Anda di halaman 1dari 31

PraktekProfesiKeperawatan

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh peningkatan protein,
penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia), edema dan serum kolesterol yang tinggi dan
lipoprotein densitas rendah (hiperlipidemia).
Insidens lebih tinggi pada laki-laki dari pada perempuan. Mortalitas dan prognosis anak
dengan sindrom nefrotik bervariasi berdasarkan etiologi, berat, luas kerusakan ginjal, usia anak,
kondisi yang mendasari, dan responnya trerhadap pengobatan. Sindrom nefrotik jarang
menyerang anak dibawah usia 1 tahun. Sindrom nefrotik perubahan minimal ( SNPM )
menacakup 60 – 90 % dari semua kasus sindrom nefrotik pada anak. Angka mortalitas dari
SNPM telah menurun dari 50 % menjadi 5 % dengan majunya terapi dan pemberian steroid.
Bayi dengan sindrom nefrotik tipe finlandia adalah calon untuk nefrektomi bilateral dan
transplantasi ginjal.
Berdasarkan hasil penelitian univariat terhadap 46 pasien, didapatkan insiden terbanyak
sindrom nefrotik berada pada kelompok umur 2 – 6 tahun sebanyak 25 pasien (54,3%), dan
terbanyak pada laki-laki dengan jumlah 29 pasien dengan rasio 1,71 : 1. Insiden sindrom nefrotik
pada anak di Hongkong dilaporkan 2 - 4 kasus per 100.000 anak per tahun ( Chiu and Yap, 2005
). Insiden sindrom nefrotik pada anak dalam kepustakaan di Amerika Serikat dan Inggris adalah
2 - 4 kasus baru per 100.000 anak per tahun. Di negara berkembang, insidennya lebih tinggi.
Dilaporkan, insiden sindrom nefrotik pada anak di Indonesia adalah 6 kasus per 100.000 anak
per tahun. (Tika Putri, http://one.indoskripsi.com ) Dengan adanya insiden ini, diharapkan
perawat lebih mengenali tentang penyakit nefrotik dan mengaplikasikan rencana keperawatan
terhadap pasien nefrotik.

B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum: menerapkan proses keperawatan pada pasien dengan sindroma nefrotik
2. tujuan khusus:
a. melakukan pengkajian pada pasien dengan penyakit sindroma nefrotik
b. melakukan perumusan diagnosa pada pasien dengan sindroma nefrotik
c. menuliskan perencanaan keperawatan pada pasien dengan sindroma nefrotik
YEKI SANDRA, S.Kep
PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

d. melaksanakan implementasi pada pasien dengan sindroma nefrotik


e. melaksanakan evaluasi pada pasien dengan sindroma nefrotik

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

BAB II

KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Pengertian

Sindrom nefrotik adalah suatu kumpulan gejala gangguan klinis, meliputi hal-
hal: Proteinuria masif> 3,5 gr/hr, Hipoalbuminemia, Edema, Hiperlipidemia. Manifestasi dari
keempat kondisi tersebut yang sangat merusak membran kapiler glomelurus dan
menyebabkan peningkatan permeabilitas glomerulus. (Muttaqin, 2011)
Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh peningkatan protein,
penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia), edema dan serum kolesterol yang tinggi
dan lipoprotein densitas rendah (hiperlipidemia). (Brunner & Suddarth, 2001).
Nefrotik sindrom merupakan kelainan klinis yang ditandai dengan proteinuria,
hipoalbuminemia, edema, dan hiperkolesterolmia. (Baughman, 2000).

2. Etiologi

Penyebab nefrotik sindrom dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut.


1. Primer, berkaitan dengan berbagai penyakit ginjal, seperti berikut ini.
a. Glomerulonefritis
b. Nefrotik sindrom perubahan minimal
2. Sekunder, akibat infeksi, penggunaan obat, dan penyakitsistemik lain, seperti berikut ini.
a. Dibetes militus
b. Sistema lupus eritematosus
c. Amyloidosis
3. Anatomi dan Fisiologi

Ginjal merupakan salah satu bagian saluran kemih yang terletak retroperitoneal dengan
panjang lebih kurang 11-12 cm, disamping kiri kanan vertebra. Pada umumnya, ginjal kanan
lebih rendah dari ginjal kiri oleh karena adanya hepar dan lebih dekat ke garis tengah tubuh.
Batas atas ginjal kiri setinggi batas atas vertebra thorakalis XII dan batas bawah ginjal setinggi
batas bawah vertebra lumbalis III.

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

Parenkim ginjal terdiri atas korteks dan medula. Medula terdiri atas piramid-piramid yang
berjumlah kira-kira 8-18 buah, rata-rata 12 buah. Tiap-tiap piramid dipisahkan oleh kolumna
bertini. Dasar piramid ini ditutup oleh korteks, sedang puncaknya (papilla marginalis) menonjol
ke dalam kaliks minor. Beberapa kaliks minor bersatu menjadi kaliks mayor yang berjumlah 2
atau 3 ditiap ginjal. Kaliks mayor/minor ini bersatu menjadi pelvis renalis dan di pelvis renalis
inilah keluar ureter.
Korteks sendiri terdiri atas glomeruli dan tubuli, sedangkan pada medula hanya terdapat
tubuli. Glomeruli dari tubuli ini akan membentuk Nefron. Satu unit nefron terdiri dari
glomerolus, tubulus proksimal, loop of henle, tubulus distal (kadang-kadang dimasukkan pula
duktus koligentes). Tiap ginjal mempunyai lebih kurang 1,5-2 juta nefron berarti pula lebih
kurang 1,5-2 juta glomeruli.
Ginjal berfungsi sebagai salah satu alat ekskresi yang sangat penting melalui ultrafiltrat
yang terbentuk dalam glomerulus. Terbentuknya ultrafiltrat ini sangat dipengaruhi oleh sirkulasi
ginjal yang mendapat darah 20% dari seluruh cardiac output.
1. Faal glomerolus
Fungsi terpenting dari glomerolus adalah membentuk ultrafiltrat yang dapat masuk ke
tubulus akibat tekanan hidrostatik kapiler yang lebih besar dibanding tekanan hidrostatik intra
kapiler dan tekanan koloid osmotik. Volume ultrafiltrat tiap menit per luas permukaan tubuh
disebut glomerula filtration rate (GFR). GFR normal dewasa : 120 cc/menit/1,73 m2 (luas
pemukaan tubuh). GFR normal umur 2-12 tahun : 30-90 cc/menit/luas permukaan tubuh anak.

2. Tubulus
Fungsi utama dari tubulus adalah melakukan reabsorbsi dan sekresi dari zat-zat yang
ada dalam ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus.
a) Tubulus Proksimal
Tubulus proksimal merupakan bagian nefron yang paling banyak melakukan
reabsorbsi yaitu ± 60-80 % dari ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus. Zat-zat
yang direabsorbsi adalah protein, asam amino dan glukosa yang direabsorbsi
sempurna. Begitu pula dengan elektrolit (Na, K, Cl, Bikarbonat), endogenus organic
ion (citrat, malat, asam karbonat), H2O dan urea. Zat-zat yang diekskresi asam dan
basa organik.
b) Loop of henle
YEKI SANDRA, S.Kep
PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

Loop of henle yang terdiri atas decending thick limb, thin limb dan ascending
thick limb itu berfungsi untuk membuat cairan intratubuler lebih hipotonik.
c) Tubulus distalis
Mengatur keseimbangan asam basa dan keseimbangan elektrolit dengan cara
reabsorbsi Na dan H2O dan ekskresi Na, K, Amonium dan ion hidrogen.
d) Duktus koligentis
Mereabsorbsi dan menyekresi kalium. Ekskresi aktif kalium dilakukan pada duktus koligen
kortikal dan dikendalikan oleh aldosteron.

4. Patofisiologi

Glomeruli adalah bagian dari ginjal yang berfungsi untuk menyaring darah. Pada
nefrotik sindrom, glomeruli mengalami kerusakan sehingga terjadi perubahan
permeabilitas karena inflamasi dan hialinisasi sehingga hilangnya plasma protein,
terutama albumin ke dalam urine. Meskipun hati mampu meningkatkan produksi
albumin, namun organ ini tidak mampu untuk terus mempertahankannya. Jika albumin
terus menerus hilang maka akan terjadi hipoalbuminemia.
Hilangnya protein menyebabkan penurunan tekanan onkotik yang menyebabkan
edema generalisata akibat cairan yang berpindah dari sistem vaskuler ke dalam ruang
cairan ekstraseluler. Penurunan volume cairan vaskuler menstimulli sistem renin-angio-
tensin, yang mengakibatkan disekresinya hormon anti diuretik (ADH) dan
aldosteron menyebabkan reabsorbsi natrium (Na) dan air sehingga mengalami
peningkatan dan akhirnya menambah volume intravaskuler.
Hilangnya protein dalam serum menstimulasi sintesis LDL ( Low Density
Lipoprotein) dalam hati dan peningkatan kosentrasi lemak dalam darah (hiperlipidemia).
Adanya hiperlipidemia juga akibat dari meningkatnya produksi lipoprotein dalam hati
yang timbul oleh karena kompensasi hilangnya protein, dan lemak akan banyak dalam
urin ( lipiduria ). (Toto Suharyanto, 2009).
Menurunya respon immun karena sel immun tertekan, kemungkinan disebabkan
oleh karena hipoalbuminemia, hiperlipidemia, atau defesiensi seng. Penyebab mencakup
glomerulosklerosis interkapiler, amiloidosis ginjal, penyakit lupus erythematosus
sistemik, dan trombosis vena renal

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

5. Manifestasi Klinis
1. Tanda paling umum adalah peningkatan cairan di dalam tubuh, diantaranya adalah:
a. Edema periorbital, yang tampak pada pagi hari.
b. Pitting, yaitu edema (penumpukan cairan) pada kaki bagian atas.
c. Penumpukan cairan pada rongga pleura yang menyebabkan efusi pleura.
d. Penumpukan cairan pada rongga peritoneal yang menyebabkan asites.
2. Hipertensi (jarang terjadi), karena penurunan voulume intravaskuler yang mengakibatkan
menurunnya tekanan perfusi renal yang mengaktifkan sistem renin angiotensin yang akan
meningkatkan konstriksi pembuluh darah.
3. Beberapa pasien mungkin mengalami dimana urin berbusa, akibat penumpukan tekanan
permukaan akibat proteinuria.
4. Hematuri
5. Oliguri (tidak umum terjadi pada nefrotik sindrom), terjadi karena penurunan volume cairan
vaskuler yang menstimulli sistem renin-angio-tensin, yang mengakibatkan disekresinya
hormon anti diuretik (ADH)
6. Malaise
7. Sakit kepala
8. Mual, anoreksia
9. Irritabilitas
10. Keletihan

6. Komplikasi
1. Trombosis vena, akibat kehilangan anti-thrombin 3, yang berfungsi untuk mencegah
terjadinya trombosis vena ini sering terjadi pada vena renalis. Tindakan yang dilakukan
untuk mengatasinya adalah dengan pemberian heparin.
2. Infeksi (seperti haemophilus influenzae and streptococcus pneumonia), akibat kehilangan
immunoglobulin.
3. Gagal ginjal akut akibat hipovolemia. Disamping terjadinya penumpukan cairan di dalam
jaringan, terjadi juga kehilangan cairan di dalam intravaskuler.
4. Edema pulmonal, akibat kebocoran cairan, kadang-kadang masuk kedalam paru-paru
yang menyebabkan hipoksia dan dispnea.
YEKI SANDRA, S.Kep
PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

7. Pemeriksaan Diagnostik
1. Laboratorium
a. Pemeriksaan sampel urin
Pemeriksaan sampel urin menunjukkan adanya proteinuri (adanya protein di
dalam urin).
b. Pemeriksaan darah
1. Hipoalbuminemia dimana kadar albumin kurang dari 30 gram/liter.
2. Hiperkolesterolemia (kadar kolesterol darah meningkat), khususnya
peningkatan Low Density Lipoprotein (LDL), yang secara umum bersamaan
dengan peningkatan VLDL.
3. Pemeriksaan elektrolit, ureum dan kreatinin, yang berguna untuk mengetahui
fungsi ginjal

2. Pemeriksaan lain
Pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan apabila penyebabnya belum diketahui
secara jelas, yaitu:
a. Biopsi ginjal (jarang dilakukan pada anak-anak ).
b. Pemeriksaan penanda Auto-immune (ANA, ASOT, C3, cryoglobulins, serum
electrophoresis).

10. Penatalaksanaan
Tujuan terapi adalah untuk mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut dan menurunkan
risiko komplikasi.
1. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan sindroma nefrotik hanya bersifat simptomatik, untuk mengurangi atau
menghilangkan proteinuria dan memperbaiki keadaan hipoalbuminemia, mencegah dan
mengatasi komplikasinya, yaitu:
a. Istirahat sampai edema tinggal sedikit. Batasi asupan natrium sampai kurang lebih 1
gram/hari secara praktis dengan menggunakan garam secukupnya dan menghindari
makanan yang diasinkan. Diet protein 2-3 gram/kgBB/hari.

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

b. Bila edema tidak berkurang dengan pembatasan garam, dapat digunakan diuretik,
biasanya furosemid 1 mg/kgBB/hari. Bergantung pada beratnya edema dan respon
pengobatan. Bila edema refrakter, dapat digunakan hididroklortiazid (25-50 mg/hari)
selama pengobatan diuretik perlu dipantau kemungkinan hipokalemi, alkalosis metabolik
dan kehilangan cairan intravaskuler berat.
c. Dengan antibiotik bila ada infeksi harus diperiksa kemungkinan adanya TBC
d. Diuretikum
Boleh diberikan diuretic jenis saluretik seperti hidroklorotiasid, klortahidon,
furosemid atau asam ektarinat. Dapat juga diberikan antagonis aldosteron seperti
spironolakton (alkadon) atau kombinasi saluretik dan antagonis aldosteron.
e. Kortikosteroid
International Cooperative Study of Kidney Disease in Children (ISKDC)
mengajukan cara pengobatan sebagai berikut :
1. Selama 28 hari prednison diberikan per oral dengan dosis 60 mg/hari/luas
permukaan badan (lpb) dengan maksimum 80 mg/hari.
2. Kemudian dilanjutkan dengan prednison per oral selama 28 hari dengan dosis 40
mg/hari/lpb, setiap 3 hari dalam satu minggu dengan dosis maksimum 60 mg/hari.
Bila terdapat respons, maka pengobatan ini dilanjutkan secara intermitten selama 4
minggu.
3. Tapering-off: prednison berangsur-angsur diturunkan, tiap minggu: 30 mg, 20 mg,
10 mg sampai akhirnya dihentikan.
f. Lain-lain
Pungsi asites, pungsi hidrotoraks dilakukan bila ada indikasi vital. Bila ada gagal
jantung, diberikan digitalis. (Behrman, 2000)
g. Diet
Diet rendah garam (0,5 – 1 gr sehari) membantu menghilangkan edema. Minum
tidak perlu dibatasi karena akan mengganggu fungsi ginjal kecuali bila terdapat
hiponatremia. Diet tinggi protein teutama protein dengan ilai biologik tinggi untuk
mengimbangi pengeluaran protein melalui urine, jumlah kalori harus diberikan cukup
banyak.
Pada beberapa unit masukan cairan dikurangi menjadi 900 sampai 1200 ml/ hari
dan masukan natrium dibatasi menjadi 2 gram/ hari. Jika telah terjadi diuresis dan edema
YEKI SANDRA, S.Kep
PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

menghilang, pembatasan ini dapat dihilangkan. Usahakan masukan protein yang seimbang
dalam usaha memperkecil keseimbangan negatif nitrogen yang persisten dan kehabisan
jaringan yang timbul akibat kehilangan protein. Diit harus mengandung 2-3 gram protein/
kg berat badan/ hari. Anak yang mengalami anoreksia akan memerlukan bujukan untuk
menjamin masukan yang adekuat.
Makanan yang mengandung protein tinggi sebanyak 3 – 4 gram/kgBB/hari, dengan
garam minimal bila edema masih berat. Bila edema berkurang dapat diberi garam sedikit.
Diet rendah natrium tinggi protein. Masukan protein ditingkatkan untuk menggantikan
protein di tubuh. Jika edema berat, pasien diberikan diet rendah natrium.

h. Kemoterapi:
Prednisolon digunakan secra luas. Merupakan kortokisteroid yang mempunyai efek
samping minimal. Dosis dikurangi setiap 10 hari hingga dosis pemeliharaan sebesar 5 mg
diberikan dua kali sehari. Diuresis umumnya sering terjadi dengan cepat dan obat
dihentikan setelah 6-10 minggu. Jika obat dilanjutkan atau diperpanjang, efek samping
dapat terjadi meliputi terhentinya pertumbuhan, osteoporosis, ulkus peptikum, diabeters
mellitus, konvulsi dan hipertensi.j
Jika terjadi resisten steroid dapat diterapi dengan diuretika untuk mengangkat
cairan berlebihan, misalnya obat-abatan spironolakton dan sitotoksik ( imunosupresif ).
Pemilihan obat-obatan ini didasarkan pada dugaan imunologis dari keadaan penyakit. Ini
termasuk obat-obatan seperti 6-merkaptopurin dan siklofosfamid.

2. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Tirah baring: Menjaga pasien dalam keadaan tirah baring selama beberapa harimungkin
diperlukan untuk meningkatkan diuresis guna mengurangi edema. Baringkan pasien
setengah duduk, karena adanya cairan di rongga thoraks akan menyebabkan sesak nafas.
Berikan alas bantal pada kedua kakinya sampai pada tumit (bantal diletakkan memanjang,
karena jika bantal melintang maka ujung kaki akan lebih rendah dan akan menyebabkan
edema hebat).

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

b. Terapi cairan: Jika klien dirawat di rumah sakit, maka intake dan output diukur secara
cermat da dicatat. Cairan diberikan untuk mengatasi kehilangan cairan dan berat badan
harian.
c. Perawatan kulit. Edema masif merupakan masalah dalam perawatan kulit. Trauma terhadap
kulit dengan pemakaian kantong urin yang sering, plester atau verban harus dikurangi
sampai minimum. Kantong urin dan plester harus diangkat dengan lembut, menggunakan
pelarut dan bukan dengan cara mengelupaskan. Daerah popok harus dijaga tetap bersih dan
kering dan scrotum harus disokong dengan popok yang tidak menimbulkan kontriksi,
hindarkan menggosok kulit.
d. Perawatan mata. Tidak jarang mata anak tertutup akibat edema kelopak mata dan untuk
mencegah alis mata yang melekat, mereka harus diswab dengan air hangat.
e. Penatalaksanaan krisis hipovolemik. Anak akan mengeluh nyeri abdomen dan mungkin
juga muntah dan pingsan. Terapinya dengan memberikan infus plasma intravena. Monitor
nadi dan tekanan darah.
f. Pencegahan infeksi. Anak yang mengalami sindrom nefrotik cenderung mengalami infeksi
dengan pneumokokus kendatipun infeksi virus juga merupakan hal yang menganggu pada
anak dengan steroid dan siklofosfamid.

D. Konsep Asuhan Keperawatan pada pasien diare


A. Pengkajian
1. Identitas pasien
1. Identitas pasien : umur: lebih banyak pada anak-anak terutama pada usia pra-sekolah
(3-6 th). Ini dikarenakan adanya gangguan pada sistem imunitas tubuh dan kelainan
genetik sejak lahir. Jenis kelamin: anak laki-laki lebih sering terjadi dibandingkan anak
perempuan dengan rasio 2:1. Ini dikarenakan pada fase umur anak 3-6 tahun terjadi
perkembangan psikoseksual : dimana anak berada pada fase oedipal/falik dengan ciri
meraba-raba dan merasakan kenikmatan dari beberapa daerah genitalnya. Kebiasaan ini
dapat mempengaruhi kebersihan diri terutama daerah genital. Karena anak-anak pada masa
ini juga sering bermain dan kebersihan tangan kurang terjaga. Hal ini nantinya juga dapat
memicu terjadinya infeksi.

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

2. Keluahan utama : biasanya pasien kaki edema, wajah sembab, kelemahan fisik, perut
membesar (adanya acites).

3. Riwayat penyakit saat ini : Untuk pengkajian riwayat kesehatan sekarang, perawatan perlu
menanyakan hal berikut:

a. Kaji berapa lama keluhan adanya perubahan urine output


b. Kaji onset keluhan bengkak pada wajah atau kaki apakah disertai dengan adanya keluhan
pusing dan cepat lelah
c. Kaji adanya anoreksia pada klien
d. Kaji adanya keluhan sakit kepala dan malaise

4. Riwayat penyakit dahulu :

a. Apakah klien pernah menderita penyakit edema?


b. Apakah ada riwayat dirawat dengan penyakit diabetes melitus dan penyakit hipertensi
pada masa sebelumnya?
c. Penting juga dikaji tentang riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat
alergi terhadap jenis obat
5. Riwayat penyakit keluarga : Kaji adanya penyakit keturunan dalam keluarga seperti DM
yang memicu timbulnya manifestasi klinis sindrom nefrotik.

3. POLA PERSEPSI DAN PENANGANAN KESEHATAN.

Persepsi terhadap penyakit:

Biasa persepsi klien dengan penyakit sindroma nefrotik mengalami kecemasan yang tinggi.
Biasanya klien mempunyai kebiasaan merokok, alkohol, dan obat-obatan dalam
kesehariannya

4. POLA NUTRISI/ METABOLISME

a. pola makan

biasanaya Makanan yang terinfeksi, sehingga status gizi dapat berubah ringan
samapai jelek dan dapat terjadi hipoglikemia.

b. pola minum
YEKI SANDRA, S.Kep
PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

biasanya klien minum kurang dari kebutuhan tubuh akibat rasa metalik tak sedap
pada mulut.

5. POLA ELIMINASI. Pola eliminasi

a. BAB

Biasanya (frekuensi, banyak, warna dan bau) atau tanpa lendir, darah dapat
mendukung secara makroskopis terhadap kuman penyebab dan cara penangana lebih
lanjut.

b. BAK

biasanya perlu dikaji untuk output terhadap kehilangan cairan lewat urine.

6. POLA AKTIVITAS

Biasanya Klien nampak lemah, gelisah sehingga perlu bantuan sekunder untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari.

7. POLA ISTIRAHAT TIDUR

Biasanya pasien dengan SN Bisa tidur atau tidak pada malam hari.

8. POLA KOGNITIF-PERSEPSI

Biasanya klien tidaka bisa menjalankan peran atau tugasnya sehari hari karena
perawatan yang lama.

9. POLA PERAN HUBUNGAN

Biasanya klien tidak bisa menjalankan peran atau tugasnya sehari-hari karena
perawatan yang lama.

10. POLA SEKSUALITAS

Biasanya terdapat masalah seksualitas pada penyakit yang diderita.

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

11. POLA KOPING DAN TOLERANSI

Biasanya yang menjadi faktor stress adalah perasaan yang tidak brdaya,
finanansial dan hubunga dan sebab nya , tidk ada kekuatana menolak dan takut, marah,
mudah tersinggung dan peruabahan kogniti

12. pemeriksaan fisik:

1. Keadaan umum daN TTV


1. Keadaan umum klien lemah, letih, dan terlihat sakit berat
2. Tingkat kesadaran klien menurun sesuai dengan tinvkat uremia
3. TTV: RR meningkat, tekana darah didapati adanya hipertensi
2. Kepala:
1. Biasanya klien berambut tipis dan kasar, klien sering sakit kepala, kuku rapuh
2. Wajah: biasanya klien berwajah bulat
3. Mata; biaanaya konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik
4. Hidung: biasanya tidak terdapat pembengkakan polip
5. Bibir: biaanaya terdapat peradangan pada mukosa mulut, peradanan gusi dan nafas
berbau
6. Gigi: biasanha terdapat karies gigi
7. Lidah: biasanya terdapat pendarahan
8. Leher: biasanya tidak terdapat pembengkakan tiroid da klenjer getah bening.

3. Dada (thorak)
a. In : biasnaya klien dengan nafas pendek, dan pernafaan kusmau (pendek dan dalam)
b. Pal : biasaya fremitus kiri dan kanan
c. Perkusi : biasanya sonor
d. Auskultasi: biasanya vesikular
4. Jantung
a. In : biasanya ictus cordis tidak terlihat
b. Pal: biasnaya ictus cordis tidak teraba pada iga kedua
c. Per: biasanay ada nyeri
d. Ausk: biasanaya terdapat irama jantung yang cepat

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

5. Abdomen
a. In: biasanya terjadi distensi abdomen, asites, penumpukan cairan, klien tampak mual
dan muntah
b. Ausk : biasnya bising usus normal
c. Pal : biasnya asites dibagam pinggang karena danya peradangan pada ginjal
d. Perk : biasnya pekak karena terjadi asites
e.
6. Ekstermitas

biasanya terdapat nyeri pada panggul, edema, kram otot, kelemahan pada tungkai, rasa
panas pada telapak kaki, keterbatasan gerak sendi

7. Sistem integumen
Biasanya wrna kulit abu-abu, kulit gatal, kering bersisisk
(Muttaqin, 2011)

B. Diagnosa keperawatan
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan akumulasi cairan di dalam jaringan.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan nafsu
makan (anoreksia).
3. intoleransi aktivitas berhubungan dengan immobilisasi

C. Intervensi
Diagnosa keperawatan NOC NIC
N
o
1 Kelebihan volume 1. Status Nutrisi 1. Pantau asupan dan haluaran
. cairan berhubungan 2. Keseimbangan cairan cairan setiap pergantian
dengan akumulasi 3. Management cairan 2. Timbang berat badan tiap
cairan di dalam Kriteria Hasil: hari
jaringan. a. Pasien tidak 3. Programkan pasien pada
menunjukan tanda- diet rendah natrium selama
tanda akumulasi fase edema

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

cairan. 4. Kaji kulit, wajah, area


b. Pasien mendapatkan tergantung untuk edema.
volume cairan yang Evaluasi derajat edema
tepat. (pada skala +1 sampai +4).
5. Awasi pemerikasaan
laboratorium, contoh:
BUN, kreatinin, natrium,
kalium, Hb/ht, foto dada
6. Berikan obat sesuai
indikasi Diuretik, contoh
furosemid (lasix),
mannitol (Os-mitol
2 Perubahan nutrisi Kriteria hasil: Klien 1. Kaji / catat pemasukan diet.
kurang dari dapat 2. Timbang BB tiap hari.
kebutuhan tubuh Mempertahankan 3. Tawarkan perawatan mulut
berhubungan dengan berat badan yang sebelum dan sesudah
kehilangan nafsu diharapkan makan .
makan (anoreksia) 4. Berikan makanan sedikit
tapi sering.
5. Berikan diet tinggi protein
dan rendah garam.
6. Berikan makanan yang
disukai dan menarik
7. Awasi pemeriksaan
laboratorium, contoh:
BUN, albumin serum,
transferin, natrium, dan
kalium.

1. Awasi TTV
2. Kaji masukan dan

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

haluaran cairan. Hitung


kehilangan tak kasat mata.
3. Kaji membran mukosa
mulut dan elastisitas
turgor kulit
4. Berikan cairan sesuai
indikasi ; misalnya
albumin
5. Berikan cairan parenteral
sesuai dengan petunjuk
6. Awasi pemerikasaan
laboratorium,
contoh protein (albumin)

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

BAB III
LAPORAN KASUS

Nama Mahasiswa : Yeki Sandra


NIM : 181123874
Ruang Praktek : interne wanita
Minggu ke - :Pertama
Tanggal Pengkajian : 3-5 september 2018

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Identitas Pasien
Nama :Ny. P No.Rek.Medis : 01 02 55 42
Umur :61 Thn
Agama : islam
Jenis Kelamin : permpuan
Pekerjaan : petani
Agama : islam
Status perkawinan : kawin
Alamat : sirih sijunjung pelayang bathin II pelayang Bungo Jambi
Tanggal masuk : 27-08-2018
Yang mengirim : keluarga
Cara masuk RS : rujukan dari SPH melalui IGD
Diagnosa medis : Sindroma Nefrotik, CKD SB IV ec PGH, Efusi Pleura
Identitas Penanggung Jawab
Nama : Muchtar
Umur :-
Hub dengan pasien : suami
Pekerjaan : petani
Alamat : sirih sijunjung pelayang bathin II pelayang Bungo Jambi

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Keluhan utama (saat masuk rumah sakit dan saat ini)
Ny.P sembab kedua tungkai sejak 3 bulan yang lalu, sakit dan nyeri dirasakan
bertambah 1 minggu ini, sembab dikuti dengan sembab pada perut, serta kedua
tangan sejak 3 bulan, pasien sesak nafas sejak 3 bulan yang lalu dan dirasakan
meningkatjika perubahan posisitubuh berbaring ke sisi kanan maupun kiri, sesak
dipengaruhi oleh aktifitasnamun tidak dipengaruhi oleh cuaca maupun makanan,
sesak tanpa diserta suara menciut, riwayat terbangun malam hari karena sesak nafas
+, riwayat memaki bantal tinggi utuk mengurangi sesak -, sejak 1 bulan yg lalu.

Alasan masuk rumah sakit


Sembab pada tungkai yang tidak kunjung sembuh.
Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya

Keluarga berusaha untuk memberikan pengobatan tradisional


b. Riwayat Kesehatan Dahulu
Riwayat HT 3 bualan yang lalu,riwayat DM (-), Demamtidak ada, tidak ada riwayat
BAB Berbusa, berbuih, dan nyeri. OS dri rujukan rs SPH dengan sindroma nefrotik +
efusi fleurabilateral, ckd, dan telah mendapat terapi albumin20% 1 kolf, injeksi lasix
1x1, asamfolat 1x5 mg, bicmat.

c. Riwayat kesehatan keluarga


Keluarga tidak memilki riwayat penyakit yang sama.

3. POLA PERSEPSI DAN PENANGANAN KESEHATAN


Persepsi terhadap penyakit : pasien sudah menerima keadaan penyakitnya saat ini dan tidak
memilki bnyak fikiran dan hnya ingin sembuh.

PENGGUNAAN :
Tembakau: ( √ ) Tidak ( ) Berhenti...............(tgl) ( ) Pipa ( ) Cerutu
( ) <1 bks/hari ( ) 1-2 bks/hari ( ) >2 bks/hari
YEKI SANDRA, S.Kep
PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

Alkohol : (√ )Tidak ( ) Ya, Jenis/Jumlah, _______/Hari _______/minggu_______/bulan


Obat lain : ( √ ) Tidak ( ) Ya, Jenis _________________ Penggunaan_____________
Tidak ada Alergi (obat-obatan, makanan, plester, zat warna): ______________Reaksi
_______
Obat-obatan warung/tanpa resep dokter :paramex dan panadol untuk meredakan nyeri.
4. POLA NUTRISI/METABOLISME
a. Pola Makan
Dirumah
Frekuensi : 2-3 kali sehari
Makan Pagi : roti sama teh hangat
Makan Siang : nasi + lauk pauk
Makan Malam : nasi + lauk pauk
Pantangan/Alergi :tidak ada
Makanan yang disukai : bubur putih

Di rumah sakit
Diet/Suplemen Khusus : ________________________________
Instruksi Diet Sebelumnya: ( ) Ya ( √ ) Tidak
Nafsu Makan: ( ) Normal ( ) Meningkat ( √ ) Menurun ( ) Penurunan Sensasi Kecap
( ) Mual ( ) Muntah,..........cc ( ) Stomatitis
NG tube : (√ ) Tidak ( ) Ya
Kesulitan Menelan (Disfagia): ( √ ) Tidak ( )Makanan Padat ( ) Cair
b. Pola Minum
Di rumah Di rumah sakit
Frekuensi :4-5 Frekuensi : 3x sehari
Jenis : air putuh dan teh Jenis : makanan luanak
Jumlah : 3-5 gelas Jumlah : 1 piring ruamah sakit
Pantangan :tidak ada
Minuman :
disukai

5. POLA ELIMINASI
YEKI SANDRA, S.Kep
PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

a. BAB
Di rumah Di rumah
sakit
Frekuensi :1 -2 x sehari Frekuensi : 2 kali sehari
Konsistensi : lunak Konsistensi : lunak
Warna : coklat Warna : (√ ) kuning ( ) ada darah
( ) lainnya, .............

Tgl defekasi terakhir 4 september


Masalah di rumah sakit : ( ) konstipasi ( ) diare ( ) inkontinensia
Kolostomi : ( √ ) tidak

b. BAK
Di rumah Di rumah sakit
Frekuensi :2-3 kali sehari Frekuensi : tidak tau
Jumlah : 200 cc Jumlah : 200 cc
Warna : kuning Warna : kuning
Masalah di rumah sakit : ( )Disuria ( ) Nokturia ( ) Hematuria ( tensi ( )
Inkontinensia : ( ) Tidak ( ) Ya ( ) Total ( ) Siang hari ( ) Malam hari
( ) kadang-kadang
(√ ) Kesulitan menahan berkemih ( ) Kesulitan mencapai toilet
Kateter : ( ) tidak ( √ ) ya, kateter....................,
6. POLA AKTIVITAS /LATIHAN
a. Kemampuan Perawatan Diri:
Aktivitas Di rumah Di rumah sakit
0 1 2 3 4 0 1 2 3 4
Makan/minum √ √
Mandi √ √
Berpakaian/berdandan √
Toileting √ √
Mobilisasi di Tempat tidur √ √

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

Berpindah √ V
Berjalan √ √
Menaiki Tangga √ √
Berbelanja √ √
Memasak √ √
Pemeliharaan rumah √ √
0 = Mandiri 2 = Bantuan dari orang lain 4 = tergantung/tdk mampu
1 = Dengan Alat Bantu 3 = Bantuan peralatan dan orang lain
b. Kebersihan diri (x/hari)
Di rumah Di rumah sakit
Mandi : 2x sehari Mandi :1 kali sehari
Gosok gigi : 2x sehari Gosok gigi : 1 x sehari
Keramas : 1x 3 hari Keramas : ada
Potong kuku : sekali seminggu Potong kuku :tidak ada

c. Alat bantu : (√ ) Tidak ada ( ) Kruk ( ) Pispot ditempat tidur ( ) Walker ( ) Tongkat
( ) kursi roda
d. Rekreasi dan aktivitas sehari-hari dan keluhan
Pasien bercerita dan bersenda gurau dengan cucunya dirumah

e. Olah raga : ( ) ya ( √ ) tidak


7. POLA ISTIRAHAT TIDUR
Di rumah Di rumah sakit
Waktu tidur : Siang 30 menit Waktu tidur : Siang 30 mnt – 1 jam
:Malam 3-4 jam :Malam________________
Jumlah jam : Jumlah jam tidur : _____________________
tidur
Masalah di RS ( )Tidak ada ( )Terbangun ( )Terbangun dini ( )Insomnia ( )Mimpi buruk
Merasa segar setelah tidur ( ) Ya ( ) Tidak

8. POLA KOGNITIF –PERSEPSI

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

Status mental: ( √ ) Sadar( ) Afasia resptif ( ) Mengingat cerita buruk ( ) Terorientasi


( ) kelam fikir ( )Kombatif ( )Tak responsif

Bicara: ( ) Nomal ( √ ) Tak jelas ( ) Gagap ( ) Afasia ekspresif


Bahasa sehari-hari : ( ) Indonesia ( √ ) Daerah ( ) lain-lain_________________
Kemampuan membaca : (√ ) bisa ( ) Tidak
Kemampuan berkomunikasi: (√ ) bisa ( ) Tidak
Kemampuan memahami : ( ) bisa ( ) Tidak
Tingkat Ansietas:( ) Ringan ( √ ) Sedang( ) Berat( ) Panik
Sebab, .........................................................
Pendengaran: tidak ada
Penglihatan: ( ) DBN( ) Kacamata( ) lensa kontak
( ) Kerusakan (____Kanan___ kiri) ( ) Buta (____Kanan____Kiri)
( ) Katarak (______Kanan____Kiri) ( ) Glaukoma
Vertigo:( ) Ya (√ ) Tidak
Ketidaknyamanan/Nyeri: ada
Deskripsi : P :udem dan banyak cairan ditubuh
Q :tertimpa benda berat den nyeri tekan
R : menyebar dianggota gerak bawah
S:
T : selalu
Penatalaksanaan nyeri: pemberian analgesik

9. POLA PERAN HUBUNGAN


Pekerjaan :
Status Pekerjaan: ( √ ) Bekerja( ) Ketidakmampuan jangka pendek
( ) Ketidakmampuan jangka panjang( ) Tidak bekerja
Sistem pendukung: ( √ ) Pasangan( ) Tetangga/teman( ) tidak ada
Keluarga serumah suami.. keluarga tinggal berjauhan: sanak family
Masalah keluarga berkenaan dengan perawatan dirumah sakit:
Kegiatan sosial : majlis taklim

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

10. POLA SEKSUALITAS/REPRODUKSI


Tanggal Menstruasi Akhir(TMA) : sudah monopouse
Masalah Menstruasi:( ) Ya,.......................( ) Tidak
Pap Smear Terakhir: _______________________________________
Pemeriksaan Payudara/Testis Mandiri Bulanan:( ) Ya( √ ) Tidak
Masalah Seksual berhubungan dengan penyakit: ___________________________________

11. POLA KEYAKINAN NILAI

Agama: ______Islam
Pantangan Keagamaan: ____√___Tidak_________Ya (uraikan)
_________________________________________________________________________
Pengaruh agama dalam kehidupan: petunjuk dalam menjalani hari
Permintaan kunjungan rohaniawan pada saat ini: ____Ya____√____Tidak
12. PEMERIKSAAN FISIK
Gambaran
Tanda Vital Suhu : 36,0 C Lokasi : aksila
Nadi : 96xi
TD : 180/110 Lokasi : pergelangan tangan
RR : 24x/i
Tinggi badan 161 cm
Berat badan sebelum masuk RS : 63 kg, rumah sakit :57 kg
LILA
Kepala : Terlihat normal
Rambut Rambut hitam, rapi dan tidak mudah rontok
Mata Conjungtiva anemis, sklera ikterik
Hidung Tidak kelainan, tidak ada sekret, tidak ada sianosis
Mulut Mukosa bibir kering, pucat.
Telinga Tidak ada gangguan, tidak ada serumen.
Leher
Trakea Tidak ada kelainan pada trakea

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

JVP Tidak ada pembengkakan jungularis


Tiroid Tidak ada pembnegkakan jungularis
Nodus Limfe Tidak ada pembengkakan limfe
Dada I : simestris kiri dan kanan
Paru P : premitus kiri dan kanan
P : suara sonor
A : suara nafas bronko vesikular
Jantung I : ictus cordis tak terlihat
P : ictus cordis teraba di IC v
P : Suara lupdup
A : tidak ada suara murmur
Abdomen I : tidak ada distensi abdomen
P : pembengkakan hepar tak terlihat
P : shifthy dullnes positif
A : bising usus ada
Ekstremitas Kekuatan otot lemah
Muskuloskeletal/Sendi Inspeksi oedema pada esktremitas atas dan bawah
Palpasi udem
Vaskular Perifer
Integumen Inspeksi udem pada kulit
Palpasi CRT < 2 dtk
Neurologi
Status mental/GCS 15
Saraf cranial
Reflek fisiologi Bagus
Reflek patologis
Payudara Sama kiri dan kanan, mamae tidak ada luka lecet

Genitalia Tidak ada luka lecet, terpasang kateter

Rectal Tidak ada luka lecet

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

13. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Diagnostik
a. Pemeriksaan EKG untuk melihat irama jantung
b. Rontgen thorak

Laboratorium nilai rujukan


Albumin: 1,5 g/dl 3,4-5,0
Protein +3 negatif
Globulin 2,4 3,4 – 8,2 g/dl
Natrium 133
K 4,2
Clorin 111
Calsium 8,2
Hb 8,8
Leukosit 7.970
Trombosit 509.000
Hematokrit 27
GDS 93
14. TERAPI
a) Ist (mb rg 11)
b) Asam folat 1x 5
c) Bicnat 1x16 m
d) Amlodipin 1x 10 g
e) Inj furosemid 1x 10 g
f) Transfusi albumin 20%

PERENCANAAN PEMULANGAN
Rencana Tindak Lanjut:

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

B. ANALISA DATA
No Data Penunjang Masalah Keperawatan Etiologi
1 DS:- klien mengeluhkan nafas Ketidak efektifan pola nafas Nyeri dan efusi
sesak. pleura
- Klien mengeluhkan
demam
- Mengeluhkan di daerah
paru
- Sering terbangun malam
hari karena sesak
DO:- Suhu 38,7 C
- Bunyi nafas ronki basah
- Suara nafas sesak
- RR 28x/i
- Pasien terpasang nasal
kanul

2 DS:- Mengeluhkan nyeri di Kelebihan volume cairan


kedua tungkai tak kunjung
sembuh
- Mengeluhkan tungkai
sembab dan berat
digerakan
- Mengeluhkan lelah
karena sakit Gangguan fungsi
DO:- Ekstremitas atas dan renal pada
bawah sembab glomerulus dan
- pasien tampak sulit efusi pleura
bergerak
- Pasien terpasang kateter
- Pemeriksaan labor

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

Albumin: 1,5 g/dl


Protein +3
Globulin 2,4
Natrium 133
K 4,2
Clorin 111
Calsium 8,2
Hb 8,8
3 DO:- mengeluh lemah dan tak Intoleransi aktifitas
berdaya
- Mengeluh sulit bergerak
DS:- klien tampak lemah dan
bedres total
- Semua kebutuhan ADL
dibntu perawat dan
keluaraga Immobilisasi

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

C. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


(sesuai dengan prioritas)

No Diagnosa keperawatan Tgl Tanda Tgl teratasi Tanda


ditegakkan tangan tangan
1. Ketidakefektifan bersihan 03 sept 03 sept
jalan nafas bd akumulasi 2018 2018
mukus dijalan nafas Senin pagi, Senin pagi,
09.00 11.00
2. Kelebihan volume cairan b.d
Gangguan fungsi renal pada 03 sept
nefron 2018
Senin pagi,
3 Intoleransi aktifitas b.d 08:30
immobilisasi 03 sept
2018.
Senin pagi
08:30

D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


RENCANA KEPERAWATAN
DIAGNOSA
AKTIFITAS
KEPERAWATAN NOC NIC KEPERAWATAN

Ketidakefektifan Status pernafasan: Pemantauan respirasi: a) Monitor frekuensi rata-


pola napas b.d - Kepatenan rata, irama, kedalaman,
nyeri dan efusi jalan nafas dan usaha
pleura - Ventilasi b) Catat pergerakan dada,
Status TTV penggunaan otot-otot
tambahan
c) Monitor pola nafas

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

d) Monitor dispneu,
kelemahan otot diafragma
dan kemampuan otot
pernafasan
e) Auskultasi bunyi suara
nafas
f) Monitor pernafasan dan
status oksigen
g) Monitoadanya suara
perubahan nafas

Kelebihan volume 1. Status Nutrisi a) Management


1. Pantau asupan dan
cairan berhubungan 2. Keseimbangan cairan
haluaran cairan setiap
dengan akumulasi cairan b) Fluid balance
pergantian
cairan di dalam 3. Management c) hydration
2. Timbang berat badan tiap
jaringan. cairan
hari
Kriteria Hasil:
3. Programkan pasien pada
a. Pasien tidak
diet rendah natrium
menunjukan
selama fase edema
tanda-tanda
4. Kaji kulit, wajah, area
akumulasi
tergantung untuk edema.
cairan.
Evaluasi derajat edema
b. Pasien
(pada skala +1 sampai
mendapatkan
+4).
volume cairan
5. Awasi pemerikasaan
yang tepat.
laboratorium, contoh:
BUN, kreatinin, natrium,
kalium, Hb/ht, foto dada
6. Berikan obat sesuai
indikasi Diuretik, contoh
furosemid (lasix),

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

mannitol (Os-mitol
immobilisasi
Intoleransi aktifitas Toleransi akitifitasi
b.d immobilisasi Perawatan diri

E. CATATAN PERKEMBANGAN
No Hari/ No. Implementasi Evaluasi TTD
Tgl/ Dx
Jam

YEKI SANDRA, S.Kep


PraktekProfesiKeperawatan
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

YEKI SANDRA, S.Kep