Anda di halaman 1dari 9

Rangkuman Mata Kuliah

Pengauditan II
Audit Siklus Penjualan dan Penagihan:
Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas Transaksi

Dosen Pengajar :
Drs. Hanung Triatmoko M.Si.,Ak.

Disusun Oleh :
Intan Ayu Melantika F0316049
Mada Ridhala F0316058
Mikhal Melanting Brilyantin F0316066

Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Sebelas Maret Surakarta
2018
A. Akun dan Kelas Transaksi dalam Siklus Penjualan serta Penagihan
(Asumsikan Perusahaan Dagang)
1. Penjualan
2. Pemerimaan kas
3. Retur dan pengurangan penjualan
4. Penghapusan piutang tak tertagih
5. Estimasi beban piutang tak tertagih

B. Fungsi Bisnis dalam Siklus dan Dokumen serta Catatan Terkait


Siklus penjualan dan penagihan melibatkan keputusan dan proses untuk mengalihkan
kepemilikan barang dan jasa ke pelanggan.
1. Pemrosesan Pesanan Pelanggan
Pesanan pelanggan adalah permintaan akan barang dagang yang diajukan oleh
pelanggan, yang sering kali diikuti dengan pembuatan pesanan penjualan, yaitu
dokumen untuk mengomunikasikan deskripsi, kuantitas, dan informasi tentang barang
yang dipesan.
2. Pemberian Kredit
Pihak berwenang harus menyetujui kredit bagi pelanggan yang akan melakukan
pembelian secara kredit. Praktik persetujuan kredit harus kuat, jika tidak, maka akan
menghasilkan piutang ragu-ragu dan piutang usaha yang tidak dapat tertagih.
3. Pengiriman Barang
Dokumen pengiriman, yang sering kali berupa bill of landing, sangat penting untuk
mengawali pengiriman barang. Bill of landing merupakan kontrak tertulis antara
pengirim dan penjual, berisi informasi mengenai deskripsi barang, kuantitas, dan data
lainnya.
4. Penagihan Pelanggan dan Pencatatan Penjualan
Dalam sebagian besar sistem, penagihan pelanggan mencakup :
a. Menyiapkan salinan faktur penjualan, merupakan metode untuk menunjukkan
jumlah penjualan dan tanggal jatuh tempo pembayaran yang harus dilunasi oleh
pelanggan.
b. Memperbarui file transaksi penjualan mencantumkan nama pelanggan, tanggal,
jumlah, klasifikasi akun, tenaga penjual, tingkat komisi, retur, dan pengurangan
penjualan.
c. Memperbarui file induk piutang usaha,
d. Memperbarui file induk buku besar umum untuk penjualan dan piutang usaha
Informasi di atas digunakan untuk membuat jurnal penjualan, yang nantinya bersamaan
dengan penerimaan kas dan kredit rupa-rupa, membuat neraca saldo piutang usaha.
5. Pemrosesan dan Pencatatan Penerimaan Kas
Pemrosesan dan pencatatan penerimaan kas meliputi penerimaan, penyetoran, dan
pencatatan kas yang mencakup uang tunai, cek, dan transfer dana elektronik. File yang
digunakan dalam proses ini, antara lain remittance advice merupakan dokumen yang
dikirimkan ke pelanggan dan dikembalikan ke penjual beserta uang pembayaran.
Kedua, apapbila seseorang yang menerima kas tidak memiliki tanggung jawab untuk
mencatat penjualan, piutang usaha atau kas, dan tidak memiliki akses ke catatan
akuntansi dapat membuat daftar, yaitu prelisting penerimaan kas. Terakhir, file
transaksi penerimaan kas yang dihasilkan komputer, biasanya mencantumkan semua
transaksi penerimaan kas selama satu periode.
6. Pemrosesan dan Pencatatan Retur dan Pengurangan Penjualan
Jika seorang pelanggan tidak puas dengan barang yang dibeli, maka penjual akan
menerima pengembalian (retur) barang atau memberikan potongan harga. Oleh karena
itu, penjual akan menerbitkan memo kredit yang mengindikasikan pengurangan jumlah
atau harga barang.
7. Penghapusan Piutang Usaha Tak Tertagih
Jika pelanggan sudah mengajukan kebangkrutan atau penagihan piutangnya diserahkan
kepada agen penagihan, maka dapat disimpulkan bahwa suatu jumlah tidak dapat
ditagih. Oleh karena itu, perusahaan harus menghapusnya dengan menggunakan
formulir otorisasi piutang tak tertagih.
8. Penyediaan Piutang Tak Tertagih
Perusahaan harus mecatat beban piutang tak tertagih sebesar jumlah yang diperkirakan
tidak dapat tertagih.

C. Metodologi Untuk Merancang Pengujian Pengendalian dan Pengujian


Substantif atas Transaksi Penjualan

1. Memahami Pengendalian Internal – Penjualan


Dalam memahami pengendalian internal, seorang auditor dapat menggunakan 3 cara
yaitu memahani flowchart, memberikan kuesioner, dan melaksanakan pengujian
penjualan walkthrough.
2. Menilai Risiko Pengendalian yang Direncanakan – Penjualan
Terdapat 4 langkah untuk menilai risiko pengendalian :
 Auditor memerlukan kerangka untuk menilai risiko pengendalian.
 Auditor harus mengidentifikasi kunci pengendalian internal dan kelemahannya
bagi penjualan.
 Setelah mengidentifikasi pengendalian dan kelemahannya maka auditor dapat
mengaitkannya dengan tujuan.
 Auditor menilai risiko pengendalian untuk setiap tujuan dengan mengevaluasi
pengendalian dan kelemahannya bagi setiap tujuan. Selain itu, menguji aktivitas
pengendalian untuk penjualan juga membantu dalam mengidentifikasi
pengendalian kunci dan kelemahannya, seperti pemisahan tugas yang memadai,
otoritas yang tepat, dokumen dan catatan yang memadai, dokumen yang telah
dipranomori, laporan bulanan, dan prosedur verifikasi internal.
3. Menentukan Luas Pengujian Pengendalian
Luas pengujian pengendalian dalam audit perisahaan nonpublik tergantung pada
keefektifan pengendalian dan sejauh mana auditor yakin bahwa pengujian itu dapat
diandalkan untuk mengurangi risiko ppengendalian.
4. Merancang Pengujian Pengendalian untuk Penjualan
Untuk setiap pengujian pengendalian harus dirancang untuk memverifikasi
keefektifannya. Dan dalam sebagian audit, relative mudah menentukan sifat pengujian
pengendalian dari sifat pengendalian tersebut. Ilustrasi perancangan pengujian
pengendalian untuk penjualan dapat dilihat pada Tabel 14-2.
5. Merancang Pengujian Substantif atas Transaksi Penjualan
Pengujian substantif atas transaksi sering menggunakan beberapa prosedur bagi setiap
audit tanpa memandang situasinya, sementara yang lainnya tergantung pada kelayaklan
pengendalian dan hasil pengujian pengendalian. Menyajikan prosedur pengujian
substantif atas transaksi berdasarkan tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi
penjualan. Adapun langkah pengujian substantif atas transaksi penjualan sesuai dengan
tujuan audit, yaitu :
 Mencatat penjualan yang terjadi,
 Transaksi penjualan yang ada telah dicatat,
 Arah pengujian,

 Penjualan dicatat dengan akurat,


 Transaksi penjualan dimasukkan dengan benar dalam file induk dan
diikhtisarkan dengan benar,
 Penjualan yang dicatat diklarifikasikan dengan benar, dan
 Penjualan dicatat pada tanggal yang benar.
6. Ikhtisar Metodologi Penjualan
Tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi (Tabel 14-2 kolom 1) berasal
dari kerangka kerja yang disajikan dengan setiap tujuan dipisahkan untuk
memfasilitasi penilaian risiko pengendalian yang lebih baik.
Pengendalian kunci yang ada (Tabel 14-2 kolom 2) berasal dari matriks risiko
pengendalian auditor. Rancangan pengendalian internal yang telah dibuat oleh
menejemen agar mencapai enam tujuan audit atas transaksi. Namun, apabila salah
satu tujuan audit tidak tercapai maka, memungkinkan salah saji yang terkait akan
meningkat tanpa memandang pengendalian untuk tujuan lainnya.
Pengujian pengendalian (Tabel 14-2 kolom 3) auditor merancang pengujian
pengendalian untuk menverifikasi keefektifannya.
Defisiensi (Tabel 14-2 kolom 4) defisiensi yang telah diidentifikasi oleh auditor
mengindikasikan tidak adanya pengendalian yang efektif.
Pengujian substantif atas transaksi (Tabel 14-2 kolom 5) pengujian ini akan
membantu auditor untuk menentukan apakah ada salah saji moneter dalam transaksi
penjualan.
7. Prosedur Audit Format Perancangan dan Kinerja
Prosedur-prosedur audit yang telah direncanakan akan membantu membuat program
audit yang efektif san efisien. Namun, tidak efisien apabila prosedur audit dilakukan
sesuai dengan format perancangan. Sehingga dapat dilakukan penggabungan program
audit format perancangan menjadi program audit format kinerja. Adapun hal-hal yang
akan terjadi jika penggabungan tersebut tercapai :
 Mengeliminasi prosedur duplikat
 Memastkan bahwa dokumen tertentu diperiksa
 Memungkinkan auditor melakukan prosedur yang lebih efektif.
D. Retur dan Pengurangan Penjualan
Tujuan dan metodologi audit pada retur dan pengurangan penjualan sama dengan tujuan
dan metologi audit atas transaksi. Untuk mengendalikan salah saji pada penjualan,
digambarkan dengan 2 berbedaan yaitu : materialitas dan penekanan pada tujuan
keterjadian.

E. Metodologi untuk Merancang Pengujian Pengendalian dan Pengujian


Substantif atas Transaksi Penerimaan Kas
Auditor menggunakan metodologi yang sama dengan transaksi penjualan untuk merancang
pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi penerimaan kas.
Berdasarkan tujuan audit yang berkaitan dengan transaski, auditor mengikuti proses
menentukan pengendalian internal kunci untuk setiap tujuan audit, merancang pengujian
pengendalian bagi setiap pengendalian yang digunakan untuk mendukung pengurangan
risiko pengendalian, dan merancang pengujian substantif atas transaksi untuk menguji
salah saji moneter bagi setiap tujuan audit.
1. Menentukan Apakah Kas yang Diterima Telah Dicatat
Auditor paling sulit mendeteksi jenis penggelapan kas yang terjadi sebelum kas dicatat
di jurnal penerimaan kas atau listing kas lainnya, utamanya apabila penjualan dan
penerimaan kas dicatat secara bersamaan.
2. Penyiapan Bukti Penerimaan Kas
Bukti penerimaan kas dalam prosedur audit bermanfaat untuk menguji apakah semua
penerimaan kas yang dicatat telah disetorkan dalam akun atau rekening bank. Pada
pengujian ini, total penerimaan kas yang dicatat dalam jurnal penerimaan kas selama
periode tertentu (misalnya, 1 bulan) akan direkonsiliasi dengan deposito atau setoran
aktual yang dilakukan ke bank selama periode yang sama. Nantinya, kemungkinan
keduanya terdapat perbedaan yang diakibatkan setoran dalam perjalanan (deposit in
transit) dan pos-pos lainnya, namun jumlahnya dapat direkonsiliasi dan dibandingkan.
3. Pengujian untuk Mengungkapkan Lapping Piutang Usaha
Lapping piutang usaha merupakan penundaan ayat jurnal penagihan piutang usaha
untuk menutupi kekurangan kas yang ada. Penggelapan ini dapat dideteksi dengan
membandingkan nama, jumlah, dan tanggal yang ditunjukkan pada remittance advice
dengan ayat jurnal penerimaan kas dan salinan slip setoran yang terkait.

F. Pengujian Audit untuk Menghapus Piutang Tak Tertagih


Pengendalian yang penting untuk mencegah penggelapan dengan menghapus piutang
usaha yang sudah ditagih adalah otorisasi yang tepat atas pengapusan piutang tak tertagih
harus diberikan oleh tingkat manajemen yang ditunjuk hanya setelah melalui penyelidikan
menyeluruh mengenai alasan pelanggan tidak mampu membayar.

G. Pengendalian Internal Tambahan atas Saldo Akun dan Penyajian serta


Pengungkapan
Pada siklus penjualan dan penagihan, kemungkinan besar akan mempengaruhi tujuan yang
terkait dengan saldo akun yaitu nilai yang dapat direalisasi, hak dan kewajiban, serta empat
tujuan penyajian dan pengungkapan. Pengendaliannya yaitu:
 Auditor menetapkan risiko tinggi untuk tujuan nilai realisasi yang melekat.
 Klien harus menetapkan beberapa pengendalian untuk mengurangi kemungkinan
piutang tak tertagih.
 Penyusunan neraca saldo piutang usaha direview dan ditindak lanjut selama umur
periodik oleh manajemen yang tepat.
 Kebijakan untuk menghapus piutang tak tertagih jika sudah tidak mungkin lagi
untuk ditagih.

H. Pengaruh Hasil Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas


Transaksi
Hasil dari pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap sisa audit, utamanya terhadap pengujian substantif atas
rincian saldo. Bagian dari audit yang paling dipengaruhi oleh pengujian pengendalian dan
pengujian substantif atas transaksi dalam siklus penjualan dan penagihan adalah saldo
piutang usaha, kas, biaya piutang tak tertagih, dan penyisihan untuk piutang tak tertagih.
Pengaruh yang paling signifikan dari hasil pengujian pengendalian dan pengujian substantif
atas transaksi dalam siklus penjualan dan penagihan adalah terhadap konfirmasi piutang
usaha, yaitu jenis konfirmasi, ukuran sampel, dan penetapan waktu pengujian.