Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM DIAGNOSA KLINIK

PEMERIKSAAN FISIK PADA RUMINANSIA

Disusun oleh :
Nama : Dinda Adinda
NIM : 135130101111039
Kelas : B-2013
Kelompok : B-9
Asisten : Abdul Wahid

LABORATORIUM DIAGNOSA KLINIK


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
A. Metode Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan keadaan tubuh melalui cara penentuan kondisi
fisik dengan beberapa teknik pemeriksaan fisik yang meliputi :
a. Inspeksi
Pemeriksaan pasien adalah inspeksi, yaitu melihat dan mengevaluasi pasien secara visual.
Inspeksi ini menggunakan indera penglihatan, pendengaran maupun penciuman untuk
mengathui kondisi lebih lanjut.
b. Palpasi
Palpasi, yaitu menyentuh atau merasakan dengan tangan. Palpasi struktur individu,baik
pada permukaan maupun dalam rongga tubuh, terutama pada abdomen, akan memberikan
informasi mengenai posisi, ukuran, bentuk, konsistensi dan mobilitas/gerakan komponen-
komponen anatomi yang normal, dan apakah terdapat abnormalitas.
c. Perkusi
Perkusi merupakan pemeriksaan pasien dengan menepuk permukaan tubuh secara ringan
dan tajam, untuk menentukan posisi, ukuran dan densitas struktur atau cairan atau udara
di bawahnya
d. Auskultasi
Auskultasi adalah ketrampilan untuk mendengar suara tubuh pada paru-paru, jantung,
pembuluh darah dan bagian dalam/viscera abdomen dengan menggunakan stetoskop.
Pemeriksaan fisik merupakan tindakan untuk mengidentifikasi kelainan-kelainan
klinis dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya suatu penyakit pada individu maupun
populasi. Melalui informasi yang didapatkan selama pemeriksaan dapat ditentukan beberapa
penyebab penyakit, organ yang terlibat, lokasi, tipe lesio, patogenesa, maupun tingkat
keparahan penyakit. (Jackson, 2002).
Sebelum dilakukan pemeriksaan fisik perlu dilakukan pengisian ambulator untuk
mendapatkan informasi mengenai data pasien , klien serta mengetahui anamnesa pada pasien
untuk memudahkan dalam pemeriksaan fisik. Ambulator ini terbagi menjadi beberap abgian
yang meliputi :
1. Sinyalemen
Terdiri dari nama hewan, jenis kelamin, jenis hewan, sex, warna bulu, umur. Selain itu
memuat semua hal guna mengambil tindakan lebih lanjut untuk memudahkan dalam
penanganannya agar tepat sasaran.
2. Anamnesa
Tindakan wawancara dengan klien untuk menggali informasi yang berkaitan dengan
penyakit hewan tersebut dengan memberikan pertanyaan yang padat dan jelas namun
dapat memberi jawaban yang tepat untuk menujang diagnosa.
B. Hasil praktikum
Berdasarkan pemeriksaan umum yang dilakukan terhadap seekor sapi, maka
diperoleh hasil yang dituliskan di dalam ambulator sebagai berikut :
Tanggal : 14 Desember 2016
Nama Hewan : Kimi
Jenis Kelamin : Betina
Umur : < 1th
Sinyalemen : Sapi peranakan Frisien Holstein dengan warna putih hitam
Anamnesa :-
Pemeriksaan Fisik
Suhu : 38,30C Frek.Pulsus 72/menit Frek. Nafas 16/menit Berat Badan ± 60 kg
Kondisi Tubuh Emasiasi
Kurus
Normal
Overweight
Sikap Normal
Depresi
Somnolent
Convulsi
Recumbensi
Bentuk tubuh lateral Normal
Melengkung
Mencekung
Bergelombang
Bentuk tubuh Normal
Apple
posterior
Pear
Gait Normal
Pincang (Lame)
Kaku
Paresis
Paralysis
Sole abcess
Septic Arthritis
Fracture
Foot rot
Status Hidrasi Normal
Dehidrasi ringan
Dehidrasi sedang
Dehidrasi berat
Kulit Normal
Ringworm
Dermatitis
Parasit
N. Cranialis Normal
Kepala miring
Nystagmus
Facial paralysis
Strabismus
Rahang/lidah lemah
Paralisis pharyngeal
Telinga Panas
Dingin
Sklera dan P.Darah Normal
Pucat
Vasa injeksi
Ikterus
Mata Normal
Keratitis
Konjungtivitis
Uveitis
Tumor
Miosis
Midriasis
Tidak reflek kedip
Buta (kiri)
Buta (kanan)
Tearing
Hidung Bersih
Kotor
Kering
Lembab
Bersisik
Leleran mukopurulen
Leleran serous/mucoid
Leleran berdarah
Mulut/lidah Normal
bermassa keras
Ulserasi/erosi
Vesikel
Membran mukus pucat
Lymph node Normal
Membesar
Suara jantung Normal
redup/berdebur
Murmur
Vena jugularis Normal
Distensi
Pulsasi
Phlebitis
Vena Mammaria Normal
Pulsasi
Submandibular/Brisket Normal
Tidak ada
Edema
Dyspnea Ada
Tidak ada
Batuk Tidak ada
Ringan/kadang-kadang
jelas
Nafas Normal
Busuk/tidak enak
Keton
Suara napas Normal
Ekspirasi keras
(auskultasi)
Rhonci
Redup/pudar bagian ventral
Dyspnea inspirasi/Noise
Perkusi bagian dada Normal
Redup bagian ventral
Kontraksi Rumen 10/5 menit

Kekuatan kontraksi Tidak ada


Lemah
Moderate
Normal (kuat)
Sifat Isi Rumen Gas
Cairan
Campuran padat
Kosong
Impaksi
Respon Nyeri Negatif
Equivocal
Xiphoideus
Post Grunt
Suara Ping Tidak ada
Rumen
Abomasum (kiri)
Abomasum kanan
Colon spiral
Cecum
Feses Normal
Berair
Melena
Konstipasi
Berdarah
Bermukus/fibrin
Kelenjar mammaria Laktasi normal
Tidak laktasi normal
Mastitus klinik/abses
CMT Positif
Pemeriksaan Rektal Tidak ada abnormalitas
Ada abnormalitas
Urine Tampak normal
Berawan
Berdarah
Keton negatif/positif
Protein negatif/positif
Glukosa negatif/positif
Genitalia Normal
Tidak normal

C. Pembahasan
Pemeriksaan fisik ini mengkaji parameter fisiologi yang meliputi :
1. Suhu Tubuh
Pengukuran suhu tubuh pada sapi ini dilakukan dengan memasukkan thermometer
pada rektum agar suhu yang muncul melalui thermometer menjadi wakil dari suhu tubuh
keseluruhan. Termometer diolesi dengan lubrican sebelum dimasukkan ke dalam rektum.
Waktu yang dibutuhkan kurang lebih 30 detik. Suhu normal pada sapi yaitu Sapi dewasa
38,5oC (38oC-39oC), pedet 39oC (38,5oC-39,5oC). Hal ini tergolong dalam kisaran normal
karena anjing tergolong hewan homeoterm (Jackson,2002).
Sistem termostat dalam tubuh terdiri dari beberapa mekanisme untuk menurunkan
panas tubuh ketika suhu menjadi tinggi dengan vasodilatasi pembuluh darah yang akan
meninhkatkan kecepatan pemindahan panas ke kulit, pengeluaran keringat dan penurunan
suhu tubug dengan menghambat mekanisme penyebab peningkatan suhu tubuh. Sedangkan
ketika tubuh terlalu dingin, sistem pengaturan suhu mengadakan prosedur yang sangat
berlawanan, yaitu : vasokonstriksi kulit di seluruh tubuh oleh rangsangan pusat simpatis
hipothalamus posterior, piloereksi untuk membentuk lapisan tebal “isolator udara” di dekat
kulit sehingga pemindahan panas ke lingkungan lebih ditekan, peningkatan pembentukan
panas (Isnaeni,2006).
2. Frekuensi Pulsus dan Sistem Sirkulasi
Perhitungan pulsus dapat dengan palpasi pada arteri coccygea (5-10 cm dari
pangkal ekor). arteri median (sisi medial dari persendian di siku), arteri digitalis (lateral dari
caudal metacarpal). Pada pedeet arteri femoralis (berlokasi diantara m. gracilis dan
m.sartorius) dapat digunakan untuk perhitungan pulsus. Apabila tidak teraba, maka dapat
dilakukan auskultasi lengsung pada jantung permenit. Rata-rata pulsus normal sapi yaitu
sapi dewasa 60-80/menit, pedet 80-120/menit.
Frekuensi jantung ini adalah banyaknya denyut jantung dalam satu menit.
Pengamatan terhadap denyut jantung pada anjing ini melalui palpasi daerah arteri femoralis.
Frekuensi jantung ini dipengaruhi oleh umur,jenis kelamin,berat badan, aktifitas fisik tubuh,
latihan dan kondisi lingkungan seperti suhu lingkungan dan kelembaban udara. Peningkatan
frekuensi jantung disebut tachycardia sedangkan penurunan frekuensi jantung disebut
bradycardia (Isnaeni, 2006).
Pemeriksaan sirkulasi ini dengan menggunakan metode auskultasi bantuan
sktetoskop langsung pada jantung anjing yang berada pada sisi kiri ventral antara costae 3-6.
Dari pemeriksaan tersebut diketahui apabila terdengar suara LUB-DUP yang normal dengan
frekuensi 72/menit sesuai dengan pemeriksaan frekuensi jantung melalui palpasi pada arteri
femoralis, sehingga dapat disimpulkan jika pada sistem sirkulasi dinyatakan normal.
Pada sapi, untuk melakukan auskultasi dalam rangka mendengarkan murmur ini
sebaiknya pada area sternum (midsternum atau parasternum kiri). Rangkaian terakhir dalam
pemeriksaan cardiovaskuler secara menyeluruh ini dapat dilakukan evaluasi pada vena
jugularis karena akan berhubungan langsung dengan atrium kanan dalam mengalirkan darah.
3. Frekuensi Nafas dan Sistem Respirasi
Perhitungan respirasi sangat penting untuk mengetahui kondisi tubuh dari sapi.
Pemeriksaan dapat secara inspeksi jarak dekat dengan mengamati pergerakan ekspirasi dan
inspirasi pada dinding thorax atau flank. Apabila ditemukan tipe pernapasan dengan mulut
maka diduga terjadi abnormalitas dari fungsi paru-paru atau kegagalan sirkulasi. Respirasi
normal dari sapi yaitu pada sapi dewasa rata-rata 25/menit (15-30), pedet rata-rat 30/menit
(24-36).
Untuk menghitung frekuensi nafas pada anjing ini dapat dilakukan dengan inspeksi
pada area rongga abdomen dengan mengamatai naik turunnya rongga abdomen sebagai
kompensasi dari frekuensi napas. Respiration rate adalah jumlah inspirasi dan ekspirasi yang
dilakukan dalam setiap menitnya. Frekuensi pernafasan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
diantaranya adalah ukuran tubuh, umur, aktifitas fisik, kegelisahan, suhu lingkungan,
kebuntingan, adanya gangguan pada saluran pencernaan, kondisi kesehatan hewan, dan
posisi hewan.
Berdasarkan hasil praktikum dalam sistem respirasi dilakukan dengan metode
palpasi dan auskultasi ini dinyatakan normal karena tidak ditemukan nasal discharge, batuk
maupun bersin.
Metode pemeriksaan fisik pada saluran respirasi ini dapat dengan palpasi trakea,
auskultasi pada rongga dada. Penyakit pada saluran respirasi ini dapat berupa inflamasi,
iritasi serta obstruksi pada jalur nafas. Adanya nasal discharge akibat inflamasi atau iritasi
mukosa hidung berupa serosa (cairan bening), mucous (keruh dan kental), mukopurulen
(berlendir hijau-kuning) serta hemorraghiae. Obstruksi sinus disebabkan oleh peradangan
dari jaringan epitel, vasodilatasi kapiler, peningkatan produksi lendir oleh sel epitel
menyebabkan penyempitan pada sinus. Dyspnea atau respiratory distress adalah suatu
kondisi dalam kesulitan bernafas ditandai dengan peningkatan pernapasan yang dominan
pada pernapasan abdominal. Pada anjing menunjukkan gejala mulut terbuka saat bernapas..
Dengan terjadinya bersin ini sebagai upaya untuk membebaskan benda asing pada saluran
respirasi atas dan sebagai tanda awal dari infeksi virus. Terjadinya batuk ini sebagai upaya
dalam pengusiran udara dari paru-paru melalui mulut sebagai gerakan reflek dari iritasi
faring, laring, trakea, bronkus maupun pleura (Bassert,2014).

4. Status Hidrasi
Status hidrasi ini meliputi:
A. CRT
Perhitungan CRT dapat dilakukan dengan menekan mukosa mulut atau vulva untuk
membendung pembuluh darah kapiler. PAda hewan sehat CRT harus kurang dari 2 detik.
Apabila CRT lebih dari 5 detik maka dinyatakan abnormal. Jika antara 2-5 Detik diindikasi
adanya masalah. Peningkatan waktu CRT diindikasi gagalnya sirkulasi karena pengurangan
perfusi perifer pada jaringan oleh darah (Jackson,2002).
B. Membran Mukosa
Pemeriksaan ini digunakan untuk identifikasi terjadinya dehidrasi atau gejala dari
suatu penyakit. Terdapat 2 metode pemeriksaan yaitu melalui warna mukosa mata dan
warna mukosa vulva bagi betina atau mukosa mulut. Secara normal mukosa mata berwarna
pink salmon. Apabila berwarna pucat diindikasi anemia karena haemolysis atau kehilangan
darah. Apabila berwarna kebiruan diindikasi cyanosis akibat pasokan oksigen dalam darah
menurun. Apabila berwarna kuning dugaan jaundice. Apabila berwarna merah cerah maka
indikasi septicaemia atau viraemia akibat infeksi Bovine Respiratory Syncitial virus.
Apabila berwarna merah cherry kemungkinan keracunan CO. Jika berwarna abu-abu
kemungkinan toxaemia. Apabila mukosa berwarna coklat diindikasikan keracunan
nitrite/nitrate sehingga kadar methaemoglobin tinggi (Jackson,2002).

5. Kondisi tubuh
Kondisi tubuh ini meliputi :
A. Bentuk Tubuh
Bentuk tubuh ini dapat diamati secara lateral dan posterior dengan inspeksi jarak dekat yaitu:
 Bentuk tubuh posterior

Bentuk tubuh normal yaitu simetris antara sisi kiri dan kanan, namun apabila terjadi
abnormalitas seperti bentukan buat peer atau apple ini dapat diindikasikan jika sapi tersebut
mengalami ascites, pneumo-peritoneum maupun distensi pada abomasum (Jackson,2002).
 Bentuk tubuh anterior
Bentuk tubuh anterior ini dilihat berdasarkan bentuk dari os. vertebrae dari cervicalis
hingga sacral. Hewan normal dengan berat badan yang normal maka os vertebrae akan lurus,
namun jika hewan tambah kurus maka os. vertebrae akan cekung. Sebaliknya jika hewan
terlalu gemuk makan os. vertebrae akan melengkung. Sapi juga dapat terserang skoliosis,
lordosis maupun kifosis.
B. Sikap tubuh
Sikap tubuh ini dapat diamati dengan inspeksi jarak dekat maupun jarak jauh, karena
berhubungan erat dengan tingkat kesadaran. Hewan digolongkan normal (sadar), depresi,
somnolent ( kesadaran menurun, respon menurun, namun jika ada stimulan akan merespon),
konvulsi, maupun recumbensi (diindikasi hewan mengalami milk fever atau ambruk pasca
melahirkan karena intake kalsium menurun)
C. Pemeriksaan sisi eksternal
 Kulit
Kondisi kulit mencerminkan kesehatan kulit baik dari segi nutrisi, maupun gejala dari
adanya suatu ektoparasit. Pemeriksaan kulit dapat dilakukan secara inspeksi dilanjutkan
dengan palpasi untuk mengetahui kondisi kulit secara detail. Terdapat beberapa kasus yang
terjadi pada kulit seperti (Jackson,2002):
a. Lesi
Abnormalitas kulit dengan causa yang beragam sehingga menyebabkan kerusakan
pada permukaan kulit. Biasanya lesi dibagi menjadi lesi primer (macua, papule, nodule,
plaque, tumour, vesicle, pustule) maupun lesi sekunder (scale, crust, erosion, excoriation,
ulcer, scar. fissure. keratosis, perubahan pigemnt maupun alopecia).
b. Adanya ektoparasit
Beberapa ektoparasit berpredileksi pada kulit ruminansia baik kutu (Bovicola bovis),
tungau (Sarcoptes scabei, Psoroptes sp.), Caplak (Ixodes sp, Boophilus sp). Manifestasi
ektoparasit tersebut menimbulkan gejala seperti lesi primer maupun lesi sekunder sesuai
dengan tingkat keparahan.
 Telinga
Pemeriksaan fisik pada telinga dimulai dengan metode inspeksi (visualisasi) serta
palpasi pada pinnae. Selama inspeksi berlangsung pada pinnae harus dievaluasi posisi
simetris antara kedua pinnae, apakah ada pembengkakan, eritrema, alopecia, crustae maupun
timbul petechiae. Palpasi pinnae ini untuk mengevaluasi adanya focal swelling. Untuk
bagian kanal telinga ini hanya regio vetical canal yang dapat di inspeksi tanpa memerlukan
bantuan alat. Tujuan inspeksi pada kanal telinga ini untuk mengetahui kondisi dari aural
discharge baik secara kuantitas (mild, moderate, severe) maupun visualitas ( waxy, black,
hemoragiae maupuun purulen), adanya massa di bagian tersebut yang dapat menyumbat
saluran telinga yang dapat memicu inflamasi (Bassert,2014).
 Mata
Pemeriksaan fisik pada mata ini dilakukan dengan metode inspeksi pada kelopak
mata dan struktur eksternal maupun internal mata. Pemeriksaan kelopak mata ini untuk
mengidentifikasi adanya bengkak dan kemerahan. Tepi dari kelopak mata harus dievaluasi
untuk mengamati abnormalitas rambut mata karena dapat menyebabkan iritasi mata. Selain
itu posisi kelopak mata harus diperiksa untuk mengetahui gejala entropion atau ektropion.
Untuk eksudat mata ini perlu dievaluasi sesuai dengan karakteristiknya ( serous, mucous,
purulen atau hemoragie) untuk mengetahui abnormalitas mata tersebut. Pemeriksaan bola
mata dengan cara ditekan dengan ibu jari untuk mengetahui abnormalitas seperti glaukoma
(tekanan intraokular tinggi) dan uveitis (tekanan intraokuler rendah). Apabila mata tidak
dapat didorong mundur kemungkinana mengalami retropulsed. Sebenarnya untuk
melakukan pemeriksaan fisik pada mata tidak cukup hanya dilakukan inspeksi maupun
palpasi, akan tetapi dengan bantuan peralatan opthalmologic ini akan memberikan informasi
lebih detail dalam proses pemeriksaan. Ini adalah contoh dari salah satu kasus yang
ditemukan pada pemeriksaan mata (Bassert,2014). Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik mata
ini dengan bantuan penlight diketahui tampak membran nictitan, pupil maupun refleks mata
terhadap cahaya dalam kondisi normal.
 Hidung
Secara normal hidung lembab dengan adanya tetesan kecil. Apabila hidung sangat
kering diindikasinya hewan sedang sakit seperti milk fever. Nasal discharge yang normal
berupa mucus, namun jika mucopurulent indikasi adanya infeksi pada sistem respirasi.
Apabila hidung tampak kotok dan disertai adanya discharge bercampur darah maka indikasi
kerusakan nasal mucosa. Profuse nasal haemorrhage ini biasanya pada kasus trombosis di
vena cava caudal. Kita perlu mencium bau nafas, apabila bau busuk diindikasi kasus infeksi
nasal, pharyng bahkan pneumoniae.
 Mulut
Kesehatan mulut dapat diinspeksi dengan penlight. Pemeriksaan mulut ini berhubungan erat
dengan beberapa aspek seperti (Jackson,2002):
Nervus cranialis
Ketidakmampuan mengkoordinasika gerakan bibir karena gangguan nervus facial sehingga
akumulasi bolus dipipi tampak.
Ketidakmampuan menggerakkan lidah karena gangguan nervus hypoglossal
Gigi
Pemeriksaan gigi ini sangat penting dengan cara inspeksi dengan tujuan perhitungan umur.
Berikut adalah susunan gigi dari sapi yaitu:

Indikasi untuk perhitungan umur dapat dijelaskan melalui rupturnya jumlah gigi deciduous
incisor dan diganti dengan gigi incisor permanent (Jackson,2002):
1 pasang (central) --> 21 bulan
2 pasang (medial) --> 27 bulan
3 pasang (lateral) --> 33 bulan
4 pasang (corner) --> 39 bulan
 Vena jugularis
Vena jugularis sebagia indikator dari efisiensi sistem kerja cardiovaskuler terutama
pada kemampuan jantung dalam memompa darah untuk bersirkulasi ke seluruh tubuh secara
perifer. Apabila terjadi distensi pada vena jugularis maka diindikasikan terjadi gagal jantung
sisi kanan. Dalam hewan normal dapat terjadi apabila menekan vena jugularis secara terus
menerus, namun dapat kembali normal dengan cepat. Terjadinya distensi vena jugularis ini
diduga adanaya celah dan lesi pada thoracic inlet, dehidrasi menyebabkan shock dan vena
jugularis datar serta kosong (Jackson,2002):.
 N.cranialis
Gangguan syaraf cranial yang terjadi pada regio cranial ini memberi dampak seperti
(Jackson,2002):
Facial paralysis : Umumnya disebakan karena listeriosis atau trauma pada ramus vertikal
mandibula sehingga terjadi lesi atau kerusakan pada nervus perifer facial.
Nystagmus: Ritme gerak mata tidak beraturan, hal ini debabkan karena lesi pada pons, otak
tengah atau telinga bagian dalam
Strabismus: Kerusakan rotasi bola mata sehingga juling, hal ini disebabkan karena
kerusakan dari nervus II dan nervus IV

 Lymph Node
Lymph nodes ini dapat diperiksa dengan palpasi sesuai dengan tempatnya. Apabila
terjadi pembesaran lymph nodes diduga akibat dari infeksi suatu penyakit seperti bovene
tuberculosis, actinobacillosis, enzootic bovine leucosis (EBL) maupun sporadic bovine
leucosis (ditandai dengan pembesaran pada prescapular lymph nodes).Dugaan lain dari
perubahan ukuran lymph nodes akibat dari respon inflamasi suatu infeksi lokal.
Lokasi lymph nodes berada di perifer tubuh yaitu (Jackson,2002):

Lymph Nodes Keterangan


submandibular sisi medial dari sudut rahang dimana pertemuan dari rami horizontal dan
vertical mandibula. Secara normal berukuran diameter 1,5-2 cm
Parotid Sulit untuk dipalpasi karena ukurannya yang kecil berada di bawah
artikulatio temperomandibular. Ukuran normal diameter 0,5 cm
Retropharyngeal Berada pada midline dorsal pharynx. Pada hewan sehat sulit untuk
dipalpasi denga jari. Indikasi jika mengalami pembesaran apabila terjadi
dysphagia dan syspnea dengan pernapasan stertorous dan dipalpasi terasa
dengan ukuran diameter mencapai 4 cm.
Prescapular Berada pada subkutan dan dibawah m. cutaneous sisi anterior dari
persendian scapula. Dapat dipalpasi pada sisi depan scapula. Ukuran
normalnya yaitu 1 cmx 3,5 cm.
Axillary Dapat dipalpasi pada pedet saja dan berada di upper limb. Sedangkan pada
sapi dewasa tidak dapat diraba. Ukuran normal berdiamter 1,5 cm
Precrural Berada di m. cutaneus trunci sisi caudal flank anterior hingga stifle joint.
Ukuran normal 0,75 cmx3 cm
Popliteal Berada dibelakang stifle. Dapat teraba pada pedet dengan ukuran 1-1,5 cm.

Inguinal Sifatnya mobile pada inguinal canal. Pada jantan dapat ditemukan di
anterior scrotum, sedangkan pada betina di anterior lateral dari ambing.
Ukuran normal dengan diameter maksimal 0,5 cm
Supramammary Dapat di palpasi pada sisi caudal ambing agak ke atas. Ukuran normal
dengan diameter maksimum 2,5 cm
Internal iliac Terletak pada sayap ilium dengan diameter normal 3 cm.

 Submandibular/Brisket Edema
Gejala dari gagal jantung sisi kanan ini ditandai dengan kongesti dan sirkulasi
peripheral seperti distensi cena jugular, brisket dan edema submandibula serta ascites.
Hipovolemia dengan gagalnya sirkulasi peripheral menghasilkan penurunan perfusi renal dan
rendahnya output urinasi. Kongesti vena pada sistem prta mengalami pembesaran pada hati
sehingga menyebbakan kerja hepar menurun dan diare. Pada kasus penyakit sirkulasi ini
mampu menyebabkan collapse disertai dengan syncope (Jackson,2002).
6. Sistem muskuloskeletal
Berdasarkan hasil prkatikum, pemeriksaan muskuloskeletal yang meliputi posisi
kepala dan leher, cara berjalan dan palpasi sendi kepala dan leher ini menunjukkan normal.
Pemeriksaan muskuloskeletal ini meliputi :
a) Otot
Pemeriksaan otot dengan menggunakan metode inspeksi dan palpasi. Untuk keperluan
pemeriksaan otot sebaiknya juga dilakukan observasi pada saat hewan menjalani latihan.
b) Tulang
Pemeriksaan klinis terhadap tulang dapat dilakukan dengan cara inspeksi dan palpasi
pada bagian tubuh tempat tulang muncul ke superfisial tubuh dan tidak tertutup oleh
massa otot. Dengan inspeksi dan palpasi dapat pula diambil suatu kesimpulan tentang
penyakit tulang yang terjadi apakah bersifat lokal pada suatu tulang atau bersifat
umum/menyeluruh.
c) Sendi
Pada hewan-hewan yang kecil pemeriksaan sendi-sendi pada tulang belakang dapat pula
dilakukan dengan cara palpasi secara tidak langsung tehadap columna vertebralis.
Dengan inspeksi yang dilakukan pada scat hewan istirahat dan latihan dan palpasi dapat
dimungkinkan untuk menemukan abnormalitas contour, bentuk dan fungsi sendi.
Gangguan/penyakit sendi yang dapat dijumpai pada hewan antara lain defek kongenital
(seperti scoliosis, torticolis, ankylosis, arthrogryosis), arthritisinflamatorik, dan arthropati
degenerativ yang berkaitan dengan abnormalitas postur atau defek strukturan seperti pada
kasus rakhitis, osteomalacia, osteodistrofia dan defisiensi nutrisi.
7. Sistem Digesti
A. Kontraksi rumen

Eruktasi merupakan gerakan pengeluaran gas Co2 dan CH4 hasil fermentasi
rumen melalui esophagus. Gas tersebut dikeluarkan dari rumen sewaktu rumen distensi,
sehingga tekanan di dalam rumen turun, akibatnya gas akan keluar dari bagian dorsal ke
depan. Eruktasi ini dapat diperiksa secara auskultasi (bantuan stetoskop) pada thorax
atau trachea dengan buny seperti sendawa. Umunya normal pada ruminansia dimana pada
sapi ebanyak 18kali/jam (Bassert,2014).
Evaluasi abdomen ruminansia dapat diukur dengan indikator kontraksi rumen.
Jumlah kontraksi rumen permenit ini dapat dihitung dengan auskultasi pada sisi
caudolateral costae atau fossa paralumbar sisi kiri. Kontraksi rumen akan terdengar bunyi
seperti gemuruh yang secara bertahap bunyinya keras. Sementara kontraksi rumen dapat
dihitung secara ballottement (palpasi) dengan menekan kedua tangan secara kuat pada
fossa paralumbar sisi kiri dengan gerakan meninju selama 1 menit. Setiap kontraksi
rumen terasa seperti gelombang yang mendorong tangan ke luar. Jumlah kontraksi rumen
secara normal 1-2 kali/ menit (Bassert,2014).
B. Sifat isi rumen
Sifat dari isi rumen ini tergantung dari kemampuan rumen dalam mecerna
makanan. Terdapat beberapa sifat isi rumen meiputi Gas (jika akumulasi gas berlebihan
dan terdengara suar ping maka indikasi bloat), Cairan, Campuran padat (bentuk normal
dalam rumen), kosong (kemungkinan terjadi distensi pada saluran digesti atas) maupun
impaksi

C. Suara Ping

Adanya akumulasi gas dapat dideteksi


dengan perkusi dan auskultasi yang dikenal dengan
Abdominal pinging. Akumulasi gas membuat
resonansi timpani berbunyi "ping" seperti drum
bernada tinggi. Abdominal ping harus dilakukan
pada kedua sisi abdomen untuk mendeteksi adanya
kelainan. Teknik untuk mendengarkan suara ping
dapat dilakukan dengan cara meletakkan kepala
stetoskop pada abdominal sisi kiri dan kanan , lalu
jari mengetuk abdomen di sekitar kepala stetoskop
(Bassert,2014).
D. Feses
Berdasarkan praktikum diketahui jika feses pada sapi yang diperiksa ini dinyatakan
normal. Banyak abnormalitas pada feses yaitu hematochezia ini ditandai dengan adanya
darah yang bercampur pada feses yang diindikasikan bahwa adanya gangguan pada colon
atau rektum.Melena ini merupakan suatu keadaan dimana feses berwarna hitam yang
diindikasikan adanya gangguan pada GIT akibat endoparasit, ulserasi maupun neoplasia.
Diarrhea ini ditandai dengan konsistensi feses yang encer. Tingkat keparahan diare ini
dapat dilihat dari durasi, frekuensi, jumlah serta kualitas dari fese tersebut. Biasanya pasien
yang mengalami diare juga disertai dengan dehidrasi, sedangkan konstipasi ini ditandai
dengan feses yang keras karena kurang serat maupun absorbsi air yang tidak maksimal.
Pada sapi dewasa defekasi 10-24 kali dalam sehari dengan total feses sebesar 30-50 kg.
Sapi umumnya defekasi setiap 1,5-2 jam sekali, apabila dalam waktu 24 jam tidak
melakukan defekasi maka dinyatakan abnormal (Jackson, 2002). Konsistensi feses sapi
yang sehat adalah semisolid "cow-plpo" atau "cow-pie" dengan warna yang bervariasi,
umunya hijau gelap kecoklatan dengan banyak serat (Bassert,2014).
DAFTAR PUSTAKA
Bassert,JM. 2014. Mccurnin's Clinical Textbook For Veterinary Technicians Eight Edition.
Elsevier Saunders.
Isnaeni, W. 2006. Fisiologi Hewan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Jackson PG, Cockroft PD. 2002. Clinical Examination of Farm Animals. Blackwell Science
Ltd. Iowa