Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH HERNIA INGUINALIS

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas KMB II

Disusun Oleh :

Syarah Mujahidah (032016068) Presenter


Lusi Desianti (032016069) Presenter
Alya Nurhaliza (032016059)
Sintia Mustopa (032016050)
Anggy Agustina Rahayu (032016060)
Cut Afnon Zulfa (032016061)
Denis Kurnia Sudjana (032016043)
Rai Rendra Mahardika (032016052)

Program Studi S1 Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ‘Aisyiyah Bandung
Jalan KH Ahmad Dahlan (Banteng Dalam) No. 6 Bandung
Tahun Ajaran 2017/208
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan
makalah ini.
Makalah ini menjelaskan tentang “HERNIA INGUINALIS” makalah ini
kami buat untuk memudahkan para pembaca memahami materi yang akan
disajikan.Dengan rangkuman materi yang kami dapatkan dari beberapa sumber
diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Dan tidak menutup kemungkinan dalam makalah ini terdapat kekurangan-
kekurangan baik penyajian maupun teknis penyusunannya sehingga sulit untuk
dimengerti,maka dari itu sudilah kiranya memberi kritis dan saran untuk lebih
meningkatkan mutu pembuatan makalah selanjutnya. Dan mudah-mudahan
makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan kami.

Bandung, 20 Maret 2018

Kelompok 3
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

B. IDENTIFIKASI MASALAH
1. Apa pengertian hernia inguinalis
2. Jelaskan etiologi hernia inguinalis
C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian hernia inguinalis
2. Mampu menjelaskan etiologi hernia inguinalis
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Hernia inguinalis

Hernia inguinalis adalah kondisi prostrusi (penonjolan) organ intestinal masuk


ke rongga melalui defek atau bagian dinding yang tipis atau lemah dari cincin
inguinalis. Materi yang masuk lebih sering adalah usus halus, tetapi bisa juga
suatu jaringan lemak atau omentum (Erickson, 2009). Hippocrates
menggunakan istilah hernios untuk suatu tonjolan untuk menggambarkan
hernia.

Menurut Sandra M (2002) dalam Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah


Sistem Pencernaan (2013), hernia inguinal (paling umum), visera menonjol ke
dalam kanal inguinal pada titik dimana tali spermatik muncul pada pria, dan
sekitar ligament pada wanita.

Menurut Williams & Wilkins (2011), hernia inguinal yaitu penonjolan bagian
organ dalam melalui pembukaan yang abnormal pada dinding rongga tubuh
yang mengelilinginya.

B. Etiologi Hernia inguinalis

Menurut Williams & Wilkins (2011), penyebab hernia ingunal yaitu :

1. Tidak langsung (hernia inguinalis lateralis) : kelemahan pada batas fasial


cincin inguinal internal
2. Langsung (hernia inguinalis medialis) : kelemahan pada dinding fasial
kanal inguinal
3. Kelemahan otot abdomen (disebabkan oleh malformasi kongenital,
trauma, atau proses penuaan) atau meningkatnya tekanan intra abdomen
(disebabkan oleh pengangkatan beban yang berat, kehamilan, obesitas,
atau mengejan)
C. Tanda dan Gejala Hernia inguinalis

Menurut Mulyanti & Diyono (2011)

1. Umumnya terjadi pada pria


2. Insiden tinggi pada bayi dan anak kecil
3. Dapat menjadi sangat besar, terdapat benjolan di selangkangan
4. Sering turun ke skrotum disebut turun berok, burut, kelingsir
5. Pasien mengeluh nyeri tekan
6. Hernianya tegang dan tidak direduksi
7. Terdapat gambaran hipovolemi

Menurut Kowalak (2011), biasanya menimbulkan benjolan yang tampa


didaerah yang mengalami herniasi pada saat berdiri atau mengejan. Benjolan
tersebut akan menghilang ketika pasien berbaring atau tidur. Tekanan pada isi
hernia bisa menyebabkan nyeri akut dan rasa nyeri ini akan berkurang ketika
hernia tereposisi. Obstruksi usus parsial dapat menyebabkan anoreksia,
muntah, nyeri, nyeri lipat paha, dan bising usus berkurang. Obstruksi usus
total dapat menimbulkan shock, demam tinggi, dan bising usus yang tidak
terdengar.

Menurut Williams & Wilkins (2011)

1. Tonjolan muncul di sekitar area hernia ketika pasien berdiri atau mengejan
dan menghilang ketika pasien berada dalam posisi supine.
2. Ketegangan pada komponen yang mengalami herniasi kemungkinan
menyebabkan nyeri tajam dan terus menerus pada pangkal paha yang
meghilang ketika hernia berkurang.
3. Strangulasi menimbulkan nyeri hebat yang kemungkinan menyebabkan
obstruksi usus besar parsial atau total dan nekrosis usus.

D. Patofisiologi
hernia inguinalis tidak langsung (hernia inguinalis laterlis), dimana
prostusi keluar dari rongga peritoneum melalui anolus inguinalis internus
yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior, kemudian hernia
masuk kedalam kanalis ingunalis dan jika cukup panjang, akan menonjol
keluar dari anulus eksternus. Apabila hernia ini berlanjut, tonjolan akan
sampai ke skrotum melalui jalur yang sama seperti pada saat testis
bermigrasi dari rongga perutke skrotum pada saat perkembangan janin.
Jalur ini biasanya menutup sebelum kelahiran, tetapi mungkin tetap
menjadi sisi hernia di kemudian hari.
Hernia inguinalis langsung (hernia inguinalis medialis), dimana kondisi
prostusi langsung kedepan melalui segitiga Hesselbach, daerah yang
dibatasi oleh ligamen inguinalis di bagian inferior, pembuluh epigastrika
inferior dibagian lateral dan tepi otot rektus dibagian medial. Dasar
segitiga hesselbach dibentuk oleh fasia transversal yang diperkuat oleh
serat aponeurosis muskulus tranvensus abdomenis yang terkadang tidak
sempurna sehingga daerah ini potensial untk menjadi lemah. Hernia
medialis, karena tidak keluar melalui kanalis inguinalis dan tidak ke
skrotum, umumnya tidak disertai strangulasi karena cincin hernia longer.
Saraf ilioinguinalis dan saraf iliofemoralis mempersarafi otot diregio
inguinalis,sekitar kanlis inguinalis dan tali sperma, serta sensibilitas kulit
regioinguinalis, skrotum, dan sebagain kecil kulit tungkai atas bagian
proksimomedial ( Sjamsuhidayat,2005).
Pada komdisi hernia inguinalis yang bisa keluar masuk atau prostusi dapat
bersifat hilang timbul disebut dengan hernia responibel. Kondisi prostusi
terjadi jika pasien meninggalkan aktivitas berdiri atau mengedan kuat dan
masuk lagi jika berbaring atau distimulasi dengan mendorong masuk
perut, kondisi ini biasanya tidak memberikan manifestasi keluhan nyeri
atau gejala obtruksi usus. Apabila tidak dapat masuk kembali ke dalam
rongga perut, maka disebut hernia ireponibel atau hernia akreta. Kondisi
ini biasanya berhubungan dengan perletakan isi kantong pada peritoneum
kantong hernia. Tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus
(Nickes.2008).

E. Prosedur Diagnostik
F. Penatalaksanaan Medis
Setiap penderita hernia inguinalis lateralis selalu harusn diobati dengan
jalan pembedahan. Pembedahan secepat mungkin setelah diagnosis
ditegakan. Adapun prinsip pembedahan hernia inguinalis lateralis adalah
sebagai berikut.
1. Herniotomi : membuang kantong hernia. Hal ini terutama pada
anak-anak karena dasarnya adalah kongenital tanpa adanya
kelemahan dinding perut.
2. Hernioplasti,
3. Herniorafi : membuang kantong hernia disertai tindakan bedah
plastic untuk memperkuat dinding perut dibelakang kanalis
inguinalis.

Indikasi pembedahan pada hernia inguinalis, meliputi hal hal berikut.

1. Penonjolan besar yang mengindikasikan peningkatan risiko hernia


inkarserata atau hernia strangulate
2. Nyeri hebat, yang merupakan respon masuknya penonjolan memenuhi
kanal.

Hernia inkarserata dan hernia strangulate. Pembedahan mungkin diperlukan


untuk menghilangkan bagian dari usus,apabila kondisi hernia adalah inkarserata
dan hernia strangulate dengan intervensi reseksi usus. Reseksi usus juga dapat
dilakukan secara laporoskopi (Sherwinter,2009).

1. Antibiotik
Sebelum pemberian, harus dilakukan biakan uji resistensi kuman
selama tiga kali berturut turut dalam keadaan bebas antibiotik. Setelah
diketahui penyebabnya, maka diberikan beberapa obat berikut :
a. Ampisilin dan kloksasilin. Dosis yang diberikan sebanyak
100mg/kg BB per hari intravena selama dua minggu. Bila kuman
yang ditemukan masih sensitif, pengobatan dilanjutkan (dosis
sama) secara intraamuscular selama enam minggu dan biakan
kuman diulang lagi
b. Penisilin G 10-20 juta unit per hari intravena dengan antibiotik lain
untuk gram negatif, seperti kanamisin dan lain sebagainya, selama
2 minggu. Bila kuman sensitif terhadap penislin, pengobatan
diteruskan 2 x 1juta / hari selama 6 minggu, dan bila masih sensitif
terhadap kloramfenikol, dosis obat diturunkan menjadi 50mg / kg
BB / hari per oral (sebelunya secara intramuskular)
c. Bila penyebabnya karna jamur, maka pengobatan dilakukan
dengan amfoterisin B. Ulangan biakan darah hendaknya dilakukan
setelah pengobatan dengan antibiotik dihentikan selama 1 minggu

2. Pengobatan suportif
Pengobatan suportif perlu diberikan selain pengobatan pokok. Dalam
banyak kasus, pengobatan suportif ini justru sering kali sangat
menentukan keberhasilan pengobatannya. Berikut beberapa
pengobatan suportif yang dapat diberikan kepada pasien :
a. Diet tinggi kalori, protein, vitamin, dan mineral.
b. Perbaikan anemia dan penurunan laju endap darah.
c. Pada pemberian antibiotik dosis tinggi, perlu diperhatikan kadar
elektrolit dalam darah sehubungan dengan adanya natrium dan
kalium didalam antibiotik.
d. Bila ada gagal jantung, berikan digitalis dan diuretikum .
e. Berikan kortikosteroid bila ada tanda hipersensitif terhadap
penisilin atau antibiotik lainnya dan pada komplikasi penyakit
jantung rematik aktif
f. Istirahat mutlak dilakukan sampai gejala hilang, mengingat jantug
yang hiperaktif kan mempermudah terjadinya embolus.
g. Bila suhu meningkat lagi selama masa pengobatan, perlu
dipikirkan kemungkinan terjadinya :
1) Pengobatan yang tidak adekuat,
2) Tromboflebitis,
3) Embolus,
4) Metastasis supuratif,
5) Drug faver, dan
6) Infeksi berulang
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
Hernia Inguinalis

PEMBAHASAN KASUS
Tn. K, usia 56 tahun, dirawat di ruang bedah umum dengan keluhan diare sejak
sehari yang lalu, 5x/hr warna hijau kecoklatan. Saat ini diberi diet cairan 30
sendok teh, terpasang nacl, 0,9% 1500 cc/hr, DC catt 500 cc warna hijau, merasa
mual dan perut terasa penuh, tanpa muntah, belum mandi sejak masuk RSHS,
merasa lemas dan ingin tidur saja. Riwayat sejak 3 bulan yl terdapat benjolan
dilipatan paha kanan dan berkurang pada saat posisi terlentang, sejak 4 hari SMRS
merasa sulit BAB, 2 hari SMRS perut dirasa membesar, mengeras, muntah warna
coklat, semakin nyeri lalu datang ke RSHS dan dilakukan hernioraphy. Riwayat
pekerjaan supir truk dan sering mengangkat muatan truk. Pemeriksaan fisik: TD
120/90 mmHg, N 90x/mnt regular, S 37,1C, RR24x/mnt, TB 168cm, BB awal 65
kg, BB sekarang 62 kg, akral hangat, distensi abdomen, nyeri tekan abdomen kiri
skala 5, nyeri ulu hati, BU 13x/mnt, distensi kandung kemih tidak ada, urin output
1500cc warna hijau coklat, rambut kotor, tidak rapi, kulit kering dan kotor, bau
badan tercium mulut bibir kotor, tidak ada lecet. Pemeriksaan diagnostic : HB
13,8g/dl, hematocrit 40%, eritrosit 4,69, lekosit 7600, natrium 127 meq/dl,kalium
4,3 meq/dl, Cl 97 meq/dl, ca bebas 4,26 meq/dl, magnesium 2,27meq/dl. Terapi
yang didapat: cefazolin 2x1 gr IV, ranitidine 2 x 50 mg IV, ketorolac 2x50mg
A. Pengkajian
Pengumpulan data
1. Identitas
a. Identitas pasien
Nama : Tn.K
Umur : 56 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Supir truk
Suku bangsa : Sunda
Status Martital : Menikah
Alamat : Jl. Cinangnenggung No.01A
Tanggal masuk RS : 20 Maret 2018
Tanggal pengkajian : 21 Maret 2018
Nomor Medrec : 012016015
Diagnosa Medis : Gastroenteritis

b. Identitas Penanggung Jawab


Nama : Ny. M
Umur : 40 tahun
Jenis Kelamin : Wanita
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Hubungan Dengan Pasien : Ibu
Alamat : Jl. Cinangnegggung No. 01

2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Mengeluh lemas dan ingin tidur
b. Riwayat Penyakit Sekarang
4 hari SMRS sulit BAB , 2 hari SMRS perut membesar
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien memiliki riwayat benjolan di lipatan paha kanan sejak 3 bulan
yang lalu, berkurang pada saat posisi terlentang.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak Terkaji, namun harus ada yang dikaji sebagai berikut :
Menggunakan genogrom atau menyusun riwayat kesehatan anggota
keluarga.
3. Data Sosial
Tidak ada keterbukaan antara klien dan keluarga sehingga keluarga baru
mengetahui saat pemeriksaan di rumah sakit bahwa anaknya selama ini
adalah pecandu putaw.
4. Data Spiritual
Data yang ditambahkan : Hubungan dengan klien dengan Allah SWT,
spirit dari siapa saja, melaksanakan sholat sehat-sakit,sakit menurut
agama klien seperti apa

5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
1) Tingkat Kesadaran : Compos Mentis
2) GCS : 15

3) Tanda Tanda Vital


Tekanan Darah : 120/90 mmhg
Nadi : 90 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 37,10C,
Tinggi Badan : 168 cm
Berat Badan : 65 kg
BBi : 62 kg
b. Pemeriksaan Fisik Persistem
1) Sistem pernapasan
Saat dilakukan pengkajian TTV : RR 24 x/menit, klien mengeluh
sesak nafas dan batuk-batuk.
2) Sistem kardiovaskular
Setelah dilakukan pengkajian TTV : TD 120/90 mmhg, nadi: 100
x/menit, dan Bunyi jantung : murmur (positif).
3) Sistem hematologi

6. Data penunjang :
a. Hasil Laboratorium

Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Interpretasi

1. Hemoglobin 13,8 g/dl 14-18 g/dl Kurang


2. Hematocrit 40 % 40-48 % Normal
3. Eritrosit 4,69 4,6-6,3 Normal
4. Lekosit 7600 400-10000 Normal
5. Natrium 127 meq/dl 135-145 Kurang
6. Kalium 4,3 meq/dl 3,5-5,0 Normal
7. CI 97 meq/dl 95-105 Normal
8. Ca bebas 4,26 meq/dl 9-11 Kurang
9. Magnesium 2,27 meq/dl 1,3-2,1 Tinggi

b. Terapi yang diberikan : cefazolin 2x1 gr IV, ranitidine 2x50 mg IV,


ketorolac 2x50 mgIV
B. Analisa Data
No. Data Etiologi Problem
1. DS : Klien Konsumsi obat antibiotik Ketidakseimbangan
mengeluh diare cairan elektrolit
sejak sehari yang
lalu sebanyak 5x Mortilitas usus blum normal

DO :
- Feses hijau Diare
kecoklatan
- Na: 127
mEq/dL Pengeluaran elektrolit dalam
(normal 135-
tubuh yang berlebih seperti Na+,
145 mEq/dL)
Cl, K

MK: Ketidakseimbangan
cairan elektrolit
2. DS: Peningkatan isi abdomen (usus)
- Klien
memasuki kantong hernia
mengalami
mual muntah
SMRS
Usus terjepit
- Klien
mengeluh
perutnya terasa
Peristaltik usus terganggu adanya
penuh,
membesar dan sumbatan pada pencernaan
mengeras

DO:
- Muntah
Perut dirasa penuh (kembung)
kecoklatan
- Disteni
abdomen (+)
- Nyeri tekan
abdomen kiri Distensi abdomen
skala 5 (region
nyeri melebar)
- Nyeri ulu hati
(+)
- Akral : hangat
3. DS : Nyeri pada bagian inguinalis Defisit perawatan
- Klien diri
mengatakan
nyeri Kemalasan untuk membersihkan
berkurang saat
diri
terlentang
- Kesibukan
pekerjaan

DO : Defisit perawatan diri


- Rambut kotor
dan tidak rapih
- Mulut bau dan
kotor
- Kulit kering dn
kotor
- Bau badan
tercium
- Bibir kotor
(tidak ada
lecet)
4. DO: Peningkatan isi abdomen (usus) Anoreksia,
- BB Awal : 65 Kg Ketidakseimbangan
memasuki kantong hernia
- BB Akhir : 62 Kg Nutrisi kurang dari
kebutuhan
Usus terjepit

Peristaltik usus terganggu adanya


sumbatan pada pencernaan

Kembalinya makanan dari


kerongkongan atau refluks balik
makanan

Mual, Muntah

Anoreksia

Intake makanan
BB

Ketidakseimbangan Nutrisi
kurang dari kebutuhan
5. DS: Peningkatan isi abdomen (usus) Gangguan
- Klien
memasuki kantong hernia Eliminasi
mengeluh
perutnya
membesar
Usus terjepit
- Klien merasa
sulit BAB
sejak 4 hari
Peristaltik usus terganggu adanya
SMRS
sumbatan pada pencernaan
DO:
- Distensi
abdomen (+)
- Nyeri tekan
Obstipasi
abdomen skala
5
Disfungsi motilitas
gastrointestinal

Sulit BAB (Konstipasi)

Gangguan Eliminasi

6. DS: Peningkatan isi abdomen (usus)


- Klien
memasuki kantong hernia
mengatakan
nyeri abdomen
kiri, nyeri ulu
Usus terjepit
hati

DO:
Peristaltik usus terganggu adanya
- Terdapat
benjolan sumbatan pada pencernaan
dilipatan paha
kanan
- Skala nyeri 5
Obstipasi

Disfungsi motilitas
gastrointestinal

Sulit BAB (Konstipasi)

Gangguan Eliminasi

C. Diagnosa keperawatan prioritas


1.
D. INTERVENSI
Nama : Tn. K
Usia : 56 Th
Jenis kelamin : Laki-laki
Dianosa medik : Gastroenteritis
No medrec : Tidak Terkaji

N Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


O keperawatan
1. Ketidakefektif Setelah dilakukan 1. Posisikan pasien 1. Posisi semi fowler dapat memberikan
an pola napas tindakan keperawatan dengan semi kesempatan pada proses ekspirasi paru
berhubungan selama 3x24 jam fowler 2. Memantau keadaan proses bernafas pasien.
dengan nyeri diharapkan pola napas 2. Kaji frekuensi 3. Merilekskan dada untuk memperlancar
dapat efektif kembali dan kedalaman pernapasan klien.
dengan kriteria hasil : pernafasan 4. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen dalam
- Tidak adanya 3. Lakukan terapi tubuh.
dispnea fisik dada, sesuai 5. Mengetahui status respirasi klien lancar/tidak.
- Keseimbangan kebutuhan.
ventilasi dan perfusi 4. Berikan terapi
- Tanda vital dalam oksigen, sesuai
rentang normal kebutuhan.
5. Monitory status
respiratory dan
oksigenasi

2 Penurunan Setelah dilakukan 1. Auskultasi nadi 1. Biasnya terjadi takikardi (meskipun pada saat
curah jantung tindakan keperawatan apical ; kaji istirahat) untuk mengkompensasi penurunan
berhubungan selama 3x24 jam frekuensi, iram kontraktilitas ventrikel.
dengan Penurunan cardiac jantung 2. Penurunan curah jantung dapat menunjukkan
perubahan output klien dapat 2. Palpasi nadi menurunnya nadi radial, popliteal, dorsalis, pedis
kontraktilitas teratasi dengan kriteria perifer dan posttibial. Nadi mungkin cepat hilang atau
hasil : tidak teratur untuk dipalpasi dan pulse alternan.
3. Berikan oksigen
-Menunjukkan curah 3. Meningkatkn sediaan oksigen untuk kebutuhan
tambahan dengan
jantung yang miokard untuk melawan efek hipoksia/iskemia.
kanula
memuaskan dibuktikan
nasal/masker dan
oleh efektifitas pompa
jantung, status sirkulasi, obat sesuai
perfusi jaringan, dan indikasi
status TTV (kolaborasi)
-menunjukkan satus
sirkulasi yang
dibuktikan dengan
indicator hasil
-Tidak ada edema paru,
perifer, dan tidak ada
asites

3. Hipertermi Setelah dilakukan 1. Beri kompres air 1. Perpindahan panas secara konduktif
berhubungan tindakan keperawatan hangat 2. Mengetahui penyebab terjadinya hipertermi.
dengan selama 3x24 jam 2. Kaji factor 3. Proses konveksi akan terhalang oleh pakaian
peningkatan diharapkan suhu inti penyebab yang ketat.
laju tubuh berada di kisaran terjadinya
metabolisme normal dengan kriteria hipertermi
hasil : 3. Longgarkan
-Suhu tubuh normal pakaian, berikan
(36,5-37,5 oC) pakaian yang tipis
yang menyerap
keringa
4. Intoleransi Setelah dilakukan 1. Bantu klien 1. Aktivitas yang terlalu berat dan tidak sesuai
aktivitas yang tindakan keperawatan memilih aktivitas dengan kondisi klien dapat memperburuk
berhubungan selama 3x24 jam yang sesuai toleransi terhadap latihan.
dengan diharapkan kondisi klien dengan kondisi. 2. Mencegah penggunaan energy yang berlebihan
ketidakseimba stabil saat beraktivitas 2. Tentukan karena dapat menimbulkan kelelahan.
ngan antara dengan kriteria hasil : pembatasan 3. Mengetahui etiologi kelelahan, apakah mungkin
suplai dan - Tanda vital dalam aktivitas fisik efek samping obat atau tidak.
kebutuhan rentang normal pada klien
oksigen Tekanan Darah 3. Monitor efek dari
120/80 mmHg, RR pengobatan klien
saat beraktivitas
dalam batas normal
(16-20x/menit),
Nadi saat aktivitas
dalam batas normal
(60-100x/menit)
E. EVALUASI
NO Diagnosa Evaluasi

1 Ketidakefektifan pola napas S : Pasien mengatakan tidak merasakan sesak lagi.


berhubungan dengan nyeri O : Pasien tampaknya sedikit tenang dan tidak merasa sulit
lagi untuk bernafas.
A : Respirasi 24x/menit.
P : Melanjutkan/menghentikan intervensi

2. Penurunan curah jantung S : Pasien mengatakan tidak merasakan sesak lagi.


berhubungan dengan O : Pada pemeriksaan Echocardiogram tidak terdapat infeksi
perubahan kontraktilitas pada katup jantung lagi.
A : Masalah teratasi
P : Melanjutkan/menghentikan Intervensi

3. Hipertermia berhubungan S : Klien mengatakan tidak demam lagi.


dengan peningkatan laju O : Tampaknya klien tidak menggigil lagi.
metabolism A :Suhunya 37 oC
P : Melanjutkan/ menghentikan Intervensi

4. Intoleran aktifitas S : Pasien mengatakan sudah tidak mudah lelah lagi


berhubungan dengan O : Pasien tampaknya tidak lemas lagi
ketidakseimbangan antara A : : TD 120/80 mmHg.
suplai dan kebutuhan P : Melanjutkan/ menghentikan Intervensi
oksigen
F. IMPLEMENTASI
NO Diagnosa Implementasi
1. Ketidakefektifan Pola T1 : Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
Napas Berhubungan sesak
dengan nyeri T2 : Bantu pasien untuk berada dalaam posisi senyaman
mungkin
T3: Dorong pasien untuk melakukan tindakan relaksasi
2. Penurunan curah jantung T1 : Mengauskultasi tonus jantung dan jantung dan bunyi
berhubungan dengan nafas.
perubahan kontraktilitas T2 : Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat-
obatan sesuai indikasi
T3: Menganjurkan tekhnik relaksasi, aktivitas pengalihan.
3. Hipertermia berhubungan T1 : Terus pantau suhu tubuh pasien
dengan peningkatan laju T2 : Kolaborasi dengan dokter dalam memberikan obat
metabolism penurun demam
T3: Memberikan kompres air hangat

4. Intoleran aktifitas T1 : Mengobservasi kehilangan/ gangguan keseibangan


berhubungan dengan dan kelemahan otot saat pasien
ketidakseimbangan T2 : Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi
antara suplai dan infuse
kebutuhan oksigen T3: Menganjurkan klien beristirahat bila terjadi kelelahan
dan kelemahan
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme
pada endokard atau katup jantung. Dahulu, infeksi pada endokard ini banyak
disebabkan oleh bakteri, sehingga disebut endokarditis bakterial. Sekarang, infeksi
ini bukan hanya disebabkan oleh bakteri saja, tetapi karena mikroorganisme lain,
seperti jamur, virus, dan lain-lain. Perjalanan penyakit ini bisa akut, subakut, dan
kronik, tergantung pada virulensi mikroorganisme dan daya tahan penderita.
Endokarditis infektif adalah infeksi pada endokardium dan katup jantung.
Endokarditis infektif dapat terjadi secara tiba tiba dan dalam beberapa hari bisa
berakibat fatal (endokarditis infektif akut ). Bakteri penyebab endokarditis
bakterialis akut kadang cukup kuat untuk menginfeksi katup jantung yang
normal. Sedangkan, bakteri penyebab endokarditis bakterialis subakut hampir
selalu menginfeksi katup abnormal maupun katup yang rusak.

Faktor penyebab endokarditis infektif yaitu Cedera pada kulit,


Pembedahan tertentu, Katup jantung yang telah mengalami kerusakan, Katup
jantung buatan, Kelainan bawaan, Adanya septikemia, Bakteremia (adanya bakteri
di dalam darah), Pemakaian obat obatan suntik.

Farmakoterapeutik yang dapat digunakan antara lain yaitu Antibiotik


seperti Ampisilin dan kloksasilin, Penisilin G, Bila penyebabnya karna jamur,
maka pengobatan dilakukan dengan amfoterisin B. Pemeriksaan diagnostik yang
dapat dilakukan antara lain Kultur darah, JDL, Laju sedimen eritrosit (ESR)
meningkat,Sinar X dada,EKG, Ekokardiogram .

B. Saran

Untuk menerapkan asuhan keperawatan dengan kasus endokarditis infektif,


sebaiknya perawat mengkaji masalah pada pasien. Disamping itu, pengetahuan,
sikap, dan keterampilan perawat juga diperlukan untuk memberikan asuhan
keperawatan sesuai rencana dan keadaan pasien secara utuh, terencana, dan
sistematis.
DAFTAR ISI

Mulyanti, Sri & Diyono. 2013. Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan.
Jakarta: Prenada Media Group.

Muttaqin, arif & Kumala sari. 2011. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika.

Williams, Lippincott & Willkins. 2014. Kapita Selekta Penyakit dengan implikasi
keperawatan edisi 2. Jakarta: EGC.

Kowalak, dkk. 2017. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC

Naga, Sholeh N. 2012. Ilmu Penyakit Dalam. Yogyakarta: Diva Press

Ardiansyah, Muhamad. 2012. Medikal Bedah.Yogyakarta: Diva Press


Muttaqin, Arif. 2012. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Kardiovaskular dan Hematologi. Jakarta: Salemba Medika

Bare, Brenda G. 2002. Keperawatan Medik al-Bedah. Jakarta: EGC