Anda di halaman 1dari 21

WAWASAN KEBANGSAAN

KELAS A

KELOMPOK A

SITARESMI PRANASARI (NIM. 1610711001)

SYAFFIRA PUTRI AFIFAH (NIM. 1610711002)

NEDYA ASMURIANTI (NIM. 1610711003)

ULFA SUSANTI (NIM. 1610711004)

RUSTIANI AYU ANGGRAINI (NIM. 1610711005)

DWI KURNIAWATI (NIM. 1610711006)

PUSPITA LESTARI (NIM. 1610711008)

HANIAH RAHMAWATI (NIM. 1610711009)

LUIGISHA AUGUSTI (NIM. 1610711012)

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan dikerjakan dengan
kerjasama dalam kelompok dan bantuan teman-teman lainnya. Untuk itu
kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih


ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari
pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan


manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Depok, November 2017

Kelompok A

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................. 1

DAFTAR ISI .............................................................................................................. 2

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ..................................................................................................3


1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................4
1.3 Tujuan ...............................................................................................................5

BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Wawasan Kebangsaan ...................................................................6


2.2 Aktualisasi Wawasan Kebangsaan ...................................................................7
2.3 Pendidikan Karakter Bangsa Secara Terpadu ..................................................8
2.4 Perkembangan pemahaman nilai-nilai wawasan kebangsaan..........................9
2.5 Pengertian, hakikat dan prinsip serta perkembangan Wawasan Nusantara
..........................................................................................................................11
2.6 Faktor-faktor yang berpengaruh Pemahaman Wawasan Kebangsaan
..........................................................................................................................13
2.7 Bagaimana memasyarakatkan pemahaman nilai-nilai Wawasan Kebangsaan
untuk memperkokoh Persatuan dan Kesatuan ................................................16

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ......................................................................................................20


3.2 Saran ..............................................................................................................20

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wawasan kebangsaan pada hakekatnya adalah hasrat yang sangat


kuat untuk kebersamaan dalam mengatasi segala perbedaan dan
diskriminasi. Wawasan kebangsaan tidak dilandasi atas asal-usul
kedaerahan, suku, keturunan, status sosial, agama dan keyakinan. Jadi
wawasan kebangsaan itu sangat mutlak untuk di miliki oleh setiap warga
negara Indonesia, wawasan kebangsaan tidak timbul dengan sendirinya,
tetapi muncul secara bertahap pada diri seseorang, yaitu dengan
seringnya menegakan wawasan yang diketahuinya dan kemudian bisa di
aplikasikan kepada kehidupannya sehari-hari.

Bangsa Indonesia yang lahir dari keanekaragaman suku, agama,


budaya, bahasa, dan daerah asal yang tersebar luas dalam ribuan pulau
perlu menyepakati suatu cara hidup bersama dalam kebhinekaan sebagai
warga negara suatu bangsa. Salah satu cara hidup bersama itu ialah cara
pandang tentang diri dan lingkungan dalam mencapai tujuan bersama,
yaitu tujuan nasional. Cara pandang yang dimaksud bagi bangsa
Indonesia ialah Wawasan yang mengacu pada kondisi dan konstelasi
geografi, sosial budaya, serta faktor kesejarahan, dan perkembangan
lingkungan. Dengan demikian, konsepsi yang terkandung di dalamnya
merupakan simpulan dari pengalaman masa lalu dan lingkungannya yang
relevan saat ini serta valid di masa datang, sehingga dapat dijadikan
acuan dalam melakukan interaksi antar komponen bangsa dan
bahkan dunia dalam hidup bersama dan berdampingan yang damai
dan saling bermanfaat.

Bangsa Indonesia yang menegara merupakan suatu kenyataan


meskipun bila ditinjau dari asal-usul dan terjadinya merupakan keluar
biasaan yang tergolong sangat unik, ternyata bangsa ini berkembang
maju hingga saat ini. Hal itu dimungkinkan karena ada faktor pendorong
dan pengikat yang kuat. Konsepsi Wawasan Nusantara mengandung
faktor-faktor yang dimaksud, yang bila diimplementasikan dapat
memperkuat dorongan dan ikatan yang mewujudkan persatuan dan
kesatuan bangsa, yang dijiwai rasa kekeluargaan, persaudaraan dan
kebersamaan sehingga, terpeliharanya kesatuan wilayah nasional. Di atas
kondisi yang tercipta dari Ideologi Pancasila, Ketahanan Nasional dengan
Kewaspadaan serta Wawasan Nusantara, selanjutnya dapat dibangun

3
dan dilaksanakan pembangunan nasional, yang memungkinkan
tercapainya tujuan Nasional sesuai dengan harapan bersama.

Pancasila dan UUD 1945 merupakan landasan Wawasan Nusantara


karena dalam Pembukaan UUD 1945 tercantum Pancasila dan
mengandung nilai-nilai universal dan lestari serta dapat digunakan
sebagai acuan rumusan, konsep, prinsip, dan cara pandang yang
Nusantara. Dengan demikian, Wawasan Nusantara merupakan
perwujudan pesan-pesan dalam Pembukaan UUD 1945 dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, selain dari pada itu
Wawasan kebangsaan mengandung nilai-nilai yang berkaitan dengan
pemanfaatan ruang Negara sebagai suatu wilayah Kekuatan Negara,
penduduk negara sebagai potensi sumber daya manusia maupun
sumber daya alamnya yang melimpah.

Nilai-nilai tersebut dikelompokkan dalam lima pesan pokok, yaitu


pertama bagaimana penghargaan terhadap harkat dan martabat bangsa
Indonesia yang harus terus dipertahankan dan dapat ditingkatkan.
Memiliki kekuatan tekad untuk tujuan maupun cita-cita nasionai, tempat
mempertahankan dan memperjuangkan kepentingan nasional yang pada
hakikatnya adalah kepentingan keamanan dan kesejahteraan guna
mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan
wilayah, tanah air dan bangsa. Selanjutnya adalah kesepakatan tentang
cara pencapaian tujuan nasional yang merupakan himpunan nilai-
nilai yang meliputi bersatu, berdaulat, adil, dan makmur yang
menjadi fondasi untuk memperkokoh Persatuan dan Kesatuan NKRI.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Wawasan Kebangsaan?


2. Bagaimana penerapan Aktualisasi Wawasan Kebangsaan?
3. Mengapa pendidikan Bangsa secara terpadu?
4. Bagaimana Pemahaman Nilai-nilai Wawasan Kebangsaan saat ini?
5. Apa pengertian, Hakikat dan Prinsip serta Perkembangan Wawasan
Kebangsaan?
6. Apa faktor yang berpengaruh terhadap pemahaman Wawasan
Kebangsaan?
7. Bagaimana memasyarakatkan pemahaman nilai-nilai Wawasan
Kebangsaan untuk memperkokoh Persatuan dan Kesatuan?

4
C. Tujuan

1. Agar Mahasiswa mampu mengetahui arti dari Wawasan Kebangsaan.


2. Agar Mahasiswa dapat menerapkan Aktualisasi Wawasan Kebangsaan.
3. Agar Mahasiswa mengetahui Pendidikan Bangsa yang secara terpadu.
4. Agar Mahasiswa mampu memahami nilai-nilai Wawasan Kebangsaan
pada saat ini.
5. Agar Mahasiswa mampu Mengetahui Arti,Hakikat dan Prinsip serta
perkembangan Wawasan Kebangsaan Saat ini.
6. Agar Mahasiswa mampu memahami faktor-faktor apa saja yang
berpengaruh terhadap pemahaman Wawasan Kebangsaan.
7. Agar Mahasiswa dapat memahami nilai-nilai Wawasan Kebangsaan
yang dapat memperkokoh Persatuan dan Kesatuan bangsa.

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Wawasan Kebangsaan

Wawasan Kebangsaan menurut L.B. Moerdani dalam buku


”Menegakkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa” (1991), memiliki tiga
dimensi yang harus dihayati dan diwujudkan secara keseluruhan, agar
tumbuh kesadaran berbangsa yang kokoh dan bulat. Ketiga dimensi itu
adalah rasa kebangsaan, faham kebangsaan dan semangat kebangsaan.

Rasa kebangsaan adalah kesadaran berbangsa yang tumbuh secara


alamiah dalam diri orang seorang karena kebersamaan sosial yang
berkembang dari kebudayaan, sejarah dan aspirasi perjuangan. Tumbuh
dan berkembangnya rasa kebangsaan di dorong oleh kecintaan kepada
kampung halaman, sanak keluarga, sahabat-sahabat yang tumbuh
bersama sejak masa anak-anak. Pengalaman cinta pertama di kampung
halaman.

Rasionalisasi rasa kebangsaan akan melahirkan faham kebangsaan,


yaitu pikiran – pikiran rasional tentang hakekat dan cita – cita kehidupan
dan perjuangan yang menjadi ciri khas bangsa itu. Penghayatan akan
ideologi bangsa akan menegakkan faham kebangsaan.

Selanjutnya rasa dan faham kebangsaan secara bersama akan


mengobarkan semangat kebangsaan yang merupakan tekad dari seluruh
masyarakat bangsa itu untuk melawan semua ancaman dan rela
berkorban bagi kepentingan bangsa dan negara.

Wawasan Kebangsaan membentuk orientasi, persepsi, sikap dan


perilaku yang dihayati bersama oleh seluruh rakyat bangsa, bahwa
mereka itu satu bangsa. Wawasan Kebangsaan menjadi landasan bagi
berkembangnya nilai-nilai utama bangsa yang diwujudkan sebagai
karakter bangsa. Wawasan Kebangsaan adalah juga bentuk loyalitas
anak bangsa terhadap bangsanya, yang akan selalu mengobarkan dirinya
sebagai bangsa Indonesia di manapun juga di ujung dunia ini.

Oleh karena itu penghayatan Wawasan Kebangsaan tidak cukup


hanya dengan memiliki semangat dan menguasai faham kebangsaan,
tetapi harus digali lebih dalam sampai ke lubuk hati, sehingga rasa
kebangsaan mekar di dadanya. Penghayatan Wawasan Kebangsaan

6
yang demikian paripurna itulah yang akan dapat menjamin kelangsungan
hidup bangsa dan negara Indonesia dan membawanya ke masa depan
yang gemilang.

B. Aktualisasi Wawasan Kebangsaan

Agar Wawasan Kebangsaan dihayati oleh seluruh rakyat Indonesia dan


semangat kebangsaan terus berkobar di dada generasi muda bangsa
Indonesia, perlu tindakan aktualisasi yang berencana, konsisten dan
berlanjut dalam semua aspek kehidupan bangsa. Lebih dari itu bentuk –
bentuk nasionalisme dan patriotisme bangsa Indonesia harus terwujud
secara nyata (living realities) dalam seluruh peri kehidupan masyarakat
dan pemerintahan negara sehari – hari, dalam lingkungan keluarga,
lingkungan pendidikan dan lingkungan kerja serta dalam kebijakan dan
tindakan pemerintahan negara. Nasionalisme adalah sikap bangsa
sedangkan patriotisme adalah sikap individunya.

1. Dalam bidang politik : Diwujudkannya sistem politik demokrasi yang


berlandaskan wawasan kebangsaan dan nilai – nilai luhur Pancasila
dan UUD 1945, yang menolak aliran – aliran politik yang tidak berakar
pada sejarah dan budaya bangsa Indonesia.
2. Dalam bidang hukum : Diwujudkannya sistem hukum nasional
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta memperlakukan setiap
individu sama di muka hukum di samping, memberikan keadilan bagi
seluruh rakyat Indonesia dari semua lapisan.
3. Dalam bidang ekonomi : Diwujudkannya sistem ekonomi yang
menjamin berkembangnya ekonomi seluruh rakyat dan terwujudnya
kesejahteraan dan keadilan sosial dalam seluruh lapisan masyarakat.
Kesemuanya mengacu pada upaya menjadikan bangsa Indonesia tuan
di rumah sendiri yang sejahtera secara merata, serta terbangunnya
Indonesia sebagai negara maritim sesuai keadaan dan kekayaan
alamnya.
4. Dalam bidang sosial dan budaya : Diwujudkannya kehidupan sosial
dan budaya yang menjamin tumbuh suburnya peri kehidupan
masyarakat yang serba majemuk tetapi mengamalkan nilai – nilai
Bhinneka Tunggal Ika, sehingga terjaga keharmonisan dalam seluruh
segi peri kehidupan masyarakat dan bangsa serta berkembangnya
budaya nasional yang merangkum puncak – puncak budaya daerah.
Negara harus menjamin setiap warga negara hak untukmendapatkan
pelayanan kesehatan, hak untuk mendapatkan pendidikan dan hak
jaminan hari tua.

7
5. Dalam bidang pertahanan dan keamanan : Diwujudkannya sistem
pertahanan dan keamanan yang mampu menjamin keselamatan
seluruh kehidupan rakyat, bangsa dan negara, menjaga seluruh garis
batas negara di darat, laut dan udara dari Sabang sampai Merauke dari
Miangas sampai Rote, termasuk di pulau – pulau terluar dan terpencil.
Sarana dan prasarana sistem pertahanan dan keamanan haruslah
didukung oleh kemajuan teknologi persenjataan baik fisik maupun non
fisik, yang militer maupun non militer.

Aktualisasi Wawasan Kebangsaan memerlukan ruangan dan


lingkungan yang kondusif bagi implementasi karakter bangsa yang
berlandaskan nilai-nilai keutamaan bangsa sesuai Pancasila. Jabaran
nilai-nilai keutamaan yang sudah kita miliki seperti Saptamarga di
kalangan angkatan bersenjata dan 36 butir nilai-nilai yang pernah
dirumuskan untuk peri kehidupan masyarakat tinggal dikembangkan
sebagai nilai-nilai dasar jati diri bangsa Indonesia sekaligus
membumikannya di persada Indonesia.

C. Pendidikan Karakter Bangsa Secara Terpadu

Pembangunan karakter bangsa haruslah dimulai dengan pendidikan


nilai-nilai yang didukung oleh lingkungan masyarakat dan pemerintahan
negara yang memberikan keteladanan tentang penyelenggaraan nilai-nilai
itu secara nyata dalam seluruh perikehidupan bangsa. Karakter bangsa
yang menjunjung nilai-nilai luhur Pancasila serta dilandasi sejarah
perjuangan bangsa Indonesia yang panjang melawan penjajahan itu
haruslah dilandasi oleh nilai-nilai keutamaan kebangsaan, nilai-nilai
keutamaan kejuangan dan nilai-nilai keutamaan kebudayaan sebagai
nilai-nilai dasar atau gen sel dasar yang berakar dalam sejarah bangsa
Indonesia sehingga dapat menjadi karakter yang dihayati oleh seluruh
bangsa Indonesia.

Pendidikan itu harus dimulai dalam keluarga sehingga anak-anak


mengenal kasih sayang dan hormat kepada orang tua yang melahirkan
dan membesarkan dirinya. Semua dasar yang membentuk nilai-nilai
keutamaan yang disebut karakter itu berasal dari keluarga. Dalam
keluarga kita mengenal kebersamaan, tolong menolong, sopan santun,
keadilan dan tanggung jawab. Di bangku sekolah nilai-nilai itu diberi
landasan keilmuan sehingga dapat dihayati dengan lebih baik. Dalam
masyarakat dan lingkungan kerja, nilai-nilai keutamaan itu diwujudkan
secara nyata dengan sosok-sosok pemimpin yang dapat diteladani.

8
Itulah yang disebut pendidikan karakter bangsa secara terpadu, karena
semuanya berlanjut dan tidak ada gap antara lingkungan yang satu
dengan yang lain. Adanya gap akan membuat anak didik ragu-ragu akan
keabsahan nilai-nilai keutamaan yang diajarkan, sehingga seluruh upaya
akan menjadi sia-sia. Keteladanan nilai-nilai keutamaan dalam
masyarakat akan menjadi tiang-tiang penyangga yang menjadikan
penghayatan nilai-nilai keutamaan itu sempurna dan melahirkan karakter
bangsa yang kokoh.

D. Perkembangan pemahaman nilai-nilai wawasan kebangsaan saat ini

Dari pengalaman sejarah bangsa, sejak Budi Utomo 1908 yang kita
peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional dan ikrar Sumpah Pemuda
1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945 sampai dengan saat ini, kita telah
mangalami pasang surut dan dinamika dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Saat ini kita telah masuk pada era globalisasi, transparansi
dan reformasi yang sedang menguji keberadaan bangsa Indonesia, tanpa
disadari keadaan tersebut telah mampu mengeser nilai-nilai bangsa yang
selama ini terpatri kuat dan menjiwai kehidupan berbangsa, bernegara
dan bermasyarakat. Nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam
Pancasila tidak lagi menjadi bagian yang harus dimengerti, dipahami dan
diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebaliknya telah menjurus
kearah kehidupan individualistik dan materalistik yang mengakibatkan
semakin jauh dari nilai-nilai jati diri, kepribadian dan keimanan bangsa
Indonesia.

Kecenderungan semakin memudarnya Wawasan Kebangsaan


tercermin dari perilaku hidup yamg semakin memprihatinkan. Sentimen
dan fanatisme suku, ras dan antar golongan semakin menonjol sehingga
seringkali rentan terhadap terjadinya gesekan-gesekan dan konflik
bernuansa SARA diberbagai daerah. Kondisi tersebut diperparah oleh
perbuatan sebagian kelompok masyarakat yang secara sadar menjual
bangsanya sendiri kepada bangsa asing dengan menguasai isu-isu HAM,
Demokratisasi dan lingkungan hidup untuk kepentingan sesaat, tanpa
mempertimbangkan kepentingan bangsa yang lebih besar. Sulit rasanya
bagi bangsa Indonesia untuk kembali bangkit dari keterpurukan saat ini
ditengah deras masuknya faham asing yang bertentangan dengan faham
Pancasila sehingga ancaman terjadinya disintegrasi bangsa tanpa
disadari telah mengancam sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia.

9
Pancasila sebagai ideologi, falsafah, pandangan hidup dan alat
pemersatu bangsa telah mampu mempersatukan keberagaman bangsa
Indonesia selama kurun waktu 62 tahun dalam sebuah wadah Negara
Kesatuan Republik Indonesia mulai terusik keberadaannya. Pancasila
tidak lagi menjadi bagian yang harus dipahami, dimengerti dan diamalkan
oleh setiap anak bangsa terutama sejak digulirkannya era reformasi.
Indikasi tersebut dapat dirasakan bahwa paham kebangsaan yang telah
diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 didasari perasaan senasib
dan sepenang-gungan, kerelaan berkorban dan semangat patriotisme
tidak lagi tertanam dalam hati sanubari setiap anak bangsa sehingga
membuat bangsa Indonesia semakin lemah dan rentan terhadap
terjadinya bentrokan-bentrokan bernuansa SARA.

Semangat kebangsaan dan wawasan kebangsaan yang merupakan


motivasi untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia
semakin memudar tidak lagi terpancar dalam perilaku kehidupan bangsa
sehingga keengganan membela dan mempertahankan bangsa dari
berbagai kemungkinan ancaman tidak lagi menjadi tanggug jawab
bersama seluruh komponen bangsa. Ditambah lagi paham komunis yang
dulunya merupakan bahaya latent yang harus tetap kita waspadai, kini
masyarakat sudah kurang peka bahkan cenderung tidak memperdulikan
lagi, sehingga mereka bebas mengekspresikan keberadaanya serta
terbuka untuk masuk keberbagai lini melalui partai-partai yang ada saat
ini dan sungguh sangat memprihatin-kan kita.

Selain dari pada itu kondisi politik yang sangat lemah akibat lengsernya
”Kepemimpinan Nasional” mengakibatkan rentannya kondisi politik
bangsa Indonesia saat itu, demikian juga kondisi ekonomi yang melanda
bangsa Indonesia yang telah membuat semakin menambah beban
kehidupan masyarakat. Sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan
menjadi pengangguran masyarakat meningkat. Kesenjangan ekonomi
yang cukup dalam tersebut telah mendorong sentimen etnis sehingga
berpotensi muncul terjadinya pertikaian dan tindak kriminalitas baik
secara kualitas maupun kuantitas.

Dibidang sosial budaya mengalami kemerosotan yang tajam,


disebabkan oleh derasnya kemajuaan ilmu pengetahuan dan teknologi
elektronik yang menembus sampai ke pelosok desa tanpa ada penangkal
atau batas. Hal tersebut dapat merusak akhlak dan moral masyarakat
khususnya moral generasi muda. Nilai-nilai budaya yang mengakar dalam
kehidupan sehari-hari tercermin dalam Pancasila semakin ditinggalkan,

10
kecenderungan mengadopsi budaya asing mewarnai seluruh sendi
kehidupan berbangsa. Kondisi tersebut lambat laun menjadikan
masyarakat kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang memiliki budaya
Adi Luhung yaitu budaya yang mempunyai nilai-nilai tinggi untuk
mempersatukan bangsa yang kita kagumi ini.

Disisi lain dapat kita cermati bahwa masih ada kekuatan yang masih
utuhdan dapat diharapkan untuk menjaga keutuhan NKRI ini adalah
Kemanunggalan TNI. Namun karena beban yang dipikul semakin berat
dan ada pula pihak-pihak tertentu yang dengan cara sistematis ingin
menghancurkan TNI maka hal tersebut secara psikologis akan
mempengaruhi kinerja TNI, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Namun dengan didukung komitmen yang jelas, tegas dan terukur,
masalah wawasan kebang-saan yang berujung pada tetap tegak dan
utuhnya NKRI, TNI bersama rakyat siap mengorbankan jiwa dan raganya.
Menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI.

E. Pengertian, hakikat dan prinsip serta perkembangan Wawasan Nusantara.

Wawasan Nusantara adalah pemanfaatan konstelasi geografi


Indonesia, dimana diperlukan wawasan benua sebagai pengejawantahan
segala dorongan-dorongan dan rangsangan-rangsangan dalam usaha
mencapai aspirasi-aspirasi bangsa, dan tujuan negara Indonesia (Doktrin
Hankamnas dan Doktrin Perjuangan ABRI “Catur Darma Eka Karma”,
pada Pidato sambutan Menteri Utama Bidang Hankam, 31 Maret 1967).

Wawasan Nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia


berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 tentang diri dan lingkungannya
dalam eksistensinya yang sarwanusantara dan pemekarannya dalam
mengekspresikan diri sebagai bangsa Indonesia ditengah-tengah
lingkungannya yang sarwanusantara (Mayjen TNI RI Soetopo, Wawasan
Nusantara, Metode Penyajian, Pengantar Gubernur Lemhannas, 10
November 1972).

Wawasan Nusantara yang merupakan Wawasan Nasional yang


bersumber pada Pancasila dan berdasarkan UUD 1945 adalah cara
pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungan-nya
dengan mengutamakan Persatuan dan Kesatuan bangsa serta kesatuan
wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara untuk mencapai Tujuan Nasional (Tap MPR Nomor
II/MPR/1993 dan Nomor II/MPR/1998 tentang GBHN).

11
Wawasan Nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia, yang
dijiwai nilai-nilai Pancasila dan berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945
serta memperhatikan sejarah dan budaya tentang diri dan lingkungan
keberadaannya yang sarwanusantara dalam memanfaatkan kondisi dan
konstelasi geografi, dengan menciptakan tanggung jawab, motivasi, dan
rangsangan bagi seluruh bangsa Indonesia, yang mengutamakan
Persatuan dan Kesatuan bangsa serta Kesatuan Wilayah pada
penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
untuk mencapai Tujuan Nasional.

Hakikat Wawasan Nusantara ialah cara pandang bangsa Indonesia


tentang diri dan lingkungan keberadaannya dalam memanfaatkan kondisi
dan konstelasi geografi dengan menciptakan tanggung jawab dan
motivasi atau dorongan bagi seluruh bangsa Indonesia untuk mencapai
Tujuan Nasional. Cara pandang tersebut bersifat integratif karena dijiwai
oleh Pancasila yang mendorong kebersamaan dalam kehidupan nasional
yang dijiwai Pancasila dan dilandasi oleh Undang-Undang Dasar 1945
yang menyatukan Indonesia serta pengalaman sejarah dan sifat budaya
bangsa Indonesia yang bersifat kekeluargaan.

Disadari bahwa keberadaan bangsa Indonesia dan lingkungannya


bersifat sarwanusantara, yaitu dalam kondisi terhubung, menyatu, dan
diapit oleh suku bangsa, ras, dan kelompok sosial yang menghuni
kawasan Nusantara terhubung satu dengan lainnya oleh berbagai
kepentingan dan kondisi lingkungan selama ratusan tahun, yang akhirnya
menyatu menjadi Bangsa Indonesia. Dalam konsep negara kepulauan,
ribuan pulau besar dan kecil di seluruh Nusantara disatukan oleh laut
sebagai jembatan emas menjadi satu Kesatuan Wilayah Nasional
Indonesia.

Sementara itu, wilayah Indonesia yang berada di antara dua benua dan
dua samudera dalam kondisi diapit, baik secara alamiah maupun sosial,
sehingga menjadi sasaran berbagai pengaruh yang selalu berubah dan
berintensitas kuat dari sekelilingnya. Sejalan dengan kondisi tersebut,
Wawasan Nusantara memiliki dua arah pandang, ke dalam dan ke luar.
Arah pandang ke dalam ditujukan kepada kesatuan wilayah, sedangkan
arah pandang ke luar ditujukan untuk menjamin kepentingan Nasional dan
ikut dalam melaksanakan ketertiban dunia.

Prinsip Wawasan Nusantara ialah tumpuan berpikir, berkehendak,


bertindak dalam penyelenggaraan kehidupan nasional menurut konsep

12
dasar Wawasan Nasional Bangsa Indonesia, yaitu Wawasan Nusantara,
yang tidak lain dari batu bangun Wawasan Nasional Bangsa Indonesia.
Konsep-konsep tersebut terdiri atas Persatuan dan Kesatuan, Bhinneka
Tunggal Ika, kebangsaan, negara kebangsaan, geopolitik dan negara
Kepulauan. Dalam merumuskan prinsip-prinsip Wawasan Nusantara,
acuan dan saringan dalam perumusan ialah nilai-nilai yang terkandung
dalam Pancasila, Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Sumpah
Pemuda 1928, dan semangat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Nilai-nilai kebangsaan dapat digali dari peristiwa, keputusan pemimpin,


pernyataan tokoh, aspirasi masyarakat, serta cara hidup dan kehidupan
masyarakat dari waktu ke waktu. Sehubungan dengan hal itu, kenangan,
sejarah, kebesaran yang pernah dibangun, kebersamaan dalam meraih
sukses dan menghadapi masalah bersama, rasa saling membutuhkan dan
menguntungkan, memiliki simbol, mitos, dan tradisi, serta keinginan dan
tekad mengulangi kesuksesan merupakan nilai-nilai yang perlu
disosialisasikan bersama. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan
nilai-nilai kebangsaan, sangat diharapkan tersedianya materi, seperti
Sejarah Nasional, Ilmu Bumi, Ilmu Alam, Ekonomi Nasional, dan
Antropologi yang membuat uraian tentang budaya manusia Nusantara,
serta seluk-beluk tentang simbol, mitos, dan tradisi bangsa Indonesia.

Sosialisasi tentang kebangsaan dilakukan dalam lingkaran atau siklus,


dimulai dari penumbuhan kesadaran, pengembangan pemahaman,
mewujudkan semangat kebangsaan, kembali pada penumbuhan
kesadaran berbangsa, dan seterusnya. Dengan sosialisasi secara siklus,
nilai-nilai kebangsaan bangsa Indonesia akan terus dapat dipertahankan
dan diwujudkan manfaatnya dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Metode sosialisasi yang diharapkan dapat diterapkan ialah pemindahan
dan pengubahan atau penanaman nilai-nilai kebangsaan kepada peserta
sosialisasi.

F. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Pemahaman Wawasan


Kebangsaan.

Didalam kelompok majemuk seperti masyarakat Indonesia, perbedaan


pendapat diantara masyarakat mudah berkembang menjadi konflik yang
tajam, bahkan dapat menimbulkan konflik fisik. Kelompok primordial yang
ditambah dengan fanatisme sempit terhadap kelompoknya, sering
mengakibatkan konflik yang keras dengan kelompok lain, sehingga
apabila tidak segera diatasi dan dikelola dengan baik, akan dapat

13
menggangu stabilitas nasional. Kesemuanya ini menunjukan bahwa
kemajemukan disuatu sisi merupakan kekuatan, disisi lain merupakan
kendala, tetapi apabila dikelola dengan baik maka kemajemukan tersebut
menjadi kekuatan, namun apabila sebaliknya tidak dikelola dengan baik
akan menjadi potensi bagi terjadinya perpecahan atau disintegrasi
bangsa.

Disamping itu tingkat kehidupan, pendidikan dan kesehatan


masyarakat yang rendah dimana hampir mencakup sebagian besar
masyarakat Indonesia akan turut memberikan dampak negatif ditengah
kemajemukan kehidupan masyarakat. Dalam masyarakat yang tingkat
kehidupan dan pendidikannya masih rendah, kemajemukan bukan
dipandang sebagai suatu kekuatan yang bersinergi akan tetapi dilihat
sebagai perbedaan yang harus dipertentangkan dan berujung pada
munculnya konflik, apalagi ada pihak-pihak tertentu karena
kepentingannya sesaat sengaja memprofokasi keadaan itu.

Seperti yang dikemukakan oleh pakar-pakar pendidikan bahwa secara


umum tujuan pendidikan adalah membantu perkembangan anak didik
untuk mencapai tingkat kedewasaan. Tingkat kedewasaan yang
dimaksudkan disini bukan kedewasaan biologis semata tetapi juga
kedewasaan secara psikologis. Sedangkan dalam ketentuan yang berlaku
ditegaskan bahwa bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia
Indonesia seutuhnya, yaitu manusia beriman Kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak budi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh,
cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional,
bertanggung jawab dan produktif.

Satu hal yang mendapat perhatian dalam menyempurnakan sistem


Pendidikan Nasional adalah memasukan materi Wawasan Kebangsaan
(Kewiraan) yang tidak terbatas pada Perguruan Tinggi saja akan tetapi
mulai Pendidikan Dasar, bahkan Taman Kanak-Kanak secara bertahap,
bertingkat dan berlanjut. Demikian halnya dalam sistem pendidikan militer,
materi Wawasan Kebangsaan hendaknya dapat diajarkan intensif dan
simultan mulai dari strata pendidikan pembentukan/ pertama,
pengembangan umum maupun spesialisasi. Hal ini tidak saja penting
sebagai bekal para prajurit dalam melaksanakan tugas, akan tetapi para
prajurit diharapkan dapat menjadi tauladan dan dapat menularkan
semangat kebangsaan ini dilingkungan keluarganya dan masyarakat
dimana para prajurit berada dan bertugas.

14
Selanjutnya faktor lain yang berpengaruh yaitu hegemoni negara
tertentu yang ingin menguasai Indonesia secara fisik, ancaman tersebut
tidak terlihat nyata namun dapat kita rasakan seperti halnya yang sedang
dialami bangsa Indonesia. Cara tersebut lebih dikenal dengan konsep
perang modern. Perang ini sangat mudah dan murah dilakukan, tidak
memerlukan pengerahan sumber daya serta kekuatan bersenjata, namun
dapat dilakukan oleh negara tertentu dengan cara infiltrasi/ penyusupan
melalui kerja sama lembaga pemerintahan antar negara atau melalui NGO
asing yang bekerja sama dengan LSM bermasalah dalam negeri serta
melalui media cetak/ elektronik, tetapi dampak yang ditimbulkan amat
sangat dahsyat dan fatal. Setelah terjadi kerusakan dan kehancuran moral
dan budaya bangsa, maka negara yang menerangkan konsep perang
modern tersebut berarti telah berhasil menguasai atau menjajah alam
pikiran kita. Selanjutnya negara tersebut akan tampil seolah-olah sebagai
penyelamat, sebagai negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia
dan demokrasi, walaupun sesungguhnya itu hanya kedok belaka. Negara
tersebut tidak pernah dihujat, dibenci atau dikucilkan, akan tetapi malah
dipuji dan diagungkan. Inilah yang harus diwapadai dan jangan sampai
kita terkecoh.

Krisis multidimensial yang telah melanda kehidupan bangsa Indonesia


dan belum dapat diatasi hingga saat ini, termasuk upaya melemahkan
TNI, bukan tidak mustahil merupakan skenario perang modern yang
sedang diterapkan oleh negara-nagera tertentu. Untuk menghadapi
perang modern tersebut, setiap anak bangsa hendaknya memiliki
wawasan kebangsaan yang kuat. Kita menyadari betul bahwa kondisi
bangsa yang majemuk/ plural, memerlukan suatu pengelolaan yang baik.
Untuk itu kita sebagai warga negara yang sadar akan pentingnya
Wawasan Kebangsaan untuk menjaga Kesatuan dan Persatuan Bangsa,
harus berpikir bagaimana meningkatkan Wawasan Kebangsaan pada
masyarakat.

Semangat kebangsaan yang dimiliki prajurit diharapkan mampu


ditransformasikan kepada keluarganya dan masyarakat sebagai perekat
kesatuan adapun persoalan yang muncul adalah kurangnya integritas
prajurit untuk bersosialisasi dengan lapisan seluruh masyarakat,
khususnya warga masyarakat yang tinggal didaerah-daerah terpencil.
Pembinaan teritorial yang merupakan salah satu gelar postur TNI / TNI AD
perlu dioptimalkan dengan metode dan sistem yang kenyal dalam
meningkatkan pembinaan teritorial, sehingga dapat dipahami dan

15
dimengerti oleh masyarakat dan dapat digunakan sebagai contoh/
panutan pada masyarakat luas.

Pada lingkungan internasional, fenomena yang muncul adalah isu-isu


global yang memuat universal dan mengungguli nilai-nilai nasional. Nilai-
nilai universal tersebut bahkan sengaja dipaksakan kepada negara-negara
yang mengklaim dirinya sebagai negara yang saling menjunjung tinggi
nilai-nilai tersebut. Hal ini dilakukan melalui LSM internasional dan LSM
bermasalah dalam negeri, sehingga memaksa negara-negara yang tidak
menjalankannya untuk mengikuti konsep kebijakan negara sponsor
tersebut fenomena ini dirasakan dan dengan kasat mata dan dapat kita
saksikan di negara kita ini, antara lain ada kelompok yang menjual negara
dan bangsanya untuk memenuhi kepentingan pribadi atau kelompoknya.
Memang sulit dimengerti, seorang anggota TNI yang bertugas demi
bangsa dan negara dituntut ke Mahkamah Internasional oleh bangsanya
sendiri. Sementara mereka yang menjual bangsanya dan negaranya
kepada bangsa lain cenderung juga dibiarkan. Oleh karena itu, TNI harus
waspada dan jangan terpengaruh terhadap perkembangan tersebut dan
tetap menjaga Kesatuan dan Persatuan NKRI.

G. Bagaimana memasyarakatkan pemahaman nilai-nilai Wawasan


Kebangsaan untuk memperkokoh Persatuan dan Kesatuan.

Wawasan Kebangsaan yang merupakan cara pandang masyarakat


terhadap bangsanya dengan segala isinya yang serba heterogen ini perlu
dimengertikan dan dipahami secara utuh oleh seluruh komponen bangsa
sehinga dapat membangkitkan kekuatan yang efektif untuk menggalang
solidaritas dalam menghadapi tantangan dan ancaman mengancam
terhadap stabilitas dan keutuhan NKRI. Untuk itu perlu diperhatikan upaya
dan langkah-langkah untuk memasyarakatkan Wawasan Kebangsaan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sikap dan


pola tingkah laku kita senantiasa berazaskan pada pengamalan sila-sila
Pancasila, yang sila pertamanya yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk
meningkatkan kesetiakawanan dan saling menghargai, pertama-tama sila
ini harus dipraktekkan. Tidak cukup hanya memuja-mujanya dengan kata-
kata saja tetapi diwujudkan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Secara
kongkrit, umat beragama rukun antar sesama pemeluk agama, rukun
antar umat beragama berdasarkan atas Bhineka Tunggal Ika. Persatuan

16
dan Kesatuan, tidak boleh mematikan keanekaan dan sebaliknya
keanekaan tidak boleh memudarkan Persatuan dan Kesatuan.

Kesatuan memberi peluang secukupnya bagi perkembangan


keanekaan dan sebaliknya keanekaan memperkaya kesatuan.
Sehubungan dengan itu semua perlu membina bukan hanya toleransi
antara golongan didalam masyarakat Indonesia, tetapi perlu membina
sikap saling menghargai dalam suasana tenggang rasa dan tepa selira.
Dalam suasana itu kita mengusahakan dialog dan kerja sama dalam
semangat persaudaraan. Dengan demikian dapatlah ditingkatkan
solidaritas nasional. Cakrawala manusia Indonesia tidak boleh dipersempit
oleh adanya kotak-kotak agama, rumpun etnik, lapisan masyarakat dan
berbagai perbedaan lainnya.

Mengapa binter harus dimasyarakatkan ? Pertanyaan ini menarik untuk


dipahami dan dimengerti oleh seluruh komponen bangsa. Mengapa ?
Karena akhir-akhir ini muncul isu-isu yang dilontarkan oleh pihak-pihak
tertentu yang menginginkan Komando Kewilayahan/ Koter agar
dibubarkan. Pandangan tersebut harus segera diluruskan agar tidak
memunculkan anggapan atau pandangan-pandangan yang menyesatkan.
Perlu dipahami bahwa Koter atau Komando Kewilayahan adalah
merupakan salah satu bentuk gelar postur TNI AD dalam melaksanakan
tugas pokoknya dalam menjaga tetap tegak dan utuhnya NKRI. Untuk itu
wilayah atau teritorial dengan segala isinya harus dibina agar menjadi
kekuatan sebagai daya tangkal terhadap pengaruh-pengaruh dan
provokasi untuk melemahkan TNI.

Perwujudan kemanunggalan TNI-Rakyat merupakan rohnya atau


kekuatan TNI AD seperti halnya TNI AL rohnya adalah kapal perangnya,
TNI AU ada pada pesawat tempurnya apabila TNI AL dan TNI AU tidak
mempunyai alat sistem tersebut dapat dikatakan kehilangan rohnya atau
mati, sehingga tidak dapat berbuat apa-apa. Sedangakan Binter
merupakan sarana untuk mewujudkan kemanunggalan TNI-Rakyat. Oleh
sebab itu maka dari waktu ke waktu kemanunggalan TNI-Rakyat harus
dipelihara dan dijaga karena hal tersebut merupakan roh atau kekuatan
TNI AD. Bagaimana mungkin dapat terlaksana kemanunggalan TNI-
Rakyat, kalau Binter dihapuskan ? Dengan demikian Binter merupakan
tugas terkandung yang harus dilaksanakan untuk mendukung tercapainya
tugas pokok TNI AD. Kuncinya adalah ”Baik-baik” dengan rakyat,
sehingga dapat membuahkan pengakuan yang simpatik dari rakyat, serta
meningkatkan komunikasi sosial yang baik.

17
Bila kita mau mencermati, memahami dan mengerti tentang jabaran
Wawasan Kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan hati
yang dalam, maka Wawasan Kebangsaan tersebut merupakan hal yang
sangat penting dalam proses pembentukan sikap moral warga negara
agar memiliki kecintaan terhadap tanah airnya. Hal tersebut dapat
diperoleh melalui lembaga pendidikan. Kita menyadari bahwa
pembentukan sikap moral dan Wawasan Kebangsaan memerlukan suatu
proses yang panjang perlu pembelajaran secara bertahap dan berlanjut.
Lembaga pendidikan baik formal maupun non-formal memiliki tanggung
jawab yang besar dalam mewujudkan hal tersebut. Berkaitan dengan hal
ini, kiranya perlu dikaji ulang tentang pendidikan kewiraan yang selama
ini diajarkan kepada mahasisiwa di perguruan tinggi saja itupun
hanya berjalan satu semester, sedangkan siswa dari TK sampai
SLTA tidak mendapatkan Pelajaran tersebut.

Oleh karena itu kedepan pendidikan kewiraan harus ditata dan


dilembagakan dalam setiap jenjang pendidikan, sehingga berwawasan
kebangsaan dapat tercermin dalam kehidupan masyarakat, berbangsa
dan bernegara. Selain itu diperlukan pula penyempurnaan kurikulum
pendidikan dengan memasukan materi Wawasan Kebangsaan disemua
tingkat pendidikan termasuk pendidikan militer, sehingga setiap anak
bangsa dapat memperoleh ilmu pendidikan yang setinggi-tingginya namun
tetap memiliki sesantri yang terpatri dalam dirinya ”DWI WARNA PURWA
CENDEKIA WUSANA”. Dalam perubahan kedua amandemen Undang-
Undang Dasar 1945 Pasal 30, antara lain dikatakan bahwa tiap warga
negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan
keamanan negara. Usaha pertahanan dan keamanan negara
dilaksanakan melalui Sishankamrata TNI sebagai kekuatan utama dan
rakyat sebagai kekuatan pendukung.

Dari kenyataan tersebut diatas dapat kita pahami bahwa setiap warga
negara mempunyai hak dan kewajiban bela negara tersebut harus
dilaksanakan rekruitmen dan pengkaderan secara benar dan terstruktur
melalui lembaga pemerintah yang ada, sehingga setiap warga negara
merasa terpanggil dan memiliki rasa bangga untuk ikut serta dalam bela
negara. Memang sosialisai tentang keikutsertaan dalam bela negara/
wajib militer saat ini tidak terselenggara dengan baik, oleh karena itu
kedepan keikutsertaan warga negara dalam wajib militer harus
mendapatkan akreditasi yang jelas, sehingga yang bersangkutan dapat
diakui sesuai dengan kemampuan dan kualifikasi keahlian yang dimiliki.
Bagi warga negara yang terkena kewajiban bela negara tetapi tidak
18
mengindahkan kewajiban tersebut dapat dikenakan sangsi hukuman
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Berangkat dari esensi tersebut, maka perlu pertahanan negara


kedepan dikembangkan secara strategis, baik kualitas perlunya secara
bertahap peningkatan profesionalisme yang didukung oleh sistem
peralatan dan persenjataan yang memadai, sedangkan secara kualitas
perlu dipertimbangkan adanya wajib militer bagi seluruh warga negara
yang telah berusia minimal 17 tahun sebagai kekuatan pendukung yang
setiap saat dapat diorganisir sebagai kekuatan penangkal di seluruh
penjuru tanah air. Peran lain yang masih dapat dikembangkan dalam
lembaga pendidikan adalah pendidikan kepramukaan. Didalam kurikulum
pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah
umum bahkan perguruan tinggi masih terdapat pelajaran ekstrakulikuler
salah satu kegiatan ekstrakulikuler yang terkenal hingga saat ini yaitu
kepramukaan. Dalam kepramukaan para siswa/anak didik diajarkan
berbagai ragam permainan dan pengetahuaan, melalui media ini dapat
diaplikasikan sehingga dapat mengarah kepada penungguan sikap
patriotik dan wawasan kebangsaan. Karena itu kedepan pendidikan
kepramukaan harus ditaati kembali serta dilembagakan secara baik
sehingga dapat menumbuhkan kecintaan dan wawasan kebangsaan bagi
seluruh anak didik.

Salah satu faktor internal yang ikut mendukung tetap tegaknya suatu
negara, apabila seluruh warga masyarakat memiliki jiwa patriotik yang
tinggi. Oleh sebab itu secara periodik perlu ditayangkan kembali film-film
dokumenter perjuangan dalam merebut, mempertahankan dan mengisi
kemerdekaan. Pengalaman perjuangan kemerdekaan Indonesia yang di
Proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 menunjukkan akumulasi
dari semangat patriotik tinggi dari pendahulu kita melawan penjajah di
bumi pertiwi ini. Semangat patriotik ini hanya dapat terwujud melalui sikap-
sikap rela berkorban tanpa pamrih dan tidak memikirkan kepentingan
sendiri, kelompok atau golongan. Karena itu, kurikulum pendidikan
Nasional perlu diperkaya kembali dengan penambahan mata pelajaran
sejarah, Civic Mission/ pembentukan karakter nasional bangsa serta
materi lain yang meningkatkan Wawasan Kebangsaan dan kecintaan
pada tanah air.

19
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Wawasan kebangsaan Indonesia menjadikan bangsa yang tidak
dapat mengisolasi diri dari bangsa lain yang menjiwai semangat bangsa
bahari yang terimplementasikan menjadi wawasan nusantara bahwa
wilayah laut Indonesia adalah bagian dari wilayah negara kepulauan
yang diakui dunia. Wawasan kebangsaan merupakan pandangan yang
menyatakan negara Indonesia merupakan satu kesatuan dipandang
dari semua aspek sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia dalam
mendayagunakan konstelasi Indonesia, sejarah dan kondisi sosial
budaya untuk mengejawantahan semua dorongan dan rangsangan
dalam usaha mencapai perwujudan aspirasi bangsa dan tujuan
nasional yang mencakup kesatuan politik, kesatuan sosial budaya,
kesatuan ekonomi, kesatuan pertahanan keamanan. Wawasan
kebangsaan Indonesia memberi peran bagi bangsa Indonesia untuk
proaktif mengantisipasi perkembangan lingkungan stratejik dengan
memberi contoh bagi bangsa lain dalam membina identitas,
kemandirian dan menghadapi tantangan dari luar tanpa konfrontasi
dengan meyakinkan bangsa lain bahwa eksistensi bangsa merupakan
aset yang diperlukan dalam mengembangkan nilai kemanusiaan yang
beradab. Akhirnya, bagi bangsa Indonesia, untuk memahami
bagaimana wawasan kebangsaan perlu memahami secara mendalam
falsafah Pancasila yang mengandung nilai-nilai dasar yang akhirnya
dijadikan pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku yang bermuara
pada terbentuknya karakter bangsa.

B. Saran
Sebagai warga indonesia yang baik kita harus lebih berusaha
mencapai perwujudan aspirasi bangsa dan tujuan nasional yang
mencakup kesatuan politik, kesatuan sosial budaya, kesatuan ekonomi,
kesatuan pertahanan keamanan. Dan agar warga indonesia mampu
memahami secara mendalam tentang falsafah Pancasila yang
mengandug nilai-nilai dasar yang dijadikan pedoman dalam bertingkah
laku agar terbentuk karakter bangsa yang berdasarkan nilai-nilai
pancasila.

20