Anda di halaman 1dari 17

Makalah Struktur Beton

PERHITUNGAN KONSOL PENDEK

Kelas 2 MRK 2

Oleh :

Aditio Suseno (1641320071)

Atsal Abbas Himawan (1641320136)

Moch. Sofian Darmawan (1641320039)

JURUSAN TEKNIK SIPIL


MANAJEMEN REKAYASA KONSTRUKSI
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2016
DAFTAR ISI

COVER

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan dan Manfaat

1.4 Batasan Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Umum

2.2 Teori Secara Umun dan Khusus


2.2.1 Teori Umum
2.2.2 Teori Khusus
a. Prosedur Perencanaan Konsol Pendek
b. Cara Perencanaan Geser-Fraksi
2.3 Prosedur Perhitungan Konsol Pendek

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Contoh Soal

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN GAMBAR DETAIL


KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami panjatkan
puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-
Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Struktur Beton mengenai
Struktur Pondasi Dalam.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah
ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga Makalah Struktur Beton tentang Perhitungan Konsol
Pendek ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Malang, 24 April 2018

Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Konsol pendek (corbel) adalah kantilever berpenampang tidak prismatis yang terdapat
di muka dalam dari kolom, berfungsi memikul beban terpusat atau reaksi balok yang cukup
besar. Corbel pada umumnya digunakan untuk memikul balok - balok pracetak, juga memikul
system struktur lainnya.

Strut and tie adalah suatu teknik permodelan yang berdasarkan pada asumsi bahwa
aliran gaya-gaya dalam struktur beton dan terutama pada daerah yang mengalami distorsi dapat
didekati sebagai suatu rangka batang yang terdiri dari strut (batang tekan atau penunjang) dan
tie (batang tarik atau pengikat). Strut and tie merupakan resultante dari medan tegangan (stress
field), dimana pada strut yang bekerja adalah betonnya, sedangkan tie yang bekerja adalah
tulangan baja terpasang.

Strut and tie berawal dari “Truss analogy-model” yang pertama kali diperkenalkan oleh
Ritter (1899), Morsch (1902). Dengan memperhatikan pola retak yang terjadi pada balok beton
bertulang akibat beban F. Morsch menggunakan model rangka batang (Truss) untuk
menjelaskan aliran gaya (load path) untuk transfer beban F ke tumpuan, yang terjadi pada
struktur beton bertulang dalam keadaan retak (cracked condition).

Rangka batang yang diusulkan Morsch terdiri dari batang tekan dan tarik, sejajar dengan
arah memanjang dari balok, batang tekan diagonal dengan sudut 45 dan batang tarik vertical.
Batang tekan dan batang tarik yang sejajar diperlukan untuk memikul momen lentur, yang kita
peroleh dari standar penulangan lentur. Tinggi dari rangka batang ini ditentukan oleh jarak
lengan momen dalam yaitu jd, yang dihitung untuk posisi dengan momen maksimum. Batang
tarik vertical adalah penulangan geser yang dipasang untuk memikul gaya lintang, sedangkan
batang tekan diagonal akan dipikul oleh betonnya sendiri.

Perancangan yang didasarkan pada Truss-Model belum dapat meliputi keseluruhan


struktur, terutama untuk struktur yang secara statika dan geometri tidak kontiniu seperti daerah
sekitar struktur yang mengalami beban terpusat, join pada rangka-rangka portal, struktur
berlubang atau dengan bukaan, konsol pendek (corbel), beton pracetak, batang-batang penerus
dengan penampang berbeda, balok tinggi (deep beam) termasuk dinding geser serta balok
perangkai dinding (coupling beam), lantai-lantai sebagai diapraghma dan pondasi.
Berbagai truss model dan strut and tie model telah dikembangkan oleh Schlaich Schafer
dan Jennewein (1982-1993) kedalam suatu bentuk/model truss analogy yang lebih umum dan
konsisten yang kemudian dikenal sebagai “Strut and Tie-Model”.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja prosedur dalam perhitungan perencanaan konsol pendek?
2. Apa yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan konsol pendek?
3. Bagaimana contoh perhitungan perencanaan konsol pendek?

1.3 Tujuan dan Manfaat


1. Untuk mengetahui prosedur dalam perhitungan perencanaan konsol pendek.
2. Untuk mengetahui perhitungan perencanaan konsol pendek
3. Untuk mengetahui metode pelaksanaan perhitungan konsol pendek

1.4. Batasan Masalah


1. Materi konsol pendek yang dibahas adalah persoalan perencanaan dan
perhitungan konsol pendek.
2. Sumber yang mendasari makalah ini adalah SK SNI T-15-1991-03.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Umum

Konsol pendek adalah kantilever yang mempunyai rasio bentang geser terhadap tinggi
efektif tidak lebih besar dari satu, yang cenderung bekerja pada rangka batang (truss) sederhana
atau balok tinggi, daripada komponen struktur lentur yang didesain untuk geser. Struktur konsol
pendek beton bertulang merupakan salah satu contoh daerah terganggu (disturbed-region) pada
elemen struktur. Konsol pendek didefinisikan sebagai kantilever dengan rasio bentang geser
terhadap tinggi efektif a/d tidak lebih besar dari satu. Konsol pendek banyak dipakai pada
dilatasi atau pemisah antar gedung atau untuk perletakan crane dan untuk tumpuan struktur
pracetak. Konsol pendek banyak dipakai pada delatasi atau pemisah antar gedung, untuk
perletakan krane dan untuk tumpuan struktur pracetak misal: balok atau plat pracetak.

2.2. Teori Secara Umun dan Khusus

2.2.1. Teori Umum

Tegangan Konsol pendek (bracket & corbel) memikul beban terpusat, yang berasal dari
balok-balok rel pembawa overhead crane atau balok-balok pracetak di dekat muka kolom
pemikulnya. Sesuai dengan namanya, konsol tersebut berperilaku sebagai komponen lentur
(balok), yang secara relatif sangat pendek dan tinggi. Sangat sulit menyatakan secara eksplisit
perilaku elastik dari komponen tersebut. Bagaimanapun, metoda elemen hingga atau
pengkajian pada model photoelastic bisa memenuhi kebutuhan tersebut, yaitu dengan cara
mempelajari trayektori tegangannya, sebagai yang diperlihatkan pada gambar di sebelah ini.
Konsol pendek berfungsi seperti balok kantilever dengan pengaruh geser lebih besar
dibandingkan dengan pengaruh lentur/momennya. Bila perbandingan h’/h kecil maka retak
akan cenderung berada ke arah luar, dan sebaliknya bila perbandingan h’/h besar maka retak
cenderung akan terjadi di dekat kolom.
Selain itu konsol pendek juga dapat mengalami keruntuhan. Ada beberapa jenis
keruntuhan yang dapat terjadi pada konsol pendek, antara lain :

a) Runtuh tarik lentur terjadi bila tulangan-tulangan lentur utama mengalami pelelehan
yang berlebihan, sehingga menyebabkan beton pada bagian ujung yang miring dari
konsol mengalami kehancuran. Retak yang terjadi sangat lebar.
b) Belah diagonal terbentuk pada sepanjang strat tekan (compression strut) setelah
terjadinya retakretak lentur. Keruntuhan ini sepenuhnya disebabkan oleh tekan geser.
c) Sederetan retak diagonal yang curam dan pendek-pendek mungkin akan menyebabkan
keruntuhan geser gelincir (sliding shear). Pada saat retak-retak ini saling menyambung,
maka konsol akan terpisahkan dari muka kolom.
d) Bila beban Vu diletakkan terlalu dekat ke ujung kantilever, maka runtuh belah akan
terjadi pada sepanjang tulangan lentur yang dijangkarkan kurang baik.
e) Bila pelat penumpu terlalu kecil atau bila konsol terlalu sempit, beton di bawahnya akan
hancur, dan terjadilah runtuh tumpu (bearing failure).
f) Retak-retak tersebut akan menjadi lebih nyata, bila ada gaya horizontal Nu.

2.2.2. Teori Khusus


a. Prosedur Perencanaan Konsol Pendek
Prosedur ini menurut SNI 2002 bab 13.9 untuk konsol pendek dengan kondisi sebagai
berikut:
1. Rasio a/d < 1
dengan :
a = bentang geser:jarak antara beban terpusat dari muka tumpuan
d = tinggi efektif konsol pendek
2. Gaya horisontal Nuc < gaya vertikal Vu
jarak d harus diukur pada muka tumpuan.
3. Tinggi konsol pada tepi luar daerah ttumpuan tidak boleh kurag dari pada 0,5d
4. Pada muka tumpuan direncanakan untuk secara bersamaan memikul suatu geser Vu,
suatu momen (Vua+Nuc(h – d)) dan suatu gaya tarik horisontal Nuc

Gambar Pemasangan Tulangan Pada Konsol Pendek

Di dalam semua perhitungan perencanaan , faktor reduksi kekuatan ϕ harus diambil


sebesar 0,75. Dan Vn harus lebih kecil dari :

 0,2 fc’bwd
 5,5 bwd

kalau tidak maka dimensi konsol pendek harus diperbesar

Dalam menentukan tulangan geser friksi Avf untuk memikul geser Vu harus memenuhi
ketentuan sebagai berikut :

 Untuk beton normal,kuat geser Vn tidak boleh diambil lebih besar dari pada ataupun 5,5
bwd dalam Newton.
 Untuk beton ringan total atau beton berpasir ringan, kuat geser Vn tidak boleh diambil
melebih ataupun (5,5-1,9 a/d)bwd dalam Newton
Dimana :
Avf = luas tulangan geser friksi (mm²)
μ = koefisien friksi bahan
 untuk kolom monolit μ = 1,4
 untuk kolom nonmonolit μ = 1

Dalam menentukan luas tulangan lentur Af dan An


Mu Vu a  N uc h  d 
Af = =
 . fy.0,85.d  f y 0,85 d

N uc
An =
. f y

Tulangan An untuk menahan gaya tarik Nuc harus ditentukan dari Nuc ≤ ϕAnfy
Gaya tarik Nuc harus dianggap sebagai sesuatu beban hidup walaupun gaya tarik tersebut
timbul akibat rangkak, susut, atau perubahan suhu.
Bila tidak ada ketentuan tentang besar Nuc maka digunakan Nuc minimum
yaitu Nuc minimum = 0,2 Vu.

Dalam menentukan tulangan pokok As

As = (Af + An) atau

As = (2/3 Avf + An) atau

f 'c
As min = 0,04 bd
fy
Dari ketiga persamaan di atas diambil As yang paling besar
Sedangkan dalam menentukan tulangan pokok Ah
Ah = ½.(As – Ah)
Dimana rasio ρ = As/bd tidak boleh diambil kurang daripada (0,04( f’c/fy )

b. Cara Perencanaan Geser-Fraksi


1. Bila tulangan geser-fraksi dipasang tegak lurus terhadap bidang geser, maka kuat geser
Vn harus dihitung berdasarkan
Vn = Avf fy μ
Dengan μ adalah koefisien friksi
2. Bila tulangan geser-friksi membentuk sudut terhadap bidang geser sedemikian rupa
hingga gaya geser yang bekerja menghasilkan gaya tarik pada tulangan geer-friksi,
maka kuat geer Vn harus dihitung menurut
Vn = Avf fy (μ sin αf + cos αf)
Dengan αf adalah sudut yang terbentuk antara tulangan geser-friksi dan bidang geser.

KoefisienGeserFriksi (µ)

No Kondisi µ
1 Beton yang di cormonolit 1,4
2 Beton yang dicor diatas permukaan beton yang telah mengeras dengan 1,0
kondisi permukaannya yang dikasarkan
3 Beton yang dicor diatas permukaan beton yang permukaannya tidak 0,6
sengaja dikasarkan
4 Beton yang dijangkar terhadap baja structural, proses giling dengan 0,7
pasak berkepala atau dengan batang tulangan
No Kondisi λ

1 Beton Normal 1,0


2 Beton ringan berpasir 0,85
3 Beton ringan total 0,75
2.3. Prosedur Perhitungan Konsol Pendek
Dalam perencanaan konsol pendek terdapat beberapa langkah prosedur perhitungan :
1. Input Vu dan Nu (besarnya 0,2 vu)
2. Rencanakan dimensi konsol bw, h, d
3. Control dimensi :
a) Untuk beton normal :
a. Vn ≤ 0,2.f”cbw d
b. Vn ≤ 5,5 bw d
b) Untuk beton ringan :
a. Vn ≤ {0,2-0,07 (a/d)} .f”cbw d
b. Vn ≤ {5,5-1.9 (a/d)} bw d
4. Hitung Mu = {Vu.a + Nuc (h-d)}
5. HitungAvf = (Vu/ ϕ.µ.fy)
= (Vu/µ.fy)
6. HitungAf = Mu/ (0,85. Φ.fy.d)
7. Hitung An = Nu/ ( Φ.fy)
8. Hitung kebutuhan tulangan As, ambil nilai terbesar :
a) As = (Af + An)
b) As = (2/3 Avf + An)
9. Hitung kebutuhan tulangan Ah, ambil nilai terbesar :
a) Ah = ½ (As – An)
b) Ah = 1/3 Avf
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Contoh Soal

Konsol pendek monolit dengan kolom, dengan beban terfaktor Vu = 200 kN dan Nuc = 40 kN,
pada jarak a = 150 mm dari muka kolom, lebar konsol b = 250 mm, tinggi konsol h= 500 mm,
tinggi efektif d = 400 mm, fc’ = 35 MPa, fy = 400 MPa. Tentukan tulangan yang harus
dipakai!

PENYELESAIAN :
1. Menentukan Vn:
Vn = Vu/
= 200/0,6 = 333,3 Kn
2. Vn harus lebih kecil dari :
> 0,2 fc’bwd
0,2.35.250.400 = 700000 N = 700 kN  OK
>5,5 bwd
5,5.250.400 = 550000 N = 550 kN  OK
3. Menentukan luas tulangan geser friksi Avf :
333,3.10 3
Avf =
400.1,4
= 595,2 mm2
4. Menentukan luas tulangan lentur Afdan An :

Vu a  N uc h  d 
Af =
 f y 0,85 d

200.10 3.150  40.10 3 500  400


=
0,65.400.0,85.400
= 384,6 mm2
N uc
An =
 fy

40.10 3
=
0,65.400
= 153,8 mm2
5. Menentukan tulangan pokok As :

2
As =  An
3 Avf
2
=  153,8
3.595,2
= 550,6 mm2
Atau
As = Af + An
= 384,6 + 153,8
= 538,4 mm2
Atau
f 'c
As min = 0,04 bd
fy
35
= 0,04 250.400
400
= 350 mm1
Dipakai

As = 550,6 mm2
Digunakan 3D16 = 603 mm2
1
Ah = ( As  An)
2
1
= (550,6  153,8)
2
= 198,4 mm2
Digunakan 3D10 = 236 mm2
Tulangan pembentuk disamakan dengan Ah
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Konsol pendek (corbel) adalah kantilever berpenampang tidak prismatis yang terdapat
di muka dalam dari kolom, berfungsi memikul beban terpusat atau reaksi balok yang cukup
besar. Corbel pada umumnya digunakan untuk memikul balok - balok pracetak, juga memikul
system struktur lainnya. Perhitungan konsol pendek ada berbagai macam dan salah satunya
berdasarkan SK SNI T-15-1991-03.

4.2. Saran

Dalam proses pengerjaan makalah ini, sebaiknya antara mahasiswa dan dosen sering
melakukan komunikasi atau berasistensi. Dikarenakan banyaknya sumber yang ada di media
dengan teori yang sedikit berbeda-beda.
DAFTAR PUSTAKA

Prosedur Perhitungan Konsol Pendek - Share ITS


(http://share.its.ac.id/pluginfile.php/39324/mod_label/intro/11.5%20Prosedur%20Perhitungan
%20Konsol%20Pendek.pdf, diakses tanggal 9 Mei 2018)
Geser Pada Konsol Pendek (Brackets) (https://www.ilmutekniksipil.com/struktur-beton/geser-
pada-konsol-pendek-brackets, diakses tanggal 1 Juni 2018)

prosedur perhitugan penulangan konsol pendek berdasarkan SK SNI T-15-1991-03


(http://5a5mutaba.blogspot.com/2012/04/prosedur-perhitugan-penulangan-konsol.html,
diakses tanggal 1 Juli 2018)
LAMPIRAN (GAMBAR DETAIL)

Gambar detail keruntuhan pada konsol pendek

Gambar konsol pendek

Gambar penulangan konsol pendek