Anda di halaman 1dari 6

LTM PERPINDAHAN KALOR PEMICU 2

Nama : Natashya Elly Febrina P Dikumpulkan tanggal : 11 April 2018

NPM : 1606908054 Topik : Konveksi Paksa


(Heat Exchanger)
Prodi : Teknik Kimia
Paraf asisten :
Kelompok :5

1. OUTLINE
1.1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Heat Exchanger
1.2. Fouling Factor (Faktor Pengotoran)
2. PEMBAHASAN
2.1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Heat Exchanger
Terdapat 4 faktor penyebab utama yang mempengaruhi performa heat
exchanger shell-and-tube, yaitu:

 Fouling atau pengotor


 Getaran pada tube
 Kebocoran
 Zona mati atau dead zones
2.1.1. Fouling

Adanya endapan dari material yang tidak diinginkan akibat penggunaan dalam
jangka waktu panjang menghambat aliran pada tabung alat penukar kalor. Terdapat
beberapa jenis pengotor, diantaranya adalah:

 Pengotor partikel
 Pengotor akibat korosi
 Pengotor biologis
 Pengotor akibat kristalisasi
 Pengotor akibat reaksi kimia
 Pengotor akibat pembekuan
Pengotor partikel dipengaruhi oleh karena terbawanya benda padat atau
senyawa cair mikroskopis yang tersuspensi pada aliran masuk heat exchanger. Pada
kasus korosi, permukaan heat exchanger dapat mengalami korosi akibat adanya
interaksi antara fluida kerja dengan material penyusun dari heat exchanger. Penurunan
performa heat-exchanger oleh karena factor pengotor sangat beragam, masih terdapat
banyak faktor-faktor lain yang menyebabkan turunnya kinerja dari alat penukar kalor.
Faktor pengotor mempengaruhi perpindahan panas yang terjadi sebagai tahanan
termal bagi perpindahan kalor, maka dari itu pada bahasan berikutnya, faktor pengotor
dianggap dalam perhitungan koefisien panas menyeluruh sebagai tahanan termal
kotor untuk menghitung koefisien perpindahan kalor menyeluruh sistem.

Pengotoran dalam tube heat exchanger sangat dipengaruhi oleh fluida apa
yang lewat pada aliran di dalamnya. Maka dari itu, pada Tabel 2, terdapat daftar faktor
pengotoran normal yang berdasarkan pada jenis fluidanya. Salah satu fluida yang
sering dipakai untuk sistem alat penukar kalor ialah air. Kualitas air menjadi salah satu
pertimbangan dalam pengoperasian heat exchanger. Faktor yang mempengaruhi
kualitas air sebagai fluida kerja pada sistem alat penukar kalor yang dipertimbangkan
adalah kemurnian, kandungan klorida, kadar oksigen terlarut, konsentrasi sulfide,
residual klorin, konsentrasi mangan, PH dan temperatur.
Tabel 1. Kandungan senyawa pada air yang mempengaruhi kinerja heat exchanger.

Kandungan Air Masalah yang Diakibatkan

Mineral asam Korosi


Bikarbonat oksida Korosi terutama pada condenser
Jika pH<5, tube akan mudah korosi dan tergerus menjadi
pH
tipis
Jika berikatan dengan kalsium membantuk endapan
Ion sulfat
kalsium sulfat (CaSO4)
Na Jika berikatan dengan OH menyebabkan korosi
Ion Klorida Meningkatkan korosi
Oksigen Menghasilkan endapan pada boiler
Hidrogen sulfat Menyebabkan bau dan korosi
Pada air hangat, terbentuk lapisan pelindung pada
Temperatur permukaan tube secara cepat, namun lambat pada air
dingin
Menghasilkan endapan yang menyebabkan perubahan
Mangan, besi
warna air
sumber: http://www.ipcbee.com/vol10/43-V30012.pdf

Faktor pengotor juga menyebabkan peningkatan pressure-drop pada


persinggungan dari fluida yang mengalir dalam alat. Untuk meningkatkan kinerja dari
alat penukar kalor, tabung atau tube pada alat penukar kalor perlu dibersihkan secara
periodik. Terdapat beberapa cara dalam membersihkan tabung alat penukar kalor yang
sering digunakan, yaitu metode pembersihan mekanik dan metode pembersihan
dengan bantuan zat-zat kimia. Metode mekanik memanfaatkan siraman air bertekanan
tinggi menggunakan jet yang dapat digerakan sepanjang tabung secara perlahan.
Sedangkan, metode yang kedua ialah dengan bantuan senyawa kimia. Beberapa jenis
senyawa asam lemah biasanya digunakan untuk membersihkan endapan sisa di
sepanjang tabung.
Pembersihan tabung pada alat penukar kalor memiliki rentan waktu
pembersihan yang berbeda-beda. Biasanya pada fluida air yang mengandung materi
biologis, pembersihan endapan dilakukan dalam jangka waktu tiap minggu. Hal
tersebut disebabkan oleh karena kandungan mikroorganisme yang tidak dibersihkan
akan menyebabkan korosi bahkan pada stainless steel. Pada kasus lain, tabung-tabung
yang terbuat dari alloy tembaga atau stainless steel biasanya dibersihkan dalam kurun
waktu satu sampai tiga bulan sekali, bahkan pembersihan dengan metode mekanik
dapat dilakukan dalam kurun waktu tahunan.
2.1.2. Getaran pada Tube
Permasalahan vibrasi pada tabung adalah faktor yang paling merugikan dan
merusak yang umumnya terjadi pada alat penukar kalor cross-flow atau aliran silang.
Hal tersebut terjad karena, fluida yang biasanya berupa gas (mixed stream) dialirkan
menyilang berkas tabung, sedangkan fluida lain digunakan dalam tabung (unmixed
stream) untuk memanasakan atau mendinginkan. Getaran tabung yang disebabkan
diantara dua fluida dalam heat exchanger juga tidak menutup kemungkinan terjadi
pada alat penukar kalor non cross-flow (contohnya: alat penukar kalor aksial), hal
tersebut dapat terjadi apabila kecepatan aliran fluida yang digunakan cukup tinggi.
Getaran yang dihasilkan dapat diatasi dengan mengurangi kecepatan aliran fluida.
2.1.3. Kebocoran

Terkadang pada fluida yang berasal dari tube dapat bocor ke fluida yang
berada pada shell, demikian pula kebalikannya. Hal tersebut dapat menyebabkan
kerugian yang sangat fatal. Kebocoran dapat terjadi pada sambungan tube dengan
wadah penyangganya yang disebabkan oleh karna ekspansi termal antara tube dengan
shell. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya kebocoran juga ialah siklus termal
yang disebabkan oleh karena sering dihidup atau dimatikannya alat serta sistem batch
yang menyebabkan terjadinya siklus termal yang menyebabkan adanya diferensiasi
temperatur yang tiba-tiba.

Gambar 1. (kiri) skema heat exchanger; (kanan) ilustrasi sambungan tube dengan tube shell-nya
dalam alat. (sumber: https://image.slidesharecdn.com/cfakepathcompactheatexchangersintd-
090513122457-phpapp02/95/compact-heat-exchangers-18-728.jpg?cb=1242218119; Heat transfer 10th
Edition, Holman, Halaman 529).
Alat penukar kalor yang melewati dua sampai tiga siklus termal dalam satu
hari biasanya membutuhkan maintenance mekanik yang lebih, seperti pengelasan
yang kuat pada bagian sambungan tube dengan tube sheet, pemantauan spesifik dalam
proses pembuatan shell. Mengelas tube pada wadahnya (tube sheet) tidak dapat
menjamin bebas dari kebocoran, karena terkadang kebocoran dapat memungkinkan
terjadi oleh karena faktor porositas dari hasil pengelasan. Untuk meminimalisir
kebocoran dapat digunakan double tube sheets atau wadah tabung ganda sebagai
support dari desain heat exchanger.
2.1.4. Dead Zones atau Zona Mati
Zona mati adalah area yang memiliki aliran minimal atau bahkan tidak
terdapat aliran yang terjadi dimana biasanya hanya terjadi sejumlah kecil pertukaran
panas yang biasanya berujung pada penumpukan zat-zat pengotor. Alat penukar kalor
shell-and-tube biasanya menggunakan sekat atau biasa disebut baffles untuk
menjamin bahwa fluida yang mengalir dari shell mengalir melintasi sekitaran luar
tabung sehingga menghasilkan pertukaran kalor yang menyeluruh.

Gambar 2. Baffles pada heat exchanger. (sumber: Heat transfer 10th Edition, Holman, Halaman
529).

Bagian-bagian pada sekat yang tidak terlewati fluida dari shell justru meningkatkan
kemungkinan terjadinya penumpukan zat pengotor yang lebih tinggi disbanding pada
area-area lainnya.

2.2. Fouling Factor (Faktor Pengotoran)


Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, oleh pemakaian dalam jangka watu
tertentu permukaan alat penukar kalor mungkin dilapisi oleh berbagai endapan atau
mengalami korosi sehingga mengakibatkan tahanan tambahan terhadap aliran kalor
sehingga menurunkan kemampuan kerja alat penukar kalor. Pengaruh menyeluruh dari
segala sesuatu yang menyebabkan terhambatnya perpindahan kalor dinyatakan sebagai
fouling factor atau tahanan pengotoran (Rf).

Tahanan pengotoran dapat diperhitungkan beserta tahanan termal lainnya.


Sebagaimana telah dipelajari sebelumnya bahwa nilai tahanan termal berhubungan
dengan koefisien perpindahan kalor menyeluruh
1
∑ 𝑅𝑡ℎ = ……………………(1)
𝑈𝐴

maka dari itu, perhitungan tahanan pengotoran akan diperhitungkan bersama tahanan
termal lainnya dalam menghitung koefisien perpindahan kalor menyeluruh.

Nilai faktor pengotoran hanya bisa didapatkan melalui percobaan, yaitu melalui
selisih perhitungan nilai U pada kondisi bersih dan kondisi kotor pada alat penukar
kalor, maka dari itu nilai tahanan termal pengotoran dapat didefinisikan sebagai:
1 1
𝑅𝑓 = 𝑈 −𝑈 ……………………(2)
𝑘𝑜𝑡𝑜𝑟 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ

Dengan mengetahui faktor pengotoran normal, maka dapat diketahui penurunan


koefisien perpindahan kalor akibat dari pengendapan dan korosi yang terjadi dalam
sistem. Tabel 2 menunjukan nilai faktor pengotoran untuk berbagai fluida.
Tabel 2. Daftar faktor pengotoran normal.

Jenis fluida Faktor pengotoran (m2K/W)

Air laut dibawah 125oF (50oC) 0,00009


Di atas 125oF (50oC) 0,002
Air umpan boiler yang diolah diatas 125oF 0,0002
Bahan bakar minyak 0,0009
Quenching oil 0,0007
Uap alkohol 0,00009
Uap (tak mengandung minyak) 0,00009-0,0001
Udara industri 0,0004
Refrijeran 0,0002
Air sungai dibawah 50oC 0,0002-0,001
sumber: Heat transfer 10th Edition, Holman, Halaman 527; Fundamentals of Heat and Mass Transfer
7th Edition, Incropera, Halaman 709).

Walau nilai dari fouling factor yang tersedia di Tabel 2 merupakan konstanta, namun
kenyataannya, nilai faktor pengotoran merupakan suatu variabel yang berubah-ubah
selama pengoperasian heat exchanger. Nilainya dapat berubah-ubah dari nol untuk
permukaan yang bersih hingga bertambah bahkan melebihi dari nilai yang diberikan
pada Tabel 2 apabila penumpukan sudah terakumulasi pada permukaan.

3. REFERENSI
Aljundi, K. (2018). Problems affecting performance in in Shell and tube heat exchangers.
[online] Webbusterz.org. Tersedia di: http://www.webbusterz.org/problems-
affecting-performance-in-shell-and-tube-heat-exchangers/ [Diakses pada 9 Apr.
2018].
Farhami, N dan Bozorgian, A. (2011). Factors Affecting Selection of Tubes of Heat
Exchanger. In 2011 International Conference on Chemistry and Chemical
Process. Singapore, 2011. Singapore: Islamic Azad University, Mahshahr Branch.
224-226.
Incropera, F. (2007). Fundamentals of heat and mass transfer. New York: Wiley.
Holman, J. (2010). Heat transfer. Boston: McGraw Hill Higher Education.