengalami kemelut politis si wacana, selanjutnya basis sosial adalah mate-
yang disebabkan oleh pemberontakan Adipati Ja- rialisasi dari wacana dan ideologi seseorang atau
yakatwang, yang terkena hasutan Adipati Wiraraja komunitas. Dengan demikian, maka gagasan
dari Kadipaten Sumenep-Madura, sehingga meng- dapat saja muncul dari basis sosial tertentu. Sebu-
akibatkan gugurnya Prabu Kertanegara. ah wacana tidak mungkin muncul secara tiba-
Dalam perspektif membaca pemikiran tiba. Untuk itu, basis sosial yang harus dilacak
politik Gajah Mada tentang kekuasaan, akan di- setidaknya ada dua, yaitu basis sosial kehidupan
gunakan perangkat analisis wacana Pecheux. Di pemikir dan komunitas pemikir.
sini, wacana merupakan terjemahan dari kata
discourse, sebuah konsep yang diperkenalkan Asal Usul Gajah Mada
oleh Foucault bersama beberapa konsep lain Menurut Kitab Usana Jawa atau sering
yang digagasnya seperti arkeologi, genealogi, dan disebut Cerita Bali, Gajah Mada dilahirkan di Pu-
seterusnya. Menurut Foucault (Pecheux, 1982), lau Bali Agung, dan pada suatu ketika berpindah
discourse dimaknai sebagai sistem statement yang ke Majapahit. Di sini Gajah Mada tidak memiliki
di dalamnya terdapat sebuah kata-kata atau teks ayah dan ibu, melainkan terlahir dari dalam buah
dapat diketahui. Biasanya sistem ini menjadi sesu- kelapa, sebagai penjelmaan Sang Hyang Narayana
atu yang masuk wilayah “unspoken” yang harus (Dewa Wisnu) ke dunia. Dengan kata lain, Gajah
dibongkar dalam sebuah teks atau kata-kata. Mada terlahir atas kehendak Dewa-Dewa (Yamin,
Analisis wacana yang akan digunakan di 1977).
sini adalah tradisi Perancis, yang biasanya dihu- Sementara, menurut Babad Gajah Mada, ia
bungkan dengan Michel Pecheux dan Althusser. adalah anak dari Patni Nari Ratih yang diperkosa
Bagi Pecheux (1982), gagasan dan ideologi oleh Dewa Brahma saat ditinggal suaminya (Mpu
bertemu dalam sebuah materialisasi ideologi, Sura Dharma Yogi) membuat huma di sebelah
sehingga dapat dikatakan sebagai pertarungan selatan lembah Tulis. Kelahirannya diiringi oleh
ideologi antar kelompok itu sendiri. Padahal, berbagai peristiwa alam, selanjutnya bayi Gajah
dalam posisi pertarungan dan gagasan, maka Mada diasuh oleh Kepala Desa Mada, dan setelah
posisi kelas sangat menentukan lahirnya sebuah dewasa diajak ke Majapahit untuk mengabdikan
gagasan. Dengan begitu, maka fundamen- diri kepada raja.
fundamen dasar menjadi perlu dilacak sebagai Menurut Babad Arung Bondan, ia adalah
pembentuk teks, yang menurut penulis terdapat anak seorang Patih Majapahit, Lugender yang
dalam beberapa hal, di antaranya sebuah wacana dikenal sebagai Logender dalam cerita rakyat
ditentukan oleh posisi kelas yang menentukan Damarwulan-Menakjingga. Waktu itu, Logender
sebuah ideologi seperti yang ada dalam gagasan menjadi Patih Ratu Majapahit yang bernama
Pecheux. Selanjutnya, posisi kelas seseorang Ratu Kenya atau Kencanawungu. J.L.A. Brandes
sangat menentukan ideologinya. Kalau sepakat, menyatakan; uraian dalam kisah Damarwulan-
ideologi seperti dalam pandangan Althusser Menakjingga sebenarnya terjadi dalam masa
dapat diterjemahkan sebagai hal positif yang pemerintahan Ratu Suhita di Majapahit. Menak-
merepresentasikan sebuah gagasan dan wacana jingga yang dimaksudkan dalam cerita itu setara

JURNAL POLITIK 1590 VOL. 11 No. 01. 2015


POLITIK Jurnal Kajian Politik Dan Masalah Pembangunan

dengan Bhre Wirabhumi, penguasa kedaton timur tidak mudah menyerah, setia kepada tuannya dan
yang berperang melawan Majapahit. Jika tafsiran berperilaku seperti hewan gajah dalam menghalau
itu diikuti, maka Gajah Mada baru ada se-telah semua penghalang.
Majapahit melewati masa kejayaannya. Dengan begitu, didapat suatu prakiraan,
Sementara, menurut Serat Pararaton --- bahwa Gajah Mada adalah anak Gajah Pagon,
kitab berbahasa Jawa tengahan yang memuat salah seorang pahlawan Majapahit yang terluka di
riwayat sejarah raja-raja Jawa Kuno, khususnya Pandakan. Tampaknya, penulis Pararaton punya
sejak masa Singashari hingga Majapahit dan didu- maksud tertentu dengan mencantumkan kisah
ga dibuat sekitar abad ke-16. Akan tetapi, jika di- tentang nasib Gajah Pagon, yakni untuk mengenang
bandingkan dengan Nagarakrtagama, informasi jasa-jasa ayahanda Mahapatih Gajah Mada. Oleh
kesejarahannya kurang akurat (Lihat penjelasan karena itu, dapat dikatakan, sebenarnya Gajah
Supratikno Rahardjo dalam “Peradaban Jawa Mada berasal dari inner circle (lingkaran dalam)
Dari Mataram Kuno Sampai Majapahit Akhir”, penguasa Majapahit, yakni anak dari Gajah Pagon
Jakarta, 2011) --- di sini, Gajah Mada adalah anak --- pengiring setia Raden Wijaya.
Gajah Pagon, salah seorang petinggi Kerajaan
Majapahit dan pengikut setia Raden Wijaya, raja Karir Politik Gajah Mada
pertama Kerajaan Majapahit yang memerintah Setidaknya ada tiga fase penting yang
pada 1293-1309 M. Dalam pengungsian Raden terkait dengan karir politik Gajah Mada selama
Wijaya ke Desa Pandakan, Madura, karena pepe- pengabdiannya di Kerajaan Majapahit, yakni
rangan dengan tentara Kadiri. Saat itu, Gajah Bekel Bhayangkara, Patih, dan Mahapatih
Pagon yang terluka dititipkan kepada Macan Amangkubhumi.
Kuping, Kepala Desa Pandakan. Lalu, Gajah Pa-
gon menikah dengan anak Macan Kuping yang 1. Bekel Pasukan Bhayangkara
kemudian melahirkan Gajah Mada. Dari beberapa literatur, karir politik Gajah
Seterusnya, menurut Kakawin Nagara- Mada diawali dengan menjadi Bekel atau prajurit
kartagama. Di sini, tak sekalipun tertulis kapan di kesatuan khusus Bhayangkara. Perannya banyak
Gajah Mada dilahirkan. Mpu Prapanca hanya disebut saat terjadi pemberontakan Ra Kuti 1319
menyebut waktu Gajah Mada mulai mengemban M pada masa pemerintahan Raja Jayanegara.
tugasnya, yakni pada 1331 M ketika terlibat dalam Serat Pararaton menuliskan, saat Ra Kuti mela-
menundukkan Sadeng. kukan pemberontakan, yang menjadi Bekel jaga
Menurut penulis, dari beberapa sumber di Kerajaan Majapahit adalah Gajah Mada. Ia
di atas, maka uraian dalam Pararaton lebih dapat bertugas pada saat yang tepat dengan menunjukkan
diterima karena mengandung unsur-unsur yang loyalitas dan keberaniannya melindungi saat Raja
setidaknya bisa dikaji secara lebih akademis. Jayanegara terancam jiwanya (Hadi, 2003).
Cerita berbalut mitos terkait kelahiran Gajah Saat itu, Gajah Mada tidak terpengaruh
Mada dalam Pararaton cukup sedikit dibanding dengan gejolak politik internal Majapahit karena
dengan sumber-sumber lainnya. pemberontakan Ra Kuti, ternyata didukung oleh
Pada masa awal Majapahit, orang yang elite-elite kerajaan dari kubu Gayatri dan Tri-
cukup berperan dan menyandangkan kata “gajah” bhuwana Tunggadewi. Tentunya, Gajah Mada
pada namanya hanyalah Gajah Pagon, sahabat sudah mendengar adanya perpecahan antara
Raden Wijaya. Jika Gajah Pagon hidup dalam ma- kubu Gayatri dan Tribhuwana Tunggadewi (kubu
sa Kartarajasa Jayawarddhana (Raden Wijaya). Jawa) dengan kubu Indreswari (kubu Melayu),
Padahal, Gajah Mada mulai dikenal sejak masa perselisihan karena terkait dengan faktor garis
pemerintahan Jayanegara, berarti ada dua generasi keturunan sebagai basis legitimasi raja yang di-
raja yang berbeda. Namun, menilik sifatnya anggap paling sah.
sebagaimana yang diuraikan dalam Pararaton dan Dalam menyikapi pemberontakan Ra
sumber lainnya. Sesungguhnya, kedua orang yang Kuti yang didukung oleh kubu Gayatri, Gajah
menyandang nama “gajah” itu adalah sama, yak- Mada bersikap netral. Baginya, kesetiaan kepada
ni memiliki karakter pemberani, tahan mental, raja adalah syarat mutlak yang harus dimiliki

JURNAL POLITIK 1591 VOL. 11 No. 01. 2015


Jurnal Kajian Politik Dan Masalah Pembangunan POLITIK

seorang prajurit. Konsekuensinya, otomatis, ia ternyata membuat karir politik Gajah Mada
berada di dalam barisan Jayanegara karena tugas sebagai orang kepercayaan raja tidak meredup.
utamanya mengawal dan mengamankan raja dari Karirnya justru semakin melesat karena sikap
segala bentuk bahaya, termasuk pemberontakan satya bhakti aparabhu (setia kepada raja) mampu
Ra Kuti. membuat kedua putri Jawa tersebut terkesan. De-
Itulah sebabnya, dalam pemberontakan ngan kata lain, Majapahit tetap membutuhkan
tersebut, Gajah Mada lebih memilih menyelamat- Gajah Mada secara utuh.
kan Raja Jayanegara dengan mengungsikannya ke Awal memerintah Majapahit pada 1328,
daerah Badander di Pamotan, Lamongan, Jawa Tribhuwana Tunggadewi menunjuk Gajah Mada
Timur. Selanjutnya, ia juga berhasil memadamkan yang kala itu masih menjabat sebagai Patih Daha
pemberontakan Ra Kuti. Dalam konteks ini, untuk menggelar sayembara pemilihan jodoh bagi
loyalitas pasukan Bhayangkara patut dipuji. Ini- kedua putri Gayatri. Babad Dalem menuliskan
lah peran penting Gajah Mada pada awal karir Gajah Mada ditunjuk sebagai ketua pelaksana da-
politiknya sebagai Bekel di Kerajaan Majapahit. lam sayembara tersebut (Hadi, 2003).
Dalam Pararaton disebutkan, akhirnya
2. Patih Kahuripan dan Daha (Kadiri) Tribhuwana menikah dengan Cakradara dan
Atas jasanya menyelamatkan Raja Jaya- Rajadewi menikah dengan Kuda Amerta yang
negara dan memadamkan pemberontakan Ra Kuti, belakangan menjadi raja di Wengker, salah satu
kemudian, Gajah Mada mendapat cuti sebagai negara di bawah Majapahit. Akan tetapi, berita
Bekel Bhayangara selama dua bulan. Setelah itu, ini berbeda dengan Kakawin Nagarakrtagama
ia pun diangkat sebagai patih (1319-1321 M) un- yang menyebutkan pendamping Tribhuwana
tuk mendampingi Rani Kahuripan yang saat itu di- Tunggadewi adalah Sri Kerta Wardhhana yang
jabat Tribhuwana Tunggadewi. mukim di Singashari. Sementara, pendamping
Setelah menjadi Patih Kahuripan selama Rajadewi adalah Wijaya Rajasa yang menjadi
dua tahun. Selanjutnya, Gajah Mada diangkat pemimpin di Wengker. Dalam kaitan ini, agaknya
menjadi Patih Daha untuk menggantikan Patih apa yang dinyatakan Nagarakrtagama lebih dapat
Arya Tilam yang telah mangkat. Di Daha, ia dipercaya karena ditulis sezaman dengan dua
mendampingi Rani Dyah Rajadewi --- putri ksatria yang akhirnya sanggup menaklukkan hati
bungsu Raden Wijaya, hasil pernikahannya kedua putri Gayatri tersebut.
dengan Gayatri, adik dari Tribhuwana Tungga-
dewi. Menurut Muhammad Yamin (1953), pemin- 3. Mahapatih Amangkubhumi Majapahit
dahannya menjadi Patih Daha adalah merupakan Lima belas tahun setelah pengangkatannya
suatu peningkatan yang luar biasa, mengingat sebagai Patih Daha (Kadiri), pada 1336 M,
Daha merupakan wilayah yang demikian Gajah Mada pun diangkat menjadi Mahapatih
penting, sementara, kemuliaan Kahuripan hanya Amangkubhumi Majapahit. Tentang jabatan
merupakan kenang-kenangan terhadap Prabu Mahapatih Majapahit, Pararaton menyebutkan
Airlangga semata. setidaknya terdapat delapan mahapatih sejak
Padahal, alasan yang paling mendasar raja pertama Raden Wijaya hingga raja ketujuh
dari pengangkatan Gajah Mada sebagai Patih Suhita (Prabhustri) yang berkuasa pada 1429-
Kahuripan dan Daha tak lain untuk mengawasi 1447 M --- yakni Mahapatih Nambi 1294-1316
kekuasaan kedua daerah yang dipimpin oleh M, Mahapatih Dyah Halayuda (Mahapati) 1316-
Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah Rajadewi, yang 1323 M, Mahapatih Arya Tadah (Empu Krewes)
nyata-nyata tidak suka terhadap kepemimpinan 1323-1336 M, Mahapatih Gajah Mada 1336-
Jayanegara. Tujuannya amat jelas, Jayanegara 1364 M, Mahapatih Gajah Enggon 1367-1394
berharap agar Gajah Mada bisa dengan secara M, Mahapatih Gajah Manguri 1394-1398 M,
khusus meredam ambisi kedua putri Jawa terse- Mahapatih Gajah Lembana 1398-1410 M, dan
but, sekaligus membujuk keduanya agar patuh dan Mahapatih Tuan Tanaka 1410-1430 M.
tunduk kepada Jayanegara. Pengangkatan Gajah Mada sebagai
Berakhirnya kekuasaan Jayanegara, mahapatih dilakukan oleh Tribhuwana Tung-

JURNAL POLITIK 1592 VOL. 11 No. 01. 2015


POLITIK Jurnal Kajian Politik Dan Masalah Pembangunan

gadewi, lima tahun usai meletusnya peristiwa Majapahit dengan pasukan Sunda, sehingga meng-
Sadeng 1331 M. Dalam peristiwa ini, kembali akibatkan kematian massal di pihak Kerajaan Sun-
Gajah Mada menunjukkan kelebihannya dengan da.
memadamkan pemberontakan di daerah Sadeng. Peristiwa Bubat dapat dipandang sebagai
Pengangkatannya sudah barang tentu didasari oleh akhir kegemilangan tugas-tugas Gajah Mada.
berbagai pertimbangan. Pertama, loyalitas Gajah Namun, tidak berarti setelah peristiwa Bubat,
Mada sudah benar-benar teruji, sejak di awal Gajah Mada menanggalkan seluruh aktivitasnya
karirnya sebagai Bekel di kesatuan Bhayangkara, sebagai Mahapatih Majapahit. Karena pada tahun
dengan menyelamatkan Raja Jayanegara dan me- yang sama, 1357 M, atau setelah peristiwa Bubat,
madamkan pemberontakan Ra Kuti. Majapahit melakukan penyerangan ke Padompo,
Ketika Tribhuwana Tunggadewi naik tahta sehingga, patut diduga, penyerangan Gajah Mada
Majapahit, Gajah Mada kembali bersikap loyal ke Padompo dilakukan karena beberapa alasan.
dengan menerima mandat dari Gayatri sebagai Pertama, untuk menghindari cercaan dari dalam
ketua pelaksana sayembara pernikahan kedua negeri Majapahit terhadap dirinya. Kedua, sebagai
putrinya --- selanjutnya, pada peristiwa Sadeng, bentuk meraih kembali kepercayaan keluarga
Gajah Mada juga berhasil memadamkannya. kerajaan. Ketiga, dapat pula dipandang sebagai
Kedua, pengalamannya sebagai Patih di bentuk hukuman yang ditujukan bagi dirinya sen-
Kahuripan dan Daha merupakan modal politiknya, diri. Oleh karena itu, ia “membuang” diri dengan
sehingga ia memang layak untuk dipilih menjadi memimpin armada Majapahit jauh ke arah timur
mahapatih. Ketiga, Majapahit membutuhkan so- untuk menaklukkan Padompo (Munandar, 2010).
sok mahapatih yang mampu meneruskan politik Peristiwa Bubat memang menandai mulai
perluasan wilayah untuk menyongsong masa de- surutnya karir politik Gajah Mada, ditunjukkan
pan, dan Gajah Mada merupakan pilihan yang dengan Hayam Wuruk menganugerahi tanah per-
paling tepat, karena memenuhi berbagai kriteria dikan baginya di Madakaripura (Probolinggo).
yang digariskan. Sekalipun tampak mendapatkan anugerah, te-
Tidak ada yang bisa menepis, jabatan tapi tindakan Hayam Wuruk tersebut dapat
mahapatih adalah puncak pencapaian tertinggi dari ditafsirkan sebagai “anjuran” halus agar Gajah
seluruh perjalanan karir politik Gajah Mada, yang Mada menyingkir jauh-jauh dari Majapahit. Wa-
diraih lewat prestasi tertentu dengan semangat lau masih berstatus sebagai mahapatih hingga
kerja keras, ketekunan, dan loyalitas yang tinggi. akhir hayatnya (1364 M). Akan tetapi, Gajah
Dengan kata lain, berbagai jabatan Gajah Mada Ma-da telah menjauh dari pelbagai urusan politik
dapat dikategorikan sebagai achieved status, yak- kenegaraan di Majapahit (Krisna Bayu Adji dan
ni status yang diperoleh dengan melalui kerja ke- kawan-kawan, 2013).
ras.
Yang menarik untuk dicatat adalah, Tafsir Kekuasaan Menurut Gajah Mada
progresivitas karir politik Gajah Mada dapat Secara filosofis, tafsir kekuasaan yang
dikatakan cepat tanpa mengalami hambatan ber- dilakukan oleh Gajah Mada, dipengaruhi oleh
arti --- mulai dari Bekel di Bhayangkara hingga konsep kosmologi dalam ajaran Brahma. Jagat
menjadi Mahapatih Majapahit, berhasil dicapai raya ini terdiri dari sebuah benua jambudvipa yang
dalam tujuh belas tahun. menjadi pusat dan berbentuk lingkaran, dikelilingi
Seiring dengan terjadinya Perang Bubat oleh tujuh benua dengan tujuh lautan yang ber-
pada 1357 M, maka karir politik Gajah Mada pun bentuk lingkaran konsentris. Di luar lautan yang
meredup. Sejatinya, peristiwa ini dipicu oleh sikap ketujuh, yang terakhir, jagat raya itu ditutup oleh
politik Gajah Mada yang terlalu obsesif ingin barisan pegunungan besar (cakravala). Di teng-
menaklukkan Kerajaan Sunda melalui proses ah-tengah jambudvipa, ada sebuah gunung yang
pernikahan antara Hayam Wuruk dengan Dyah menjadi pusat peredaran matahari, bulan dan
Pitaloka, putri Prabu Maharaja Linggabuana dari bintang. Di puncak gunung, yang disebut Gunung
Kerajaan Sunda. Dalam peristiwa tersebut, terjadi Meru, terdapat kota-kota tempat tinggal para De-
pertempuran tidak seimbang antara pasukan wa Lokapala.

JURNAL POLITIK 1593 VOL. 11 No. 01. 2015


Jurnal Kajian Politik Dan Masalah Pembangunan POLITIK

Sejatinya, kosmologi dari ajaran Budhis- Gajah Mada diumpamakan sebagai pranala-
me pada dasarnya sama, yakni memberikan nya (“rake mapatih pu mada...pranaraksaka sri
pandangan bahwa bentuk jagat raya itu seperti maharaja pranalmratisubaddhaken pandiri sri
lingkaran yang dikelilingi oleh wilayah-wila- maharajanken iswarapratiwimba”) (Lempeng 3
yah dan berpusat pada Gunung Meru. Dalam recto, baris 1-3 lihat Brandes dalam Djafar, 1978).
perkembangannya, pandangan kosmologi ini Oleh sebab itu, kekuasaan dalam pan-
telah banyak mempengaruhi alam pikiran manu- dangan Gajah Mada dapat ditafsirkan sebagai
sia. Oleh karena itu, konsep-konsep tentang hu- kemampuan untuk mengendalikan tingkah laku
bungan antara dunia manusia dan jagat raya pun orang lain, baik secara langsung dengan jalan
lahir. Ternyata, hal itu juga mempunyai pengaruh memberi perintah maupun secara tidak langsung
yang tidak sedikit, baik dalam kegiatan politik dengan mempergunakan segala alat dan cara
maupun pada gerak hidup dan kehidupan sehari- yang tersedia. Sebagai seorang patih, ia memiliki
hari. Boleh dikata, khususnya pada seluruh sejumlah kuasa atau wewenang untuk menjalankan
susunan pemerintahan kerajaan-kerajaan kuno pemerintahan. Tentunya, legitimasi kuasa tersebut
di Asia Tenggara merupakan pengejawantahan diperoleh dari berbagai prestasi yang telah diakui
dari kosmologi ini. Raja dan kerajaannya (mikro oleh banyak pihak, terutama di bidang kemiliteran.
kosmos) merupakan gambaran riil dari jagat raya Menurut Gajah Mada, tafsir kekuasaan
(makro kosmos). Raja dan keratonnya di ibu kota tentu saja tidak bisa dilepaskan dari pandangannya
menjadi pusat dari susunan mikro kosmos tersebut. tentang konsepsi kepemimpinan. Selain sebagai
Dari sudut pandang kosmogini Hinduisme, tokoh yang mengikrarkan Sumpah Palapa dalam
terdapat kesejajaran antara dunia manusia dan rangka mempersatukan wilayah nusantara dengan
jagat raya. Bukti-bukti tentang hal ini, di Kerajaan pusat pemerintahan Majapahit, Gajah Mada
Majapahit cukup banyak kita temukan prasasti- juga dikenal sebagai seorang penggagas falsafah
prasasti. Dalam Prasasti Tuhanaru, disebutkan kepemimpinan Tri Dharma yang terdiri dari tiga
bahwa Kerajaan Majapahit dilambangkan dimensi, yakni dimensi spiritual, moral, dan
sebagai sebuah prasada dengan Raja Majapahit manajerial (Achmad, 2013). Adapun penjelasan
sebagai Wisnwawatara dan Rake Mapatih seba- falsafah kepemimpinan Tri Dharma adalah sebagai
gai pranala --- Kata  ini berasal dari  bahasa berikut.
Kawi atau Bahasa Jawa Kuna yang dapat diartikan 1. Dimensi spiritual. Dalam dimensi spiritual,
sebagai anak sungai, saluran, terusan dari kolam seorang pemimpin harus memiliki tiga prinsip
dan sebagainya. Prasasti Tuhanaru berangka tahun utama, antara lain.
Saka 1245 atau 1323 M, berbentuk tembaga, berba- a. Wijaya (tenang, sabar, dan bijaksana).
hasa Jawa Kuna dan ditemukan di Mojokerto, b. Masihi samasta buwana (mencintai alam
Jawa Timur. Prasasti yang dikeluarkan oleh Raja semesta).
Jayanegara ini berisi tentang penetapan kembali c. Prasaja (hidup dan bersikap sederhana).
Desa Tuhanaru dan Kusambyan sebagai daerah 2. Dimensi moral. Dalam dimensi moral,
swatantra atas permohonan Dyah Makaradhwaja. seorang pemimpin harus memiliki enam
Permohonan tersebut dikabulkan oleh Jayanegara prinsip utama, antara lain.
karena Dyah Makaradhwaja menunjukkan kese- a. Mantriwira (berani membela dan mene-
tiaan dan baktinya kepada raja. gakkan kebenaran serta keadilan).
Adapun, seluruh mandala Jawa dianggap b. Sarjawa upasama (memiliki sikap rendah
sebagai punpunan-nya, sedang Pulau Madura dan hati).
Tanjung Pura dianggap sebagai ansa-nya (Brandes c. Tan sutrisna (tidak pilih kasih).
dalam Djafar, 1978). Kita menemukan keterangan d. Sumantri (bersikap tegas, jujur, bersih, dan
semacam itu di dalam Prasasti Jayapatra (Jayason) berwibawa).
dari Bendosari. Prasasti ini berasal dari zaman e. Sih samasta bhuwana (mencintai seluruh
pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Di dalam rakyat).
prasasti tersebut, Raja Hayam Wuruk diumpa- f. Nagara gineng pratijna (mengutamakan
makan sebagai sebuah patung Siwa, sedang Patih kepentingan negara di atas kepentingan

JURNAL POLITIK 1594 VOL. 11 No. 01. 2015


POLITIK Jurnal Kajian Politik Dan Masalah Pembangunan

pribadi, golongan dan keluarga). sebagai tokoh pimpinan di antara para rama, yakni
3. Dimensi manajerial. Dalam dimensi mana- seorang pemimpin semacam lurah pada masa kini
jerial, seorang pemimpin harus memiliki yang sebelumnya tidak dikenal. Hubungan antara
sembilan prinsip utama, antara lain. pemerintah desa dan pusat tidak lagi bersifat
a. Natangguan (mendapat dan menjaga ke- kemitraan, tetapi lebih merupakan hubungan
percayaan masyarakat). antara atasan dan bawahan. Administrasi desa te-
b. Satya bhakti prabhu (setia kepada nusa dan lah berubah menjadi bagian terbawah dari hierarki
bangsa). kerajaan.
c. (pandai bicara dengan sopan). Selain penataan struktur jabatan, upaya
d. Wicaksaneng naya (pandai dalam berdi- penataan birokrasi juga dilakukan melalui pen-
plomasi, mengatur strategi dan siasat). carian dukungan di wilayah desa. Salah satunya
e. Dhirotsaha (tekun bekerja dan mengabdi dilakukan melalui pemberian hak-hak khusus
pada kepentingan umum). (wnang) kepada para pemegang atau kepala sima.
f. Dibyacita (lapang dada dan bersedia mene- Disebut khusus, karena biasanya, hak-hak tersebut
rima pendapat orang lain). merupakan simbol-simbol status yang hanya dimi-
g. Nayaken musuh (menguasai musuh dari liki oleh raja atau elite di lingkungan keraton.
dalam dan luar).
h. Ambek paramartha (pandai menentukan 2. Penerapan Kekuatan Militer
prioritas utama). Penaklukan dan persekutuan kekuatan
i. Waspada purwatha (waspada dan selalu militer merupakan cara yang diterapkan untuk
melakukan introspeksi untuk perbaikan). mengukuhkan kedaulatan, melindungi rakyat se-
tempat, dan mendapat pengakuan dari kekuatan
Upaya Gajah Mada Mengendalikan Kekuasaan politik pesaingnya. Berbagai sumber prasasti
Berdasarkan sumber-sumber sejarah, se- dan karya sastra memberikan keterangan, bahwa
tidaknya terdapat empat cara dari yang bersifat salah satu cara yang umum dilakukan para raja
halus hingga pemaksaan yang digunakan oleh untuk memperluas pengaruhnya ke luar batas wi-
Gajah Mada dalam merebut, mempertahankan, layah kekuasaannya adalah dengan melakukan
memperluas dan mengendalikan kekuasaan, yaitu penaklukan.
penataan birokrasi, penerapan kekuatan militer, Nagarakrtagama menyebut 98 kerajaan-
penerapan sistem hukum, serta penanaman nilai- kerajaan kecil di wilayah nusantara sebagai negeri-
nilai tradisi besar dan aktivitas publik. negeri taklukkan, mengirimkan upeti kepada Raja
Majapahit. Kitab itu juga menyebutkan bahwa
1. Penataan Birokrasi mereka yang patuh dan setia akan dilindungi.
Dalam penataan birokrasi, ada dua meka- Akan tetapi, yang membantah akan didatangi dan
nisme yang dilakukan untuk mengukuhkan pe- dihancurkan oleh pasukan angkatan laut.
ngendalian kekuasaan, yakni penataan struktur Bentuk lain dari upaya mengukuhkan
jabatan dan mencari dukungan di tingkat desa. kedaulatan atas kekuasaan adalah menjalin hu-
Sumber-sumber prasasti memperlihatkan, seba- bungan secara intensif dengan sumber kekuatan
gian besar perintah raja disampaikan langsung politik utama di Asia, yakni Cina. Tampaknya, hal
kepada seseorang atau beberapa pejabat tinggi di tersebut dilakukan karena Cina memiliki pengaruh
bawah raja (rakai atau samget), kemudian mereka besar dalam bidang kemiliteran di wilayah nusan-
langsung meneruskannya kepada pimpinan desa tara. Ada kecenderungan, bahwa dinasti-dinasti
yang menjadi sasarannya. Cina hanya mengakui satu kekuatan utama yang
Pada masa Majapahit, muncul tokoh indi- mewakili suatu wilayah tertentu. Pengakuan
vidual yang mewakili dewan para rama. Sebuah semacam ini berlaku juga di kawasan nusantara. Di
prasasti dari periode ini menyebutkan bahwa wilayah ini, hanya ada dua kekuatan utama yang
dewan “para rama” dengan buyut sebagai yang tampaknya selalu bersaing untuk memperoleh
utama (mpu ramarama walandit, akadi buyut). pengakuan kedaulatan dari Cina, yakni kerajaan
Keterangan ini secara jelas menyebutkan buyut utama di Jawa dan kerajaan utama di Sumatera.

JURNAL POLITIK 1595 VOL. 11 No. 01. 2015


Jurnal Kajian Politik Dan Masalah Pembangunan POLITIK

3. Penerapan Sistem Hukum jiban keagamaan. Akan tetapi, dari segi politik,
Sumber-sumber sejarah yang memberi upaya semacam ini dapat dipandang sebagai salah
keterangan mengenai masalah hukum terutama satu cara untuk mengukur kesetiaan dan sekaligus
berasal dari prasasti dan karya sastra. Boechari dapat digunakan sebagai sarana saling bersaing di
(1975) telah mengumpulkan 12 prasasti yang me- antara para pejabat.
muat masalah pelanggaran hukum yang terjadi Di antara berbagai upacara yang mungkin
dari pertengahan abad ke-14 hingga abad ke-19. dilakukan di keraton, ada dua yang diuraikan cukup
Dari jumlah tersebut, delapan di antaranya berasal rinci dalam kitab Nagarakrtagama, yakni upacara
dari periode sebelum abad ke-13. Sraddha dan perayaan tahunan. Upacara sraddha
Dari isi prasasti-prasastinya, dapat dike- adalah aktivitas keagamaan yang diselenggarakan
tahui bahwa masalah yang paling umum adalah untuk memperingati dua belas tahun setelah
pajak tanah dan sengketa hak waris tanah. Sele- seseorang meninggal dunia. Keterangan ini diper-
bihnya adalah masalah kewarganegaraan yang oleh dalam kitab Nagarakrtagama. Terdapat ke-
juga dikaitkan dengan kewajiban membayar mungkinan bahwa peristiwa ini digunakan juga
pajak dan utang piutang. Dari keterangan di atas, sebagai sarana untuk mengukur loyalitas para
maka terdapat tiga hal penting dari penerapan pejabat kerajaan. Penyelenggaraan upacara ini
sistem hukum, yakni kitab-kitab hukum tertulis diawali dengan pengumuman yang disampaikan
yang bersifat “nasional” telah ada; hukum adat oleh Gajah Mada. Salah satu pesan yang disam-
masih dijadikan sumber aturan tambahan; dan paikan adalah bahwa para pejabat kerajaan
pengetahuan tentang hukum formal telah dikenal diharapkan memberikan sumbangan dalam pelak-
oleh penduduk pedesaan. sanaan kegiatan tersebut.
Pada masa Majapahit, kitab-kitab hukum Dari perjalanan panjang pada 1359 ke
menjadi semakin penting peranannya. Setidaknya, Lumajang yang diuraikan dalam Nagarakrtagama,
jumlah naskah hukum yang dihasilkan pada pe- dapat diketahui bahwa ada tiga aspek yang terkait,
riode ini dapat dijadikan ukuran. Di antara naskah yakni aspek keagamaan, ekonomi, dan politik.
hukum atau sastra yang diduga dibuat pada masa Aspek pertama tercermin dalam kebiasaan raja
Majapahit adalah Kutaramananawa, Dewagama, untuk singgah di tempat-tepat suci dan juga me-
Adigama, Swarajambhu, Canakya, Kamandaka, nyempatkan untuk melakukan pemujaan di candi-
Kertopapati, Dharmmopapati, Dustakalabaya, candi pen-dharma-an nenek moyangnya. Aspek
Dewadanda, Purwadigama dan Sarasamuchaya ekonomi tercermin dalam kenyataan bahwa sang
(cf. Friederich 1887; Boechari 1978). raja sering memberikan bermacam hadiah kepada
para pejabat setempat berupa barang-barang pro-
4. Penanaman Nilai-Nilai Tradisi Besar dan duksi kota. Sebaliknya, para pejabat setempat
Aktivitas Publik memberikan barang-barang produksi pertanian.
Nilai-nilai tradisi besar yang kemungkinan Aspek politik tercermin dari tokoh-tokoh
memiliki peranan dalam mengukuhkan tatanan yang menyambut kedatangan sang raja. Lebih da-
sosial adalah penyebaran agama, penggunaan ri itu, di dalam rombongan juga disertakan para
aksara dan bahasa Jawa Kuno, penggunaan nama- kerabat raja yang diketahui menjadi penguasa-
nama Sanskerta dan pertunjukan kesenian. penguasa daerah. Dalam iring-iringan perjalanan
Dalam kaitan dengan aktivitas publik, itu, Gajah Mada tampak menjadi pemimpin yang
setidaknya, terdapat tiga upaya yang digunakan ditampilkan secara lebih menonjol (Pigeaud
untuk melakukan pengendalian kekuasaan, 1962). Maksud sesungguhnya dari perjalanan ini
yakni pendirian bangunan peribadatan yang tidak sepenuhnya diketahui. Tetapi mengingat
bersifat monumental, upacara-upacara yang dise- komposisi rombongan yang dilibatkan, cukup
lenggarakan di keraton, dan perjalanan keliling alasan untuk menduga adanya maksud politik di
kerajaan. balik perjalanan tersebut. Di antaranya mengontrol
Dari sudut agama, keterlibatan para pejabat tingkat kesetiaan para penguasa daerah dan seka-
dalam aktivitas publik tersebut dapat dipandang ligus memperlihatkan kekuatan.
sebagai bentuk upaya untuk meningkatkan kewa-

JURNAL POLITIK 1596 VOL. 11 No. 01. 2015


POLITIK Jurnal Kajian Politik Dan Masalah Pembangunan

Gayatri, Tokoh yang Mempengaruhi Pemi- Menurut Gayatri, karena saat itu ancam-
kiran Gajah Mada an Mongol nyaris lenyap setelah wafatnya
Sejatinya, pelbagai pemikiran politik Kublai Khan, maka potensi pemberontakan-
Gajah Mada banyak dipengaruhi oleh Gayatri --- pemberontakan lokal dapat diminimalisir apa-
putri bungsu Kertanegara, Raja Singashari yang bila raja yang sekarang bersedia kembali ke
berkuasa pada 1268-1292 M; juga merupakan garis kebijakan Raden Wijaya yang mengu-
ibu dari Hayam Wuruk, raja keempat Kerajaan tamakan negoisasi. Kublai Khan adalah pengua-
Majapahit (1350-1389 M). Di mata Gayatri, Ga- sa  Kekaisaran Mongol  dan  kaisar  Dinasti Yuan.
jah Mada adalah sosok yang sangat cerdas dan Pada 1293 M,  Kublai Khan mengirim invasi
memiliki minat besar untuk belajar tentang seni besar ke pulau Jawa dengan 20.000  sampai
pemerintahan. 30.000 tentara. Invasi ini adalah  ekspedisi
Setidaknya terdapat beberapa hal yang untuk menghukum  Raja  Kertanegara dari Kera-
menjadi tema penting dari dialektika pemikiran jaan  Singashari yang menolak membayar upeti.
antara Gayatri dengan Gajah Mada. Invasi yang berakhir gagal tersebut merupakan
Pertama, loyality (kesetiaan). Ketika Jaya- ekspedisi militer terakhir Kublai Khan. Sementara
negara memutuskan merekrut Gajah Mada sebagai itu, Majapahit  kemudian menjadi negara paling
pasukan pengawal keraton, Gayatri menyatakan kuat pada masanya di Nusantara.
persetujuannya. Gayatri menganggap Gajah Mada Gajah Mada bersemangat menyambut
sebagai sosok yang cerdas, berani, bertabiat keras rencana perluasan teritori kerajaan, terutama pen-
dan sejak lahir memiliki bakat menjadi panglima caplokan Bali, karena ia mengagumi budayanya.
pasukan. Gayatri memuji Gajah Mada atas kese- Gayatri pun menyukai semangat dan kebulatan
tiaannya kepada Raja Jayanegara, yang tak lain tekad Gajah Mada untuk memperluas kerajaan.
adalah pemimpin tertinggi dan atasannya. Namun, ia mencemaskan niat Gajah Mada untuk
Berkait dengan loyalitas, Gayatri men- menggunakan kekerasan jika diperlukan demi
jelaskan buah pikirannya tentang kesetiaan. Ia menjadikan Majapahit kerajaan Jawa yang kian
menjelaskan, ketika seseorang memberikan kese- luas, alih-alih sekadar sebuah federasi nusantara
tiaannya kepada seseorang yang jahat, artinya semata.
kesetiaannya itu tidak diabdikan pada tujuan yang Gayatri berusaha meyakinkan Gajah Mada
lebih mulia, maka kesetiaan semacam itu hanya tentang bagaimana cara memperoleh kekuasaan.
akan merendahkan dirinya sendiri. Menurut Ga- Dalam hal ini, Gayatri tidak percaya bahwa penak-
yatri, tugas seorang yang bermoral adalah me- lukkan adalah cara yang paling efektif untuk men-
ngenali suatu tujuan yang mulia dan setia pada ciptakan persatuan yang langgeng. Impiannya
tujuan tersebut. Bentuknya bisa dengan mengabdi adalah mengajak negeri-negeri itu bergabung
pada bangsa atau agama. Ia mengingatkan Gajah dalam konfederasi yang dipimpin Majapahit,
Mada bahwa kasusastraan Jawa, baik yang berasal sembari tetap mempertahankan pemerintahan
dari India maupun karya setempat, menekankan dan adat setempat, dengan tetap bergandengan
dualitas pertarungan abadi antara baik dan buruk. tangan untuk meraih tujuan-tujuan bersama,
Kedua, perluasan teritorial kerajaan. Dalam terutama dalam perdagangan dan pertahanan.
banyak diskusinya dengan Gajah Mada, salah satu Sementara, Gajah Mada tetap pada pendiriannya,
tema yang menjadi fokus Gayatri adalah perluasan kekerasan yang terukur pasti dibutuhkan agar
teritorial kerajaan, yaitu menyatukan seluruh nege- orang terdorong melakukan sesuatu yang dapat
ri tetangga di seantero kepulauan nusantara ke da- menjamin keamanan dan kemakmuran diri mereka
lam sebuah federasi yang dilandasi oleh jalinan- dan tetangganya.
jalinan kebudayaan, bahasa, agama, serta peluang Ketiga, tema tentang pembangunan tata
mencapai kemajuan ekonomi dan kekuatan politik hukum bersama. Tujuan upaya menciptakan se-
bersama. Rencana ini sebenarnya telah dirintis perangkat hukum adalah untuk menggantikan
oleh Raja Kertanegara pada masa Singashari akhir. banyaknya peraturan dan sangsi tradisional serta
Akan tetapi, kandas karena serangan Mongol dan agama yang membingungkan dan saling tumpang
pemberontakan-pemberontakan lokal. tindih, yang diterapkan secara gegabah di banyak

JURNAL POLITIK 1597 VOL. 11 No. 01. 2015


Jurnal Kajian Politik Dan Masalah Pembangunan POLITIK

wilayah kerajaan yang berbeda. manajerial.


Gajah Mada menyambut gembira usulan Akhirnya, dalam mempertahankan, mem-
ini. Setelah diangkat menjadi mahapatih, bersama perluas, dan mengendalikan kekuasaan, maka
para pakar, ia bekerja keras menyusun Kutara Gajah Mada pun melakukannya dengan cara
Manawa Sastra yang sekaligus mencakup per- yang halus hingga pemaksaan. Keempat cara un-
aturan pidana dan perdata karena keduanya me- tuk melakukan hal tersebut adalah (1) penataan
mang saling berdekatan. Kombinasi dua tata birokrasi, (2) penerapan kekuatan militer, (3)
hukum itu meliputi dua ratus tujuh puluh paragraf penerapan sistem hukum, dan (4) penanaman ni-
tentang sejumlah topik, delapan jenis kejahatan lai-nilai tradisi besar dan aktivitas publik.
terkait dengan pembunuhan dan delapan pencurian,
kekerasan, kebohongan dan fitnah, penganiyaan
terhadap orang lain, perbudakan, pegadaian,
penyimpanan uang, utang, jual-beli, perkawinan
dan perceraian, hasutan, dan kepemilikan tanah. Kepustakaan
Sebelum memimpin persidangan, maka, seluruh
klaim hak sipil dan agama diwajibkan untuk me- Adji, Krisna Bayu dan kawan-kawan. 2013.
nguasai hukum ini (Muljana, 1976). Majapahit, Menguak Majapahit
Keempat, tema tentang pentingnya pem- Berdasarkan Fakta Sejarah. Yogyakarta:
bangunan monumen peninggalan dinasti penguasa Araska.
Majapahit. Gayatri menekankan, pembangunan
monumen-monumen tersebut dimaksudkan un- Althusser, L. 1984. Essays on Ideology. London:
tuk mengajarkan kepada khalayak tentang pe- Verso.
ninggalan agung dinasti Majapahit agar dapat
menjadi sumber kebanggaan bangsa dan modal Yamin, Muhammad. 1953. Gajah Mada Pahlawan
kepercayaan diri para pemimpin. Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.
Pembangunan kuil, di antaranya dalah
Candi Jawi, yang dibangun untuk menghormati __________. 1977. Gajah Mada; Pahlawan
Raja Kartanegara. Gayatri menyadari, bahwa Persatuan Nusantara. Jakarta: Balai
penghormatan kepada leluhur sangat penting bagi Pustaka.
kelangsungan kehidupan suatu kerajaan.
Hadi, Kuncoro.2003. Gajah Mada, Wilwatikta,
Simpulan
Sumpah Palapa, Pasundan Bubat.
Berdasarkan kajian di atas, maka, tampak
Bandung: Nuansa Cendekia.
dengan jelas betapa pandangan Gajah Mada
--- khususnya yang terkait dengan kekuasaan
--- secara filosofis dipengaruhi oleh konsep kos- Munandar, Agus Aris. 2010. Gajah Mada, Biografi
mologi dalam ajaran Brahma. Kekuasaan dalam Politik. Jakarta: Komunitas Bambu, 2010.
pandangan Gajah Mada adalah kemampuan untuk
mengendalikan tingkah laku orang lain, baik seca- Djafar, Hasan. 1978. Girindrawarddana;
ra langsung maupun tidak langsung. Beberapa Masalah Majapahit Akhir.
Selanjutnya, tafsir kekuasaan menurut Jakarta: Yayasan Dana Pendidikan
Gajah Mada tidak bisa terlepas dari pandangannya Budhhis Nalanda.
tentang konsepsi kepemimpinan. Selain sebagai
tokoh yang mengikrarkan Sumpah Palapa dalam Achmad, Sri Wintala. 2013. Falsafah
rangka mempersatukan wilayah nusantara dengan Kepemimpinan Jawa. Yogyakarta: Araska.
pusat pemerintahan Majapahit, Gajah Mada juga
dikenal sebagai seorang penggagas falsafah ke- Muljana, Slamet. 1976. Story Of Majapahit.
pemimpinan Tri Dharma yang terdiri dari tiga Singapura: Singapore University Press.
dimensi, yakni dimensi spiritual, moral, dan

JURNAL POLITIK 1598 VOL. 11 No. 01. 2015


POLITIK Jurnal Kajian Politik Dan Masalah Pembangunan

Pecheux, Michel. 1982. Language, Semantic and


Ideology. New York: ST Martin’s Press.

JURNAL POLITIK 1599 VOL. 11 No. 01. 2015