Anda di halaman 1dari 3

INFEKSI SALURAN KENCING PADA IBU HAMIL DAPAT MENYEBABKAN

HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

Masa kehamilan adalah saat-saat yang rentan baik bagi ibu maupun bagi janin,
termasuk risiko infeksi. Penting mengetahui infeksi kehamilan yang sering terjadi serta cara
mencegahnya, agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilan dengan lancar dan melahirkan
bayi yang sehat. Salah satu permasalahan infeksi yang sering dialami oleh wanita hamil
adalah infeksi saluran kencing (ISK). Secara umum, wanita lebih rentan terkena ISK
dikarenakan struktur anatomi yang mendukung yaitu uretra yang pendek dan posisinya yang
berdampingan dengan vagina dan dekat anus. Disebutkan juga karena perubahan anatomi dan
fungsional dari kehamilan dapat meningkatkan risiko ISK, sekitar 2 sampai 7% wanita hamil
didapatkan bakteriuria asimptomatik (tanpa gejala), bakteri yang ditemukan sebagian besar
adalah Escherichia coli. Wanita hamil dengan bakteriuria asimptomatik (tanpa gejala) bila
tidak diterapi dengan tepat 25% dapat berkembang menjadi bakteriuria yang simptomatik
(dengan gejala) atau disebut dengan infeksi saluran kemih (ISK). Gejala yang ditimbulkan
pada ISK antara lain: demam, mengigil, nyeri perut bawah, nyeri saat atau akhir pengeluaran
kencing (BAK), rasa ingin BAK tapi saat BAK kencing sedikit yang keluar, sehingga sering
merasa tidak puas saat BAK.
Pada keadaan lingkungan fisiologis yang normal, saluran kemih dalam keadaan steril.
Mikroorganisme penyebab ISK biasanya berasal dari flora gastrointestinal (saluran
pencernaan) dari host (penjamu). Pada wanita hamil terjadi dilatasi uretral meningkatkan
risiko stasis urin dan refluks vesikouretral. Lebih lagi, glikosuria dan aminosiduria selama
kehamilan menyebabkan tumbuhnya bakteri akibat dari stasis urin. Perubahan ini dengan
uretra yang pendek dan sulitnya menjaga higienitas akibat semakin membesarnya kehamilan
semakin meningkatkan frekuensi ISK pada wanita hamil. Perubahan ini dimulai minggu
keenam kehamilan dan memuncak pada minggu ke 22-24 pada >90% wanita hamil.
Perubahan saluran kemih pada wanita hamil ini menjadi normal setelah 8 minggu kelahiran.
American College Obstetricians Gynaecologysta (ACOG) merekomendasikan bahwa
kultur urin harus diperiksa pada kunjungan antenatal pertama. Tepatnya, rekomendasi dari
US Preventive Services Task Force adalah untuk pemeriksaan kultur urin antara 12 dan 16
minggu kehamilan (rekomendasi A). Standar emas untuk mendeteksi bakteriuria (skrining
ISK) adalah kultur urin, tetapi tes ini mahal dan memakan waktu 24 hingga 48 jam untuk
mendapatkan hasil. Akurasi metode skrining cepat (misalnya, dipstick leukosit esterase,
dipstick nitrit, urinalisis, dan pewarnaan gram urin) dapat digunakan sebagai alternatif.
Untuk melakukan skrining ISK pada wanita hamil diperlukan sampel urin berupa urin
pancaran tengah dan ditampung di wadah steril yang dapat ditutup erat. Menurut
rekomendasi yang dikembangkan oleh IDSA (Infectious Diseases Society of America),
bakteriuria signifikan pada wanita asimtomatik (tanpa gejala) didefinisikan sebagai adanya
bakteri ≥105 CFU per ml dalam dua urin tengah atau urin supra pubik atau kateter steril ≥ 102
CFU/ml.
Kenapa ISK saat penting untuk kita ketahui terutama bagi wanita hamil? Ini
dikarenakan ISK pada kehamilan dapat berdampak buruk pada ibu dan janin, sehingga jika
tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang tepat akan meningkatkan
morbiditas dan mortalitas pada ibu dan anak. Salah satu komplikasi ISK yang berbahaya saat
kehamilan adalah terjadinya hipertensi pada ibu hamil.
Sebelum membahas lenih lanjut bagaimana ISK pada ibu hamil dapat menyebabkan
hipertensi dalah kehamilan, perlu diketahui bersama bahwa hipertensi dalam kehamilan
sebenarnya hal yang cukup umum terjadi. Sekitar 10 persen ibu hamil mengalami kondisi ini.
Dengan penanganan yang baik, hipertensi tidak akan berkembang atau membahayakan, dan
dapat hilang setelah kelahiran. Namun jika dibiarkan, hipertensi saat hamil bisa menyebabkan
preeklamsia yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah disertai adanya protein dalam
urine. Seorang wanita hamil dikatakan mengalami hipertensi dalam kehamilan jika tekanan
darahnya di atas 140/90 mmHg. Hipetensi gestasional (kehamilan diatas 20 minggu) akan
berubah diagnosis menjadi preeklampsia jika disertai dengan hasil pemeriksaan analisis urin
berupa proteinuria.
Preeklampsia (insidennya 3% dari total kehamilan) merupakan penyebab utama
mortalitas dan morbiditas pada ibu maternal dan perinatal, dimana insiden keseluruhan
berkisar 2-8% pada wanita nulipara (kehamilan anak pertama). Walaupun dunia ilmu
pengetahuan sudah berkembang pesat akan tetapi masih terdapat keterbatasan ilmu medis
dalam memprediksi atau mencegah terjadinya preeklampsia selama kehamilan. Etiologi
preeklampsia diketahui multifaktorial dimana melibatkan maternal dan plasenta, salah satu
bukti nyata yang mendasari terjadinya preeklampsia adalah adanya proses inflamasi yang
berperan sebagai patogenesis penyakit. Gangguan fungsi endotel vaskular akibat inflamasi
merupakan bukti nyata yang ditemukan pada wanita dengan riwayat preeklampsia. Perfusi
plasenta yang inadekuat adalah kunci terjadinya stimulus inflamasi pada preeklampsia.
ISK pada kehamilan berperan penting dalam kejadian preeklampsia, hal ini dikaitkan
dengan adanya trigger respon inflamasi sistemik pada ibu hamil. Sebuah metaanalisis studi
observasional menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara infeksi selama
kehamilan dengan kejadian preeklampsia, ditandai dengan odd ratio preeklampsia adalah
1.57 (95% CI 1.45-1.70) pada wanita dengan ISK selama hamil. Penelitian lain yang
dilakukan oleh Izadi dkk (2016) tentang Urinary Tract Infection as a Risk Factor of Severe
Preeclampsia menunjukkan bahwa ISK secara signifikan lebih sering terjadi pada wanita
hamil yang terkena preeklampsia berat dibandingkan dengan wanita hamil yang sehat.
Dengan demikian ISK dapat dijadikan sebagai faktor penentu untuk derajat keparahan
preeklampsia pada wanita hamil. Hasil serupa ditemukan dalam studi Paskah dkk serta studi
Rustveld dkk, mereka juga menyimpulkan bahwa kejadian ISK selama kehamilan dapat
meningkatkan risiko preeklampsia selama kehamilan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa masa kehamilan adalah waktu
yang rentan untuk seorang wanita mengalami infeksi terutama infeksi saluran kencing (ISK).
Dengan perubahan fisiologis dan anatomis tubuh wanita selama hamil resiko ISK meningkat
dibandingkan wanita pada umumnya. Komplikasi ISK pada wanita hamil diatas 20 minggu
yang tersering berupa hipertensi selama kehamilan. Wanita hamil dengan komorbid ISK
mengalami peningkatan risiko kejadian preeklampsia berat, oleh karena itu diagnosis dini dan
pemberian terapi segera dan memadai dianjurkan selama kehamilan untuk menghindari
komplikasi mortalitas ibu dan anak. Terima kasih 