Anda di halaman 1dari 26

ALAT INDERA

LAPORAN

disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fisiologi Hewan yang diampu
oleh Dra. Soesy Asiah Soesilawati, MS. dan Dr. H. Saefudin, M. Si.

oleh:

Kelompok 3

Biologi A 2015

Fadhil Muhamad (1505692)

Fadillah Utami (1505063)

Fatimah Dini Hanifah (1507549)

Ghina Mutiara Abas (1503486)

Liella Kartika (1504017)

Nethasya Oktapriska (1504624)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

2017
A. Judul
Sistem Indera

B. Waktu Pelaksanaan
Hari, tanggal : Selasa, 28 November 2017
Waktu : 08.00-11.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisiologi, Gedung FPMIPA A UPI

C. Tujuan
1. Menentukan daerah pengecapan berbagai rasa pada lidah manusia.
2. Menentukan jarak bintik buta.
3. Menentukan daerah bintik buta pada kertas.
4. Menentukan titik pandangan dekat.
5. Mempelajari persepsi thermoreseptor
6. Untuk memeriksa ketajaman pendengaran

D. Dasar Teori
Reseptor pengecap disebut kuncup pengecap, yang terletak pada permukaan
atas lidah. Kuncup pengecap mengandung sel-sel sensori, merespon terhadap
empat rasa yang berbeda, yaitu rasa asin, pahit, manis dan asam (Winatasasmita,
2017). Pengecap rasa pada lidah disebut dengan taste buds mengandung pori-
pori atau dikenal sebagai taste pore yang mengandung mikrovili dan membawa
sel gustatoris yang akan distimuli oleh berbagai cairan kimiawi. Mikrovili
merupakan reseptor permukaan bagi rasa. Serabut nervus sensorik dari taste buds
pada bagian anterior lidah menghantarkan impuls ke batang otak melalui chorda
tympani (cabang dari nervus facialis). Bagian posterior lidah menghantar impuls
ke batang otak melalui nervus glossopharyng sedangkan taste buds pada pharynx
dan epiglottis diinervasi oleh nervus vagus untuk menginterpretasikan rasa
(Marya, 2002).
Taste buds mengandung beberapa reseptor rasa yaitu asam, asin, manis, pahit
dan umami. Rasa asam sering digunakan untuk mendeteksi keasaman, rasa asin
dapat memodulasi diet untuk kestabilan elektrolit tubuh, rasa manis penting
untuk menambah energi tubuh, rasa pahit dapat mendeteksi berbagai toksin dan
rasa umami digunakan untuk mendeteksi asam amino (Anis, 2009). Indera
pengecap mulai berkurang saat manusia mencapai umur 50 tahun. Perubahan-
perubahan kecil terjadi di 20 tahun pertama dalam hidup. Saat mencapai umur 30
tahun, manusia memiliki 245 taste buds pada tiap papilla di lidah. Saat berumur
70 tahun, jumlah taste buds di setiap papilla berkurang hingga berjumlah 88 saja
dimana rasa manis dan asin lebih dulu terasa efeknya (Guyton, 2009). Selain
karena usia, penurunan indera pengecap juga dapat disebabkan oleh kebiasaan
buruk seperti merokok karena rongga mulut merupakan daerah yang paling
mudah terpapar efek merugikan akibat merokok (Tjandra, 2003).
Bola mata vertebrata terdiri atas sklera atau lapisan luar yang keras dan
berwarna putih, terbuat dari jaringan ikat dan lapisan dalam yang tipis dan
berpigmen, disebut koroid. Dibagian depan sklera, terdapat kornea yang
transparan, yang melewatkan cahaya ke dalam serta bertindak sebagai lensa
tetap. Dibagian depan mata, koroid membentuk iris banyak berbentuk bulat yang
memberikan warna pada mata. Dengan mengubah ukuran, iris meregulasi jumlah
cahaya yang memasuki pupil, yaitu lubang di tengah iris tepat di dalam koroid.
Retina membentuk lapisan terdalam dari bola mata dan mengandung lapisan-
lapisan neuron dan fotosreseptor. Infomasi dari fotoreseptor meninggalkan mata
pada cakram optik, yang merupakan suatu titik bagian luar bawah retina dimana
saraf optik melekat ke mata karena tidak ada fotoreseptor dalam cakram optik,
sehingga terbentuklah bintik buta (blind spot) dimana cahaya ke bagian retina
tersebut tidak terdeteksi (Campbell, 2008).
Setiap individu memiliki jarak bintik buta yang berbeda-beda dengan individu
yang lainnya saat melihat objek. Saat kita tidak dapat melihat suatu objek pada
jarak tertentu, maka itulah jarak titik buta. Semua implus syaraf dibangkitkan
oleh sel batang dan sel kerucut. Sel batang dan sel kerucut merupakan bagian
retina yang mampu menerima rangsang sinar tak berwarna (sel batang) dan
mampu menerima rangsang sinar kuat dan berwarna (sel kerucut). Sel batang dan
sel kerucut ini berjalan kembali ke otak melalui neuron dalam saraf optik, oleh
karena itu objek dapat ditebak bentuknya. Kita melihat suatu benda dengan dua
mata. Bayangan benda jatuh di retina mata kanan dan kiri pada titik-titik yang
selaras, lalu implus-implus dari titik itu diintrepretasikan di otak sebagai suatu
bayangan. Bila satu mata ditekan, maka titik-titik selaras itu posisinya bergeser
akibatnya kita akan melihat dua bayangan (Maryanti, 2016).
Tubuh manusia terdiri atas organ-organ tubuh yang masing-masing
mempunyai fungsi tertentu. Agar organ-organ tubuh dapat bekerja sama dengan
baik, diperlukan adanya koordinasi (pengaturan). Pada manusia dan sebagian
besar hewan, koordinasi dilakukan oleh sistem saraf, sistem indra, dan sistem
hormon. Indera berperan sebagai reseptor, yaitu bagian tubuh yang berfungsi
sebagai penerima rangsang. Manusia membutuhkan informasi berupa rangsangan
dari lingkungan luar sekitar untuk dapat menjalani hidupnya dengan baik. Agar
rangsangan yang berasal dari luar tubuh dapat ditangkap oleh reseptor
dibutuhkan alat-alat tubuh tertentu yang bernama indera. Kelima alat indera itu
adalah mata, hidung, telinga / kuping, kulit dan lidah.
Menurut Guyton (2009) macam reseptor berdasarkan jenis rangsang adalah:
1. Kemoreseptor: Efektor yang peka terhadap rangsangan yang berupa bahan
kimia. contoh: bau.
2. Mekanoreseptor: Efektor yang peka terhadap rangsangan yang berupa
deformasi mekanik. Contoh: sentuhan dan suara.
3. Termoreseptor: Efektor yang peka terhadap rangsangan yang berupa suhu
(baik itu suhu panas maupun suhu dingin). Contoh: ketika terkena api dan
memegang es.
4. Fotoreseptor: Efektor yang peka terhadap rangsangan yang berupa cahaya.
Contoh: cahaya matahari.
5. Elektroreseptor: Efektor yang peka terhadap rangsangan yang berupa listrik.
Misalnya dimiliki oleh hewan aquatik, yaitu belut listrik. Digunakan sebagai
alat untuk mempertahankan diri.
6. Magnetoreseptor: Efektor yang peka terhadap rangsangan yang berupa medan
magnet. Contoh: medan magnet bumi (navigasi arah utara dan selatan),
misalnya dimiliki oleh lebah madu yang digunakan untuk menemukan
makanan.
Telinga adalah organ tubuh manusia yang berfungsi sebagai indra
pendengaran dan organ yang menjaga keseimbangan. Telinga merupakan
organ yang berperan terhadap pendengaran kita akan suara atau bunyi, hal ini
dapat terjadi karena telinga memiliki reseptor khusus yang berfungsi untuk
mengenali getaran suara. Telinga memiliki batasan frekuensi suara yang dapat
didengar, yaitu yang frekuensinya 20 Hz – 20.000 Hz. Sebagai alat indera
pendengaran telinga dapat menerima gelombang suara yang masuk melalui
telinga luar yang akan diterima oleh otak melalui proses terjadinya
pendengaran dengan organ-organ yang membeantu terjadinya proses tersebut
(Hadi, 2017).
Telinga di bagi menjadi 3 bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah,
dan telinga dalam. Masing-masing bagian tersebut memiliki fungsi spesifik.
Berikut penjelasan untuk bagian-bagian telinga tersebut:
1. Telinga Luar
Telinga bagian luar terdiri atas daun telinga (aurikula), saluran telingan
luar (analis auditoris eksternal), dan gendang telinga (membran timpani)
yang membatasinya dengan telinga dalam. Daun telinga terbentuk oleh
susunan tulang rawan yang memiliki bentuk khas untuk mendukung
fungsinya, yaitu untuk memusatkan gelombang suara yang masuk ke
saluran telinga. Saluran telinga luar, dalam bagian ini terdapat kelenjar
sudorifera yaitu kelenjar yang dapat menghasilkan serumen (bahan mirip
lilin yang dapat mengeras). Serumen ini menjaga telinga agar kotoran dari
luar yang masuk ke dalam dapat terperangkap, juga dapat memerangkap
serangga/hewan kecil yang masuk (Muhlisin, 2016).
2. Telinga Tengah
Merupakan rongga yang berisi udara dan menjaga tekanan udara tetap
seimbang. Dinding dari bagian ini dilapisi oleh sel epitel. Fungsi
utamanya adalah untuk meneruskan suara yang diterima dari telinga luar
ke telinga dalam. Pada telinga bagian tengah terdapat saluran Eustachius,
yaitu bagian yang menghubungkan telinga dengan rongga mulut (faring).
Saluran Eustachius ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara
antara telinga luar dengan telinga tengah.
Telinga bagian tengah terdiri atas 3 tulang pendengaran utama yaitu
Maleus (martil), Incus (landasan), dan Stapes (sanggurdi), Tulang-tulang
ini saling berhubungan satu sama lain (dihubungkan oleh sendi) karena
adanya sendi maka tulang-tulang ini dapat bergerak. Rangkaian 3 Tulang
yang sedemikian rupa ini berfungsi untuk mengirimkan getaran yang
diterima dari membran timpani pada telinga luar menuju ke telinga dalam
(Muhlisin, 2016).
3. Telinga Dalam
Terdiri atas bagian tulang dan bagian membran. Telinga dalam disebut
juga sebagai labirin karena bentuknya menyerupai labirin. Labirin tulang
(labirin osea) merupakan rongga yang terbentuk pada tonjolan tulang
pelipis yang berisikan cairan perilimfe. Membran labirin terletak pada
bagian yang sama dengan bagian labirin tulang, namun tempatnya lebih
dalam dan dilapisi oleh sel epitel serta berisi cairan endolimfe. Membran
labirin terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Koklea
b. Vestibuli
c. Kanalis Semisirkularis
Gambar 1. Anatomi telinga
(Robertson, 2017)

E. Alat dan Bahan


Tabel 01. Alat yang Digunakan pada Praktikum Reseptor Rasa
No. Alat Jumlah
1. Beaker glass 4 buah
2. Cutton bud 10 buah
3. Peta rasa 1 buah
4. Kapas/tissu 1 buah

Tabel 02. Bahan yang Digunakan pada Praktikum Reseptor Rasa


No. Bahan Jumlah
1. Larutan cuka 33% Secukupnya
2. Larutan NaCl 10 % Secukupnya
3. Larutan aspirin Secukupnya
4. Larutan gula tebu 5 % Secukupnya

Tabel 03. Alat yang Digunakan pada Praktikum Reseptor Visual


No. Alat Jumlah
1. Penentu bintik buta 1 buah
2. Penggaris panjang 1 buah
3. Kertas gambar 6 lembar
4. Pasak/jarum lurus 1 buah
Tabel 04. Alat yang Digunakan pada Praktikum Uji Presepsi
Thermoreseptor
No. Nama Alat Jumlah
1. Gelas ukur 1 unit
2. Pemanas air 1 unit
3. Beaker glass 3 unit
4. Stopwatch 1 unit

Tabel 05. Bahan yang Digunakan pada Praktikum Uji Presepsi


Thermoreseptor
No. Nama Alat Jumlah
1. Air 12 ml
2. Es batu secukupnya

Tabel 06. Alat yang Digunakan pada Praktikum Pendengaran


No Nama Alat Jumlah
1. Botol Kaca 2 buah

F. Langkah Kerja
Diagram 01. Langkah Kerja Praktikum Reseptor Rasa

Sebelum
melaksanakan Cutton bud dengan
praktikum, setiap ujung yang berbeda
Lidah dikeringkan
orang yang akan dicelupkan kedalam
mengggunakan tissu.
praktikum harus setiap larutan yang
berkumur terlebih berbeda.
dahulu.

Tanda (+) dituliskan pada


daerah peta rasa yang
sesuai jika merasakan
Cutton bud
larutan tersebut. Tanda (-)
disentuhkan pada
dituliskan pada daerah
daerah ujung,
peta rasa yang sesuai jika
sepanjang sisi, tengah
daerah tertentu yang
dan belakang lidah.
disentuh tidak sensitif
terhadap larutan yang
diuji.
Diagram 02. Langkah Kerja Praktikum Menentukan Jarak Bintik Buta Mata

Penentu bintik buta


dipegang pada jarak 20
Mata kiri ditutup
inch di depan wajah
sejajar mata kanan

Mata difokuskan pada


Saat bintik hitam
tanda + lalu perlahan
hilang, jarak antara
gerakan penentuk binti
penentu bintik buta
buta tersebut mendekati
dengan mata diukur
wajah
Diagram 03. Langkah Kerja Praktikum Menentukan Peta Bintik Buta

Sepotong kertas tebal


Pada kertas gambar
segi empat panjang
dibuat garis sejajar AB Titik/lingkaran hitam
dibuat dengan salah satu
dan CD sepanjang 30 dibuat pada titik A dan
ujungnya diberi tanda
cm dengan jarak garis AB
bintik hitam seukuran
diantara 1 cm
dengan titik A

Mata kiri ditutup dan


mata kanan difokuskan
memandang titik A.
Kertas gambar pada
Sementara kertas
Percobaan dari B meja diletakkan dan
penunjuk digerakan
menuju A diulangi. direkatkan ujung-
perlahan sepanjang
Fokus mata tetap pada ujungnya. Duduk dan
garis AB dan A ke B
A. Jarak B dengan 2 dagu ditopang oleh
hingga tidak tampak
diukur (bayangan penopang
titiknya (titik 1). Jarak
hilang) dan B dengan 1 dagu/tumpukkan buku
A dan 1 diukur.
(bayangan muncul lagi) sehingga kedudukan
Dilanjutkan gerakan
kepala stabil
hingga bintik hitam
terlihat kembali (titik 2).
Jarak A dan 2 diukurr

Titik tengah ditentukan


dan garis 1-2 pada AB
dan 3-4 pada CD dan
ditarik garis EF melalui Titik 1-3-6-4-2-5-1
kedua titik tersebut. dihubungkan, daerah
Percobaan diulangi 5
Petunjuk sepanjang EF yang terlingkupi garis-
dan 6 pada garis CD
digerakan dan garis ini adalah peta
ditentukan titik 5 dan 6 bintik buta subjek
pada tempat hilang dan
munculnya kembali
bayangan
Diagram 04. Langkah Kerja Praktikum Menentukan Titik Pandangan Dekat

Salah satu mata ditutup jarum didorong


dan difokuskan pada perlahan-lahan
jarum yang dipegang mendekati mata, hingga
tangan jauh-jauh benda tampak kabur

proses tersebut diulangi


jarak mata ke jarum
dengan mata yang lain
yang kabur tersebut
dan bandingkan
diukur
hasilnya

Diagram 05. Langkah kerja uji presepsi thermoreseptor

Tiga buah Beaker glass a diisi air


beaker glass hangat, beaker glass b
disedikan dan diisi air dengan
diberi label a, dicampur es batu
b, dan c

Air panas dan air Ujung jari tangan kiri


Kedua jari yang dingin dimasukkan kedalam
telah direndam dicampurkan beaker glass a dan jari
dicelupkan ke dengan cepat ke kanan dimasukkan ke
beaker glass c. dalam beaker dalam beaker glass b.
glass c. Keduanya direndam
selama 1 menit.
Diagram 06. Langkah Kerja Praktikum Pendengaran

kedua botol botol dipukulkan


tersebut lalu diarahkan ke
2 buah botol kaca
dipukulkan hingga atas, bawah, kiri,
disiapkan
menimbulkan kanan, depan, dan
bunyi belakang

pendengaran
praktikan dicek
hasil pengamatan
berdasarkan suara
ditulis dibuku
yang dihasilkan
catatan
oleh botol dari
berbagai arah
G. Hasil Pengamatan
Tabel 07 Hasil Pengamatan Reseptor rasa
No. Nama Larutan Peta Rasa Perhitungan
1. Fadillah A
+

+ - +
3/5 x100%= 60%

B
+

+ - +
3/5 x100%= 60%

-
No. Nama Larutan Peta Rasa Perhitungan
C
-

+ - + 3/5 x100%= 60%

D
-

+ + +
4 x100%= 80%

2. Ghina A
+

- - -
1/5 x100%= 60%

B
+

+ - +
4/5 x100%= 80%

+
No. Nama Larutan Peta Rasa Perhitungan
C
+

+ - + 4/5 x100%= 80%

D
+

4/5 x100%= 80%


+ - +

3. Liella A
+

- - - 2/5 x100%= 40%

+
B
+

+ + - 4/5 x100%= 80%

4/5 x100%= 80%


+ + -

4/5 x100%= 80%


+ + +

Tabel 08. Hasil Pengamatan Jarak Bintik Buta


Jarak bintik buta
Nama Mata
Mata kiri
kanan
Fadillah 14 cm 24 cm
Ghina 10 cm 10 cm
Liella 21 cm 12 cm
Nethasya 18,5 cm 20,5 cm
Tabel 09. Hasil Pengamatan Peta Bintik Buta
No. Nama Luas Peta Bintik Buta
1. Fadillah 1
𝑠1 = (𝑎 + 𝑏 + 𝑐 )
2
1
= (2,8 + 2 + 4,5)
2
1
= (9,3)
2
= 4,65 𝑐𝑚

𝐿1 = √𝑠(𝑠 − 𝑎)(𝑠 − 𝑏)(𝑠 − 𝑐)


= √4,65(2,15)(2,65)(0,15)
= √3,97
= 1,99 𝑐𝑚2

1
𝑠2 = (𝑎 + 𝑏 + 𝑐 )
2
1
= (2 + 2 + 0,5)
2
= 2,25 𝑐𝑚

𝐿2 = √𝑠(𝑠 − 𝑎)(𝑠 − 𝑏)(𝑠 − 𝑐)


= √2,25(0,25)(0,25)(2,2)
= √0,31
= 0,55 𝑐𝑚2

𝐿 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 1,99 + 0,55 = 𝟐, 𝟓𝟒 𝒄𝒎𝟐


2. Fadhil 𝐿 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝐿1 − 𝐿2
(6,5 × 2,7) (2,4 × 2,7)
𝐿 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = −
2 2
𝐿 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 8,78 − 3,24
𝐿 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 5,54 𝑐𝑚2
3. Ghina 𝐿 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝐿1 ∓
(6,2 × 1,7) (2,3 × 5)
𝐿 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = +
2 2
𝐿 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 5,27 − 5,75
𝐿 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 11,02 𝑐𝑚2
4. Liella 1
𝑠1 = (𝑎 + 𝑏 + 𝑐 )
2
1
= (2,9 + 2,8 + 0,2)
2
= 2,95 𝑐𝑚

𝐿1 = √𝑠(𝑠 − 𝑎)(𝑠 − 𝑏)(𝑠 − 𝑐)


= √2,95(2,95 − 2,9)(2,95-2,8)(2,95-0,2)
= 0,035 𝑐𝑚2

1
𝑠2 = (𝑎 + 𝑏 + 𝑐 )
2
1
= (2,8 + 2,8 + 0,1)
2
= 2,85 𝑐𝑚

𝐿2 = √𝑠(𝑠 − 𝑎)(𝑠 − 𝑏)(𝑠 − 𝑐)


= √2,85(2,85 − 2,8)(2,85 − 2,8)(2,85 − 0,1)
= 0,012 𝑐𝑚2

𝐿3 = 𝐿4 − 𝐿5
(5 × 1,1) (5 × 1,1)
𝐿3 = −
2 2
𝐿3 = 2,75 − 1,64
𝐿3 = 1,11 𝑐𝑚2
𝐿 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 0,035 + 0,012 + 1,11 = 𝟏, 𝟏𝟓𝟕 𝒄𝒎𝟐

5. Nethasya 1
𝑠1 = (𝑎 + 𝑏 + 𝑐 )
2
1
= (3,5 + 3,2 + 0,2)
2
= 3,45 𝑐𝑚

𝐿1 = √𝑠(𝑠 − 𝑎)(𝑠 − 𝑏)(𝑠 − 𝑐)


= √3,45(0,05)(0,15)(3,25)
= 0,29 𝑐𝑚2

1
𝑠2 = (𝑎 + 𝑏 + 𝑐 )
2
1
= (3,1 + 3,1 + 0,1)
2
= 3,15 𝑐𝑚

𝐿2 = √𝑠(𝑠 − 𝑎)(𝑠 − 𝑏)(𝑠 − 𝑐)


= √3,15(0,05)(0,05)(3,05)
= 0,15 𝑐𝑚2

𝐿3 = 𝐿4 − 𝐿5
(1,4 × 0,6) (1,1 × 0,2)
𝐿3 = −
2 2
𝐿3 = 0,42 − 0,11
𝐿3 = 0,31 𝑐𝑚2
𝐿 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 0,29 + 0,15 + 0,31 = 𝟎, 𝟕𝟓 𝒄𝒎𝟐
*Daerah bintik but terdapat pada lampiran
Tabel 10. Hasil Pengamatan Pandangan Dekat
Jarak pandangan dekat
Nama Mata
Mata kiri
kanan
Fadillah 5,5 cm 6 cm
Ghina 7 cm 5,5 cm
Liella 18 cm 27,5 cm
Nethasya 24 cm 15 cm
Tabel 11. Hasil Pengamatan Uji Presepsi Thermoreseptor
No. Nama Praktikan Thermoreseptor
1. Fadhillah Tangan kiri lebih cepat bereaksi
2. Ghina Tangan kiri lebih cepat bereaksi
3. Liella Tangan kiri lebih cepat bereaksi
4. Nethasya Tangan kiri lebih cepat bereaksi

Tabel 12. Hasil Pengamatan Praktikum Pendengaran


Nama Arah sumber suara
No
Praktikan Atas Bawah Kiri Kanan Depan Belakang
1. Ghina      
2. Fadillah      
3. Liella      
4. Nethasya      

H. Pembahasan
1. Reseptor Rasa
Dalam praktikum yang kami lakukan, setiap orang memiliki kepekaan rasa
yang berbeda. Sensitivitas seseorang dalam merasakan rasa asin, pahit, manis
dan asam tidak akan sama. Hal tersebut ditunjukkan dari peta rasa. Tanda
positif menunjukkan bahwa daerah lidah tersebut merasakan rasa yang
dimaksud. Sedangkan tanda negatif sebaliknya yaitu tidak merasakan rasa
yang dimaksud.
Dari sensitivitas lidah kita dapat mendeteksi penyakit. Orang yang sedang
sakit sensitivitas untuk merasakan sesuatu akan menurun tidak seperti saat
sedang sehat. Lidah orang yang sedang sakit biasanya berwarna putih. Lidah
berwarna putih ini biasanya diakibatkan oleh sisa makanan, bakteri dan sel
mati bersarang atau tersangkut di antara papilla yang membesar dan terkadang
meradang. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan rongga mulut terutama lidah
sangat perlu dilakukan.
Peta rasa yang telah dibuat hampir semua menunjukkan bagian yang
seharusnya merasakan rasa tersebut. Pada rasa manis terdapat di ujung lidah,
rasa pahit di bagian pangkal lidah, rasa asin berada di samping kanan dan kiri
pangkal lidah, dan rasa asam di bagian samping kanan dan kiri dekat ujung
lidah.
2. Reseptor Visual
Terdapat perbedaan jarak hilangnya tanda + pada waktu pengamatan.
Secara keseluruhan, rata-rata hasil menunjukkan perbedaan jaraknya hanya
sedikit. Bayangan suatu benda tidak nampak pada jarak tertentu, karena
pembiasan cahaya dari suatu benda tersebut jatuh di bagian bintik buta pada
retina. Bayangan akan nampak jika pembiasan cahaya dari suatu benda
tersebut jatuh di bagian bintik kuning pada retina. Kejelasan mata dalam
melihat benda antara orang yang satu dengan yang lain pasti berbeda. Apabila
rata-rata frekuensi kecil maka kejelasan mata dalam melihat benda masih baik
dan apabila rata-rata frekuensi besar maka kejelasan mata dalam melihat
benda kurang baik.
Jarak bintik buta pada mata kanan kiri manusia rata-rata adalah sama.
Bayangan benda tidak terlihat pada jarak tertentu, karena pembiasan cahaya
dari benda tersebut jatuh di bagian bintik buta pada retina karena cahaya yang
jatuh pada bagian ini tidak mengenai sel-sel batang dan kerucut sehingga tidak
ada impuls yang diteruskan ke saraf optik yang akhirnya menyebabkan tidak
terjadinya kesan melihat. Sebaliknya, jika pembiasan cahaya dari suatu benda
tersebut jatuh di bagian bintik kuning pada retina, maka bayangan benda akan
terlihat.
Dalam praktikum yang kami lakukan, didapatkan hasil peta bintik buta
yang berbeda-beda. Perbandingan luas daerah perbandingan bintik buta yang
di peroleh pada jarak 0,5 m lebih kecil bila di bandingkan dengan luas daerah
pengaruh bintik buta pada jarak 1 meter. Bentuk dan luas daerah yang di
pengaruhi bintik buta pada setiap orang berbeda.
Bintik buta adalah daerah tempat saraf optik meninggalkan bagian dalam
bola mata dan tidak mengandung sel konus dan batang. Dalam kehiduan
sehari – hari kita tidak sadar bahwa ada pengaruh bintik buta, karena bintik
buta merupakan bagian terkecil mata yang tidak banyak di ketahui orang
umum.
Luas atau sempitnya bintik buta di pengaruhi oleh luas atau sempitnya
jarak antara sel konus dengan sel batang Dan juga karena faktor jarak jika
jaraknya dekat maka bintik buta nya sempit dan jika jaraknya jauh maka luas
daerahnya luas.
1. Daerah bintik butanya yang lebar berarti jarak antara sel batang dengan
sel konus agak lebar
2. Daerah bintik butanya yang sempit berarti jarak antara sel batang dengan
sel konusnya sempit.
3. Presepsi Thermoreseptor
Praktikum mengenai thermoreseptor menunjukkan bahwa semua praktikan
pada kelompok kami lebih cepat merespon tangan yang telah dicelupkan
kedalam air hangat. Itu karena perbedaan suhu antara air hangat dengan
pengamatan kedua cenderung lebih tinggi daripada perlakukan dengan air
biasa. Jadi ketika tangan diberikan ransangan berupa air hangat, maka reseptor
suhu bekerja lebih cepat, sehingga bila dimasukkan lagi kedalam air yang
memiliki suhu lebih rendah dari perlakukan air hangat maka akan
meninmbulkan kesan yang lebih baik “adem” dari pada dimasukkan kedalam
air hangat. Respon ini merupakan bentuk kinerja dari termoreseptor yang
dimilki oleh kulit, sehingga bila thermoreseptor itu di aktifkan (dengan
diberikan perlakukan berupa air panas/hangat) maka akan mempercepat kerja
dari reseptor tersebut, sehingga bila diberikan perlakukan lanjutan (berupa
pemberian air agak dingin) maka respon yang dihasilkan akan lebih cepat
terutama untuk menemukan sesuatu yang akan menyebabkannya mengalami
sensasi yang lebih baik.
4. Pendengaran
Mendengar adalah kemampuan suatu organisme untuk menangkap atau
mendeteksi adanya udara yang bergetar sehingga menyebabkan terjadinya
bunyi dengan panjang gelombang (frekuensi) dan amplitudo tertentu.
Praktikum yang kami lakukan adalah menguji alat indera terutama
pendengaran dengan membuat bunyi dari 2 buah botol dengan cara
dipukulkan kemudian diarahkan ke berbagai arah. Dari hasil pengamatan yang
didapat, terdapat masing-masing 3 orang praktikan yang tidak dapat
menentukan orientasi arah sumber bunyi dari atas, depan, dan belakang.
Adanya keakurasian yang tidak sempurna (100%) dalam melokalisasikan
atau menebak posisi sumber bunyi dapat disebabkan oleh beberapa
hal. Misalnya karena mata praktikan yang ditutup, sehingga indera yang
berfungsi sebagai penglihatan tidak dapat digunakan untuk membantu dalam
menebak sumber bunyi. Faktor-faktor lainnya dapat terjadi karena faktor usia
dimana semakin tua maka semakin rendah kemampuan panca indera
seseorang. Kemudian penyebab lainnya yaitu adanya sumbatan pada liang
telinga yang menyebabkan terjadinya hal ini. Selain untuk mendeteksi
bunyi/gelombang suara, telinga juga mempunyai fungsi lain sebagai alat
keseimbangan tubuh.

I. Jawaban Pertanyaan
1. Resptor Rasa
1) Jelaskan bagaimana jalannya impuls pada percobaan diatas sehingga anda
dapat merasakan rasa manis, pahit, asam dan lain sebagainya!
Jawab:
Jalannya impuls pengecapan adalah sebagai berikut : impuls dan gustus
yang berasal dari bagian tymphani kemudian oleh neuron facialis dan
neuron sustatoris superion impuls diteruskan ke kortex syrus post
centralis parsopercularis dimana terdapat pusat pengecapan. Impuls dan
gustus yang berasal dari bagian belakang lidah (sebelah belakang sulcus
terminalis) diantarkan oleh neuron glosso pharings ke neuron gustatoris
inferior disini impuls dan diteruskan ke neuron ventralis posteromedialis
thalami dan akhirnya ke kortex post centralis pars opercularis
(Radiopoetro, 1986).
2. Reseptor Visual
1) Apa yang dimaksud dengan bintik buta dan bintik kuning?
Jawab:
Bintik kuning adalah bagian retina yang paling peka terhadap cahaya
karena merupakan tempat perkumpulan sel-sel saraf yang berbentuk
kerucut dan batang. Sel-sel retina yang tidak peka cahaya disebut bintik
buta. Bintik buta adalah bintik pertemuan saraf-saraf atau tempat
keluarnya saraf mata menuju otak. Bintik buta tidak mengandung sel
batang dan sel kerucut, sehingga tidak dapat menanggapi rangsangan
cahaya.
2) Saraf apa saja yang berhubungan dengan mekanisme penglihatan?
Jelaskan!
Jawab:
Saraf optik juga disebut sebagai saraf kranial kedua atau saraf kranial II.
Saraf kranial adalah 12 pasang saraf pada manusia yang mencuat
dari otak. Saraf kranial merupakan bagian dari sistem saraf sadar.
Dari 12 pasang saraf, 3 pasang memiliki jenis sensori (saraf I, II, VIII), 5
pasang jenis motorik (saraf III, IV, VI, XI, XII) dan 4 pasang jenis
gabungan (saraf V, VII, IX, X). Saraf-saraf tersebut adalah saraf
olfaktorius, saraf optikus, saraf okulomotor, saraf troklearis, saraf
trigeminus, saraf abdusen, saraf fasialis, saraf vestibulokoklearis, saraf
glosofaringeal, saraf vagus, saraf aksesorius, dan saraf hipoglossus.
Pasangan saraf-saraf ini diberi nomor sesuai urutan dari depan hingga
belakang. Saraf kranial sendiri merupakan bagian dari sistem saraf tepi
namun berlokasi di dekat sistem saraf pusat yakni kranium/tengkorak.
3. Persepsi Thermoreceptor
1) Jelaskan apa yang dimaksud dengan thermoreceptor, tekonoreceptor,
propiorecetor, dan interoceptor?
Jawab:
a. Thermoreceptor adalah efektor yang peka terhadap rangsangan yang
berupa suhu (baik itu suhu panas maupun suhu dingin). Contoh:
ketika terkena api dan memegang es.
b. Tekonoreceptor adalah
c. Propioreceptor adalah kesadaran atas kedudukan tangan dan
keseimbangan tubuh terhadap gravitasi bumi. Propioreseptor terdapat
otot-otot dan sendi yang memberikan informasi akan tempat-tempat
tertentu pada tubuh tanpa harus menggunakan indera penglihatan,
sebagai input atau masukan ke system syaraf.
d. Interoceptor adalah stimulus dari dalam tubuh, terletak di dalam otot,
sendi, tendon, dan organ-organ viseral.

J. Kesimpulan
1. Reseptor Rasa
Peta rasa yang telah dibuat hampir semua menunjukkan bagian yang
seharusnya merasakan rasa tersebut. Pada rasa manis terdapat di ujung lidah,
rasa pahit di bagian pangkal lidah, rasa asin berada di samping kanan dan kiri
pangkal lidah, dan rasa asam di bagian samping kanan dan kiri dekat ujung
lidah. Kepekaan setiap orang untuk merasakan suatu rasa akan berbeda-beda.
2. Reseptor Visual
Setiap individu mempunyai jarak bintik buta yang berbeda dengan individu
lainnya. Jarak bintik buta adalah jarak dimana kita tidak dapat melihat suatu
objek pada jarak tertentu. Bintik buta ini berhubungan dengan sel kerucut
(yang mampu menerima sel berwarna) dan sel batang (yang mampu menerima
sel tidak berwarna).
3. Persepsi Termoreseptor
Termoreseptor adalah neuron khusus dirancang untuk menjadi sensitif
terhadap perubahan suhu. Sel-sel ini umumnya mendeteksi variasi suhu
dalam kisaran normal. Bila thermoreseptor itu di aktifkan (dengan diberikan
perlakukan berupa air panas/hangat) maka akan mempercepat kerja dari
reseptor tersebut, sehingga bila diberikan perlakukan lanjutan (berupa
pemberian air agak dingin) maka respon yang dihasilkan akan lebih cepat
terutama untuk menemukan sesuatu yang akan menyebabkannya mengalami
sensasi yang lebih baik.
4. Pendengaran
Sebagai alat pendengaran telinga berfungsi untuk menangkap atau
mendeteksi adanya udara yang bergetar sehingga menyebabkan terjadinya
bunyi dengan panjang gelombang (frekuensi) dan amplitudo tertentu.
Kemampuan dalam melokalisasikan atau menebak posisi sumber bunyi dapat
dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti; alat indrera lain yang dipengaruhi,
usia dimana semakin tua maka semakin rendah kemampuan panca indera
seseorang, penyebab lainnya seperti gangguan pada organ telinga yang
menyebabkan penurunan fungsi pendengaran. Selain untuk mendeteksi
bunyi/gelombang suara, telinga juga mempunyai fungsi lain sebagai alat
deteksi posisi tubuh yang berhubungan dengan gravitasi dan gerak tubuh atau
dikenal sebagai alat keseimbangan/equilibrium tubuh.
DAFTAR PUSTAKA

Anis Nadhia Bt Roslan, Jenny S, Anis I. 2009 Penurunan sensitivitas rasa manis
akibat pemakaian pasta gigi yang mengandung Sodium lauryl sulphate 5%,
Jurnal Pdgi, vol. 58, no 2, hlm 10-13.
Campbell, Neil A,dkk. 2016. Biologi Jilid 3(Edisi 8). Jakarta:Erlangga
Guyton AC, Hall JE. 2009. Text book of medical physiology (Taste and smell). 11th
Ed. Mississippi: Elsevier Book Aid International, 663-7.
Hadi, Abdul. (2017). Pengertian, bagian-bagian, dan fungsi telinga. [Online].
http://www.softilmu.com/2015/04/Pengertian-Bagian-Bagian-Telinga-Fungsi-
adalah.html

Marya R K. 2002. A Text book of physiology for dental students (Taste and smell).
New Delhi: CBS Publishers & Distributors, 256-9.
Maryanti, Sri. 2016. Modul Praktikum Biologi Umum. Bandung: UIN Sunan Gunung
Djati.
Muhlisin, Ahmad. (2016). Memahami 3 bagian telinga dan fungsinya. [Online].
https://mediskus.com/dasar/memahami-3-bagian-telinga-dan-fungsinya
Radiopoetro, R., 1986, Psikologi Faal 1, Yogyakarta : Yayasan Penerbitan Fakultas
Psikologi UGM.
Tjandra, Hans. 2003. Merokok dan Kesehatan. Available From URL;
http//www.compas.co.id. Last Update 19 Desember 2011.
Winatasasmita, Djamhur, dkk. 2017. Pedoman Praktikum Fisiologi Hewan. UPI:
Bandung.

DAFTAR PUSTAKA GAMBAR

Gambar 1.

Robertson, Laura. (2017). Anatomy of the Ear. [Online].


http://www.audiologyspecialists.com/anatomy-of-the-ear/

Anda mungkin juga menyukai