Anda di halaman 1dari 4

Undangan Merah Hati

Jalanan di depan rumahku ramai dilewati orang. Ada yang mau pergi bekerja, ada yang mau
pergi kuliah, ada juga yang sekedar mondar mandir. Namun fikiranku hanya dijejaki oleh satu
orang saja. Entah kenapa ia senang sekali berkeliaran disana. Aku pun tak mengerti mengapa aku
membiarkan ia berseliweran di benakku.

Undangan pernikahan merah hati yang diberikan Dani tadi siang masih ku pegang erat di
tanganku. Tanpa sedikit pun ada hasrat untuk membukanya, apalagi membacanya.

Telepon genggamku berdering ketika aku sedang merapikan mukena yang kupakai untuk shalat
zuhur. Nama Dani terpampang di layar ponselku. Dani. Hanya Dani. Tanpa ada embel-embel
atau pernak pernik apapun sebagai penghias namanya. Sederhana. Sesederhana perlakuanku
padanya.

“Put, aku mau ngasih undangan nih. Kamu ada di rumah nggak?”
“Ada.” Jawabku singkat.
“Owh. Aku ke rumah ya?!”
“Okay.” Seperti yang ku bilang. Sederhana. Ya… sesederhana itulah jawabanku. Tapi benarkah
hatiku juga sesederhana itu? Adakah yang mau percaya jika aku bilang aku tak rasa apa-apa?
Terserahlah, biar hanya aku yang tahu.

Dani adalah pacarku, tapi 10 tahun yang lalu. Sudah lama sekali, ternyata. Kami terpisah begitu
saja. Tanpa kata, tanpa bicara, dan juga tanpa air mata. Aku melanjutkan sekolah dan dia
memilih berkarir. Tak ada perjanjian apa-apa. Bahkan kata-kata perpisahan pun tak sempat
terucap. Dia menghilang begitu saja. Aku tak dengar berita apapun tentang dia hingga dua tahun
kemudian sepupunya yang tanpa sengaja bertemu denganku memberi tahu bahwa Dani bekerja
di Bandung, belajar mengelola bisnis keluarga.

Tanpa terasa waktu bergulir. Usia yang dulu masih remaja sekarang telah beranjak dewasa. Dani
akan menikah sebentar lagi. Rasanya ada yang menggelitik di hatiku. Minta untuk dicari tahu.
Cemburukah? Entahlah. Biar hatiku saja yang tahu. Yang pasti perasaan ini menggangguku.

Ketukan pintu terdengar ketika ku melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu. Ku urungkan niat
untuk duduk dan terus berjalan menuju pintu.
“Put, ni aku, Dani.”
“Iya bentar.” Aku bergegas membukakan pintu dan mendapati Dani sedang berdiri di hadapanku.
Mata kami saling beradu. Untuk sesaat hanya mata yang saling berbicara. Sekilas ku tatap dia
dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kemeja garis-garis biru muda, celana jeans biru tua dan
sepatu kulit coklat mengkilat yang ia kenakan sangat serasi dipandang mata. ‘Wow, dia rapih
sekali. Sudah seharusnyalah orang yang akan menikah berpenampilan begini.’ batinku.

“Put, ini undangan pernikahan aku. Kamu datang ya. Kalau bisa bawa pacar kamu sekalian.
Jangan sampai gak datang lho.”
“iya, InsayaAllah Dan.” Pacar? Sudah jelas dia tahu aku gak punya pacar. Dani… Dani…

Dia bengong, aku pun bengong. lama, mematung di depan pintu sampai suara mama
menyadarkan kami. Aku tercekat dan merasa malu sendiri karena lupa mempersilakannya
masuk. Untuk sekedar menghilangkan rasa sungkanku, ku minta ia untuk mampir barang
sebentar.
“Masuk dulu Dan! Mama sama papa ada di dalam lagi nonton. Kalau kamu gak nongolin muka
kamu ke mereka, nanti mereka pasti nanyain kamu dan marahin aku karena biarin kamu pergi
gitu aja. Soalnya tadi aku udah bilang kalau kamu mau datang.”
“Hehe, segitunya… Yoweslah…” Dani pun melangkah ke ruang tamu sementara aku langsung
ke dapur untuk menyiapkan minuman.
“Siang Tan, Om”
“Eh Dani, duduk nak?” Respon mama sopan.
Dani yang memang udah terbiasa ke rumah langsung duduk tanpa sungkan lagi. Tapi kali ini ia
kelihatan sedikit tegang. Keringat dingin mengalir di dahinya yang tak terlalu lebar itu. Entah
apa yang sedang bergejolak di dalam dadanya. Akupun tak tau. Dan rasanya aku tak mau tau.
Karena memang aku tak perlu tahu.

Aku buatkan jus jeruk dingin untuk menghilangkan dahaga di siang yang cukup gerah ini. Yang
aku tahu, itu adalah minuman kesukaan Dani. Kalau aku gak salah sih. Soalnya sudah lama
banget aku gak mau tahu tentang dia. Apakah masih suka jeruk dingin atau telah beralih ke kopi
jahe anget, seperti minuman kesukaan papaku. Entahlah…

Samar-samar ku dengar mama memulai pembicaraan. “Beruntung sekali ya wanita yang berhasil
mendapatkan nak Dani. Udah ganteng, rajin shalat lagi.”
“Ah, tante bisa aja.”

Langkah kakiku membuat semua mata tertuju padaku. Dan Dani melanjutkan biacaranya ketika
aku berada tepat di hadapannya. “Pria yang kelak akan mendampingi putih juga akan sangat
beruntung tante. Putih selain cantik, pinter, solehah pula.” Ku hanya terdiam tanpa mampu
berkata. Bukan ku tak ingin menyela, hanya saja aku benar-benar gak tahu kata seperti apa yang
mesti aku utarakan.

Ku dengar mama menghela nafas. Tiba-tiba ku rasa suasana sangat begitu mencekam.
Menakutkan kayak di film-film horror.
“Nak Dani, silahkan minum dulu jus buatan Putih. Mudah-mudahan bisa menghilangkan dahaga
kita. Mungkin gak seenak jus buatan calon istri nak Dani, tapi setidaknya Putih sudah berusaha
membuatnya seikhlas mungkin” Kata papa lagi untuk mencairkan suasana yang terlanjur
membeku. “Putih ikhlaskan, nak?”

Aku tersentak mendengar pertanyaan papa. Kemana arah pembicaraan ini? Tuhan, beri aku
jawaban yang tepat. “Ah, papa. Ikhlas donk. Bikin jus doank mah, kecil. Hehehe…” Papa,
mama, dan Dani juga ikut tersenyum mendengar jawabanku. Mudah-mudahan itu memang
jawaban yang papa inginkan.

Sementara papa, mama, dan Dani sedang ngomong ngalur ngidul, mataku tanpa bisa kompromi
terus saja menatap Dani, nanar. Mungkin karena ia berada di hadapanku sehingga mataku harus
selalu kesana tertuju. Sementara itu, hatiku terus saja membatin. ‘Dan, aku yakin aku gak
mencintai kamu. Aku bahkan belum mempersiapkan diri untuk jadi istri kamu. Tapi kenapa
rasanya sakit mengetahui kau akan menikah dengan wanita yang ku kenal. Ya, aku jujur. Aku
sakit Dan. Tapi apalah hak ku untuk merasa sakit ini.’

Menyadari tatapanku yang terus tertumpu padanya, membuat Dani salah tingkah dan kemudian
balik menatapku. Giliran ku yang jadi tak menentu ditatap seperti itu. Papa dan mama hanya
sibuk menghela nafas berat. “Oh ya Dan, habis ini mau ngantar undangan kemana lagi?” Hanya
pertanyaan itu yang bisa terlontar dari bibirku untuk menghilangkan kecanggungan ini.
“Rencananya mau ke rumah teman-teman SMP kita, Put. Mmhh, Om, Tan, kayaknya Dani mesti
pamit dulu deh. Takut ntar gak sempat ngantar semua undangan ini. Oh ya, undangan untuk Om
dan Tante nanti malam mama dan papa sendiri yang akan mengantarnya. Katanya mereka mau
ketemu dengan Om dan Tante langsung.”
“Oh, iya. Om tunggu ya. Kebetulan Om dan Tante gak kemana-mana malam ini.”
“kalau begitu. Saya mohon diri dulu Om, Tan. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawab mama dan papa serentak.
Aku pun mengantar Dani sampai ke pagar depan. Ku tatap punggungnya dari belakang. Bahunya
yang lebar dan kokoh. Ku bayangkan kelak akan ada raga wanita lain yang bersandar di sana.
‘Huuuuft’. Ku menghela nafas panjang. ‘Mudah-mudahan kamu bahagia Dan.’ Doaku dalam
hati.

Dani menaiki ninja hitamnya. Sebelum dia melaju pergi, dia meninggalkanku seulas senyum. Ya,
hanya seulas senyum manis. Tanpa sepatah katapun mampu terucap dari bibirnya. Begitu juga
aku. Hanya bisa membisu dan menyunggingkan sedikit senyum. Senyum keikhlasan. ‘Aku ikhlas
Dan.’ Bisikku dalam hati.

Aku terus menatap Dani hingga ia menghilang di ujung jalan. Setelah aku tak lagi melihat
bayangnya, aku putuskan untuk beristirahat sekejap di bangku taman halaman depan. Seperti
yang kulakukan saat ini.
Undangan merah hati yang ada di tanganku ku kipas-kipaskan ke wajahku. Bukan ku kepanasan,
hanya ingin memain-mainkannya di tanganku.

lagi-lagi bayangan Dani mondar mandir di kepalaku.


Apa yang sedang kau pikirkan sekarang Dan? Apa yang sedang kau rasakan sekarang?
Bahagiakah, karena akan segera menikah? Entahlah, itu urusanmu. Tapi mudah-mudahan kau
bahagia dan penantianmu selama ini terbalas dengan kebahagiaan yang akan kau dapatkan dari
dia, adik kelas kita.

Tiba-tiba pikiranku berkelana ke masa tiga tahun yang silam. Dimana setiap tahunnya kau pasti
akan pulang. Selain untuk mengunjungi keluargamu, kau juga datang untuk menemuiku. Itu
katamu, waktu itu. Tau kah kau betapa senangnya aku ketika mendengar kejujuranmu itu? Tapi
sayangnya aku tak ada perasaan lebih terhadapmu. Masa lalu kita telah ku tinggalkan jauh di
belakang. Bukan kenangan itu tak berarti untukku, hanya saja aku tak mau bila ia mengganggu
kehidupanku. Jadi lebih baik biarkan saja ia jadi cerita lama yang ku simpan indah di sebuah
kotak ajaib yang kusebut masa lalu.

SMS-SMS sayang dan perhatian pun sering kau kirimkan. Tapi tak pernah ku balas. Maafkan
aku Dan. Aku mengabaikan perasaanmu.

Pernah juga kau mencoba meminta hatiku lagi. Tapi lagi-lagi aku menolakmu. Mungkin kau
kecewa, sakit hati, dan marah padaku kala itu. Tapi tak sedikitpun aku mempedulikan
perasaanmu. Aku minta maaf lagi Dan.

Aku punya alasan untuk setiap hal kecil dan menjengkelkan yang aku lakukan. Termasuk
mengabaikan persaanmu. Aku punya alasan Dan. Walaupun sudah terlambat untuk
mengatakannya sekarang. Tapi ku ingin kau tahu. Mungkin kedengaran bodoh dan naïf sekali.
Tak apa. Asalkan kau tetap sudi mendengarnya. ‘Aku ingin kau jadi yang terakhir untukku.’ Kau
begitu baik untuk ku jadikan pacar. Aku ingin kau menjadi cinta yang halal untukku, cinta yang
akan membimbing kita mencari ridha Illahi. Tapi, aku belum siap untuk saat ini. Egokah ini?
Maafkan aku.
Tapi malangnya, kau telah memilih wanita lain untuk kau halalkan mencintainya. Apakah aku
terlambat Dan? Ataukah memang aku takkan pernah bisa mencintaimu sehingga aku tak diberi
kesempatan?
Tak apa Dan. Mungkin ini adalah jalan kita. Memang sudah seharusnya kau memilih yang
terbaik dan yang tersedia daripada terus menungguku.
Moga kau bahagia. Aku pasti datang di hari bahagiamu itu. Pasti. Aku akan datang dan
mendoakan kebahagiaan buat kalian berdua.

Cerpen Karangan: Jingga Putih Silver