Anda di halaman 1dari 10

1.

LATAR BELAKANG
A. Rute pemberian
Pemberian secara intravena
B. Efek farmakologi
 Farmakokinetik
Pada umumnya semua fenotazin diabsorbsi dengan baik bila
diberikan peroral maupun pareteral. Penyebaran luas keseliruh
jaringan dengan kadar tertinggi di paru-paru, hati, kelenjar
superrarenal dan linfa. Setelah pemberian klorafemzin atau
metabolitnya selama 6-12 bulan (FT, 88 hal, 1166).
 Frmakodinmik
Klorafromazin HCl berefek menekan plasma hormon
hipotalamus dan hifapisis juga sistem pengaktifan retikuler (FT, 88
hal, 1166).
C. Dosis
25-30mg setiap 3-4 jam untuk im (FT, 88 hal:1166)

II. PREFORMULASI
Chlorafemazine (FI IV hal: 213)
Pemerian : serbuk hablur putih atau agak keruh putih tidak berbau,
warna menjadi gelap karena pengaruh cahaya.
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air mudah larut dalam etanol dan
dalam klorofom tidak larut dalam eter dan dalam benzen.
Rm/ Bm : C 17H19CN2S-HCL /335,3
Stabilitas
 PH : 3,4 – 5,4
 Panas : stabil terhadap panas
 Cahaya : terdekomposisi dengan paparan cahaya dan udara
 Hidrolisis : stabil terhadap pelarut air
Imkompabilitas:kloropemazin hcl dengan garam barbiturate, lautan alkali
aminofilin, anfotinizin benzil, penisilin potasium
klorafenikol, deksametason, crimitidin NCL.
Penyimpanan : terlindungi dari cahaya dan wadah tertutup rapat.
Kesimpulan
 Bentuk zat yang digunakan : serbuk
 Cara sterilisasi : Autoclave
 Kemasan :-
 Fungsi : sebagai zat aktif

III. FORMULA EKSIPIEN


a. Asam askorbat (CHPE 6th edition hal : 43-46 )
Pemerian : serbuk keristal atau kristal berwarna, berwarna putih
sampaikuning, tidak higroskopis tidak berbau dengan rasa
asam.
Kelarutan : mudah larut dalam air, agar sukar larut dalam etanol
(95%) p perktis tidak larut dalam kloropom p, dalam eter
p dan dalam benzen.
Rm/Bm : C8O8O6/ 176,13
Stabilitas : secara bertahap menjadi gelap lewat paparan terhadap
Cahaya, namun sedikit berubah warna tudak berpengaruh
terhadap efek terapannya asam oksalat teroksidasi dengan
cepat pada udara atau uasana basah pada konsentrasi
>100 mg/ml vitamin C mengalami dekomposisi melalui
produksi karbon oksida ph 2,1-2,6.
imkopatibilitas : asam karbosilat inkom terhadap basah, ion logam berat
sbahan pengoksidasi methonemine dan salisilamide
sodium nitrit dan dapat mengurangi intensitas warna zat.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat terhindar dari cahaya.
Kesimpulan
 Bentuk zat yang digunakan : serbuk kristal
 Cara sterilisasi : autoclave
 Kemasan :-
 Fungsi : sebagai anti oksidan
b. Natrium klorida (HPE 6th edution 637-638)
Pemerian : serbuk hablur putih atau hablur tidak berwarna rasa asin
Kelarutan : agak sukar larut dalam etanol, larut dalam 250 bagian
etanol 95% larut dalam 10 bagian gliserin laryt dalam
2,8 bagian air.
Rm/Bm : NaCl / 58,44
Stabilitas : setabil dalam bentuk larutan, dapat menyebabkan
penguraian partikel dari tipe jelas rentan ph NaCl 6,7-
7,3.
Imkompabilitas: natrium klorida encer bersifat korosif terhadap besi
bereaksi membentuk endapan dengan perak, timah dan
garam raksa.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Kesimpulan
 Bentuk zat yang di gunakan : serbuk
 Cara sterilisasi : autoclave
 Kemasan :-
 Fungsi : pengisotonis

c. Sodium metabilsulfite (HPE 6th edution hal ; 654-656)


Pemerian : keristal tidak berwarna prismatik atau putih bubuk
kristal Putih krem yang memiliki bau belerang di oksida
dan rasa asam, asin, natrium disulfate mengkristal dari
air dinginsebagai hidrat berisi tujuh molekul air.
Kelarutan : agak mudah larut dalam etanol, mudah larut dalam
gliserin dan sangat mudah larut dalam air.
Rm/Bm : Na2S2O5/ 190,107
Stabilitas : teroksidasi secara perlahan dalam udara panas dan
lemah Ph 3,5-5,0.
Imkompabilitas : natrium metabisulfite bereaksi dengan simpatomerik
Dan obatan lainnya yang orta atau para-hydroxiybenzyl
Turunan alkohol untuk membentuk turunan asam sulfat
memiliki aktifitas farmakologi sedikit atau tidak ada
selain itu farmakologis sedikit atau tidak ada, selain itu
natrium metabisilfite inkom dengan klorafenikol untuk
reaksi yang lebih kompleks.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik dan terlindungi
Kesimpulan
 Bentuk zat yang di gunakan : keristal
 Cara sterilisasi : autoclave
 Kemasan :-
 Fungsi : penawet
d. Aqua pro injeksi (HPE 6 th edution hal: 766-768)
Pemerian : cairan jernih tidak berbau tidak berasa
Kelarutan :-
Rm/Bm : H2O / 18,02
Satabilitas : stabil dalam setiap keadaan gas, cair, uap dan panas.
Imkompabilitas : -
IV. PERMASALAHAN FORMULA
NO Permasalahan Solusi
1 Zat aktif mudah teroksidasi Ditambahkan asam oksalat sebagai anti
oksidan
2 Sediaan yang di buat Ditambahkan NaCl sebagai
hiptonis pengisotonis
3 Sediaan mudah ditimbuhi Ditambahkan anti mikroba yaitu sodium
mikroba meta bisulfit.

V. PERHITUNGAN
 Tonisitas
Perhitungan isotonis
 Ekuifalen klorafemazin HCL : 0,01 (FI IV)
 Ekuifalen asam oksalat : 0,18 (FI IV)
 Ekuivalen natrium korida : 0,67 (FI IV)
 Sodium klorida :1 (FI IV)
 Benzil alkohol : 0,17 (FI IV)

 Kloropromazin HCL : 25% x 0,10 = 0,25


 Asam askorbat : 0,2% x 0,18 = 0,036
 Natrium klorida : 0,1% x 0.067 = 0,067
 Sodium klorida : 0.1% x 1 = 0,1
 Benzil alkohol : 2% x 0,12 = 0,34
m.z = 0,9 – (0,025 + 0,036 + 0,067 + 0,1 + 0,34)
= 0,9 – 0,793
= 0,107
0,107
Untuk 10ml di perlukan NaCl = × 10𝑚𝑙
100

= 0,0107 gram / 100ml


= 10,7 mg
VI. STERILISASI
a. alat
No Nama Alat Cara sterilisasi waktu Jumlah
1 Gelas ukur 10ml autoclave 15 menit 1 buah
2 Corong kaca autoclave 15 menit 1 buah
3 Pipet tetes autoclave 15 menit 1 buah
4 Kaca arloji autoclave 15 menit 1 buah
5 Batang pengaduk autoclave 15 menit 1 buah
6 Botol vial autoclave 15 menit 1 buah
7 Gelas beker autoclave 15 menit 1 buah

b. bahan
No Nama Bahan Cara sterilisasi waktu Jumlah
1 Klorafemazin HCL autoclave 15 menit 25 mg
2 Asam askorbat autoclave 15 menit 2 mg
3 Natrium klorida autoclave 15 menit 1 mg
4 Sodium cloride autoclave 15 menit 1 mg
5 Aqua pro injeksi autoclave 15 menit 1 mg

VII. FORMULA YANG DIUSULKAN


No Nama bahan range jumlah kadar Fungsi
1 KlorapromazinHCL 25mg 2,5% Zat aktif
2 Asam askorbat 2 mg 0,2% Anti oksidan
3 Natrium klorida 1 mg 0,1% Pengawet
4 Sodium slorida 1 mg 0,1% Pengisotonis
5 Aqua pro injeksi q.s q.s Pelarut
VIII. PERHITUNGAN BAHAN
a. klorapromazin HCL
25 mg x 10 ml = 250 mg/ml
b. Asam askorbat
2 mg x 10 ml = 20 mg / ml
c. Natrium klorida
1 mg x 10 ml = 10 mg/ ml
d. NaCl
1 mg x 10 ml = 10 mg/ ml

XI. CARA KERJA


1. Siapkan alat dan bahan
2. Sterilisasi alat dan bahan dengan autoclave
3. Timbang semua alat yang diperlukan
4. Masukan bahan dalam gelas beker satu persatu
5. Larutkan dengan aqua pro injeksi
6. Campurkan semua bahan yang telah di larutkan
7. Saring dengan kertas saring
8. Add aqua pro injeksi 10 ml
9. Masukan dalam wadah vial dan beri lebel.
X. PEMBAHASAN
Svp adalah injeksi volume kecil yang di kemas dalam wadah bwrtanda
volume 100ml atau kurang (Angraini, 2016).
Tujuan percobaan kali ini yaitu untuk mengetahui dan memahami cara
pembuatan svp klorapromazin HCl 10ml.
Pada percobaan kali ini digunakan alat yaitu gelas ukur 10ml, corong
kaca, pipet tetes, batang pengaduk, beker gelas dan wadah vial. Bahan yang
digunakan yaitu klorafromazin HCl sebagai zat aktif yang memiliki khasiat
mengetasi gejala psicasis, menangani mual, muntah dan cekukan. Asam
askorbat digunakan sebagai anti oksidan untuk mencegah terjadinya oksidasi
terutama ketika bahan disterilisasi menggunakan autoclave. Natrium klorida
digunakan sebagai pengisotonis agar ph sediaan seimbang sengan ph darah.
Natrium metabisulfite digunakan sebagai pengawet untuk mencegah sediaan
ditumbuhi mikroba. Aqua pro-injeksi digunakan untuk melarutkan bahan dan
untuk mencukupkan volume sediaan steril.
Pada percobaan kali ini didapatkan hasil yaitu, pada uji kejernihan
hasilnya sangat jernih dan tidak keruh pada uji ph di dapatkan ph 4 dan
wadah yang digunakan tidak bocor.
Berdasarkan hasil yang telah didapatkan menurut (FI 1V,1995)
kesempurnaan dan kejerniaan padatan terlarut sempurna, tidak meninggalkan
sisa yang tidak larut, hal tersebut sesuai dengan hasil pengamatan yang di
lakukan, dimana sediaan terlihat jernih dan tidak meninggalkan sisa yang
tidak larut. Menurut (FI 1V,1995) bahwa ph klorpromazin injeksi berkisar
antara 3,4-5,4 dimana hasil yang didapatkan dalam sediaan memiliki ph 4
sehingga masuk dalam range, sehingga hasil pengamatan sudah sesuai dengan
literatur.
Aplikasi dalam bidang farmasi yaitu seorang farmasis dapat mengetahui
serta memahami cara pembuatan injeksi svp volume 10ml serta mengetahui
sarat-sarat pembuatan injeksi.
XI. KESIMPULAN
1. Svp adalah injeksi volume kecil yang di kemas dalam wadah bwrtanda
volume 100ml atau kurang (Angraini, 2016).
2. percobaan kali ini didapatkan hasil yaitu, pada uji kejernihan hasilnya
sangat jernih dan tidak keruh pada uji ph di dapatkan ph 4 dan wadah yang
digunakan tidak bocor.
XII. SARAN
Sebaiknya ketika praktikum alat dan bahan lebih dilengkapi lagi serta
diharapkan praktikan tenang dan menyimak dengan baik penyampaian dari
asisten.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini (2016), Praktikum Teknologi Sediaan Steril, Pustaka SDM kesehatan,


Jakarta.
Allen, L., V., (2009), Handbook Pharmaceutical Eksipien, sixth edition. Londen,
pharmaceutical prees and american pharmaci assosiation.
Departemen Kesehatan Repoblik Indonesia (1979), Farmakope Indonesia Edisi
III, Departemen Kesehatan Repoblik Indonesia Jakarta.
Departemen Kesehatan Repoblik Indonesia (1995), Farmakope Indonesia Edisi
IV, Departemen Kesehatan Repoblik Indonesia Jakarta.
Ganiswara, S. G., (1995). Farmakologi dan Terapi Edisi IV. Fakultas Kedokteran.
Jakarta.