Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PEMBAHASAN

1. Konsep Dasar Malnutrisi/KKP


A. Definisi
Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak.
Secara umum, kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit KKP, yaitu
penyakit yag diakibatkan kekurangan energi dan protein. KKP dapat juga
diartikan sebagai keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi
energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi
Angka Kecukupan Gizi (AKG). Bergantung pada derajat kekurangan energy
protein yang terjadi, maka manifestasi penyakitnya pun berbeda-beda.
Penyakit KKP ringan sering diistilahkan dengan kurang gizi.
Penyakit ini paling banyak menyerang anak balita, terutama di negara-
negara berkembang. Gejala kurang gizi ringan relative tidak jelas, hanya
terlihatbahwa berat badananak tersebut lebih rendah disbanding anak
seusianya. Kira-kira berat badannya hanya sekitar 60% sampai 80% dari
berat badan ideal.

B. Etiologi
Kurang kalori protein yang dapat terjadi karena diet yang tidak cukup
serta kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan
orangtua-anak terganggu, karena kelainan metabolik, atau malformasi
congenital. Pada bayi dapat terjadi karena tidak mendapat cukup ASI dan
tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare.
Secara umum, masalah KKP disebabkan oleh beberapa faktor, yang
paling dominan adalah tanggung jawab negara terhadap rakyatnya karena
bagaimana pun KKP tidak akan terjadi bila kesejahteraan rakyat terpenuhi.
Berikut beberapa faktor penyebabnya :
1. Faktor social
Yang dimaksud faktor sosial adalah rendahnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya makana bergizi bagi pertumbuhan anak,
sehingga banyak balita tidak mendapatkan makanan yang bergizi
seimbang hanya diberi makan seadanya atau asal kenyang. Selain itu,
hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi sosial
dan politik tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan
makanan tertentu dan berlangsung turun-temurun dapat menjad hal yang
menyebabkan terjadinya kwashiorkor.
2. Kemiskinan
Kemiskinan sering dituding sebagai biang keladi munculnya
penyakit ini di negara-negara berkembang. Rendahnya pendapatan
masyarakat menyababkan kebutuhan paling mendasar, yaitu pangan pun
sering kali tidak biasa terpenuhi apalagi tidak dapat mencukupi
kebutuhan proteinnya.
3. Laju pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan
bertambahnya ketersedian bahan pangan akan menyebabkan krisis
pangan. Ini pun menjadi penyebab munculnya penyakit KKP.
4. Infeksi
Tidak dapat dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi
dengan malnutrisi. Infeksi sekecil apa pun berpengaruh pada tubuh.
Sedangkan kondisi malnutrisi akan semakin memperlemah daya tahan
tubuh yang pada gilirannya akan mempermudah masuknya beragam
penyakit. Tindakan pencegahan otomatis sudah dilakukan bila faktor-
faktor penyebabnya dapat dihindari. Misalnya, ketersediaan pangan
yang tercukupi, daya beli masyarakat untuk dapat membeli bahan
pangan, dan pentingnya sosialisasi makanan bergizi bagi balita serta
faktor infeksi dan penyakit lain.
5. Pola makan
Protein (asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk
tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori
yang cukup, tidak semua makanan mengandung protein atau asam
amino yang memadai. Bayi yang masih menyusui umumnya
mendapatkan protein dari Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan ibunya.
Namun, bayi yang tidak memperoleh ASI protein dari suber-sumber lain
(susu, telur, keju, tahu, dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan. Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting
terhadap terjadinya kwashiorkor terutama pada masa peralihan ASI ke
makanan pengganti ASI.
6. Tingkat pendidikan orang tua khususnya ibu mempengaruhi pola
pengasuhan balita. Para ibu kurang mengerti makanan apa saja yang
seharusnya menjadi asupan untuk anak-anak mereka.
7. Kurangnya pelayanan kesehatan, terutama imunisasi. Imunisasi yang
merupakan bagian dari system imun mempengaruhi tingkat kesehatan
bayi dan anak-anak.

C. Patofisiologi
Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan
kalori,protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. Dalam keadaan
kekuranganmakanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup
dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh
untukmempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang
sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa)
dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya
kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga
setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan.
Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan
menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan
ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol
dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies
sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun.
Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi
seteah kira - kira kehilangan separuh dari tubuh.

D. Tanda dan Gejala


Tanda-tanda dari KKP dibagi menjadi 2 macam yaitu:

1. KKP Ringan

 Pertumbuhan linear terganggu.


 Peningkatan berat badan berkurang, terhenti, bahkan turun.
 Ukuran lingkar lengan atas menurun.
 Maturasi tulang terlambat.
 Ratio berat terhadap tinggi normal atau cenderung menurun.
 Anemia ringan atau pucat.
 Aktifitas berkurang.
 Kelainan kulit (kering, kusam).
 Rambut kemerahan.

2. KKP Berat

 Gangguan pertumbuhan.
 Mudah sakit.
 Kurang cerdas.
 Jika berkelanjutan menimbulkan kematian

E. Penatalaksanaan Medis
Prosedur tetap pengobatan dirumah sakit : Prinsip dasar penanganan 10
langkah utama (diutamakan penanganan kegawatan)

 Penanganan hipoglikemi
 Penanganan hipotermi
 Penanganan dehidrasi
 Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
 Pengobatan infeksi
 Pemberian makanan
 Fasilitasi tumbuh kejar
 Koreksi defisiensi nutrisi mikro
 Melakukan stimulasi sensorik dan perbaikan mental
 Perencanaan tindak lanjut setelah sembuh

Perawatan Medis

 Pada anak dan orang dewasa, langkah pertama dalam pengobatan


kekurangan energi protein (KEP) adalah untuk mengoreksi kelainan
cairan dan elektrolit dan untuk mengobati setiap infeksi. Kelainan
elektrolit yang paling umum adalah hipokalemia, hipokalsemia,
hypophosphatemia, dan hypomagnesemia.
 Pemberian makronutrien harus dimulai dalam waktu 48 jam di bawah
pengawasan spesialis gizi.
 Sebuah studi double-blind dari 8 anak dengan kwashiorkor dan ulserasi
kulit menemukan bahwa pasta seng topikal lebih efektif dibandingkan
plasebo dalam bidang penyembuhan kerusakan kulit. Suplemen seng
oral juga ditemukan efektif. Langkah kedua dalam pengobatan
kekurangan energi protein (yang mungkin tertunda 24-48 jam pada
anak) adalah menyediakan macronutrients dengan terapi diet.
 Susu formula berbahan dasar adalah pengobatan pilihan. Pada awal
pengobatan diet, pasien harus diberi makan ad libitum. Setelah 1
minggu, harga asupan harus mendekati 175 kkal / kg dan 4 g / kg
protein untuk anak-anak dan 60 kkal / kg dan 2 g / kg protein untuk
orang dewasa. Sebuah multivitamin setiap hari juga harus ditambahkan.

Pengobatan penyakit penyerta

 Defisiensi vitamin A Bila ada kelainan di mata, berikan vitamin A oral


pada hari ke 1, 2 dan 14 atau sebelum keluar rumah sakit bila terjadi
memburuknya keadaan klinis diberikan vit. A dengan dosis :

1. umur > 1 tahun : 200.000 SI/kali


2. umur 6 – 12 bulan : 100.000 SI/kali
3. umur 0 – 5 bulan : 50.000 SI/kali

 Bila ada ulkus dimata diberikan : Tetes mata khloramfenikol atau salep
mata tetrasiklin, setiap 2-3 jam selama 7-10 hari, Teteskan tetes mata
atropin, 1 tetes 3 kali sehari selama 3-5 hari. Tutup mata dengan kasa
yang dibasahi larutan garam faali
 Dermatosis Dermatosis ditandai adanya : hipo/hiperpigmentasi,
deskwamasi (kulit mengelupas), lesi ulcerasi eksudatif, menyerupai
luka bakar, sering disertai infeksi sekunder, antara lain oleh
Candida. Tatalaksana :

1. kompres bagian kulit yang terkena dengan larutan KmnO4 (K-


permanganat) 1% selama 10 menit
2. beri salep atau krim (Zn dengan minyak kastor)
3. usahakan agar daerah perineum tetap kering
4. umumnya terdapat defisiensi seng (Zn) : beri preparat Zn peroral

 Parasit/cacing Beri Mebendasol 100 mg oral, 2 kali sehari selama 3


hari, atau preparat antihelmintik lain.
 Diare berkepanjangan Diobati bila hanya diare berlanjut dan tidak ada
perbaikan keadaan umum. Berikan formula bebas/rendah lactosa. Sering
kerusakan mukosa usus dan Giardiasis merupakan penyebab lain dari
melanjutnya diare. Bila mungkin, lakukan pemeriksaan tinja
mikroskopik. Beri : Metronidasol 7.5 mg/kgBB setiap 8 jam selama 7
hari.
 Tuberkulosis Pada setiap kasus gizi buruk, lakukan tes
tuberkulin/Mantoux (seringkali alergi) dan Ro-foto toraks. Bila positip
atau sangat mungkin TB, diobati sesuai pedoman pengobatan TB.

Tindakan kegawatan

 Syok (renjatan) Syok karena dehidrasi atau sepsis sering menyertai


KEP berat dan sulit membedakan keduanya secara klinis saja. Syok
karena dehidrasi akan membaik dengan cepat pada pemberian cairan
intravena, sedangkan pada sepsis tanpa dehidrasi tidak. Hati-hati
terhadap terjadinya overhidrasi. Pedoman pemberian cairan :

1. Berikan larutan Dekstrosa 5% : NaCl 0.9% (1:1) atau larutan Ringer


dengan kadar dekstrosa 5% sebanyak 15 ml/KgBB dalam satu jam
pertama.
2. Evaluasi setelah 1 jam :
3. Bila ada perbaikan klinis (kesadaran, frekuensi nadi dan pernapasan)
dan status hidrasi ® syok disebabkan dehidrasi. Ulangi pemberian
cairan seperti di atas untuk 1 jam berikutnya, kemudian lanjutkan
dengan pemberian Resomal/pengganti, per oral/nasogastrik, 10
ml/kgBB/jam selama 10 jam, selanjutnya mulai berikan formula
khusus (F-75/pengganti).
4. Bila tidak ada perbaikan klinis ® anak menderita syok septik. Dalam
hal ini, berikan cairan rumat sebanyak 4 ml/kgBB/jam dan berikan
transfusi darah sebanyak 10 ml/kgBB secara perlahan-lahan (dalam 3
jam). Kemudian mulailah pemberian formula (F-75/pengganti)

 Anemia berat Transfusi darah diperlukan bila : Hb < 4 g/dl atau Hb 4-6
g/dl disertai distress pernapasan atau tanda gagal jantung. Transfusi
darah : Berikan darah segar 10 ml/kgBB dalam 3 jam. Bila ada tanda
gagal jantung, gunakan ’packed red cells’ untuk transfusi dengan jumlah
yang sama. Beri furosemid 1 mg/kgBB secara i.v pada saat transfusi
dimulai. Perhatikan adanya reaksi transfusi (demam, gatal, Hb-uria,
syok). Bila pada anak dengan distres napas setelah transfusi Hb tetap < 4
g/dl atau antara 4-6 g/dl, jangan diulangi pemberian darah.

F. Upaya Pencegahan
KKP merupakan salah satu masalah serius yang sedang dihadapi
Indonesia. Kita dapat berusaha agar KKP dapat dikuragi. Berikut adalah
cara-cara pencegahannya :
1. Tingkat keluarga
a) Ibu membawa balita ke posyandu untuk ditimbang
b) Memberi ASI pada usia sampai enam bulan
c) Memberi maknan pendukung ASI yang mengandung berbagai gizi
(kalori, vitamin, mineral)
d) Memberitahukan petugas kesehatan bila balita mengalami sakit
e) Menhindari pemberian makanan buatan kepada anak-anak untuk
menggantikan ASI sepanjang ibu masih mampu menghasilkan ASI
f) Melindungi anak dari kemungkinan menderita diare dan dehidrasi
dengan cara memelihara kebersihan, menggunakan air masak untuk
minum, mencuci alat pembuat susu dan makanan bayi serta penyediaan
oralit
g) Mengatur jarak kehamilan ibu agar ibu cukup waktu untuk merawat dan
mengatur makanan yang bergizi untuk buah hati mereka

2. Tingkat posyandu
a) Kader melakukan penimbangan pada balita setiap bulan di posyandu
b) Kader memberikan penyuluhan tentang makanan pendukung ASI (MP-
ASI)
c) Kader memberikan pemulihan bayi balita yang berada di garis merah
(PMT) contoh : KMS
d) Pemberian imunisasi untuk melindungi anak dari penyakit infeksi
seperti TBC, polio dan ada pula beberapa imunisasi dasar, antara lain :
1) BCG
2) DPT
3) Polio
4) Hepatitis
5) Campak

3. Tingkat pengobatan
Prinsip pengobatan adalah pemberian makanan yang banyak
mengandung protein bernilai biologik tinggi, tinggi kalori, cukup cairan,
vitamin dan miniral. Makan tersebut dalam bentuk mudah cerna dan
diserap, diberikan secara bertahap.
Dalam keadaan dehidrasi dan asidosis pedoman pemberian
perenteral adalah sebagai berikut:
1. Jumlah cairan adalah ; 200 ml / kgBB/ hari untuk kwasiorkor atau
marasmus kwashiorkor.
2. 250 ml/kgBB/ hari untuk marasmus.
3. Makanan tinggi kalori tinggi protien 3,0-5,0 g/kgBB
4. Kalori 150-200 kkal/ kgBB/hari
5. Vitamin dan mineral , asam folat peroral 3x 5 mg/hari pada anak
besar
6. KCL oral 75-150mg /kgBB/hari.
7. Bila hipoksia berikan KCL intravena 3-4 mg/KgBB/hari.

2. Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
I. Identitas
Nama
Umur
Jenis kelamin
No MR
Alamat
Nama orangtua

II. Pemeriksaan fisik


1) Kaji tanda-tanda vital.
2) Kaji perubahan status mental anak, apakah anak nampak cengeng atau
apatis.
3) Pengamatan timbulnya gangguan gastrointestinal, untuk menentukan
kerusakan fungsi hati, pankreas dan usus.
4) Menilai secara berkelanjutan adanya perubahan warna rambut dan
keelastisan kulit dan membran mukosa.
5) Pengamatan pada output urine.
6) Penilaian keperawatan secara berkelanjutan pada proses perkembangan
anak.
7) Kaji perubahan pola eliminasi. Gejala : diare, perubahan frekuensi
BAB. Tanda : lemas, konsistensi BAB cair.
8) Kaji secara berkelanjutan asupan makanan tiap hari. Gejala : mual,
muntahdan tanda : penurunan berat badan.
9) Pengkajian pergerakan anggota gerak/aktivitas anak dengan
mengamati tingkah laku anak melalui rangsangan.

III. Pemeriksaan Penunjang


 Pemeriksaan Laboratorium
a) Pemeriksaan darah tepi memperlihatkan anemia ringan sampai
sedang, umumnya berupa anemia hipokronik atau normokromik.
b) Pada uji faal hati tampak nilai albumin sedikit atau amat rendah,
trigliserida normal, dan kolesterol normal atau merendah.
c) Kadar elektrolit K rendah, kadar Na, Zn dan Cu bisa normal atau
menurun.
d) Kadar gula darah umumnya rendah.
e) Asam lemak bebas normal atau meninggi.
f) Nilai beta lipoprotein tidak menentu, dapat merendah atau
meninggi.
g) Kadar hormon insulin menurun, tetapi hormon pertumbuhan dapat
normal, merendah maupun meninggi.
h) Analisis asam amino dalam urine menunjukkan kadar 3-metil
histidin meningkat dan indeks hidroksiprolin menurun.
i) Pada biopsi hati hanya tampak perlemakan yang ringan, jarang
dijumpai dengan kasus perlemakan berat.
j) Kadar imunoglobulin serum normal, bahkan dapat meningkat.
k) Kadar imunoglobulin A sekretori rendah.
l) Penurunan kadar berbagai enzim dalam serum seperti amilase,
esterase, kolin esterase, transaminase dan fosfatase alkali. Aktifitas
enzim pankreas dan xantin oksidase berkurang.
m) Defisiensi asam folat, protein, besi.
n) Nilai enzim urea siklase dalam hati merendah, tetapi kadar enzim
pembentuk asam amino meningkat.

 Pemeriksaan Radiologik
Pada pemeriksaan radiologik tulang memperlihatkan
osteoporosis ringan.
Fokus pengkajian pada anak KKP
-pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkaran lengan
atas dan tebal lipatan kulit).
Tanda dan gejala yang mungkin didapatkan adalah:
1. Penurunan ukuran antropometri
2. Perubahan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan
mudah dicabut)
3. Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak,
ronchi,retraksi otot intercostal)
4. Perut tampak buncit, hati teraba membesar, bising usus dapat
meningkat bila terjadi diare.
5. Edema tungkai
6. Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik dan adanya crazy pavement
dermatosis terutama pada bagian tubuh yang sering tertekan
(bokong, fosa popliteal, lulut, ruas jari kaki, paha dan lipat paha)
B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang).
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan diare.
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status
metabolik.
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang nya informasi.

C. Intervensi
1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang)
Tujuan : Pasien mendapat nutrisiyang adekuat
Kriteria hasil :
1. Meningkatkan masukan oral
2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi
3. Nafsu makan meningkat
Intervensi :
1. Dapatkan riwayat diet
2. Dorong orangtua atau anggota keluarga lain untuk menyuapi anak
atau ada disaat makan
3. Gunakan alat makan yang dikenalnya
4. Sajikan makan sedikit tapi sering
Rasional :
1. Sebagai suport untuk anak sewaktumakan
2. Untuk menambah semangat makan si anak
3. Menggunakan alat makan yang dikenal oleh si anak akan
menambah semangat anak untuk makan
4. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak

2. Defisit volume cairan berhubungan dengan diare


Tujuan : Tidak terjadi dehidrasi
Kriteria hasil :
1. Mukosa bibir lembab
2. Tidak terjadi peningkatan suhu
3. Turgor kulit baik
Intervensi :
1. Monitor tanda-tanda vital dan tanda-tanda dehidrasi
2. Monitor jumlah dan tipe masukancairan
3. Ukur haluaran urine dengan akurat
Rasional :
1. Untuk mengetahui TTV dan tanda dehidrasi si anak
2. Untuk mengetahui cairan pada anak
3. Untuk mengetahui keseimbanganantara input dan output

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status


metabolik.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan integritas kulit
Kriteria hasil :
1. Kulit tidak kering
2. Kulit tidak bersisik, Elastisitas normal
Intervensi :
1. Monitor kemerahan, pucat,ekskoriasi.
2. Dorong mandi 2x sehari dan gunakan lotion setelah mandi
3. Massage kulit Kriteria hasil ususnya diatas penonjolan tulang
4. Alih baring
Rasional :
1. Mencegah terjadinya kerusakan pada kulit
2. Mandi dapat menjaga kebersihan kulit
3. Massage dapat mencegah terjadinya kerusakan kulit
4. Baring yang sering akan mengakibatkan penekanan pada kulit

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh


Tujuan : Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
Kriteria hasil:
1. Suhu tubuh normal
2. Lekosit dalam batas normal
Intervensi :
1. Mencuci tangan sebelum dansesudah melakukan tindakan
2. Pastikan semua alat yang kontak dengan pasien bersih/steril
3. Instruksikan pekerja perawatan kesehatan dan keluarga dalam
prosedur kontrol infeksi
4. Antibiotik sesuai program
Rasional :
1. Tangan yamg bersih akan terhindar dari kuman
2. Alat yang bersih/steril tidak akan mengakibatkan infeksi
3. Untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi
4. Antibiotik sebagai pengobatan

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang nya informasi


Tujuan : pengetahuan pasien dan keluarga bertambah
Kriteria hasil:
1. Menyatakan kesadaran dan perubahan pola hidup
2. Mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala.
Intervensi :
1. Tentukan tingkat pengetahuan orangtua pasien
2. Mengkaji kebutuhan diet dan jawab pertanyaan sesuai indikasi
3. Konsumsi makanan tinggi serat dan masukan cairan adekuat
4. Berikan informasi tertulis untuk orangtua pasien
Rasional :
1. Pengetahuan orang tua pasien mempengaruhi perawatan pasien
2. Jawaban sesuai indikasi agar tidak membingungkan orangtua pasien
3. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien
4. Menambah wawasan orangtua klien dalam perawatan pasien

3. Pendidikan Kesehatan tentang KKP


1. Meningkatkan hasil produksi pertanian supaya persediaan bahan makanan
menjadi yang lebih banyak, yang sekaligus merupakan tambahan
pengahasilan rakyat seperti dikemukakan Presiden Soeharto pada peresmian
pabrik pupuk fospat (TSP) unit II di Gresik pada tanggal 30 Juli 1983.
2. Penyediaan makanan formula yang mangandung tinggi protein dan tinggi
energi untuk anak-anak yang disapih. Makanan demikian pada umumnya
tidak terdapat dalam diet tradisi, tetapi sangat diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan yang meningkat pada anak-anak berumur 6 bulan keatas. Formula
tersebut dapat diberikan dalam program pemberian makanan tambahan
maupun dipasarkan dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat.
Pembuatan makanan demikian juga dapat diajarkan pada masyarakat
sehingga juga merupakan pendidikan gizi.
3. Memperbaiki infrastruktur pemasaran, infrastruktur pemasaran yang tidak
baik akan berpengaruh negatif terhadap harga maupun kualitas bahan
makanan. Hal ini sudah ditanggulangi pemerintah melalui Bulog.
4. Subsidi harga bahan makanan. Intervensi demikian bertujuan untuk
membantu mereka yang sangat terbatas penghasilannya. Pada hakekatnya
pemerintah sudah memberikan subsidi yang cukup besar kepada petani
melalui program intensifikasi padi. Oleh proyek bimas dikeluarkan dana
antara lain untuk membiayai kegiatan operasional sepeti pembinaan,
penyuluhan, latihan dan sebagainya.
5. Pemberian makanan suplementer. Dalam hal ini makanan diberikan .secara
cuma-cuma atau dijiual dengan harga minim. Makanan semacam ini
terutama ditujukan terutama pada anak-anak yang termasuk golongan umur
rawan akan penyakit KKP. Makanan tersebut dapat disediakan pada waktu-
waktu tertentu di Puskesmas maupun diberikan secara periodik untuk dibawa
pulang. Cara yang disebut belakangan ini biasanya kurang manfaatnya
karena makanan yan seharusnya diberikan pada anak-anak yang
membutuhkannya, dibagikan kepada seluruh keluarga atau dijual.
6. Pendidikan gizi. Tujuan pendidikan gizi ialah untuk mengajar rakyat
mengubah kebiasaan mereka dalam menanam bahan makanan dan cara
menghidangkan makanan supaya mereka dan anak-anaknya mendapat
makanan yang lebih baik mutunya. Menurut Hofvandel (1983) pendidikan
gizi akan berhasi jika:

a. penduduk diikutsertakan dalam pembuatan rencana, menjalankan


rencana tersebut, serta ikut menilai hasilnya.
b. rencana tersebut tidak banyak kebiasaan yang sudah turun temurun.
c. anjuran cara pemberian makanan yang diulang pada setiap
kesempatan dan situasi.
d. semua pendidik atau mereka yang diberi tugas untuk memberikan
penerangan pada masyarakat yang memberi anjuran yang sama.
e. mendiskusilran anjuran dengan kelompok yang terdiri dari para ibu
serta anggota masyarakat lainnya, sebab keputusan yang diambil
oleh satu kelompok lebih mudah dijalankan daripada seorang ibu
saja.
f. pejabat kesehatan, teman-teman, dan anggota keluarga memberikan
bantuan aktif dalam memperaktekkan anjuran itu.
g. orang tua maupun anggota masyarakat lainnya dapat melihat hasil
yang menguntungkan atas praktek anjuran itu.
7. Pendidikan dan pemeliharaan kesehatan:
a. pemeriksaan kesehatan pada waktu-waktu tertentu misalnya di
BKIA, Puskesmas dan posyandu
b. melakukan imunisasi terhadap penyakit-penyakit infeksi yang
prevalensinya tinggi.
c. memperbaiki higiene lingkungan dengan menyediakan air minum,
tempat membuang air besar (WC).
d. mendidik rakyat untuk membuang air besar di tempat-tempat
tertentu atau di tempat yang sudah disediakan, memasak air minum,
memakai sendal atau sepatu untuk menghindari infeksl dari parasit.,
membersihkan rumah serta isinya dan memasang jendela-jendela
untuk mendapat hawa segar.
e. menganjurkan rakyat untuk mengunjungi puskesmas secepatnya jika
kesehatannya terganggu.
f. menganjurkan keluarga berencana. Petros Bemazian (1970)
berpendapat bahwa Child spacing merupakan faktor yang sangat
penting untuk status gizi ibu maupun anaknya. Dampak kumulatif
kehamilan yang berturut-turut dan dimulai pada umur muda dalam
kehidupan seorang ibu dapat mengakibatkan deplesi zat-zat gizi
orang tersebut.
https://www.researchgate.net/publication/42321640_Pengaruh_Pengetahuan_Ibu_Ter
hadap_Kurang_Kalori_Protein_Pada_Balita

https://www.scribd.com/doc/313945231/makalah-KKP

https://www.scribd.com/document/109272072/Asuhan-Keperawatan-Anak-
Dengan-Kkp

https://beritasepuluh.com/2012/10/31/penanganan-malnutrisi-kurang-energi-protein-
kep-pada-anak/