Anda di halaman 1dari 32

UNDANG – UNDANG

KELUARGA MAHASISWA
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
NOMOR 1 TAHUN 2015

TENTANG

PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN


PERWAKILAN MAHASISWA ITS DAN PRESIDEN
BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA ITS
-2-

UNDANG – UNDANG
KELUARGA MAHASISWA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
NOMOR 1 TAHUN 2015

TENTANG

PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN MAHASISWA ITS DAN


PRESIDEN BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA ITS

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA


INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER,

Menimbang : a. bahwa untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa ITS dan
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa ITS pemilihan umum sebagai sarana
perwujudan kedaulatan mahasiswaITS berdasarkan Konstitusi Dasar
Keluarga Mahasiswa ITS;
b. bahwa Undang – Undang Keluarga Mahasiswa ITS Nomor 3 Tahun 2014
perlu diganti sesuai dengan tuntutan dan dinamika perkembangan
mahasiswa ITS;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,
dan huruf b, perlu membentuk Undang – Undang tentang Pemilihan Umum
Anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa ITS dan Presiden Badan Eksekutif
Mahasiswa ITS;

Mengingat : Bagian Kedua Pasal 12 ayat (1), Pasal 24 ayat (3) dan ayat (4), dan Pasal 26
ayat (1) dan ayat (2) serta Bagian Ketiga Pasal 1, Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal
5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 15 Ketetapan
Musyawarah Besar IV Mahasiswa ITS No. 01/TAP/MUBES/IX/2011 tentang
Konstitusi Dasar Keluarga Mahasiswa ITS

Dengan persetujuan bersama


DEWAN PERWAKILAN MAHASISWA
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
dan
PRESIDEN BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
-3-

MEMUTUSKAN

Menetapkan : UNDANG – UNDANG TENTANG PEMILIHAN ANGGOTA DEWAN


PERWAKILAN MAHASISWA ITS DAN PRESIDEN BADAN EKSEKUTIF
MAHASISWA ITS

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:


1. ITS adalah Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
2. KM ITS adalah Keluarga Mahasiswa ITS sebagaimana dimaksud dalam Ketetapan
Musyawarah Besar IV Mahasiswa ITS No. 01/TAP/MUBES/IX/2011 tentang Konstitusi
Dasar Keluarga Mahasiswa ITS.
3. DPM ITS adalah Dewan Perwakilan Mahasiswa ITS sebagaimana dimaksud dalam
Ketetapan Musyawarah Besar IV Mahasiswa ITS No. 01/TAP/MUBES/IX/2011 tentang
Konstitusi Dasar Keluarga Mahasiswa ITS.
4. BEM ITS adalah Badan Eksekutif Mahasiswa ITS sebagaimana dimaksud dalam
Ketetapan Musyawarah Besar IV Mahasiswa ITS No. 01/TAP/MUBES/IX/2011 tentang
Konstitusi Dasar Keluarga Mahasiswa ITS.
5. MM ITS adalah Mahkamah Mahasiswa ITS sebagaimana dimaksud dalam Ketetapan
Musyawarah Besar IV Mahasiswa ITS No. 01/TAP/MUBES/IX/2011 tentang Konstitusi
Dasar Keluarga Mahasiswa ITS.
6. Pemilihan Umum, yang selanjutnya disebut Pemilu, adalah sarana pelaksanaan
kedaulatan rakyat untuk memilih anggota DPM ITS dan Presiden BEM ITS berdasarkan
Konstitusi Dasar Keluarga Mahasiswa (KDKM) ITS.
7. Komisi Pemilihan Umum, yang selanjutnya disingkat KPU, adalah penyelenggara Pemilu
di ITS yang bekerja secara mandiri, independen dari pihak atau golongan manapun, dan
patuh pada perundang-undangan yang berlaku di KM ITS.
8. Panitia Pemilihan Umum, yang selanjutnya disingkat PPU, adalah Panitia Penyelenggara
Pemilu bagi Keluarga Mahasiswa ITS.
9. Panitia Pengawas Pemilu yang selanjutnya disingkat Panwaslu adalah panitia yang
memiliki tugas-tugas umum pengawasan dalam pelaksanaan Pemilu.
10. Pemantau Pemilu adalah lembaga yang independen untuk melakukan pemantauan proses
Pemilu.
11. Badan Pemeriksa Dana Kampanye yang selanjutnya disebut sebagai BPDK merupakan
Badan yang bertugas memeriksa Dana Kampanye dari peserta pemilu.
12. Tempat Pemungutan Suara, yang selanjutnya disingkat TPS, adalah tempat dilakukannya
pemungutan suara dalam Pemilu.
-4-

13. Kelompok Pelaksana Pemungutan Suara, yang selanjutnya disingkat KPPS, adalah panitia
pelaksana Pemungutan Suara yang diselenggarakan pada masing-masing TPS.
14. Peserta Pemilu adalah calon anggota DPM ITS dan Calon Presiden BEM ITS yang telah
ditetapkan untuk mengikuti Pemilu.
15. Tim Sukses Kandidat yang selanjutnya disingkat TSK adalah seseorang atau sekelompok
orang mahasiswa yang dipilih oleh Peserta Pemilu untuk membantu Peserta Pemilu dalam
proses Pemilu.
16. Saksi adalah seorang atau lebih yang mendengar atau melihat secara langsung suatu
kejadian dalam proses Pemilu.

BAB II
ASAS, TUJUAN, PELAKSANAAN
DAN LEMBAGA PENYELENGGARA PEMILU ITS

Pasal 2

Pemilu dilaksanakan berdasarkan asas:


a. Langsung;
b. Umum;
c. Bebas;
d. Rahasia;
e. Jujur;
f. Adil;
g. Transparan;
h. Rasional; serta
i. Proporsional.

Pasal 3

Pemilu dilaksanakan untuk memilih anggota DPM ITS dan Presiden BEM ITS.

Pasal 4

(1) Pemilu untuk memilih anggota DPM ITS dilaksanakan dengan sistem distrik kuota.
(2) Pemilu untuk Presiden BEM ITS dilaksanakan dengan sistem proporsional dan rasional.
(3) Pemilu anggota DPM ITS dan Presiden BEM ITS dilaksanakan secara serentak.
(4) Pemungutan suara secara serentak diselenggarakan di kampus ITS.
(5) Hari, Tanggal, dan Tempat Pemungutan suara Pemilu ITS diatur dalam Surat Ketetapan
KPU.
(6) Tahapan proses penyelenggaraan Pemilu ITS adalah:
a. Penyusunan daftar pemilih;
b. Pendaftaran peserta Pemilu ITS;
c. Penetapan peserta Pemilu ITS;
d. Masa Kampanye;
-5-

e. Masa Tenang;
f. Pemungutan dan penghitungan suara;
g. Penetapan hasil Pemilu ITS;
h. Pengucapan sumpah/janji peserta Pemilu ITS terpilih pada Kongres Mahasiswa
ITS.
(7) Penetapan Hasil Pemilu ITS paling lambat 14 (empat belas) hari setelah hasil Pemilu
diketahui.

Pasal 5

(1) Pemilu ITS diselenggarakan oleh KPU.


(2) Badan yang mengawasi penyelenggaraan Pemilu adalah Panwaslu.

BAB III
PESERTA DAN SAKSI PEMILU

Bagian Kesatu
Peserta Pemilu

Pasal 6

(1) Peserta Pemilu untuk pemilihan anggota DPM ITS adalah perseorangan dari wakil-wakil
distrik yang terdapat di ITS.
(2) Perseorangan sebagaimana dimaksud pada Pasal 6 ayat (1) dapat menjadi Peserta Pemilu
setelah memenuhi persyaratan.

Pasal 7

(1) Peserta Pemilu untuk pemilihan Presiden BEM ITS adalah perseorangan.
(2) Perseorangan sebagaimana dimaksud pada Pasal 7 ayat (1) dapat menjadi Peserta Pemilu
setelah memenuhi persyaratan.

Pasal 8

(1) Pedoman teknis pencalonan anggota DPM ITS dan Presiden BEM ITS diatur oleh ketetapan
KPU.
(2) Perseorangan yang memenuhi persyaratan dapat mendaftarkan diri sebagai bakal calon
anggota DPM ITS kepada KPU.
(3) Perseorangan yang memenuhi persyaratan dapat mendaftarkan diri sebagai bakal calon
Presiden BEMITS kepada KPU.
(4) Persyaratan administrasi bakal calon anggota DPM ITS untuk memenuhi persyaratan
ditentukan oleh KPU.
(5) Persyaratan administrasi bakal calon Presiden BEM ITS untuk memenuhi persyaratan
ditentukan oleh KPU.
-6-

Pasal 9

(1) KPU melakukan verifikasi kelengkapan dan kebenaran dokumen persyaratan bakal calon
anggota DPM ITS dan bakal calon Presiden BEM ITS.
(2) Panwaslu melakukan pengawasan atas pelaksanaan verifikasi kelengkapan persyaratan
administrasi bakal calon anggota DPM ITS dan bakal calon Presiden BEM ITS.
(3) Dalam hal pengawasan sebagaimana dimaksud pada Pasal 9 ayat (1) menemukan unsur
kesengajaan atau kelalaian anggota KPU sehingga merugikan bakal calon anggota DPM ITS
atau bakal calon Presiden BEM ITS, maka Panwaslu melaporkan temuan tersebut kepada
KPU.
(4) Ketua KPU wajib menindaklanjuti temuan Panwaslu sebagaimana dimaksud pada Pasal 9
ayat (3).
(5) Tata cara verifikasi dan penetapan kriteria dan persyaratan calon peserta Pemilu lebih lanjut
diatur dengan ketetapan KPU.

Pasal 10

(1) Daftar calon tetap anggota DPM ITS dan daftar calon tetap Presiden BEM ITS ditetapkan
oleh KPU.
(2) Daftar calon tetap anggota DPM ITS sebagaimana dimaksud pada Pasal 10 ayat (1) disusun
berdasarkan abjad dan dilengkapi dengan foto diri.
(3) Daftar calon tetap Presiden BEM ITS sebagaimana dimaksud pada Pasal 10 ayat (1) disusun
berdasarkan nomor urut dan dilengkapi dengan foto diri.
(4) Nomor urut sebagaimana dimaksud pada Pasal 10 ayat (3) diundi oleh KPU
dengandisaksikan calon Presiden BEM ITS.
(5) Dalam hal terjadi pemalsuan dokumen atau penggunaan dokumen palsu dalam persyaratan
administrasi bakal calon dan/atau calon anggota DPM ITS ataubakal calon dan/atau calon
Presiden BEM ITS, maka KPU mencabut hak pilihbakal calon dan/atau calon yang
bersangkutan dan mencoret dari daftar bakal calon dan/atau calon anggota DPM ITS atau
Presiden BEM ITS.

Bagian Kedua
Saksi

Pasal 11

(1) Saksi adalah anggota KM ITS yang diberi mandat secara tertulis oleh Peserta Pemilu untuk
melaksanakan sebagaimana fungsi Saksi.
(2) Setiap calon anggota DPM ITS dan calon Presiden BEM ITS dapat mengutus 1 (satu) orang
Saksi dari anggota KM ITS untuk mengikuti rangkaian Pemilu di tiap-tiap distrik.
(3) Saksi sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 11 ayat (1) harus orang yang berbeda untuk
masing-masing calon anggota DPM ITS dan calon Presiden BEM ITS.
(4) Saksi harus diajukan dan didaftarkan secara tertulis ke KPU oleh Peserta Pemilu.

BAB IV
DISTRIK DAN KUOTA
-7-

Pasal 12

(1) Untuk pemilihan anggota DPM ITS masing-masing ditetapkan suatu distrik pencalonan.
(2) Distrik pencalonan ditetapkan oleh KPU.
(3) Jumlah kursi anggota DPM ITS untuk setiap distrik pencalonan adalah:
a. 1 (satu) kursi untuk distrik yang memiliki jumlah pemilih yang kurang dari 700 (tujuh
ratus) orang mahasiswa; atau
b. 2 (dua) kursi untuk distrik yang memiliki jumlah pemilih sama dengan atau lebih dari 700
(tujuh ratus) orang mahasiswa

BAB V
HAK PILIH

Pasal 13

Hak pilih adalah hak memilih dan hak dipilih.

Pasal 14

(1) Untuk dapat menggunakan hak memilih seorang anggota KM ITS harus terdaftar sebagai
pemilih.
(2) Untuk dapat menggunakan hak dipilih seorang anggota KM ITS harus terdaftar sebagai
peserta pemilu ITS.

Pasal 15

(1) Anggota KM ITS yang terdaftar dalam data kemahasiswaan ITS dan telah berkuliah di ITS
selama 6 (enam) bulan atau lebih mempunyai hak pilih.
(2) Anggota KM ITS sebagaimana dimaksud pada Pasal 15 ayat (1) wajib didaftar dalam Daftar
Pemilih Tetap.
(3) KPU menetapkan Daftar Pemilih Tetap dengan mekanisme yang diatur sesuai ketetapan
KPU.

BAB VI
PERANGKAT PEMILU

Bagian Kesatu
KPU

Pasal 16

(1) KPU adalah susunan kepanitian yang disebut dengan komisi yang berfungsi menjalankan
dan mengatur jalannya pemilihan umum ITS yang bersifat menyeluruh, sementara, dan
mandiri.
(2) KPU bertanggung jawab atas penyelenggaraan Pemilu ITS.
(3) KPU melaporkan hasil Pemilu kepada seluruh anggota KM ITS tentang hasil kerja yang
-8-

dilakukan.

Pasal 17

(1) Anggota KPU sebanyak-banyaknya berjumlah 11 (sebelas) orang.


(2) Penjaringan anggota KPU dilakukan oleh DPM ITS.
(3) Calon anggota KPU wajib mengikuti uji kelayakan oleh DPM ITS dan kemudian ditetapkan
oleh Presiden BEM ITS.
(4) Keanggotan KPU terdiri atas seorang ketua merangkap anggota dan para anggota.
(5) Ketua KPU dipilih dari dan oleh anggota KPU.
(6) Setiap anggota KPU mempunyai hak suara yang sama.
(7) Masa keanggotaan KPU adalah sampai dengan dilantiknya Presiden BEM ITS dan anggota
DPM ITS terpilih.
(8) Tata kerja dan teknik pelaksanaan KPU disusun dan ditetapkan oleh KPU sesuai dengan
undang-undang yang berlaku.
(9) Dalam melaksanakan tugasnya, KPU memiliki sekretariat.

Pasal 18

Kriteria untuk menjadi anggota KPU:


a. telah menjadi anggota KM ITS minimal 1 (satu) tahun;
b. tidak menjadi Peserta Pemilu;
c. setia pada tata aturan perundang undangan yang berlaku di KM ITS.
d. mempunyai integritas pribadi yang kuat, jujur, dan adil;
e. mempunyai komitmen dan dedikasi terhadap suksesnya Pemilu, tegaknya demokrasi, dan
keadilan;
f. memiliki pengetahuan yang memadai tentang proses pelaksanaan Pemilu, sistem perwakilan
serta memiliki kemampuan kepemimpinan; dan
g. terbebas dari struktur fungsionaris organisasi internal dan eksternal KM ITS.

Pasal 19

Tugas dan wewenang KPU adalah:


a. merencanakan dan mempersiapkan Pemilu;
b. membuat aturan-aturan Pemilu sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
c. menyusun dan menetapkan pedoman teknis untuk Pemilu.
d. mengkoordinasikan, menyelenggarakan, dan mengendalikan semua tahapan pelaksanaan
Pemilu;
e. dalam pelaksanaan Pemilu, KPU membentuk PPU;
f. untuk mengawasi pelaksanaan Pemilu, KPU membentuk Panwaslu;
g. menetapkan Daftar Pemilih Tetap;
h. melakukan koordinasi dengan BPDK Pemilu ITS;
i. mencabut hak pilih calon Peserta Pemilu sesuai dengan hukum yang berlaku;
j. menetapkan dan mencabut nama-nama calon anggota DPM ITS untuk setiap distrik
pencalonan sesuai dengan hukum yang berlaku;
k. menetapkan dan mencabut nama-nama calon Presiden BEM ITS sesuai dengan hukum yang
-9-

berlaku;
l. menetapkan hasil akhir proses Pemilu;
m. menyelesaikan segala sengketa dan permasalahan yang berkaitan dengan pelaksanaan Pemilu
yang terjadi selama penyelenggaraan Pemilu;
n. memberikan sanksi kepada Peserta Pemilu atas setiap pelanggaran yang terjadi;
o. melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan Pemilu; dan
p. melaksanakan tugas dan kewenangan lain yang diatur undang-undang.

Pasal 20

KPU berkewajiban:
a. menyusun dan menetapkan kode etik KPU.
b. menyusun dan menetapkan tata kerja KPU, PPU, dan Panwaslu;
c. memperlakukan Peserta Pemilu secara adil dan setara, guna menyukseskan Pemilu;
d. memelihara arsip Pemilu dan dokumen Pemilu serta mengelola barang inventaris KPU;
e. menyampaikan informasi kegiatan Pemilu kepada KM ITS;
f. melaporkan hasil Pemilu kepada DPM ITS, MM ITS, BEM ITS selambat-lambatnya 7 (tujuh)
hari setelah hasil Pemilu ditetapkan;
g. mengumumkan setiap ketetapan yang dikeluarkan, selambat-lambatnya 3 (tiga) hari setelah
ketetapan tersebut ditetapkan; dan
h. meyerahkan ketetapan hasil Pemilu kepada MM ITS untuk mendapatkan fatwa MM ITS.

Pasal 21

Anggota KPU dinyatakan melepaskan diri dari jabatannya karena:


a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri;
c. melanggar kode etik; dan/atau
d. kehilangan status sebagai anggota KM ITS.

Pasal 22

Untuk menjaga kemandirian, integritas, dan kredibilitas, terdapat kode etik sebagaimana yang
dimaksud pada Pasal 20 poin (a) yang bersifat mengikat serta wajib dipatuhi oleh anggota KPU
dan/atau pihak yang berkepentingan dan diinformasikan kepada KM ITS.

Pasal 23

(1) Keuangan KPU dari Anggaran Pendapatan BEM ITS dan usaha usaha lain yang dianggap
sah, halal, dan tidak mengganggu independensi.
(2) KPU wajib mengembalikan kelebihan dana kepada BEM ITS.
(3) KPU mengelola keuangan dengan profesional dan bertanggungjawab dalam melaksanakan
fungsinya.

Bagian Kedua
PPU
-10-

Pasal 24

(1) PPU berfungsi sebagai fasilitator pada proses Pemilu dan bertanggung jawab kepada KPU.
(2) Anggota PPU adalah anggota KM ITS yang merupakan perwakilan tiap-tiap Himpunan
Mahasiswa Jurusan dengan jumlah yang ditentukan KPU
(3) Keanggotaan dari PPU sebagaimana yang disebutkan di Pasal 24 ayat (2) ditetapkan oleh
KPU sebelum tahapan pelaksanaan Pemilu dimulai.
(4) Susunan keanggotaan PPU terdiri dari seorang ketua merangkap anggota dan anggota-
anggota.
(5) Ketua PPU dipilih dari dan oleh anggota PPU.
(6) Masa keanggotaan PPU adalah sampai berakhirnya masa keanggotaan KPU.
(7) Untuk membantu kerja PPU, PPU dapat membentuk KPPS.

Pasal 25

PPU mempunyai tugas dan kewenangan:


(1) memfasilitasi tahapan kegiatan-kegiatan Pemilu yang meliputi:
a. pendataan pemilih;
b. pencalonan anggota DPM ITS dan Presiden BEM ITS;
c. kampanye;
d. pemungutan dan penghitungan suara;
e. penetapan hasil Pemilu;
(2) menyusun daftar pemilih sementara dalam Pemilu;
(3) membentuk KPPS demi membantu tugas dari PPU; dan
(4) melaksanakan arahan dari KPU yang diatur dalam Undang-undang, ketetapan KPU dan
keputusan rapat pleno KPU.

Pasal 26

PPU berkewajiban:
(1) menfasilitasi Peserta pemilu secara adil dan setara;
(2) melaporkan hasil kinerja PPU kepada KPU secara berkala; dan
(3) membantu KPU dalam menyebar-luaskan ketetapan KPU kepada KM ITS.

Bagian Ketiga
KPPS

Pasal 27

(1) Susunan keanggotaan KPPS terdiri dari seorang ketua merangkap anggota dan anggota-
anggota pada tiap-tiap distrik.
(2) KPPS tiap distrik dikoordinasikan oleh koordinator yang dipilih dari anggota PPU dalam
Rapat Pleno PPU.
(3) Susunan dan keanggotaan KPPS ditetapkan melalui ketetapan KPU.
(4) Jumlah, tugas, dan kewajiban anggota KPPS ditentukan oleh PPU.
-11-

Bagian Keempat
Panwaslu

Pasal 28

(1) Panwaslu berfungsi melakukan pengawasan terhadap jalannya Pemilu.


(2) Keanggotaan Panwaslu terdiri atas dua orang perwakilan tiap-tiap Himpunan Mahasiswa
Jurusan yang terdapat di ITS.
(3) Keanggotaan Panwaslu sebagaimana dimaksud pada Pasal 28 ayat (2) ditetapkan oleh KPU
sebelum tahapan pelaksanaan Pemilu dimulai.
(4) Panwaslu wajib melaporkan dan mempertanggungjawabkan hasil kerjanya kepada KPU.
(5) Masa keanggotaan Panwaslu adalah sampai berakhirnya masa keanggotaan KPU.

Pasal 29

Untuk menjalankan fungsinya, Panwaslu mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut:
a. mengawasi semua tahapan penyelenggaraan Pemilu;
b. memberikan peringatan kepadapelaku pelanggaran secara langsung apabila terjadi
pelanggaran terhadap ketentuan Pemilu;
c. mengeluarkan rekomendasi yang didasarkan atas fakta kronologis yang ditemukan kepada
KPU sebagai pertimbangan pengambilan keputusan;
d. dalam adanya suatu pelanggaran terhadap Undang-Undang Pemilu dan peraturan pelaksanaan
yang telah ditetapkan oleh KPU, Panwaslu wajib memberikan berita acara kejadian kepada
KPU;
e. format berita acara kejadian ditentukan oleh ketetapan KPU mengenai tata kerja Panwaslu;
f. mengusulkan kepada PPU untuk melaksanakan pengulangan pemungutan suara dengan
persetujuan KPU apabila terjadi:
1. kecurangan; dan/atau
2. keadaan memaksa atau darurat;

BAB VII
PEMANTAU PEMILU

Pasal 30

(1) Pemantau Pemilu berfungsi melakukan pengawasan terhadap jalannya proses Pemilu.
(2) Pemantau Pemilu ialah pengawas Pemilu independen.
(3) Pemantau Pemilu bersifat nonstruktural dan keberadaannya disahkan oleh BEM ITS setelah
terlebih dahulu melalui mekanisme pemberitahuan dan verifikasi.
(4) Pemantau Pemilu berhak mengeluarkan rekomendasi kepada KPU yang didasarkan atas fakta
kronologis yang ditemukan sebagai pertimbangan pengambilan keputusan.

Pasal 31

(1) Penjaringan anggota Pemantau dilakukan oleh BEM ITS.


(2) Calon anggota Pemantau wajib mengikuti uji kelayakan oleh BEM ITS dan kemudian
-12-

ditetapkan oleh Presiden BEM ITS.


(3) Masa keanggotaan adalah sampai dengan dilantiknya Presiden BEM ITS dan anggota DPM
ITS terpilih.
(4) Tata kerja dan teknik pelaksanaan Pemantau Pemilu disusun dan ditetapkan oleh Pemantau
Pemilu sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Pasal 32

Kriteria untuk menjadi anggota Pemantau Pemilu:


a. telah menjadi anggota KM ITS minimal 1 (satu) tahun;
b. tidak menjadi Peserta Pemilu;
c. setia pada KDKM ITS dan undang-undang yang berlaku;
d. mempunyai integritas pribadi yang kuat, jujur, dan adil;
e. mempunyai komitmen dan dedikasi terhadap suksesnya Pemilu, tegaknya demokrasi, dan
keadilan;
f. terbebas dari struktur fungsionaris organisasi internal dan eksternal KM ITS.

Pasal 33

Pemantau Pemilu mempunyai tugas dan wewenang:


(1) melakukan pengawasan terhadap perangkat dan pelaksanaan Pemilu;
(2) mengeluarkan rekomendasi yang didasarkan atas fakta kronologis yang ditemukan kepada
KPUsebagai pertimbangan pengambilan keputusan; dan
(3) dalam adanya suatu pelanggaran terhadap Undang-Undang Pemilu dan peraturan
pelaksanaan yang telah ditetapkan oleh KPU, Pemantau wajib memberikan berita acara
kejadian kepada KPU;

BAB VIII
BPDK PEMILU ITS

Pasal 34

(1) BPDK Pemilu ITS adalah badan pekerja yang keberadaannya adalah independen.
(2) BPDK Pemilu ITS berfungsi melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap aliran dana
kampanye calon Presiden BEM ITS.
(3) Proses pemilihan anggota BPDK Pemilu ITS melalui uji kelayakan oleh DPM ITS dan
disahkan oleh Presiden BEM ITS.
(4) Sistem kerja BPDK Pemilu ITS dengan KPU adalah koordinatif.

Pasal 35

(1) Penjaringan anggota BPDK Pemilu ITS dilakukan oleh DPM ITS.
(2) Calon anggota BPDK Pemilu ITS wajib mengikuti uji kelayakan dan kepatutan oleh DPM
ITS.
(3) Keanggotan BPDK Pemilu ITS terdiri atas seorang ketua merangkap anggota dan para
anggota.
-13-

(4) Ketua dan Wakil Ketua BPDK Pemilu ITS dipilih dari dan oleh anggota.
(5) Setiap anggota BPDK Pemilu ITS mempunyai hak suara yang sama.
(6) Masa keanggotaan BPDK Pemilu ITS adalah sampai dengan disahkannya hasil Pemilu oleh
Presiden BEM ITS.

Pasal 36

(1) Dana kampanye calon anggota DPM ITS dan calon Presiden BEM ITS adalah berasal dari
dana pribadi dan/atau sumbangan perseorangan anggota KM ITS.
(2) Proses pemeriksaan dana kampanye calon Presiden BEM dilakukan oleh BPDK Pemilu ITS.
(3) Pelaksanaan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada Pasal 36 ayat (2) berdasarkan:
a. dana pribadi calon presiden BEM ITS paling banyak sebesar Rp600.000,00 (enam ratus
ribu rupiah);
b. dana sumbangan perseorangan KM ITS paling banyak sebesar Rp150.000,00 (seratus
lima puluh ribu rupiah);
c. dana kampanye calon presiden BEM ITS paling banyak sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta
rupiah);
d. segala jenis sumbangan harus dilakukan dengan cara transfer ke rekening calon Presiden
BEM ITS; dan
e. melampirkan bukti rekening secara periodik sesuai ketentuan BPDK Pemilu ITS.

BAB IX
PELAKSANAAN PEMILU

Bagian Kesatu
Penyusunan dan Penetapan Daftar Pemilih

Pasal 37

(1) Daftar pemilih merupakakan data anggota KM ITS yang memiliki hak memilih dalam
PEMILU ITS.
(2) Pendataan pemilih dilakukan oleh PPU dengan mencatat data pemilih dalam daftar pemilih
(3) Daftar Pemilih Sementara diumumkan oleh PPU kepada HMJ guna memberikan kesempatan
kepada para pemilih untuk menyempurnakan Daftar Pemilih Sementara tersebut selanjutnya
disahkan oleh KPU.

Pasal 38

(1) Daftar Pemilih Sementara yang telah disempurnakan dan disahkan menjadi Daftar Pemilih
Tetap oleh KPU, diumumkan oleh PPU.
(2) Pemilih yang belum terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap, dapat mendaftarkan diri dalam
Daftar Pemilih Tambahan.
(3) Format Data Daftar Pemilih diatur dalam ketetapan KPU.
(4) Daftar Pemilih Tetap dipublikasikan kepada KM-ITS di HMJ-HMJ terkait.

Bagian Kedua
-14-

Pengadaan dan Distribusi Perlengkapan Pemilu

Pasal 39

(1) Pengadaan dan pendistribusian surat suara beserta perlengkapan pelaksanaan Pemilu
dilaksanakan secara tepat dan akurat.
(2) Pengadaan surat suara dicetak sesuai dengan kebutuhan surat suara.
(3) Jumlah surat suara yang dicetak ditetapkan oleh KPU.
(4) Pengadaan surat suara dan perlengkapan pelaksanaan Pemilu dilaksanakan oleh PPU.
(5) Tata cara pengamanan surat suara dan perlengkapan pelaksanaan Pemilu ditetapkan oleh
KPU.

Pasal 40

(1) Jumlah surat suara yang didistribusikan ditetapkan oleh KPU.


(2) Pendistribusian surat suara dilakukan oleh PPU.

Bagian Kedua
Kampanye

Pasal 41

(1) Dalam penyelenggaraan Pemilu, Peserta Pemilu berhak dan wajib melakukan kampanye.
(2) Kegiatan kampanye dilakukan dari oleh dan untuk anggota KM ITS.
(3) Dalam kampanye, mahasiswa ITS mempunyai kebebasan untuk menghadiri kampanye.
(4) Kegiatan kampanye yang dilakukan oleh Peserta Pemiludiakhiri 3 (tiga) hari sebelum
pemungutan suara.
(5) Pedoman dan jadwal pelaksanaan kampanye ditetapkan oleh KPU dengan memperhatikan
usul dari Peserta Pemilu.

Pasal 42

Kampanye dapat dilakukan melalui:


a. tatap muka;
b. penyebaran bahan kampanye kepada umum melalui media cetak dan elektronik;
c. pemasangan alat peraga di tempat umum;
d. debat; dan/atau
e. kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan.

Pasal 43

(1) Fungsionaris eksekutif, legislatif, dan yudikatif KM ITS memberikan kesempatan yang sama
kepada Peserta Pemilu untuk melaksanakan kampanye.
(2) KPU menetapkan lokasi pemasangan alat peraga kampanye dengan mempertimbangkan
etika, estetika, kebersihan, dan keindahan lokasi pemasangan.
(3) Pemasangan alat peraga kampanye pada tempat-tempat milik orang/pihak lain harus seizin
-15-

pemilik tempat tersebut.


(4) Alat kampanye harus sudah dibersihkan paling lambat 3 (tiga) hari sebelum pemungutan
suara.
(5) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan Pasal 43 ayat (1) sampai ayat (4) ditentukan oleh
KPU.

Pasal 44

(1) Dalam kampanye, peserta Pemilu dan TSK dilarang:


a. menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, dan ideologi Peserta Pemilu lain;
b. lokasi kampanye di luar kampus ITS;
c. menghasut atau mengadu domba perseorangan, kelompok-kelompok mahasiswa, dan/atau
Peserta Pemilu yang lain;
d. mengganggu ketertiban, kenyamanan dan keamanan kampus;
e. mengancam untuk melakukan kekerasan atau menganjurkan penggunaan kekerasan
kepada seseorang atau sekelompok mahasiswa dan/atau Peserta Pemilu yang lain;
f. merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye Peserta Pemilu yang lain;
g. menggunakan fasilitas eksekutif, legislatif, dan yudikatif, fasilitas ibadah, fasilitas
perkuliahan, maupun forum ilmiah dan keagamaan kecuali difasilitasi oleh KPU;
h. melakukan hal-hal yang melanggar kesusilaan; dan/atau
i. mengajak untuk tidak mendukung kelancaran pelaksanaan Pemilu.
(2) Ketentuan lebih lanjut tentang pemberian sanksi terhadap pelanggaran ketentuan Pasal 44
ayat (1) ditentukan oleh KPU.

Pasal 45

(1) Dalam melaksanakan kampanye, Peserta Pemilu berhak memiliki TSK.


(2) TSK harus didaftarkan kepada KPU.
(3) TSK merupakan tanggung jawab dari calon Peserta Pemilu yang bersangkutan.
(4) Ketentuan lebih lanjut tentang TSK ditentukan oleh KPU.

Bagian Ketiga
Pemungutan Suara

Pasal 46

(1) Pemungutan suara Pemilu untuk calon anggota DPM ITS dan calon Presiden BEM ITS
diselenggarakan serentak di seluruh distrik pemilihan.
(2) Hari, tanggal, dan waktu pemungutan suara untuk seluruh distrik pemilihan ditetapkan oleh
KPU.

Pasal 47

(1) Untuk memberikan suara dalam Pemilu, dibuat surat suara Pemilu calon anggota DPM ITS
dan surat suara calon Presiden BEM ITS.
(2) Jumlah, jenis, bentuk, isi ukuran dan warna surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
-16-

ditentukan oleh KPU.

Pasal 48

(1) Jumlah surat suara yang disediakan di setiap distrik pemilihan adalah sama dengan jumlah
pemilih yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap ditambah 5% (lima persen) dari Daftar
Pemilih Tetap.
(2) Tambahan surat suara sebagaimana dimaksud pada Pasal 48 ayat (1) digunakan sebagai
cadangan untuk mengganti kartu suara yang rusak sebelum atau pada saat pemungutan suara
dan/atau diperuntukkan bagi pemilih yang terdaftar pada Daftar Pemilih Tambahan.
(3) Penggunaan surat suara tambahan sebagaimana dimaksud pada Pasal 48 ayat (2) dibuatkan
berita acara.
(4) Berita acara sebagaimana dimaksud pada Pasal 48 ayat (3) harus ditandatangani oleh Ketua
KPPS dan Saksi yang hadir yang formatnya ditentukan oleh PPU.

Pasal 49

(1) Pemungutan suara dilakukan di TPS pada hari pemungutan suara.


(2) TPS sebagaimana dimaksud pada Pasal 49 ayat (1) ditentukan di tempat yang mudah
terjangkau dan strategis serta menjamin pemilih memberikan suaranya secara langsung,
umum, bebas, dan rahasia.
(3) Jumlah, lokasi, bentuk, dan tata letak TPS ditentukan oleh PPU sedemikian rupa sehingga
pemungutan suara dapat berjalan dengan mudah dan lancar.

Pasal 50

(1) Untuk keperluan pemungutan suara dalam pemilihan anggota DPM ITS dan Presiden BEM
ITS disediakan kotak suara untuk tempat surat suara yang digunakan pemilih.
(2) Jumlah, bahan, bentuk, ukuran, dan warna kotak suara sebagaimana dimaksud pada Pasal 50
ayat (1) ditentukan oleh PPU.

Pasal 51

Tata cara pemberian dan pemungutan suara lebih lanjut ditentukan oleh KPU.

Pasal 52

(1) Sebelum melaksanakan pemungutan suara, KPPS melakukan:


a. pembukaan kotak suara;
b. pengeluaran seluruh isi kotak suara;
c. pengidentifikasian jenis dokumen dan peralatan; dan
d. penghitungan setiap jenis dokumen dan peralatan.
(2) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dihadiri oleh Peserta Pemilu,
Panwaslu, Pemantau Pemilu, Saksi, dan/atau pemilih.
(3) Kegiatan KPPS sebagaimana dimaksud pada Pasal 52 ayat (1) dibuatkan berita acara yang
ditandatangani oleh Saksi.
-17-

Pasal 53

(1) Setelah melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1), KPPS
memberikan penjelasan mengenai tata cara pemungutan suara.
(2) Apabila menerima surat suara yang ternyata rusak, pemilih dapat meminta surat suara
pengganti kepada KPPS, kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya 1 (satu)
kali.
(3) Apabila terjadi kekeliruan dalam memberikan suaranya, pemilih dapat meminta surat suara
pengganti kepada KPPS kemudian KPPS memberikan surat suara pengganti hanya 1 (satu)
kali.
(4) Setiap ditemukannya kerusakan dan penggantian pada surat suara, KPPS wajib membuat
berita acara.

Pasal 54

(1) Pemilih yang telah memberikan suara di TPS diberi tanda khusus oleh KPPS.
(2) Tanda khusus sebagaimana dimaksud pada Pasal 54 ayat (1) ditentukan oleh PPU.

Pasal 55

Pemungutan suara dinyatakan sah apabila jumlah suara sah lebih banyak dari jumlah surat suara
tidak sah.

Pasal 56

Teknis pelaksanaan tentang ketentuan surat suara diatur lanjut oleh KPU.

Bagian Keempat
Penghitungan Suara

Pasal 57

(1) Penghitungan suara di TPS dilakukan oleh KPPS setelah pemungutan suara berakhir per hari
per distrik.
(2) Sebelum penghitungan suara dimulai, KPPS menghitung:
a. jumlah pemilih yang memberikan suara berdasarkan salinan Daftar Pemilih Tetap untuk
TPS;
b. jumlah surat suara yang tidak terpakai; dan
c. jumlah surat suara yang dikembalikan oleh pemilih karena rusak atau keliru dicoblos.
(3) Penggunaan surat suara tambahan dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Ketua
KPPS dan anggotanya serta dapat ditandatangani oleh Saksi.
(4) Penghitungan suara dilakukan dan selesai di TPS oleh KPPS dan dihadiri oleh Saksi, Peserta
Pemilu, Panwaslu, Pemantau Pemilu, dan anggota KM ITS.
(5) Saksi harus membawa surat mandat dari Peserta Pemilu yang bersangkutan dan
menyerahkannya kepada Ketua KPPS.
-18-

(6) Penghitungan suara dilakukan dengan cara yang memungkinkan Saksi, Peserta Pemilu,
Panwaslu, Pemantau, dan anggota KM ITS yang hadir dapat menyaksikan secara jelas
penghitungan suara.
(7) Anggota KM ITS dan Peserta Pemilu melalui Saksi yang hadir dapat mengajukan keberatan
terhadap jalannya penghitungan suara oleh KPPS apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak
sesuai peraturan perudang-undangan.
(8) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh anggota KM ITS atau Saksi sebagaimana dimaksud
pada Pasal 57 ayat (7), KPPS seketika itu juga melakukan pembetulan.
(9) Tata cara pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud pada Pasal 57 ayat (8), ditentukan
lebih lanjut oleh KPU.
(10)Segera setelah selesai penghitungan suara di TPS, KPPS membuat berita acara yang
ditandatangani oleh Ketua KPPS dan anggotanya serta dapat ditandatangani oleh Saksi yang
hadir.
(11)KPPS memberikan 1 (satu) eksemplar salinan berita acara dan sertifikat hasil perhitungan
suara di TPS kepada Saksi yang hadir.
(12)KPPS menyerahkan berita acara, surat suara, sertifikat hasil perhitungan suara,dan alat
kelengkapan administrasi pemungutan dan penghitungan suara kepada PPU segera setelah
penghitungan suara selesai.

Pasal 58

(1) Setelah menerima berita acara dan sertifikat hasil perhitungan suara dari KPPS, PPU
membuat berita acara penerimaan dan melakukan rekapitulasi jumlah suara dan dapat
dihadiri Saksi, Peserta Pemilu, Panwaslu, Pemantau Pemilu, dan anggota KM ITS.
(2) Anggota KM ITS dan Peserta Pemilu melalui Saksi yang hadir dapat mengajukan keberatan
terhadap jalannya penghitungan suara oleh PPU apabila ternyata terdapat hal-hal yang tidak
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(3) Dalam hal keberatan yang diajukan oleh anggota KM ITS atau Saksi sebagaimana yang
dimaksud pada Pasal 58 ayat (2) dapat diterima, PPU seketika itu juga dapat mengadakan
pembetulan.
(4) Tata cara pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud pada Pasal 58 ayat (3) ditentukan
lebih lanjut oleh KPU.
(5) Segera setelah selesai menerima hasil penghitungan suara dari semua distrik pemilihan, PPU
membuat lembar berita acara, lembar kesaksian, dan sertifikat hasil penghitungan suara yang
ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris PPU serta para Saksi yang hadir.
(6) Saksi berhak meminta berita acara, lembar kesaksian, dan sertifikat hasil perhitungan suara
di semua distrik pemilihan kepada KPU.

Pasal 59

(1) Penghitungan suara untuk menentukan perolehan jumlah suara calon anggota DPM ITS
didasarkan atas keseluruhan hasil suara yang telah diperoleh calon anggota DPM ITS di
distrik pemilihan.
(2) Penghitungan suara untuk menentukan perolehan jumlah suara calon Presiden BEM ITS
didasarkan atas keseluruhan hasil suara yang telah diperoleh calon Presiden BEM ITS di
seluruh distrik pemilihan.
-19-

Pasal 60

Format berita acara lembar kesaksian dan sertifikat hasil perhitungan suara di TPS dan di semua
distrik pemilihan sebagaimana dimaksud pada Pasal 57 dan Pasal 58 ditentukan oleh PPU.

Bagian Kelima
Penetapan dan Pengumuman Hasil Pemilu

Pasal 61

(1) Berdasarkan sertifikat hasil penghitungan suara yang disampaikan KPPS dan PPU, KPU
menetapkan hasil penghitungan suara Pemilu di seluruh distrik pemilihan.
(2) Penetapan keseluruhan hasil penghitungan suara yang dimaksud pada Pasal 61 ayat (1)
dituangkan dalam berita acara dan sertifikat hasil penghitungan suara yang ditandatangani
sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga) anggota KPU.
(3) Format berita acara dan sertifikat hasil penghitungan yang dimaksud pada Pasal 61 ayat (2)
ditetapkan oleh KPU.

Pasal 62

(1) Calon anggota DPM ITS ditetapkan oleh KPU sebagai calon terpilih anggota DPM ITS jika:
a. sedikitnya 30% (tiga puluh persen) pemilih di distrik menggunakan hak pilihnya;
b. mendapatkan suara paling sedikit 10% (sepuluh persen) dari jumlah pemilih di distrik;
dan
c. mendapatkan suara terbanyak pertama dan/atau kedua dalam Pemilu sesuai dengan
kuota distrik.
(2) Calon Presiden BEM ITS ditetapkan oleh KPU sebagai calon terpilih Presiden BEM ITS
jika:
a. sedikitnya 30% (tiga puluh persen) pemilih menggunakan hak pilihnya;
b. mendapatkan suara paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah pemilih; dan
c. mendapatkan suara terbanyak pertama dalam Pemilu.
(3) Dalam hal ketentuan pada Pasal 62 ayat (2) huruf a dan/atau huruf b tidak terpenuhi,
diadakan Pemilu putaran kedua.
(4) Tahapan pelaksanaan dan ketentuan lain yang perlu dilaksanakan dalam Pemilu putaran
kedua untuk mendukung terpenuhinya ketentuan pada Pasal 62 ayat (2) huruf adan/atau
huruf b diatur oleh Kongres ITS.

Pasal 63

(1) Pengumuman hasil pemilihan anggota DPM ITS dan Presiden BEM ITS dilakukan oleh
KPU setelah disahkan oleh Presiden BEM ITS dan fatwa dari MM ITS.
(2) Pengumuman hasil pemilihan anggota DPM ITS dan Presiden BEM ITS sebagaimana
dimaksud pada Pasal 63 ayat (1), dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari setelah disahkan
oleh Presiden BEM ITS dan mendapatkan fatwa dari MM ITS.

Pasal 64
-20-

(1) Pemberitahuan kepada calon terpilih Peserta Pemilu dilakukan oleh KPU.
(2) Pemberitahuan kepada calon terpilih Peserta Pemilu sebagaimana dimaksud pada Pasal 64
ayat (1), dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari setelah hasil Pemilu disahkan Presiden BEM
ITS dan fatwa dari MM ITS.

BAB X
PENGULANGAN PEMUNGUTAN SUARA

Pasal 65

Apabila di suatu tempat di dalam suatu distrik pemilihan sesudah diadakan penelitian dan
pemeriksaan yang ternyata terbukti terjadi pelanggaran Undang-undang, ketetapan KPU, dan/atau
keadaan darurat diadakan pemungutan suara ulang di distrik yang bersangkutan dengan
persetujuan KPU.

Pasal 66

(1) Apabila terdapat lebih dari satu calon anggota DPM ITS yang memperoleh suara terbanyak
maka diadakan pengulangan pemungutan suara pada distrik yang bersangkutan untuk
memilih calon anggota DPM ITS.
(2) Pengulangan pemungutan suara sebagaimana dimaksud pada Pasal 66 ayat (1) hanya
dilakukan kepada pemegang suara terbanyak yang memiliki jumlah suara sama.
(3) Pasal 66 ayat (1) dan (2) berlaku apabila kuota anggota DPM pada distrik tersebut belum
terpenuhi.

Pasal 67

(1) Jika terdapat lebih dari 1 (satu) calon Presiden BEM ITS yang memperoleh suara terbanyak,
diadakan pengulangan pemungutan suara di seluruh distrik pemilihan.
(2) Pengulangan pemungutan suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan
kepada pemegang suara terbanyak yang memiliki jumlah suara sama.

Pasal 68

Apabila di suatu tempat dalam suatu distrik pemilihan pada waktu yang telah ditentukan tidak
dapat diselenggarakan Pemilu atau penyelenggaraannya terhenti disebabkan oleh keadaan yang
memaksa maka sesudah keadaan memungkinkan segera dicarikan waktu pengganti untuk
dilaksanakan Pemilu lanjutan di tempat yang sama dengan memperhatikan batas waktu yang
telah ditetapkan oleh KPU.

Pasal 69

Pelaksanaan pemungutan suara ulang dilakukan selambat–lambatnya 7 (tujuh) hari sejak


pemungutan suara berakhir.
-21-

BAB XI
SANKSI

Pasal 70

Sanksi bisa diberikan jika:


a. terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang Pemilu atau peraturan lain yang telah disahkan;
b. ada 2 (dua) orang atau lebih sebagai Saksi yang dapat dihadirkan atas pelanggaran yang
terjadi; dan
c. ada bukti pelanggaran.

Pasal 71

Sanksi yang diberikan kepada Peserta Pemilu berupa denda, pernyataan telah melakukan
pelanggaran yang dipublikasikan di seluruh wilayah ITS, dan/atau pencabutan hak pilih Peserta
Pemilu.
Pasal 72

Penentuan sanksi dilakukan oleh KPU pada surat ketetapan KPU.

Pasal 73

(1) Sanksi atas pelanggaran yang dilakukan oleh TSK dibebankan pada Peserta Pemilu yang
bersangkutan sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan oleh KPU.
(2) Sanksi atas pelanggaran oleh simpatisan akan ditindak sesuai dengan mekanisme yang
ditetapkan oleh KPU.

Pasal 74

Barang siapa dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar mengenai diri sendiri atau
orang lain, meniru atau memalsukan surat dan melanggar Pasal–Pasal menurut suatu aturan
dalam undang–undang ini yang diperlukan untuk menjalankan suatu perbuatan dalam Pemilu
dapat dicabut haknya dalam Pemilu sebagai pemilih dan/atau dipilih oleh KPU.

BAB XII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 75

Petunjuk pelaksanaan Pemilu dibuat dan ditetapkan oleh KPU dengan mengacu pada tata aturan
perundang-undang yang berlaku di KM ITS.

Pasal 76

Segala sesuatu yang belum diatur didalam undang-undang diatur kemudian oleh KPU.

Pasal 77
-22-

Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, maka Undang-Undang lain yang mengatur
Pemilihan Umum yang diberlakukan sebelum disahkannya Undang-Undang ini dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 78

Undang-Undang ini mulai berlaku sejak disahkannya.

Disahkan di Surabaya
pada tanggal 7 Agustus 2015

PRESIDEN BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA


INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

ttd

IMRAN IBNU FAJRI


NRP 4111 100 087
-23-

PENJELASAN ATAS
UNDANG – UNDANG
KELUARGA MAHASISWA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
NOMOR 1 TAHUN 2015

TENTANG

PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN MAHASISWA ITS DAN


PRESIDEN BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA ITS

Pasal 1
Cukup jelas

Pasal 2
Huruf a
Yang dimaksud dengan “langsung” adalah setiap pemilih yang memenuhi syarat
menggunakan hak pilihnya secara langsung sesuai kehendak hati nuraninya, tidak
diwakilkan.
Hurut b
Pada dasarnya, proses pemilihan merupakan hak bagi semua anggota KM ITS
yang memenuhi syarat sebagai bentuk kedaulatan. Pemilihan yang bersifat umum
mengandung makna menjamin kesempatan seluruh anggota KM ITS untuk
menggunakan hak pilih tanpa diskriminasi berdasarkan suku, agama, ras,
golongan, jenis kelamin, dan status sosial.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “bebas” adalah setiap anggota KM ITS yang berhak
memilih, bebas menentukan pilihannya tanpa paksaan dan tekanan dari siapapun.
Huruf d
Yang dimaksud dengan “rahasia” adalah dalam memberikan suaranya, pemilih
dijamin bahwa pilihannya tidak akan diketahui oleh pihak manapun dan dengan
jalan apapun.
Huruf e
Yang dimaksud dengan “jujur” adalah sikap dan tindakan jujur sesuai kebenaran
dan hati nurani yang wajib dimiliki oleh setiap penyelenggara pemilu, pengawas
pemilu, pemantau pemilu, pemilih, dan semua pihak yang terkait.
Huruf f
Yang dimaksud dengan “adil” adalah setiap pemilih dan peserta pemilu mendapat
perlakuan sama serta bebas dari kecurangan pihak manapun.
-24-

Huruf g
Yang dimaksud dengan “transparan” adalah proses dan hasil pemilihan dapat
diketahui oleh semua pihak.
Huruf h
Yang dimaksud dengan “rasional” adalah memberikan pendidikan politik untuk
menciptakan rasionalitas pemilihnya.
Huruf i
Yang dimaksud dengan “proporsional” adalah perangkat – perangkat yang ada
dalam pemilu diharuskan bekerja sesuai dengan tugas dan wewenang masing –
masing.
Pasal 3
Cukup jelas

Pasal 4
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “sistem distrik kuota” adalah suatu sistem pemilu dimana
masing – masing wilayah (distrik) memiliki 1 (satu) atau 2 (dua) kursi berdasarkan
jumlah mahasiswa di distrik pemilihan.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “sistem proporsional” adalah sistem pemilu yang meliputi
seluruh anggota KM ITS dimana jumlah minimal yang berpartisipasi telah
ditentukan dalam Undang – Undang.
Yang dimaksud dengan “sistem rasional” adalah sistem pemilu yang memberikan
pendidikan politik untuk menciptakan rasionalitas pemilihnya.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “serentak” adalah pelaksanaan pemilihan umum dilakukan
dalam waktu yang bersamaan.
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas

Pasal 5
Cukup jelas

Pasal 6
Ayat (1)
Distrik yang berhak mengirimkan calon anggota DPM ITS merupakan jurusan
yang dinaungi ITS.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 7
-25-

Cukup jelas

Pasal 8
Cukup jelas

Pasal 9
Cukup jelas

Pasal 10
Cukup jelas

Pasal 11
Cukup jelas

Pasal 12
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “distrik pencalonan” adalah distrik yang berhak
mengirimkan calon anggota DPM ITS.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 13
Cukup jelas

Pasal 14
Cukup jelas

Pasal 15
Cukup jelas

Pasal 16
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “menyeluruh” adalah KPU sebagai penyelenggara
mencakup seluruh wilayah ITS.
Yang dimaksud dengan “sementara” adalah KPU dibentuk dan bekerja hanya pada
waktu pemilu diadakan.
Yang dimaksud dengan “mandiri” adalah KPU terbebas dari pengaruh pihak
manapun, disertai dengn tanggung jawab dan transparansi kerja yang jelas namun
dalam hal pendanaan dibantu oleh BEM ITS.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 17
-26-

Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas
Ayat (8)
Cukup jelas
Ayat (9)
Yang dimaksud dengan “sekretariat” adalah tempat untuk berkantor termasuk
sarana pendukung berupa perlengkapan.

Pasal 18
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Cukup jelas
Huruf f
Cukup jelas
Huruf g
Yang dimaksud dengan “fungsionaris” adalah pengurus dalam suatu lembaga dan/
atau organisasi yang mengikatkan dirinya pada kewajiban – kewajiban tertentu.
Yang dimaksud dengan “organisasi eksternal” adalah seluruh organisasi di luar
KM ITS.

Pasal 19
Cukup jelas

Pasal 20
Huruf a
Yang dimaksud dengan “kode etik KPU” adalah peraturan yang dapat menjaga
integritas KPU.
Huruf b
-27-

Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Cukup jelas
Huruf f
Cukup jelas
Huruf g
Cukup jelas
Huruf h
Cukup jelas

Pasal 21
Cukup jelas

Pasal 22
Kode etik adalah peraturan yang dapat menjaga integritas KPU.

Pasal 23
Ayat (1)
Pendanaan KPU didapat dari anggaran BEM ITS karena BEM ITS merupakan
lembaga eksekutif tertinggi di KM ITS yang memiliki alur pendanaan yang jelas.
Sesuai Ketetapan Musyawarah Besar IV Mahasiswa ITS No.
01/TAP/MUBES/IX/2011 tentang Konstitusi Dasar Keluarga Mahasiswa ITS.
Keuangan KM ITS diperoleh dari usaha – usaha yang dianggap sah, halal, dan
tidak mengganggu independensi.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 24
Cukup jelas

Pasal 25
Cukup jelas

Pasal 26
Cukup jelas

Pasal 27
Cukup jelas

Pasal 28
Cukup jelas
-28-

Pasal 29
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Cukup jelas
Huruf f
Yang dimaksud dengan “keadaan memaksa atau darurat” adalah kejadian yang
menghilangkan dokumen pemilihan, seperti kerusuhan, bencana, dan lain – lain.

Pasal 30
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “pengawas pemilu independen” adalah perseorangan atau
sekelompok orang di luar panwaslu.
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 31
Cukup jelas

Pasal 32
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Cukup jelas
Huruf f
Yang dimaksud dengan “fungsionaris” adalah pengurus dalam suatu lembaga dan/
atau organisasi yang mengikatkan dirinya pada kewajiban – kewajiban tertentu.
Yang dimaksud dengan “organisasi eksternal” adalah seluruh organisasi di luar
KM ITS.
-29-

Pasal 33
Cukup jelas

Pasal 34
Cukup jelas

Pasal 35
Cukup jelas

Pasal 36
Cukup jelas

Pasal 37
Cukup jelas

Pasal 38
Cukup jelas

Pasal 39
Cukup jelas

Pasal 40
Cukup jelas

Pasal 41
Cukup jelas

Pasal 42
Cukup jelas

Pasal 43
Ayat (1)
Fungsionaris eksekutif meliputi Himpunan Mahasiswa Jurusan, Badan Eksekutif
Mahasiswa Fakultas, dan Badan Eksekutif Mahasiswa ITS.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas

Pasal 44
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas
-30-

Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Cukup jelas
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Cukup jelas
Huruf f
Yang dimaksud dengan “fasilitas” adalah inventaris, perlengkapan,
peralatan, dan dokumen yang dimiliki oleh lembaga yang disebutkan.
Huruf g
Cukup jelas
Huruf h
Cukup jelas
Huruf i
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 45
Cukup jelas

Pasal 46
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “serentak” adalah dilaksanakan dalam waktu yang
bersamaan.
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 47
Cukup jelas

Pasal 48
Cukup jelas

Pasal 49
Cukup jelas

Pasal 50
Cukup jelas

Pasal 51
Cukup jelas

Pasal 52
Cukup jelas
-31-

Pasal 53
Cukup jelas

Pasal 54
Cukup jelas

Pasal 55
Cukup jelas

Pasal 56
Cukup jelas

Pasal 57
Cukup jelas

Pasal 58
Cukup jelas

Pasal 59
Cukup jelas

Pasal 60
Cukup jelas

Pasal 61
Cukup jelas

Pasal 62
Cukup jelas

Pasal 63
Cukup jelas

Pasal 64
Cukup jelas

Pasal 65
Cukup jelas

Pasal 66
Cukup jelas

Pasal 67
Cukup jelas

Pasal 68
-32-

Cukup jelas

Pasal 69
Cukup jelas

Pasal 70
Huruf a
Yang dimaksud dengan “peraturan lain” adalah peraturan yang dibuat oleh KPU.
Huruf b
Cukup jelas

Pasal 71
Besarnya denda ditetapkan oleh KPU

Pasal 72
Cukup jelas

Pasal 73
Cukup jelas

Pasal 74
Cukup jelas

Pasal 75
Cukup jelas

Pasal 76
Cukup jelas

Pasal 77
Cukup jelas

Pasal 78
Cukup jelas