Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS PARAMETER KUALITAS FISIKA DAN KIMIA AIR SUNGAI

JOYOMULYO MALANG
Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang 5 Malang
ABSTRAK
Pengujian kualitas air sungai joyomulyo pada bagian sungai yang dimanfatkan
untuk budidaya ikan dengan teknik keramba. pengambilan sampel dilakukan pada
3 titik yang dicampur menjadi satu dan dilakukan pada 3 waktu yang berbeda
dengan Parameter yang diukur ialah pemeriksaan temperatur, penetapan
kekeruhan, penetapan total padatan, penetapan residu tersuspensi, penetapan pH
air, penetapan kadar CO2 terlarut, penetapan kadar oksigen terlarut, penetapan
kebutuhan oksigen biokimia, penetapan kandungan bahan organik, penetapan
kadar chemical oxygen demand, penetapan kesadahan air, penetapan kadar nitrit,
dan penetapan kadar besi. Hasil penelitian dari semua parameter yang diuji
dikatakan bahwa air sungai Joyomulyo layak untuk digunakan sebagai tempat
budidaya ikan dengan teknik keramba.

Kata kunci : kualitas air, sungai Joyomulyo , budidaya, ikan


Air merupakan sumber kehidupan bagi makhluk hidup dan salah satu
bahan alam yang diperlukan untuk kehidupan manusia, hewan, dan tanaman yaitu
sebagai media pengangkutan zat-zat makanan, juga keperluan lainnya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 tentang
Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang
menyebutkan bahwa kebutuhan air rata-rata untuk 1 orang ialah 60 L/ hari untuk
segala keperluannya. Kebutuhan akan air tersebut mengalami peningkatan dari
tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.
Air digunakan untuk berbagai aktivitas sehari-hari tidak hanya untuk
minum saja, tetapi digunakan untuk mandi, mencuci, keperluan pertanian,
keperluan industri, pembangkit listrik dan lainnya. Air dapat mengalami
pencemaran secara langsung dan tidak langsung baik dari kotoran, pestisida,
pupuk, limbah pertanian, limbah rumah tangga dan limbah industri. Pencemaran
tersebut menyebabkan penurunan kualitas air yang berupa perubahan fisik, kimia
dan biologis air (Paul dan Sen, 2012).
Sungai-sungai yang melewati kota besar pada umumnya kualitas airnya
tercemar oleh limbah baik dari industri, rumah tangga, perikanan, dan pertanian.
Dampak yang ditimbulkan dari segi kesehatan sangat berbahaya, karena air sungai
masih dipergunakan untuk keperluan sehari-hari baik mandi, mencuci ataupun
untuk air minum. Polusi air sungai juga akan mengancam habitat ikan di sungai.
Sungai yang tercemar dari segi estetika juga tidak nyaman, selain berwarna hitam,
banyak sampah yang terapung, juga baunya menyengat (Widodo B, dkk, 2013).
Sungai di Joyomulyo, Malang dimanfaatkan sebagai budidaya ikan bagi
masyarakat sekitar sungai. Menyadari pentingnya kegiatan perikanan budidaya di
daerah tersebut maka dilakukan pengamatan parameter kualitas air sungai
Joyomulyoo. Parameter kualitas air yang dilakukan yaitu kekeruhan (NTU), total
padatan, Total Suspendd Solid (TSS), Total Dissolved Solid (TDS), pH, kadar
CO2 terarut, kadar oksigen terlarut (DO), Kebutuhan Oksigen Biokimia (BOD),
kandungan bahan organik, kadar COD, kesadahan air, penetapan kadar nitrit dan
kadar besi. Artikel ini akan membahas tentang air yang terdapat pada sungai di
Jalan Joyomulyo, dan akan disimpulkan apakah air yang terdapat pada sungai
yang terdapat di Jalan Joyomulyo layak untuk digunakan sebagai tempat budidaya
ikan
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-April 2018. Pengambilan
sampel air sungai Joyomulyo Malang dilakukan pada 3 waktu berbeda yaitu sabtu
sore, minggu pagi, dan minggu sore. Sampel air sungai dimasukan botol plastic
dan disimpan dalam kulkas. Analisis sampel dilakukan di Laboratorium penelitian
kimia FMIPA Universitas Negeri Malang.
Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan ialah termometer, beaker glass, turbidimeter set,
kuvet, oven, neraca analitik, desikator, lampu spiritus, kaki tiga, kasa asbes, gelas
ukur, pH meter, buret, statif, klem buret, erlenmeyer, pipet takar, pipet tetes, pipet
ukur, botol Winkler, refluks, hot plate, spektronik-20 D, labu ukur, dan kertas
saring.
Bahan yang digunakan yaitu sampel air, larutan standar 0 NTU, larutan
standar 40 NTU, buffer pH 4, buffer pH 7, buffer pH 10, larutan standar NaOH
0,001 N, indikator pp, larutan MnSO4 50%, indikator amilum, larutan H2SO4 4 N,
larutan Na2S2O3 0,01 N, larutan NaOH + KI, larutan KMnO4 0,01 N, larutan asam
oksalat 0,01 N, larutan K2Cr2O7 0,25 N, indikator ferroin, larutan H2SO4 pekat
berisi Ag2SO4, larutan garam Mohr, kristal merkuri sulfat, larutan EDTA,
indikator EBT, indikator Maurexide, larutan KCN 10%, larutan buffer pH 12,
larutan standar kalsiium, larutan baku nitrit, asam sulfanitalt, 1-naftilamin,
natrium asetat, FeCl3 10-3 dalam HCl 0,5 M, 1,10-fenantrolin 0,3%, dan
hidroksilamin hidroklorida 10%.
Prosedur Penelitian
Penetapan Kekeruhan Air
Kekeruhan air ditukur menggunakan alat turbidimeter. Turbidimerer dilakukan
kalibrasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Kalibarasi turbidimeter dengan
larutan buffer standart 0 NTU dan larutan buffer standart 40 NTU. Sampel
kemudian diukur kekeruhan
Penetapan Total Padatan
Sampel air sungai 50 mL diuapkan hingga habis menggunakan cawan penguapan
yang telah di Furnace pada suhu 550℃ selama ± 1 jam. Setelah diuapkan sampel
dikeringkan dalam oven pada temperatur ± 103 ℃ - 105℃ selama 1 jam lalu
dimasukan desikator dan ditimbang.
(A − B)x 100
𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐩𝐚𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧 = mg/liter
mL contoh sampel
A = berat s ampel yang dikeringkan+ cawan
B = berat cawan kosong
Total Suspendd Solid (TSS)
Sampel air sungai 50 mL disaring dengan kertas saring yang telah di Furnace pada
suhu 550℃ selama ± 1 jam. Residu dikeringkan dalam oven pada temperatur ±
103℃ - 105℃ selama 1 jam lalu dimasukan desikator dan ditimbang.
(A − B)x 100
𝐑𝐞𝐬𝐢𝐝𝐮 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐮𝐬𝐩𝐞𝐧𝐬𝐢 = mg/liter
mL contoh sampel
A = berat sampel yang dikeringkan + kertas saring
B = berat kertas saring
Total Dissolved Solid (TDS)
Filtrate hasil penyaringan TSS diuapaan hingga kering kemudian dimasukan
Furnace pada suhu 550℃ selama ± 1 jam. Residu dikeringkan dalam oven pada
temperatur ± 103 ℃ - 105 ℃ selama 1 jam lalu dimasukan desikator dan
ditimbang.
(A − B)x 100
𝐑𝐞𝐬𝐢𝐝𝐮 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐮𝐬𝐩𝐞𝐧𝐬𝐢 = mg/liter
mL contoh sampel
A = berat sampel yang dikeringkan + kertas saring
B = berat kertas saring
Penetapan pH
Sampel air sungai diukur pH menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi
terlebih dahulu
Kadar CO2
Sampel air 100 mL ditetesi indicator pp. Jika timbul warna merah berarti
kandungan CO2 tidak ada dan apabila tidak timbul warna merah, maka sampel air
mengandung CO2. Sampel yang mengandung CO2 dititrasi dengan NaOH 0,001 N
hingga terjadi perubahan warna menjadi pink.

1000
Kadar CO2 (mg/L) = 𝑉mL sampel air × VmL NaOH × NNaOH × 44 mg/mmol

Kadar Oksigen Terlarut (DO)


Penentapan kadar oksigen terlarut menggunakan botol Winkler. Botol Winkler
diisi sampel air hingga penuh dan ditutup. Tutup botol dibuka dan ditambahkan 1
mL larutan MnSO4 50%, 1 mL larutan NaOH + KI dan tutup pelan-pelan hingga
tidak ada gelembung udara didalamnya. Botol dikocok dan didamkan 10 menit.
Larutan dipindahkan dalam erlenmayer dan ditambahkan 4 mL larutan H2SO4
hingga semua endapan larut dan biarkan ± 5 menit. Titrasi larutan dengan
Na2S2O3 0,01 N sampai kunging muda dan ditambah 5 tetes indicator amilun dan
dilanjutkan titrasi hingga tidak berwarna.

1000 × V1 × Nthio
Kadar Oksigen Terlarut = × 8
(V2 −2)

V1 = volume Na2S2O3 yang digunakan untuk titrasi


V2 = volume sampel air yang diperiksa
Nthio = konsentrasi larutan Na2S2O3
Kebutuhan Oksigen Biokimia (BOD)
Penentuan Kebutuhan Oksigen Biokimia (BOD) dilakukan dengan menggunakan
botol Winkler DO untuk 0 hari dan DO untuk 5 hari. Botol Winkler diisi sampel
air ditambahkan 1 mL larutan MnSO4 50%, 1 mL larutan NaOH + KI lalu
disimpan selama 5 hari dan ditentukan DO.
BOD (mg/L) = DO0 hari- DO5 hari

Kandungan Bahan Organik


Sampel air tersebut ditambah dengan 5 mL H2SO4 4 N dan dipanaskan hingga
hampir mendidih. Larutan KMnO4 0,01 N ditambahkan 10 mL dan didihkan
selama 10 menit. Larutan KMnO4 0,01 N ditambahkan jika warna merah muda
hilang. Larutan ditambahkan 10 mL asam oksalat dan dititrasi larutan KMnO4
0,01 N hingga terjadi perubahan warna menjadi merah muda

1000
Angka KMnO4 = mL sampel air × [(a + b)f − 10] × 0,01 × 31,6

Penentuan Kadar Chemical Oxygen Demand (COD)


Sampel 10 mL ditambah 0,2 g kristal merkuri sulfat, 25 mL K2Cr2O7 0,25 N, dan
20 mL larutan H2SO4 pekat lalu dipanaskan selema 2 jam mendidih. Larutan yang
telah dingin ditambah 50 mL akuades, 3 tetes indikator ferroin lalu dititasi dengan
larutan ferro amonium sulfat (FAS) 0,25 N hingga terjadi perubahan warna dari
hijau menjadi merah.

1000
Kadar COD (mg/L) = Volume sampel × |A − B| × N× 8

A = Volume ferro ammonium sulfat yang digunakan dalam titrasi blanko


B = Volume ferro ammonium sulfat yang digunakan dalam titrasi sampel air
N = Normalitas ferro ammonium sulfat
8 = Berat ekivalen oksigen
Kesadahan Air
Kesadahan Total
Sampel air 100 mL ditambah 5 mL larutan buffer pH 10 jika keruh ditambah 1
mL larutan KCN 10%. Larutan ditambah 50 mg indikator EBT dan dititrasi
dengan EDTA.

1000 1
𝐊𝐞𝐬𝐚𝐝𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 = x𝑎x
100 28
𝑎 = volume EDTA
Kesadahan Ca2+
Sampel air 100 mL ditambah 1 mL larutan buffer pH 12 jika keruh ditambah 1
mL larutan KCN 10%. Larutan ditambah 50 mg indikator Maurexide dan dititrasi
dengan EDTA.
1000 1
𝐊𝐞𝐬𝐚𝐝𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐂𝐚𝟐+ = x𝑏x
100 28
𝐊𝐞𝐬𝐚𝐝𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐌𝐠 𝟐+ = kesadahan total − kesadahan Ca2+

b = volume EDTA
Penetapan Kadar Nitrit.
Sampel air sungai 10 mL ditambah 50 mg pereaksi nitrit dan diencerkan hingga
50 mL lalu didiamkan 10 menit. Absorbansi larutan diukur pada panjang
gelombang 512nm. Kadar nitrit ditentukan dari kurva kalibrasi larutan standard
nitrit.
Penetapan kadar besi
Sampel air sungai ditambahkan 0,5 mL larutan hidroksilamin hidrolkorida 10%
dibiarkan 1-2 menit, ditambahkan 2 mL larutan 1,10-fenanantrolin, dan 10 tetes
larutan natrium asetat 2 M. Kemudian encerkan hingga 50 mL.Kadar besi sampel
ditentukan dengan kurva kalibrasi larutan standard FeCl3.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis kualitas air sungai Joyomulyo berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemar Air, disajikan pada tabel 1 sebagai berikut
Tabel 1. Parameter Fisika dan Kimia Kualitas Air Sungai Joyomulyo Malang
Waktu Baku Mutu Air
Minggu
Parameter Kelas I Kelas Kelas Kelas
pagi
II III IV
Kekeruhan (NTU) 10,6 5 - - -
Total Suspendd Solid (mg/L) 0,106 50 50 400 400
Total Dissolved Solid (mg/L) 0,112 1000 1000 1000 2000
pH 7,271 6–9 6-9 6-9 5-9
Kadar CO2 terarut (mg/L) 1,716
Kadar Oksigen Terlarut (DO)
36,7 6 4 3 0
(mg/L)
Kebutuhan Oksigen Biokimia
73,2 2 3 6 12
(BOD) (mg/L)
Kandungan Bahan Organik
3,95
(mg/L)
Kadar COD (mg/L) 140 10 25 50 100
Kesadahan Air Total (oD) 30,178
Kesadahan Ca2+ (oD) 18,571 500
Kesadahan Mg2+ (oD) 11,607
Kadar Nitrit (ppm) 0,5068 0,06 0,06 0,06 -
Kadar Besi 5,35 0,03 - - -
Parameter yang diukur selama pengambilan sampel terdiri atas parameter
fisik, kimia dan logam berat. Berdasarkan tabel di atas terlihat kisaran kualitas air
yang dibandingkan dengan baku mutu menunjukkan kisaran yang tidak terlalu
jauh. Dari hasil analisis kualitas air di atas menunjukkan bahwa konsentrasi BOD
dan COD telah melebihi baku mutu kelas I, II, III, dan IV. Hal ini disebabkan
kegiatan pemukiman dan adanya keramba atau budidaya ikan yang ada di sungai.
Kegiatan budidaya ikan ini memiliki potensi mengganggu ekosistem perairan
yang disebabkan oleh limbah pakan ikan. Pakan ikan yang diberikan tidak akan
habis dikonsumsi oleh ikan dan berpotensi menjadi limbah organik (Bramana,
dkk., 2015). Bahan organik tersusun dari senyawa karbon, hidrogen, oksigen dan
ada pula yang mengandung senyawa nitrogen. Bahan buangan organik umumnya
berupa limbah yang dapat membusuk atau terdegradasi oleh mikroorganisme,
sehingga jika dibuang ke perairan akan menaikkan BOD.Kenaikan kandungan
BOD diduga karena selama perjalanannya aliran air yang dimulai dari hulu hingga
hilir banyak menerima limbah buangan (Pohan, dkk., 2016).
Pada dekomposisi bahan organik dalam jumlah besar dalam perairan akan
menyerap oksigen dalam air, sehingga menurunkan jumlah oksigen terlarut (DO).
Namun pada sungai Joyomulyo ini masih dalam batas aman karena dengan 73,2
mg/L masih mengandung DO 36,7 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa bahan
organik dalam sungai belum membahayakan untuk kehidupan air maupun
budidaya ikan. Efek DO pada ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk
didalamnya adalah suhu yang berpengaruh langsung terhadap kelarutan O2 dan
proses metabolisme organisme aquatik. Akan tetapi, penentuan kriteria DO untuk
perikanan mengalami kesulitas karena rendahnya tingkat DO yang secara
langsung menyebabkan kematian ikan dan DO tinggi tidak menyebabkan efek
merugikan terhadap ikan (Alabaster dan Lloyd, 1982). Pada konsentrasi TDS.
TSS, DO, dan pH telah memenuhi baku mutu.
Hasil analisis kesadahan air Sungai Joyo Mulyo, diperoleh kesadahan total
sebesar 30,178 mg/L. Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu
di dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk
karbonat. Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat
menyebabkan beberapa masalah. Air sadah menyebabkan pengendapan mineral,
yang menyumbat saluran pipa dan keran. Air sadah juga menyebabkan
pemborosan sabun dan membentuk gumpalan soap scum (sampah sabun) yang
sukar hilang (Wikipedia, 2017). Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum bahwa air
sungai Joyomulyo ini masih layak digunakan untuk kegiatan sehari-hari karena
batas maksimum kasadahan air minum yang dianjurkan yaitu 500 mg/L.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis nilai fisika kimia sungai Joyomulyo Malang yang
dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang berada
dalam kondisi tercemar sedang yakni berada pada kelas C. Hal ini dapat
diakibatkan limbah rumah tangga yang langsung mengalir ke sungai Joyomulyo,
akan tetapi untuk pemilihan lokasi budidaya masih memungkinkan.
DAFTAR RUJUKAN
Alabaster, JS dan R Lloyd. 1982. Water Quality Criteria for Freshwater Fish.
Second Edition. Food and Agriculture Organization of The United Nations.
Butterworths. London. Hal. 1-129.
Bramana, dkk. 2015. Analisis Keberlanjutan Usaha Keramba Jaring Apung
dengan Pendekatan Daya Dukung Lingkungan dan Sosial Ekonomi (Studi
Kasus: Kelompok Sea Farming Perairan Pulau Semak Daun
Kepulauan Seribu, DKI Jakarta). Bogor: IPB.
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/77413 (online). Diakses 22
April 2018
Paul, M.K. dan Sen, S., Current World Environment 7, halaman 251-258 (2012)
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
492/MENKES/PER/IV/2010 Tentang Persyaran Kualitas Air Minum.
https://www.slideshare.net/metrosanita/permenkes-492-tahun-2010-
tentang- persyaratan-kualitas-air-minum (online). Diakses 22 April 2018.
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air
dan Pengendalian Pencemaran Air.
http://jdih.menlh.go.id/pdf/ind/IND-PUU-3-2001- Lampiran.pdf
(online). Diakses 22 April 2018.
Pohan, D., dkk. 2016. Analisis Kualitas Air Sungai Guna Menentukan Peruntukan
Ditinjau dari Aspek Lingkungan. Semarang: Universitas Diponegoro
Semarang.
Widodo B., Kasam, Ribut L, dan Ike A, (2013).Strategi Penurunan Pencemaran
Limbah Domestik di Sungai Code DIY. Jurnal Sains dan Teknologi
Lingkungan Vol 5, No 1 Hal. 36-47.
Wikipedia. 2017. Kesadahan Air. https://id.wikipedia.org/wiki/Kesadahan_air
(online). Diakses 22 April 2018.