Anda di halaman 1dari 21

TUTORIAL KLINIK

“ABORTUS INKOMPLIT”

Dosen Pembimbing:
dr. Trianto Susetyo, Sp. OG

DisusunOleh:
Daniel Derian Chrisandi
42170135

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KESEHATAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2018
BAB I

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Nn. AP

Jenis kelamin : Perempuan

Usia : 20 tahun

Tanggal lahir : 01 Mei 1989

Alamat :

Pekerjaan :

No RM : 01-18-31-xx

Tanggal masuk : 2018

A. ANAMNESIS
 Keluhan Utama
Keluar darah dari jalan lahir
 Riwayat Penyakit Sekarang
G1P0A0 pasien datang ke poliklinik jam 10.00 WIB dengan keluhan keluar
darah dari jalan lahir sejak pukul 08.00 WIB. Darah yang keluar bersamaan
dengan janin / jaringan lain yang keluar dari jalan lahir. Kemudian darah berlanjut
keluar dalam jumlah banyak disertai nyeri perut skala 4 menjalar sampai ke
punggung. Pasien tidak menyadari bahwa hamil karena dari awal menstruasi
siklusnya tidak teratur.
 Riwayat Penyakit Dahulu
 Pasien belum pernah mengalami hal serupa sebelumnya.
 Riwayat hipertensi, kolesterol dan DM disangkal
 Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat hipertensi, DM, dan kolesterol pada keluarga disangkal.
 Gaya Hidup
Pasien adalah seorang pegawai swasta yang tinggal bersama suami. Pasien sehari-
hari bekerja. Pola makan dan minum pasien teratur dan cukup. Pasien tidak
merokok, minum alkohol atau menggunakan obat-obat terlarang.
 Riwayat Menstruasi
 Menarche : 12 tahun
 Lama Menstruasi : 6-7 hari
 Siklus : teratur, 28-30 hari
 Dismenorrhea : (-)
 Konsistensi : encer
 Jumlah : 2-3 pembalut/hari
 Keputihan : (+), saat awal kehamilan
 HPMT : 5 Maret 2018
 Riwayat Pernikahan :
Pasien menikah satu kali saat berusia 27 tahun. Usia pernikahan dengan suami
baru 1 tahun.
 Riwayat Obstetri : -
 Riwayat Ginekologi : -
 Riwayat Kontrasepsi : -

B. PEMERIKSAAN FISIK

a. Status Generalis

Keadaan Umum : Sedang

Kesadaran : Compos Mentis

GCS : E4 V5 M6

Vital Sign :

 Tekanan Darah : 110/80 mmHg

 Nadi : 84 kali/menit

 Frekuensi Nafas : 18 kali/menit

 Suhu : 36.8 oC

Indeks Massa Tubuh : 27,8 (Obesitas, ASIAN criteria)

 Berat Badan : 69 kg
 Tinggi Badan : 158 cm

b. Status Lokalis

 Kepala : Normocephali
 Mata : Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), reflek pupil
isokor, reflek cahaya (+/+)
 Hidung : Deformitas (-)
 Mulut : Sianosis (-)

 Leher : Limfonodi tidak teraba, peningkatan JVP (-)

 Thorax (Jantung)

 Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

 Palpasi : Ictus cordis teraba

 Perkusi : Tidak dilakukan


 Auskultasi : S1 dan S2 tunggal, regular, suara tambahan jantung (-)

 Thorax (Paru)

 Inspeksi : Deformitas (-), jejas (-), massa (-), otot bantu nafas(-)

 Palpasi : Tidak ada ketinggalan gerak dada

 Perkusi : Sonor

 Auskultasi : Vesikuler, wheezing (-), ronki (-)

 Payudara
 Bentuk Payudara : Simetris
 Bentuk Puting : Menonjol
 Pengeluaran ASI : Tidak ada
 Benjolan : Tidak ada

 Abdomen

 Inspeksi : Tidak ada jejas, tampak perut datar

 Auskultasi : Peristaltik usus 12x/menit

 Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen

 Palpasi : Nyeri tekan (-)


 Manuver Leopold : Tidak dapat dikaji

 Genitalia Eksterna
 Inspeksi
OUE : Tanda radang (-)
Intraoitus vagina :
Hymen (-)
Tanda radang (-)
Darah (+)
Tumor (-)
Fluor albus (-)
 Palpasi : Nyeri tekan suprapubik (-)
 Genilatian Interna
 Inspekulo : Terlihat adanya jaringan yang masih
berada di serviks
 Vaginal touche : portio mendatar, pembukaan 1cm, teraba
jaringan

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Darah Lengkap 19 April 2018
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hemoglobin 13,0 g/dL 11,7 – 15,5
Lekosit 10,15 ribu / mmk 4.5 – 11,5
Hitung jenis
Eosinofil 1,0 (L) 2–4
Basofil 0,6 0–1
Segmen Neutrofil 73,5(H) 50 – 70
Limfosit 19,0 18 – 42
Monosit 5,9 2–8
Hematokrit 41,6 % 40,0 – 54,0

Eritrosit 5,18 juta / mmk 4,50 – 6,20


RDW 11,5% 11,5-14,5
MCV 80,4fL 80 – 94
MCH 25,2PG (L) 26 – 32
MCHC 31,3g/Dl (L) 32 – 36
Trombosit 259 ribu / mmk 150 - 450
Imunologi/Serologi
HBsAg Negatif negatif

 Pemeriksaan USG

Didapatkan ukuran uterus 8x2x4cm, kantong kehamilan tidak utuh, dan sisa
jaringan dalam cavum uteri.

D. DIAGNOSIS

G1P0A0 UK 6+4 minggu, abortus inkomplit

E. DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

 Abortus insipiens
 Missed abortion

F. TATALAKSANA

 Non-medikamentosa
o Kuretase
 Medikamentosa

R/ Infus RL 500ml fl No. III

IV Cath. Uk 22 No. I

Infus Set No. I

ʃ i.m.m.

R/ Oksitosin 10 IU drip (20tpm)

ʃ i.m.m.
R/ Ceftriaxone vial 1gr No. II

ʃ i.m.m.

R/ Ketorolac ampul 10 mg/ml no II


ʃ i.m.m.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Definisi abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan. Sebagai batasan adalah kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. ( Prawirorahardjo,2008) Bila keluarnya
hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun mekanis maka disebut abortus spontan /
keguguran (miscarriage).
B. INSIDENSI

Dari 210 juta kehamilan, 75 juta dianggap tidak direncanakan di mana sekitar
15% kehamilan akan berakhir pada aborsi. Sekitar 500.000 wanita meninggal akibat
komplikasi persalinan, 7 juta wanita mengalami gangguan kesehatan setelah melahirkan.
Pada negara berkembang, prevalensi abortus mencapai 160 per 100000 kelahiran hidup
dan paling tinggi terdapat di Afrika yaitu 870 per 100000 kelahiran hidup. Di Indonesia,
ditunjukkan prevalensi abortus sebesar 2 juta kasus pada tahun 2000 dengan rasio 37 per
1000 kelahiran pada wanita usia produktif pada 6 wilayah. Sekitar 75% abortus spontan
ditemukan pada usia gestasi kurang dari 16 minggu dan 62% sebelum usia gestasi 12
minggu. Insidensi abortus inkomplit belum diketahui secara pasti, namun demikian
disebutkan sekitar 60% dari wanita hamil dirawat di rumah sakit dengan perdarahan
akibat mengalami abortus inkomplit. Inisidensi abortus spontan secara umum disebutkan
sebesar 10% dari seluruh kehamilan. Penelitian Basama, et al. (2009) pada 182 dengan
abortus imminens menunjukkan bahwa 29% janin akan keluar pada usia gestasi 5-6
minggu; 8,2% pada usia gestasi 7-12 minggu; dan 5,6% pada usia gestasi 13-20 minggu.
Biasanya abortus imminens akan berlanjut menjadi abortus komplit 10-14 minggu setelah
pasien mengeluhkan keluar bercak-bercak darah.

C. ETIOLOGI
Penyebab abortus (early pregnancy loss) bervariasi dan sering diperdebatkan.
Umumnya lebih dari satu penyebab. Penyebab terbanyak di antaranya adalah sebagai
berikut :
1. Faktor Genetik
50-70% abortus spontan disebabkan oleh kelainan genetik.. Kelainan ini dapat
disebabkan faktor maternal maupun paternal. Mekanisme yang dapat berkontribusi
menyebabkan kelainan genetik adalah kelainan kromosom sperma, kondensasi kromatin
abnormal, fragmentasi DNA, peningkatan apoptosis, dan morfologi sperma yang
abormal. Sekitar 42% struktur vili korionik abnormal akibat gangguan genetik.
a. Kelainan kromosom
Tipe kelainan kromosom parental yang paling banyak adalah translokasi seimbang,
baik resiprokal (segmen distal kromosom saling bertukar), Robertsonian (dua kromosom
akrosentrik bersatu pada wilayah sentromer dengan hilangnya lengan pendek),
gonosomal mosaik, dan inversi. Keadaan ini dapat menyebabkan abortus, anomali fetus,
atau bayi lahir mati. Secara struktural abnormalitas kromosom yang dapat terjadi yaitu
delesi, translokasi, inversi, dan duplikasi. Walaupun begitu, hanya translokasi dan iversi
yang memainkan pernan penting pada abortus dan abortus rekuren. kerusakan embrio
atau kelainan kromosom (monosomi, trisomi, poliploidi),
2. Gangguan plasenta
Mayoritas kasus abortus berkaitan dengan kelainan genetik maupun kelainan
perkembangan plasenta terutama pada vili korionik yang berperan sebagai unit
fungsional plasenta dalam hal transpor oksigen dan nutrisi pada fetus. Penelitian histologi
Haque, et al. pada 128 sisa konsepsi abortus, ditunjukkan bahwa 97% menunjukkan vili
plasenta berkurang, 83% vili mengalami fibrosis stroma, 75% mengalami degenerasi
fibroid, dan 75% mengalami pengurangan pembuluh darah. Inflamasi dan gangguan
genetik dapat menyebabkan aktivasi proliferasi mesenkim dan edema stroma vili.
Keadaan ini akan berlanjut membentuk sisterna dan digantikan dengan jaringan fibroid.
Pada abortus, pendarahan yang merembes melalui desidua akan membentuk lapisan di
sekeliling vili korionik. Kemudian, material pecah dan merangsang degenerasi fibrinoid.
3. Kelainan uterus
Kelainan uterus dapat dibagi menjadi kelainan akuisita dan kelainan yang timbul
dalam proses perkembangan janin,defek duktus mulleri yang dapat terjadi secara spontan
atau yang ditimbulkan oleh pemberian dietilstilbestrol (DES). Cacat uterus akuisita yang
berkaitan dengan abortus adalah leiomioma dan perlekatan intrauteri. Mioma submokosa,
tapi bukan mioma intramural atau subserosa, lebih besar kemungkinannya untuk
menyebabkan abortus. Miomektomi sering mengakibatkan jaringan parut uterus yang
dapat mengalami ruptur pada kehamilan berikutnya, sebelum atau selama persalinan.
Inkomptensi serviks adalah ketidakmampuan serviks untuk mempertahankan
suatu kehamilan oleh karena defek fungsi maupun struktur pada serviks. Inkompetensi
serviks biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua dengan insidensi 0,5-8%.
Keadaan ini juga dapat menyebabkan hilangnya barrier mekanik yang memisahkan
kehamilan dari flora bakteri vagina dan kebanyakan asimptomatik. Serviks merupakan
barier mekanik yang memisahkan kehamilan dari flora bakteri vagina. Ekspulsi jaringan
konsepsi terjadi setelah membran plasenta mengalami ruptur pada prolaps yang disertai
dengan balloning membran plasenta ke dalam vagina. Perlekatan intrauteri (sinekia atau
sindrom Ashennan) paling sering terjadi akibat tindakan kuretase pada abortus yang
terinfeksi atau pada missed abortus atau mungkin pula akibat komplikasi postpartum.
4. Autoimun
Sekitar 15% dari 1000 wanita dengan abortus habitualis memiliki faktor
autoimun. Faktor autoimun misal SLE, APS, antikoagulan lupus, antibodi
antikardiolipin. Insidensi berkisar 1-5% tetapi risikonya mencapai 70%. Selain itu,
faktor alloimun dapat mempengaruhi melalui HLA. Bila kadar atau reseptor leptin
menurun, terjadi aktivasi sitrokin proinflamasi, dan terjadi peningkatan risiko abortus.
Mekanismenya berhubungan dengan timbal balik aktif reseptor di vili dan ekstravili
tropoblas.
5. Infeksi
Organisme seperti Treponema pallidum, Chlamydia trachomatis, Neisseria
gonorhoeae, Streptococcus agalactina, virus herpes simpleks, sitomegalovirus, Listeria
monocytogenes dicurigai berperan sebagai penyebab abortus. Toxoplasma juga
disebutkan dapat menyebabkan abortus.
6. Lingkungan
Diperkirakan 1-10% malformasi janin akibat dari paparan obat, bahan kimia atau
radiasi dan umumnya berakhir dengan abortus, misalnya paparan terhadap buangan gas
anestesi dan tembakau. Rokok mengandung ratusan unsur toksik, seperti nikotin yang
telah diketahui mempunyai efek vasoaktif sehingga menghambat siruklasi uteroplasenta.
Karbon monoksida juga menurukan pasokan oksigen ibu dan janin sehingga dapat
memacu neuroktoksin. Adanya Gangguan sistem sirkulasi fetoplasenta dapat terjadi
gangguan pertumbuhan janin yang berakibat terjadinya abortus.
7. Hormonal
D. PATOFISIOLOGI

Pada awal abortus terjadi pendarahan dalam desidua basalis, kemudian diikuti
oleh nekrosis jaringan disekitarnya yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan
dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan
benda asing tersebut. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu vili korialis belum
menembus desidua secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya.
Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu penembusan sudah lebih dalam hingga
plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak pendarahan. Pada
kehamilan lebih 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu dari pada plasenta.
Pendarahan tidak banyak jika plasenta segera dilepas dengan lengkap.
Peristiwa abortus ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniatur. Hasil
konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada kalanya kantong
amnion kosong atau tampak kecil tanpa bentuk yang jelas, mungkin pula janin telah mati
lama, mola kruenta, maserasi, fetus kompresus.
Perlu ditekankan bahwa pada abortus spontan, kematian embrio biasanya terjadi
paling lama dua minggu sebelum perdarahan. Oleh karena itu, pengobatan untuk
mempertahankan janin tidak layak dilakukan jika telah terjadi perdarahan banyak karena
abortus tidak dapat dihindari.
Pengeluaran hasil konsepsi didasarkan pada 4 cara yaitu :
 Keluarnya kantong korion pada kehamilan yang sangat dini, meninggalkan sisa
desidua.
 Kantong amnion dan isinya (fetus) didorong keluar, meninggalkan korion dan
desidua.
 Pecahnya amnion terjadi dengan putusnya tali pusat dan pendorongan janin ke luar,
tetapi mempertahankan sisa amnion dan korion (hanya janin yang dikeluarkan).
 Seluruh janin dan desidua yang melekat didorong keluar secara utuh. Kuretase
diperlukan untuk membersihkan uterus dan mencegah perdarahan atau infeksi lebih
lanjut.

E. KLASIFIKASI ABORTUS

a) Abortus Provokatus
Abortus Provakatus adalah abortus yang disengaja atau digugurkan, baik dengan
memakai obat-obatan maupun alat-alat. Abortus ini dibagi menjadi dua yaitu :
o Abortus Medisinalis
Abortus Medisinalis adalah abortus karena tindakan kita sendiri. Indikasi abortus
untuk kepentingan ibu, misalnya : penyakit jantung, hipertensi essensial, dan
karsinoma serviks.
o Abortus Kriminalis
Abortus Kriminalis adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang sah atau
oleh orang yang tidak berwenang dan dilarang oleh hukum atau dilakukan oleh yang
tidak berwenang.

b) Abortus Spontan
Abortus Spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun
mekanis.
o Abortus iminens (threatened abortion, ancaman keguguran)
Abortus iminens adalah abortus tingkat permulaan dan meripakan
ancaman terjadinya abortus, ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri
tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.
 Dasar diagnosis secara klinis :
 Anamnesis : perdarahan sedikit dari jalan lahir dan nyerti perut tidak
ada/ringan
 Pemeriksaan dalam : fluksus ada sedikit, ostium uteri tertutup, dan
besar uterus sesuai usia kehamilan
 Pemeriksaan penunjang : USG menunjukkan buah kehamilan masih
utuh, ada tanda kehidupan janin ; meragukan ; buah kehamilan tidak
baik, janin mati.
 Pengelolaan :
1. Bila kehamilan utuh, ada tanda kehidupan janin : bedrest selama
3x24 jam dan jika ada indikasi dapat diberikan progesteron
2. Bila hasil USG meragukan, ulangi pemeriksaan USG 1-2 minggu
kemudian bila hasil USG tidak baik, evakuasi
o Abortus Insipiens (inevitable abortion, abortus sedang berlangsung)
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks telah
mendatar, dan ostium uteri telah membuka, tetapi hasil konsepsi masih ada
dalam kavum uteri dan dalam proses pengeluaran.
 Dasar diagnosis secara klinis :
 Anamnesis : perdarahan dari jalan lahir disertai nyeri/kontraksi rahim
 Pemeriksaan dalam : ostium terbuka, buah kehamilan dalam rahim dan
ketuban utuh
 Pengelolaan :
1. Jika usia kehamilan <16 minggu lakukan evakuasi. Jika evakuasi
tidak dapat dilakukan segera berikan ergometrin 0,2mg IM (dapat
diulang 15 menit kemudian bila perlu)
2. Jika usia kehamilan >16 minggu tunggu pengeluaran hasil
konsepsi secara spontan dan evakuasi sisa hasil konsepsi dalam
uterus. Bila perlu berikan infus 20IU oksitosin dalam 500ml NaCl
0,9% atau RL dengan kecepatan 40tpm untuk membantu
pengeluaran konsepsi.
o Abortus Inkomplit
Abortus inkomplit adalah keadaan dimana sebagian hasil konsepsi telah
keluar dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal. Didiagnosis bila
sebagian dari hasil konsepsi telah lahir atau teraba pada vagina, tetapi sebagian
tertinggal. Perdarahan biasanya terus berlangsung, banyak dan membahayakan
ibu. Sering serviks tetap terbuka karena masih ada benda di dalam rahim yang
dianggap sebagai benda asing. Sehingga uterus akan berusaha
mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri.
 Dasar diagnosis secara klinis :
 Anamnesis : perdarahan dari jalan lahir (biasanya banyak) disertai
nyeri/kontraksi rahim dan bila perdarahan banyak dapat terjadi syok.
 Pemeriksaan dalam : ostium uteri terbuka, teraba sisa jaringan buah
kehamilan.
 Pengelolaan :
1. Perbaiki keadaan umum : bila ada syok, Hb <8gr%,transfusi
2. Evakuasi : kuretase
3. Jika usia kehamilan >16 minggu berikan infus 40IU oksitosin
dalam 1 liter NaCl 0,9% atau RL dengan kecepatan 40tpm untuk
membantu pengeluaran konsepsi.
4. Lakukan evaluasi vital sign pascatindakan setiap 30 menit
selama 2 jam.
5. Lakukan pemeriksaan jaringan secara makroskopik dan kirim
untuk pemeriksaan patologi ke laboratorium.
o Abortus komplit

Abortus komplit adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum
uteri pada kehamilan < 20 minggu atau berat janin kurang dari 500gr. Pada
keadaan ini tidak perlu dilakukan kuretase/evakuasi lagi, observasi keadaan ibu
saja. Apabila terdapat anemia sedang pada pasien berikan tablet sulfas ferosus
600mg/hari selama 2 minggu, kemudian evaluasi keadaan ibu setelah 2 minggu.

o Missed Abortion
Abortus tertunda adalah embrio atau fetus telah meninggal dalam
kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih
tertahan dalam kandungan. Rahim tidak akan membesar bahkan mengecil
karena absorpsi air ketuban dan maserasi janin, lalu payudara mengecil
kembali.
 Dasar diagnosis secara klinis :
 Anamnesis : perdarahan bisa ada atau tidak.
 Pemeriksaan obstetri : fundus uteri lebih kecil dari umur kehamilan
dan bunyi jantung janin tidak ada.
 Pemeriksaan penunjang : USG, Laboratorium
 Pengelolaan :
1. Perbaiki keadaan umum
2. Jika usia kehamilan <12 minggu : evakuasi/kuretase
3. Jika usia kehamilan 12-16 minggu : pastikan serviks terbuka, bila
perlu lakukan pematangan serviks sebelum dilakukan dilatasi dan
kuretase (laminaria)
4. Jika kehamilan 16-22 minggu : lakukan pematangan serviks lalu
evakuasi dengan infus oksitosin 20 unit dalam 500ml NaCl 0,9%
/ RL dengan kecepatan 40tpm hingga terjadi ekspulsi hasil
konsepsi. Bila dalam 24 jam evakuasi tidak terjadi, evaluasi
kembali sebelum merencanakan evakuasi lebih lanjut.
6. Lakukan evaluasi vital sign pascatindakan setiap 30 menit
selama 2 jam.
o Abortus Habitualis
Keadan dimana penderita mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau
lebih. Etiologi abortus ini adalah kelainan dari ovum atau spermatozoa, dimana
sekiranya terjadi pembuahan, hasilnya adalah patologis. Selain itu, disfungsi
tiroid, kesalahan korpus luteum dan kesalahan plasenta yaitu tidak sanggupnya
plasenta menghasilkan progesterone sesudah korpus luteum atrofis juga
merupakan etiologi dari abortus habitualis.
o Abortus Infeksiosus dan Abortus Septik
Abortus Infeksiosus adalah keguguran yang disertai infeksi genital,
sedangkan abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan
penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum.
Bakteri yang dapat menyebabkan abortus septik adalah seperti Escherichia coli,
Enterobacter aerogenes, Proteus vulgaris, Hemolytic streptococci dan
Staphylococci (Dulay, 2010). Gejala berupa demam tinggi, tampak sakit dan
lelah, takikardia, perdarahan pervaginam berbau, uterus membesar dan lembut,
nyeri tekan, tekanan darah turun.

F. MANIFESTASI
KLINIS
 Terlambat haid atau
amenorhe kurang dari 20
minggu
 Pada pemeriksaan fisik: keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun,
tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu
badan normal atau meningkat.
 Pendarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.
 Rasa mulas atau kram perut didaerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang
akibat kontraksi uterus.
 Pemeriksaan Ginekologi
a. Inspeksi Vulva : Pendarahan pervaginaan ada atau tidaknya jaringan hasil
konsepsi, tercium atau tidak bau busuk dari vulva.
b. Inspekulo : Pendarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau
sudah tertutup, ada atau tidaknya jaringan keluar dari ostium, ada tidaknya
cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.
c. Vaginal Toucher : Porsio terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak
jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia
kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang (slinger pain), tidak nyeri pada
perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri.
 Plasenta sign (gejala plasenta) yaitu perdarahan dari pembuluh-pembuluh darah
sekitar plasenta.
 Pada pemeriksaan bimanual, uterus membesar, besar uterus sesuai dengan riwayat
haid, tidak mendatar dan mempunyai konsistensi hamil normal.
G. DIAGNOSA
Diagnosa meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
 Anamnesa
Anamnesa dilakukan untuk mencari etiologi dari abortus. Dengan
anamnesa yang teliti dan menjurus maka akan dikembangkan. Pemikiran
mengenai pemeriksaan selanjutnya yang dapat memperkuat dugaan kita pada
suatu etiologi yang mendasari terjadinya abortus. Hal ini akan berpengaruh juga
pada rencana terapi yang akan dilakukan sesuai dengan etologinya.
 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi status interna umum dan status
obstetri. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan manifestasi klinis yang
mengarah pada suatu gejala abortus seperti yang sudah dijelaskan diatas.
 Pemeriksaan Penunjang
o Pemeriksaan laboratorium darah lengkap, hematokrit, golongan darah, serta
reaksi silang (cross match).
o Tes kehamilan: positif jika janin masih hidup, bahkan 2 - 3 minggu setelah
abortus.
o Pemeriksaan dopler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.
o Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion.
Menurut WHO (1994), setiap wanita pada usia reproduktif yang mengalami dua daripada
tiga gejala seperti di bawah harus dipikirkan kemungkinan terjadinya abortus:
 Perdarahan pada vagina
 Nyeri pada abdomen bawah
 Riwayat amenorea
Ultrasonografi penting dalam mengidentifikasi status kehamilan dan memastikan
bahwa suatu kehamilan adalah intrauterin. Apabila ultrasonografi transvaginal
menunjukkan sebuah rahim kosong dan tingkat serum hCG kuantitatif lebih besar dari
1.800 mIU per mL (1.800 IU per L), kehamilan ektopik harus dipikirkan. Ketika
ultrasonografi transabdominal dilakukan, sebuah rahim kosong harus menimbulkan
kecurigaan kehamilan ektopik jika kadar hCG kuantitatif lebih besar dari 3.500 mIU per
mL (3.500 IU per L). Rahim yang ditemukan kosong pada pemeriksaan USG dapat
mengindikasikan suatu abortus kompletus, tetapi diagnosis tidak definitif sehingga
kehamilan ektopik disingkirkan.

H. DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis Gejala Pemeriksaan fisik Pemeriksaan


banding penunjang
Abortus - perdarahan dari - TFU sesuai dengan - tes kehamilan urin
iminens uterus pada umur kehamilan masih positif
- Dilatasi serviks (-) - USG : gestasional sac
kehamilan sebelum
(+), fetal plate (+),
20 minggu berupa
fetal movement (+),
flek-flek
- nyeri perut ringan fetal heart movement
- keluar jaringan (-)
(+)
Abortus - perdarahan banyak - TFU sesuai dengan - tes kehamilan urin
insipien dari uterus pada umur kehamilan masih positif
- Dilatasi serviks (+) - USG : gestasional sac
kehamilan sebelum
(+), fetal plate (+),
20 minggu
- nyeri perut berat fetal movement (+/-),
- keluar jaringan (-)
fetal heart movement
(+/-)
Abortus - perdarahan banyak / - TFU kurang dari umur - tes kehamilan urin
inkomplit sedang dari uterus kehamilan masih positif
- Dilatasi serviks (+) - USG : terdapat sisa
pada kehamilan
- teraba jaringan dari
hasil konsepsi (+)
sebelum 20 minggu
cavum uteri atau
- nyeri perut ringan
- keluar jaringan masih menonjol pada
sebagian (+) osteum uteri
eksternum
Abortus - perdarahan (-) - TFU kurang dari umur - tes kehamilan urin
- nyeri perut (-)
komplit kehamilan masih positif
- keluar jaringan (+)
- Dilatasi serviks (-) bila terjadi 7-10 hari
setelah abortus.
USG : sisa hasil
konsepsi (-)
Missed - perdarahan (-) - TFU kurang dari umur - tes kehamilan urin
- nyeri perut (-)
abortion kehamilan negatif setelah 1
- biasanya tidak
- Dilatasi serviks (-)
minggu dari
merasakan keluhan
terhentinya
apapun kecuali
pertumbuhan
merasakan
kehamilan.
pertumbuhan
- USG : gestasional sac
kehamilannya tidak
(+), fetal plate (+),
seperti yang
fetal movement (-),
diharapkan. Bila
fetal heart movement
kehamilannya > 14
(-)
minggu sampai 20
minggu penderita
merasakan rahimnya
semakin mengecil,
tanda-tanda
kehamilan sekunder
pada payudara mulai
menghilang.
Mola - Tanda kehamilan (+) - TFU lebih dari umur - tes kehamilan urin
- Terdapat banyak atau
hidatidosa kehamilan masih positif
sedikit gelembung - Terdapat banyak atau (Kadar HCG lebih dari
mola sedikit gelembung 100,000 mIU/mL)
- Perdarahan banyak / - USG : adanya
mola
sedikit - DJJ (-) pola badai salju
- Nyeri perut (+)
(Snowstorm).
ringan
- Mual - muntah (+)
Blighted - Perdarahan berupa - TFU kurang dari usia - tes kehamilan urin
ovum flek-flek kehamilan positif
- Nyeri perut ringan - OUE menutup - USG : gestasional sac
- Tanda kehamilan (+)
(+), namun kosong
(tidak terisi janin).
KET - Nyeri abdomen (+) - Nyeri abdomen (+) - Lab darah : Hb rendah,
- Tanda kehamilan (+) - Tanda-tanda syok
eritrosit dapat
- Perdarahan
(+/-) : hipotensi,
meningkat, leukosit
pervaginam (+/-)
pucat, ekstremitas
dapat meningkat.
dingin. - Tes kehamilan positif
- Tanda-tanda akut - USG : gestasional sac
abdomen (+) : perut diluar cavum uteri.
tegang bagian
bawah, nyeri tekan
dan nyeri lepas
dinding abdomen.
- Rasa nyeri pada
pergerakan servik.
- Uterus dapat teraba
agak membesar dan
teraba benjolan
disamping uterus
yang batasnya sukar
ditentukan.
- Cavum douglas
menonjol berisi
darah dan nyeri bila
diraba

I. TATALAKSANA
Penatalaksanaan diberikan sesuai dengan etiologi yang mendasari timbulnya suatu
abortus.
1. Istirahat baring, tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan,
karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan
berkurangnya rangsang mekanik.
2. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu diberikan infus oksitosin dimulai 8 tetes
permenit dan naikkan sesuai kontraksi uterus.
3. Bila pasien syok karena pendarahan berikan infus ringer laktat dan secepat
mungkin tranfusi darah.
Pada abortus insipiens dan abortus inkompletus, bila ada tanda-tanda syok maka
diatasi dulu dengan pemberian cairan dan transfusi darah. Kemudian, jaringan
dikeluarkan secepat mungkin dengan metode digital dan kuretase. Setelah itu, beri obat-
obat uterotonika dan antibiotika. Pada keadaan abortus kompletus dimana seluruh hasil
konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus), sehingga rongga rahim kosong, terapi yang
diberikan hanya uterotonika. Untuk abortus tertunda, obat diberi dengan maksud agar
terjadi his sehingga fetus dan desidua dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil, dilatasi dan
kuretase dilakukan. Pada serviks inkompeten, terapinya adalah operatif yaitu operasi
Shirodkar atau McDonald.

J. PENCEGAHAN
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko abortus adalah sebagai berikut :
 Vitamin, diduga mengonsumsi vitamin sebelum atau selama awal kehamilan
dapat mengurangi risiko keguguran, namun dari 28 percobaan yang dilakukan
ternyata hal tersebut tidak terbukti.
 Antenatal care (ANC), disebut juga prenatal care, merupakan intervensi lengkap
pada wanita hamil yang bertujuan untuk mencegah atau mengidentifikasi dan
mengobati kondisi yang mengancam kesehatan fetus/bayi baru lahir dan/atau ibu,
dan membantu wanita dalam menghadapi kehamilan dan kelahiran sebagai
pengalaman yang menyenangkan. Perdarahan pada kehamilan disebabkan oleh
banyak faktor yang dapat diidentifikasi dari riwayat kehamilan terdahulu melalui
konseling dan anamnesis. Pada penelitian Herbst, dkk (2003), ibu hamil yang
tidak melakukan ANC memiliki risiko dua kali lipat untuk mengalami risiko
kelahiran prematur.
DAFTAR PUSTAKA
Basama FM, Crosfill F. The outcome of pregnancies in 182 women with threatened miscarriage.
Arch Gynecol Obstet 2004; 270:86-90

Christopher P. Crum. The Female Genital Tract. In: Ramzi S. Cotran, Vinay Kumar, Tucker
Collins. Pathologic Basis of Disease.7th ed. Philadelphia: WB. Saunders 2004; 1079-80.

Cunningham, F Gary. 2002. Tahun. Williams Obstetrics. USA: McGraw-Hill Global Education.
Goh, Judith. 2011. Examination Obstetrics and Gynaecology. Australia: Churchill Livingstone
Elsevier.
Hurt, Joseph. 2015. Pocket Obstetrics and Gynecology. China: Wolters Kluwer Health.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas
Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta: Bakti Husada.
Kuntari, T. 2010. Determinan Abortus di Indonesia. Yogyakarta: Jurnal Kesehatan Masyarakat
Nasional.
Padubidri, VG. 2015. Howkins & Bourne Shaw’s Textbook of Gynaecology 16th edition. USA:
Elsevier Private Limited.
Sharing responsibility: women, society and abortion worldwide. New York, The Allan
Guttmacher Institute,1999.
Sucipto, N. I. 2013. Abortus Imminens: Upaya Pencegahan, Pemeriksaan, dan
Penatalaksanaan. CDK-206/vol.40 no.7, th 2013.
World Health Organization. 1997. Unsafe abortion: global and regional estimates of incidence
and mortality due to unsafe abortion with a listing of available country data. Third edition.
Geneva: Division of Reproductive Health (Technical Support) WHO: 1998.
WHO/RHT/MSM/97.16.
World Health Organization. Managing incomplete abortion. WHO, 2008