Anda di halaman 1dari 108

WARTAII{TORMASI

PERATURAI{ PERUNDAI{G.UI{DAI{GAI{
BIDAI{G
KETEIIAGAKERJAAII DAI{ KE TRAI{SMIGRASIAI{
Tim Redaksi:

Pengurah
.f;:;:;x:J"",#y
Sunatno, SH, MH
Ketuu
Sahat Sinurat, SH, M.Hum
Sekretaris
Sutarwan, SE
Peyunting/Editor
Akhyar HZ SH
Sumondang, SH
Budiman, SH
Suherman, SH
Paksi Seto, SH, M.Hum
Penyiup Buhun
Dra. Erwina WH
Budi Satoto, SE
Reni Mursidayanti, SH
Entry Data
Kadino BS
Yati Noviati, B.Sc
Sugeng Prayitno
Distribusi
Ali Arifin

'y::r#l#'
Krisgiantoro

Sekretariat
Biro Hukum Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 5I
Telepon : 5252676 Fax : 5274929
Jakarta Selatan ( I 29 5 0)

WARTA IMORM{SI
IMATIRAN TIRUNTANGUND,IXGAN
BIDANG
KITTNAGAIOMAAN DAN XITRi]\SI{IGI{SIiN
KATA PENGANTAR

Warta lnformasiPeraturan Perundang-undangan Bidang Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian (WIMTA)


adalah rnedia penyebarluasan informasi hukum khususnya di bidang Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian,

sebagai pelaksanaan Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum'

WIRAT;\ Volume 19 Nomor 3, September 2010 ini adalah edisi ketiga Tahun 2010 memuat peraturan
perundang-undangan mengenai : (a) tata cqra penetapan kswasan khus',ts; (b) penggabungan atau

pelehttran fi6f,6r t.rttlta dan pengembambilalihan sahum perusahaan yang dopat mengakibatkan teriadinya

praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, yang diatur oleh Peraturan Pemerintah; (c)
lredudukan, tugas, dan fungsi kemenlerian Negara serta susunan organisasi, tugas dan fungsi Eselon I
lrementerian Negara diatur dengan Peraturan Presiden; (d) alat pelindung diri; (e) operator dan petugas

pesqwat angkat dan angkut; $ E-Government di Kementerian Tenaga Keria dan Transmigrasi diatur oleh

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi; (g) Hari Libur Nasional dan cuti bersuma Tahun 20ll yang

diatur berdasarkan Keputusan Bersama 3 Menteri yaitu Menteri Agaman Menteri Tenaga Kerja dan

Transmigrasi dan Menteri PAN; serta (h) Pengoptimalan beban listrik melalui pengalihan wafuu keria

pada sektor industri di Jawa - Bali, yang diatur dengan Peraturan Bersama 5 Menteri yaitu Menteri

Perindustriano Menteri ESDM, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasio Mendagri dan Menteri
Negara BUMN.

Penerbitan WIRATA ini dimaksudkan untuk dapat memenuhi kebutuhan akan informasi peraturan

perundang-undangan ketenagakerjaan dan ketransmigrasian baik di pusat maupun daerah.

Kritik dan saran sangat kami harapkan demi k.r.tpurnuun penerbitan WIMTA ini. Selamat membaca,
semoga bennanfaat.

Kerja dan Transmigrasi,


Z qgE 14 4,\
rc,
l</
qYrC\'tt

F( (

K\ -"€,vof,n*

MRATAVOLUITE 19I'OI'OR 3 SEPI€I'8ER 2O'O


VOLUME 19 NO.3, SEPTEMBER2()l() ISSN 2085-370X

DAFTAR ISI
Halaman

1. Kata Pengantar ....

2. Daftar Isi ...

3. D aft ar Katalo g S ubj ek Peraturan Perundang-undangan

4. Abstrak Peraturan Perundang-undangan:

- Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2010 tentang Tata


Cw a Penetap an Kawasan Khusus

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2010 tentang


Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham
Perusahaan Yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat ........"....'.. '....

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2010 tentang


Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi,
Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor


PER-0 8/MEN/VIV2 0 1 0 tentang Alat Pelindung Diri 10

Peraturan Menteri f.nugu Keda dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor


PER-094{ENA/IV2010 tentang Operator dan Petugas Pesawat Angkat dan
Angkut .........'.'...... 11

peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor


PER- 1 OA4ENA/IV20 1 0 tentang E - Gov ernm ent di Kementerian T enaga Kerj a
dan Transmigrasi......... t2

Keputusan Bersama Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga


Kerja Dan Transmigrasi, dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor : Nomor 2 Tahun 2010,
Nomor : KEP.I10A{ENA/I/2010, Nomor : sKB/07llvI.PAN-RB/0612010
tentang Hari Libur Nasional Dan Cuti Bersama Tahun 20ll --------- 13

WRATA VOLUME 1C NOMOR 3 SEPTEMBER 201 O


' Peraturan Bersama Menteri Perindustrian, Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Dalam Negeri, dan
Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : 102/\4-INDlPEW9l20l0,
Nomor: 16 Tahun 2}i},Nomor : PER.13/]vIEN/DV2010, Nomor : 48 Tahun
2010, Nomor : PER-04/1vIBU/2010 tentang Pencabutan Peraturan Bersama
Menteri Perindustrian, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Negara
Badan Usaha Milik Negara Nomor 47/M-INDIPEW7|2008, Nomor 23 Tahun
2008, Nomor PER.13/I{ENA/IV2008, Nomor 35 Ta}run 2008, Nomor Per-
03A4bu/08 tentang Pengoptimalan Beban Listrik Melalui Pengalihan Waktu
Kerja Pada Sektor Industri di Jawa-Bali ............... t4

5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2010 tentang Tata Cara
Penetapan Kawasan Khusus 15

6. Peraturan Pemerintah Republik lndonesia Nomor 57 Tahun 2010 tentang


Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham
Perusahaan Yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat 42

7. Pgraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tatrun 2010 tentang Kedudukan,


Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan
Fungsi Eselon I Kementerian Negara 55

8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor


PER-0 8A{ENA/II/2 0 I 0 tentan g Alat Pelindung D iri 65

9. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor


PER-09/MENA/II/2010 tentang Operator dan Petugas Pesawat Angkat dan
Angkut 74

10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor
PER-10A4ENA/IV2010 tentang E-Government di Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi............... ..:...................... 89

11. Keputusan Bersama Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja
Dan Transmigrasi, dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan
:
Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor Nomor 2 Tahun 2010,
Nomor : KEP.I 10/TvIENA/V20L0,Nomor : SKB/07/I4.PAN-RB/0612010 tentang
Hari Libur Nasional Dan Cuti Bersama Tahun 2011 ......... 99

WIRATA VOLUME 1 9 NOMOR 3 SEPTEMBER 2OI O


12. Peraturan Bersama Menteri Perindustrian, Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Dalam Negeri, Dan
Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : 102/]v1-INDIPEN9120I0,
Nomor: 16 Tahun z}l},Nomor : PER.l3lIrdEN/IX2010, Nomor: 48 Tatrun 2010,
Nomor : PER-04/lvIBVl2Ol} tentang Pencabutan Peraturan Bersarna Menteri
Perindustrian, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Tenaga Kerja
dan Transmigrasi, Menteri Dalam Negeri Dan Menteri Negara Badan Usaha Milik
" Negara Nomor 47A{-IND|PEW7|2008, Nomor 23 Tahun 2008, Nomor
PER.I3A4ENA/IV2008, Nomor 35 Tahun 2008, Nomor Per-03/lvlbu/08 tentang
Pengoptimalan Beban Listrik Melalui Pengalihan Waktu Kerja Pada Sektor
Jawa-8a1i...............
Industri di l0Z

WIRAIAVOLU'TE 19 NONOR 3 SEPTETTBER 2O1O


DAFTAR KATALOG
SUBYEK PERATURAN PERUNDAIIC-UNDAIIGA.I\

Indonesia, Sekretariat Kabinet R.l.


, [Peraturan Perundang-undangan]
Peraturan Pemerintah R.I. No. 43 Tahun 2010
' tanggal 5 April 2010, tentang TataCwaPenetapan Kawasan Khusus, Jakarta,2010.

LL. SETKAB 27 HAL.

PP,
SETKAB
KAWASAN KHUSUS - TATA CARA PENETAPAN

Indonesia, Selqetariat Kabinet R.L


[Peraturan Perundang-undangan]
Peraturan Pemerintah R.I. No. 57 Tahun 2010
tanggal 20 Juli 2010, tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan
Saham Perusahaan Yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat, Jakarta, 2010.

LL. SETKAB 13 HAL.

PP.
PENGGABT]NGAN ATAU PELEBURAN BADAN USAHA - SETKAB
PENGAMBILALIHAN SAHAM PERUSAHAAN _ PMKTIK
MONOPOLI DAN PERSAINGAN TIDAK SEHAT

Indonesia, Selcretariat Kabinet .R.1.


[Peraturan P erundang-undangan]
Peraturan Presiden Nomor 24 T ahun 2010
tanggal 14 April 2010, tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta
Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara, Jaltarta, 2009.

LL. SETKAB 10 HAL.


PERPRES.
KEMENEG DAN ESELON I KEMENEG - SETKAB'
KEDUDUKAN, TUGAS, FUNGSI _ SUSUNAN
ORGANISASI

WiRATAVOLUIIE 19 NOMOR 3 SEPTEMBER 2010 4


Indonesia, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.L
[Peraturan Perundang-undangan]
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigasi R.I. No. 08/I\4ENA/W2010
tanggal 6 Juli 2010, tentang Alat Pelindung Diri, Jakarta,2010.

LL. KEMENAKERTRANS 9 HAL.

PERMEN
KEMENAKERTRANS
PELINDUNG DIRI - ALAT

Indonesia, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrosi RI.


[Peraturan Perundang-undangan]
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. No. 09AdENA/lV20l0
tanggal 13 Juli 2010, tentang Operator Pesawat Angkat Angkut, Jakarta, 2010.

LL. KEMENAKERTRANS 15 HAL.

PERMEN
KEMENAKERTRANS
PESAWAT ANGKAT.ANGKUT - OPEMTOR

Indonesia, Kementerian Tenaga Keria dan Transmigrasi R.l.


[Peraturan Perundang-undangan]
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. No. 10i1\{ENA/W2010
tanggal 14 Juli 2010, tentang E-Government Di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi,
Jakarta, 2010.

LL. KEMENAKERTRANS IO HAL.

PERMEN
KEMENAKERTRA}IS
KEMENAKERTMNS - E.GOVERNMENT

S foRATAv0i.;UuElgN0,lffiSSEPTEu8FrRml0
Indonesia, Kementerian Perindustrian; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian
Negara Badan Usaha Milik Negara
[Peraturan Perundang-undangan]
Peraturan Bersama Menteri Perindustrian, Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral,
Menteri Tenaga Ke{a Dan Transmigrasi, Menteri Dalam Negeri, Dan Menteri Negara
Badan Usaha Milik Negara Nomor : 102/lv1-INDlPEW9l20l0, Nomor : 16 Tahun 2010,
' Noroo, : PER.13/IvIEN/DU2010, Nomor : 48 Tahun 2010, Nomor : PER-04/lvIBlJlz}l}
. tentang Pencabutan Peraturan Bersama Menteri Perindustrian, Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral, Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi, Menteri Dalam Negeri
dan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor 47IM-IND|PEN7|2008, Nomor
23 Tahun 2008, Nomor PER.I3A{ENA/IV2008, Nomor 35 Tahun 2008, Nomor PER-
03,MBU/08
tanggal 17 September 2010 tentang Pengoptimalan Beban Listrik Melalui Pengalihan Waktu
Kerja Pada Sektor lndustri Di Jawa-Bali, Jakarta, 2010.

LL. 3 HAL.
KEMENAKERTRANS

PERBER
PENGOPTMALAN BEBAS LISTRIK _ KEMENAKERTRANS.
PENGALIHAN WAKTU KEKIA _ SEKTOR
INDUSTRI _ JAWA BALI

MRATAVOLUME 19 NOMOR 3 SEPTEMBER 2O1O


ABSTRAK
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

KAWASAN KHUSUS _ TATA CARA PENETAPAN, 2OIO

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 43 TAHUN 2O1O - LL. DEPKUMHAM 27 HAL.

PERATURAI{ PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2OIO


TENTANG TATA CAIL{ PENETAPAN KAWASAN KHUSUS.

ABSTRAK : untuk melaksanakan ketentuan Pasal 9 ayat (6) UU. No. 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubatr terakhir
dengan UU. No. 12 Tahun 2008;

Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah :


Pasal 5 ayat (2) UUD Tahun 1945 dan UU Nomor 32 Tahun 2004.

Dalam Peraturan Pemerintah ini mengafur tentang :

1. Ketentuan Umum;
2. Kawasan Khusus;
3. Persyaratan Penetapan Kawasan Khusus;
4. Pengusulan Kawasan Khusus;
5. Penetapan Kawasan Khusus;
6. Penyelenggaraan Kawasan Khusus;
7. Pendanaan;
8. Ketentuan Lain-lain;
9. Ketentuan Peralihan
10. Ketentuan Penutup.

CATATAN : Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 5 April 2010.

7 UttRATAvo/;UnE 19 No/tW 3 SEFrEiIBER n10


PENGGABLTNGAI{ ATAU PELEBURAN BADAN USAHA - PENGAI\{BILALIHAN SAHAM
PERUSAHAAN _ PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGA}{ TIDAK SEHAT, 2O1O

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 57 TAHUN 2OIO - LL. DEPKUMHAM 13 HAL.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2OIO


TENTANG PENGGABUNGAN ATAU PELEBURAN BADAN USAHA DA}.I
PENGAMBILALIHAN SAHAM PERUSAHAAN YANG DAPAT MENGAKIBATKAN
TERIADINYA PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT.

ABSTRAK : untuk melaksanakan ketentuan Pasal28 ayat (3) dan Pasal 29 ayat (2)W. No.
5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat.

Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah :


Pasal 5 ayat (2) UUD Tahun 1945 dan UU Nomor 5 Tahun 1999.

Dalam Peraturan Pemerintah ini mengatur tentang :

l. Ketentuan Umum;
2, Penggabungan dan Peleburan Badan Usaha Serta Pengarnbilalihan Saham
Perusahaan;

3. Pemberitahuan Atas Penggabungan dan Peleburan Badan Usaha Serta


Pengambilalihan S aham Perusahaan;

4, Ketentuan PenutuP.

CATATAI{ : Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal20 fuii 2OlO.

WRATAVOLUME19 NOUOR 3 SEPTEMBER 2OIO


KEMENEG - ESELON I KEMENEG _ KEDUDUKAN - TUGAS . FUNGSI - SUSUNAN
ORGA}{ISASI. 2OIO

-
PERATURAN PRESIDEN NOMOR 24 TAHI.]N 2O1O LL. SETKAB 10 HAL.
prherunaN pRESIDEN REpUBLTK INDONESIA NoMoR 24 TAHUN 2010 TENTANG
. KEDUDIJKAN, TUGAS, DAN FLINGSI KEMENTERIAN NEGARA SERTA SUSUNAN
ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI ESELON I KEMENTERTAN NEGARA.

ABSTRAK : sebagai tindak lanjut Peraturan Presiden No. 47 Tahun 2009 tentang
Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, dan untuk menjamin
terselenggaranya tugas pemerintahan.

Dasar Hukum Peraturan Presiden ini adalah :


Pasal 4 ayat (1), Pasal 17 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, UU. No. 39 Tahun 2008, Perpres No. 47 Tahun 2009 dan Kepres
84/P Tahun 2009.

Dalam Peraturan Presiden ini mengatur tentang :


1. KementerianKoordinator
2. Kementerian Yang Menangani Urusan Pemerintahan Yang Nomenklatur
Kementeriannya Secara Tegas Disebutkan Dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Yang Ruang Lingkupnya
Disebutkan Dalam Undang-Undang Dasar Negara .Republik Indonesia
Tahun 1945;
3. Kementerian Yang Menangani Urusan Pemerintahan Dalam Rangka
Penaj aman Koordinasi dan Sinkronisasi Program Pgmerintah
4. KetentuanLain-lain; .

5. Ketentuan Peralihan;
6. Ketentuan PenutuP.

CATATAN : Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal 14 April 2009.

g MRATAVoL;UUEI9NOUORS SEFrE tEERNl0


ALAT PELINDUNG DIRI - 2OIO

PERMENAKERTRANS NOMORPER-08/I\{EN/VIY2O1O LL. KEMENAKERTRANS 9


HAL.

PERATURAN MENTERI TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER.


OSA{ENA/IV 2OIO TENTANG ALAT PELINDI.ING DIRI.

ABSTRAK : sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 3, Pasal 4 ayat (1), Pasal 9, Pasal 12,
I
Pasal 13, dan Pasal 14 Undang-Undang Nomor Tattun 1970 tentang
Keselamatan Ke{a perlu diatur mengenai alat pelindung diri;

Dasar Hukum Peraturan Menteri ini ini adalah :

UU. No. 3 Tahun 1951, UU. No. 3 Tahun 1969, UU. No. I Tahun 1970,
UU. No. 13 Tahun 2003, Perpres No. 21 Tahun 2010 dan Kepres 84/P
Tahun 2009.

Dalam Peraturan Menteri ini mengatur tentang :

1. Pengertian;
2. Kewajiban Pengusaha;
3. Kewajiban Pekerja;
4. Penggunaan APD;
5. Manajemen APD;
6. Pengawasan;
7. Ketentuan PenutuP.

CATATAN : Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal 6 Juli 20t0.

W,RAIA VilUME t9 ,VO,ltOR 3 SEP TETIBER 2010 1 0


OPERATOR _ PETUGAS - PESAWAT ANGKAT & ANGKUT - 2O1O

PERMENAKERTRANS NOMOR PER.O9A{ENA/IV2OIO _ LL. KEMENAKERTRANS 15


HAL.

PERATURAN MENTERI TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER.


O9/I\4ENA/TA2Orc TENTANG PETUGAS PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT.

ABSTRAK : dengan berkembangnya penggunaan jenis dan kapasitas pesawat angkat dan
angkut maka perlu menyempurnakan Peraturan Menteri Tenaga Kerja
Nomor PER-01A{EN/1989 tentang Kwalifikasi dan Syarat-syarat Operator
Keran Angkat dengan Peraturan Menteri;

Dasar Hukum Peraturan Menteri ini adalah :


UU. No. 1 Tahun 1970, UU. No. 13 Tahun 2003, UU. No. 32 Tahun 2004,
PP. No. 38 Tahun 2007, Perpreq No. 21 Tahun 2010, Kepres 84/P Tahun
2009 danPermenaker No. PER-05/I4EN/I 985.

Dalam Peraturan Menteri ini mengatur tentang:


1. Pengertian;
2. Kewajiban Pengusaha;
3. Kewajiban Pekerja;
4. Penggunaan APD;
5. Manajemen APD;
6. Pengawasan;
7. Ketentuan Penutup.

CATATAN : Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal 13 Juli 2010.

11 MRATAVo/;UUEI9 No,/OR 3 SEPTETBER 2010


E-GOI/ERNMENT_ KEMENAKERTRANS - 20 I O

PERMENAKERTRANS NOIVIOR PER-10/]VIENA/IV2OIO _ LL. KEMENAKERTRANS 10


HAL.

,
PERATURAN MENTERI TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER-
IOA{ENA/TII2OIO TENTANG E-GOVERNMENT DI KEMENTERIAN TENAGA KERIA
DAN TRANSMIGRASI

ABSTRAK : - kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi yang sangat pesat memberi
peluang pengaksesan informasi yang cepat dan akurat dan perlu
dimanfaatkan oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya memberikan pelayanan kepada
masyarakat;

e-government di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi perlu


kesamaan pemahaman, keserempakan tindak dan keterpaduan langkatr dari
seluruh unit kerja untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik
dalam meningkatkan layanan publik yang efektif dan efisien;

Dasar Hukum Peraturan Menteri ini adalah :


UU. No. l1 Tahun 2008, UU. No. 14 Tahun 2008, UU. No. 25 Tahun 2009,
Perpres No. 47 Tahun 2009, Perores No. 24 Tahun 2010, Kepres 84/P
Tahun 2009 dan Permenkominfo No. 2 8/PERA{.KOMINFO I9I 2006.

Dalam Peraturan Menteri ini mengatur tentang:


1. Ketentuan Umum;
2. Sumber Daya Manusia;
3. Data dan Informasi;
4. InfrastrukturTeknomogilnformasi
5. Aplikasi;
6. Situs Web Kementerian; ,

7. Tata Kelola;
8. Pembiayaani :

9. Evaluasi;
10. Ketentuan PenutuP.

CATATA}I : Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal 14 Juli 2010.

nRAlAVilUrEtgI{otloRSsEPTE#Etrmt0 L2
TAHUN 2OI I _ HARI LIBUR NASIONAL _ CUTI BERSAMA,2OLO

SKB MENTERI AGAMA; MENAKERTRANS DAN MENPAN NO : 2 TAHUN 2010, NO :


KEP. 1 1 0A{ENA/V2010, NO : SKB/074{.PAN-RB/06/20 I 0, KEMENAKERTRANS 3 HAL.

KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI AGAMA; MENAKERTRANS DAN MENPAN NO : 2


TAI{tlN 2010, NO: KEP.II0A4ENA/V2010, NO: SKB/07/}v1.PAN-RB/06/2010 TENTANG
HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAHUN 2OTI,

ABSTMK : - dalam rangka efisiensi dan efektivitas hari kerja, hari libur dart cuti bersama
dipandang perlu menata kembali pelaksanaan hari libur nasional dan
mengatur cuti bersama tahun 20lI;

penataan kembali hari libur dan pengaturan cuti bersama tahun 2011
sebagaimana dimaksud pada huruf a menjadi pedoman bagi instansi
' pemerintah dan swasta sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan
produktivitas kerja;

Dasar Hukum Keputusan Bersama Menteri ini adalah :

Keppres No. 3 Tahun 1983, Keppres No. 9 Tahun 2002, Perpres No. 47 Tahun 2009,
Keppres No. 84/P Tahun 2009 dan Kepmenag No. 331 Tahun 2002.

Dalam Keputusan Bersama Menteri ini mengatur tentang i

L Pelaksanaan hari libur nasional dan cuti bersama talrry 20ll;


2. Penutup.

CATATAN : Keputusan Bersama ini mulai berlaku pada tanggal l5 Juni 2010.

13 WTRATAVOLUUEI9NOilOR3 SEpfEttBERzol0
PENGOPTMALAN BEBAS LISTRIK_ PENGALIHAN WAKTU KERIA - SEKTOR
INDUSTRI - JAWA BALI, 2O1O

PERBER MENPERIN; MENTERI ESDM; MENAKERTRANS, MENDAGRI, DAN MENEG


BUIyIN NO : 102/]v1-IND/PEW9120I0, NO : 16 TAHUN 2010, NO : PER.13A{EN/DV2010,
NO : 48 TAHUN 2010, NO : PER-04lMBUl20l0 TENTANG PENCABUTAN PERATIIRAN
BqRSAM"A MENTERI PERINDUSTRIAN, MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA
MINERAL, MENTERI TENAGA KEzuA DAN TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM
NEGERI DAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR 471M.
IND/PER/712008, NOMOR 23 TAHIIN 2008, NOMOR PER.I3A{ENA/IV2OO8, NOMOR 35
TAHT]N 2008, NOMOR PER.O3/}{BU/08, KEMENNAKERTRANS 3 HAL.

PERBER MENPERIN; MENTERI ESDM; MENAKERTRANS, MENDAGRI, DAN MENNEG


BLIMN NO : 102/1vI-IND/PER/912010, NO : 16 TAHUN 2010, NO : PER.13A4EN/DV2010,
NO : 48 TAHUN 2010, NO : PER-04|MBU|2010 TENTANG PENCABUTAN PERATURAN
BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN, MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA
MINERAL, MENTERI TENAGA KEzuA DAN TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM
NEGERI DAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR 47IM-
IND/PER/712008, NOMOR 23 TAHUN 2008, NOMOR PER.T3/}{ENA/IY2OO8, NOMOR 35
TAHUN 2008, NOMOR PER-03/}{BU/08 TENTANG PENGOPTMALAN BEBAN LISTRIK
MELALUI PENGALIHAN WAKTU KERJA PADA SEKTOR INDUSTRI DI JAWA-BALI.

ABSTMK : - kebijakan pengoptimalan beban listrik melalui pengalihan waktu kerja pada
sektor industri di Jawa-Bali merupakan upaya sementara untuk menangani
defisit pasokan listrik pada sektor industri yang sifatnya mendesak guna
menghindari terj adinya pemadaman listrik;

- kondisi pasokan listrik dengan telah beroperasinya 3 pembangkit listrik baru


sebagai bagian dari percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik
dirasakan telah memenuhi kebutuhan listrik termasuk pada sektor industri di
Jawa-Bali;

Dasar Hukum Peraturan Bersama Menteri ini adalah :

UU. No. 5 Tahun 1984, UU. No. 13 Tahun.2003, UU. No. 19 Tahun 2003, UU. No. 32
Tahun 2004, UU. No. 30 Tahun 2009 .

Dalam Peraturan Bersama Menteri ini mengatur tentang :

3, Pengoptimalan Beban Listrik Melalui Pengaliharf Waktu Kerja Pada


Sektor Industri Di Jawa-Bali.
4. Penutup.

CATATAN : Peraturan Bersama ini mulai berlaku pada tanggal 17 September 2010.

MRATAVOLUME 19 NOMOR 3 SEPTEMBER 2010 14


PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDOhIESIA


NOMOR 43 TAHUN 2O1O
TENTAI\G
TATA CARA PENETAPAN KAWASAI\ KHUSUS

DENGAI\I RAHMAT TUHAN YAIIG MAIIA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang balrwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 9 ayat (6) Undang-Undang


Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah
diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah
tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Khusus;

Mengingat l. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia


Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun, 2008 Nomor 59,
Tambatran Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENETAPAN


KAWASAN KHUSUS.

15 MRAIAVo/;UNE $ NOUOR 3 SEPTETIIBER 2A1O


BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal I

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:

1, Pemerintah pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik


Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
t945.

2. Pemerintahan daeratr adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah


dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan
dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tatrun 1945.

3. Pemerintah daerah adalah gubemur, bupati, atau walikota dan perangkat daerah sebagai
unsur penyelenggara pemerintatran daerah

4. Daerah otonom, yang selanjutnya disebut daeraho adalah kesatuan masyarakat hukum yang
mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan
aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

5. Fungsi pemerintahan tertentu adalah urusan pemerintahan yang bersifat khusus untuk
kepentingan nasional yang dilaksanakan di kawasan k*tusus.

6, Kawasan khusus adalah bagian wilayatr dalam provinsi dan/a|'an kabupatenlkota yang
ditetapkan oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan fungsi-fungsi pemerintahan yang
bersifat khusus bagi kepentingan nasional.

7. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah, yang selanjutnya disingkat DPOD, adalah dewan
yang memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden terhadap kebijakan otonomi
daerah.

BAB II
KAWASAN KHUSUS

Pasal 2

(t) Untuk menyelenggarakan fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat khusus bagi
kepentingan nasional, Pemerintah dapat menetapkan kawasan khusus dalam wilayah
provinsi dan/atau kabupaten/kota.

@ Penetapan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (l) harus sesuai dengan
rgncana tata ruang wilayah.

wtRATA VOLU$E 19 NOTfiOR 3 FefiEUBeA n10 16


(3) Penetapan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (l) dapat diusulkan oleh
menteri dan/atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian, gubernur, dan
bupati/walikota.

(4) Kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan
pemerintah.

Pasal3
Pemerintah menetapkan kawasan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal2 ayat (l) dengan
mengikutsertakan daerah yang bersangkutan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan,
dan pemanfaatan.

BAB III
PERSYARATAN PENETAPAN KAWASAN KHUSUS

Pasal 4

Penetapan kawasan khusus harus memenuhi persyaratan administratif, teknis, dan fisik
kewilayahan.

Bagian Kesatu
Persyaratan Administratif

Pasal 5

(1) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 terhadap usulan yang
disampaikan oleh mdrrteri dan/atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian
meliputi:

a. rencana penetapan kawasan khusus yang paling sedikit memuat:


l. studi kelayakan yang mencakup antara lain sasaran yang ingin dicapai, analisis
dampak terhadap politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, ketertiban dan
ketenteraman, pertatranan dan keamanan;
2. luas dan status hak atas tanah;
3. rencana dan sumber pendanaan; dan
4. rencana strategis.

b. rekomendasi bupati/walikota dan gubernur yang bersangkutan; dan

c. rekomendasi DPOD setelah berkoordinasi dengan menteri yang bidang tugasnya terkait
dengan fungsi pemerintahan tertentu yang akan diselenggarakan dalam kawasan
khusus.

17 MRA1AVOLUME 19 NO'TOR3 SEPIETTBER 2OTO

r
(2) Persyaratan administratif terhadap usulan yang disampaikan oleh gubernur meliputi:
a. rekcmendasi dari pemerintah kabupatenlkota yang bagian wilayahnya akan diusulkan
' sebagai kawasan khusus;
b. keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi tentang persetujuan penetapan
kawasan khusus; dan
c. rencana penetapan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a.

(3) Persyaratan administratif terhadap usulan yang disampaikan oleh bupatilwalikota meliputi:
a. rekomendasi gubemur yang bersangkutan;
b. keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupatenlkota tentang persetujuan
penetapan kawasan khusus; dan
c. rencana penetapan kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a.

Bagian Kedua
Persyaratan Teknis

Pasal 6

(1) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal4 terhadap usulan yang disampaikan
oleh menteri dan/atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian, gubernur,
bupati/walikota meliputi faktor kemampuan ekonomi dan potensi daerah, sosial budaya,
sosial politik, luas kawasan, kemampuan keuangan, dan tingkat kesejahteraan masyarakat.

(2) Penilaian terhadap faktor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan
indikator masing-masing faktor yang disusun oleh kementerian dan/atau lembaga
pemerintah nonkementerian, gubernur, bupatilwalikota sesuai bidang tugas masing-masing.

Bagian Ketiga
Persyaratan Fisik Kewilayahan

Pasal T

Persyaratan fisik kewilayahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 terhadap usulan penetapan
kawasan khusus yang disampaikan oleh menteri dan/atau pimpinan lembaga pemerintah
nonkementerian, gubernur, dan bupati/walikota meliputi :
a. peta lokasi kawasan khusus ditetapkan dengan titik koordinat geografis sebagai titik batas
kawasan khusus;
b. status tanah kawasan khusus merupakan tanah yang dikuasai Pemerintah/pemerintah
daerah dan tidak dalam sengketa; dan
c. batas kawasan khusus

MRATAvoLUME t9 NoMoR 3 SEpTEMBER zott 1


g
BAB TV
PENGUSULAN KAWA SAN KHUSUS

Bagian Kesatu
Usulan Menteri dan/atau
Pimpinan Lembaga Pemerintah Nonkementerian

Pasal 8

(1) Menteri dan/atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian menyampaikan rencana


penetapan kawasan khusus kepada pemerintah provinsi yang bersangkutan.

(2) Pemerintah provinsi bersama-sama dengan pemerintah kabupaten/kota, Dewan Perwakilan


Rakyat Daerah provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupatenlkota melakukan
pembahasan terhadap rencana penetapan kawasan khusus yang disampaikan menteri
dan/atau pimpinan lembaga pernerintah nonkementerian.

(3) Setelah rencana penetapan kawasan khusus mendapat persetujuan, gubernur


menyampaikan persetujuan tersebut kepada menteri darr/atau pimpinan lembaga
pemerintah nonkementerian yang mengusulkan.

(4) Menteri dan/atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian menyampaikan rencana


penetapan kawasan khusus kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri disertai dengan
kelengkapan persyaratan adminishatif teknis, dan fisik kewilayahan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal4.

Bagian Kedua
Usulan Gubernur

Pasal g

(1) Gubernur menyampaikan rencana penetapan kawasan khusus kepada bupati/walikota yang
bagian wilayahnya akan diusulkan sebagai kawasan khusus untuk meminta persetujuan.

(2) Bupati/walikota bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daeratr kabupatenlkota


melakukan pembahasan atas rencana penetapan kawasan khusus yang diSampaikan
gubernur.

(3) Setelah rencana penetapan kawasan kfiusus mendapat persetujuan, gubemur


menyampaikan rencana penetapan kawasan khusus kepada Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah provinsi untuk mendapat persetujuan bersama.

(4) Setelatr mendapat persetujuan bersama, gubernur menyampaikan rencana penetapan


kawasan khusus kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri disertai dengan
kelengkapan persyaratan administratif, teknis, dan fisik kewilayahan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal4.

1 9 wRAfA voLtJnE t9 Notto? 3 StrTEMBER N10


Bagian Ketiga
Usulan BupatiAValikota

Pasal 10

(l) Bupati/walikota menyampaikan rencana penetapan kawasan khusus kepada Dewan


P en*'akilan Rakyat D aerah kabup atenlkota untuk meminta persetuj uan.

(2) Setelah rencana penetapan kawasan khusus mendapat persetujuan, bupati/walikota


menyampaikan rencana penetapan kawasan khusus kepada gubernur untuk meminta
rekomendasi.

(3) Setelah mendapatkan rekomendasi dari gubemur, bupati/walikota menyampaikan rencana


penetapan kawasan khusus kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri disertai dengan
kelengkapan persyaratan adminishatif, teknis, dan fisik kewilayahan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal4.

Bagian Keempat
Usulan Lintas Kabupaten/I(ota Dalam I (Satu) Provinsi

Pasal 11

(1) Dalam hal kawasan khusus yang diusulkan berada dalam 2 (dua) kabupatenlkota atau lebih
dalam 1 (satu) provinsi, terlebih dahulu dilakukan kesepakatan bersama antara pemerintah
provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi dengan seluruh pemerintah
kabupaten/kota dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan
untuk mengusulkan penetapan kawasan khusus.

(2) Kesepakatan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekaligus menunjuk gubernur
sebagai koordinator dalam pengusulan penetapan kawasan khusus.

(3) Gubernur sebagai koordinator dalam pengusulan penetapan kawasan khusus


menyampaikan usulan penetapan kawasan khusus kepada Presiden melalui Menteri Dalam
Negeri disertai dengan kelengkapan persyaratan administratif, teknis, dan fisik
kewilayahan sebagairnana dimaksud dalam Pasal 4.

Bagian Kelima
Usulan Lintas Kabupaten/I(ota Beda Provinsi

Pasal 12

(l) Dalam hal kawasan khusus yang diusulkan berada dalam 2 (dua) kabupaten/kota atau lebih
dalam provinsi yang berbeda, terlebih dahulu dilakukan kesepakatan bersama seluruh
pemerintah provinsi, pemerintah kabupatenlkota, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan untuk
mengusulkan penetapan kawasan khusus.

MRATAVOLUUE 19 NO'TOR 3$EPTETIBER 2OIO 20


(2) Kesepakatan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (l) sekaligus menunjuk salah satu
gubemur sebagai ksordinator dalam pengusulan penetapan kawasan khusus.

(3) Gubernur sebagai koordinator dalam pengusulan penetapan kawasan khusus


menyampaikan usulan penetapan kawasan khusus kepada Presiden melalui Menteri Dalam
Negeri disertai dengan kelengkapan persyaratan adminishatif, teknis, dan fisik kewilayahan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.

Bagian Keenam
Sosialisasi Usulan Rencana Penetapan Kawasan Khusus

Pasal 13

Pemerintah provinsi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi, pemerintah kabupatenlkota,


dan Dewan Penvakilan Rakyat Daeratr kabupatenlkota baik sendiri-sendiri maupun bersama-
sama berkewajiban mensosialisasikan usulan rencana penetapan kawasan khusus kepada
masyarakat.

Pasal 14

Dalam hal rencana penetapan kawasan khusus diusulkan oleh menteri dan/atau pimpinan
lembaga pemerintah nonkementerian, menteri dan/atau pimpinan lembaga pemerintah
nonkementerian memfasilitasi kegiatan sosialisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13.

Bagian Ketujuh
Pengkajian dan Verifikasi Usulan

Pasal 15

(1) Menteri Dalam Negeri melakukan kajian dan verifikasi kelengkapan persyaratan
administratil teknis, dan fisik kewilayahan atas usulan rencana penetapan kawasan khusus.

(2) Dalam pelaksanaan kajian dan verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Menteri
Dalam Negeri wajib:
a. berkoordinasi dengan kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian
terkait; dan
b. mengkonsultasikan rencana penetapan kawasan khusus kepada DPOD untuk mendapat
saran dan pertimbangan.

Pasal 16

(1) Dalam hal usulan rencana penetapan kawasan k*tusus telatr memenuhi persyaratan, Menteri
Dalam Negeri menyampaikan usulan tersebut kepada Presiden untuk mendapat
persetujuan.

21 wtRAtA voLUHE t9 ttmroR 3 sEpfEnBER 20t0


(2) Dalam hal usulan rencana penetapan kawasan khusus belum memenuhi persyaratan,
Menteri Dalam Negeri mengernbalikan usulan tersebut kepada pengusul untuk dilengkapi.

BAB V
PENETAPAN KAWASAN KHUSUS

Pasal 17

Presiden menyetujui atau tidak menyetujui rencana penetapan kawasan khusus yang diusulkan
oleh menteri dan/atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian, gubernur, dan
bupati/walikota.

Pasal 18

(1) Dalam hal Presiden menyetujui usulan penetapan kawasan khusus, maka:
a. Menteri dan/atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian yang mengusulkan
penetapan kawasan khusus menyiapkan rancangan peraturan pemerintah tentang

b. tJHffiT5ilTilrl*"#dffiit'#Jiil:ft3ffi uo* rancansan peraturan pemerintarr


tentang penetapan kawasan khusus yang diusulkan oleh gubemur, dan
bupati/walikota.

(2) Rancangan peraturan pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (l) disusun dan
ditetapkan sesuai dengan ketenfuan peraturan perundang-undangan.

' BABVI
PENYELENGGAILL{N KAWASAN KHUSUS

Pasal 19

Menteri dan/atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian, gubemur, dan bupati/walikota


yang mengusulkan penetapan kawasan khusus bertanggung jawab atas penyelenggaraan kawasan
khusus yang telatr ditetapkan.

Pasal 20

Dalam pelaksanaan penyelenggaraan kawasan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19,
menteri dan/atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian terkait, gubernur, dan
bupati/walikota berkewajiban memperhatikan peran serta masyarakat sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

MRATAVOLUUE 19 NO'TOR 3 SEPTEITffi,R MlO 22


Pasal2l

(l) Penyeienggaraar kawasan khusus yang menghasilkan penerimaan dilaksanakan sesuai


dengan ketenfuan peraturan perundang-undangan.

(2) Penyelenggaxaan kawasan khusus yang menghasilkan penerimaan sebagaimana dimaksud


pada ayat (l) diupayakan dapat mendukung pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 22

(l) Pemerintah melaksanakan pembinaan umum dan pembinaan teknis atas penyelenggaxiuul
kawasan khusus.

(2) Pembinaan umum dilaksanakan oleh Menteri Dalam Negeri meliputi:


a. koordinasi pemerintahanantarsusunanpemerintatran;
b. pemberian pedoman dan standarpelaksanaan kawasan khusus;
c. pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi penyelenggaraan kawasan khusus;
d. perencanaan umum penyelenggaraan kawasan khusus; dan
e. penyiapan dan pengelolaan sistem informasi manajemen dan akuntabilitas kinerja
kawasan khusus.

(3) Pembinaan teknis dilaksanakan oleh menteri dan/atau pimpinan lembaga pemerintah
nonkemenlerian yang terkait sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 23

(l) Pemerintah bersama-sama dengan pemerintah daerah melakukan monitoring dan evaluasi
atas penyelenggaraan kawasan khusus.

(2) Hasil monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan oleh
Pemerintah sebagai bahan pembinaan umum dan pembinaan teknis penyelenggaraan fungsi
pemerintahan tertentu pada kawasan khusus.

BAB VII
PENDANAAN

Pasal24

(1) Pendanaan dalam rangka pengusulan penetapan kawasan khusus oleh menteri dan/atau
pimpinan lembaga pemerintatr nonkementerian dibebankan pada anggaran pendapatan dan
belanja negara yang ditempatkan pada anggaran kementerian dan/atau lembaga pemerintah
nonkementerian yang bersangkutan.

2l ttIrRATAvoLrruE 19 Nurryi3 sEpTEnBER mto


(2) Pendanaan dalam rangka pengusulan penetapan kawasan khusus oleh gubemur dan
bupatilwalikota dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja daerah yang
bersangkutan.

(3) pendanaan dalam rangka pengusulan penetapan kawasan khusus lintas kabupaten/kota
I
dalam (satu) provinsi
-belanja
atau dalam provinsi yang berbeda dibebankan pada anggaran
pendapatan dan daerah yang ditempatkan pada anggaran masing-masing setelah
melaiui kesePakatan.

Pasal 25

(1) pendanaan dalam rangka pembinaan umum kawasan khusus dibebankan pada anggaran
pendapatan dan belanja negara yang ditempatkan pada anggaran Kementerian Dalam
Negeri.

(2) pendanaan dalam rangka pembinaan teknis kawasan khusus dibebankan pada anggaran
pendapatan dan belanja negara yang ditempatkan pada anggaran masing-masing
Lementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian yang bersangkutan.

BAB VIII
KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 26

Ketentuan yang terkait dengan pelaksanaan penyelenggaraan kawasan khusus yang belum diatur
dalam peraturan pemerintah ini diatur dalam peraturan pemerintah penetapan masing-masing
kawasan khusus.

BAB IX
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal2T

pada saat peraturan pemerintah ini mulai berlaku, kawasan yang sudah dibentuk berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan telah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah
ditetapkan iebagai kawasan khusus berdasarkan Peraturim Pemerintah ini.

BAB X
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 28

Peraturan Pemerintatr ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

MRATAWLUNE'9'{OffOR3 SSPTE'TBER20'iO 24
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 5 April 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONES IA,
ttd.
DR. H. SUSIO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 5 APril 2010

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA


REPUBLIK INDONEStrA,
ttd.
PATRIALIS AKBAR

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHIJN 2O1O NOMOR 59

25 wtRAT volruuEtgr{ottoR3sEPTEtaER2oto
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 43 TAHUN 2O1O
TENTAIIG
TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KIIUSUS

I. UMUM
Berdasarkan ketentuan Pasal 9 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintatran
Daerah, Pemerintah dalam menyelenggarakan fungsi-fungsi pemerintahan tertentu yang
bersifat khusus dan berskala nasional dalam kerangka implementasi desenhaiisasi fungsional
dapat menetapkan kawasan khusus di
daerah otonom. Penetapan kawasan khusus
dimaksudkan untuk melindungi dan menjaga keamanan neg.ua Republik Indonesia,
meningkatkan pembangunan, dan kesej ahteraan masyarakat
Dalam rangka sinkronisasi rencana penetapan dan penyelenggaraan kawasan khusus dengan
rencana pembangunan di daerah serta untuk meningkatkan peran serta masyarakat di daerah,
maka dalam penetapan kawasan khusus oleh Pemerintah wajib mengikutsertakan daerah
yang bersangkutan mulai dari perencartaarl, pelaksanaan, pemeliharaan, dan pemanfaatan
kawasan khusus tersebut. Di sisi lain, daerah dapat mengusulkan penetapan kawasan khusus
di wilayahnya masing-masing, sepanjang kawasan khusus tersebut ditujukan untuk
penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat khusus dan berskala
nasional.
Peraturan Pemerintah ini mengatur tata cara penetapan kawasan khusus yang diusulkan baik
oleh kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian maupun oleh gubernur,
bupati/walikota. Hal-hal yang diatur meliputi persyaratan administratif, teknis, fisik
kewilayahan, mekanisme pengusulan, pengkajian dan verifikasi usulan, persetujuan dan
penetapan kawasan khusus, prinsip-prinsip penyelenggaraan dan pengelolaan kawasan
khusus, pembinaan, monitoring dan evaluasi, serta aspek pendanaan.
Meskipun penetapan kawasan khusus ditujukan untuk kepentingan yang bersifat nasional,
namun manfaatnya juga harus dirasakan oleh daerah yang bersangkutan. Dengan demikian,
daerah juga akan merasakan dampak positif dari adanya kawasan khusus di wilayahnya, serta
ikut bertanggung jawab terhadap keberlangsungan kawasan khusus tersebut. Peraturan
Pemerintah ini mengamanatkan agar dalam pelaksanaan penyelenggaraan kawasan khusus
baik oleh kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian maupun gubernur atau
bupati/walikota memperhatikan peran serta masyarakat. Demikian pula dalam hal
pengelolaan kawasan khusus yang berpotensi menghasilkan penerimaan agar dilakukan
upaya-upaya yang dapat mendukung pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat di daerah
yang bersangkutan.
Berbagai kawasan yang sudah dibentuk terlebih dahulu berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan dan telah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah ditetapkan sebagai
kawasan khusus berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. Dengan demikian, pengaturan tata
cara penetapan dan pengaturan teknis lainnya terhadap kawasan yang sudah dibentuk terlebih
dahulu tetap didasarkan pada masing-masing peraturan perundang-undangan pembentukan
kawasan khusus tersebut sepanjang keberadaannya sudah sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah.

WMTAVOLUUE 19NOIIOR 26
SEPTETTBER 2O1O
'
Lingkup pengaturan tata cwa penetapan kawasan khusus yang diatur dalam Peraturan
Pemerintah ini tidak mengatur tatacarapenetapan kawasan ekonomi khusus.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal I
Cukup jelas.

Pasal 2
Ayat (1)
Jenis-jenis kawasan khusus meliputi kawasan otorita, kawasan/wilayah perbatasan
dan pulau-pulau tertentu/terluar, kawasan pertahanan negara, kawasan lembaga
pemasyarakatan, kawasan budaya, kawasan pelestarian lingkungan hidup,
kawasan riset dan teknologi, kawasan pengembangan tenaga nuklir, kawasan
peluncuran peluru kendali, kawasan pengembangan pftlsarana komunikasi dan
telekomunikasi, kawasan pengembangan sarana transportasi, kawasan penelitian
dan pengembangan sumber daya nasional, kawasan eksploitasi dan konservasi
bahan galian strategis, dan kawasan lain yang akan ditetapkan sebagai kawasan
strategis yang secara nasional menyangkut hajat hidup orang banyak dari sudut
politik, sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, pertahanan dan keamanan.
Penyelenggaraarl fungsi pemerintahan tertentu yang bersifat khusus meliputi
sosial, budaya, ekonomi, politik, lingkungan, pertahanan dan keamanan yang
secara nasional menyangkut hajat hidup orang banyak.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 3
Cukup jelas.

Pasal4
Cukup jelas.

Pasal5
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan dampak terhadap politik adalah dampak positif terhadap
peningkatan persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

27 wRATAvoLtJME tg NoMoR 3 uEITEMBER 2o1o


Yang'dimaksud dengan dampak terhadap ekonomi adalah dampak positif yang
mengakibatkan meningkatnya kegiatan perekonomian dan pembangunan daeratr
termasuk masyarakat di dalamnya"

, Yang dimaksud dengan dampak terhadap sosial dan budaya adalah dampak
positif terhadap peningkatan ketahanan sosial budaya daerah dan masyarakat.
Yang dimaksud dengan dampak terhadap lingkungan adalah dampak positif
yang didasarkan pada analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL).
Yang dimaksud dengan ketertiban dan ketenteraman adalah suatu keadaan
dinamis yang memungkinkan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat
dapat melakukan kegiatannya dengan tenteram, tertib, dan teratur.

Yang dimaksud dengan dampak terhadap pertahanan keamanan adalah


keberadaan kawasan khusus akan meningkatkan upaya memperkuat pertahanan
dan keamanan negara melalui penetapan berbagai unit kerja terkait dengan
aspek pertahanan dan keamanan.

Huruf b
Cukup jelas.

Huruf c
CukuP jelas.

Ayat(2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal6
Ayat (1)
Kemampuan ekonomi merupakan cerminan hasil kegiatan ekonomi dalam bentuk-
bentuk seperti Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita, pertumbuhan
ekonomi, dan kontribusi PDRB terhadap PDRB total.
Potensi daerah merupakan perkiraan penerimaan dari rencana pemanfaatan
ketersediaan sumber daya buatan, sumber daya aparatur, serta sumber daya
masyarakat.
Sosial budaya merupakan cerminan aspek sosial budaya meliputi antara lain sarana
yang dimanfaatkan untuk kegiatan sosial.
Sosial politik merupakan cerminan aspek sosial politik meliputi antara lain
kemampuan penduduk mengikuti perkembangan daerah dan nasional, serta jumlah
organisasi kemasyarakatan.
Luas kawasan merupakan cerminan sumber daya lahan/daratan cakupan wilayah
yang dapat diukur dengan 1) Luas wilayah keseluruhan; dan 2) Luas wilayah efektif
yang dapat dimanfaatkan.

W|/RATA VOLUME'g I{Oi'OR 3 SEPTEMBER 201 O 28


Kemampuan keuangan merupakan cerminan terhadap keuangan yang dapat diukur
dengan jumlah Pendapatan Asli Daerah, rasio Penerimaan Daerah sendiri (PDS)
terhadap jumlah penduduk dan rasio PDS terhadap PDRB.
Tingkat kesejatrteraan masyarakat merupakan cenninan terhadap tingkat pendidikan,
kesehatan, dan pendapatan masyarakat yang dapat diukur dengan indeks
pembangunan manusia.

Ayat (2)
Penyusunan indikator masing-masing faktor oleh kementerian dan/atau lembaga
pemerintah nonkementerian, gubemur, bupati/walikota sesuai bidang tugas masing-
masing dilatcukan mengacu pada norma, standar, prosedur, dan kriteria yang disusun
masing-masing kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian.
Penyusunan indikator penilaian tersebut dilakukan secara bersama oleh kernenterian
dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian terkait sesuai bidang tugas masing-
masing.

Pasal T
Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Tanah yang dikuasai Pemerintah/pemerintah daerah dan tidak dalam keadaan
sengketa harus dibuktikan dengan surat keterangan dari instansi yang benvenang.

Huruf c
Cukup jelas.

Pasal8
Cukup jelas.

Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Cukup jelas.

Pasal 11
Ayat (1)
Kesepakatan bersama dimaksudkan agar usulan penetapan kawasan khusus benar-
benar merupakan keinginan seluruh daerah yang terkait.

Ayat(2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas

29 WRATAVAU/''/E $ NOITW 3 SEPTEMBER NlO


Pasal 12
Ayat (1)
Kesepakatan bersama dimaksudkan agar usulan penetapan kawasan khusus benar-
benar merupakan keinginan seluruh daerah yang terkait

Ayat (2)
CukuP jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 13
Cukup jelas.

Pasal 14
Cukup jelas.

Pasal 15
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat(2)
Huruf a
Koordinasi oleh Menteri Dalam Negeri bersama kementerian dan/atau lembaga
pemerintah nonkementerian mengingat hal-hal teknis dalam usulan penetapan
kawasan tfiusus menjadi tugas pokok dan fungsi kementerian dan/atau lembaga
pemerintatr nonkementerian.

Huruf b
Saran dan pertimbangan DPOD diperlukan sebagai implementasi tugas dan
tanggung jawab DPOD sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang
Pemerintahan Daerah.

Pasal 16
Cukup jelas.

Pasal 17
Cukup jelas.

Pasal 18
Ayat (1)
Rancangan peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan khusus memuat
pengaturan teknis terkait dengan pengelolaan dan pengembangan kawasan khusus
yang diusulkan, antara lain tujuan penetapan, jangka waktu, kelembagaan, tugas dan
kewenangan, dan pendanaan.

UIRATAVOLUIIEIINONORS SEPfiET//BERMIO 30
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "ketentuan peraturan perundang-undangan" adalah Undang-
Undang Nomor l0 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
dan peraturan pelaksanrnnnya.

Pasal 19
Cukup jelas.

Pasal 20
Cukup jelas.

Pasal2l
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Ketentuan ini dilaksanakan antara lain melalui kepatuhan pengelola kawasan khusus
dalam melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal22
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Cukup jelas.

Huruf c
CukuP jelas

Huruf d
Cukup jelas.

Huruf e
Sistem informasi manajemen akuntabilitas dan kinerja kawasan khusus
dimaksudkan dalam upaya meningkatkan efektivitas pelaksanaan pembinaan
. umum serta monitoring dan evaluasi penyelenggarmn kawasan khusus baik
oleh Pemerintah maupun pemerintah daerah.

Ayat (3)
Cukup jelas.

31 mRATAu0/LUMEIINOUTORS SEPTEMBER 2O1O


Pasal 23
Ayat (l)
Yang dimaksud dengan "Pemerintah bersama-sama dengan pemerintah daerah"
adalah Kementerian Dalam Negeri bersama dengan kementerian dan/atau lembaga
pemerintah nonkementerian melakukan monitoring dan evaluasi dengan
mengikutsertakan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota.

Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal24
Cukup jelas.

Pasal 25
Cukup jelas.

Pasal 26 ,

Cukup jelas.

Pasal2T
Cukup jelas.

Pasal 28
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5125

MRATAvILUUE rs Nottffi 3 sEpfEfrBER zotl N2


LAMPIRAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INI}ONESIA
NOMOR 43 TAHUN 2O1O
TENTANG
TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KHUSUS

Bagian Ketigabelas
Kementerian Tenaga Kerja Dan Transmigrasi

Pasal 367
(1) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi berada di bawah dan bertanggung jawab
kepada Presiden.
(2) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dipimpin oleh Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi.

Pasal 368

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di


bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian dalam pemerintahan untuk membantu Presiden
dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.

Pasal 369

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 368, Kementerian Tenaga Kerja
dan Transmigrasi menyelenggarakan fungsi:
a. perumusan, penetapan,- dan pelaksanaan kebijakan di bidang ketenagakerjaan dan
ketransmigrasian;
b. pengelolaan barang miliklkekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian
Tenaga Kerja dan Transmigrasi;
c. pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi;
d. pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Tenaga
Kerja dan Transmigrasi di daerah; dan
e. pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional.

Pasal 370

Susunan organisasi eselon I Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi terdiri atas:
a. Sekretariat Jenderal;
b. Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas;
c. Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja;
d. Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja;

33 IflRATAVOL.J,TEIINOMOR3 SEPTEMBERaUO
e. Direktorat Jenderal PembinaanPengawasanKetenagakerjaan;
f. Direktorat Jenderal Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi;
g. Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi;
h. Inspektorat Jenderal;
i. Badan Penelitian, Pengembangan, dan Informasi;
j. Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Manusia;
k. Staf Ahli Bidang Kependudukan dan Otonomi Daerah;
L Staf Ahli Bidang Pengembangan Wilayah;
m. Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga; dan
n. Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional.

Pasal 371

Sekretariat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan


dan pemberian dukungan adminishasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Kementerian
Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Pasal372

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 371, Sekretariat Jenderal
menyelenggarakan fungsi:
a. koordinasi kegiatan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi;
b. koordinasi dan penyusunan rencana dan program Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi;
c. pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang meliputi ketatausahaan,
kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, arsip dan dokumentasi Kementerian Tenaga
Kerja dan Transmigrasi;
d. pembinaan dan penyelenggaraan organisasi dan tata laksana, kerja sama, dan hubungan
masyarakat;
e. koordinasi dan penyusunan peraturan perundang-undangan dan bantuan hukum;
f. penyelenggaraanpengelolaan barang milik&ekayaan negara; dan
g. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Pasal 373

Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas mempunyai tugas merumuskan serta
melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan pelatihan ketenagakerjaan
dan ketransmigrasian dan produktivitas.

wrRATAvoLuME 19 NoMoR g IEqTEMBER zolo 34


Pasal 374

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 373, Direktorat Jenderal
P emb inaan Pel atihan dan Produktivitas menyelenggarakan fungsi :

a.
'
perumusan kebijakan di bidang pembinaan pelatihan ketenagakerjaan dan ketransmigrasian
meliputi standardisasi, kelembagaan, instruktur dan tenaga pelatihan, pemagangan,
produktivitas, dan kewirausahaan;
b. pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan pelatihan ketenagakerjaan dan
ketransmigrasian meliputi standardisasi, kelembagaan, instruktur dan tenaga pelatihan,
pemagangan, produktivitas, dan kewirausahaan;
c. penyusunan norna, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pembinaan pelatihan
ketenagakerjaan dan ketransmigrasian meliputi standardisasi, kelembagaan, instruktur dan
tenaga pelatihan, pemagangan, produktivitas, dan kewirausahaan;
d. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan pelatihan ketenagakerjaan
dan ketransmigrasian meliputi standardisasi, kelembagaan, instruktur dan tenaga pelatihan,
pemagangan, produktivitas, dan kewirausatraan; dan
e. pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas.

Pasal 375

Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja mempunyai tugas merumuskan serta
melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan penempatan tenaga kerja.

Pasal 376

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 375, Direktorat Jenderal
Pembinaan Penempatan Tenaga Kerj a menyelenggarakan fungsi :

a, perumusan kebijakan di bidang pembinaan penempatan tenaga kerja dalam negeri,


penempatan tenaga kerja luar negeri, pengembangan kesempatan kerja, dan pengendalian
penggunaan tenaga kerj a asing;
b. petatianaan kebijakan di bidang pembinaan penempatan tenaga kerja dalam negeri,
penempatan tenaga kerja luar negeri, pengembangan kesempatan kerja, dan pengendalian
penggunaan tenaga kerja asing;
c. penyusunan nonna, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pembinaan penempatan tenaga
ke4a Oatam negeri, penempatan tenagakerja luar negeri, pengembangan kesempatan kerja,
dan pengendalian penggunaan tenaga kerja asing;
d. pemterian
-dalam bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan penempatan tenaga kerja
negeri, penempatan tenaga kerja luar negeri, pengembangan kesempatan kerja, dan
pengendalian penggunaan tenaga kerja asing; dan
e. pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja.

35 MRATAVOLIIIIE 19 NOMOR3 SEPIENBER 2O1O


Pasal377

Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja
mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang
pembinaan hubungan industrial dan jaminan sosial tenaga kerja.

Pasal 378

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 377, Direktorat Jenderal
Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja menyelenggarakan fungsi:

a. perumusan kebijakan di bidang pembinaan hubungan induskial dan jaminan sosial tenaga
kerja meliputi persyaratan kerja, kelembagaan dan pemasyarakatan hubungan industrial,
pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja, serta pencegahan dan penyelesaian
perselisihan hubungan industrial;
b. pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan hubungan industial dan jaminan sosial tenaga
kerja meliputi persyaratan kerja, kelembagaan dan pemasyarakatan hubungan industrial,
pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja, serta pencegahan dan penyelesaian
perselisihan hubungan industrial;
c. penyusunan nonna, standar, prosedur dan kriteria di bidang pembinaan hubungan industrial
dan jaminan sosial tenaga kerja meliputi persyaratan kerja, kelembagaan dan
pemasyarakatan hubungan industrial, pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja, serta
p encegahan dan p enyelesaian perselisihan hubungan industrial ;

d. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan hubungan industrial dan
jaminan sosial tenaga kerja meliputi persyaratan kerja, kelembagaan dan pemasyarakatan
hubungan industrial, pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja, serta pencegahan dan
p enyelesaian perselisihan hubungan industrial; dan
e. pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan
Sosial Tenaga Kerja.

Pasal 379

Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan rnempunyai tugas merumuskan


serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan pengawasan
ketenagakerjaan.

Pasal 380

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 379, Direktorat Jenderal
P embinaan Pengawasan Ketenagakerj aan menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan kebijakan di bidang pembinaan pengawasan ketenagakerjaan meliputi norma


kerja dan jaminan sosial tenaga kerja, norma keselamatan dan kesehatan kerja, norma kerja
perempuan dan anak, dan bina penegakan hukum;

, EoEttDED qi.h
MRATAVOLUME 19 NOMOR 3 SEPTETTBER 20IO
36
b. pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan pengawasan ketenagakerjaan meliputi norma
kerja dan jaminan sosial tenaga kerja, norma keselamatan dan kesehatan kerja, n-orma kerja
perempuan dan anak, dan bina penegakan hukum;
c. penyusunan norrna, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pembinaan pengawasan
ketenagakerjaan meliputi norma kerja dan jaminan sosial tenaga kerja, nonna keselamatan
dan kesehatan kerja, nonna kerja perempuan dan anak, dan bina penegakan hukum;
d. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan pengawasan
ketenagakerjaan meliputi norma ke{a dan jaminan sosial tenaga kerja, norma keselamatan
dan kesehatan kerja, nonna kerja perempuan dan anak, dan bina penegakan hukum; dan
pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan.

Pasal 381

Direktorat Jenderal Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi mempunyai tugas


merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan
pembangunan kawasan transmigrasi.

Pasal 382

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 381, Direktorat Jenderal
P embinaan P embangunan Kawasan Transmi grasi menyelenggarakan fungsi :
a. perumusan kebijakan di bidang pembinaan pembangunan kawasan transmigrasi meliputi
perencanaan teknis, penyediaan tanah transmigrasi, pembangunan permukiman dan
infrastruktur kawasan, penempatan, dan partisipasi masyarakat;
b. pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan pembangunan kawasan transmigrasi meliputi
perencanaan teknis, penyediaan tanah transmigrasi, pembangunan permukiman dan
infrastruktur kawasan, penempatan, dan partisipasi masyarakat;
c. penyusunan norrna, standar, prosedur dan kriteria di bidang pembinaan pembangunan
kawasan transmigrasi meliputi perencanaan teknis, penyediaan tanah transmigrasi,
pembangunan permukiman dan infrastrukfur kawasan, penorlpatan, dan partisipasi
masyarakat;
d. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan pembangunan kawasan
transmigrasi meliputi perencanaan teknis, penyediaan tanah transmigrasi, pembangunan
permukiman dan infrastruktur kawasan, penernpatan, dan partisipasi masyarakat; dan
e. pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Pembinaan Pembangunan Kawasan
Transmigrasi.

Pasal 383

Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi


mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang
pembinaan pengembangan masyarakat dan kawasan transmigrasi.

37 wtRATAvoLUttE tg NoMoR3 sEpTEItBER 2010


Pasal 384

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 383, Direktorat Jenderal
pembinaan Pengembang* Vtasyrrakat dan Kawasan Transmigrasi menyelenggarakan fungsi:
a. kebijakan di bidang pembinaan pengembangan masyarakat dan kawasan
' pr**uruti
ir*r-igrasi meliputi perencanaan teknis, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan
masyarakat, pengembangan usaha, pengembangan sarana dan prasarana kawasan, dan
penyerasian lingkungan ;
b. prtutr*uao tceUijatan di bidang pembinaan pengembangan masyarakat dan kawasan
iransmigrasi meliiuti perencanaan teknis, peninglatan kapasitas sumber daya manusia dan
masyarakat, pengembangan usaha, pengembangan sarana dan prasarana kawasan, dan
p enyerasi an lingkungan;

c. penyusunan ,roir-u,1t*dar, prosedur, dan kriteria di bidang pembinaan pengembangan


masyarakat dan kawasan tranimigrasi meliputi perencanaan teknis, peningkatan kapasitas
,u-L., daya manusia dan masyarakat, pengembangan usaha, pengembangan sarana dan
prasarana kawasan, dan penyerasian lingkungan;
d. pemberian bimbingan teknii dan evaluasi di bidang pembinaan pengembangan masyarakat
daya
dan kawasan transmigrasi meliputi perencanaan teknis, peningkatan kapasitas sumber
manusia dan masyarakat, pengembangan usaha, pengembangan sarana dan prasarana
kawasan, dan penyerasian lingkungan; dan
e. pelaksanaan administrasi Diiektorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan
Kawasan Transmigrasi.

Pasal 385

Inspektorat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan pengawasan intern di lingftungan


Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Pasal 386

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 385, Inspektorat Jenderal
menyelenggarakan fungsi :

a. prnyiup* prrorrrirr* kebijakan pengawasan intern di lingkungan Kementerian Tenaga


Kerja dan Transmigrasi;
b. pelaksanaan prttgu*ur* intern di rinskunsan Kement Tenaga Kerja dan Transnoigrasi
lingkungan Kementerian
ierhadap tine4a Oan keuangan melalui audit, reviun evaluasi, pemantauan, dan kegiatan
pengawasan lainnYa;
c. pelaksanaan prngu*ur* untuk tduan tertentu atas penugasan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi;
d. p.nyoroi* laporan hasil pengawasan di lingkungan Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi; dan
e. pelaksanaan administrasi Inspektorat Jenderal'

2O1O 38
WRATAVC/;UUE 19 NUTORN SEPTETTBER
Pasal 387

Badan Penelitian, Pengembangan, dan Informasi mempunyai tugas melaksanakan penelitian,


pengembangan, dan informasi di bidang tenaga kerj:a dan hansraigrasi.

Pasal 388

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dirnaksud dalarn Pasal 387, Badan Penelitian,
Pengembangan, dan Informasi menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan kebijakan teknis, rencana dan progr:rm penelitian dan pengembangan,
pengelolaan data dan informasi, serta pengernbangan sistem informasi dan sumberdaya
informatika di bidang tenagakerja dan transmigrasi;
b. pelaksanaan penelitian dan pengembangan, pengelolaan data dan informasi, serta
pengembangan sistem informasi dan sumberdaya informatika di bidang tenaga ke{a dan
transmigrasi;
c. pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan penelitian dan pengembffigil, pengelolaan
data dan informasi, serta pengembangan sistem informasi dan sumberdaya informatika di
bidang tenaga kerja dan transmigrasi; dan
d. pelaksanaan administrasi Badan Penelitian, Pengembangan, dan Informasi.

Pasal 389

(l) Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Manusia mempunyai tugas memberikan
telaahan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengenai masalah ekonomi dan
sumber daya manusia.
-

(2) Staf Ahli Bidang Kependudukan dan Otonomi Daerah mempunyai tugas memberikan
telaahan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengenai masalah kependudukan
dan otonomi daerah.

(3) Staf Ahli Bidang Pengembangan Wilayah mempunyai tugas memberikan telaatran kepada
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengenai masalah pengembangan wilayah.

(4) Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga mempunyai tugas memberikan telaahan
kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengenai masalah hubungan antar
lembaga.

(5) Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional mempunyai tugas memberikan telaahan kepada
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengenai masalah hubungan internasional.

39 wTRATAvoLUMErcNot olssEprEttuERzuro
BAB TV
KETENTUAN LAIN.LAIN

Pasal 704

Pembagian tugas antara Menteri dan Wakil Menteri diatur lebih lanjut oleh masing-masing
Menteri yang bersangkutan.

Pasal 705

Sekretaris Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus menjadi Sekretaris


Utama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Pasal 706

Perubahan kedudukan, tugas, dan fungsi Kementerian Negara serta susunan organisasi, tugas,
dan fungsi eselon I Kementerian Negara ditetapkan dengan Peraturan Presiden setelah diusulkan
oleh Menteri yang membidangi urusan pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi
kepada Presiden berdasarkan usul dari masing-masing Menteri Koordinator/IVlenteri/Ivlenteri
Negara yang bersangkutan.

Pasal707

Rincian tugas, fungsi, susunan organisasi, dan tata kerja pada masing-masing Kementerian
Negara ditetapkan oleh Menteri Koordinator/I\4enteri/I\denteri Negara yang bersangkutan setelatr
mendapat persetujuan tertulis'dari Menteri yang membidangi urusan pendayagunaan aparatur
negara dan reformasi birokrasi.

BAB V
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 708

Peraturan Menteri yang merupakan pelaksanaan dari Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005
I
tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon Kementerian Negara Republik Indonesia
sebagaimana telatr beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun
2008 yang tidak bertentangan dengan Peraturan Presiden ini dinyatakan tetap berlaku sepanjang
tidak bertentangan dan/atau belum diubah atau diganti dengan peraturan yang baru berdasarkan
Peraturan Presiden ini.

40
IMRATA VWUIIE 19 NOMOR 3 SEPTE'T8F]R MO
BAts VI
KETENTUAN isNUruP
. . l- ',i.

Pasal 709

Dengan berlakunya Peraturan Presiden ini, maka Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005
I
tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon Kementerian Negara Republik Indonesia
sebagaimana telah beberapa kali diubatr terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun
2008, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 710

Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
padatanggal 14 April 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

DR. H. SUSIO BAMBANG YUDHOYONO

41 wuArAvof,uuE Ig NourI,3 sEpTEItBER fr10


PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA


NOMOB s7 TAHUN 2010
TENTANG
PENGGABUNGAII ATAU PELEBURAN BADAN USAIIA DAII PENGAMBILALIHAII
SAHAM PERUSAHAAN YAITG DAPAT MENGAKIBATKAII TER.TADINYA
PRAKTIK MONOPOLI DAN PERSAINGAII USAHA TIDAK SEHAT

DENGAI\ RAHMAT TUHAI\I YANG MAIIA ESA .

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang baLrwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 28 ayat(3) dan Pasal}9 ayat
(2)Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat perlu menetapkan Peraturan
Pemerintah .tentang Penggabungan Atau Peleburan Badan Usaha dan
Pengarnbilalihan Satram Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya
Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;

Mengingat 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia


Tatrun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek


Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 33, Tambatran Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3817);

MRATAVOLUUE 19 NOUON 3 SEfiETTBER NIO 42


MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTA|{G PENGGABUNGAN ATAU


PELEBURAN BADAI\ USAHA DAI\ PENGAMBILALIHAN SAHAM
PERUSAHAAN YANG DAPAT MENGAKIBATKAN TERJ{)INYA
PRAKTIK MONOPOLI DAI{ PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:

1. Penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilalrukan oleh satu Badan Usaha atau lebih
untuk menggabungkan-diri dengan Badar.r Usaha lain yang telah ada yang mengakibatkan
aktiva dan pasiva dari Badan Usaha yang menggabungkan diri beralih karena hukum kepada
Badan Usaha yang menerima penggabungan dan selanjutnya status Badan Usaha yang
menggabungkan diri berakhir karena hukum.

2. Peleburan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua Badan Usaha atau lebih untuk
meleburkan diri dengan cara mendirikan satu Badan Usaha baru yang karena hukum
memperoleh aktiva dan pasiva dari Badan Usaha yang meleburkan diri dan status Badan
Usaha yang meleburkan diri berakhir karena hukum.

3. Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh Pelaku Usaha untuk
mengambilalih saham Badan Usaha yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas
Badan Usaha tersebut. ., '

4. Praktik Monopoli adalah pemusatan kakuatan ekonomi oleh satu atau lebih Pelaku Usaha
yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan/atau pemasaran atas barang dan/atau jasa
tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan
kepentingan umum.

5. Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah persaingan antar Pelaku Usaha dalam menjalankan
kegiatan produksi dan/atau pemasaran barang atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak
jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.

6. Badan Usaha adalah perusahaan atau bentuk uqaha, baik yang berbpntuk badan hukum
maupun bukan badan hukum, yang menjalankan suatu jenis usaha yang bersifat tetap dan
terus menerus dengan tujuan untuk memperoleh laba.

7. Komisi adalah Komisi Pengawas Persaingan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang I-,,arangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat.

43 uRATAVOLU!flE ls NOMOR 3 SEPTEMBER 20lO


8. Pelaku Usaha uOutut setiap orang perorangan atau Badan Usaha baik yang berbentuk badan
hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan
kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-
sama melalui pe{anjian menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekouomi.

' 9. Undang-Undang adalah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat,

BAB II
PENGGABUNGAN DAI\ PELEBURAN BADAII USAHA SERTA
PENGAMBILALIHAN SAHAM PERUSAHAAN

Pasal 2

(1) Pelaku Usaha dilarang melakukan Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha,
atau Pengambilalihan saham perusahaan lain yang dapat mengakibatkan terjadinya Praktik
Monopoli dan/atau Persaingan Usaha Tidak Sehat.

. (2) Praktik Monopoli danJatau Persaingan Usaha Tidak Sehat sebagaimana dimaksud pada ayat
(l) terjadi jika Badan Usaha hasil Penggabungan, Badan Usaha hasil Peleburan, atau Pelaku
Usaha yang melakukan Pengambilalihan saham perusahaan lain diduga melakukan:
a. pe{anjian yang dilarang;
. b. kegiatan yang dilarang; dan/atau
c. penyalahgunaan posisi dominan.

Pasal 3

(1) Komisi melakukan penilaian terhadap Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Bgdan Usaha,
atau Pengambilalihan saham perusahaan yang telah berlaku efektif secara yuridis dan diduga
mengakibatkan terjadinya Praktik Monopoli dan/atau Persaingan Usatra Tidak Sehat.

(2) Penilaian sebagaimana dimaksud padaayat(l) dilakukan dengan menggunakan analisis:


a. konsentrasi pasar;
b. hambatan masuk pasar;
c. potensi perilaku anti persaingan;
d. efisiensi; dan/atau
e. kepailitan.

(3) Dalam hal tertentu, Komisi dapat melakukan penilaian dengan menggunakan analisis selain
sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

(4) Analisis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Komisi.

(5) Dalam melakukan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (l) dan ayat (3), Komisi dapat
meminta keterangan dari Pelaku Usaha dan/atau pihak lain.

WIRATAVOLI//NE 19 NONOR 3 SEPIETTBER Nfi 44


Pasal 4

(1) Komisi berwenang menj"atuhkan sanksi berupa'tindakan administratif terhadap Pelaku Usaha
yang'mqlakukan pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal2 ayat (1)
sesudi dengan ketentuan dalam Undang-gndang.

(2) Penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah melalui prosedur
penanganan perkara oleh Komisi sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang.

PEMBERITAHUAN ATAS PENGGA"".ffJ1- DAN PELEBURAN BADAN USAIIA


SERTA PENGAMBILALIHAN SATIAM PERUSAHAAN

Bagian Kesatu
Nilai Aset atau Nilai Penjualan

Pasal 5

(1) Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan "Usaha, atau Pengambilalihan saham
'perusahaan lain yang berakibat nilai aset dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah
tertentu wajib diberitahukan secara tertulis kepada Komisi paling lama 30 (tiga puluh) hari
kerja sejak tanggal telah berlaku efektif secara yuridis Penggabungan Badan Usaha,
Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan.

(2) Jumlah tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat(l) terdiri atas:


a. nilai aset sebesar Rp.2.500.000.000.000,00 (dua triliun lima ratus milyar rupiah);
dan/atau
b. nilai penjualan sebesar Rp.5.000.000.000.000,00 (lima triliun rupiatr).

(3) Bagi Pelaku Usaha di bidang perbankan kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara
tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku jika nilai aset melebihi
Rp.20. 000. 000. 000. 000,00 (dua puluh triliun rupiah).

(4) Nilai aset dan/atau nilai penjualan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
dihitung berdasarkan penjumlahan nilai aset dan/atau nilai penjualan dari:

a. Badan Usaha hasil Penggabungan, atau Badan Usatra hasil Peleburan, atau Badan
Usaha yang mengambilalih saham perusahaan lain dan Badan Usaha yang diambilalih;
dan

b. Badan Usaha yang secara langsung maupun tidak langsung mengendalikan atau
dikendalikan oleh Badan Usaha hasil Penggabungan, atau Badan Usaha hasil Peleburan,
atau Badan Usaha yang mengambilalih saham perusahaan lain dan Badan Usaha yang
dialmbilalih.

Pasal 6

45 WRAIAVOLUTIE lC NOUOR 3 SEFIETTBER 2O1O


Dalam hal Pelaku Usaha tidak menyampaikan pemberitahukan tertulis sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (l) dan ayat (3), Pelaku Usaha dikenakan sanksi berupa denda administratif
sebesar Rp. Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) untuk setiap hari keterlambatan, dengan
ketentuan denda adminishatif secara keseluruhan paling tinggi sebesar Rp.25.000.000.000;00
(dua puluh miliar rupiah).

Pasal 7

Kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5


ayat (l) dan ayat (3) tidak berlaku bagi Petafu_.Usaha-yang melakukan Penggabungan Badan
Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham antarperusahaan yang terafiliasi.

rata c ara rr"";iffi eritarruan


"l?dil3mu
Pasal 8

(t) Pemberitahuan secara tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (l) dan ayat (3)
dilakukan dengan cara mengisi formulir yang telah ditetapkan oleh Komisi.

(2) Formulir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
. a. nama, alamat, nama pimpinan atau pengurus Badan Usaha yang melakukan
Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham
perusahaan lain;
b. ilngkasan rencana Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usatra, atau
Pengambilalihan satram perusahaan; dan
c. nilai aset atau nilai hasil penjualan Badan Usaha.

(3) Formulir sebagaimana dimaksud pada ayat (l) wajib:


a. ditandatangani oleh pimpinan atau pengurus Badan Usaha yang melakukan
Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Penganrbilalihan salram
perusahaan lain; dan'
b. ililampiri dokumen pendukung yang berkaitan dengan Penggabungan Badan Usatra"
Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham penrsahaan.

Bagian Ketiga
Penilaian Komisi

Pasal 9

(l) Berdasarkan pemberitatruan secara tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat
(l) dan ayat (3), Komisi melahrkan penilaian untuk memberikan pendrya! terhadap ada
atau tidaknya dugaan Praktik Monopoli danlatau Persaingan Us$a Tidak Sehat akibat
dari Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan satram
perusahaan.

(Z) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu pating
lama 90 (sembilan puluh) hari keda terhitung sejak tanggal dokumen pemberitahuan
tertulis diterima Komisi secara lengkap.

WIRATA V OLUME 1 9 NUI OR T SEPTETreR 2U O 46


(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2), ayat (3) dan ayat (5) berlaku
bagipenilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(4) Dalam hal pendapat Komisi sebagaimana dimaksud pada ry7t(l)-ryenyatakan adanya
dugaan Praktik Monopoli dan/atau Persaingan Usatra Tidak Sehat, Komisi akan
61r-iukok* tindakan sesuai dengan kewenangannya sebagaimana diatur dalam Undang-
Undang.

Bagian Keempat
Konsultasi

(1) pelaku usaha yang akan melakukan Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha,
atau pengambilalihan saham perusahaan lain yang berakibat nilai aset darlatau nilai
penjualannya melebihi jumlah tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) dan
ayat (3) dapat melakukan konsultasi secara lisan atau tertulis kepada Komisi.

(z) Konsultasi secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mengisi
formulir dan menyampaikan dokumen yang disyaratkan oleh Komisi.

Pasal I I

(1) Berdasarkan formulir dan dokumen yang diterima oleh Komisi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal l0 ayat (2),Komisi melakukan penilaian'

e) Berdasarkan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)Penggabungan


Komisi memberikan saran,
Badan Usaha,
bimbingan, dan/atau pendapat tertulis mengenai rencana
peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusatraan lain kepada Pelaku Usaha.

pada ayat (2) diberikan


(3) Saran, bimbingan, danlataupendapat tertulis sebagaimana dimaksud
dalam jangka waktg paling lama 90 (sembilan puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal
diterimanya formulir dan dokumen secara lengkap oleh Komisi.

(4) penilaian yang diberikan oleh Komisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bukan
merupakan peisetujuan atau penolakan terhadap rencana Penggabungan Badan Usaha,
peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan lain yang akan dilakukan
oleh pelaku Usaha, dan tidak menghapuskan kewenangan Komisi untuk melakukan
penilaian setelah Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha,
-pengambilalihan
atau
saham perusahaan lain yang bersangkutan berlaku efektif secara yuridis.

47 waATAVOLtJt Etgr{otloR3sEPtEtBffimt0
Pasal 12

Ketentuan lebih lanjut mengenai konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal l0 dan Pasal 1l
diatur dengan Peraturan Komisi.

BAB IV
KETENTUAI\I PENUTUP

Pasal 13

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.


Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintatr ini
dJngan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
, pada tanggal 20 Juli 2010

PRESIDEN REPIJBLIK INDONESIA,

ttd

DR. H. SUSILO BAI\'IBA].IG YLTDHOYONO


Diundangkan di Jakarta
pada tanggal20 Juli 2010

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA


REPUBLIK INDONESIA'

ttd

PATRI,ALIS AKBAR

LEMBARAN MGARA REPUBLIK INDONESIA TAIIUN 2OIO NOMOR 89

TMRAT VWUnE$No'tffi'SsEPTEU8fjnmlo 48
' :
.PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 57 TAHUN 2O1O
TENTANG
PENGGABUNGAII ATAU PELEBURAN BADAN USAHA DAN PENGAMBILALIHAII
SAHAM PERUSAHAAN YANG DAPAT MENGAKIBATKAN TERJADINYA
PRAKTIK MONOPOLI DAI{ PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

I. U]V{UM

perkembangan dunia usaha yang sangat dipengaruhi oleh para Pelaku Usaha, baik
langsung maupun tidak langsung telah mengubah kondisi dan situasi perekonomian
negara. Dengan memperhatikan kondisi dan situasi tersebut perlu mencermati dan menata
kembali kegiatan para Pelaku Usaha, agar dunia usaha dapat tumbuh dan berkembang
secara sehat atau tidak menimbulkan Praktik Monopoli dan/atau Persaingan Usaha Tidak
Sehat.

Keberadaan Peraturan Pemerintah ini dalam dunia usaha sangat penting untuk
memberikan kepastian hukum bagi para Pelaku Usaha, terutama dalam rangka
menghadapi arus globalisasi dan liberalisasi perekonomian dunia yang semakin
kompleks. Oleh sebab itu, perlu diupayakan penciptaan suatu iklim dunia usaha yang
sehat dan efisien, sehingga terbuka kesempatan yang cukup leluasa bagi para Pelaku
Usaha untuk tumbuh dan berkembang secara baik dan sehat sesuai dengan amanat Pasal
33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, maka upaya penciptaan iklim dunia usaha yang
sehat dan efisien tidak boleh mengarah kepada penguasaan sumber ekonomi dan
, pemusatan kekuatan ekonomi pada suatu kelompok atau golongan tertentu. Oleh karena
itu, tindukan Penggabungan (merger), Peleburan (konsolidasi), dF Pengambilalihan
(akuisisi), yang dapat mengendalikan dan mendorong ke aratr terjadinya Praktik
Monopoli dan/atau Persaingan Usaha Tidak Sehat harus dihindari sejak dini, dengan kata
lain tindakan Penggabungan, Peleburan, atau Pengambilalihan hendaknya tetap
memperhatikan kepentingan konsumen dan Pelaku Usaha lainnya.

Meskipun dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek


Monopoli dar/atau Persaingan Usaha Tidak Sehat telah diatur mengenai prinsip-prinsip
yang berkaitan dengan monopoli, monopsoni, penguasaan pasar, dan persekongkolan,
akan tetapi tata cara proses Penggabffigffi, Peleburan, dan Pengambilalihan yang
mengakibitkan Praktik Monopoli dan/atau Persaingan Usaha Tidak Sehat, perlu
pengaturan lebih rinci yang diperintahkan untuk diatur lebih lanjut dengan Peratueran
Pemerintah.

49 WiRATAVOLUUE t9 NO$AR 3 SEPTEUBER 2010


Adapun materi yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini meliputi Penggabungan atau
Peleburan Badan Usaha, dan Penganrbilalihan saham yang dapat mengakibatkan
terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, tata cua penyampaian
pemberitatruan, penilaian Komisi, dan konsultasi.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Cukup jelas

Pasal2
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "perusahaan" adalah badan usaha yang berbentuk
badan hukum perseroan terbatas.

Ayat(2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "perjanjian yang dilarang" dalam ketentuan ini
misalnya: praktik oligopoli, penetapan harga, pembagian wilayah,
pemboikotan, kartel, trust, praktik oligopsoni, integrasi vertikal,
perjanjian tertutup, perjanjian dengan pihak luar negeri, sebagaimana
diatur dalam Pasal4 sampai dengan Pasal 16 Undang-Undang.

Huruf b
Yang dimaksud dengan "kegiatan yang dilarang" dalam ketentuan ini
misalnya: praktik monopoli, praktik monopsoni, penguasaan pasar,
persekongkolan, sebagaimana diatur dalam Pasal 17 sampai dengan
P asal 24 Undang-Undang.

Huruf c
Yang dimaksud dengan "posisi dominan" adalah keadaan dimana Pelaku
Usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti di pasar bersangkutan
dalam kaitan dengan pangsa pasar yang dikuasai, atau Pelaku Usaha
mempunyai posisi tertinggi diantara pesaingnya di pasar bersangtutan
dalam kaitan dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses pada
pasokan atau penjualan, serta kemampuan untuk menyesuaikan pasokan
atau permintaan barang atau jasa tertenfu.

Yang dimaksud dengan "penyalahgunaan posisi dominan" dalam


ketentuan ini misalnya: jabatan rangkap, pemilikan saham, sebagaimana
diatur dalam Pasal25 sampai dengan Pasal2T Undang-Undang.

Pasal3
Ayat (1)
CukuP jelas

W'/RATAV0/IUUE'9IVOilOR SSEflEITEER T'O 50


A)'at (2)
Huruf a
Konsmtrasi pasar merupakan indikator awal untuk menilai apakah
Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau
Pengambilalihan satram perusahaan dapat mengakibafl<an terjadinya
Praktik Monopoli dan/atau Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau
Pengarnbilalihan satram perusahaan yang menciptakan konsentrasi pasar
rendatr tidak berpotensi mengakibatkan Praktik Monopoli dan/atau
Persaingan Usaha Tidak Sehat. Sebaliknya Penggabungan Badan Usaha,
Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan yang
menciptakan konsentrasi pasar tinggi berpotensi mengikatkan Praktik
Monopoli dan/atau Persaingan Us$a Tidak Sehat bergantung pada
analisis lainnya pada pasar bersangkutan.

Huruf b
Tanpa adanya hambatan masuk pasar, Pelaku Usaha pasca
Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau
Pengambilalihan saham'perusahaan dengan penguasaan pangsa pasar
yang besar akan kesulitan untuk melakukan perilaku anti persaitrgffi,
karena setiap saat dapat dihadapkan dengan tekanan persaingan dari
pemain baru di pasar.
Sebaliknya, dengan eksistensi hambatan masuk pasaf yang tinggi, Badan
Usatra hasil Penggabungan, Badan Usaha hasil Peleburann atau Pelaku
'Us$a yang melakukan Pengambilalihan saham perusahaan lain dengan
penguasaan pasar menengah memiliki kemungkingan untuk
menyalahgunakan posisinya untuk menghambat persaingan atau
mengeksploitasi konsumen karena pemain banr akan kesulitan untuk
memasuki pasar dan memberikan tekanan persaingan terhadap Pelaku
Usatra yang telatr ada di dalam pasar.

Huruf c
Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, dan/atau
Pengambilalihan saham perusahaan yang melahirkan satu Pelaku Usatra
yang relatif dominan terhadap Pelaku usaha lainnya di pasar,
memudaftkan Pelaku Usaha tersebut untuk menyalahgrrnakan posisi
dominannya demi meraih keuntungan yang sebesar-besarnya bagi
perusahaan dan mengakibatkan kerugian bagi konsumen.

Sebaliknya, dalam hal Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan


Usaha, atau Pengarnbilalihan saham perusatraan tidak melatrirkan Pelaku
Usatra yang dominan di p6tr, namun masih terdapat beberapa pesaing
signifikan, maka Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan usaha,
atau Penganrbilalihan satram perusahaan tersebut memudahkan
terjadinya tindakan anti persaingan yang dilakukan secara terkoordinasi
dengan pesaingnya baik secara langsung maupun tidak langsung.

5l IMRATA Voi"INE $ NO'IOR SEPTE'TBER 2O1O


'
Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usah4 atau
nengarnbilalihan t+u* peru.sahaan VgS dilakutcan secara vertikal dapat
menciptakan terhalangnya akses pesaing baik pada pasar hulu maupun
pasar hilir sehingga mengurangi tingkat'persaingan pada pasar hulu atau
pasar hilir tersebut

Huruf d
Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan usaha, atau
pengambitilitran saham perusahaan yang direncanakur bertujuan untuk
meningkatkan efisiensi, maka perlu dilakukan perbandingan antara
efisiensi yang dihasilkan dengan dampak anti persaingan yang
ditimbulkannyu. Oulu* hal nilai dampak anti persaingan melampaui
nilai efisien.iyung diharapkan dicapai dari -Penggllungan Badan Usaha"
peleburan Badan Usaha, atau Penganrbilalihan saham penrsatraan, maka
persaingan yang sehat akan lebih diutamakan dibanding dengan
mendoring .n.i*ri
bagi Pelaku Usaha. Persaingan yang sehat baik
langsung *uupun tidak langsung akan dengan sendirinya melahirkan
Pelaku Usatra yang lebih efisien di pasar'

Huruf e
Dalam hal alasan Pelaku Usaha melakukan Penggabungan Badan Usaha,
peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusatraan lain
adalatr untuk menghindari terhentinya Badan Usaha tersebut untuk
beroperasi di pasar/industrin maka diperlukan suatu penilaian. Dalam hal
kerugian koniumen lebih besar apabila Badan Usaha tersebut tetap
berala dan beroperasi di pasar/industri, maka tidak terdapat
kekhawatiran berkurangnya tingkat persaingan di pasar berupa Praktik
Monopoli dan/atau Persaingan Usaha Tidak Sehat yang diakibatkan dari
Penggabungan Badan usaha, Peleburan Badan Usaha" atau
Pengambilalihan saham perusahaan tersebut'

Ayat (3)
- y*g dimaksud dengan "dalam hal tertentu" misalnya dalam hgl terdapat
perkimbangan metodl penilaian terhadap danrpak Praktik Monopolo dan/atau
masuk pasar'
bersaingan Usaha Tidak Sehat selain konsentrasi pasar, harrbatan
potensiierilaku anti persaingan, efisiensi, dan/atau kepailitan.

Ayat (4)
CukuP jelas.

Ayat
- -r
(5)
V*g dimaksld dengan "pih{ lain" dalam ketentuan ini antara lain konsumen,
Pelaku usaha pesaing, pemasok, instansi terkait, atau ahli.

ttffi f ttilltffi,tl ilofffib SEPTEnBEn Nto 52


Pasal 4
Cukup jelas

Pasal 5
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Huruf a
Dalam hal salah satu pihak yang melakukan Penggabungan Badan Usaha, (

Peleburan Badan Usaha, atau Pengarnbilalihan saham perusahaan memiliki


perbedaan antara lain aset tahun terakhir dengan nilai aset tatrun sebelumnya
sebesar 30%o atau lebih, maka nilai asetnya dihitung berdasarkan rata-rata nilai
aset 3 (tiga) tahun terakhir.

Huruf b
Cara perhitungan nilai penjualan sama dengan cara perhitungan nilai aset.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Huruf a
CukuP jelas.

Huruf b
Yang dimaksud dengan "dikendalikan" adalah:
a. pemilikan saham atau penguilsaan suara lebih dari 50% (lima puluh

b ;:ffil Tffil'ilil'rffifi'TJ,::,ilTffi"ffi.i*#i,f#,l,Til''Hi
persen) dalam Badan Usaha; atau

menentukan kebijakan pengelolaan Badan Usatra dan/atau


mempengaruhi dan menentukan pengelolaan Badan Usaha.

Pasal 6
Cukup jelas

Pasal 7
Yang dimaksud dengan "terafiliasi" adalah:

a. hubungan antara perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung, mengendalikan


atau dikendalikan oleh perusahaan tersebut;
b. hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang dikendalikan, baik langsung maupun
tidak langsung, oleh pihak yang sama; atau
c. hubungan antara perusahaan dan pemegang satram utama.

53 IIlRAfAVOLIlffi, tgr{OllORSSEPIE$WRml0
Pasal8
Ayat (l)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Yang dimaksud dengan "dokumen pendukung" dalam ketentuan ini,
misalnya: anggaran dasar perusahaan, profil penrsahaan, laporan keuangan 3
(tiga) tahun terakhir, rencana Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha,
atau rencana Penganrbilalihan saham.

Pasal9
Cukup jelas.

Pasal 10
Cukup jelas.

Pasal 11
Cukup jelas.

Pasal 12
Cukup jelas.

Pasal 13
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5144

wnATAvoLuuE$NcntwtsEqrantrRmlo 54
PRTSIDEN
REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 24 TAHUN 2OIO
TENTANG
KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FI.INGSI KEMENTERIAN NEGARA SERTA
SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, DAN FUNGSI ESELON I
KEMENTERIAN NEGARA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBTIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa sebagai tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 42 Tatrun 2009
tentang Pembentukan dan organisasi Kementerian Negara, dan untuk
menjamin terselenggaranya tugas pemerintahan, dipandang perlu
menetapkan Peraturan Presiden tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi
Kementerian Negara serta susunan organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I
Kementerian Negara;

Mengingat : l. Pasal 4 ayat (l) dan Pasal 17 Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);

Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan


Organisasi Kementerian Negara;

4. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009;

MEMUTUSI(AN:

Menetapkarr PERATURAN PRESIDEN TENTANG KEDUDI]KAN, TUGAS, DAN


FUNGSI KEMENTERIAN NEGARA SERTA SUSUNAN ORGA}IISASI,
TUGAS, DAN FUNGSI ESELON I KEMENTERI.AN NEGARA.

55 w,RATAvuuuErgt ouont sEpTE tBERmto


BAB II

Kill'ffi'Iff#"*fr liffi LKHH'E.ARATE.AS


'EMERTNT*^ffi
DISEBUTKAN DALAM UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA
TAHLIN 1945 DAN YANG RUANG LINGKUPNYA DISEBUTKAN DALAM I.JNDA}{G'
UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHI.JN 1945

Bagian Ketigabelas
Kementerian Tenaga Kerja Dan Transmigrasi

Pasal 367

(1) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi berada di bawatr dan bertanggung jawab
kepada Presiden.

(2) Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dipimpin oleh Menteri Tenaga Kerja dan
T?ansmigrasi.

Pasal 368

urusan di
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai tugas menyelenggarakan
bidang keterragakef,u* d*
ketransmigrasian dalam pemerintahan untuk membantu Presiden
dalam menyelenggarakan pemerintahan negara'

Pasal 369

Kerja
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 368, Ketnenterian Tenaga
dan Transmigrasi menyelenggarakan fungsi :
a. perumusan, prnrtup*-, dan pelaksanaan kebijakan di bidang ketenagakerjaan dan
ketransmigrasian;
jawab Kementerian
b. pengelolain barang miliklkekayaan negara yang menjadi tanggung
Tenaga Kerja dan Transmigasi;
c. pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi;
Tenaga
d. pelaksan-aan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan unrsan Kementerian
Kerja dan Transmigrasi di daeratr; dan
e. pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional'

Pasal 370

Susunan organisasi eselon I Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi


terdiri atas:

a. Sekretariat Jenderal;
b. Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas;

wnarlvuun|lc roflon r sepTEuBER Nlo 56


c. Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja;
d. Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja;
e. Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan;
f. Direktorat Jenderal Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi;
g. Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi;
h. Inspektorat Jenderal;
i. Badan Penelitian, Pengembangan, dan Informasi;
j. Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Manusia;
k. Staf Ahli Bidang Kependudukan dan Otonomi Daerah;
l. Staf Ahli Bidang Pengembangan Wilayah;
m. Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga; dan
n. Siaf Ahli Bidang Hubungan Internasional.

Pasal 371

Selaetariat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan


dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Kementerian
Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Pasal372

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 371, Sekretariat Jenderal
menyelenggarakan fungsi :
a. koordinasi kegiatan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi;
b. koordinasi dan penyusunan rencana dan progrrlm Kementerian Tenaga Ke{a dan
Transmigrasi;
c. pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang meliputi ketatausahaan, kepegawaian,
keuangan, kerumahtanggaan, arsip dan dokumentasi Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi;
d. pembinaan dan penyelenggaraan organisasi dan tata laksana, kerja sama, dan hubungan
masyarakat;
e. koordinasi dan penyusunan peraturan perundang-undangan dan bantuan hukum;
f. penyelengg araan pengelolaan barang milik/kekayaan negara; dan
g. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Pasal 373

Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas mempunyai tugas merumuskan serta
melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan pelatihan ketenagakerjaan
dan ketransmigrasian dan produktivitas.

57 mR,ATAyOLUME tc Notto0 s sEmuBER mtu


Pasal374

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 373, Direktorat Jenderal
Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas menyelenggarakan fungsi :
a. perumusan kebijakan di bidang pembinaan pelatihan ketenagakerjaan dan ketransmigrasian
meliputi standardisasi, kelembagaan, instrukfur dan tenaga pelatihan, pemagangan,
produktivitas, dan kewirausahaan;
b. pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan pelatihan ketenagakerjaan dan ketransmigrasian
meliputi standardisasi, kelembagaan, instruktur dan tenaga pelatihan, pemagangan,
produktivitas, dan kewirausahaan;
di
c. penyusunan nonna, standar, prosedur, dan kriteria bidang pembinaan pelatihan
ketenagakerjaan dan ketransmigrasian meliputi standardisasi, kelembagaan, instruktur dan
tenaga pelatihan, pemagangan, produktivitas, dan kewirausahaan; .

d. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan pelatihan ketenagakerjaan


dan ketransmigrasian meliputi standardisasi, kelembagaan, instruktur dan tenaga pelatihan,
pemagangan, produktivitas, dan kewirausahaan; dan
e. pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas.

Pasal 375

Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja mempunyai tugas merumuskan serta
melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan penempatan tenaga kerja.

Pasal 376

Dalam melaksanakan tugas iebagaimana dimaksud dalam Pasal 375, Direktorat Jenderal
Pembinaan Penempatan Tenaga Kerj a menyelenggarakan fungsi :
a. perumusan kebijakan di bidang pembinaan penempatan tenaga kerja dalam negeri,
penempatan tenaga kerja luar negeri, pengembangan kesempatan kerja, dan pengendalian
penggunaan tenaga kerj a asing;
b. pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan penempatan tenaga kerja dalam negeri,
penempatan tenaga kerja luar negeri, pengembangan kesempatan kerja, dan pengendalian
penggunaan tenaga kerja asing;
c. penyusunan nonna, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pembinaan penempatan tenaga
kerja dalam negeri, penempatan tenaga kerja luar negeri, pengembangan kesempatan kerja,
dan pengendalian penggunaan tenaga kerja asing;
d. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan penempatan tenaga kerja
dalam negeri, penempatan tenaga kerja luar negeri, pengembangan kesempatan kerja, dan
pengendalian penggunaan tenaga kerja asing; dan
e. pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja.

wRATAvoLuME lgNoltors SEPTEMBER 2010 58


Pasal377

Direktorat Jenderal pembinaan Hubungan Indushial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja
mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang
pr*binuutr hubungan industrial dan jaminan sosial tenaga kerja.

Pasal 378

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Plasal 377' Direktorat Jenderal
pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja menyelenggarakan frrngsi:
u. p"*usan teU-i3atcan di bidang pembinaan hubungan industrial dan jaminan sosial tenaga
ilerja rneliputi persyaratan kerja, kelembagaan dan pemasyarakatan hubungan industrial,
perselisihan
pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja, serta pencegahan dan penyelesaian
hubungan industrial;
b. pelaksLaan kebijakan di bidang pembinaan hubungan industrial dan jaminan sosial tenaga
lerja meliputi plrsyaratan kerja, kelembagaan dan pemasyarakatan hubungan industrial,
pengupahan aan iaminan sosial tenaga kerja, serta pencegahan dan penyelesaian perselisihan
hubungan industrial;
c. penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang pembinaan lubungan industrial
ianlaminan sosial trnugu kerja meliputi persyaratan.kgrja, kelembagaan dan pemasyarakatan
pencegahan dan
hubungan industrial, pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja, serta
penyelesaian perselisihan hubungan industrial;
d. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan hubungan industrial dan
jamirran sosial teniga kerja meliputi persyaratan kerja, kelembagaan dan pemasyarakatan
iubungan industrial] pengupahan dan jaminan sosial tenaga kerja, serta pencegahan dan
penyelesaian perselisihan hubungan industrial; dan
e. prtuksanuan udrninirt uri Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan
Sosial Tenaga Kerja.

Pasal 379

Direktorat Jenderal Pembinaan pengawasan Ketenagakerjaan mempunyai tugas


merumuskan
serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang
pembinaan pengawasan
ketenagakerjaan.

Pasal 380

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 379, Direktorat Jenderal
pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan menyelenggarakan fungsi:
-kebijakan
u. pr*.usan di bilang-pembinaan pengawasan ketenagakerjaan meliputi norma
lerja dan jaminan sosial tenaga kerja, nonna keselamatan dan kesehatan kerja, nomra kerja
peiemprran dan anak, dan bina penegakan hukum;

59 wtRATAvot-uME t9 t{ollton 3 SEPTEMBER 2010


b. pelaksauaan kebijakan di bidang pembinaan pengawasan ketenagakerjaan meliputi norma
kerja dan jaminan sosial tenaga kerja, norma keselamatan dan kesehatan kerja, norma kerja
perempuan dan anak, dan bina penegakan hukum;
c. penyusunan norna, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pembinaan pengawasan
ketenagakerjaan meliputi norma kerja dan jaminan sosial tenaga kerja, norma keselamatan
dan kesehatan kerja, norma kerja perempuan dan anak, dan bina penegakan hukum;
d. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan pengawasan ketenagakerjaan
meliputi nonna kerja dan jaminan sosial tenaga kerja, nonna keselamatan dan kesehatan
kerja, nonna kerja perempuan dan anak, dan bina penegakan hukum; dan
p4ukrunu* administrasi Direktorat Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakedaan.

Pasal 381

Direktorat Jenderal Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi mempunyai tugas


merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan
pembangunan kawasan transmigrasi.

Pasal 382

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 381, Direktorat Jenderal
Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi menyelenggarakan fungsi :

a. perumusan kebijakan di bidang pembinaan pembangunan kawasan transmigrasi meliputi


prt.nrunu* teknis, penyediaan tanah transmigrasi, pembangunan permukiman dan
infrastruktur kawasan, penempatan, dan partisipasi masyarakat;
b. pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan pembangunan kawasan hansmigrasi meliputi
perencanaan teknis, penyediaan tanah transmigrasi, pembangunan permukiman dan
infrastruktur kawasan, penempatan, dan partisipasi masyarakat;
c. penyusunan norna, standar, prosedur dan kriteria di bidang pembinaan pembangunan
kawasan hansmigrasi meliputi perencanaan teknis, penyediaan tanah transmigrasi,
pembangunan permukiman dan infrastruktur kawasan, penempatan, dan partisipasi
masyarakat;
d. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan pembangunan_ kawasan
transmigrasi meliputi perencanaan teknis, penyediaan tanatr transmigrasi, pembangunan
permukiman dan infrastruktur kawasan, penempatan, dan partisipiisi masyarakat; dan
e. pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Pembinaan Pembangunan Kawasan
Transmigrasi.

Pasal 383

Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi


mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang
pembinaan pengembangan masyarakat dan kawasan transmi grasi.

WRATAVOLUME 19 NOMAR 3 SEPTEMBER 2O1O 60


Pasal 384

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 383, Direktorat Jenderal
pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi menyelenggarakan fungsi:
a. perumusan kebijakan di bidang pembinaan pengembangan masyarakat dan kawasan
iransmigrasi meliputi perencanaan teknis, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan
rnasyarakat, pengembangan usaha, pengembangan saf,ana dan prasarana kawasan, dan
penyerasian lingkungan ;
b. pelaksauaan kebijakan di bidang pembinaan pengembangan masyarakat dan kawasan
iransmigrasi meliputi perencanaan teknis, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan
masyarakat, pengembangan usaha, pengernbangan sarana dan prasarana kawasan, dan
penyerasi an lingkungan;
c. penyusunan norna, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pembinaan pengembangan
majyarakat dan kawasan transmigrasi meliputi perencanaan teknis, peningkatan kapasitas
,u*t., daya manusia dan masyarakat, pengembangan usaha" pengembangan sarana dan
prasarana kawasan, dan penyerasian lingkungan;
d. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pembinaan pengembangan masyarakat
dan kawasan transmigrasi meliputi perencanaan teknis, peningkatan kapasitas sumber daya
manusia dan masyarakat, pengembangan usaha, pengembangan sarana dan prasarana
kawasan, dan penyerasian lingkungan; dan
e. pelaksanaan adtninirtt"ti Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan
Kawasan Transmigrasi.

Pasal 385

Inspektorat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan pengawasan intern di lingkungan


Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Pasal 386

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 385, Inspektorat Jenderal
menyelenggarakan fungsi :

a. i*yup* p.*tnu* kebijakan pengawasan intern di lingkungin Kementerian Tenaga Kerja


dan Transmigrasi;
b. pelaksanaan pengawasan intern di lingkungan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
ierhadap tini4a Oan keuangan melalui audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan
pengawasan lainnya;
c. pelrtsatraan pengawasan untuk tujuan tertentu atas penugasan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi;
d. prnyorui* laporan hasil pengawasan di lingkungan Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi; dan
e. pelaksanaan administrasi Inspeltorat Jenderal.

61 w,nATAvuurlr-tguamoRt sEFIEtrBER2lll
Pasal 387

Badan Penelitian, Pengembangan, dan Informasi mempunyai tugas melaksanakan penelitian,


pengembangan, dan informasi di bidang tenaga kerja dan fransmigrasi.

Pasal 388

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 387, Badan Penelitian,
Pengembangan, dan Informasi menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan kebijakan teknis, rencana dan program penelitian dan pengembangan,
pengelolaan data dan informasi, serta pengembangan sistem informasi dan sumberdaya
informatika di bidang tenaga kerja dan transmigrasi;
b. pelaksanaan penelitian dan pengembangan, pengelolaan data dan informasi, serta
pengembangan sistem informasi dan sumberdaya informatika di bidang tenaga kerja dan
transmigrasi;
c. pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan penelitian dan pengembangan, pengelolaan
data dan informasi, serta pengembangan sistem informasi dan sumberdaya informatika di
bidang tenaga kerja dan transmigrasi; dan
d. pelaksanaan administrasi Badan Penelitian, Perigembangan, dan Informasi.

Pasal 389

(l) Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Manusia mempunyai tugas memberikan
telaahan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengenai masalah ekonomi dan
sumber daya manusia.
(2) Staf Ahli Bidang Kependudukan dan Otonomi Daerah mempunyai tugas memberikan
telaahan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengenai masalatr kependudukan
dan otonomi daerah.
(3) Staf Ahli Bidang Pengembangan Wilayah mempunyai tugas memberikan telaahan kepada
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengenai masalah pengembangan wilayah.
(4) Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga mempunyai tugas memberikan telaahan
kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengenai masalah hubungan antar
lembaga.
(5) Staf Ahli Bidang Hubungan Intemasional mempunyai tugas memberikan telaahan kepada
Menteri TenagaKerja dan Transmigrasi mengenai masalah hubungan internasional.

BAB ry
KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 704

Pembagian tugas antara Menteri dan Wakil Menteri diatur lebih lanjut oleh masing-masing
Menteri yang bersangkutan.

wRATAvoLUuElg NottoR SSEFTF;ilBER 20lo 62


Pasal 705

Sekretaris Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus menjadi Sekretaris


Utama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Pasal 706

Perubahan kedudukan, tugas, dan fungsi Kementerian Negara serta susunan organisasi, tugas,
dan fungsi eselon I Kementerian Negara ditetapkan dengan Peraturan Presiden setelah diusulkan
oleh Menteri yang membidangi urusan pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi
kepada Presiden berdasarkan usul dari masing-masing Menteri Koordinator/lVlenteriAvlenteri
Negara yang bersangkut'an.

Pasal707

Rincian tugas, fungsi, susunan organisasi, dan tata kerja pada masing-masing Kementerian
Negara ditetapkan oleh Menteri Koordinator/Identerifl\denteri Negara yang bersangkutan setelah
mendapat persetujuan tertulis dari Menteri yang membidangi urusan pendayagunaan aparatur
negara dan reformasi birokrasi.

BAB V
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 708

Peraturan Menteri yang merupakan pelaksanaan dari Peraturan Presiden Nomor l0Tahun 2005
I
tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon Kementerian Negara Republik Indonesia
sebagaimana telah beberapa kali diubah teraktrir dengan Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun
2008 yang tidak bertentangan dengan Peraturan Presiden ini dinyatakan tetap berlaku sepanjang
tidak bertentangan dan/atau belum diubah atau diganti dengan peraturan yang baru berdasarkan
Peraturan Presiden ini.

BAB VI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 709

Dengan berlakunya Peraturan Presiden ini, maka Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005
I
tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon Kementerian Negara Republik Indonesia
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun
2008, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

63 WnAT vot;unEtgtoltontsgpTEttnElzlto
Pasal 710

Peraturarr Presiden ini mulai berlalar pada tanggal ditetapkan.

Jakarta I
Ditetapkan di
pada tanggal 14 April 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESI.A,

ttd.

DR. H. SUSILO BAMBA}.IG YT.JDHOYONO

6{
wn r vilure$Noltrnlsentuseant
w MENTERI
TENAGA KERJA DAN TRANSMICRASI
REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERIA DA}I TRANSMIGRASI


REPUBLIK INDONESIA
.
NOMOR PER.OSA{ENA/IV2O1O \
TENTANG
ALAT PELINDUNG DIRI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAIIA ESA

MENTERI TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 3, Pasal 4 ayat (l), Pasal 9,
Pasal 12, Pasal 13, dan Pasal 14 Undang-Undang Nomor I Tatrun 1970
tentang Keselamatan Kerja perlu diatur mengenai alat pelindung diri;

b. batrwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a


perlu diatur dengan Peraturan Menteri;

Mengingat : l. Undang'Undang Nomor 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya


Undang-Undang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948 Nomor 23 Dart
Republik Indonesia Untuk Seluruh Indonesia (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun I95 I Nomor 4);

2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1969 tentang Persetujuan Konve,nsi


Organisasi Perburuhan Intemasional Nomor 120 Mengenai Hygierre
Dalam Perniagaan Dan Kantor-Kantor (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1969 Nomor 14, Tarnbahad I€mbaran Negara Republik
2889);
Indonesia Nomor :

3. Undang-Undang Nomor I Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tatrun 1970 Nomor 1,
Tarnbahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2918);

4. Undang-Undang Nomor 13 Tatrun 2003 tentang Ketenagakerjaan


(Lembaran Negara Repirblik Indonesia Tahun 2003 Ndmor 39,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor a279);

05 l*grATuvoLuuE$NonwrsEpfEfiaElaoto
5. Peraturan Presiden Nomor 21 Tatrun 2010 tentang Pengawasan
Ketenagakerjaan;

6. Keputusan Presiden Republik IndonesiaNomor 84/P Tahun 2009;

MEMUTUSI(AN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI TENAGA KERIA DA}I TRA}TSMIGRASI


TENTAI{G ALAT PELINDUNG DIRI.

Pasal I

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

1. Alat Pelindung Diri selanjutnya disingkat APD adalatr suatu alat yang mempunyai
kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh
tubuh dari potensi bahaya di tempat kerja.

2. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam
bentuk lain.

3. Pengusatra adalah:

a. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan
milik sendiri;

b. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri
menj alankan perusahaan bukan miliknya;

c. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia rnewakili
perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b yang berkedudukan di luar
wilayah lndonesia.

4. Pengurus adalah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung sesuatu tempat kerja
atau bagiannya yang berdiri sendiri.

5. Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuk4 bergerak atau t€tap, di
mana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluad suafu
usaha dan di mana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya, termasuk semua ruangan,
lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian atau berhubungan dengan
tempat kerja.

6. Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan yang selanjutnya disebut Pengawas Ketenagakerjaan


adalah Pegawai Negeri Sipil yang diangkat dan ditugaskan dalam Jabdtan Fungsional
Pengawas Ketenagakerjaan sesuai dengan ketenfuan peraturan perundang-undangan.

66
UNR,ATAVoI,UUE 19 NO'TOR f,SEPTETTBER 2O1O
7. Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang ditunjuk oleh Menteri.

Pasal 2

(l) Pengusaha wajib menyediakan APD bagi pekerja/bunrh di tempat kerja.

(2) APD sebagaimana dimaksud pada ayat(l) hanrs sesuai dengan Standar Nasiorial Indonesia
(SND atau standar yang berlaku

(3) APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberikan oleh pengusaha secara cuma-
cuma.

Pasal 3

(1) APD sebagaimana dimaksud dalam Pasal2 meliputi:


a. pelindung kepala;
b. pelindung mata dan muka;
c. pelindung telinga;
d. p elindung pemapasan beserta perlengkapamya;
e. pelindung tangan; dan/atau
f, pelindung kaki.
(2) Selain APD sebagaimana dimaksud padaayat (1), termasuk APD:
a. pakaian pelindung;
b. alat pelindung jatuh perorangan; dan/atau
c. pelampung.

(3) Jenis dan fungsi APD sebagaimana dimaksud pada ayat (l) dan ayat (2\ tercantum dalam
Lampiran Peraturan Menteri ini.

Pasal 4

(1) APD wajib digunakan di tempat kerja di mana:


a. dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat perkakas, peralatan atau
instalasi yang berbahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan, kebakaran atau
peledakan;
b. dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut atau disimpan bahan
atau barang yang dapat meledak, mudatr terbakar, korosif, beracun, menimbulkan
infeksi, bersuhu tinggi atau bersuhu rendah;
c. dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau pembongkaran
rumah, gedung atau bangunan lainnya termasuk bangunan perairan, saluran atau
terowongan di bawah tanah dan sebagainya atau di mana dilakukan pekerjaan persiapan;

67 wtRATAvoLUuE ts Noilon s sEpfEttBER mil


d. dilakgkan usatra pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengerjaan hutarU pengolahan
kayu atau hasil hutan lainnya, petemakan, perikanan dan lapangan kesehatan;
e. diiatcukan usaha pertambangan dan pengolahan bafu-batuan, gs, minyak, panas bumi,
atau mineral lainnya, baik di permukaan, di dalam bumi maupun di dasar perairan;
f. dilakukan pengangkutan barang, binatang atau manusia, baik di darpfarU melalui
terowongan, di permukaan air, dalam air maupun di udara;
g. dikerjakan bongkar muat barang muatan di kapal, perahu, dermagan dok, stasiun, bandar
udara dan gudang;
h. dilakukan penyelaman, pengarnbilan benda dan pekerjaan lain di dalann air;
i. dilakukan peterjaan pada kitinggian di atas permukaan tanah atau perairan;
j. -pekerjaandi bawah
dilakukan pekerjaan tekanan udara atau suhu yang tinggi atau rendah;
i..dilakukan yang mengandung batraya tertimbun tanah, kejatuhan, terkena
pelantingan benda, terj atuh atau terperosok, hanyut atau terpelanting;
-Citut
l. ot *
pekerjaan dalam ruang terbatas tangki, sumur atau lubang;
m. terdapat uiao *tnyebar suhu, kelembaban, debu, kotoran, api, asap, gas, hembusan
angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara atau getaran;
n. dilikutan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbatr;
o. dilakgkan p.**..i*, penyiaran atau penerimaan telekomunikasi radio, radar, televisi,
atau telePon;
p. dilakukan pendidikan, pembinaan, percobaan, penyelidikan atau riset yang
menggunakan alat teknis;
q. Oitailnttan, dirubah, dikumpulkan, disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan listrik,
g&s, minyak atau air; dan
r. disetenggarakan rekreasi yang memakai peralatan, instalasi listrik atau mekanik.

(2) pegawai pengawas Ketenagakerjaan atau Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat
(1).
mJwajibkan p*ggunu* APD di tempat kerja selain sebagaimana dimaksud pada ayat

Pasal 5

rambu-rambu
Pengusaha atau Pengurus wajib mengumumkan secara tertulis dan memasang
mengenai kewajiban penggunaan APD di tempat kerja'

Pasal 6

(1) Pekerja/buruh dan orang lain yang memasukj re.TPd kerja wajib memakai atau
menggunakan APD ,rruuidtngan potensi bahaya dan risiko'

(2) pekerja/buruh berhak menyatakan keberatan untuk melakukan pekerjaan apabila APD yang
disediakan tidak memenuhi ketentuan dan persyaratan'

68
wtRATAVilUnE tg l,otlon 3 SEPTEI'EER m0
Pasal T

(1) Pengusaha atau Pengurus wajib melaksanakanrnarrajemen APD di'ternpat:kerja.

(2) Manajemen APD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:


a. identifikasi kebutuhan dan syarat APD;
b. pemilihan APD yang sesuai dengan jenis bahaya dan kebutuhanlkenyamanan
pekerja/buruh;
c. pelatihan;
d. penggunaan, perawatan, dan penyimpanan;
e. penatalaksanaan pembuangan atau pemusnatran;
f. pembinaan;
g. inspeksi; dan
h. evaluasi dan pelaporan.

Pasal 8

(1) APD yang rusak, retak atau tidak dapat berfungsi dengan baik harus dibuang dan/atau
dimusnahkan.

(2) APD yang habis masa pakainyalkadaluarsa serta mengandung bahan berbahaya, harus
dimusnahkan sesuai dengan peraturan perundangan-undangan.

(3) Pemusnahan APD yang mengandung bahan berbahaya harus dilengkapi dengan berita aoara
pemusnahan

Pasal 9

Pengusaha atau pengurus yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal2,
Pasal 4, dan Pasal 5 dapat dikenakan sanksi sesuai Undang-Undang Nomor I Tahun 1970.

Pasal 10

Pengawasan terhadap ditaatinya Peraturan Menteri ini dilakukan oleh Pengawas


Ketenagakerjaan.

69 w,pu'TAvuwEtctlwoas IEPTEInBER2III
Pasal 11

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.


Agar setiap orang mengetahuinya, Peraturan Menteri ini diundangkan dengan penempatan dalam
Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 6 Juli 2010

MENTERI
TENAGA KERIA DA}I TRA}.ISMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

DRS. H. A. MUHAMIN ISKANDAR, M.Si.


Diundangkan di Jakarta
pada tanggal6 Juli 2010

MENTERI
HUKUM DA}.I HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

PATRI.ALIS AKBAR,SH.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2OIO NOMOR

l0
wuArAvuuuEtcrutw'swti;iilenzoto
PERATURAN MENTERI DAN TRANSMIGRASI
'Iffiru*A
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR PER.O8A4ENA/IY2O I O
TENTANG
ALAT PELINDLING DIRI

FUNGSI DAN JENIS ALAT PELINDUNG DIRI

1. Alat pelindung kepala


1.1 Fungsi
Alat pelindung kepala adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi kepala
dari benturan, terantuk, kejatuhan atau terpukul benda tajam atau benda keras yang
melayang atau meluncur di udara, terpapar oleh radiasi panas, api, percikan bahan-bahan
kimia, jasad renik (mikro organisme) dan suhu yang ekshim.

1.2 Jenis
Jenis alat pelindung kepala terdiri dari helm pengaman (safety helmet),topi atau tudung
kepala, penutup atau pengaman rambut, dan lainJain.

2. Alat pelindung mata dan muka


2.1 Fungsi
Alat pelindung mata dan muka adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi
mata dan muka dari paparan bahan kimia berbahaya, paparan partikel-partikel yang
melayang di udara dan di badan air, percikan benda-benda kecil, panas, atau uap pffis,
radiasi gelombang elektromagnetik yang mengion maupun yang tidak mengion,
pancaran cahaya, benturan atau pukulan benda keras atau benda tajam.

2.2 Jenis
Jenis alat pelindung mata dan muka terdiri dari kacamata pengam an (spectacles),
goggles, tameng muka (face shield), masker selam, tameng muka dan kacamata
peng,rman dalam kesatuan (fullfuce masker).

3. Alat pelindung telinga


3.1 Fungsi
Alat pelindung telinga adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi alat
pendengaran terhadap kebisingan atau tekanan.

3.2 Jenis
Jenis alat pelindung telinga terdiri dari sumbat telinga (ear plug) dan penutup telinga
(ear muffl.

4. Alat pelindung pernapasan beserta perlengkapannya


4.1 Fungsi

71 wRATAvoLUMEtg NoMoR s uEITEMBER 2Mo


Alat pelindung pemapasan beserta perlengkapannya adalah alat pelindung yang
berfungsi untuk melindungi organ pernapasan dengan cara menyalurkan udara bersih
dan sehat dan/atau menyaring cemaran bahan kimia, mikro-organisme, partikel yang
berupa debu, kabut (aerosol), uap, asap, gas/ fume, dan sebagainya.

4.2 Jenis
Jenis alat pelindung pernapasan dan perlengkapannya terdiri dari masker, respirator,
katrit, kanister, Re-breather, Airline respirator, Continues Air Supply Machine=Air
Hose Mask Respirator, tangki selam dan regulator (Self-Contained Underwater
Breathing Apparatus /SCUBA), Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA), dan
emergency breathing app aratus.

5. Alat pelindung tangan


5.1 Fungsi
Pelindung tangan (sarung tangan) adalah alat pelindung yang berfungsi untuk
melindungi tangan dan jari-jari tangan dari pajanan api, suhu panas, suhu dingin, radiasi
elektromagnetik, radiasi mengion, arus listrik, bahan kimia, benturan, pukulan dan
tergores, terinfeksi zatpatogen (virus, bakteri) dan jasad renik.

5.2 Jenis
Jenis pelindung tangan terdiri dari sarung tangan yang terbuat dari logam, kulit, kain
kanvas, kain atau kain berpelapis, karet, dan sarung tangan yang tahan bahan kimia.

6. Alat pelindung kaki


6.1 Fungsi
Alat pelindung kaki berfungsi untuk melindungi kaki dari tertimpa atau berbenturan
dengan benda-benda berat, tertusuk benda tajam, terkena cairan panas atau dingin, uap
panas, terpajan suhu yang ekstrim, terkena bahan kimia berbatraya dan jasad renik,
tergelincir.

6.2 Jenis
Jenis Pelindung kaki berupa sepatu keselamatan pada pekerjaan peleburan, pengecoran
logam, industri, kontruksi bangunan, pekerjaan yang berpotensi bahaya peledakan,
bahaya listrik, tempat kerja yang basah atau licin, bahan kimia dan jasad renik, dan/atau
bahaya binatang dan lain-lain.

7. Pakaian pelindung
7.1 Fungsi
Pakaian pelindung berfungsi untuk melindungi badan sebagian atau seluruh bagian
badan dari bahaya temperatur panas atau dingin yang ekstrim, pajanan api dan benda-
benda panas, percikan bahan-bahan kimia, cairan dan logam panas, uap panas, benturan
(impact) dengan mesin, peralatan dan bahan, tergores, radiasi, binatang, mikro-
organisme patogen dari manusia, binatang, tumbuhan dan lingkungan seperti virus,
bakteri dan jamur.

IMRATAVOLU'TE 19 NOMOR gSEPTETTBER NIO 72


7.2 Jenis
Jenis pakaian pelindung terdiri dari rompi (Vests), celemek (Apron/Coveralls), Jacket,
dan pakaian pelindung yang menutupi sebagian atau seluruh bagian badan.

8. Alat pelindung jatuh Perorangan


8.1. Fungsi
AlaI petndung jatuh perorangan berfungsi membatasi gerak pekgrja agar tidak masuk
ke ternpat y*g *r*punyai potensi jatuh atau menjaga pekerja berada pada posisi
kerja yang diingiok* aAa* keadaan miring maupun tergantung dan menahan serta
membatasi pekerja jatuh sehingga tidak membentur lantai dasar.

8.2 Jenis
Jenis alat pelindung jatuh perorangan terdiri dari sabuk pengilman tubuh (harness),
karabiner, tali konekii (tanyardl, tali pengamm (safety rope), alat penjepit tali (rope
clamp), alat penurun (decender), alat penahan jatuh bergerck (mobile fall arrester), dan
lain-lain.

9. Pelampung
9.1. Fungsi
peliapung berfungsi melindungi pengguna yang bekerja di atas air atau dipermukaan
air agar teihindar Ori Uutr"y. tinggelam dan atau mengatur kgterapungan (buoyanqt)
pengguna agar dapatberada pada posisi tenggelam (negative buoyant) atau melayang
(neutral buoyant) di dalam air.

9.2. Jenis
Jenis pelampung terdiri dari jaket keselamatan (life iacket), rompi keselarnatan
( life
vesf), iompi pengatur keterapung an (Bouyancy Control Device).

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 6 Juli 2010

MENTERI
TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

DRS. H. A. MIJHAMIN ISKANDAR, M.Si.

73 WRAIAVOLU'TE 19 NWQR 3 SEPTEMBER 2O1O


MENTERI
TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA

PERATURA}I MENTERI TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI


REPUBLIK INDONESIA
NOMOR PER.O9A{ENA/IV2O 1 O
TENTANG
OPERATOR DAN PETUGAS PESAWAT A}IGKAT DAN ANGKUT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa dengan berkembangnya penggunaan jenis dan kapasitas pesawat angftat
dan angkut maka perlu menyempurnakan Peraturan Menteri Tenaga Kerja
Nomor PER.0IA{EN/1989 tentang Kwalifikasi dan Syarat-Syarat Operator
Keran Angkat dengan Peraturan Menteri;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor I Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja


(Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor l, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 2918);

2. Undang-U4dang Nomor 13 Tatrun 2003 tentang Ketenagakeuaatl


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 13, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor a279);

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tarnbahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor aa3T;

Nomor 38 Tahun 2007 tentang


4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah, Pemerintah Daerah
Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/I(ota;

5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2l Tahun 2010 tentang


Pengawasan Ketenagakerj aan;

6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009;

7. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor


PER.05A{EN/1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut;

MRATAV0i'.UNE'E ilOI'OR 3 SEPTETTBER 2AO


Menetapkan : PERATURAN MENTERI TENAGA KEzuA DAN TRAIISMIGRASI
TENTANG OPERATOR DAN PETUGAS PESAWAT ANGKAT DAN
ANGKUT.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksudkan dengan:


1. Operator adalah tenaga kerja yang mempunyai kemampuan dan memiliki keterampilan
khusus dalam pengoperasian pesawat angkat dan angkut.

2. Petugas adalatr tenaga kerja yang mempunyai kemampuan dan memiliki keterampilan
khusus di bidang pesawat angkat dan angkut yang terdiri dari juru ikat(igger) dan teknisi.

3. Juru ikat (riSye| adalah tenaga kerja yang mempunyai kemampuan dan memiliki
keterampilan khusus dalarn melakukan pengikatan barang serta membantu kelancaran
pengoperasian peralatan angkat.

4. Teknisi adalah petugas pelaksana pemasangan, pemeliharaan, perbaikan dan/atau


pemeriksaan peralatanlkomponen p esawat angkat dan angkut.

5. Pesawat angkat dan angkut adalah suatu pesawat atau alat yang digunakan untuk
memindahkan, mengangkat muatan baik bahan atau orang secara vertikal dan/atau
horizontal dalam jarak yang ditentukan.

6. Peralatan angkat adalah alat yang dikonstruksi atau dibuat khusus untuk mengangkat naik
dan menurunkan muatan.

7. Pita transport adalah suatu pesawat atau alat yang digunakan untuk memindahkan muatan
secara terus menerus (continue) denganmenggunakan bantuan pita.

8. Pesawat angkutan di atas landasan dan di atas permukaan adalatr suatu pesawat atau alat
yang digunakan untuk memindahkan muatan atau orang dengan menggunakan kemudi baik
di dalam atau di luar pesawat dan bergerak di atas landasan maupun permukaan.

9. Alat angkutan jalan rel adalah suatu alat angkutan yang bergerak di atas jalan rel.

10. Lisensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disingkat Lisensi K3 adalah
kartu tanda kewenangan seorang operator untuk mengopeftNikan pesawat angkat dan angkut
sesuai dengan jenis dan kualifikasinya atau petugas untuk penanganan pesawat angkat dan
angkut.

75 wrRAtAvoLUuE tgNoMoR s uEPTE TBER 2o1o


ll. Buku keqa (tog book) adalatr buku kerja yurg diberikan kepada seorang operator'untuk
mencatat kegtatan selama mengoperasikan pesawat angkat dan angkut sesuar dengnn jenis
dan kualifikasinya atau petugas untuk mencatat penanganan pesawat angkat dul rngfut.

t2. pengurus adalah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung sesuatu tempat kerja
atau bagiannya yang berdiri sendiri.

13. Pengusaha adalah:

a. orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang menjali*tt suatu perusatraan
milik sendiri;

b. orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang s€cara berdiri sendiri
menjalankan perusahaan bukan miliknya; dan

c. orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang berada di Indoncia mcwakili
prruJaSaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b yang bertedudukan di luar
wilayatr Indonesia.

14.
pegawai pengawas ketenagakerjaan yang selanjutnya disebut Pengawas K€t€nlgakedaat
aaatatr pigu*ui negeri sipil yang diangkat dan ditugaskan dalam jabatan fungnional
pengawas ketenagakerjaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang"undangan.

15. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang mernbidangi pembinaan pengawiasan
ketenagakerjaan.

Pasal2

peraturan Menteri ini mengatur kualifikasi, syarat-syarat, wewenang, kwqiiban operator dan
petugas pesawat angkat dan angkut

Pasal 3

pengusaha atau pengurus dilarang mempekerjakan operator dan/atau petugas pesawat angfat dan
angkut yang tidak memitiki Lisensi K3 dan buku kerja.

Pasal 4

Jumlah operator pesawat angkat dan angkut yang dipekerjakan oleh pengusatra st0u p€ngrys
harus memenuhi kualifikasi dan jumlatr sesuai dengan jenis dan kapasitas pesawat angkat dan
angkut sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.

76
IMRATA VOUre N NffiF'SEFTHIffR NI O
ru,q.rmrKA' oi*Jlo*r- s yARAr
OPERATOR DAN PETUGAS PESAWAT AhIGKAT DAN ANGKIJT

Bagian Kesatu
Operator Pesawat Angkat dan Angkut

Pasal 5

(l) Pesawat angkat dan angkut harus dioperasikan oleh operator pesawat angkat dan angkut
yang mempunyai Lisensi K3 dan buku kerja sesuai jenis dan kualifikasinya.

(2) Operator pesawat angkat dan angkut sebagaimana dimaksud pada ayat (l) meliputi operator
peralatan angkat, pita transport, pesawat angkutan di atas landasan dan di atas permukaan,
dan alat angkutan jalan rel.

Paragraf Kesatu
Operator Peralatan Angkat

Pasal 6

(1) Operator peralatan angkat meliputi operator dongkrak mekanik (lier), takal, alat angkat
listrik/lift baranglpassenger hoist, pesawat hidrolik, pesawat pneumatik, gondola, keran
mobil, keran kelabang, keran pedestal, keran menara, keran gantU, keran overhead, keran
portal, keran magnet, keran lokomotif, keran dinding, keran sumbu putar, dan mesin
pancang.

(2) Operator peralatan angkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diklasifikasikan sebagai.
berikut:
a. operatorkelas I;
b. operator kelas II; dan
c. operator kelas III.
(3) Pengklasifikasian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku bagr operator
gondola, dongkrak mekanik (lier), takal, dan mesin pancang.

Pasal 7

(l) Operator peralatan angkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a hanrs
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. sekurang-kurangnya berpendidikan SlTA/sederaj at;
b. berpengalaman sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun membantu pelayanan di bidangnya;
c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;
d. umur sekurang-kurangnya 23 tahun; dan
e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja

77 uIRATAIILU,E Ig Nonrr. 3 uEPIETTBER zuo


(2) Operator peralatan angkat sebagaimana dirnaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf b harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. sekurang-kurangnya berpendidikan SlTA/sederajat;
b. berpengalaman sekurang-kurangrya 3 (tiga) tahun membantu pelayanan di bidangnya;
c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;
d. umur sekurang-kurangnya 21 tahun; dan
e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

(3) Operator peralatan angkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf c harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. sekurang-kurangnya berpendidikan SlTP/sederaj at;
b. berpengalaman sekurang-kuranglya 1 (satu) tahun membantu pelayanan di bidangnya;
c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;
d. umur sekurang-kurangnya 19 tahun; dan
e. memiliki Lisensi K3 dan buku keda'

(4) Operator gondola, dongkrak mekanik (lier), takal, dan mesin pancang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal6 ayat (3) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. sekurang-kurangnya berpendidikan SlTP/sederaj at;
b. berpengalaman sekurang-kurangnya I (satu) tahun membantu pelayanan di bidangnya;
c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;
d. umur sekurang-kurangnya 19 tahun; dan
e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

Pasal 8

Operator peralatan angkat kelas III dapat ditingkatkan menjadi operator peralatan angkat kelas II
dan operator peralatan angkat kelas II dapat ditingkatkan menjadi operator peralatan angkat kelas
I dengan persyaratan sebagai b€rikut:
a. berpengalaman sebagai operator sesuai dengan kelasnya sekurang-kurangryaz (dua) tahun
terus menerus; dan
b. lulus uji operator peralatan angkat sesuai dengan kualifikasinya.

Paragraf Kedua
Operator Pita TransPort

Pasal 9

Operator pita transport meliputi operator eskalator, ban berjalan, dan rantai berjalan.

Pasal l0

Operator pita transport sebagaimana dimaksud dalam Pasal t harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:

wrRATAvcl.luE rs NoMoR 3 *PTEMBER mto 78


a. sekurang-kurangnya berpendidikan SlTP/sederajat;
b. berpengalaman sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun membantu pelayman di bidangnya;
c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;
d. umur sekurang-kurangnya 20 tatrun; dan
e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja

Paragraf ketiga
Operator Pesawat Angkutan di atas Landasan dan di atas Permukaan

Pasal l l
Operator pesawat angkutan di atas landasan dan di atas permukaan meliputi antara lain operator:
dump truk, truk dereWtrailer, alat angkutan bahan berbatraya, traktor, kereta gantung, shovel,
excavator/back hoe, compactor, mesin giling, bulldozer, loader, tanden roller, tire roller,
grader, vibrator, side boom; forklift dan/atau lift truk.

Pasal 12

Operator forklift dan/atau lift truk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 diklasifikasikan
sebagai berikut:
a. operatorkelas I; dan
b. operator kelas II.

Pasal 13

Operator pesawat angkutan di atas landasan dan di atas permukaan sebagaimana di maksud
dalam Pasal t I kecuali operator forklift dan/atau lift truk harus memenuhi persyaratarr sebagai
berikut:
a. sekurang-kurangnya berpendidikan SlTP/sederajat;
b. berpengalaman sekurang-kurangnya I (satu) tatrun membantu pelayanan di bidangnya;
c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;
d. umur rrt**g-lur;gnya lgtatun; dan
e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.
Pasal 14

(l) Operator forklift dan/atau lift truk kelas I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf a
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. sekurang-kurangnya berpendidikan SlTA/sederajat;
b. berpengalaman sekurang-kuranglya 3 (tiga) tatrun membantu pelayanan di bidangnya;
c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;
d. umur sekurang-kurangnya?l tahun; dan
e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja

79 rnuAfAvilutft, tg Nwrtr, g sEptEllBER mto


(2) Operator forklift dan/atau lift huk kelas II sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf b
hanrs memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. sekurang-kurangnya berpendidikan SlTP/sederajat;
b. berpengalaman sekurang-kurangnya I (satu) tatrun membantu pelayanan di bidangnya;
g. berbadan sehat menurut keterangan dokter;
d. umur sekurang-kurangnya 19 tahun; dan
e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

Pasal 15

Operator forklift dan/atau lift tn* kelas II dapat ditingkatkan menjadi operator forklift dan/atau
lift truk kelas I dengan persyaratan sebagai berikut:
a. berpengalaman sebagai operator sesuai dengan kelasnya sekurang-kurangrya 2 (dua) tahun
terus menerus; dan
b. lulus uji opgrator forklift dan/atau lift truk sesuai dengan kualifikasinya.

Paragraf Keempat
Operator Alat Angkutan Jalan Rel

Pasal 16

Operator alat angkutan jalan rel meliputi operator lokomotif dan Iori.

Pasal 17

Operator alat angkutan jalan rel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 hanrs memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
a. sekurang-kurangnya berpendidikan SlTA/sederaj at;
b. berpengalaman sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun di bidangnya;
c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;
d. umur sekurang-kurangnya 19 tatrun; dan
e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja:

Bagian Kedua
Petugas Pesawat Angkat dan fuigkut

Pasal 18

(l) Pengoperasian pesawat angkat dan angkut dapat dibantu olch petugas pesawat angkat dan
angkut yang mempunyai Lisensi K3 dan buku kerja sesuai jenis dan kualifikasinya.

WIRATAVcr;U'IE'rI{OT'OR 3SEPIETIEER MO 80
(2) Petugas pesawat angkat dan angkut sebagaimana dimaksud pada byat (1) meliputi juru ikat
(rigger) dan teknisi.

Paragraf Kesatu
Juru Ikat (riqger)

Pasal 19

Juru ikat (rigger) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
a. sekurang-kurangnya berpendidikan SlTP/sederajat;
b. berpengalaman sekurang-kurangnya I (satu) tatrun di bidangnya;
c. berbadan sehat menurut keterangan dokter;
d. umur sekurang-kurangnya 19 tahury dan
e. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

Paragraf Kedua
Teknisi

Pasal 20

Teknisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
a. sekurang-kurangnya berpendidikan SlTA/sederajat dan/atau berpengalaman di bidangnya
sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun;
b. berbadan sehat menurut keterangan dokter;
c. umur sekurang-kuran gnya?.l tatrun; dan
d. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

BAB III
TATA CARA MEMPEROLEH LISENSI K3 DAN BUKU KERIA

Pasal2l

Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk menerbitkan Lisensi K3 dan buku kerja operator
atau petugas pesawat angkat dan angkut.

Pasal22

(1) Untuk memperoleh Lisensi K3 dan buku kerja operator atau petugas pesawat angkat dan
angkut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, pengusaha atau pengurus mengajukan
permohonan tertulis kepada Direktur Jenderal dengan melampirkan:

8{ MR fAvoLUuE$Nottrr,lsEpTETBERNlo
a. copy ijazahterakhir;
b. surat keterangan berpengalaman kerja membantu operator atau petugas pesawat angkat
dan angkut sesuai bidangnya yang diterbitkan oleh perusatraan;
c. surat keterangan berbadan sehat dari dokter;
d. copy kartu tanda Penduduk;
e. copy sertifikat kompetensi sesuai dengan jenis dan kualifikasinya; dan
f. pas photo berwama 2x3 (3lembar) dan 4 x6 (Zlembar).
(2) permohonan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (l) dilakukan pemeriksaan dokumen
oleh Tim.

(3) Berdasarkan hasil pemeriksaan Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Direktur Jenderal
menerbitkan Lisensi K3 dan buku kerja.

Pasal 23

(1) Lisensi K3 dan buku kerja berlaku untuk jangka waktu 5 (lima tatrun), dan dapat
diperpanjang untuk jangka waktu yang sama'

(2) permohonan perpanjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Direktur
Jenderal dengan melamPirkan :
a. lisensi K3 lama Yang asli;
b. buku kerja asli yang telah diperiksa oleh atasannya;
c. surat keterangan berbadan sehat dari dokter;
d. copy kartu tanda Penduduk;
.. ropy sertifikat kompetensi sesuai dengan jenis darr kualifikasinya; dan
f. pas photo berwarna 2 x 3 (3 lembar) dan 4 x 6 (2lembar)'

Pasal24

Dalam hal sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pafial22 ayat (1) huruf e dan
pasal 23 ayat (2) huruf e belum dapat dilaksanakan maka dapat menggunakan sertifikat
pembinaan K3 yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal'

Pasal 25

Buku kerja operator atau petugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal2l harus diperiksa setiap 3
bulan oleh atasannya.

MRATAvotuue $ uiruon s uEITEMBER 2010 82


Pasal26

Lisensi K3 dan buku kerja hanya berlaku selama operator atau petugas pesawat angkat dan
angkut yang bersangkutan bekerja di perusahaan yang mengajukan permohonan.

Pasal2T

Lisensi K3 dan buku kerja dapat dicabut apabila operator atau petugas pesawat angkat dan
angkut yang bersangkutan terbukti:
a. melakukan tugasnya tidak sesuai dengan jenis dan kualifikasi pesawat angkat dan angkut;
b. melakukan kesalahan, atau kelalaian, atau .kecerobohan sehingga menimbulkan keadaan
berbahaya atau kecelakaan kerja; dan
c. tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 sesuai bidangnya.

BAB IV
KEWENANGAN OPERATOR DAN PETUGAS

Pasal 28

(1) Operator peralatan angkat Kelas I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a
berwenang:
a. mengoperasikan peralatan angkat sesuai dengan jenisnya dengan kapasitas lebih dari 100
ton atau tinggi menara lebih dari 60 meter; dan
b. mengawasi dan membimbing kegiatan operator Kelas II dan/atau operator Kelas III,
apabila perlu didampingi oleh operator Kelas II danlatau Kelas IIL

(2) Operator peralatan angkat Kelas II sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf b
berwenang:
a. mengoperasikan peralatan angkat'sesuai dengan jenisnya dengan kapasitas Iebih dari 25
ton sampai kurang dari 100 ton atau tinggi menara lebih dari 40 meter sampai dengan 60
meter; dan
b. mengawasi dan membimbing kegiatan operator Kelas III, apabila perlu didampingi oleh
operator Kelas I1l.

(3) Operator peralatan angkat Kelas III sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf c
berwenang mengoperasikan peralatan angkat sesuai jenisnya dengan kapasitas kurang dari
25 ton atau tinggi menara sampai dengan 40 meter.

(4) Operator peralatan angkat jenis gondola, dongkrak mekanil Qier),takal, dan mesin pancang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) berwenang mengoperasikan gondole,
dongkrak mekanik (lier), takal, dan mesin pancang.

83 MRArAuILUME ls NoMoR 3 sEprE IBER z01o


Pasal 29

Operator pita transport sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 berwenang mengoperasikan


eskalator, ban berjalan, dan rantai berjalan

Pasal 30

(l) Operator pesawat angkutan di atas landasan dan di atas permukaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 1lberwenang mengoperasikan antara lain operator: dump tuk, truk
dereWtrailer, alat angkutan bahan berbahaya, haktor, kereta gantung, shovel,
exccmator/back hoe, compactor, mesin giling, bulldozer, loader, tanden roller, tire roller,
grader, vibrator, side boom, forklift dan/atau lift truk.

Q) Operator forklift dan/atau lift truk kelas I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf a
berwenang:
a. mengoperasikan forklift dan/atau lift truk sesuai dengan jenisnya dengan kapasitas lebih
dari 15 ton; dan
b. mengawasi dan membimbing kegiatan operator Kelas II.

(3) Operator forklift dan/atau lift truk kelas II sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf b
berwenang mengoperasikan forklift dan/atau lift truk sesuai jenisnya dengan kapasitas
maksimum 15 ton.

Pasal 3l

Operator alat angkutan jalan rel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 benvenang
mengoperasikan lokomotif beserta rangkaiannya dan lori.

Pasal32

Juruikat (rigger) sebagaimanadimaksuddalamPasal l8 ayat(2)berwenangmelakukan:


a. pengikatan barang atau bahan sesuai dengan prosedurpengikatan; dan
b. pemberian aba-aba pengoperasian pesawat angkat dan angkut.

Pasal 33

Teknisi pesawat angkat dan angkut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) benvenang
melakukan:
a. pemasangan, perbaikan, atau perawatan pesawat angkat dan angkut; dan
b. pemeriksaan, penyetelan, dan mengevaluasi keadaan pesawat angkat dan angkut.

MRATA VOLUUE'9'VOT'OR3 SEPTEtrTBER MI 84


O
BAB V
KEWAJIBAN OPERATOR DAN PETUGAS

Pasal 34

(l) Operator pesawat angkat dan angkut berkewajiban untuk:


a. melakukan pengecekan terhadap kondisi atau kemampuan kerja pesawat angkat dan
angkut, alat-alat pengrtman, dan alat-alat perlengkapan lainnya sebelum perigoperasian
pesawat angkat dan angkut;
b. bertanggung jawab atas kegiatan pengoperasian pesawat angkat dan angkut dalam
keadaan aman;
c. tidak meninggalkan tempat pengoperasian pesawat angkat dan angkut, selama mesin
dihidupkan;
d. menghentikan pesawat angkat dan angkut dan segera melaporkan kepada atasan, apabila
alat pengaman atau perlengkapan pesawat angkat dan angkut tidak berfungsi dengan baik
atau rusak;
e. mengawasi dan mengkoordinasikan operator kelas II dan operator kelas III bagi operator
kelas I, dan operator kelas II mengawasi dan mengkoordinasikan operator kelas III;
f. mematuhi peraturan dan melakukan tindakan pengamanan yang telah ditetapkan dalam
pengoperasian pesawat angkat dan angkut; dan
g. mengisi buku kerja dan membuat laporan harian selama mengoperasikan pesawat angkat
dan angkut.

(2) Juru ikat (rigger\ berkewajiban untuk:


a. melakukan pemilihan alat bantu angkat sesuai dengan kapasitas beban kerja aman;
b. melakukan pengecekan terhadap kondisi pengikatan aman dan alat bantu angkat yang
digunakan;
c. melakukan perawatan alat bantu angkat;
d. mematuhi peraturan dan melakukan tindakan pengamanan yang telatr ditetapkan; dan
e. mengisi buku kerja dan membuat laporan harian sesuai dengan pekerjaan yang telah
dilakukan.

(3) Teknisi berkewajiban untuk:


a. melaporkan kepada atasan langsung, kondisi pesawat angkat dan angkut yang menjadi
tanggung jawabnya jika tidak aman atau tidak layak pakai;
b. bertanggung jawab atas hasil pemasangan, pemelihaxaan, perbaikan, dan/atau
pemeriksaan peralatanlkomponen pesawat angkat dan angkut ;
c. mematuhi peraturan dan melakukan tindakan pengamanan yang telah ditetapkan;
d. membantu pegawai pengawas ketenagakerjaan spesialis pesawat angkat dan angkut
dalam pelaksanaan pemeriksaan dan pengujian pesawat angkat dan angkut; dan
e. mengisi buku kerja dan membuat laporan harian sesuai dengan pekerjaan yang telah
dilakukan.

85 MRATAvuuMElgNoaoR 3 IEqTEUBER 2oto


PEMB INAAN KE S ELAMfff*UJ* KES EHATAN KERIA

Pasal 35

(l) Pelaksanaan pembinaan K3 bagi operator dan petugas pesawat angkat dan angkut dilakukan
oleh:
a. instansi yang lingkup tugas dan tanggung jawabnyq di bidang ketenagakerjaan pada
pemerintah provinsi dan pemerintah kabupatenlkota; dan
b. berusatraan jasa keselamatan dan kesehatan kerja.bidang pembinaan yang ditunjuk oleh
Direktur Jenderal berkoordinasi dengan instansi yang lingkup tugas dan tanggung
jawabnya di bidang ketenagakerjaan pada pemerintah provinsi dan/atau pemerintatr
kabupatenlkota.

(2) Dalam hal perusahaan akan melakukan pembinaan_.sec_ara mandiri (in house training) maka
harus mengajukan permohonan ke instansi yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di
bidang ketenagakerjaan pada pemerintah provinsi dan/atau pemerintah kabupatenlkota.

(3) Materi pembinaan K3 bagi operator dan petugas pesawat angkat dan angkut ditetapkan oleh
Direktur Jenderal.

BAB VII
PENGAWASAN

Pasal 36

Pengawasan terhadap ditaatinya Peraturan Menteri ini dilakukan oleh Pengawas


Ketenagakerjaan.

BAB VIII
SANKSI

Pasal 37

Pengusalra atau pengurus yang meryq9\egakan -operator d1n/atVtl petugas pe-ryyat .?lSal q*
ane[ut yans tid;k memiliki Lisensi K3 dan buku kerja, dan tidak memenuhi kualifikasi dan
juritatr ieblgaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan Pasal 4 dikenakan sanksi sesuai Undang-
UndangNomor 1 Tahun 1970.

BAB IX
ATURAN PERALIHAN

Pasal 38

(l) Bagi operator atau petugas pesawat angka! {an algkut yang- telatr memiliki Lisensi K3 dan
jangka
Uutlr terja sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini tetap berlaku sampai berakhir
waktu Lisensi K3 dan buku kerja

86
wtRATAvcl.,uME t9 NoMoR t3,epreuazn mto
(2) Setelah berakhir jangka waktu berlakunya sebagaimana dimaksud pada ayat (t), dapat
diperpanjang sesuai dengan prosedur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23.

BAB X
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 39

Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri ini maka Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor
PER.01A{EN/1989 tentang Kwalifikasi dan Syarat-syarat Operator Keran Angkat dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 40

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan

Agar setiap orang mengetahuinya, Peraturan Menteri ini diundangkan dengan penempatan dalam
Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal l3 Juli 2010

MENTERI
TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA,

nd.

Drs. H.A MUHAMIN ISKANDAR, M.Si.


Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 13 Juli 2010

MENTERI
HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

PATRIALIS AKBAR, SH.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHLTN 2O1O NOMOR 340

87 MRATAVOLUNE$NOMOR 3 SEPTEMBER 2O1O


PERATURAN MENTERI TENAGA KEzuA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR PER. Og/TVIENA/IV2O 1 O
TENTANG
OPERATOR DAN PETUGAS PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT

JUMLAH OPERATOR YANG DIPERLUKAN


UhITUK SETIAP PENGOPERASIAN PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT

Jenis dan Kapasitas Kuaiifikasi dan Jumlah Onerator


Nomor
Pesawat Angkat dan Angkut Kelas iII Kelas II Kelas I
Peralatan Angkat
I Ll Keran mobil, keran kelabang, keran portal, keran magnet, keran lokomotif pesawat
hidrolik, dan pesawat pneumatik.
s/d 25 ton I oranE
> 25 ton dan < 100 ton I oranq I orang
> 100 ton dan < 300 ton I orans I orans I orans
> 300 ton dan < 6G0 ton 2 orans I orans I orang
> 600 ton 2 orans 'Z
orans. 1 orang
Alat angkat listrik/lift baranglpassenger hoist, keran overhead,keran pedestal, keran tetap,
1.2
keran Eantry, keran dindine dan keran sumbu putar.
s/d 25 ton I orans
> 25 ton dan < 100 ton I orans
> 100 ton dan < 300 ton I oranE I orans
> 300 ton dan < 600 ton I orang I orans
> 600 ton I orang I orang I orang
Keran menara (tower cranel.
Tinesi menara s/d 40 m 1 orang
Tinggi menara > 40 m s/d 60 m I orang
Tineei menara > 60 m 1 orans
Gondola, donglcrak mekanik (lier), takal,
t.4
dan mesin Dancans.
non kelas 1 orang

II. Pita transport. non kelas I orans


Pesawat angkutan di atas landasan dan diatas
m. permukaan. non kelas I orang
3.r Jenis forklift dan/atau lift truk s/d 15 ton I orans
3.2 Jenis tbrklitt dan/atau lift truk > I5 ton. I orans
lv. Alat anskutan ialan ril. non kelas I orans
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 13 Juli 2010

MENTERI
TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

Drs. H.A MUHAIMIN ISKANDAR, M.Si.

WRATAVo/.;IJNEII NOMOR3 SEPTEMBER 2|,IO 88


MENTERI
TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA

PERATI.JRA].I MENTERI TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI


REPUBLIK INDONESIA
NOMOR PER. I 0/lvIENA/Illz} I 0
TENTANG
E-GOVERNMENT DI KEMENTEzuAN TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI

DENGANI RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi yang sangat


pesat memberi peluang pengaksesan informasi yang cepat dan akurat
dan perlu dimanfaatkan oleh Kementerian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi dalam melaksanakan tugas dan fungsinya memberikan
pelayanan kepada masyarakat;

balrwa e-governmenr di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi


perlu kesamaan pemahaman, keserempakan tindak dan keterpaduan
langkah dari seluruh unit kerja untuk mewujudkan tata kelola
pemerintahan yang baik dalam meningkatkan layanan publik yang
efektif dan efisien;

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,


dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri tentang e-government
di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi;

Mengingat : l. Undang-Undang Nomor l1 Tahun 2008 tentang Inform-asi dan Transaksi


Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
58; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843);

2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi


Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846);

89 wtR TAvollttElglltouolssEpr*tBER2lto
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor ll2,
Tarrrbahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038);

4. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan


Organipasi Kementerian Negara;

5. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas


dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi Unit Eselon I
Tugas dan Fungsi Kementerian Negara,'

6. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2409;

7. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor


2 8/PERA{.KOMINFO/ 9 I 2006 tentang Penggunaan
Nama Domain go.id
Untuk Situs Web Resmi Pemerintahan Pusat dan Daerah;

Memperhatikan, tentang Kebijakan dan straregi


ffffini ffr,*t};fr?:":;!h:::3

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : pERATURAI.{ MENTERI TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI


TENTANG E-GOVERNMENT DI KEMENTERIAN TENAGA KERIA
DAN TRANSMIGRASI.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

Tenaea K.erja dry


l. E-government adalahpenyelenggaraan sistem elekhonik di Kementerian
=J;G;
Transmigrast memailaattan teknologi informasi dan komunikasi untuk
dalam penyelenggaraan
meningkatkan efisilnsi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas
pemerintahan.

Sistem elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur


elektronik yang berfungsi
2. mengumumkan,
mempersiapkan, mengumpulkan, menganalisil, lgnyrmpan, menampilkan,
mengirimkan, dan/atau menyebarkan informasi elektronik.

vttRATAvuuuE gr{olloR3sEFTEMBERzoto 90
3. Sistem Informasi adalah kesatuan komponen yang terdiri dari lembaga, sumber daya
manusig perangkat keras, perangkat lunak, substansi data dan informasi yang terkait satu
sama lain dalam satu mekanisme kerja untuk mengelola data dan informasi.

4. Teknologi Informasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan,


memproses, mengumumkan, menganalisis, dan/atau menyebarkan informasi.

5. Data adalah informasi yang berupa angka tentang karakteristik atau ciri-ciri khusus suatu
populasi.

6. Informasi ketenagakerjaan dan ketransmigrasian adalah gabungan, rangkaian dan analisis


data yang berbentuk angka yang telah diolah, naskah dan dokumen yang mempunyai arti,
nilai dan makna tertentu mengenai ketenagakerjaan dan ketransmigrasian.

7. Infrastruktur teknologi informasi adalah piranti keras, piranti lunak sistem operasi dan
aplikasi, pusat dan jaringan komunikasi data serta fasilitas pendukung lainnya, untuk
mendukung penyelen ggaruarL e-government.

8. Aplikasi adalah komponen sistem informasi yang digunakan untuk menjalankan fungsi,
proses dan mekanisme kerja yang mendukung pelaksanaan e-government.

9. Aplikasi umum adalah aplikasi e-government yang dapat digunakan oleh unit kerja di
lingkungan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan publik.

10. Aplikasi khusus adalah aplikasi e-government yarrydigunakan untuk memenuhi kebutuhan
unit kerja tertentu sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

11. Master Plan adalah dokumen perencanaan yang menjadi acuan penyelenggaraan e-
government,

12. Situs web adalatr kumpulan halaman web yang berisi informasi elektronik yang dapat
diakses.

13. Interoperabilitas adalah kemampuan dua sistem atau dua komponen atau lebih untuk
bertukar informasi dan untuk menggunakan informasi yang telah dipertukarkan.

14. Nama domain adalah alamat internet penyelenggara negu4 orang, badan usaha dan/atau
masyarakat yang dapat digunakan dalam berkomunikasi melalui internet yang berupa kode
atau susunan karakter yang bersifat unik untuk menunjukkan lokasi tertentu dalam intemet.

15. Akses adalah kegiatan melakukan interaksi dengan sistem elektronik yang berdiri sendiri
atau dalam jaringan.

16. Badan Usaha adalah perusahaan perseorangan atau perusahaan persekutuan, baik yang
berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.

91 MRATAuILUME ig NoMoR 3 SEqiEMBER zlto


17. Repositori adalah sistem pengkoleksian berkas siap pakai dan siap cetak dari berbagai
macam sistem informasi dari berbagai unit kerja sehingga dapat diproses menjadi suatu
informasi turunan atau agregat secara terintegrasi.

18. Badan Penelitian, Pengembangan dan Informasi yang selanjutnya disebut Balitfo adalah unit
kerja di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang mempunyai tugas dan fungsi di
bidang perumusan, pengelolaan dan pengembangan sistem inforrnasi ketenagakerjaan dan
ketransmigrasian.

19. Pola terpusat adalatr pengintegrasian sistem infurmasi yang dilaksanakan oleh Balitfo
dengan unit kerja Eselon I untuk mendapatkan dan memberikan data agregat (data yang
telah diolah dari data individu yang dimiliki oleh unit kerja) untuk kepentingan internal dan
eksternal.

20. Pola tersebar adalah sistem informasi yang dilaksanakan oleh unit kerja Eselon I untuk
kepentingan unit kerja Eselon I yang bersangkutan dan dapat diintegrasikan dengan sistem
infomasi lain melalui pola terpusatyangdibangun oleh Balitfo.

Zl. Dataagregat adalah data yang telatr diolah dari data individu yang dimiliki oleh unit kerja

22. Kementerian adalah Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

23. Menteri adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Pasal 2

Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi


pembangunan dan pengembangan sistem
informasi ketenagakerjaan dan ketransmigrasian, yang terdiri dari:
a. sumber daya manusia;
b. data dan informasi;
c. infrastruktur teknologi informasi;
d. aplikasi; dan
e. situs web Kementerian.

BAB II
SUMBER DAYA MANUSIA

Pasal 3

(1) Sumber daya manusia yang dapat menyelenggarakan e-governmenl harus sesuai dengan
standar kompetensi yang dibutuhkan.

(2) Standar kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan peraturan
perundangan-undangan.

wtrnTA voLUnE 19 NoMoR J tEpTEItBER 2olo 92


BAB III
DATA DAN INFORMASI

Pasal 4

(l) Data dan informasi dalam penyelenggaraan e-government berupa:


a. data dan informasi untuk kepentingan intemal;
b. data dan informasi ekstemal.

(2) Data dan informasi internal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dipergunakan
untuk kepentingan pelaksanaan tugas dan fungsi kementerian.

(3) Data dan informasi eksternal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dipergunakan
untuk pelayanan kepada masyarakat.

Pasal 5

(l) Data dan informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, wajib disediakan oleh
kementerian sesuai peraturan perundang-undangan.

(2) Datadan informasi sebagaimana dimaksud padaayat (l) harus memenuhi kaidah keamanan,
kerahasiaan, kebaruan, keakurasian, dan keutuhannya sesuai peraturan perundangan-
undangan.

Pasal6

Skuktur dan format data yang dipergunakan dalam e-governmenf hanrs sesuai dengan standar
interoperabilitas, dan standar keamanan data dan informasi sesuai peraturan perundang-
undangan.

BAB IV
INFRASTRUKTUR TEKNOLOGI INFORMASI

Pasal T

Infrastruktur yang diperlukan dalam e-government harus sesuai dengan standar manual peralatan,
interoperabilitas, dan keamanan sistem informasi yang ditetapkan oleh Kepala Balitfo.

Pasal 8

(l) Kementerian menyediakan fasilitas berupa pusat jaringan informasi untuk pengelolaan e-
government.

93 yttRAfAvoLUnE$NoMoRs yEqTEMBER mto


- (2) Pusat jaringan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (l) harus memenuhi standar
Telecomrnunication Industry As s ociation (TIA) 942.

(l) Stan{1 Telecommunication Industry Association (TIA) 942 sebagumana dimaksud pada
ayat (2) meliputi:
a. peruntukan dan luas ruangan;
b. kondisi ruangan seperti suhu, kelembaban, kebisingan;
c. keamanan fisik dan logik;
d. pemeliharaan;dan
e. backup danrestore.

BAB V
APLIKASI

Pasal 9

(1) Aplikasi e-government terdiri atas aplikasi umum dan aplikasi kfiusus.

(2) Aplikasi e-government sebagaimana dirnaksud pada ayat (1) hanrs dilengkapi dokumen:
a. desain aplikasi;
b. struktur program;
c. prosedur standar manual;
d. kebutuhan sumber daya informatika; dan
e. haklogin.

Pasal 10

(1) Aplikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal t hanrs menggunakan perangkat lunak resmi
sesuai dengan peraturan perundang-undangan,

(2) Aplikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi standar. interoperabilitas,
standar keamanan sistem informasi, dan mudah digunakan.

(3) Hak cipta atas aplikasi dan struktur progr.rm (source code) yang dibangun oleh miha kerja
menj adi milik Kementerian.

BAB VI
SITUS WEB KEMENTERIAN

Pasal 11

(1)
\ -, Situs
- web resmi Kementerian menggunakan nama domain www.depnakerffans.eo.id atau
yang ditetapkan pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

tMRATAvuuuE 1g M)norg sFtTE IBER zoto 94


I

(2) Penamaan situs web unit kerja di lingkungan Kementerian yang menggunak$ pryte domain
'' go.id diietakkan di depan nirma domiin Kementerian menjadi sub domain

Pasal 12

(1) Situs web resmi Kementerian dikelola oleh Balitfo.

(2) Situs web Kementerian, antara lain meliputi:


a. data dan informasi;
b. peraturan perundang-undangan;
c. berita;
d. stnrkf,ur organisasi Kementerian;
e. forum diskusi Publik;
f. layanan on line;
g. inhanet;dan
f,.' surat elektronik.

Pasal 13

(l) Situs web Kementerian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dapatdilaksanakan oleh:
a. Pusat Hubungan Masyarakat untuk berita ketenagakerjaan dan ketransmigrasian.
b. Biro Hukum untuk informasi peraturan perundang-undangan, konsultasi hukum dan
FAQ

(2) Dalam melaksanakan pengelolaan situs web Kementerian, Pusat Hubungan Masyarakat dan
Biro Hukum bekerja sama dengan Balitfo.

BAB VII
TATA KELOLA

Pasal 14

(1) E-government diKementerian menggunakan pola:


a. terpusat; dan
b. tersebar.

(2) Pola terpusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan oleh Balitfo dalam
memenuhi kebutuhan kerjasama sistem informasi antar lembaga/instansi terkait.

(3) Pola tersebar sebagaimana dimaksud pada ayat (l) huruf b dilaksanakan oleh setiap unit
kerja terkait sesuai tugas, fungsi dan kewenangannya.

95 wqAfAvuunE p NotloR 3 sEFranBER mto


Pasal 15

(l) E-government yang diselenggarakan oleh unit kerja Eselon I dikoordinasikan oleh Balitfo.

(2) Dalam penyelengg ar aan e-government, Balitfo mempunyai tugas :


a. menetapkan master plan, standar sistem informasi ketenagakerjaan dan
ketransmigrasian;
b. memfasilitasi Pusat dan Daerah dalam pembangunan dan pengembangan sistem
informasi ketenagakerj aan dan ketransmigrasian;
c. menyediakan data dan informasi untuk keperluan internal dan eksternal sesuai dengan
tugas dan fungsinya;
d. menyediakan infrastruktur teknologi informasi;
e. membangun, mengembangkan dan memelihara aplikasi umum berdasarkan masukan
proses kerja unit Eselon I di Kementerian;
f. membangun, mengembangkan dan memelihara aplikasi yang melibatkan lebih dari satu
unit Eselon I
g. mengembangkan dan memelihara On Line Information System (OLIS);
h. memfasilitasi dan mengelola nama sub domain pemerintah untuk situs web resmi unit
Eselon I;
i. menyediakan menu unit Eselon I pada situs web kementerian sebagai sarana pendukung
penyelengg at aan e- gov ernm ent ;
j. melakukan evaluasi sistem informasi secara berkala.

Pasal 16

(l) Penyelengg ara e-government unit Eselon I di lingkungan Kementerian dilaksanakan oleh
Sekretariat Direktorat Jenderal, Sekretariat Inspektorat Jenderal, Sekretariat Badan dan Biro
Perencanaan untuk Sekretariat Jenderal.

(2) Penyelenggara e-government sebagaimana dimaksud pada ayat (l) sesuai kewenangannya
mempunyai tugas:
a. melaporkan dan mengkoordinasikan penyelenggariuut e - government;
b. menyusun rencana e-government unit kerja sesuai master plan sistem informasi
ketenagakerj aan dan ketransmigrasian;
c. menyediakan sumber daya manusia yang kompeten;
d. menyediakan dan memutakhirkan data dan informasi;
e. menyediakan akses bagi sistem informasi lain;
f. menyediakan infrastruktur;
g. menyediakan aplikasi khusus;
h. mengelola situs web.

(3) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Sekretariat Direktorat
Jenderal, Sekretariat Inspektorat Jenderal, Sekretariat Badan dan unit Eselon II di
lingkungan S ekretariat Jenderal berkoordinasi dengan Balitfo.

wtRATAvu,luEtsNoNoRS SEPTEUBER2Ua 96
Pasal 17

Penyelenggaraan e-government sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan Pasal 16 dapat


I bekerja sama dengan instansi pemerintah Pusat, Daerah, Badan Usaha dan masyarakat sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

BAB VIII
PEMBIAYAAN

Pasal 18

(1) Pengalokasian anggaran e-governmenf sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dibebankan


pada Anggaran Pendapatan dan BelanjaNegara Balitfo.

(2) Pengalokasian anggaran e-governtnenl sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dibebankan


pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara unit kerja Eselon I yang bersangkutan.

BAB IX
W EVALUASI

Pasal 19

(1) Evaluasi e-government di Kementerian dilakukan oleh Kepala Balitfo secara periodik setiap
6 (enam) bulan sekali.

(2) Evaluasi e-government sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:


a. sumber daya manusia;
b. data dan informasi;
c. infrastruktur teknologi informasi;
d. aplikasi;
e. situs web unit kerja Eselon I; dan
f. situs web Kementerian.

(3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)hasilnya dilaporkan kepada Menteri.

, BABX
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 20

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

97 wrRATAvoLuuEtgr{orlroR3 sEprErBER nto


Agar setiap orang mengetahuinya, Peraturan Menteri ini diundangkan dengan penempatannya
dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 14 Juli 2010

MENTERI
TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA,

ttd

Drs. H. A. MUHAIMIN ISKANDAR, M.Si.

Diundangkan di Jakarta
r
pada tanggal 14 Juli 2010

MENTERI
HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

PATRI.ALIS AKBAR, SH.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHI.]N 2O1O NOMOR 346

yilRATAvrt.:uuEtcltulwssemulEnnto 98
KEPUTUSAN BERSAMA
MENTERI AGAMA, MENTERI TENAGA KER.IA DAN TRANSMIGRASI,
DAIY MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAI\I APARATUR IIEGARA DAFI
REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA
NOMOR :2TAHUN2OIO
NOMOR : KEP.110/]VIEN/VI/2010
NOMOR : SKB/07/IVI.PAN-RB/0612Afi
TENTANG
HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAIIUN 2011
,KDENGAN RAHMAT TUHAI\ YAIIG MAHA ESA

MENTERI AGAMA, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI,


DAII MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAI\ APARATUR NEGARA DAI\
REFORMASI BIROKRASI,

Menimbang i a. bahwa dalam rangka efisiensi dan efektivitas hari kerja, hari libur dan cuti
bersama dipandang perlu menata kembali pelaksanaan hari libur nasional
dan mengatur cuti bersama tahun 20ll;

b. batrwa penataan kembali hari libur dan pengaturan cuti bersama tahun 201I
sebagaimana dimaksud pada huruf a menjadi pedoman bagi instansi
pemerintah dan swasta sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan
produktivitas kerja;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ftu*f a dan


huruf b, perlu ditetapkan Keputusan Bersama Mented Agama, Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Negara Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi tentang Hari Libur Nasional dan
Cuti Bersama Tahun 2011.

Mengingat : l. Keputusan Presiden Nomor 3 Tatrun 1983 tentang Perubahan Ata,q


Keputusan Presiden Nomor 251 Tatrun 1967 terfimg Hari-Hari Libur
sebagaimana, telah beberapa kali diubatr terakhir dengan Keputusan Presiden
Nomor 10 Tahun t97l;
2. Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hari Tahun Baru Imlek;

3. Peraturan Presiden Nomor 47 Tatrun 2009 tpntang Pembentukan dan


Organisasi Kementerian Negara;

4. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009;

99 vTRATAvILUME ts Nouo+ g IEqTEMBER 2o1o


5. Keputusan Menteri Agama Nomor 331 Tahun 2002 tentang Penetapan Hari
Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional.

MEMUTUSKAN:

Menetapkan
KESATU Hari Libur Nasional dan Cuti Brtrurn&ahun 2011 adalah sebagaimana
tersebut dalam Lampiran Keputusan ini.

KEDUA Untuk kepentingan pelaksanaan ibadah Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya
Idul Adha bagi umat Islam, tanggal 1 Ramadhan 1432 H, 1 Syawal
l432Hdan 10 Dzulhijjah 1432H ditetapkan kemudian dengan Keputusan
Menteri Agama.

KETIGA Unit kerja/satuan organisasi yang berfungsi memberikan pelayanan


langsung kepada masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah yang mencakup
kepentingan masyarakat luas, seperti rumah sakit/puskesmas' unit kerja
yang memberikan pelayanan telekomunikasi, listrik, air minum, pemadam
Lebakaran, keamanan dan ketertiban, perbankan, perhubffigffi, dan unit
kerja pelayanan lain yang sejenis, agar mengatur penugasan pegawai,
karyawan dan pekerja pada hari libur nasional dan cuti bersama yang
ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

KEEMPAT Pelaksanaan cuti bersarna sebagaimana dimaksud pada Diktum KESATU


mengurangi hak cuti tahunan pegawai, karyawan, dan pekerja sesuai
dengan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku pada
setiap instansi/lembaga/perusahaan.

KELIMA Pelaksanaan cuti bersama sebagaimana dimaksud pada Diktum KESATU


bagr kalangin lembaga atau perusahaan diatur oleh lembaga atau
perusahaan yang bersangkutan.

KEENAM Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 15 Juni 2010

MENTERI AGAMA, MENTERI MENTERI NEGARA


.
:'- TENAGA KERIA DAN PENDAYAGUNAAN APARATUR
TRANSMIGRASI, NEGARA DAN REFORMASI
ttd BIROKRASI,
ttd ttd
SURYADHARMA ALI MUHAIMIN ISKANDAR E.E. MANGINDAAN

W'dTAVOLUNE'9 i'OT'OR 3 SEPTETTBER 2OIO 100


LAMPIRAN

KEPUTUSAN BERSAMA
MENTERI AGAJVIA, MENTERI TENAGA KERIA DA}I TRANSMIGRASI,
DA}I MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
DAN REFoRMAS I B IR"ffii,tff t
lHiffiilBff ^
NOMOR : KEP.I l0AdENA/42010
HOMOR : SKB/07/IvI.PAN-RB/0612010
TENTANG
HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAHUN 2OI I

A. HARI LIBUR NASIONAL TAHLIN,2OI I


No. Tanggal Hari Keterangan

1. I Januari Sabtu Tahun Baru Masehi


2. 3 Februari Kamis Tahun Baru Imlek 2562
J. 15 Februari Selasa Maulid Nabi Muhammad SAW
4. 5 Maret Sabtu Hari Rava Nveoi Tahun Baru Saka 1933
5. 22 Aprjl Jum'at Wafat Yesus Kristus
6. 17 Mei Selasa Hari Raya Waisak Tahun 2555
7. 2 Juni Kamis Kenaikan Yesus Kristus
8. 29 Juri Rabu lsra' Mi'rai Nabi Muhammad SAW
9. 17 Azustus Rabu Hari Kemerdekaan RI
10. 30-31 Azustus Selasa - Rabu Idul Fitri I dan? Syawal 1432Hiirivah
11 6 November Minggu Idul Adha 1432 Hiirivah
t2. 27 November Minggu Tahun Baru 1433 Hiirivah
13. 25 Desember Minesu Hari Raya Natal

B. CUTI BERSAMA TAHT.'N 2OI1


No. Tanseal Hari Keterangan
l. 29 Agustus Senin Cuti Bersama Idul Fitri 1 Syawal 1,43zHijriyah
2. 1-2 September Kamis - Jum'at Cuti Bersama Idul Fitri 1 Syawal I432Hijnyah
3. 26 Desember Senin Cuti Bersama Hari Raya Natal

MENTERIAGAMA'
TENAI1AEHffi,DAN ,r*#tjxtffix%m,o,*
. TRANSMIGRASI, NEGARA DAN REFORMASI
ttd ' BIROKRASI,
ttd ttd
SURYADHARMA ALI MUHAIMIN ISKAI'{DAR E.E. MANGINDAAN

101 wRAIAVOLUME Ig NOMOR 3 SEPTEMBER 2rl1r'


PERATURAN BERSAMA
MENTERIPENN'TPUSTRI,AN, MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,
MENTERI TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM NEGERI, DAN
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA

NOMOR : l02/IVI-INDIPENgI2OIO
NOMOR : 16 Tahun 2010

NOMOR : PER.13/]vIEN/DV2010
NOMOR : 48 Tahun 2010

NOMOR : PER-04/It{BUl20l0

TENTANG

PENCABUTAN PERATURAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIA}.I, MENTERI


ENERGI DA}I SUMBER DAYA MINERAL, MENTERI TENAGA KERIA DAN
TRA}ISMIGRASI, MENTERI DALAM NEGERI DAN MENTERI NEGARA BADAN
USAHA MILIK NEGARA NOMOR 47/]\{-INDIPEW7I2OO8, NOMOR 23 TAHUN 2008,
NOMOR Per.13/lvIENA/W2008, NOMOR 35 TAHUN 2008, NOMOR PER-03/\4BU/08
TENTANG PENGOPTIMALAN BEBAN LISTRIK MELALUI PENGALIHAN WAKTU
KERIA PADA SEKTOR INDUSTRI DI JAWA-BALI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PERINDUSTRIAN, MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,


MENTERI TENAGA KERIA DAN TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM NEGERI, DAN
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA,

Menimbang i a. bahwa kebijakan pengoptimalan beban listrik melalui pengalihan waktu


kerja pada sektor industri di Jawa-Bali merupakan upaya sementara untuk
menangani defisit pasokan listrik pada sektor indushi yang sifatnya
mendesak guna menghindari terjadinya pemadaman listrik;

b. bahwa kondisi pasokan listrik dengan telatr beroperasinya 3 pembangkit


listrik baru sebagai bagian dari percepatan pemlangunan pembangkit tenaga
listrik dirasakan telah memenuhi kebutuhan listrik termasuk pada sektor
industri di Jawa-Bali;

W,RATA Vo/;UltE tg lrolloR 3 SFPTENBER 2010 1n


c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan
huruf b, perlu mencabut Peraturan Bersama Menteri Perindustrian, Menteri
Energi Dan Sumber Daya Mineral, Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi,
Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara
Nomor 47l1vI-INDlPEN7l2008, Nomor 23
Tatrun 2008, Nomor
Per,13/IrdENA/1V20A8, Nomor 35 Tahun 2008, Nomor PER-03A{BU/08
tentang Pengoptimalan Beban Listrik Melalui Pengalihan Waktu Kerja Pada
Sektor Industri Di Jawa-Bali;

Mengingat l. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3274);

2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279);

3. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 70, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor a297);

4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tatrun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 59
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

5. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2O0g tentang Ketenagalistrikan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 133, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5052);

MEMUTUSKAN:

MenetapKAN : PERATURAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN, MENTERI


ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL, MENTERI TENAGA KERIA
DAI{ TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM NEGERI, DAN MENTERI
NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA TENTANG PENCABUTAN
PERATURAN BERSAMA MENTERI PERINDUSTRIAN, MENTERI
ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL, MENTERI TENAGA KERIA
DANI TRANSMIGRASI, MENTERI DALAM NEGERI DAN MENTERI
NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR 47/M-
IND/PER/712008, NOMOR 23 TAHUN 2008, NOMOR Per.l3lI\4ENA/1V2008,
NOMOR 35 TAHUN 2008, NOMOR PER.O3A{BU/08 TENTANG
PENGOPTIMALAN BEBAN LISTRIK MELALUI PENGALIHAN WAKTU
KERIA PADA SEKTOR INDUSTRI DI JAWA-BALI:

MRATA VilUME'9 II,OI'OR 3 SEPTETIBER 201 O


103
Pasal 1

peraturan Bersama Menteri Perindustrian, Menteri Energ Dan Sumber Daya Mineral, Menteri
Tenaga Kerja Dan Transmigrasi, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Negara Badan Usaha Milik
N.giu Nomor 47A{-INDpnWl1ZOO8, Nomor 23 Tahun 2008, Nomor Per.l3lltdENA/IV2008,
Nomor 35 Tahun 2008, Nomor PER-03A4BU/08 tentang Pengoptimalan Beban Listrik Melalui
pengalihan Waktu Kerja Pada Sektor Industri Di Jawa-Bali dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.

Pasal 2

peraturan Bersama ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 17 September 2010

MENTEzu PERINDUSTRI.AN, MENTERI


ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,

ttd ttd

MOHAMAD S. HIDAYAT DARWIN ZAHEDY SALEH

MENTERI MENTERI DALAM NEGERI,


TENAGA KERIA DAI{ TRAI{SMIGRASI,

ttd ttd

MUHAMIN ISKAI.{DAR GAMAWAN FAVZT

MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA,

ttd

MUSTAFA ABUBAKAR

rflRATAvuurrE tg xuficn t semuaEa mto 104