Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bakteriologi merupakan ilmu yang mempelajari kehidupan dan klasifikasi
bakteri. Bakteriologi dapat dikatakan juga sebagai biologi bakteri. Di
dalamnya dipelajari struktur anatomi sel bakteri, klasifikasi, cara kerja sel
bakteri, interaksi antarsel bakteri, dan juga tanggapan bakteri terhadap
perubahan pada lingkungan hidupnya. Bakteriologi merupakan satu bagian
penting dalam mikrobiologi.
Bakteri berasal dari kata Latin bacterium (jamak, bacteria), adalah
kelompok terbanyak dari organisme hidup. Sehingga dalam kehidupan sehari-
hari kita sering kali berinteraksi dengan bakteri. Bakteri pertama kali
ditemukan oleh Anthony van Leeuwenhoek pada 1674 dengan menggunakan
mikroskop buatannya sendiri.
Media adalah suatu bahan atau susunan bahan yang terdiri dari nutrisi
atau zat-zat makanan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroba (bakteri).
Media pertumbuhan atau pembiakan diperlukan untuk mempelajari sifat
bakteri untuk dapat mengadakan identifikasi, determinasi, atau diferensiasi
jenis-jenis yang ditemukan.
Pentingnya mengisolasi suatu mikroba dari lingkungan kita seperti pada
makanan (subtrat padat), minuman (subtrar cair) atau pada diri kita sendiri
karena banyaknya mikroba / bakteri yang sulit untuk diamati atau dibedakan
secara langsung oleh panca indera. Sehingga dengan isolasi akan
mempermudah kita untuk melihat dan mengamati bentuk-bentuk
pertumbuhan mikroba pada beberapa medium yang berbeda-beda serta
melihat morfologi dari mikroba tersebut.
Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba
dengan mikroba lain yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba.
Hal ini dapa dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, karena
dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu koloni sel yang
tetap pada tempatnya. Bila digunakan media cair, sel-sel mikroba sulit

1
dipisahkan secara individu karena terlalu kecil dan tidak tetap tinggal
ditempatnya (Sutedjo, 1997).
Pembiakan biakan diperlukan untuk mempelajari sifat bakteri untuk dapat
mengadakan identifikasi, determinasi atau diferensiasi jenis-jenis yang
ditemukan. Pertumbuhan ketahanan bakteri tergantung pada pengaruh luar,
seperti makanan (nutrisi), atmosfer, suhu, lengas, konsentrasi ion hydrogen,
cahaya dan berbagai zat kimia yang dapat menghambat aun menumbuh.
Menurut kebiasannya, kebutuhan berbagai jenis bakteri itu berlainan, ada
yang dapat hidup dalam lingkungan yang laus dan ada pula yang hanya
terbatas pada lingkungan yang sempit terutama yang termaksud dalam
golongan yang hidup sebagai parasitb pada manuasi atau hewan, misalnya
gonokokus tidak hanya dalam hal makananynya tetapi juga suhu dan factor-
faktor lainnya harus diperhatikan untuk dapat tumbuh di laboratorium (Irianto
koes,2014)
Salah satu bakteri yang dapat hidup dalam lingkungan yang luas adalah
bakteri staphylococcus
Bakteri kelompok staphylococcus sp merupakan bakteri gram positif
yang dapat menyebabkan berbagai penyakit. Pada saat system imun menurun
maka bakteri ini akan masuk ke dalam tubuh baik melalui mulut,
inhalasi,maupun penetrasi kulit. Jika bakteri ini masuk ke dalam peredaran
darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya maka akan merusak organ-organ
tubuh tersebut dan menyebabkan berbagai penyakit. Misalnya Staphylococcus
aureus dapat menyebabkan penyakit infeksi pada folikel rambut dan kelenjar
keringat, meningitis, endocarditis, pyelonephritis, dan osteomyelitis (Entjang,
2003).
Untuk mengetahui spesies bakteri yang menyebabkan penyakit pada
manusia maka dilakukan suatu langkah identifikasi dan isolasi terhadap
specimen yang diperoleh dari tubuh manusia yang didiagnosa terinvasi oleh
bakteri. Specimen yang biasa digunakan sebagai bahan pemeriksaan dapat
berupa sputum, faeces dan sisa-sisa bahan makanan, eksudat atau pus dari
abses, dan darah. Pratikum kali ini dilakukan dengan mengambil sampel swab
nasofaring untuk mengidentifikasi bakteri stapylococcus.

2
B. Tujuan Praktikum
Untuk mengidentifikasi bakteri staphylococcus dalam sampel nanah
C. Manfaat Praktikum
Praktikan dapat mengetahui prosedur kerja dan bagaimana cara
pengambilan sampel yang baik dan benar

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Bakteri
Bakteri merupakan kelompok makhluk hidup yang berukuran sangat kecil,
yaitu bersel tunggal sehingga untuk melihatnya harus menggunakan bantuan
mikroskop. Bakteri termasuk golongan mikroba (jasad renik). Penyebaran
kehidupan bakteri di alam sangat luas yang dapat ditemukan di dalam tanah,
air, udara, bahkan dapat dijumpai pada organisme, baik yang masih hidup
maupun yang telah mati (Kistinnah dan Endang, 2009).
Antonie Van Leuwenhook (1632 –1723) adalah seorang berkebangsaan
Belanda, yang pertama kali berhasil melihat makhluk-makhluk kecil yang
dinamakan animalkulus yang saat ini dikenal sebagai bakteri. Istilah bakteri
berasal dari kata bakterion yang artinya batang kecil (Kistinnah dan Endang,
2009).
Tubuh bakteri yang sangat kecil dan cara hidup yang beraneka ragam
memungkinkan bakteri untuk hidup di mana saja sehingga bakteri dapat
ditemukan di mana-mana, misalnya, di dalam tanah, dalam air, dalam sisa-
sisa makhluk hidup, dalam tubuh manusia, bahkan dalam sebutir debu.
Luasnya distribusi bakteri ini menyebabkan bakteri sering disebut juga
dengan kosmopolit (Sulistyorini, 2009).
Bentuk bakteri sering digunakan sebagai salah satu dasar untuk
identifikasi bakteri. Karena ukuran bakteri sangat kecil, yaitu hanya beberapa
mikron (μ) yang setara dengan 0,001 mm dari yang terkecil kira-kira 1/10 μ –
100 μ maka untuk melihatnya harus menggunakan alat bantu mikroskop
(Kistinnah dan Endang, 2009).
B. Klasifikasi Bakteri
a. Berdasarkan Bentuk
Adapun bakteri yang diklasifikasikan menurut bentuk tubuhnya ialah
sebagai berikut (Firmansyah, dkk, 2009) :
1. Coccus (Bulat)
Bakteri coccus terdiri atas berbagai bentuk. Ada yang tersusun tunggal
(monococcus), tersusun berpasangan (diplobacillus), tersusun untaian

4
membentuk rantai (streptococcus), dan tersusun seperti buah anggur
(staphylococcus).
2. Basillus (Batang)
Bakteri bacillus memiliki bentuk yang beragam. Ada yang tersusun
tunggal atau satu (monobacillus), ada yang tersusun berpasangan atau
dua (diplobacillus), dan ada juga yang menyerupai untaian rantai
(streptobacillus).
3. Spirilium (Spiral)
Bakteri spirillum ada yang berbentuk koma, spiral, dan
spiroseta(spirochete). Bentuk spiroseta mirip dengan bentuk spiral,
hanya lebih berkelok dengan ujung yang lebih runcing. Contoh bakteri
berbentuk spirillum, Vibrio comma (bentuk koma), Spirillum sp.
(bentuk spiral), dan Spirochaeta palida (bentuk spiroseta).

Gambar II.I Bentuk Tubuh Bakteri


b. Berdasarkan Jumlah dan Kedudukan Flagel
Beberapa bakteri dilengkapi dengan flagela (tunggal: flagelum). Dengan
flagela memungkinkan bakteri menyebar di habitat baru, melakukan
migrasi menuju sumber nutrisi, atau meninggalkan lingkungan yang tidak
memungkinkan. Namun, terdapat beberapa bakteri yang bergerak tanpa
flagela. Bakteri tanpa flagela bergerak dengan cara berguling dan
mengalir terbawa arus. Jumlah dan letak flagela pada bakteri berbeda-
beda. Berdasarkan hal tersebut, bakteri dibedakan sebagai berikut
(Ariebowo dan Fictor, 2009).

5
1. Monotrik, terdapat satu flagela pada salah satu ujung bakteri.
2. Amfitrik, terdapat flagela satu ataupun banyak pada kedua ujung
bakteri.
3. Lofotrik, terdapat banyak flagela pada salah satu ujung bakteri.
4. Peritrik, terdapat banyak flagela di seluruh tubuh bakteri.
c. Berdasarkan Cara Memperoleh Makanan
Adapun bakteri yang diklasifikasikan menurut cara memperoleh
makanannya ialah sebagai berikut (Subardi, dkk, 2009).
1. Bakteri Autotrof
Bakteri jenis ini dapat menyusun makanan untuk kebutuhannya
sendiri dengan cara mensintesis zat-zat anorganik menjadi zat organik.
Jika energi untuk penyusunan tersebut bersumber dari cahaya
matahari maka bakteri tersebut dikenal dengan sebutan fotoautotrof
dan apabila energi untuk penyusunan zat organik berasal dari hasil
reaksi kimia disebut kemoautotrof
2. Bakteri Heterotrof
Bakteri tipe ini tidak dapat mengubah zat anorganik menjadi zat
organik, sehingga untuk keperluan makannya bergantung pada zat
organik yang ada di sekitarnya. Bakteri heterotrof dapat dibedakan
menjadi 2 macam, yaitu:Parasit, bakteri yang kebutuhan zat makanan
tergantung pada organisme lain.
a) Saprofit, bakteri yang memperoleh makanan dari sisa-sisa zat
organik. Bakteri jenis ini memiliki kemampuan untuk merombak
zat organik menjadi zat anorganik.
d. Berdasaran Kebutuhan Akan Oksigen
Adapun bakteri yang diklasifikasikan kebutuhannya akan oksigen ialah
sebagai berikut (Sulistyorini, 2009).
1. Bakteri Aerob
Bakteri aerob adalah bakteri yang hidupnya memerlukan
oksigenbebas. Bakteri yang hidup secara aerob dapat memecah gula
menjadi air, CO2, dan energi. Bakteri aerob secara obligat adalah

6
bakteri yang mutlak memerlukan oksigen bebas dalam hidupnya,
misalnya bakteri Nitrosomonas.
2. Bakteri Anaerob
Bakteri anaerob adalah bakteri yang dapat hidup tanpa oksigenbebas,
misalnya, bakteri asam susu, bakteri Lactobacillus bulgaricus, dan
Clostridium tetani. Akan tetapi, jika bakteri tersebut dapat hidup tanpa
kebutuhan oksigen secara mutlak atau dapat hidup tanpa adanya
oksigen, bakteri itu disebut bakteri anaerob fakultatif.
C. Pewarnaan Gram
Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode empiris untuk
membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram positif
dan gram negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka.
Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark Hans
Christian Gram (1853–1938) yang mengembangkan teknik ini pada tahun
1884 untuk membedakan antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella
pneumoniae(Suwarno, 2009).
Bakteri Gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat
warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram positif akan
mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol,
sementara bakteri gram negatif tidak. Pada uji pewarnaan Gram, suatu
pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang
membuat semua bakteri gram negatif menjadi berwarna merah atau merah
muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini
berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka (Suwarno, 2009).
1. Gram Positif
Bakteri gram positif adalah bakteri yang mempertahankan zat warna metil
ungu sewaktu proses pewarnaan Gram. Bakteri jenis ini akan berwarna
biru atau ungu di bawah mikroskop, sedangkan bakteri gram negative akan
berwarna merah muda. Perbedaan klasifikasi antara kedua jenis bakteri ini
terutama didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel bakteri. Bakteri
ini mempunyai dinding sel yang tebal sehingga pewarna ungu tidak akan
larut ketika dicuci dengan alkohol atau aseton (Aditya,2010).

7
2. Gram Negatif
Bakteri gram negative adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat
warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri yang dinding
selnya tipis ini selanjutnya diwarnai dengan safranin atau pewarna
merah(Aditya,2010).
D. Staphylococcus Aureus
Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram Positif, tidak bergerak,
tidak berspora dan mampu membentuk kapsul. (Boyd, 1980), berbentuk
kokus dan tersusun seperti buah anggur (Todar, 2002).
Staphylococcus aureus (S. aureus) adalah bakteri gram positif yang
menghasilkan pigmen kuning, bersifat aerob fakultatif, tidak menghasilkan
spora dan tidak motil, umumnya tumbuh berpasangan maupun berkelompok,
dengan diameter sekitar 0,8-1,0 µm. S. aureus tumbuh dengan optimum pada
suhu 37°C dengan waktu pembelahan 0,47 jam. S. aureus merupakan
mikroflora normal manusia. Bakteri ini biasanya terdapat pada saluran
pernapasan atas dan kulit. Keberadaan S. aureus pada saluran pernapasan atas
dan kulit pada individu jarang menyebabkan penyakit, individu sehat
biasanya hanya berperan sebagai karier. Infeksi serius akan terjadi ketika
resistensi inang melemah karena adanya perubahan hormon; adanya penyakit,
luka, atau perlakuan menggunakan steroid atau obat lain yang memengaruhi
imunitas sehingga terjadi pelemahan inang.
Staphylococcus aureus hidup sebagai saprofit di dalam saluran-saluran
pengeluaran lendir dari tubuh manusia dan hewan-hewan seperti hidung,
mulut dan tenggorokan dan dapat dikeluarkan pada waktu batuk atau bersin.
Bakteri ini juga sering terdapat pada pori-pori dan permukaan kulit, kelenjar
keringat dan saluran usus. Selain dapat menyebabkan intoksikasi, S. aureus
juga dapat menyebabkan bermacam-macam infeksi seperti jerawat, bisul,
meningitis, osteomielitis, pneumonia dan mastitis pada manusia dan hewan.
(Supardi dan Sukamto, 1999)
Infeksi S. aureus diasosiasikan dengan beberapa kondisi patologi,
diantaranya bisul, jerawat, pneumonia, meningitis, dan arthrititsSebagian

8
besar penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini memproduksi nanah, oleh
karena itu bakteri ini disebut piogenik.S. aureus merupakan patogen utama
bagi manusia. Hampir setiap orang akan mengalami beberapa tipe infeksi
Staphylococcus aureus sepanjang hidupnyaS. aureus adalah penyebab utama
infeksi nosokomial pada pasien luka pasca operasi dan infeksi yang timbul
akibat penggunaan peralatan medis yang tidak steril. (Jawetz, dkk., 2001).
E. Klasifikasi Bakteri S. Aureus
Klasifikasi bakteri S. aureus, menurut Bergey (1998) ialah :
Kingdom : Monera
Divisio : Firmicutes
Class : Bacilli
Order : Bacillales
Family : staphylococcaeceae
Genus : Staphilococcus
Species : Staphilococcus aureus
F. Pus (Nanah)
Pus (nanah) merupakan hasil proses peradangan akibat masuknya infeksi
bakteri. Penyebab pus adalah bakteri Staphylococcus aureus.Pada kondisi
normal pus atau sering dikenal dengan nanah tidak ada. Adanya nanah ini
disebabkan oleh infeksi kuman pyogenik (kuman pembentuk nanah).
Terbentuknya nanah ini diawali adanya bakteri yang menyusup ke dalam
jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi. Sebagian sel mati dan hancur,
meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel
darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi,
bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri, sel darah
putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah,
yang mengisi rongga tersebut (Underwood, 1999).
G. Media BHIB (Brain Heart Infusion Broth)
Brain Heart Infusion Broth (BHIB) adalah medium cair untuk
berbagaimikroorganisme baik yang aerob atau anaerob dari bakteri, jamur,
dan ragi. BHIB merupakanmodifikasi dari media yang dikembangkan oleh
Rosenow dan Hayden. Tambahan otak sapitelah menggantikan jaringan otak

9
dan dinatrium fosfat juga menggantikan buffer kalsiumkarbonat sehingga
cocok untuk kultur Streptococcus, Pneumococcus, dan
Meningcoccus.Medium ini sangat fleksibel dan mendukung pertumbuhan
mikroorganisme dan medium cairharus digunakan pada hari yang sama
persiapan agar pertumbuhan mikroorganisme menjadioptimal.(Neel, 1998).
Media BHIB merupakan media pemupuk atau media Enrichment/ media
yang diperkaya, yang berbentuk cair yang digunakan berisi bahan kimia yang
dapat menghambat beberapa flora normal dan memungkinkan pertumbuhan
bakteri pathogen yang mungkin terdapat dalam jumlah kecil dalam spesimen,
sehingga bakteri mudah tumbuh dengan baik dan diperbanyak (Neel, 1998).

10
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat
1. Bunsen
2. Mikroskop
3. Kawat ose
4. Objek glass
B. Bahan
1. Media BHIB
2. Media MSA
3. Media Na
4. TSIA, Gula-gula, Urea
5. Sim, Mr/Vp, TSIA, Media Gula gula, Urea
C. Cara Kerja
1. Uji preparat langsung
Pemeriksaan mikroskopik dengan pengecatan gram dari bahan
pemeriksaan (direct-preparat), hasilnya:
a. Gram positif coccus
b. Susunan bergerombol seperti buah anggur
2. Pembiakan
Pembenihan yang dipakai:
a. Agar darah
b. TSB (Trypticase Soy Broth) merupakan media penyubur sebagai
cadangan untuk ulangan pemeriksaan.
c. MSA (Manit Salt Agar) sebagai media selektif gunanya untuk isolasi
koloni staphylococcus dari bahan pemeriksaan misalnya tinja dari
penderita enteritis atau bahan dari bahan makanan penyebab keracunan.
d. Tioglikolat: untuk Staphylococcus yang anaerob.
Bahan pemeriksaan ditanam pada pembenihan tersebut, kecuali untuk
bahan darah dimasukkan dulu kedalamTSB lalu eramkan 37˚C selama
satu malam/ (18-24 jam). Staphylococcus yang anaerob (Peptococcus)

11
tumbuh pada tioglikolat atau agar darah yang dimasukkan kedalam
anaerobic-jar dengan ditambah gas Generating Kit.
Pada agar darah setelah tumbuh tampak koloni dengan cirri-ciri sebagai
berikut:
Bulat dengan diameter 2-4 mm, licin mengkilat, smoot, pinggiran rata,
membentuk pigmentasi susu (Staph. albus), kuning emas (Staph. Aureus),
kuning keruh (Staph. Citreus), Staph. Aureus bisa menyebabkan hemolisis
pada agar darah.
Pada TSB (sebagai media penyubur dan sebagai media cadangan untuk
ulangan) terjadi pertumbuhan ditandai dengan adanya kekeruhan pada
media.
Pada MSA bila terjadi prangian manic koloni dan perbenihan menjadi
kuning (Staph. aureus), apabila tidak terjadi pertumbuhan atau
pertumbuhan yang kurang subur berarti Staph. epidermidis atau Staph.
saprophyticus.
Dari biakan murni maupun campuran dilanjutkan dengan penanaman
“sub-cultur” pada agar darah, eramkan 37˚C selama satu malam.
Kemudian diamati adanya pembentukan pigmen, reaksi hemolisis dan
dilakukan preparat Gram.
3. Uji Coagulasi
Plasma yang dipergunakan adalah plasma darah (citrate) orang normal
atau kelinci. Ada dua cara yaiu:
a. Cara Obyek-glass
Satu ose plasma diteteskan pada kaca obyek, kemudian diambil
satu ujung koloni dan dicampur dengan plasma. Kaca obyek
digoyang-goyangkan, kemudian diperiksa adanya koagulasi
(perbandingan plasma dengan koloni kuman hendaknya proposional
optimal). Sebaliknya digunakan control dengan NaCL fisiologis. Jika
pada tes ini didapatkan hasil negative sebaiknya diulang dengan cara
tabung.
b. Cara Tabung

12
Sebanyak 1CC plasma ditambahkoloni bakteri, kemudian
diinkubasi dalam waterbath 37˚C. Dibaca setelah 1 jam, 2 jam, 3 jam,
sampai 12 jam. Untuk control pakai yang positif dan negatif. Atau
cara lain yaitu 0,5 CC plasma ditambah 0,5 CC biakan Staphylococcus
dalam TSB, kemudian diinkubasi dalam WB 37˚C. Dibaca setelah 1
jam, 2 jam, 3 jam, sampai 12 jam
4. Uji Biokimia
Koloni kuman ditanam pada glukosa dan manit, kemudian dieramkan
secara aerob dan anaerob, dibaca setelah dieram 37˚C selama 1 atau 2
malam.

13
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Uji Preparat Langsung
Sampel Hasil Pemeriksaan
Nanah Positif (+) Staphylococcus
2. Pembiakan
Media Hasil Pemeriksaan
Koloni berwarna putih - abu-abu, terjadi
BAP
hemolytic
Koloni terlihat berwarna putih berukuran
NA
sedang
Koloni berwarna putih-kuning dengan zona
MSA
kuning disekitarnya

3. Uji Coagulasi
MEDIA HASIL
Plasma Positif (+)

4. Uji Biokimia
MEDIA HASIL
TSIA Positif (+)
Glukosa Positif (+)
Sukrosa Positif (+)
Laktosa Negatif (-)
Fruktosa Positif (+)
Urea Positif (+)

B. Pembahasan
Identifikasi morfologi bakteri dapat diteliti melalui teknik pewarnaan.
Salah satu teknik pewarnaan adalah pewarnaan Gram. Pewarnaan Gram
termasuk ke dalam pewarnaan diferensial karena dapat membagi kelompok

14
bakteri Gram positif dan Gram negatif. Pembagian golongan tersebut
berdasarkan reaksi dinding sel bakteri terhadap pewarna krisal violet dan
safranin. Bakteri Gram positif memiliki peptidoglikan yang tebal pada
dinding selnya sehingga saat diwarnai sel akan berwarna ungu. Sedangkan
bakteri Gram negatif memiliki kandungan lipid yang tebal pada dinding
selnya sehingga ketika diwarnai dengan kristal violet lalu dibilas dengan
alkohol, lipid akan larut dan ikut terbilas sehingga bakteri Gram negatif akan
menyerap pewarnaan kedua yaitu merah (James et al 2002)
Adapun bakteri yang digunakan pada praktikum kali ini adalah bakteri
staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus (S. aureus) adalah bakteri
gram positif yang menghasilkan pigmen kuning, bersifat aerob fakultatif,
tidak menghasilkan spora dan tidak motil, umumnya tumbuh berpasangan
maupun berkelompok, dengan diameter sekitar 0,8-1,0 µm. S.aureus tumbuh
dengan optimum pada suhu 37oC dengan waktu pembelahan 0,47
jam. S.aureus merupakan mikroflora normal manusia. Bakteri ini biasanya
terdapat pada saluran pernapasan atas dan kulit. Keberadaan S. aureus pada
saluran pernapasan atas dan kulit pada individu jarang menyebabkan
penyakit, individu sehat biasanya hanya berperan sebagai karier. Infeksi
serius akan terjadi ketika resistensi inang melemah karena adanya perubahan
hormon; adanya penyakit, luka, atau perlakuan menggunakan steroid atau
obat lain yang memengaruhi imunitas sehingga terjadi pelemahan inang,
salah satu penyakit yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus adalah
Osteomielitis, Penyakit bakteremia (Sepsis), dan Infeksi kulit (Alodokter,
2016).
Pada hari pertama dilakukan uji preparat langsung dengan melakukan
pewarnaan gram, berdasarkan pewarnaan gram yang telah dilakukan dengan
sampel pada suspense bakteri BHIB dan TSB didapatkan bakteri gram positif
(ungu) berbentuk coccus yang bergerombol seperti anggur.
Pada hari kedua dilakukan pembiakan pada tiga media yaitu media
BAP, NA dan MSA. Manitol Salt Agar (MSA) merupakan media pertumbuha
n khusus bakteri halophilik dan dapat membedakan Staphylococcus patogen
dan non patogen. Media ini mengandung konsentrasi NaCl yang tinggi yaitu

15
7,5%. Kebanyakan bakteri tidak dapat bertahan hidup di lingkungan yang
memiliki kadar sangat tinggi. Namun, genus Staphylococcus dapat tumbuh
pada media ini. Selain Staphylococcus, bakteri Streptococcus juga masih
dapat tumbuh.
MSA mengandung manitol dan indikator PH phenol red. Hal ini
menyebabkan media MSA menjadi media diferensial. Bakteri Staphylococcus
aureus akan menghasilkan warna media/ koloni kuning karena dapat
memfermentasi manitol menjadi asam yang kemudian merubah warna
indikator phenol red dari merah menjadi kuning. Staphylococcus jenis lainnya
menghasilkan koloni merah muda atau koloni merah dengan tidak ada
perubahan warna medium karena tidak dapat memfermentasi manitol (Sari
2003). Adapun hasil yang diperoelh pada media MSA yaitu koloni terlihat
berwarna putih-kuning dengan zona kunig di sekitarnya menandakan bakteri
mampu memfermentasikan mannitol yang kemudian mengubah indicator
yang terdapat dalam media dari warna merah menjadi kuning hingga pH
asam. MSA ini merupakan media selektif untuk bakteri Staphylococcus.
Media kedua yaitu BAP, media BAP atau Agar darah dapat dibuat
dari Tryptic Soy Agar dengan darah domba 5% atau bisa juga darah kelinci.
Media agar darah dapat menjadi media pertumbuhan bakteri untuk dilihat
reaksi hemolitiknya. Cara membaca reaksi hemolitik pada media agar darah
yaitu cawan petri harus diangkat ke sumber cahaya dan diamati dengan
cahaya yang datang dari belakang (Buxton 2013). Terdapat tiga jenis
hemolisis yaitu beta hemolisi, alpha hemolisis, dan gamma hemolisis. Beta
hemolisis adalah hemolisis total (seluruh sel darah merah lisis) maka tampak
zona yang jelas, mendekati warna dan transparasi media dasar, mengelilingi
koloni. Alpha hemolisis adalah hemolisis sebagian (penurunan hemoglobin
sel) maka menyebabkan perubahan warna hijau atau coklat dalam medium.
Gamma hemolisis adalah tidak terjadi hemolisis sama sekali (Buxton 2013).
Adapun hasil yang diperoleh yaitu koloni terlihat berwarna putih – abu-abu,
hemolytic menandakan bakteri mampu melisiskan eritrosit yang terdapat
dalam media. Zona lisis yang ditunjukkan tidak jelas, sehingga sulit untuk
menentukan α,β, atau γ hemolytic. Hal itu disebabkan karena dalam

16
pembuatan media tersebut tidak digunakan darah domba melainkan darah
manusia sebagai alternative.
Media Nutrient Agar (NA) merupakan media sederhana yang dibuat
dari ekstrak beef, pepton, dan agar. NA merupakan salah satu media yang
umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, untuk
pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme
dalam kultur murni. Media ini berbentuk padat yang digunakan untuk
pembiakan bakteri sehingga ditemukan koloni bakteri yang berjenis sama
sehingga dapat diketahui bentuk, ukuran, konsistensi, warna koloni bakteri,
serta perubahan medium sebelum dilakukannya uji lanjutan. Adapun hasil
yang diperoleh yaitu koloni terlihat berwarna putih berukuran sedang
menandakan bakteri cukup subur dalam mengambil sejumlah nutrisi yang
terkandung dalam media ini.
Pada Hari Ketiga dilakukan uji koagulasi dengan menggunakan cara
tabung, dimaan sebanyak 1CC plasma ditambah koloni bakteri, kemudian
diinkubasi dalam waterbath 37˚C. Dibaca setelah 1 jam, 2 jam, 3 jam, sampai
12 jam. Untuk control pakai yang positif dan negatif. Atau cara lain yaitu 0,5
CC plasma ditambah 0,5 CC biakan Staphylococcus dalam TSB, kemudian
diinkubasi dalam WB 37˚C. Dibaca setelah 1 jam, 2 jam, 3 jam, sampai 12
jam. Adapun hasil yang diperoleh yaitu Pada uji plasma coagulasi
menunjukkan hasil positif sebab terdapat gumpalan pada saat mencampurkan
koloni bakteri dengan plasma citrate
Pada Hari Keempat dilakukan uji biokima menggunakan media TSIA,
Glukosa, sukrosa, laktosa, fruktosa dan urea. Pada media TSIA hasil yang
diperoleh yaitu Dasar pada media TSIA mengalami perubahan dari warna
merah menjadi warna kuning. Hal tersebut menandakan bahwa bakteri
mampu memfermentasikan glukosa pada media sehingga terbentuk suasana
asam. Sedangkan pada lereng media tidak mengalami perunahan (tetap
berwarna merah). Hal tersebut menandakan bahwa bakteri tidak mampu
menfermentasikan laktosa atau sukrosa atau keduanya sehingga tidak tercipta
suasana asam. Tidak ada endapan hitam pada media yang menandakan bahwa
bakteri tidak memiliki enzim desulfurase. Enzim tersebut

17
digunakanmenghidrolisis asam amino dengan gugus samping –SH sehingga
akan menghasilkan H2S yang bereaksi dengan FeSO4 dan membentuk
endapan hitam FeS. Adanya ruangan kosong atau udara pada media
menandakan bahwa bakteri mampu menghasilkan gas. Namun pada media ini
gas bersifat negative karena tidak terbentuk gas.
Pada media gula-gula diperoleh hasil positif didapatkan pada glukosa,
sukrosa, dan fruktosa dengan adanya perubahan warna indicator yang
terdapat dalam media ini yaitu dari biru menjadi kuning. Perubahan warna
tersebut disebabkan karena bakteri yang tumbuh di dalamnya mampu
memfermentasikan gula-gula tersebut berupa produk asam. Namun pada
laktosa, tidak terjadi reaksi apapun karena bakteri tidak mampu meragikan
gula dari laktosa tersebut. Sedangkan pada median urea diperoleh hasil yang
adalah positif sebab terjadi perubahan warna dari warna kuning ke merah
muda. Artinya bakteri dapat menghidolisis urea yang membentuk ammonia
dengan perubahan warna merah muda karena adanya indicator phenol red.

18
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Staphylococcus aureus (S. aureus) adalah bakteri gram positif yang
menghasilkan pigmen kuning, bersifat aerob fakultatif, tidak menghasilkan
spora dan tidak motil, umumnya tumbuh berpasangan maupun berkelompok,
dengan diameter sekitar 0,8-1,0 µm. S. aureus tumbuh dengan optimum pada
suhu 37°C dengan waktu pembelahan 0,47 jam. Pada praktikum kali ini dapat
disimpulkan bahwa sampel nanah(pus) terdapat bakteri jenis staphylococcus
aureus melalui pembiakan media seperti BHIB, NA, BAP, MSA, TSIA,
Gula-gula, Urea, sedangkan pada uji biokimia menggunakan media SIM,
Mr/Vp, TSIA, Gula-gula dan Urea
B. Saran
Adapun saran untuk asisten laboratorium kiranya dapat memberikan
bimbingan serta arahan kepada praktikan dalam pelaksanaan praktikum agar
kegiatan yang dilakukan berjalan sesuai prosedur unttuk mendapatkan hasil
yang diinginkan.

19
DAFTAR PUSTAKA
Aditya, Mushoffa. 2010. Teknik Pewarnaan Bakteri.Jakarta : Djambatan

Alodokter, 2016. http:// www. alodokter. com/ kenali- bahaya- bakteri-


staphylococcus- aureus. Diakses tanggal 28 September 2017.

Aribowo, Moekti dan Fictor Ferdinand P. 2009. Praktis Belajar Biologi : Untuk
Kelas X Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Ilmu
Pengetahuan Alam. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
: Jakarta.

Bergey, 1998. Staphylococcus aureus and Food Poisoning. Genetic and


Molecular Research.

Boyd, R.F, and J.J. Marr. 1980. Medical Microbiology. New York : Little, Brown
and Company Inc.

Firmansyah, Rikky, dkk. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi : Untuk Kelas X
Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan
Alam. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional : Jakarta

Jawetz, E., dkk. 2001. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi ke-20 (Alih Bahasa :
Nugroho & R.F. Maulany). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Irianto koes,2014.Bakteriologi, Mikologi dan Virology. Penerbit ALFABETA :


Bandung Sinaga Putri Ika. Mei 2015.Normal-O-False-false-en-us-x-
none

Kistinah., Idun dan Endang Sri Lestari. 2009. Biologi Makhluk hidup dan
Lingkungannya – SMA/MA : Untuk Kelas X. Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional : Jakarta.

Neel. 1998. Staphylococcus aureus. Universitas Padjadjaran. Bandung

Subardi., Nuryani., dan Shidiq P. 2009. Biologi 1 : Untuk Kelas XII SMA dan MA.
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional : Jakarta

Sulistryorini., Ari. 2009. Biologi 1 : Untuk Sekolah Menengah Atas/Madrasah


Aliyah Kelas X. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional :
Jakarta

Suwarno. 2009. Panduan Pembelajaran Biologi : Untuk SMA & MA Kelas X.


Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional : Jakarta

Todar, K. 2002. Pathogenic Escherichia Coli. Salemba Medika

Underwood, Al. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga.

20
21
22

Anda mungkin juga menyukai