Anda di halaman 1dari 56

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.


Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit adalah melalui pelayanan
penunjang medic, salah satunya dalam upaya pengelolaan linen di rumah sakit. Linen di rumah
sakit dibutuhkan disetiap ruangan .kebutuhan akan linen di setiap ruangan ini sangat bervariasi
baik jenis, jumlah dan kondisinya. Alur pengelolaan linen cukup panjang, membutuhkan banyak
keterlibatan tenaga kesehatan dengan bermacam- macam klasifikasi. Untuk mendapatkan
kualitas linen yang baok, nyaman dan siap pakai diperlukan perhatian khusus seperti
kemungkinan terjadinya pencemaran infeksi dan efek penggunaan bahan kimia.
1.2. Dasar Pelayanan Linen Di Rumah Sakit
1. UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan.

2. UU No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkingan hidup.

3. Uu No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja.

4. PP No. 85/1999 tentang perubahan PP No. 18 tahun 1999 tentang pengelolaan limbah
berbahaya dan beracun.

5. PP No. 20 tahun 1990 tentang pencemaran air.

6. PP No. 27 tahun 1999 tentang AMDAL.

7. Permenkes RI No. 472/ Menkes/ peraturan / V / 1996 tentang penggunaan bahan


berbahaya bagi kesehatan.

8. Permenkes No. 416/Menkes/Per/XI/1992 tentang penyediaan air bersih dan air minum.

9. Permenkes No. 986/Menkes/Per/XI/1992 tentang penyehatan lingkungan rumah sakit.

10. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 983/Menkes/SK/XI/1992 tentang pedoman


organisasi rumah sakit

11. Kepmen LH No. 58/MENLH/12/1995 tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan
rumah sakit.

12. Pedoman sanitasi rumah sakit di Indonesia tahun 1992 tentang pengelolaan linen.

13. Buku pedoman infeksi nosokomial tahun 2001.


14. Standart pelayanan rumah sakit tahun 1999.
1.3. Tujuan.
1.3.1. Umum:
Untuk meningkatkan mutu pelayanan linen di rumah sakit.
1.3.2. Khusus:
1. Sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan linen di rumah sakit.

2. Sebagai pedoman kerja untuk mendapatkan linen yang bersih, kering, rapi, utuh dan
siap pakai.

3. Sebagai panduan dalam meminimalisasi kemungkinan untuk terjadinya infeksi silang.

4. Untuk menjamin tenaga kesehatan, pengunjung dan lingkungan dari bahay potensial.

5. Untuk menjamin ketersediaan linen di setiap unit di rumah sakit.

1.4. Definisi.
1. Antiseptic adalah desinfektan yang digunakan pada permukaan kulit dan membrane
mukosa untuk menurunkan jumlah mikroorganisme.
2. Dekontaminasi adalah suatu proses untuk mengurangi jumlah pencemaran
mikroorganisme atau substansi lain yang berbahaya sehingga aman untuk penanganan
lebih lanjut.
3. Desinfeksi Adalah proses inaktivasi mikroorganismemelalui system.
4. Infeksi adalah proses dimana seseorang yang rentan terkena invasi agen pathogen atau
infeksius yang tumbuh, berkembang biak dan dan menyebabkan penyakit.
5. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat di rumah sakit dimana pada saat masuk
rumah sakit tidak ada tanda/ gejala atau tidak dalam masa inkubasi.
6. Steril adalah kondisi bebas dai semua mikroorganismetermasuk spora.
7. Linen adalah bahan atau alat yang terbuat dari kain atau tenun.
8. Kewaspadaan universal:
adalah suatu prinsip dimana darah, semua jenis cairan tubuh, sekreta, kulit yang tidak
utuh, dan selaput lendir pasien dianggap sebagai sumber potensial untuk penularan
infeksi HIV maupun infeksi lainnya. Prinsip ini berlaku bagi semua pasien, tanpa
membedakan resiko, diagnose ataupun status.
9. Linen kotor terinfeksi adalah linen yang terkontaminasi dengan cairan, darah dan feses
terutama yang berasal dari infeksi TB paru, infeksi salmonella dan shigella ( sekresi dan
ekskresi), HBV dan HIV ( jika terdapat noda darah) dan infeksi lainnya yang spesifik
(SARS) dimasukkan kedalam kantong dengan segel yang dapat terlarut di air dan
kembali ditutup dengan kantong luar berwarna kuning bertuliskan terinfeksi.
10. Linen kotor tidak terinfeksi adalah linen yang tidak teerkontaminasi oleh darah, cairan
tubuh dan feses yang berasal dari pasien lainnya secara rutin, meskipun mungkin linen
yang diklasifikasikan dari seluruh pasien berasl dari sumber ruang isolasi yang terinfeksi.
11. Bahan berbahaya adalah zat, bahan kimia dan biologi baik dalam bentuk tunggal
maupun campuran yang dapat membahayakan kesehatan dan lingkungan hidup secara
langsung atau tidak langsung yang mempunyai sifat beracun, karsiogenik, teratogenik,
mutagenic, korosif dan iritasi.
12. Limbah bahan berbahaya adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung
bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau
jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan atau
merusak lingkungan hidup dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan,
kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.
13. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan alat kerja, bahan dan
proses pengolahannya, tempat kerja, dan lingkungan serta cara-cara melakukan
pekerjaan.
14. Kecelakaan kerja adalah kejadian tidak terduga dan tak diharapkan, dapat menyebabkan
kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai dengan berat. 4
15. Bahay ( hazard ) adalah suatu keadaan yang berpotensi menimbulkan dampak
merugikan atau menimbulkan kerusakan. 5
BAB II
MANAJEMEN LINEN DI RUMAH SAKIT

2.1. Jenis Linen.


Ada bermacam- macam jenis linen yang digunakan di rumah sakit. Jenis linen yang dimaksud
antara lain:
1. Speri atau laken.

2. Steek laken.

3. Perlak.

4. Sarung bantal.

5. Sarung guling.

6. Selimut.

7. Alas kasur.

8. Bed cover.

9. Tirai atau korden.

10. Kain penyekat.

11. Kelambu.

12. Taplak .

13. Schort.

14. Celemek, topi dan lap.

15. Baju pasien.

16. Baju operasi.

17. Kain penutup untuk tabung gas, troli.

18. Macam- macam doek.

19. Popok bayi, baju bayi, kain bedong, gurita bayi.

20. Steek laken bayi.


21. Kelambu bayi.

22. Laken bayi.

23. Selimut bayi.

24. Masker.

25. Washalp.

26. Handuk.

27. Linen untuk operasi.


2.2. Bahan Linen.
Bahan linen yang digunakan biasanya terbuat dari:
1. Katun 100%.

2. Wool.

3. Kombinasi seperti 65% aconilic dan 35% wool.

4. Silk.

5. Blacu.

6. Flannel.

7. Tetra.

8. CVC 50% - 50%.

9. Polyester 100%.

10. Twill atau drill.

Pemilihan bahan linen sebaiknya disesuaikan dengan fungsi dan cara perawatan serta
penampilan yang diharapkan.
2.3. Peran Dan Fungsi.
Peran pengelolaan linen di rumah sakit cukup penting. Diawali dengan perencanaan, salah satu
subsistem pengelolaan linen adalah proses pencucian. Alur aktifitas fungsional dimulai dari
penerimaan linen kotor, penimbangan, pemilahan, proses pencucian, pemerasan, pengeringan,
sortir noda, penyetrikaan, sortir linen rusak, pelipatan, merapikan mengepak atau mengemas,
menyimpan dan mendistribusikan ke unit yang membutuhkan sedangkan linen yang rusak
dikirim ke kamar jahit.
Untuk melakukan aktifitas tersebut dengan lancer dan baik, maka diperlukan alur yang
terencana dengan baik.Peran sentral lainnya adalah perencanaan, pengadaan, pengelolaan,
pemusnahan, control, dan pemeliharaan fasilitas sehingga linen dapat tersedia di unit yang
membutuhkan. 7
2.4. Prinsip Pengelolaan Linen Di Rumah Sakit.
Kemungkinan menimbulkan infeksi
Rendah Tinggi
Desinfeksi tingkat rendah Desinfeksi tingkat tinggi
Sterilisasi
2.5. Pengelolaan Linen.
Tata laksana pengelolaan pencucian linen terdiri dari:
1. Perencanaan.

2. Penerimaan linen kotor.

3. Penimbangan.

4. Pensortiran atau pemilahan.

5. Proses pencucian.

6. Pemerasan.

7. Pengeringan.

8. Sortir noda.

9. Penyetrikaan.

10. Sortir linen rusak.

11. Pelipatan. Merapikan, pengepakan atau pengemasan.

12. Penyimpanan.

13. Distribusi.

14. Perawatan kualitas linen.

15. Pencatatan dan pelaporan.

Skema pengelolaan linen di rumah sakit:


Perencanaan
Proses pengadaan
Pengadaan
Penerimaan 8
Pemberian identitas
Distribusi ke unit yang membutuhkan
Pemanfaatan linen oleh unit terkait
Hilang Rusak
Perbaikan musnahkan
Pencatatan dan pelaporan 9
BAB III
SARANA FISIK, PRASARANA DAN PERALATAN.
3.1. Sarana Fisik.

Sarana fisik untuk instalasi laundry mempunyai persyaratan tersendiri.Terutama untuk


pemasangan peralatan pencucian yang baru.Sebelum pemasangan data lengkap sangat
diperlukan untuk memudahkan koordinasi dan jejaring selama pengoperasiannya.Tata letak
dan hubungan antar ruangan memerlukan perencanaan yang baik, untuk memudahkan
penginstalasian termasuk instalasi listrik, air, uap, dan lainnya. Saran fisik instalasi laundry
terdiri dari beberap ruang antara lain:
1. Ruang penerimaan linen kotor.

Ruangan ini memuat:


a. Meja penerima, yaitu untuk linen yang terinfeksi dan tidak terinfeksi. Linen yang diterima
harus sudah terpisah, kantong warna kuning untuk yang terinfeksi dan kantong warna hitam
untuk yang tidak terinfeksi.

b. Timbangan.

c. Ruang yang cukup untuk troli pembawa linen kotor untuk dilakukan desinfeksi sesuai
standart.

2. Ruang pemisahan atau pemilahan linen.

Ruang ini memuat meja panjan untuk mensortir jenis linen yang tidak terinfeksi.
3. Ruang pencucian dan pengeringan.

Ruang ini memuat:


a. Mesin cuci.

b. Mesin pengering.

4. Ruang penyetrikaan linen.

Ruang ini memuat:


a. Penyetrikaan linen menggunakan flatwork ironers atau pressing ironers.
b. Alat setrika biasa atau manual.

5. Ruang penyimpanan linen.

Ruang ini memuat:


a. Lemari dan rak untuk menyimpan linen.

b. Meja administrasi.
10
6. Ruang distribusi linen.

Ruang ini memuat:


Meja panjang untuk penyerahan linen bersih kepada pengguna.
3.2. Prasarana.
1. Prasarana listrik.

Sebagian besar peraltan laundry menggunakan daya listrik. Adapun tenaga listrik yang
digunakan di instalasi laundry terbagi dua bagian antara lain:
a. Instalasi penerangan.

b. Instalasi tenaga.

2. Prasarana air.

Prasarana air untuk instalasi laundry memerlukan sedikitnya 40% dari kebutuhan air di rumah
sakit atau diperkirakan 200 liter per tempat tidur per hari. Kebutuhan air untuk proses
pencucian dengan kualitas air bersih sesuai standart air.
Standart air yang digunaka untuk mencuci mempunyai standart air bersih berdasarkan
Permenkes No. 416 tahun 1992 dan standart khusus bahan kimia dengan penekanan tidak
adanya:
a. Hardness – garam ( calcium, carbonate, dan chloride 0.

Standart baku mutu: 0 – 90 ppm.


- Tingginya konsentrasi garam dalam air menghambat kerja bahan kimia pencuci sehingga
proses pencucian tidak berjalan sebagaimana mestinya.
- Efek pada linen dan mesin.
- Garam akan mengubah warna linen putih menjadi keabu- abuan dan linen warna akan cepat
pudar.
- Mesin cuci akan berkerak ( scale forming), sehingga dapat menyumbat saluran- saluran air dan
mesin.
b. Iron – Fe ( besi ).

Standart baku mutu: 0 – 0,1 ppm.


- Kandungan zat besi pada air mempengaruhi konsentrasi bahan kimia, dan proses pencucian.
- Linen putih akan menjadi kekuning-kuningan ( yellowing ) dan linen warna akan cepat pudar.
- Mesin cuci akan berkarat.
11
- Bersifat alkali.
3. Prasarana uap.

Prasarana uap pada instalasi laundry dipergunakan pada proses pencucian, pengeringan dan
setrika.
3.3. Peralatan Dan Bahan Pencuci.

Peralatan pada instalasi laundry menggunakan bahan pencuci kimiawi dengan komposisi dan
kadar tertentu, agar tidak merusak bahan yang dicuci atau linen, mesin cuci, kulit petugas yang
melaksanakannya dan limbah buangannya tidak merusak lingkungan.
Peralatan yang ada di instalasi laundry antara lain:
1. Mesin cuci / washing machine.

2. Mesin peras / washing extractor.

3. Mesin pengering / drying tumbler.

4. Mesin penyetrika / flatwork ironer.

5. Mesin penyetrika pres / presser ironer.

3.4. Produk Dan Bahan Kimia.

Menggunakan bahan kimia berlebihan tidak akan membuat hasil lebih baik, begitu juga apabila
kekurangan.cBahan kimia yang dipakai secara umum terdiri dari:
1. Alkali.

Mempunyai peran meningkatkan fungsi atau peran detergent dan emulsifier serta membuka
pori dari linen.
2. Detergent.

Sabun pencuci.
Mempunyai peran menghilangkan kotoran yang bersifat asam secara global.
3. Emulsifier.
Mempunyai peran untuk mengemulsi kotoran yang berbentuk minyak dan lemak.
4. Bleach atau pemutih.

Mengangkat kotoran atau noda, mencemerlangkan linen, dan bertindak sebagai desinfektan,
baik pada linen yang berwarna ( ozone ) dan yang putih ( chlorine ).
5. Sour atau penetral.

Menetralkan sisa dari bahan kimia pemutih sehingga PH nya menjadi 7 atau netral. 12
6. Softener.

Berfungsi melembutkan linen. Dipergunakan pada proses akhir pencucian.


7. Starch atau kanji.

Digunakan pada proses akhir pencucian untuk membuat linen menjadi kaku. Juga sebagai
pelindung linen terhadap noda sehingga noda tidak sampai ke serat.
3.5. Pemeliharaan Peralatan.

Alat cuci pada instalasi laundry dijalankan oleh para operator alat, dengan demikian para
operator alat harus memelihara peralatannya.Berbagai kelainan pada saat pengoperasian,
misalnya kelainan bunyi pada alat dapat segera dikenali oleh para operator. Pemeliharaan
peralatan pencucian terdiri dari:
1. Pembersihan peraltan sebelum dan sesudah pemakaian, dilakukan setiap hari dengan
menggunakan lap basah dicampur dengan bahan kimia multi purpose cleaner dan dikeringkan
dengan lap kering. Untuk bagian tombol atau control digunakan lap kering dan jangan terlalu
ditekan,dikarenakan pada bagian ini biasanya tertilis prosedur dengan semacam stiker yang
mudah dihapus. Setelah pemakaian kosongkan air untuk mengurangi kandungan air dalam
mesin cuci sekecil mungkin. Jika terbentuk noda putih didalam mesin cuci, cucilah bagian dalam
drum dengan air bersih.

2. Pemeriksaan bagian yang bergerak, dilakukan setiap satu bulan sekali yaitu pada bearing,
engsel pintu alat atau roda yang berputar. Berilah minyak pelumas atau fat. Penggantian gemuk
atau fat secara total disarankan dua tahun sekali. Jenis dan produk minyak pelumas mesin yang
digunakan dapat diketahui dari buku operating manual dari setiap mesin.

3. Pemeriksaan V- belt dilakukan setiap satu bulan sekali. Yakni secara visual dengan melihat
keretakan lempeng V- belt dan ketegangannya ( kelenturan). Toleransi pengukuran 0,2 – 0,5
mm. jika melebihi atau sudah tidak memennuhi syarat V –belt tersebut harus segera diganti.

4. Pemeriksaan pipa uap panas ( steam ) dilakukan setiap akan dimulai menjalankan mesin cuci.
Setiap saluran diperiksa terlebih dahulu terutama pipa yang terbungkus Styrofoam ( isolasi )
dengan cara dilihat apakah masih terbungkus dengan baik dan tidak ada semburan air atau uap.
Pada prinsipnya pada sambungan antara pipa dengan peralatan pencucian harus dalam
keadaan utuh
13
den tidak bocor. Jika terjadi kebocoran harus segera dilaporkan pada tehnisi rumah sakit untuk
perbaikan.
14
BAB IV
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA ( K3).
4.1. Kesehatan Dan Keselamata Kerja.
Potensi bahaya pada instalasi laundry.
1. Bahaya mikrobiologi.

Bahaya mikrobiologi adalah penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh
mikroorganisme hidup seperti bakteri, virus, riketsia, parasit dan jamur.Petugas laundry yang
menangani linen kotor senantiasa kontak dengan bahan dan menghirup udara yang tercemar
kuman pathogen. Menurut penelitian menunjukkan bahwa jumlah total bakteri meningkat 50
kali selama periode waktu sebelum cucian mulai diproses.
Contoh mikroorganisme:
a. Mycobacterium tuberculosis.

b. Adalah mikroorganisme penyabab tuberculosis dan palind sering menyerang paru-paru.


Penularannya melalui percikan atau dahak penderita.

Pencegahannya:
- Meningkatkan pengertian dan kepedulian petugas rumah sakit terhadap penyakit TBC dan
penularannya.
- Mengupayakan ventilasi dan pencahayaan yang baik dalam ruangan laundry.
- Menggunakan alat pelindung diri sesuai SPO.
- Melakukan tindakan dekontamoinasi, desinfeksi dan sterilisasi terhadap bahan dan alat yang
digunakan.
- Secara tehnis setiap petugas harus melaksanaka tugas pekerjaannya sesuai SPO.
c. Virus hepatitis B.

Selain manifestasi sebagai hepatitis B akut dengan segala komplikasinya, lebih penting dan
berbahaya lagi adalah manifestasi dalam bentuk sebagai pengidap (carrier) kronik, yang dapat
merupakan sumber penularan bagi lingkungan.Penularan dapat melalui darah dan cairan tubuh
lainnya.
Pencegahan: 15
- Meningkatkan pengetahuan dan kepedulian petugas rumah sakit terhadap penyakit hepatitis
B dan penularannya.
- Memberikan vaksinasi kepada petugas.
- Menggunakan APD sesuai SPO.
- Melakukan tindakan dekontaminasi, desinfeksi, dan sterilisasi terhadap bahan dan peralatan
yang dipergunakan terutama bila terkena bahan infeksi.
- Secara tehnis setiap petugas harus melaksanakan tugas sesuai SPO.
d. Virus HIV ( human immunodeficiency virus ).

Penyakit yang ditimbulkannya disebut AIDS ( acquired immunodeficiency syndrome ). Virus HIV
menyerang target sel dalam jangka waktu lama. Jarak waktu masuknya virus kedalam tubuh
sampai timbulnya AIDS tergantung pada daya tahan tubuh seseorang dan gaya hidup sehatnya.
HIV dapat hidup di dalam darah, cairan vagina, cairan sperma, air susu ibu, sekreta dan ekskreta
tubuh.
Penularannya melalui darah, jaringan, sekreta, ekskreta tubuh yang mengandung virus dan
kontak langsung dengan kulit yang terluka.
Pencegahan:
- Linen yang terkontaminasi berat ditempatkan dikantong plastic keras berisi desinfektan,
berlapis ganda, tahan tusukan, kedap air dan berwarna khusus serta diberi label bahan menular
/ AIDS selanjutnya dibakar.
- Menggunakan APD sesuai SPO.

2. Bahaya bahan kimia.

a. Debu.

Pada instalasi laundry debu dapat berasl dari bahan linen itu sendiri. Debu linen yang yang
sesuai adalah 0,2 milligram/m3.
Efek pada kesehatan :
Mekanisme penimbunan debu dalam paru-paru dapat terjadi dengan menarik napas sehingga
udara yang mengandung debu masuk kedalam paru-paru.Pada pemajanan yang lama dapat
terjadi pneumoconiosis, dimana partikel debu dijumpai di paru-paru dengan gejala sukar
bernapas.Pneumoconiosis yang disebabkan oleh serat kain / linen /kapas disebut bissinosis.
Gejalanya hamper 16
sama dengan asma yang disebut Monday chest tightness atau Monday fever, karena gejala
terjadi pada hari pertama kerja setelah libur yaitu senin, sering gejala hilang pada hari kedua
dan bila permaparan berlanjut maka gejala akan semakin berat.
Pengendalian :
- Pencegahan terhadap sumber.
- Diusahakan agar debu tidak keluar dari dumbernya dengan mengisolasi sumber debu.
- Memakai APD sesuai SPO.
- Ventilasi yang baik.
- Dengan alat exhauster.

b. Bahaya bahan kimia.

Sebagian besar dari bahaya di instalasi laundry diakibatkan oleh zat kimia seperti detergen,
desinfektan, zat pemutih dll.Tingkat resiko yang diakibatkan tergantung dari besar, luas dan
lama pemajanan. Oleh karena itu sikap berhati- hati terhadap semua bahan kimia yang dipakai
dan potensial masuk ke dalam tubuh sangat diperlukan. Informasi dari bahan kimia dapat
dibaca pada label kemasan dari produsennya yang lazim disebut MSDS.
Penanganan zat kimia di instalasi laundry:
1. Alkali.

Fungsi: bubuk penambah sifat alkali.


Sifat: Bila terkena panas akan terkomposisi menjadi gas yang mungkin beracun dan iritasi tapi
tidak mudah terbakar.
Bahaya:
- Iritasi mata dan kulit.
- Bila terhirup akan mengakibatkan edema paru.
- Bila tertelan menyebabkan kerusakan hebat pada selaput lendir.

Pertolongan pertama :
- Mata: cuci secepatnya dengan air sebanyak- banyaknya.
- Kulit: cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang terkontaminasi.
- Terhirup: jauhkan dari jangkauan.
17
- Tertelan : cuci mulut, minum air atau susu.

Tindakan pencegahan:
- Control teknis, gunakan ventilasi yang cukup.
- Pemakaian APD.
- Penyimpanan dan pengankatan: simpan ditempat aslinya, wadah tertutup, dibawah kondisi
kering, ventilasi baik, jauhkan dari asam dan suhu yang ekstrim.

2. Detergen.

Fungsi: detergen atau sabun cuci.


Sifat: Bila terkena panas akan terkomposisi menjadi gas yang mungkin beracun dan iritasi, tidak
mudah terbakar.
Bahaya:
- Iritasi mata dan kulit.
- Bila terhirup menyebabkan edema paru.
- Bila tertelan menyebabkan kerusakan selaput lendir.

Pertolongan pertama:
- Mata: cuci secepatnya dengan air yang banyak.
- Kulit: cuci dengan air dang anti pakaian yang terkontaminasi.
- Terhirup: pindahkan dan jauhkan.
- Tertelan: bersihkan bahan kimia dari mulut, minum 1-2 gelas air atau susu.

Tindakan pencegahan:
- Memakai APD.
- Penyimpanan dan pengangkutan; simpan ditempat aslinya, wadah tertutup dibawah kondisi
kering, ventilasi yang baik, jauhkan dari asam dan suhu yang ekstrim.
3. Emulsifier.

Fungsi: cairan pengemulsi lemak atau minyak dan prespotter.


Sifat: rusak oleh sinar matahari, stabil dan tidak mudah terbakar.
Bahaya:
- Iritasi mata dan kulit.
- Bila terhirup menyebabkan iritasi.
18
- Bila tertelan menyebabkan iritasi.

Pertolongan pertama:
- Mata: aliri dengan air selama 15 menit.
- Kulit; cuci dengan air.
- Terhirup: pindahkan dan jauhkan dari sumber.
- Tertelan: cuci mulut, minum air atau susu 1-2 gelas dan jangan berusaha untuk muntah.

Tindakan pencegahan:
- Pemakaian APD.
- Penyimpanan dan pengangkutan: simpan di tempat sejuk dan kering, jauhkan dari sinar
matahari langsung dan sumber panas.

4. Bleach ( oksigen bleach dan chlorine bleach ).

a. Oksigen bleach.

Fungsi: bubuk pemutih beroksigen.


Sifat: bereaksi dengan bahan pereduksi, tidak mudah terbakar, beracun untuk ikan ( dilarutkan
dulu sebelum dibuang ke selikan atau sumber air ).
Bahaya:
- Iritasi berat pada mata.
- Rasa terbakar pada kulit.
- Bila terhirup menyebabkan iritasi dan oedema paru.
- Bila tertelan menyebabkan rasa terbakar.

Pertolongan pertama:
- Mata: cuci secepatnya dengan air.
- Kulit; cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang terkontaminasi.
- Terhirup: pindahkan dari sumber.
- Tertelan: cuci mulut, minum 1-2 gelas air atau susu.

Tindakan pencegahan:
- Memakai APD.
- Penyimpanan dan pengangkutan: simpan ditempat sejuk dan kering, jauhkan dari asam dan
sumber panas.
19
b. Chlorine bleach.

Fungsi: pemutih berklorine.


Sifat: bereaksi dengan asam akan mengeluarkan gas klorine dengan cepat , tidak mudah
terbakar.
Bahaya:
- Iritasi berat pada mata dan rasa terbakar pada kulit.
- Bila terhirup menyebabkan iritasi saluran pernapasan, asma edema paru dan kanker paru.
- Bila tertelan menyebabkan rasa terbakar.

Pertolongan pertama:
- Mata: cuci dengan air secepatnya.
- Kulit: cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang terkontaminasi.
- Terhirup: pindahkan dari sumber.
- Tertelan: cuci mulut, minum 1-2 gelas air atau susu.

Tindakan pencegahan:
- Memakai APD.
- Penyimpanan dan pengangkutan: simpam ditempat sejuk dan kering, jauhkan dari asam dan
hindari sumber panas.
c. Sour atau penetral.

Fungsi: bubuk pengasam atau penetralisir laundry.


Sifat: bereaksi dengan asam akam mengeluarkan sulfur dioksida keluar, dan tidak mudah
terbakar.
Bahaya:
- Iritasi berat pada mata dan kulit.
- Bila terhirup dan tertelan menyebabkan iritasi.

Pertolongan pertama:
- Mata: cuci secepatnya dengan air.
- Kulit: cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang terkontaminasi.
- Terhirup: jauhkan dari sumber.
- Tertelan: cuci mulut, minum 1-2 gelas air atau susu.
20
Tindakan pencegahan:
- Memakai APd.
- Penyimpanan dan pengangkutan: simpan ditempat sejuk dan kering, jauhkan dari asam dan
hindari sumber panas.

d. Softener.

Fungsi: cairan pelunak dan pelembut kain.


Sifat: stabil, tidak mengandung bahan berbahaya, tidak mudah terbakar.
Bahaya:
- Iritasi berat pada mata dan kulit.
- Bila terhirup menyebabkan iritasi.
- Bila tertelan menyebabkan iritasi.

Pertolongan pertama:
- Mata: cuci secepatnya dengan air.
- Kulit: cuci secepatnya dengan air, ganti pakaian yang terkontaminasi.
- Terhirup: jauhkan dari sumber.
- Tertelan: cuci mulut, minum 1-2 gelas air atau susu.

Tindakan pencegahan:
- Memakai APD.
- Penyimpanan dan pengangkutan: simpan ditempat sejuk dam kring, hindari suhu yang
ekstrim.

e. Starch.

Fungsi: Bahan pengkanji.


Sifat: stabil, tidak mengandung bahan berbahaya , tidak mudah terbakar.
Bahaya:
- Iritasi pada mata, kemungkinan iritasi pada kulit.
- Bila terhirup menyebabkan iritasi.
- Bila tertelan kemungkinan menyebabkan iritasi.
21
Pertolongan pertama:
- Mata: cuci secepatnya dengan air.
- Kulit: cuci kulit secepatnya dengan air, ganti pakaian yang terkontaminasi.
- Terhirup: pindahkan dari sumber.
- Tertelan: cuci mulut, minum 1-2 gelas air atau susu.

Tindakan pencegahan:
- Memakai APD.
- Penyimpanan dan pengangkutan: simpan di tempat sejuk dan kering, hindari suhu yang
ekstrim.

f. Formaldehyde.

Pemajanan dengan antiseptic dalam waktu lama dapat menyebabkan dermatitis, ekseme, dan
alergi.Formaldehyde merupakan komponen dari banyak antiseptic dan desinfektan, zat ini
menyebabkan dermatitis kontak, gangguan saluran pernapasan dan bersifat karsiogenik.
Perlindungan:
- Dengan pemakaian APD sesuai SPo.
- Segera mencuci tangan sesudah kontak.
- Meningkatkan hygiene perorangan.
- Memperkuat daya tahan tubuh dengan gisi yang baik.
c. Bahaya Fisika.
1. Bising.

Bising dapat diartikan sebagai suara yang dapat menurunkan pendengaran baik secara
kuantitatif (peningkatan ambang pendengaran) maupun secara kualitatif (penyempitan
spectrum pendengaran), berkaitan dengan factor intensitas, frekuensi, durasi dan pola waktu.
Di rumah sakit bising merupakan masalah yang salah satunya berasal dari mesin cuci.Pajanan
bising yang terjadi lama membuat efek kumulatif yang bertingkat dan menyebabkan gangguan
pendengaran berupa noise induce hearing loss (NIHL). 22
Pengendalian:
a. Sumber:

Desain akustik.
Menggunakan mesin atau alat yang kurang bising.
b. Media:

Menjauhkan sumber dari pekerja.


Mengabsorbsi dan mengurangi pantulan bising secara akustik pada dinding, langit-langit dan
lantai.
Menutup sumber bising dengan barrier.
c. Pekerja:

Menggunakan APD ( ear plug atau ear muff).


Ruang isolasi untuk istirahat.
Rotasi pekerja untuk periode waktu tertentu antara lingkungan kerja yang bising dengan yang
tidak bising.
Pengendalian secara administrative dengan menggunaka jadwal kerja.
2. Cahaya.

Pencahayaan di laundry sangat penting karena berhubungan dengankeselamatan pekerja,


peningkatan pencermatan, kesehatan yang lebih baik, suasana nyaman. Petugas yang terpajan
gangguan pencahayaan akan mengeluh kelelahan mata dan keluhan laian berupa iritasi (
konjungtivitis), ketajaman penglihatan terganggu, akomodasi dan konvergensi terganggu, sakit
kepala.
Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain dengan mengadakan pencahayaan yang cukup
sesuai dengan standart rumah sakit ( minimal 200 lux).
3. Listrik.

Kecelakaan tersengat listrik dapat terjadi pada petugas laundry oleh karena dukungan
pengetahuan listrik yang belum memadai.
Pada umumnya yang terjadi di rumah sakit adalah kejutan listrik microshock dimana listrik
mengalir ke badan petugas melalui system peralatan yang tidak baik. 23
Efek kesehatan:
- Luka bakar di tempat tersengat listrik.
- Kaku pada otot ditempat yang tersengat listrik.

Pengendalian:
- Pengukuran jaringan atau instalasi listrik.
- Pemasangan pengaman atau alat pengamanan sesuai ketentuan.
- Pemasangan tanda-tanda bahaya dan indicator.
- Penempatan pekerja sesuai ketrampilan.
- Waktu kerja petugas digilir.
- Memakai sepatu atau sandal isolasi.

4. Panas.

Panas dirasakan bila suhu udara di atas suhu nyaman ( 26-28 derajat celcius) dengan
kelembaban antara 60-70%.
Pada instalasi laundry panas yang terjadi adalah panas lembab.
Efek pada kesehatan:
- Heat syncope ( pingsan karena panas).
- Heat disorder ( kumpulan gejala yang berhubungan dengan kenaikan suhu tubuh dan
mengakibatkan kekurangan cairan tubuh) seperti:
a. Heat stress atau heat exhaustion:

Terasa panas dan tidak nyaman, tekanan darah menurun menyebabkan gejala pusing dan mual.
b. Heat cramps:

Spasme otot yang disebabkan cairan dengan elektrolit yang rendah, masuk kedalam otot,
akibat banyak cairan tubuh yang keluar melalui keringat sedangkan penggantinya hanya air
minum biasa tanpa elektrolit.
c. Heat stroke:

Disebabkan kegagalan bekerja SSP dalam mengatur pengeluaran keringat, suhu tubuh dapat
mencapai 40 derajat celcius.
Pengendalian:
- Isolasi peralatan yang menimbulkan panas.
24
- Menyempurnakan ventilasi yang ditempatkan diatas sumber panas yang bertujuan menarik
udara panas keluar ruangan dapat digunakan kipas angin ruangan.
- Menyediakan persediaan air minum yang cukup dan memenuhi syarat dekat tempat kerja dan
kalau perlu disediakan extra salt.
- Hindarkan petugas yang harus bekerja dilingkungan panas apabila berbadan gemuk dan
berpenyakit kardiovaskuler.
- Pengaturan waktu kerja dan istirahat.

5. Getaran.

Getaran atau vibrasi adalah factor fisik yang ditimbulkan oleh subyek dengan getaran isolasi.
Vibrasi yang terjadi dapat local atau seluruh tubuh.
Mesin cuci yang bergetar dapat memajani petugas melalui transmisi atau penjalaran, baik
getaran yang mengenai seluruh tubuh ataupun setempat yang merambat melalui tangan atau
lengan operator.
Efek kesehatan:
- Pada system peredaran darah dapat terjadi kesemutan,dan parese.
- Terhadap system tulang, sendi dan oto dapat terjadi gangguan osteoarticular yaitu gangguan
pada sendi jari tangan.
- Terhadap system syaraf dapat terjadi parastesi, menurunnya sensitifitas, gangguan
kemampuan membedakan dan atrofi.

Pengendalian:
- Terhadap sumber diusahakan menurunkan getaran dengan bantalan anti vibrasi atau isolator
den pemeliharaan mesin yang baik.
- Terhadap pekerja tidak ada pelindung khusus hanya dianjurkan menggunakan sarung tangan
untuk menghangatkan tangan dan perlindungan gangguan vaskuler.
6. Ergonomic.

Adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka.
Posisi tubuh yang salah atau tidak alamiah apalagi dalam sikap paksa dapat menimbulkan
kesulitan dalam melaksanakan kerja, mengurangi ketelitian, mudah lelah sehingga kerja
menjadi kurang 25
efisien. Hal ini jika terjadi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan gangguan fisik dan
psikologi.
Gejala penyakit sehubungan dengan alat gerak yaitu persendian, jaringan otot,saraf atau
pembuluh darah ( low back pain0.
Pengendalian:
a. Mengangkat beban berat.

Tubuh kita mampu mengangkat beban seberat badan kita sendiri, kira-kira 50 kg untuk laki-laki
dan 40 kg untuk perempuan. Bila barat beban yang akan diangkat lebih dari setengah dari berat
badan si pengangkat, maka beban harus dibagi menjadi dua. Apabila beban tidak dapat dibagi
maka hendaknya beban diangkat secara beramai-ramai.
b. Posisi duduk.

Tinggi alas duduk sebaiknya antara 38 sampai 48 cm.


Kursi harus stabil dan tidak goyang atau bergerak.
Kursi harus memungkinkan cukup kebebasan bagi gerakan petugas.
c. Posisi berdiri.

Berdiri lebih baik tidak lebih dari 6 jam.


d. Bahaya psikososial.

Diantara berbagai ancaman bahaya yang timbul akaibat kerja dirumah sakit, factor psikologis
juga memerlukan perhatian antara lain:
1. Stress yaitu ancaman fisik dan psikologis dari factor lingkungan terhadap kesejahteraan
individu. Stress dapat disebabkan oleh:
- Tuntutan pekerjaan.

Dukungan kerja yang lebih maupun yang kurang, tekanan waktu, tanggung jawab yang berlebih
ataupun kurang.
- Dukungan dan kendala.

Hubungan yang tidak baik dengan atsan, teman sekerja, adanya berita yang tidak dikehendaki
atau gossip, adanya kesulitan keuangan dll.
Manifestasi klinis dari stress antara lain depresi, ansietas, sakit kepala, kelelahan, dan
kejenuhan, gangguan pencernaan, dan gangguan fungsi organ lainnya. 26
Pengendalian: menjaga kebugaran jasmani dan adanya kegiatan yang menimbulkan rasa
senang dalam bekerja seperti cara kebersamaan, retret dll.
e. Keselamatan dan kecelakaan kerja.

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan alat kerja dan proses
pengolahannya, tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan kerja. Kecelakaan
kerja adalah kejadian yang tak terduga oleh karena dibelakang peristiwa tersebut tidak terdapat
unsure kesengajaan. Beberapa bahaya potensial terjadinya kecelakaan kerja dilaundry antara
lain:
1. Kebakaran.

Kebakaran terjadi apabila terdapat tiga unsure secara bersama-sama.Unsure tersebut adalah
zat asam, bahan yang mudah terbakar dan panas.
Penanggualangan:
- Adanya system penyimpanan yang baik terhadap bahan yang mudah tebakar.
- Pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebakaran dilakukan secara terus menerus.
- Jalur evakuasi.
- Perlengkapan pemadam dan penanggulangan kebakaran.

2. Terpeleset atau terjatuh.

Walaupun jarang terjadi tetapi terpeleset atau jatuh dapat mengakibatkan cidera ringan sampai
berat misalnya fraktur, dislokasi, salah urat dan memar.
Penanggulangan:
- Jangan memakai sepatu dengan hak tinggi, sol yang rusak atau memakai tali sepatu yang
longgar.
- Konstruksi lantai harus rata dan sedapat mungkin dibuat dari bahan yang tidak licin.
- Lantai harus selalu dibersihkan dari kotoran seperti pasir, debu, minyak yang memudahkan
terpeleset.
27
- Lantai yang cacat misalnya banyak lubanh atau permukaannya miring harus segara diperbaiki.
28
BAB V
PROSEDUR PELAYANAN LINEN
5.1. Perencanaan Linen.
5.1.1. Sentralisasi Linen.

Merupakan suatu keharusan yang dimuali dari proses perencanaan, pemantauan dan evaluasi
dimana merupakan siklus yang berputar. Sifat linen adalah barang habis pakai. Supaya
terpenuhi dengan baik maka diperlukan system pengadaan satu pintu yang sudah terprogam
dengan baik.
5.1.2. Standarisasi Linen.

Linen adalah istilah untuk menyebutkan seluruh produk tekstil yang berada di rumah sakit yang
meliputi linen diruang perawatan maupun ruang operasi dan unit lain yang ada.
Standarisasi linen yang dipakai adalah:
1. Standart produk.

Berhubung sarana kesehatan bersifat universal, maka sebaiknya setiap rumah sakit mempunyai
standart produk yang sama agar bias diproduksi secara missal. Produk dengan kualitas tinggi
akan memberikan kenyamanan pada waktu pemakaiannya dan mempunyai waktu penggunaan
yang lebih lama, sehingga secara ekonomi lebih optimal dibandingkan dengan produk yang
lebih murah.
2. Standart desain.

Pada dasrnya baju rumah sakit lebih mementingkan funsi daripada estetikanya, maka dibuatlah
desain yang sederhana, ergonomis dan inisex.
3. Standart material.

Pemilihan material harus disesuaikan dengan fungsi, cara perawatan dan penampilan yang
diharapkan. Beberapa kain yang dipakai di rumah sakit antara lain cotton 100%, CVC 50-50%, TC
65%-35%, polyster 100% dengan anyaman plat atau twill atau drill. Dengan adanya berbagai
pilihan tersebut memungkinkan untuk mendapatkan hasil terbaik untuk setiap produk.
Warna pada kain juga memberikan nuansa tersediri, sehingga secara psikologis mempunyai
pengaruh terhadap lingkungannya.Oleh karena itu 29
pemilihan warna sangat penting.Alternative dari kain warna yang polos adalah kain dengan
corak motif, trend ini memberikan nuansa yang lebih santai dan modern.
4. Standart ukuran.

Ukuran linen sebaiknya dipertimbangkan tidak hanya sisi penggunaan, tetapi juga dari biaya
pengadaan dan biaya operasional yang timbul.Makin luas dan berat linen, makin mahal biaya
pengadaan dan pengoperasiannya.
5. Standart jumlah.

Idealnya jumlah stok linen 5 par ( kapasitas ) dengan posisi 3 par berputar di ruangan: I stok
terpakai, 1 stok dicuci, 1 stok cadangan dan 2 par mengendap di logistic: 1 par sudah terjahit
dan 1 par masih berupa lembaran kain.
6. Standart penggunaan.

Standart yang baik seharusnya tahan cuci sampai 350 kali dengan prosedur normal. Sebaiknya
setiap rumah sakit menentukan standart kelayakakan sebuah linen, apakah dengan umur linen.,
kondisi fisik atau dengan frekuensi cuci. Sebaiknya linen itu sendiri diberi identitas ataupun
informasi. Informasi yang ditampilkan biasanya:
- Logo rumah sakit dan nama rumah sakit.
- Tanggal beredar atau mulai dipergunakan.
- Item ukuran.
- No. ID
- Dan nama ruangan pemakai.

5.2. Mesin Cuci.

Persyaratan mesin cuci:


1. Mesin cuci dengan kapsitas besar (diatas 100 kg) yang disarankan memiliki 2 kompartemen
(pintu) yang membedakan antara memasukkan linen kotor dengan hasil pencucian linen bersih.
Antara 2 kompartemen dibatasi oleh partisi yang kedap air. Maksud dari pemisahan tersebut
adalah menghindari kontaminasi dari linen kotor dan linen bersih baik dari lantai ataupun dari
udara.
30
2. Mesin cuci ukuran sedang dan kecil ( 25- 100kg ) tanpa penyekat seperti pada mesin besar
dapat digunakan dengan memperhatikan batas ruang kotor dan bersih dengan jelas.

3. Pipa pembuangan limbah cair hasil pencucian ( pemanasan- desinfeksi ) langsung dialirkan ke
dalam system pembuangan yang terpendam dalam tanah menuju IPAL.

4. Peraltan pendukung yang mutlak digunakan untuk menbantu proses pemanasan – desinfeksi:

- Pencatat sushu pada mesin.

- Thermostat untuk membantu meningkatkan suhu pada mesin.

- Glass atau kaca untuk melihat level air.

- Flow meter pada inlet air bersih ke mesin cuci untuk mengukur jumlah air yamg dibutuhkan
pada saat pengenceran bahan kimia terutama pada saat desinfeksi.

5.3. Tenaga Laundry.

Untuk mencegah infeksi yang terjadi didalam pelaksanaan kerja terhadap tenaga laundry maka
perlu ada pencegahan dengan:
- Pemeriksaan kesehatan kerja sebelum kerja dan pemeriksaan kesehatan berkala.
- Pemberian imunisasi poliomyelitis, tetanus, BCG dan hepatitis.
- Pekerja yang memiliki permasalahan dengan kulit misalnya luka-luka, ruam, kondisi kulit
eksfoliatif tidak boleh melakukan proses pencucian.

5.4. Penatalaksanaan Linen.

Penatalaksanaan linen dibedakanmenurut lokasi dan kemungkinan transmisi organism


berpindah.
- Ruangan.
- Perjalanan transportasi linen kotor.
- Proses pencucian di laundry.
- Penyimpanan linen bersih.
- Distribusi linen bersih.
31
Linen kotor yang dapat dicuci di laundry dapat dikategorikan menjadi:
1. Linen kotor infeksius.

Adalah linen yang terkontamo=inasi dengan darah, cairan tubuh, dan feses terutama yang
berasal dari infeksi TB paru, infeksi salmonella dan shigella, HBV dan HIV dan infeksi lainnya
yang spesifik ( SARS ) dimasukkan ke dalam kantong dengan segel yang dapat terlarut dalam air
dan kembali ditutup dengan kantong luar berwarna kuning bertuliskan infeksius.
2. Linen kotor tidak infeksius.

Adalah linen yang tidak terkontaminasi darah, cairan, dan feses yang berasal dari pasien lainnya
secara rutin dari seluruh pasien dari ruangan biasa ataupun ruang isolasi yang terinfeksi.
Untuk lebih terperinci penanganan linen dibedakan dengan lokasi sebagai berikut:
a. Pengelolaan linen di ruangan.

Seperti disebutkan di atas yang dimaksud dengan linen yang infeksius dan non infeksius yang
secara spesifik diperlakukan secara khusus dengan kantong linen yang berbeda.Penanganan
linen dimulai dari proses penggantian linen. Proses penggantian linen dilakukan oleh perawat
dengan melepaskan linen yang kotor terlebih dahulu.
Prosedur untuk linen kotor infeksius:
- Biasakan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan.
- Gunakan APD ( sarung tangan, apron dan masker ).
- Persiapkan alat dan bahan.
- Lipat bagian yang terinfeksi ke bagian dalam dan masukkan linen ke dalam troli tertutup dan
segera bawa ke spoel hock.
- Noda darah atau feses dibuang ke spoel hock, basahi linen dengan air lalu masukkan kedalam
kantong berwarna kuning.
- Tutp rapat kantong dan segera masukkan ke troli linen kotor dekat ruang spoel jock dan siap
dibawa ke laundry.

Prosedur untuk linen kotor tidak infeksius :


Biasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan.
- Gunakan APD ( sarung tangan, apron dan masker ).
- Persiapkan alat dan bahan.
32
- Masukkan linen kotor ke dalam troli kotor yang berada dekat ruang spoel hock dan siap
dibawa ke laundry.

b. Transportasi.

Transportasi dapat merupakan bahaya potensial dalam menyebarkan organism, jika linen kotor
tidak tertutup dan troli tidak dibersihkan.
Persyaratan alat transportasi linen:
- Dipisahkan antara troli linen kotor dan linen bersih, jika tidak maka wadah penampung yang
harus terpisah.
- Bahan troli terbuat dari stainless stell dan tidak mudah berkarat.
- Wadah mampu menampung beban linen.
- Wadah mudah dilepas dan setiap saat habis difungsikan selalu dicuci demikian juga dengan
troli harus dicuci.
- Muatan atau loading linen kotor dan bersih tidak boleh berlebihan.
- Wadah harus tertutup.
c. Laundry.

Tahapan kerja di laundry:


1. Penerimaan linen kotor dengan prosedur pencatatan.

2. Pemilahan dan penimbangan linen kotor.

3. Pencucian.

4. Pemerasan.

5. Pengeringan.

6. Penyetrikaan.

7. Pelipatan.

8. Penyimpanan.

9. Pendistribusian.

10. Penggantian linen yang rusak.


Pada saat penerimaan samapai dengan penyetrikaan merupakan proses yang krusial dimana
kemungkinan organism masih hidup, maka petugas diwajibkan memakai APD.
Alat pelindung diri petugas laundry:
- Pakaian kerja dari bahan yang menyerap keringat.
- Apron.
33
- Sarung tangan.
- Sepatu boot digunakan untuk area basah.
- Masker digunakan pada proses pemilihan dan sortir
- Sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan biasakan untuk mencuci tangan sebagai
pertahanan diri.

Penjelasan lebih lanjut tahapan kerja di laundry:


1. Penerimaan linen kotor dan penimbangan prosedur pencatatan.

Linen kotor diterima yang berasal dari ruangan dicatat berat timbangan.Tidak dilakukan
pembongkaran muatan untuk mencegah penyebaran organism.
2. Pemilahan dan penimbangan linen kotor.

a. Lakukan pemilahan berdasarkan linen infeksius dan non infeksius.

b. Upayakan tidak melakukan pensortiran. Penggunaan kantong dari ruangan adalah salah satu
upaya menghindari sortir.

c. Penimbangan sesuai dengan kapasitas mesin cuci yang digunakan.

3. Pencucian.

Pencucian mempunyai tujuan selain menghilangkan noda ( bersih), awet ( tidak cepat rapuh ),
namun memenuhi persyratan sehat bebas dari mikroorganisme pathogen.
Sebelum melakukan pencucian setiap harinya lakukan pemanasan samapi dengan desinfeksi
untuk membunuh mikroorganisme yang mungkin tumbuh dimesin cuci. Untuk dapat mencapai
tujuan pencucian harus mengikuti persyaratantehnis pencucian:
a. Waktu.

Waktu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan temperature dan bahan kimia guna
mencapai hasil cucian yang bersih, dan sehat.Jika waktu tidak tercapai sesuai dengan yang
dipersyaratkan maka kerja bahan kimia tidak berhasil dan yang terpentingmikroorganisme dan
jenis petst seperti kutu dan tungau dapat mati.
b. Suhu.
Suhu yang direkomendasikan sangat bervariasi mulai 30 derajat celcius sampai dengan 90
derajat celcius tergantung dari bahan dan jenis linen. 34
- Proses pra cuci dengan atau tanpa bahan kimia dengan suhu normal.
- Proses cuci dengan bahan kimia alkali dan detergent untuk linen putih 45-50 derajat celcius,
untuk linen warna 60-80 derajat celcius.
- Proses bleaching atau dilakukan desinfeksi 65 atau 70 derajat celcius.
- Proses bilas 1 dan 2 dengan suhu normal.
- Proses penetralan dengan suhu normal.
- Proses pelembut atau pengkanjian dengan suhu normal.
c. Bahan kimia.

Bahan kimia yang digunakan terdiri dari alkali, emulsifier, detergent, bleach (clorine dan
oksigen bleach), sour, softerner, dan starch.Masing- masing mempunyai fungsi tersendiri.
d. Mechanical action.

Adalah putaran mesin pada saat proses pencucian. Factor yang mempengaruhi:
- Loading atau muatan tidak sesuai dengan kapasitas mesin. Mesin harus dikososngkan 25% dari
kapasitas mesin.
- Level air yang tidak tepat.
- Motor penggerak yang tidak stabil yang disebabkan oleh poros tidak simetris lagi dan
automatic reverse yang tidak bekerja.
- Takaran detergent yang berlebihan dapat mengakibatkan melicinkan linen dan busa yang
berlebihan akan mengakibatkan sedikit gesekan.
- Menggunakan bahan kimia yang sesuai atau tidak berlebihan.
4. Pemerasan.

Pemerasan merupakan proses pengurangan kadar air setelah tahap pencucian selesai.
Pemerasan dilakukan dengan mesin cuci yang juga memiliki fungsi pemerasan.
5. Pengeringan.

Pengeringan dilakukan dengan mesin pengering atau drying yang mempunyai suhu mencapai
70 derajat celcius selama 10 menit. Pada 35
proses ini, jika mikroorganisme yang belum mati atau terjadi kontaminasi ulang diharapkan
dapat mati.
6. Penyetrikaan.

Penyetrikaan dapat dilakukan dengan mesin setrika otomatis dengan suhu 120 derajat celcius,
namun harus diingat bahwa linen mempunyai keterbatasan terhadap suhu antara 70-80 derajat
celcius.
7. Pelipatan.

Melipat linen mempunyai tujuan selain kerapihan juga mudah digunakan pada saat
penggantian linen dimana tempat tidur kosong atau saat pasien diatas tempat tidur. Proses
pelipatan sekaligus juga melakukan pemantauan antara linen yang masih baik dan sudah rusak
agar tidak dipakai lagi.
8. Penyimpanan.

Penyimpanan mempunyai tujuan selain melindungi linen dari kontaminasi ulang baik dari bahay
seperti mikroorganisme dan pest, juga untuk mengontrol posisi linen tetap stabil.Sebaiknya
penyimpanan linen 1,5 par di ruang penyimpanan dan 1,5 par disimpan diruangan. Ada baiknya
lemari penyimpanan dipisahkan menurut masing-masing ruangan dan diberi obat anti ngengat
yaitu kapur barus.Sebelum disimpan sebaiknya linen dibungkus dengan plastic transparan
sebelum didistribusikan.
9. Pendistribusian.

Disini diterapkan system FIFO yaitu linen yang tersimpan sebelumnya harus dikeluarkan atau
dipakai terlebih dahulu.
10. Penggantian linen yang rusak.

Linen rusak dapat dikategorikan:


- Umur linen yang sudah standart.
- Human error termasuk hilang.
Jenis kerusakan ada yang dapat diperbaikidan adapula yang memas harus diganti.penggantian
dapat segera dilakukan petugas laundry dengan mengirimkan formulir permintaan linen ke
pihak logistic. 36
BAB VI
MONITORING DAN EVALUASI.
6.1. Monitoring.

Yang dimaksud dengan monitoring adalah upaya untuk mengamati pelayanan dan cakupan
progam pelayanan seawall mungkin, untuk dapat menemukan dan memperbaiki masalah yang
timbul dalam pelaksanaan progam.
6.1.1. Tujuan Monitoring:
1. Untuk mengadakan perbaikan, perubahan orientasi atau desain dari system pelayanan.

2. Untuk menyesuaikan strategi atau pedoman pelayanan yang dilaksanakan dilapangan, sesuai
dengan temuan dilapangan.

3. Hasil analisis dari monitoring digunakan untuk perbaikan dalam pemberian pelayanan
dirumah sakit. Monitoring sebaiknya dilakukan sesuai keperluan dan dipergunakan segera
untuk perbaikan progam.

Khusus dalam pelayanan linen dirumah sakit monitoring sebaiknya dilakukan secara teratur dan
kontinyu. Aspek- aspek yang dimonitor mencakup:
a. Sarana, prasarana dan peralatan.

b. Standart, pedoman pelayanan linen, SPO, kebijakan rumah sakit, visi misi dll.

c. Pengamatan dengan penglihatan pada linen, yaitu warna yang kusam dan pudar, tidak cerah
menggambarkan usia pakia. Terdapat bayangan dari barang yang dibungkusnya menunjukkan
linen sudah menipis.

d. Darei perabaab bila ditarik terjadi perobekan atau lapuk.

e. Kelayakan pakai dan sisi infeksi dilakukan melalui uji kuman .

6.2. Evaluasi.

Setiap kegiatan harus selalu dievaluasi pada tahap proses akhir seperti tahap pencucian,
pengeringan dan sebagainya, juga evaluasi secara keseluruhan dalam rangka kinerja dari
pengelolaan linen di rumah sakit. 37
6.2.1. Tujuan Dari Evaluasi :
1. Meningkatkan kinerja pengelolaan linen yang baik.

2. Sebagai acuan atau masukan dalam perencanaan pengadaan linen, bahan kimia pembersihan
sarana dan prasarana ruang cuci.

3. Sebagai acuan dalam perencanaan system pemeliharaan mesin.

4. Sebagai acuan perencanaan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan sumber daya


manusia.

Materi yang dievaluasi antara lain:


a. Kuantitas linen.

b. Kualitas linen.

c. Bahan kimia.

d. Baku mutu air bersih.

e. Baku mutu limbah cair.

Hasil evaluasi diberikan kpada penanggung jawab dan pengelola linen di rumah sakit dan
umpan balik yang diberikan dapat menjadi bahan laporan dan pertimbangan dalam pembuatan
perencanaan sesuai tujuan evaluasi. 38
BAB VII
PENUTUP
Demikian panduan pengelolaan linen Rumah Sakit Baptis ini disusun. Besar harapan kami
dengan adanya panduan ini Instalasi Pusat Sterilisasi – Laundry dapat memberikan pelayanan
sesuai yang diharapkan.