Anda di halaman 1dari 10

KEMENKES RI

1 Visi Misi Kemenkes RI


2 Strategi Program
3 Nilai-nilai
4 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
5 LAndasan, Arah dan Tujuan Pembangunan Kesehatan Nasional
6 MDGs (Millenium Development Goal) 8 butir Tujuan dan 12 butir Target Sasaran

1 Imunisasi dan Vaksinasi: Nama, Jenis dan manfaat imunisasi


2 Pekan Imunisasi Nasional
3 Imunisasi dasar pada bayi/anak
4 Suhu penyimpanan vaksin
5 Jenis-jenis penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi

KESEHATAN LINGKUNGAN
1 Standar/Nilai ambang batas pencemaran udara
2 Persyaratan biologis, kimiawi n fisik air minum
3 Pengelolaan sampah padat (incinerator)
4 Bahan Beracun Berbahaya B3
5 Pengelolaan Pestisida: Penggunaan yang benar

P2PL – Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan


1 Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
2 Penyakit infeksi mengemuka (TBC, HIV, Ebola, Flu Burung)
3 Pneumonia, Malaria
4 Program DOTS TB, Multidrug Resistent M. Tuberculosis
5 Risiko Tinggi dan Cara Penularan HIV/AIDS
6 Diare: Kriteria Frekuensi BAB, Definisi Akut/Kronis
7 Pencegahan penularan infeksi di rumah sakit – nosokomial
8 Vektor penyebar penyakit

Epidemiologi
1 Interaksi Host Agent Environment
2 Angka kematian kasar, fertility rate, AKI, angka kelahiran, pertambahan penduduk
3 Nilai Mean/Rerata, Median, Range, Standar Deviasi, Nilai Hitung
4 Insidens Rate dan Prevalens Rate
5 Pengertian Masa Inkubasi
6 Teori teori sehat dan definisi sehat
7 Populasi dan demografi (Transisi demografi), Pola demografi, unsur demografi
INI Persyaratan Kualitas Air Minum yang Sehat
Berdasarkan WHO
Sesuai dengan ketentuan badan dunia (WHO) maupun badan setempat (Departemen Kesehatan) serta ketentuan atau peraturan
lain yang berlaku seperti APHA (American Public Health Association atau Asosiasi Kesehatan Masyarakat AS), layak tidaknya
air untuk kehidupan manusia ditentukan berdasarkan persyaratan kualitas secara fisik, secara kimia dan secara biologis.

Persyaratan kualitas secara fisik

Kekeruhan
Kekeruhan adalah efek optik yang terjadi jika sinar membentuk material tersuspensi di dalam air. Kekeruhan air dapat
ditimbulkan oleh adanya bahan - bahan organik dan anorganik seperti lumpur dan buangan, dari permukaan tertentu yang
menyebabkan air sungai menjadi keruh. Kekeruhan walaupun hanya sedikit dapat menyebabkan warna yang lebih tua dari warna
sesungguhnya.
Air yang mengandung kekeruhan tinggi akan mengalami kesulitan bila diproses untuk sumber air bersih. Kesulitannya antara
lain dalam proses penyaringan air. Kalaupun proses penyaringan dapat dilakukan akan memerlukan biaya yang lebih besar dan
mungkin pula mahal. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa air dengan kekeruhan tinggi akan sulit untuk
didisinfeksi, yaitu proses pembunuhan terhadap kandungan mikroba yang tidak diharapkan. Tingkat kekeruhan dipengaruhi oleh
pH air, kekeruhan pada air minum umumnya telah diupayakan sedemikian rupa sehingga air menjadi jernih
Kekeruhan pada air dapat dideteksi dengan menggunakan alat turbidimeter dan untuk melihat macam zat terlarut yang penyebab
kekeruhan tersebut digunakan elektrolyzer. Dimana tujuan dari deteksi kekeruhan pada air adalah untuk mengetahui macam
partikel penyebab pencemaran air yang di deteksi.

Bau
Bau pada air dapat disebabkan karena benda asing yang masuk ke dalam air seperti bangkai binatang, bahan buangan, ataupun
disebabkan karena proses penguraian senyawa organik oleh bakteri. Pada peristiwa penguraian senyawa organik yang dilakukan
oleh bakteri tersebut dihasilkan gas – gas berbau menyengat dan bahkan ada yang beracun. Pada peristiwa penguraian zat
organik berakibat meningkatkan penggunaan oksigen terlarut di air (BOD = Biological Oxighen Demand) oleh bakteri dan
mengurangi kuantitas oksigen terlarut (DO = Disvolved Oxigen) di dalam air.
Senyawa – senyawa organik umumnya tidak stabil dan mudah dioksidasi secara biologis dan kimia menjadi senyawa stabil atau
biasa dikenal dengan istilah BOD dan COD. Kebutuhan oksigen biologi (BOD) adalah parameter kualitas air lain yang penting.
BOD menunjukkan banyaknya oksigen yang digunakan bila bahan organik dalam suatu volume air tertentu dirombak secara
biologis. Sedangkan kebutuhan oksigen kimia (COD) merupakan suatu cara untuk menentukan kandungan bahan organik dalam
air buangan dan perairan alami. Dari segi estetika, air yang berbau, apabila bau busuk seperti bau telur yang membusuk
(misalnya oleh H2S) ataupun air yang berasal secara alami, tidak dikehendaki dan tidak dibenarkan oleh peraturan yang berlaku.

Pada air minum tidak boleh ada bau yang merugikan pengguna air. Bau pada air minum dapat dideteksi dengan menggunakan
hidung. Tujuan deteksi bau pada air minum yaitu untuk mengetahui ada bau atau tidaknya bau yang berasal dari air minum yang
disebabkan oleh pencemar. Apabila air minum memiliki bau maka dapat dikategorikan sebagai air minum yang tidak memenuhi
syarat dan kurang layak untuk di manfatkan sebagai air minum.

Rasa
Rasa yang terdapat di dalam air baku dapat dihasilkan oleh kehadiran organisme seperti mikroalgae dan bakteri, adanya limbah
padat dan limbah cair seperti hasil buangan dari rumah tangga dan kemungkinan adanya sisa – sisa bahan yang digunakan untuk
disinfeksi misalnya klor. Timbulnya rasa pada air minum biasanya berkaitan erat dengan bau pada air tersebut. Pada air minum,
rasa diupayakan agar menjadi netral dan dapat diterima oleh pengguna air.

Rasa pada air minum dapat dideteksi dengan menggunakan indera penyerap. Dimana tujuan dari deteksi rasa pada air minum
adalah untuk mengetahui kelainan rasa air dari standar normal yang dimiliki oleh air, yaitu netral.

Warna
Warna pada air sebenarnya terdiri dari warna asli dan warna tampak. Warna asli atau true color adalah warna yang hanya
disebabkan oleh substansi terlarut. Warna yang tampak atau apprent color adalah mencakup warna substansi yang terlarut
berikut zat tersuspensi di dalam air tersebut. Warna air dapat ditimbulkan oleh ion besi, mangan, humus, biota laut, plankton dan
limbah industri. Pada air minum disyaratkan tidak berwarna sehingga berupa air jernih. Deteksi warna air dapat dilakukan oleh
indra penglihatan, deteksi ini akan lebih akurat jika dilanjutkan dengan deteksi kekeruhan. Apabila warna air tidak lagi bening,
keruh atau tidak lagi jernih misalnya berwarna kecoklatan, dapat diduga air tersebut tercemar oleh besi. Air yang berwarna
penyimpang dengan warna aslinya, tidak baik digunakan sebagai air minum. Adapun tujuan dari deteksi warna pada air minum
ini adalah untuk mengetahui warna yang tampak pada air.

Temperatur
Kenaikan temperatur atau suhu didalam badan air, dapat menyebabkan penurunan kadar oxigen terlarut (DO = Disvolved
Oxygen) DO yang terlalu rendah, dapat menimbulkan bau yang tidak sedap akibat terjadinya degradasi atau penguraian bahan –
bahan organik maupun anorganik di dalam air secara anaerobik. Selain itu dengan adanya kadar residu atau sisa yang tinggi di
dalam air menyebabkan rasa yang tidak enak dan dapat mengganggu pencemaran makanan.

Persyaratan kualitas secara kimia


Dalam peraturan Menteri Kesehatan R.I. No. 01/Birhukmas/I/1975 tercantum sebanyak 26 macam unsur standar. Beberapa
unsur – unsur tersebut tidak dikehendaki kehadirannya pada air minum, oleh karena merupakan zat kimia yang beracun, dapat
merusak perpipaan, ataupun karena sebagai penyebab bau/rasa yang akan menggangu estetika. Bahan – bahan tersebut adalah
nitrit, sulfida, ammonia, dan CO2 agresip. Beberapa unsur – unsur meskipun dapat bersifat racun, masih dapat ditolerir
kehadiannya dalam air minum asalkan tidak melebihi konsentrasi yang ditetapkan. Unsur/bahan – bahan tersebut adalah
phenolik, arsen, selenium, chromium, cyanida, cadmium, timbal dan air raksa. Kualitas atau persyaratan air secara kimia yaitu
zat kimia organik dan zat kimia anorganik. Kedua zat tersebut ditekan volume dan konsentrasinya sampai batas limit sehingga
kalaupun terpaksa masih ada di dalam air tidak membahayakan penggunaan air minum. Keberadaan komponen pencemar kimia
tersebut di ukur atas tingkat toksisitasnya terhadap kesehatan manusia. Karena bahan – bahan kimia itu pada umumnya mudah
larut dalam air, maka tercemarnya air oleh bahan – bahan kimia yang terlarut khususnya timbal balik perlu dinilai kadarnya
untuk mengetahui sejauh mana bahan – bahan terlarut itu mulai dapat dikatakan membahayakan eksistensi organisme maupun
menggangu bila digunakan untuk suatu keperluan. Bagi air minum khususnya, persyaratan chemis yang memiliki hubungan
dengan pengaruh toksisitas harus lebih memperoleh perhatian, karena dampaknya dapat menimbulkan keracunan.

Persyaratan kualitas secara biologis


Bakteri
Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme yang penting pada penanganan air. Bakteri adalah jasad renik yang sederhana,
tidak berwarna, satu sel. Bakteri berkembangbiak dengan cara membelah diri, setiap 15 – 30 menit pada lingkungan yang ideal.
Bakteri dapat bertahan hidup dan berkembangbiak dengan cara memanfaatkan makanan terlarut dalam air. Bakteri tersebut
berperan dalam dekomposisi unsur organik dan akan menstabilkan buangan organik. Bakteri yang mendapatkan perhatian di
dalam air minum terutama adalah bakteri Escherichia coli yaitu koliform yang dijadikan indikator dalam penentuan kualitas air
minum.3

Virus
Virus adalah berupa makhluk yang bukan organisme sempurna, antara benda hidup dan tidak hidup, berukuran sangat kecil
antara 20 – 100 nm atau sebesar 1/50 kali ukuran bakteri. Perhatian utama virus pada air minum adalah terhadap kesehatan
masyarakat, karena walaupun hanya 1 virus mampu menginfeksi dan menyebabkan penyakit. Virus berada dalam air bersama
tinja yang terinfeksi, sehingga menjadi sumber infeksi.

INFEKSI NOSOKOMIAL
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat dan berkembang saat seseorang berada di
lingkungan rumah sakit. Contoh dari infeksi nosokomial adalah pasien tertular infeksi dari staf rumah
sakit atau saat berkunjung ke rumah sakit.
Infeksi nosokomial ini terjadi di seluruh dunia dan berpengaruh buruk pada kondisi kesehatan di
negara-negara miskin dan berkembang. Infeksi nosokomial ini termasuk salah satu penyebab
kematian terbesar pada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit.
Menurut data WHO tahun 2005, lebih dari separuh bayi baru lahir yang dirawat di bagian perawatan
bayi di rumah sakit di Brasil dan Indonesia tertular infeksi nosokomial. Angka kematian kasus
tersebut mencapai 12 hingga 52 persen.
Infeksi nosokomial bisa menyebabkan pasien terkena bermacam-macam penyakit, dan setiap
penyakit punya gejala yang berbeda-beda. Beberapa penyakit yang paling sering terjadi akibat
infeksi nosokomial adalah:
 Infeksi saluran kemih.
 Infeksi aliran darah.
 Pneumonia.
 Infeksi pada luka operasi.

Penyebab dan Faktor Risiko Infeksi Nosokomial


Infeksi nosokomial terjadi ketika pasien di sebuah rumah sakit tertular infeksi yang berasal dari
bakteri. Bakteri tersebut bisa menulari pasien karena keteledoran staf rumah sakit dan tidak
berjalannya prosedur kebersihan dengan benar.
Kategori bakteri yang paling sering menjadi penyebab terjadinya infeksi nosokomial adalah MRSA,
salah satu bakteri gram positif yang resisten terhadap metisilin (bakteri Staphylococcus aureus)
dan Acinetobacter yang termasuk bakteri gram negatif.
Selain faktor kebersihan, banyak pasien yang rawat inap di rumah sakit menderita penyakit yang
serius dengan sistem kekebalan yang lemah. Oleh karena itu, pasien rawat jalan bertambah banyak
dalam puluhan tahun terakhir. Hal ini membuat risiko penularan infeksi nosokomial ke pasien pada
saat ini lebih tinggi.
Penyebab lainnya adalah, sistem rumah sakit yang membuat staf kesehatan berganti-ganti dari satu
pasien ke pasien lainnya. Jika staf kesehatan tidak menjaga kebersihan dirinya dengan baik, sistem
ini akan menjadikan staf kesehatan sebagai agen penyebar infeksi.
Beberapa faktor di bawah ini bisa meningkatkan risiko pasien terkena infeksi nosokomial:
 Berusia di atas 70 tahun.
 Dalam kondisi koma.
 Pernah menjalani terapi antibiotik sebelumnya.
 Dirawat di unit ICU lebih dari tiga hari.
 Gagal ginjal akut.
 Mengalami cidera cukup parah.
 Mengalami syok.
 Menjalani perawatan ventilasi mekanis.
 Sedang dalam pengobatan yang mempengaruhi sistem imun.
 Memakai kateter dalam waktu lama.

Diagnosis Infeksi Nosokomial


Diagnosis pada infeksi nosokomial umumnya bisa dilakukan dengan mengandalkan pemeriksaan fisik saja.
Tanda-tanda terjadinya infeksi bisa dilihat jika terdapat peradangan, ruam, atau nanah. Untuk memastikannya,
dokter mungkin menyarankan tes darah dan tes urine.

Pengobatan Infeksi Nosokomial


Pengobatan pada infeksi nosokomial terkait erat dengan jenis infeksi yang dialami. Banyak jenis infeksi yang
terjadi bisa ditangani dengan antibiotik. Khususnya untuk infeksi nosokomial yang disebabkan oleh bakteri
gram positif, terdapat banyak jenis antibiotik untuk mengatasinya. Sedangkan infeksi nosokomial yang
disebabkan bakteri gram negatif memiliki jenis antibiotik yang lebih sedikit untuk mengatasinya.
Berikut ini adalah prosedur pengobatan infeksi nosokomial berdasar komplikasi yang ditimbulkan:
 Infeksi luka operasi: Infeksi luka operasi bisa ditangani dengan kombinasi antara antibiotik dengan
perawatan khusus luka pembedahan.
 Infeksi aliran darah: Pengobatan antifungal (jamur) atau pengobatan antiviral (virus) bisa dilakukan
bersamaan dengan pemberian antibiotik.
 Infeksi saluran kemih: Untuk melengkapi antibiotik, biasanya dokter akan memberikan pengobatan
antifungal (jamur) untuk menghindari terjadinya komplikasi yang lebih parah.
 Pneumonia: Setelah diberikan antibiotik, penderita pneumonia biasanya diberikan analgesik antipiretik
untuk meredakan nyeri sendi dan demam. Untuk meredakan gejala flu, pasien biasanya diberikan
pengobatan antiviral (virus).

Pencegahan Infeksi Nosokomial


Cara paling efektif untuk mengurangi infeksi nosokomial adalah petugas rumah sakit diwajibkan untuk
mencuci tangan secara rutin. Selain itu, mereka diharapkan memakai kain dan sarung tangan pelindung saat
bekerja dengan pasien. Pihak rumah sakit juga diharapkan untuk mengontrol dan mengawasi kualitas udara di
dalam rumah sakit.
Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mencegah penularan infeksi nosokomial adalah:
 Mencuci tangan. Mencuci tangan secara rutin adalah tindakan terpenting untuk mencegah penularan
infeksi nosokomial, karena mampu mengurangi risiko penularan mikroorganisme kulit dari satu orang ke
orang lainnya.
 Kebersihan ruangan. Kebersihan permukaan ruangan rumah sakit terkadang diremehkan, namun penting.
Metode kebersihan modern mampu membasmi virus influenza, gastroenteritis, bakteri MRSA secara
efektif.
 Sistem isolasi. Sistem isolasi berfungsi untuk mencegah penyebaran organisme penyakit ke bagian lain di
dalam rumah sakit. Khususnya diberlakukan pada pasien yang berisiko menularkan infeksi mereka.
 Sterilisasi alat medis. Para staf rumah sakit juga harus mensterilkan peralatan medis dengan cairan kimia,
radiasi ion, pengeringan, atau penguapan bertekanan, untuk membunuh semua mikroorganisme.
 Penggunaan sarung tangan. Selain mencuci tangan, penting bagi staf rumah sakit untuk menggunakan
sarung tangan. Supaya risiko penularan mikroorganise kulit semakin kecil.
 Lapisan antimikroba. Untuk meminimalisir risiko berkembangnya bakteri, ada baiknya memilih
perabotan dari bahan yang bisa mengurangi risiko berkembangnya bakteri seperti tembaga atau perak.
JENIS – JENIS VEKTOR PENYAKIT
Vektor merupakan arthropoda yang dapat menularkan, memindahkan atau menjadi sumber penularan
penyakit pada manusia. Sedangkan menurut Nurmaini (2001), vektor adalah arthropoda yang dapat
memindahkan/menularkan suatuinfectious agent dari sumber infeksi kepada induk semang yang
rentan.
Di Indonesia, penyakit – penyakit yang ditularkan melalui serangga merupakan penyakit endemis pada
daerah tertentu, seperti Demam BerdarahDengue (DBD), malaria, kaki gajah, Chikungunya yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Disamping itu, ada penyakit saluran pencernaan
seperti dysentery, cholera, typhoid fever dan paratyphoid yang ditularkan secara mekanis oleh lalat
rumah.
Ada 4 faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya suatu penyakit, yaitu :
1. Cuaca
Iklim dan musim merupakan faktor utama yang mempengaruhi terjadinya penyakit infeksi. Agen
penyakit tertentu terbatas pada daerah geografis tertentu, sebab mereka butuh reservoir dan vektor
untuk hidup. Iklim dan variasi musim mempengaruhi kehidupan agen penyakit, reservoir dan vektor. Di
samping itu perilaku manusia pun dapat meningkatkan transmisi atau menyebabkan rentan terhadap
penyakit infeksi. Wood tick adalah vektor arthropoda yang menyebabkan penularan penyakit yang
disebabkan ricketsia.
2. Reservoir
Hewan-hewan yang menyimpan kuman patogen dimana mereka sendiri tidak terkena penyakit disebut
reservoir. Reservoir untuk arthropods borne disease adalah hewan-hewan dimana kuman patogen
dapat hidup bersama. Binatang pengerat dan kuda merupakan reservoir untuk virus encephalitis.
Penyakit ricketsia merupakan arthropods borne disease yang hidup di dalam reservoir alamiah.seperti
tikus, anjing, serigala serta manusia yang menjadi reservoir untuk penyakit ini. Pada banyak
kasus,kuman patogen mengalami multifikasi di dalam vektor atau reservoir tanpa menyebabkan
kerusakan pada intermediate host.
3. Geografis
Insiden penyakit yang ditularkan arthropoda berhubungan langsung dengan daerah geografis dimana
reservoir dan vektor berada. Bertahan hidupnya agen penyakit tergantung pada iklim (suhu,
kelembaban dan curah hujan) dan fauna lokal pada daerah tertentu, seperti Rocky Mountains spotted
fever merupakan penyakit bakteri yang memiliki penyebaran secara geografis. Penyakit ini ditularkan
melalui gigitan tungau yang terinfeksi.oleh ricketsia dibawa oleh tungau kayu di daerah tersebut dan
dibawa oleh tungau anjing ke bagian timur Amerika Serikat.
4. Perilaku Manusia
Interaksi antara manusia, kebiasaan manusia.membuang sampah secara sembarangan, kebersihan
individu dan lingkungan dapat menjadi penyebab penularan penyakit arthropoda borne diseases.

A. Jenis-jenis Vektor Penyakit


Sebagian dari Arthropoda dapat bertindak sebagai vektor, yang mempunyai ciri-ciri kakinya beruas-ruas,
dan merupakan salah satu phylum yang terbesar jumlahnya karena hampir meliputi 75% dari seluruh
jumlah binatang (Nurmaini,2001). Berikut jenis dan klasifikasi vektor yang dapat menularkan penyakit :
Arthropoda yang dibagi menjadi 4 kelas :
1. Kelas crustacea (berkaki 10): misalnya udang
2. Kelas Myriapoda : misalnya binatang berkaki seribu
3. Kelas Arachinodea (berkaki 8) : misalnya Tungau
4. Kelas hexapoda (berkaki 6) : misalnya nyamuk .
Dari kelas hexapoda dibagi menjadi 12 ordo, antara lain ordo yang perlu diperhatikan dalam
pengendalian adalah :
a. Ordo Dipthera yaitu nyamuk dan lalat
· Nyamuk anopheles sebagai vektor malaria
· Nyamuk aedes sebagai vektor penyakit demam berdarah
· Lalat tse-tse sebagai vektor penyakit tidur
b. Ordo Siphonaptera yaitu pinjal
· Pinjal tikus sebagai vektor penyakit pes
c. Ordo Anophera yaitu kutu kepala
· Kutu kepala sebagai vektor penyakit demam bolak-balik dan typhus exantyematicus.

Selain vektor diatas, terdapat ordo dari kelas hexapoda yang bertindak sebagai binatang pengganggu
antara lain:
· Ordo hemiptera, contoh kutu busuk
· Ordo isoptera, contoh rayap
· Ordo orthoptera, contoh belalang
· Ordo coleoptera, contoh kecoak
Sedangkan dari phylum chordata yaitu tikus yang dapat dikatakan sebagai binatang pengganggu, dapat
dibagi menjadi 2 golongan :
a. Tikus besar, (Rat) Contoh :
- Rattus norvigicus (tikus riol )
- Rattus-rattus diardiil (tikus atap)
- Rattus-rattus frugivorus (tikus buah-buahan)
b. Tikus kecil (mice),Contoh:
- Mussculus (tikus rumah)

Arthropoda [arthro + pous ] adalah filum dari kerajaan binatang yang terdiri dari organ yang mempunyai
lubang eksoskeleton bersendi dan keras, tungkai bersatu, dan termasuk di dalamnya kelas Insecta, kelas
Arachinida serta kelas Crustacea, yang kebanyakan speciesnya penting secara medis, sebagai parasit,
atau vektor organisme yang dapat menularkan penyakit pada manusia (Chandra,2003).

B. Peranan Vektor Penyakit


Secara umum, vektor mempunyai peranan yaitu sebagai pengganggu dan penular penyakit. Vektor yang
berperan sebagai pengganggu yaitu nyamuk, kecoa/lipas, lalat, semut, lipan, kumbang, kutu kepala,
kutu busuk, pinjal, dll. Penularan penyakit pada manusia melalui vektor penyakit berupa serangga
dikenal sebagai arthropod - borne diseases atau sering juga disebut sebagai vector – borne diseases.
Agen penyebab penyakit infeksi yang ditularkan pada manusia yang rentan dapat melalui beberapa cara
yaitu :

a. Dari orang ke orang


b. Melalui udara
c. Melalui makanan dan air
d. Melalui hewan
e. Melalui vektor arthropoda (Chandra,2003).

Vektor penyakit dari arthropoda yang berperan sebagai penular penyakit dikenal sebagai arthropod -
borne diseases atau sering juga disebut sebagai vector – borne diseases. Istilah ini mengandung
pengertian bahwa arthropoda merupakan vektor yang bertanggung jawab untuk terjadinya penularan
penyakit dari satu host (pejamu) ke host lain. Paul A. Park & Park, membagi klasifikasi arthropods borne
diseases yang sering menyebabkan terjadinya penyakit pada manusia sebagai berikut :
Tabel 3.
No Arthropoda Penyakit Bawaan
1. Nyamuk Merupakan vektor dari penyakit Malaria, Filaria, Demam kuning Demam berdarah,
Penyakit otak, demam haemorhagic
2. Lalat Merupakan vektor dari penyakit tipus dan demam paratipus, diare,
disentri, kolera, gastro-enteritis, amoebiasis, penyakit lumpuh, conjunctivitis,
anthrax
3. Lalat Pasir Merupakan vektor penyakit leishmaniasis, demam papataci dan bartonellosisi,
Leishmania donovani,
4. Lalat Hitam Merupakan vektor penyakit Oncheocerciasis
5. Lalat tse2 Merupakan vektor dari penyakit tidur
6. Kutu Merupakan vektor dari penyakit tipus mewabah, relapsing demam, parit
7. Pinjal penyakit sampar, endemic typhus
8. Sengkenit Penyakit Rickettsia (Rickettsia Rickettsii)
9. Tungau penyakit tsutsugamushi atau scrub typhus yang disebabkan
oleh Rickettsia tsutsugamushi,

A. Transmisi Arthropoda Borne Diseases

Masuknya agen penyakit kedalam tubuh manusia sampai terjadi atau timbulnya gejala penyakit disebut
masa inkubasi atau incubation period, khusus pada arthropods borne diseases ada dua periode masa
inkubasi yaitu pada tubuh vektor dan pada manusia.

1. Inokulasi (Inoculation)

Masuknya agen penyakit atau bibit yang berasal dari arthropoda kedalam tubuh manusia melalui gigitan
pada kulit atau deposit pada membran mukosa disebut sebagai inokulasi.

2. Infestasi (Infestation)

Masuknya arthropoda pada permukaan tubuh manusia kemudian berkembang biak disebut sebagai
infestasi, sebagai contoh scabies.

3. Extrinsic Incubation Period dan Intrinsic Incubation Period

Waktu yang diperlukan untuk perkembangan agen penyakit dalam tubuh vektor Disebut sebagai masa
inkubasi ektrinsik, sebagai contoh parasit malaria dalam tubuh nyamuk anopheles berkisar antara 10 –
14 hari tergantung dengan temperatur lingkungan dan masa inkubasi intrinsik dalam tubuh manusia
berkisar antara 12 – 30 hari tergantung dengan jenis plasmodium malaria.

4. Definitive Host dan Intermediate Host

Disebut sebagai host definitif atau intermediate tergantung dari apakah dalam tubuh vektor atau
manusia terjadi perkembangan siklus seksual atau siklus aseksual pada tubuh vektor atau manusia,
apabila terjadi siklus sexual maka disebut sebagai host definitif, sebagai contoh parasit malaria
mengalami siklus seksual dalam tubuh nyamuk, maka nyamuk anopheles adalah host definitive dan
manusia adalah host intermediate.

5. Propagative, Cyclo – Propagative dan Cyclo - Developmental

Pada transmisi biologik dikenal ada 3 tipe perubahan agen penyakit dalam tubuh vektor
yaitu propagative, cyclo – propagativedan cyclo - developmental, bila agen penyakit atau parasit tidak
mengalami perubahan siklus dan hanya multifikasi dalam tubuh vektor disebut propagative
seperti plague bacilli pada kutu tikus, dengue (DBD) bila agen penyakit mengalami perubahan siklus dan
multifikasi dalam tubuh vektor disebut cyclo – propagative seperti parasit malaria dalam tubuh nyamuk
anopheles dan terakhir bila agen penyakit mengalami perubahan siklus tetapi tidak mengalami proses
multifikasi dalam tubuh vektor seperti parasit filarial dalam tubuh nyamuk culex.

C. Pengendalian Vektor Penyakit

Peraturan Mentri No.374 tahun 2010 mendefinisikan bahwa pengendalian vektor merupakan kegiatan
atau tindakan yang ditujukan untuk menurunkan populasi vektor serendah mungkin sehingga
keberadaannya tidak lagi beresiko untuk terjadinya penularan penyakit di suatu wilayah atau
menghindari kontak masyarakat dengan vektor sehingga penularan penyakit yang dibawa oleh vektor
dapat di cegah (MENKES,2010).

Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan secara fisik atau mekanis,
penggunaan agen biotik kimiawi, baik terhadap vektor maupun tempat perkembangbiakannya dan atau
perubahan perilaku masyarakat serta dapat mempertahankan dan mengembangkan kearifan loKal
sebagai alternative. Beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka kesakitan penyakit bersumber
binatang antara lain adanya perubahan iklim, keadaan social-ekonomi dan perilaku masyarakat.
Perubahan iklim dapat meningkatkan risiko kejadian penyakit tular vektor. Faktor risiko lainnya adalah
keadaan rumah dan sanitasi yang buruk, pelayanan kesehatan yang belum memadai, perpindahan
penduduk yang non imun ke daerah endemis.

Masalah yang di hadapi dalam pengendalian vektor di Indonesia antara lain kondisi geografis dan
demografi yang memungkinkan adanya keragaman vektor, belum teridentifikasinya spesies vektor (
pemetaan sebaran vektor) di semua wilayah endemis, belum lengkapnya peraturan penggunaan
pestisida dalam pengendalian vektor, peningkatan populasi resisten beberapa vektor terhadap pestisida
tertentu, keterbatasan sumberdaya baik tenaga, logistik maupun biaya operasional dan kurangnya
keterpaduan dalam pengendalian vektor.

Dalam pengendalian vektor tidaklah mungkin dapat dilakukan pembasmian sampai tuntas, yang
mungkin dan dapat dilakukan adalah usaha mengurangi dan menurunkan populasi kesatu tingkat yang
tidak membahayakan kehidupan manusia. Namun hendaknya dapat diusahakan agar segala kegiatan
dalam rangka menurunkan populasi vektor dapat mencapai hasil yang baik. Untuk itu perlu diterapkan
teknologi yang sesuai, bahkan teknologi sederhana pun yang penting di dasarkan prinsip dan konsep
yang benar. Ada beberapa cara pengendalian vector penyakit yaitu :

1. Pengendalian Vektor Terpadu (PVT)

Mengingat keberadaan vektor dipengaruhi oleh lingkungan fisik, biologis dan social budaya, maka
pengendaliannya tidak hanya menjadi tanggung jawab sector kesehatan saja tetapi memerlukan
kerjasama lintas sector dan program. Pengendalian vektor dilakukan dengan memakai metode
pengendalian vektor terpadu yang merupakan suatu pendekatan yang menggunakan kombinasi
beberapa metoda pengendalian vektor yang dilakukan berdasarkan pertimbangan keamanan,
rasionalitas, efektifitas pelaksanaannya serta dengan mempertimbangkan kesinambungannya.

a. Keunggulan Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) adalah

1. Dapat meningkatkan keefektifan dan efisiensi sebagai metode atau cara pengendalian

2. Dapat meningkatkan program pengendalian terhadap lebih dari satu penyakit tular vektor

3. Melalui kerjasama lintas sector hasil yang dicapai lebih optimal dan saling menguntungkan.
Pengendalian Vektor Terpadu merupakan pendekatan pengendalian vektor menggunakan prinsip-
prinsip dasar management dan pertimbangan terhadap penularan dan pengendalian peyakit.
Pengendalian Vektor Terpadu dirumuskan melalui proses pengambilan keputusan yang rasional agar
sumberdaya yang ada digunakan secara optimal dan kelestarian lingkungan terjaga.

b. Prinsip-prinsip PVT meliputi:

1. Pengendalian vektor harus berdasarkan data tentang bioekologi vektor setempat, dinamika
penularan penyakit, ekosistem dan prilaku masyarakat yang bersifat spesifik local( evidence based)

2. Pengendalian vektor dilakukan dengan partisipasi aktif berbagai sector dan program terkait, LSM,
Organisasi profesi, dunia usaha /swasta serta masyarakat.

3. Pengendalian vektor dilakukan dengan meningkatkan penggunaan metoda non kimia dan
menggunakan pestisida secara rasional serta bijaksana

4. Pertimbangan vektor harus mempertimbangkan kaidah ekologi dan prinsip ekonomi yang
berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

c. Beberapa metode pengendalian vektor sebagai berikut:

1. Metode pengendalian fisik dan mekanik


Contohnya:
 modifikasi dan manipulasi lingkungan tempat perindukan (3M, pembersihan lumut, penenman
bakau, pengeringan, pengalihan/ drainase, dll)
 Pemasangan kelambu
 Memakai baju lengan panjang
 Penggunaan hewan sebagai umpan nyamuk (cattle barrier)
 Pemasangan kawat

2. Metode pengendalian dengan menggunakan agen biotic


- predator pemakan jentik (ikan, mina padi,dll)
- Bakteri, virus, fungi
- Manipulasi gen ( penggunaan jantan mandul,dll)
3. Metode pengendalian secara kimia
- Surface spray (IRS)
- Kelambu berinsektisida
- larvasida

4. Pengendalian secara alamiah (naturalistic control) yaitu dengan memanfaatkan kondisi alam yang
dapat mempengaruhi kehidupan vector. Ini dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lama
5. Pengendalian terapan (applied control) yaitu dengan memberikan perlindungan bagi kesehatan
manusia dari gangguan vektor. Ini hanya dapat dilakukan sementara.
a. Upaya peningkatan sanitasi lingkungan (environmental sanitation improvement)
b. Pengendalian secara fisik-mekanik (physical-mechanical control) yaitu dengan
modifikasi/manipulasi lingkungan
c. Pengendalian secara biologis (biological control) yaitu dengan memanfaatkan musuh alamiah atau
pemangsa/predator, fertilisasi
d. Pengendalian dengan pendekatan per-UU (legal control) yaitu dengan karantina
e. Pengendalian dengan menggunakan bahan kimia (chemical control) (Afrizal, 2010).
Adapun prinsip dasar dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan sebagai
berikut :
a. Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian agar vektor tetap
berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/ membahayakan.
b. Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi terhadap tata lingkungan
hidup. (Nurmaini, 2001)