Anda di halaman 1dari 66

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADAN KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL


Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa II

Disusun Oleh:

Alma Triana (032016038)

Nenda Nurfenda (032016042)

Asri Sartika Putri Suhada (032016046)

Sintia Mustopa (032016050)

Rendra Ramdhani (032016055)

Anggy Agustina Rahayu (032016060)

Anisa Resti Oktaviani (032016064)

Lusi Desianti (032016069)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH BANDUNG
TAHUN AKADEMIK 2018/201
KATA PENGANTAR

Atas karunia Allah SWT akhirnya kelompok kami dapat menyelesaikan makalah
dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Isolasi Sosial”

Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari keterbatasan kemampuan baik


dalam pengalaman maupun pengetahuan serta waktu yang tersedia sehingga kami
yakin dalam penyajian makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Namun demikian
kami telah berusaha secara maksimal dengan melaksanakan kelompok belajar.

Harapan kami semoga hasil yang telah dicapai dalam makalah ini dapat
bermanfaat. Untuk penyempurnaan penulisan, diharapkan saran dan kritik yang
membangun demi perbaikan selanjutnya.

Bandung, September 2018

Penyusun (Kelompok 1)

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii
BAB I ............................................................................................................................ 1
TINJAUAN TEORI ...................................................................................................... 1
A. Definisi ............................................................................................................... 1
B. Rentang Respon Hubungan Sosial ..................................................................... 1
C. Perkembangan Hubungan Sosial ....................................................................... 3
D. Etiologi ............................................................................................................... 6
E. Tanda dan Gejala................................................................................................ 8
F. Batasan Karakteristik Isolasi Sosial ................................................................... 9
G. Pengkajian ........................................................................................................ 10
H. Pohon Masalah ................................................................................................. 13
I. Diagnosa Keperawatan..................................................................................... 13
J. Tindakan Keperawatan..................................................................................... 13
BAB II ......................................................................................................................... 16
TINJAUAN KASUS ................................................................................................... 16
A. Kasus ................................................................................................................ 16
B. Pembahasan ...................................................................................................... 16
BAB III ....................................................................................................................... 62
PENUTUP ................................................................................................................... 62
A. Kesimpulan ...................................................................................................... 62
B. Saran ................................................................................................................. 62
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 63

ii
BAB I

TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Isolasi sosial adalah suatu gangguan hubungan interpersonal yang
terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan
perilaku maladaptive dan menganggufungsi seseorang dalam hubungan sosial
(Depkes RI, 2000 dalam Buku Ajar Keperawatan Jiwa tahun 2010).
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang individu mengalami
penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang
lain di sekitarnya. Klien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian,
dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Iyus &
Titin, 2010)
Isolasi sosial juga merupakan kesepian yang dialami oleh individu dan
dirasakan saat di dorong oleh keberadaan orang lain dan sebagai pernyataan
negatif atau mengancam (Nanda-I, 2012, dalam Asuhan Keperawatan Jiwa
tahun 2012)

B. Rentang Respon Hubungan Sosial


Berdasarkan buku keperawatan jiwa dari Stuart (2006) dalam Asuhan
Keperawatan tahun 2012 menyatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial,
untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan mereka harus membina
interpersonal yang positif, individu juga harus membina salin tergantung yang
merupakan keseimbangan antara ketergantungan dan kemandirian dalam
suatu hubungan.

1
2

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Menyendiri Kesepian Manipulasi

Otonomi Menarik diri Impulsif

Kebersamaan Ketergantungan Narkisisme

Saling ketergantungan

1. Menyendiri (solitude)
Merupakan respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa
yang telah dilakukan dilingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi
diri untuk menentukkan langkah selanjutnya. Solitude umumnya
dilakukan setelah melakukan kegiatan.
2. Otonomi
Merupakan kemampuan individu untuk menentukkan dan menyampaikan
ide-ide pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
3. Kebersamaan (mutualisme)
Mutualisme adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana
individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima.
4. Saling ketergantungan (Intedependen)
Intedependen merupakan kondisi saling ketergantungan antar individu
dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.
5. Kesepian
Merupakan kondisi dimana individu merasa sendiri dan terasing dari
lingkungan.
6. Isolasi sosial
3

Merupaka suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam


membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
7. Ketergantungan (Dependen)
Dependen terjadi bila seorang gagal mengembangkan rasa percaya diri
atau kemampuannya untuk berfungsi secara sukses. Pada gangguan
hubungan sosial jenis ini orang lain diperlakukan sebagai objek, hubungan
terpusat pada masalah pengendalian orang lain, dan individu cenderung
berorientasi pada diri sendiri atau tujuan, bukan pada orang lain.
8. Manipulasi
Merupakan gangguan hubungan sosial yang terdapat pada individu yang
menganggap orang lain sebagai objek. Individu tersebut tidak dapat
membina hubungan sosial secara mendalam.
9. Impulsive
Individu impulsive tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu
belajar dari pengalaman, tidak dapat diandalkan, dan penilaian yang
buruk.
10. Narkisisme
Pada individu narsisme terdapat harga diri yang rapuh, secara terus
menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian, sikap egosentrik,
pencemburu, marah jika orang lain tidak mendukung.

C. Perkembangan Hubungan Sosial


Menurut Stuart dan Sundden (1998) dikembangkan oleh Mustika Sari
(2002) dalam Asuhan Keperawatan Jiwa tahun 2012. Untuk mengembangkan
hubungan sosial positif, setiap tugas perkembangan sepanjang daur kehidupan
diharapkan dilalui dengan sukses sehingga kemampuan membina hubungan
sosial dapat menghasilkan kepuasan bagi individu.
4

1. Bayi
Bayi sangat tergantung pada orang lain dalam pemenuhan kebutuhan
biologisnya. Bayi umumnya menggunakan komunikasi yang sangat
sederhana dalam menyampaikan kebutuhannya. Konsisten ibu dan anak
seperti stimulasi sentuhan, kontak mata, komunikasi yang hangat
merupakan aspek yang penting yang harus di bina sejak dini karena akan
menghasilkan rasa aman dan rasa percaya yang mendasar.
Kegagalan pemenuhan kebutuhan bayi melalui ketergantungan pada orang
lain akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri sendiri dan orang lain,
serta menarik diri.
2. Pra-Sekolah
Meterson menamakan masa antara 18 bulan dan 3 tahun adalah taraf
pemisahan pribadi. Anak pra sekolah mulai memperluas hubungan
sosialnya diluar keluarga khususnya ibu. Anak menggunakan kemampuan
berhubungan yang telah dimiliki untuk berhubungan dengan lingkungan
diluar keluarga. Dalam hal ini anak membutuhkan dukungan dan bantuan
dari keluarga. Khususnya pemberian pengakuan positif terhadap perilaku
anak yang adaptif. Hal ini merupakan dasar otonomi anak yang berguna
untuk mengembangkan kemampuan hubungan interdependen. Kegagalan
dalam membina hubungan dengan teman sekolah, kurangnya dukungan
guru dan pembatasan serta dukungan yang tidak konsisten dari orangtua
mengakibatkan frustasi terhadap kemampuannya, putus asa, merasa tidak
mampu dan menarik diri dari lingkungan.
3. Anak-anak
Anak mulai mengembangkan dirinya sebagai individu yang mandiri
dan mulai mengenal lingkungan lebih luas, dimana anak mulai membina
hubungan dengan teman-temannya. Pada usia ini anak mulai mengenal
bekerja sama, kompetisi, kompromi. Komflik sering terjadi dengan
orangtua karena pembatasan dan dukungan yang tidak konsisten. Teman
5

dengan orang dewasa diluar keluarga (guru, orangtua, teman) merupakan


sumber pendukung yang penting bagi anak.
4. Remaja
Pada usia ini anak mengembangkan hubungan intim dengan yeman
sebaya dan sejenis dan umunya mempunyai sahabat karib. Hubungan
dengan teman sangat tergantung sedangakan hubungan dengan orang tua
mulai interdependen.
Kegagalan membina hubungan dengan teman dan kurangnya
dukungan orang tua akan mengakibatkan keraguan identitas, ketidak
mampuan mengidentifikasi karir dan rasa percaya diri yang kurang.
5. Dewasa Muda
Pada usia ini individu mempertahankan hubungan interdependen
dengan orang tua dan temana sebaya. Individu belajar mengambil
keputusan dengan memperhatikan dan saran orang lain, seperti : memilih
pekerjaan, memilih karir, melangsungkan pernikahan.
Kegagalan individu dalam melanjutkan sekolah, pekerjaan, pernikahan
akan mengakibatkan individu menghindari hubungan intim, menjauhi
orang lain, putus asa akan karir.
6. Dewasa Tengah
Individu pada usia dewasa tengah umunya telah pisah tempat tinggal
dengan orang tua khususnya individu yang telah menikah. Jika ia telah
menikah maka peran menjadi orang tua dan mempunyai hubungan antar
orang dewasa merupakan situasi tempat menguji kemampuan hubungan
interdependen.
Kegagalan pisah tempat tinggal dengan orang tua, membina hubungan
yang baru, dan memdapatkan dukungan dari orang dewasa lain akan
mengakibatkan perhatian hanya tertuju pada diri sendiri, produktifitas dan
kreatifitas berkurang, perhatian pada orang lain berkurang.
6

7. Dewasa Lanjut
Pada masa individu akan mengalami kehilangan, baik itu kehilangan
fisik, kegiatan, pekerjaan, teman hidup (teman sebaya dan pasangan),
anggota keluarga (kematian orang tua). Individu tetap memerlukan
hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Individu yang mempunyai
perkembangan yang baik dalam menerima kehilangan yang terjadi dalam
kehidupannya dan mengakui bahwa dukungan orang lain dapat membantu
dalam menghadapi kehilangannya.
Kegagalan pada masa ini dapat menyababkan individu merasa tidak
berguna, tidak dihargai dan hal ini dapat menyebabkan individu menarik
diri dan rendah diri.

D. Etiologi
1. Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan isolasi sosial adalah :
a. Faktor perkembangan
Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus
dilalui individu dengan sukses, karena apabila tugas perkembangan ini
tidak dapat dipenuhi, akan menghambat masa perkembangan
selanjutnya. Keluarga adalah tempat pertama yang memberikan
pengalaman bagi individu dalam menjalin hubungan dengan orang
lain. Kurangnya stimulasi, kasih sayang, perhatian dari kehangatan
dari ibu / pengasuh pada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang
dapat menghambat terbentuknya rasa percaya diri. Rasa ketidak
percayaan tersebut dapat mengembangkan tingkah laku curuga pada
orang lain maupun lingkungan dikemudian hari. Komunikasi yang
hangat sangat penting dalam masa ini, agar anak tidak merasa
diperlakukan sebagai objek.
7

b. Faktor sosial budaya


Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan
merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan berhungan. Dapat
juga disebabkan oleh karena norma-norma yang salah yang dianut oleh
satu keluarga, seperti anggota tidak produktif diasingkan dari
lingkungan sosial.
c. Faktor biologis
Genetic merupakan salah satu faktor pendukung gangguan
jiwa. Insiden tertinggi skizofrenia ditemukan pada keluarga yang
anggota keluarganya ada yang menderita skizofrenia. Berdasarkan
hasil penelitian pada kembar monozigot apabila salah satu diantaranya
menderita skizofrenia adalah 58%, sedangkan bagi kembar dizigot
persentasenya 8%.
Kelainan pada struktur otak seperti atropi, pembesaran
ventrikel, penurunan berat dan volume otak serta perubahan struktur
limbik, diduga dapat menyebabkan skizofrenia.
2. Faktor Presipitasi
Stresor presipitasi terjadinya isolasi sosial dapt ditimbulkan oleh faktor
internal maupun eksternal, meliputi :
a. Stressor sosial budaya
Stressor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam
berhubungan, terjadinya penurunan stabilitas keluarga seperti
perceraian, berpisah dengan orang yang dicintai, kehilangan pasangan
pada usia tua, kesepian karena ditinggal jauh, dirawat dirumah sakit,
atau dipenjara. Semua ini dapat menimbulkan isolasi sosial.
b. Stressor biokimia
1) Teori dopamine : kelebihan dopamine pada mesokortikal dan
mesolimbic serta traktus saraf dapat merupakan indikasi terjadinya
skizofrenia
8

2) Menurunnya MAO (Mono Amino Oksidasi) didalam darah akan


meningkatkan dopamine dalam otak. Karena salah satu kegiatan
MAO adalah sebagai enzim yang menurunkan dopamine, maka
menurunnya MAO juga dapat merupakan indikasi terjadinya
skizofrenia.
3) Faktor endokrin : jumlah FSH dan LH yang rendah ditemukan
pada klien skizofrenia. Demikian pula prolaktin mengalami
penurunan karena dihambat.

E. Tanda dan Gejala


Menurut Mustiak Sari (2002), tanda dan gejala klien dengan isolasi sosial,
yaitu :
1. Kurang spontan
2. Apatis (kurang acuh terhadap lingkungan)
3. Ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi sedih)
4. Afek tumpul
5. Tidak merawat dan memperhatiakan kebersihan diri
6. Komunikasi verbal menurun atau tidak ada. Klien tidak bercakap-cakap
dengan klien lain atau perawat
7. Mengisolasi (menyendiri)
8. Klien tampak memisahkan diri dari orang lain
9. Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitar
10. Pemasukan makan dan minuman terganggu
11. Retensi urine dan feses
12. Aktivitas menurun kurang energy (tenaga)
13. Harga diri rendah
14. Menolak hubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau
pergi jika diajak bercakap-cakap
9

F. Batasan Karakteristik Isolasi Sosial


Batasan karakteristik klien dengan isolasi sosial menurut Nanda – I, (2012),
dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Objektif
a. Tidak ada dukungan orange yang dianggap penting,
b. Perilaku yang tidak sesuai dengan perkembangan,
c. Afek tumpul,
d. Ada didalam subkultur,
e. Sakit,
f. Tidakan tidak berarti,
g. Tidak ada kontak mata,
h. Dipenuhi dengan pikiran sendiri,
i. Menunjukan permusuhan,
j. Tindakan berulang,
k. Afek sedih,
l. Ingin sendirian,
m. Tidak komunikatif,
n. Menarik diri.
2. Subjektif
a. Minat yang tidak sesuai dengan perkembangan.
b. Mengalami perasaan berbeda dari orang lain.
c. Ketidak mampuan memenuhi harapan orang lain.
d. Tidak percaya diri saat berhadapan dengan public.
e. Mengungkapkan perasaan yang didorong oleh orang lain.
f. Mengungkapkan perasaan penolakan.
g. Mengungkapkan tujuan hidup yang tidak adekuat.
h. Mengungkapkan nilai yang tidak dapat diterima oleh kelompok
kultural yang dominan
10

G. Pengkajian
1. Faktor predisposisi
a. Faktor perkembangan
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas
perkembangan yang harus dilalui individu dengan sukses agar tidak
terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Tugas perkembangan pada
masing-masing tahap tumbuh kembang ini memiliki karakteristik
tersendiri. Apabila tugas ini tidak terpenuhi, akan mencetuskan
seseorang sehingga mempunyai masalah respon sosial maladaptive.
Sistem keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembangan
respon sosial maladaptive. Beberapa orang percaya bahwa individu
yang mempunyai masalah ini adalah orang-orang yang tidak berhasil
memisahkan dirinya dan orang tua. Norma keluarga yang tidak
mendukung hubungan keluarga dengan pihak lain di luar keluarga.
b. Faktor biologis
Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan
jiwa. Berdasarkan hasil penelitian, pada penderita skizofrenia 8%
kelainan pada struktur otak, seperti atropi, pembesaran ventrikel,
penurunan beart dan volume otak serta perubahan struktur limbik di
duga dapat menyebabkan skizofrenia.
c. Faktor sosial budaya
Isolasi sosial merupakan faktor dalam gangguan berhubungan.
Ini akibat dan norma yang tidak mendukung pendekatan
terhadaporang lain, atau tidak menghargai anggota masyarakat yang
tidak produktif, seperti lansia, orang cacat, dan berpenyakit kronik.
Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma, perilaku dan sistem
nilai yang berbeda dan kelompok budaya mayoritas. Harapan yang
tidak realistis terhdarap hubungan merupakan faktor lain yang
berkaitan dengan gangguan ini.
11

d. Faktor komunikasi dalam keluarga


Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor
pendukung untuk terjadinya gangguan dalam berhubungan sosial.
Dalam teori ini termasuk masalah komunikasi yang tidak jelas yaitu
suatu keadaan dimana seseorang anggota keluarga menerima pesan
yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan, ekspresi emosi
yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan
dengan lingkungan diluar keluarga.
2. Stressor Presipitasi
Stressor presipitasipada umumnya mencakup kejadian kehidupan yang
penuh stress seperti kehilangan, yang mempengaruhi kemampuan individu
untuk berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas. Stressor
presipitasi dapat dikelompokkan dalam kategori :
a. Stressor sosial budaya
Stress dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor antara faktor lain
dan faktor keluarga seperti menurunnya stabilitas unit keluarga dan
berpisah dari orang yang berarti dalam kehidupannya, misalnya
dirawat dirumah sakit.
b. Stressor psikologis
Tingkat kecemasan yang berat akan menyebabkan menurunnya
kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain. Intensitas
kecemasan yang ekstrim dan memanjang disertai terbatasnya
kemampuan individu mengatasi masalah diyakini akan menimbulkan
berbagai masalah gangguan berhubungan (Isolasi sosial).
c. Perilaku
Adapun perilaku yang biasa muncul pada isolasi sosial berupa :
kurang spontan, apatis (kurang acuh terhadap lingkungan), ekspresi
wajah kurang berseri (ekspresi sedih), afek tumpul. Tidak merawat dan
12

memperhatikan kebersihan diri, komunikasi verbal menurun atau tidak


ada klien tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat, isolasi
diri (menyendiri). Klien tampak memisahkan diri dari orang lain, tidak
atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitar. Pemasukan makanan
dan minuman terganggu, retensi urin dan feses, aktivitas menurun,
kurang energy (tenaga), harga diri rendah, menolak hubungan dengan
orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak
bercakap-cakap.
d. Sumber Koping
Sumber koping yang berhubungan dengan respon sosial
maladaptive termasuk keterlibatan dalam hubungan yang luas di dalam
keluarga maupun teman, menggunakan kreatifitas untuk
mengeskpresikan stress interpersonal seperti kesenian, music atau
tulisan.
e. Mekanisme Defensif
Mekanisme yang digunakan klien sebagai usaha mengatasi
kecemasan yang merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam
dirinya. Mekanisme yang sering digunakan pada isolasi sosial adalah
regresi, represi, dan isolasi.
1) Regresi adalah mundur ke masa perkembangan yang telah lain.
2) Represi adalah perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran yang tidak
dapat diterima, secara sadar dibendung supaya jangan tiba di
kesadaran.
3) Isolasi adalah mekanisme mental tidak sadar yang mengakibatkan
timbulnya kegagalan defensive dalam menghubungkan perilaku
dengan motivasi atau pertentangan antara sikap dan perilaku.
13

H. Pohon Masalah

I. Diagnosa Keperawatan
1. Isolasi sosial
2. Harga diri rendah kronik
3. Resiko gangguan persepsi sensori : Halusinasi
4. Koping keluarga tidak efektif
5. Koping individu tidak efektif
6. Intoleransi aktivitas
7. Defisit perawatan diri
8. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan

J. Tindakan Keperawatan
1. Membina Hubungan Saling Percaya
Untuk membina hubungan saling percaya pada pasien isolasi sosial
kadang-kadang perlu waktu yang tidak singkat. Perawat harus konsisten
bersikap terapeutik pada pasien. Tindakan yang dilakukan dalam membina
hubungan saling percaya, adalah :
a. Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan klien.
14

b. Berkenalan dengan klien: perkenalkan nama dan nama panggilan yang


saudara sukai, serta tanyakan nama dan nama panggilan klien.
c. Menanyakan perasaan dan keluhan klien saat ini.
d. Buat kontrak asuhan: apa yang akan dilakukan bersama klien, berapa
lama akan dikerjakan, dan tempatnya dimana.
e. Jelaskan bahwa perawat akan merahasiakan informasi yang diperoleh
untuk kepentingan terapi.
f. Setiap saat tunjukkan sikap empati kepada klien.
g. Penuhi kebutuhan klien saat berinteraksi.
2. Membantu Klien Menyadari Perilaku Isolasi Sosial
Mungkin perilaku isolasi sosial yang dialami klien dianggap sebagai
perilaku yang normal. Agar klien menyadari bahwa perilaku tersebut perlu
diatasi maka hal yang pertama dilakukan adalah menyadarkan klien bahwa
isolasi sosial merupakan masalah dan perlu diatasi. Hal tersebut dapat
digali dengan menanyakan:
a. Pendapat klien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.
b. Menanyakan apa yang menyebabkan klien tidak ingin berinteraksi
dengan orang lain.
c. Diskusikan keuntungan bila klien memiliki banyak teman dan bergaul
akrab dengan mereka.
d. Diskusikan kerugian bilanklien hanya mengurung diri dan tidak
bergaul dengan orang lain.
e. Jelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik klien.
3. Melatih Klien Cara-cara Berinteraksi dengan Orang lain Secara Bertahap
a. Jelaskan kepada klien cara berinteraksi dengan orang lain.
b. Berikan contoh cara berbicara dengan orang lain.
c. Beri kesempatan klien mempraktikan cara berinteraksi dengan orang
lain yang dilakukan dihadapan perawat.
15

d. Mulailah bantu klien berinteraksi dengan satu orang teman atau


anggota keluarga.
e. Bila klien sudah menunjukkan kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi
dengan dua, tiga, empat orang, dan seterusnya.
f. Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh
klien.
g. Siap mendengarkan ekspresi perasaan klien setelah berinteraksi
dengan orang lain. Mungkin klien akan mengungkapkan keberhasilan
atau kegagalannya. Beri dorongan terus-menerus agar klien tetap
semangat meningkatkan interaksinya.
4. Diskusikan dengan klien tentang kekurangan dan kelebihan yang dimiliki.
5. Inventarisir kelebihan klien yang dapat dijadikan motivasi untuk
membangun kepercayaan diri klien dalam pergaulan.
6. Ajarkan kepada klien koping mekanisme yang konstruktif.
7. Libatkan klien dalam interaksi dan terapi kelompok secara bertahap.
8. Diskusikan dengan keluarga pentingnya interaksi klien yang dimulai
dengan keluarga terdekat.
9. Eksplorasi keyakinan agama klien dalam menumbuhkan sikap pentingya
sosialisasi dengan lingkungan sekitar.
BAB II

TINJAUAN KASUS

A. Kasus
Seorang pasien laki-laki, Tn. K (40 tahun), dibawa ke RSJ, karena
sebelumnya selama 1 bulan klien sering menyendiri, bicara sendiri, bingung,
sulit tidur tidak mau makan, jarang sekali bergaul dengan lingkungan. Tn. K
mengatakan kalau dia merasa malu dan juga merasa dirinya itu selalu di
banding-bandingkan dengan kakak nya oleh orang tuanya. Kakak Tn. K
memiliki bisnis dalam rumah makan yang sukses dan laris, sedangkan Tn. K
tidak memiliki bisnis apapun dan pengangguran sejak 2 tahun lalu, hingga
akhirnya istrinya menceraikannya 4 bulan yang lalu. Semenjak itu, Tn. K
mengalami banyak perubahan perilaku, tidak mau keluar rumah, dan
cenderung berdiam diri di kamar seharian tanpa melakukan kegiatan apa-apa.
Saat di kaji, pembicaraan Tn. K pelan dan lambat, afek tumpul, tatapan
nya cenderung menunduk, badannya membungkuk. Komunikasi kurang,
tampak klien tidak tahu kapan, dan dimana dia berada. Klien tidak pernah
memulai pembicaraan dan perkenalan, serta Tn. K juga mengaku dia tidak
suka berkumpul dengan pasien lainnya, karena dia merasa minder dan tidak
mau kalau orang lain atau saudaranya tahu tentang dirinya yang tidak
memiliki pekerjaan apa-apa dan telah menjadi duda. Saat terbaring di tempat
tidur, klien tampak tidur dengan posisi membungkuk seperti janin. Terapi
yang sedang di dapatkan oleh: Qutipine 1x1 400mg per oral.

B. Pembahasan
Ruangan Rawat : Tidak Terkaji
Tanggal Dirawat : Tidak Terkaji

16
17

1. Identitas Klien
Inisial : Tn. K (L)
Tanggal Pengkajian : Tidak Terkaji
Umur : 40 tahun
RM NO. : Tidak Terkaji
Informan : Tidak Terkaji
2. Alasan Masuk
Klien dibawa ke RSJ karena sebelumnya selama 1 bulan klien sering
menyendiri, bicara sendiri, bingung, sulit tidur, tidak mau makan, jarang
sekali bergaul dengan lingkungannya.
3. Faktor Predisposisi
a. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu ?
( ) Ya ( X ) Tidak
b. Pengobatan sebelumnya
( ) Berhasil ( ) kurang berhasil ( ) tidak berhasil

Pelaku/Usia Korban/Usia Saksi/Usia

Aniaya fisik

Aniaya seksual

Penolakan

Kekerasan dalam

keluarga

Tindakan kriminal
18

Jelaskan No. 1, 2, 3 : Tidak Terkaji


Masalah Keperawatan : Tidak Terkaji

c. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa


( ) Ya ( X ) Tidak

Hubungan keluarga Gejala Riwayat

Pengobatan/perawatan

Tanyakan kepada klien / keluarga apakah ada anggota keluarga


Iainnya yang mengalami gangguan jiwa

Masalah Keperawatan : Tidak Terkaji

d. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan


Klien menjadi pengangguran sejak 2 tahun yang lalu dan istrinya
menceraikannya 4 bulan yang lalu.
Masalah Keperawatan :

4. Fisik
a. Tanda vital : TD : Tidak Terkaji N : Tidak Terkaji
S : Tidak Terkaji P : Tidak Terkaji
b. Ukur : TB : Tidak Terkaji BB : Tidak Terkaji
c. Keluhan fisik : ( ) Ya ( ) Tidak
Jelaskan : Tidak Terkaji
Masalah keperawatan : Tidak Terkaji
5. Psikososial
a. Genogram
19

Jelaskan : Tidak Terkaji


Masalah keperawatan : Tidak Terkaji

b. Konsep Diri
1) Gambaran diri : Tidak ada satupun bagian tubuh klien yang
tidak disukai ataupun yang dibanggakan
2) Identitas : Klien merupakan seorang laki-laki yang
berusia 40 tahun
3) Peran : Klien merupakan seorang duda
4) Ideal diri : Klien tidak mau dibanding-bandingkan dengan
kakaknya oleh orang tuanya dan klien tidak
mau kalau orang lain atau saudaranya tahu
tentang dirinya yang tidak emiliki pekerjaan
apa-apa dan telah menjadi duda
5) Harga diri : Klien merasa malu dan juga merasa dirinya itu
selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya
oleh orang tuanya serta klien merasa minder
dan tidak mau kalau orang lain atau
saudaranya tahu tentang dirinya yang tidak
memiliki pekerjaan apa-apa dan telah menjadi
duda
Masalah keperawatan :
c. Hubungan sosial
1) Orang yang berarti : Tanyakan orang yang paling berarti
dalam kehidupannya
2) Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat :
Tanyakan kegiatan kelompok apa yang dilakukan oleh klien
3) Hambatan dalam berbuhungan dengan orang Lain :
4) Klien jarang sekali bergaul dengan lingkungan dan tidak suka
berkumpul dengan pasien lainnya karena klien merasa minder
Masalah keperawatan :
d. Spiritual
1) Nilai dan keyakinan : Tanyakan persepsi klien tentang penyakitnya
dan tanyakan juga bagaimana kegiatan
kebudayaan di lingkungannya.
2) Kegiatan ibadah : Tanyakan dan lihat apakah klien selalu
melakukan ibadah sesuai kepercayaannya
20

Masalah keperawatan :

6. Status Mental
a. Penampilan
( ) Tidak rapi ( ) Penggunaan pakaian tidak sesuai
( ) Cara berpakaian tidak seperti biasanya
Jelaskan : Tidak terkaji, namun seharusnya kaji bagaimana cara
berpakaian klien
Masalah Keperawatan : Tidak Terkaji
b. Pembicaraan
( ) Cepat ( ) Keras ( ) Gagap ( ) Inkoheren
( ) Apatis ( X ) Lambat ( ) Membisu
( ) Tidak mampu memulai pembicaraan
Jelaskan : Pada saat dikaji pembicaraan klien pelan dan lambat,
komunikasi kurang, klien tidak pernah memulai
pembicaraan dan perkenalan
Masalah Keperawan : Tidak Terkaji
c. Aktivitas motorik
( ) Lesu ( ) Tegang ( ) Gelisah ( ) Agitasi
( ) Tik ( ) Grimasen ( ) Tremor ( ) Komfulsif
Jelaskan : Tidak Terkaji
Masalah keperawatan : Tidak Terkaji
d. Alam perasaan
( ) Sedih ( ) Ketakutan ( X ) Putus asa ( ) Khawatir
( ) Gembira berlebihan
Jelaskan : Karena klien sering dibanding-bandingkan tidak mau ke
luar rumah, dan cenderung berdiam diri di kamar seharian
tanpa melakukan kegiatan apa-apa.
Masalah Keperawatan :
e. Afek
( ) Datar ( X ) Tumpul ( ) Labil ( ) Tidak sesuai
Jelaskan : Pembicaraan klien pelan dan lambat, tatapannya cenderung
menunduk.
Masalah Keperawatan :
f. Interaksi selama wawancara
( ) Bermusuhan ( ) Tidak kooperatif ( ) Mudah tersinggung
( X ) Kontak mata (-) ( ) Defensif ( ) Curiga
Jelaskan : Tatapan klien cenderung menunduk.
Masalah Keperawatan :
21

g. Persepsi
( ) Pendengaran ( ) Penglihatan ( ) Perabaan
( ) Pengecapan ( ) Penghidu
Jelaskan : Tidak Terkaji.
Masalah Keperawatan : Tidak Terkaji
h. Proses pikir
( ) sirkumtansial ( ) tangensial
( ) kehilangan asosiasi ( ) flight of idea ( ) blocking
( ) pengulangan pembicaraan/persevarasi
Jelaskan : Tidak Terkaji
Masalah Keperawatan : Tidak Terkaji
i. Isi pikir
( ) Obsesi ( ) Fobia ( ) Hipokondria
( ) depersonalisasi ( ) ide yang terkait ( ) pikiran magis
j. Waham
( ) Agama ( ) Somatik ( ) Kebesaran
( ) Curiga ( ) Nihilistic ( ) sisip pikir
( ) Siar piki ( ) Kontrol pikir
Jelaskan : Tidak Terkaji
Masalah keperawatan : Tidak Terkaji
k. Tingkat kesadaran
( ) bingung ( ) sedasi ( ) stupor

Disorientasi
( X ) waktu ( X ) tempat ( ) orang
Jelaskan : Klien tampak tidak tahub kapan dan dimana dia berada
Masalah Keperawatan :
l. Memori
( ) Gangguan daya ingat jangka panjang
( ) gangguan daya ingat jangka pendek
( X ) gangguan daya ingat saat ini
( ) konfabulasi
Jelaskan : Klien tidak tahu kapan dan dimana dia berada.
Masalah Keperawatan :
m. Tingkat konsentrasi dan berhitung
( ) mudah beralih ( ) tidak mampu konsentrasi
( ) Tidak mampu berhitung sederhana
Jelaskan : Tidak Terkaji. Hal yang harus dikaji yaitu tingkat
konsentrasi (menjawab pertanyaan dan tidak mengulang
22

pertanyaan) dan berhitung (Berikan salah satu soal misalnya


5 x 5?)
Masalah Keperawatan :
n. Kemampuan penilaian
( ) Gangguan ringan ( ) gangguan bermakna
Jelaskan : Tidak Terkaji
Namun berikan kesempatan klien untuk dapat mengambil
keputusannya sendiri (misal, berikan kesempatan pada klien
untuk memilih mandi dulu sebelum makan atau makan dulu
sebelum mandi).
Masalah Keperawatan :
o. Daya tilik diri
( ) mengingkari penyakit yang diderita
( X ) menyalahkan hal-hal diluar dirinya
Jelaskan : Klien tidak mau dibanding-bandingkan dengan kakaknya
oleh orang tuanya
Masalah Keperawatan :
7. Kebutuhan Persiapan Pulang
a. Makan
( ) Bantuan minimal ( ) Bantuan total
b. BAB/BAK
( ) Bantuan minimal ( ) Bantual total
Jelaskan : Tidak Terkaji
Masalah keperawatan : Tidak Terkaji
c. Mandi
( ) Bantuan minimal ( ) Bantuan total
d. Berpakaian/berhias
( ) Bantuan minimal ( ) Bantual total
e. Istirahat dan tidur
( ) Tidur siang lama : ………………….s/d…………………………
( ) Tidur malam lama : …………………s/d………………………....
( ) Kegiatan sebelum / sesudah tidur
f. Penggunaan obat
( ) Bantuan minimal ( ) Bantual total
g. Pemeliharaan Kesehatan
Perawatan lanjutan ( ) Ya ( )Tidak
Perawatan pendukung ( ) Ya ( ) Tidak
h. Kegiatan di dalam rumah
Mempersiapkan makanan ( ) Ya ( ) tidak
23

Menjaga kerapihan rumah ( ) Ya ( ) tidak


Mencuci pakaian ( ) Ya ( ) tidak
Pengaturan keuangan ( ) Ya ( ) tidak
i. Kegiatan di luar rumah
Belanja ( ) Ya ( ) tidak
Transportasi ( ) Ya ( ) tidak
Lain-lain ( ) Ya ( ) tidak
Jelaskan : Tidak Terkaji
Masalah keperawatan : Tidak Terkaji

8. Mekanisme Koping
Adaftif Maladaftif
Bicara dengan orang lain Minum alkohol
Mampu menyelesaikan masalah reaksi lambat/berlebih
Teknik relaksasi bekerja berlebihan
Aktivitas konstruktif X Menghindar
Olahraga mencederai diri
Lainnya...................... Lainnya..................
Masalah keperawatan :

9. Masalah Psikososial Dan Lingkungan


( X ) Masalah dengan dukungan kelompok, spesifik
Klien selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya oleh orang
tuanya.
( X ) Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifik
Klien jarang bergaul dengan lingkungan sekitarnya.

( ) Masalah dengan pendidikan, spesifik

( ) Masalah dengan pekerjaan, spesifik

( ) Masalah dengan perumahan, spesifik

( ) Masalah ekonomi, spesifik


24

( ) Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifik

( ) Masalah lainnya, spesifik

Masalah Keperawatan :

10. Pengetahuan Kurang Tentang


( ) Penyakit jiwa ( ) system pendukung
(X) Faktor presipitasi ( ) penyakit fisik
(X) Koping ( ) obat-obatan
( ) Lainnya :............
Masalah Keperawatan :

11. Terapi
Nama Obat Dosis Indikasi Mekanisme Kerja Efek Samping

Quetiapine 1x1 Untuk mengebati Memblokade Pusing, ngantuk,


400 mg kondisi jiwa atau dopamin-serotonin perasaan lelah,
per oral suasana hati tertentu pada reseptor pasca mulut kering, sakit
(seperti skizofrenia, sinaptik neuron otak tenggorokan, sakit
gangguan bipolar, khususnya di limbik perut, mual,
episode mania atau dan sistem ekstra muntah, sembelit.
depresi terkait pyramidal.
dengan gangguan
bipolar)

12. Analisa Data


NO Data Masalah Keperawatan
1. Do : Isolasi Sosial
1. Komunikasi klien kurang
2. Klien tampak tidak tahu
kapan dan dimana dia berada
3. Klien terlihat tidak mau
memulai pembicaraan dan
perkenalan
25

4. Klien tampak tidur dengan


posisi membungkuk
5. Klien tidak mau keluar
rumah, dan cenderung
berdiam diri di kamar
seharian tanpa melakukan
kegiatan apa-apa.
Ds :
1. Klien mengaku dia tidak suka
berkumpul dengan pasien
lain.
2 Do : Harga Diri Rendah
1. Pembicaraan klien pelan dan
lambat, afek tumpul,
tatapannya cenderung
menunduk dan badannya
membungkuk
Ds :
1. Klien mengatakan merasa
malu dan juga merasa dirinya
selalu dibanding-bandingkan
dengan kakaknya.
13. Intervensi Keperawatan

PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
Isolasi Pasien mampu : Setelah 3 kali pertemuan pasien SP 1 1. Untuk
mampu : mengetahui
sosial 1. Menyadiri penyebab 1. Identifikasi penyebab penyebab
isolasi sosial 1. Membina hubungan saling a. Siapa yang satu rumah isolasi sosial
2. Berinteraksi dengan percaya. dengan pasien? pada klien
orang lain 2. Menyadari penyebab isolasi b. Siapa yang dekat 2. Untuk
sosial, keuntungan dan kerugian dengan pasien? Apa mengetahui
berinteraksi dengan orang lain. penyebabnya? hubungan
3. Melakukan interaksi dengan c. Siapa yang tidak dekat interaksi klien
orang lain secara bertahap. dengan pasien apa dengan orang
sebabnya? lain
2. Tanyakan keuntungan dan 3. Untuk melatih
kerugian berinteraksi pasien agar
dengan orang lain. dapat
a. Tanyakan pendapat berinteraksi
pasien tentang dengan orang
kebiasaan berinteraksi lain
dengan orang lain. 4. Agar kegiatan
b. Tanyakan apa yang yang akan
menyebabkan pasien dilakukan
tidak ingin tersusun dengan
berinteraksi dengan rapi sehingga
orang lain. mencapai tujuan
c. Diskusikan

26
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
keuntungan bila pasien
memiliki banyak
teman dan bergaul
akrab dengan mereka.
d. Diskusikan kerugian
bila pasien hanya
mengurung diri dan
tidak bergaul dengan
orang lain.
e. Jelaskan pengaruh
isolasi sosial terhadap
kekerasan fisik pasien.
3. Latihan berkenalan
a. Jelaskan kepada
pasien cara
berinteraksi dengan
orang lain.
b. Berikan contoh cara
berinteraksi dengan
orang lain
c. Beri kesempatan
pasien
mempraktekkan cara
berinteraksi dengan
orang lain yang
dilakukan dihadapan

27
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
perawat.
d. Mulailah bantu pasien
berinteraksi dengan
satu orang teman atau
anggota keluarga.
e. Bila pasien sudah
menunjukan kemajuan
tingkatkan jumlah
interaksi dengan dua,
tiga atau empat orang
dan seterusnya.
f. Beri pujian untuk
setiap kemajuan
interaksi yang telah
dilakukan oleh pasien.
g. Siap mendengarkan
ekspresi perasaan
pasien setelah
berinteraksi dengan
orang lain, mungkin
pasien akan
mengungkapkan
keberhasilan atau
kegagalannya, beri
dorongan terus-
menerus agar pasien

28
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
tetap semangat
meningkatkan
interaksinya.
4. Masukan jadwal kegiatan
pasien

SP 2 1. Untuk
mengetahui
1. Evaluasi SP 1. apakah klien
2. Latih berhubungan sosial sudah paham
secara bertahap. tentang
3. Masukan dalam jadwal kegiatan
kegiatan pasien. sebelumya
2. Untuk melatih
klien agar bisa
berinteraksi
dengan baik
3. Agar kegiatan
yang akan
dilakukan
tersusun
dengan rapi
sehingga
mencapai
tujuan

29
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
SP 3 1. Untuk
mengetahui
1. Evaluasi SP 1 dan 2. apakah klien
2. Latih cara berkenalan sudah paham
dengan dua orang atau tentang kegiatan
lebih. sebelumya
3. Masukan jadwal kegiatan 2. Agar klien bisa
pasien melakukan
perkenalan
dengan baik dan
menjalin
hubungan
dengan orang
lain
3. Agar kegiatan
yang akan
dilakukan
tersusun dengan
rapi sehingga
mencapai tujuan
Keluarga mampu : Setelah 3 kali pertemuan keluarga SP 1 1. Agar perawat
mampu menjelaskan tentang : dapat membantu
1. Merawat pasien 1. Identifikasi masalah yang masalah yang
isolasi sosial di 1. Masalah isolasi sosial dan dihadapi keluarga dalam dialami oleh
rumah. dampaknya pada pasien. merawat pasien. keluarga
2. Penyebab isolasi sosial. 2. Penjelasan isolasi sosial. 2. Agar keluarga

30
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
3. Sikap keluarga untuk 3. Cara merawat pasien mengerti tentang
membantu pasien mengatasi isolasi sosial. apa itu isolasi
isolasi sosialnya. 4. Latih (simulasi). sosial
4. Pengobatan yang 5. RTL keluarga atau jadwal 3. Agar keluarga
berkelanjutan dan mencegah keluarga untuk merawat mengerti
putus obat. pasien bagaimana cara
5. Tempat rujukan dan fasilitas merawat pasien
kesehatan yang tersedia bagi dengan isolasi
pasien. sosial
4. Untuk melatih
keterampilan
keluarga
5. Agar kegiatan
yang akan
dilakukan
tersusun dengan
rapi sehingga
mencapai tujuan
SP 2 1. Untuk
mengetahui
1. Evaluasi SP 1. apakah keluarga
2. Latih (langsung ke sudah paham
pasien). tentang kegiatan
3. RTL keluarga atau jadwal sebelumya
keluarga merawat pasien. 2. Untuk melatih
kemampuan

31
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
keluarga dalam
merawat klien
secara langsung
3. Agar kegiatan
yang akan
dilakukan
tersusun dengan
rapi sehingga
mencapai tujuan
SP 3 1. Untuk
mengetahui
1. Evaluasi SP 1 dan 2. apakah keluarga
2. Latih (langsung ke sudah paham
pasien). tentang kegiatan
3. RTL keluarga atau jadwal sebelumya
keluarga merawat pasien. 2. Untuk melatih
kemampuan
keluarga dalam
merawat klien
secara langsung
3. Agar kegiatan
yang akan
dilakukan
tersusun dengan
rapi sehingga
mencapai tujuan

32
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
SP 4 1. Untuk
mengetahui
1. Evaluasi kemampuan sejauh mana
keluarga. kemampuan
2. Evaluasi kemampuan yang dimiliki
pasien. klien setelah
3. Rencana tindak lanjut dilakukan SP 1-3
keluarga 2. Untuk
a. Follow up. mengetahui
b. Rujukan. sejauh mana
kemampuan
yang dimiliki
keluarga setelah
dilakukan SP 1-3
3. Untuk menijau
perkembangan
pasien.
Harga diri Pasien mampu : Setelah 3 kali pertemuan klien SP 1 1.
rendah 1. Mengidentifikasi mampu: 1. Identifikasi kemampuan a. Untuk
kemampuan dan 1. Mengidentifikasi positif yang dimiliki menumbuhkan
aspek positif yang kemampuan aspek positif a. Diskusikan bahwa pasien motivasi klien
dimiliki yang dimiliki masih memiliki sejumlah dalam mengikuti
2. Menilai 2. Memiliki kemampuan yang kemampuan dan aspek kegiatan yang

33
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
kemampuan yang dapat digunakan positif seperti kegiatan akan dilakukan
dapat digunakan 3. Memilih kegiatan sesuai pasien dirumah adanya bersama perawat
3. Menetapkan atau kemampuan keluarga dan lingkungan b. Agar tidak
memilih kegiatan 4. Melakukan kegiatan yang terdekat pasien menambah
yang sesuai dengan sudah dipilih b. Beri pujian yang realistis masalah pada
kemampuan 5. Merencanakan kegiatan dan hindarkan setiap kali pasien, karena
4. Melatih kegiatan yang sudah dilakukan bertemu dengan pasien jika kita
yang sudah dipilih, penilaian yang negatif memberi pujian
sesuai kemampuan 2. Nilai kemampuan yang dapat yang berlebihan
5. Merencanakan dilakukan saat ini akan membuat
kegiatan yang a. Diskusikan dengan pasien pasien
sudah dilatihnya kemampuan yang masih berhalusnasi
digunakan saat ini 2.
b. Bantu pasien a. Agar perawat
menyebutkannya dan dapat
memberi penguatan menggali
terhadap kemampuan diri potensi yang

34
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
yang diungkapkan pasien ada pada diri
c. Perlihatkan respon yang pasien
kondusif dan menjadi sehingga
pendengar yang aktif kegiatan
3. Pilih kemampuan yang akan yang akan
dilatih direncanakan
a. Diskusikan dengan pasien sesuai
beberapa aktivitas yang dengan
dapat dilakukan dan kemampuan
dipilih sebagai kegiatan pasien
yang akan pasien lakukan b. Agar pasien
sehari-hari lebih percaya
b. Bantu pasien menetapkan diri dengan
aktivitas mana yang dapat kemampuann
pasien lakukan secara ya
mandiri c. Agar pasien
1) Aktifitas yang merasa

35
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
memerlukan bantuan dihargai
minimal dari keluarga 3.
2) Aktifitas apa saja yang a. Agar bisa
perlu bantuan penuh menjadwalka
dari keluarga atau n kegiatan
lingkungan terdekat yang pasien
pasien inginkan
3) Beri contoh cara b. Agar pasien
pelaksanaan aktivitas dapat
yang dapat dilakukan melakukan
pasien aktivitas nya
4) Susun bersama pasien secara
aktivitas atau kegiatan mandiri
sehari-hari pasien. 4. Untuk melihat
4. Nilai kemampuan pertama tingkat
yang telah dipilih kemampuan
a. Diskusikan dengan pasien yang pertama

36
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
untuk menetapkan urutan dipilih sudah
kegiatan (yang sudah meningkat atau
dipilih pasien) yang akan belum
dilatihkan. 5. Agar kegiatan
b. Bersama pasien dan yang dilakukan
keluarga memperagakan pasien lebih
beberapa kegiatan yang teratur
akan dilakukan pasien.
c. Berikan dukungan dan
pujian yang nyata sesuai
kemajuan yang
diperlihatkan pasien.
5. Masukkan dalam jadwal
kegiatan pasien
a. Beri kesempatan pada
pasien untuk mencoba
kegiatan.

37
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
b. Beri pujian atas aktivitas
yang dapat dilakukan
pasien setiap hari.
c. Tingkatkan kegiatan
sesuai dengan toleransi
dan setiap perubahan.
d. Susun daftar aktivitas
yang sudah dilatihkan
bersama pasien dan
keluarga.
e. Berikan kesempatan
mengungkapkan
perasaannya setelah
pelaksanaan kegiatan.
f. Yakinkan bahwa keluarga
mendukung setiap
aktivitas yang dilakukan

38
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
pasien.
SP 2 1. Untuk
1. Evaluasi kegiatan yang lalu mengetahui
(SP 1) apakah
2. Pilih kemampuan kedua yang kegiatan yang
dapat dilakukan lalu sudah
3. Latih kemampuan yang tercapai
dipilih 2. Untuk
4. Masukkan dalam jadwal menambah
kegiatan pasien kegiatan yang
dapat dilakukan
pasien
3. Untuk
mengembangka
n kemampuan
4. Agar kegiatan
yang dilakukan

39
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
tersusun
dengan baik
SP 3 1. Untuk
1. Evaluasi kegiatan yang lalu mengetahui
(SP 1 dan 2) apakah
2. Memilih kemampuan ketiga kegiatan yang
yang dapat dilakukan lalu sudah
3. Masukkan dalam jadwal tercapai
kegiatan pasien 2. Untuk
menambah
kegiatan yang
dapat dilakukan
pasien
3. Agar kegiatan
yang dilakukan
tersusun
dengan baik.

40
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
Keluarga mampu : Setelah 3 kali pertemuan keluarga SP 1 1. Agar perawat
Merawat pasien dengan mampu : 1. Identifikasi masalah yang dapat
harga diri rendah dirumah 1. Mengindentifikasi dirasakan dalam merawat membantu
dan menjadi sistem kemampuan yang dimiliki pasien mengatasi
pendukung yang efektif pasien 2. Jelaskan proses terjadinya masalah yang
bagi pasien. 2. Menyediakan fasilitas untuk HDR dirasakan
pasien melakukan kegiatan 3. Jelaskan tentang cara keluarga
3. Mendorong pasien merawat pasien 2. Untuk memberi
melakukan kegiatan 4. Main peran dalam informasi
4. Memuji pasien saat pasien merawat pasien HDR tentang HDR
dapat melakukan kegiatan 5. Susun RTL keluarga atau kepada
5. Membantu melatih pasien jadwal keluarga untuk keluarga
6. Membantu menyusun merawat pasien 3. Agar keluarga
jadwal kegiatan pasien pasien mampu
7. Membantuperkembangan merawat pasien
pasien secara mandiri
4. Untuk

41
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
membantu
perawat dalam
melakukan
perawatan pada
pasien
5. Untuk
memudahkan
keluarga kapan
saatnya bisa
membantu
perawatan
terhadap pasien
SP 2 1. Untuk
1. Evaluasi kemampuan SP 1 mengetahui
2. Latih keluarga langsung tingkat
ke pasien kemampuan
3. Menyusun RTL keluarga keluarga pasien

42
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
atau jadwal keluarga dalam merawat
untuk merawat pasien pasien
2. Untuk melatih
kemampuan
keluarga
3. Untuk
memudahkan
keluarga kapan
saatnya bisa
membantu
perawatan
terhadap pasien
SP 3 1. Untuk
1. Evaluasi kemampuan mengetahui
keluarga tingkat
2. Evaluasi kemampuan kemampuan
pasien keluarga dalam

43
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
3. RTL keluarga : merawat pasien
a. Follow up 2. Untuk
b. Rujukan mengetahui
tingkat
kemampuan
pasien
3. Untuk
mengingatkan
kepada
keluarga jadwal
kegiatan
keperawatan
pasien
Tujuan: Setelah 3 kali pertemuan klien 1. Bimbingan ibadah 1. Agar pasien
1. Untuk bisa lebih mampu: 2. Bimbing pasien untuk tidak melupakan
menenangkan 1. Pasien lebih bisa berdzikir disaat pasien kewajiban
pasien menenangkan dirinya merasa gelisah. ibadah sesuai

44
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
2. Untuk bisa dengan cara ibadah 3. Bimbing pasien untuk keyakinannya
mendekatkan membaca al-quran setelah 2. Agar pasien
pasien kepada sang 2. Pasien lebih bisa selesai sholat. merasa lebih
Maha Pencipta mendekatkan diri kepada 4. Diberikan tayangan yang tenang dan
sang Maha Pencipta berhubungan dengan selalu
kajian makna hidup dalam mengingat
agama. Allah.
3. Agar pasien
tetap fasih
dalam membaca
ayat-ayat al-
quran.
4. Agar pasien
dapat lebih
termotivasi dan
memuhasabah
diri.

45
PERENCANAAN
DX RASIONAL
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
Pasien mampu: Setelah dilakukan terapi aktivitas 1. Meminta pasien menuliskan 1. Agar pasien
1. Menetapkan tujuan kelompok selama 30 menit pasien tujuan hidup pasien di kertas. selalu
hidup yang realistis. dapat: 2. Meminta pasien untuk berani bersemangat dan
2. Mampu meningkatkan 1. Pasien mengetahui pentinganya membacakan tujuan hidupnya optimis dalam
harga diri. menetapkan tujuan hidup di depan audience yang lain. menjalankan
2. Pasien menetapkan tujuan hidup 3. Memberikan pujian setelah hidupnya.
yang realistis pasien berbicara didepan 2. Menimbulkan
audience. rasa percaya diri
pasien.
3. Untuk
menghargai
usaha yang telah
dilakukan oleh
pasien.

46
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

Harga diri Pasien mampu : Setelah 3 kali pertemuan klien SP 1 6.


rendah 6. Mengidentifikasi mampu: 6. Identifikasi kemampuan c. Untuk
kemampuan dan 6. Mengidentifikasi positif yang dimiliki menumbuhkan
aspek positif yang kemampuan aspek positif c. Diskusikan bahwa pasien motivasi klien
dimiliki yang dimiliki masih memiliki sejumlah dalam mengikuti
7. Menilai kemampuan 7. Memiliki kemampuan yang kemampuan dan aspek kegiatan yang
yang dapat dapat digunakan positif seperti kegiatan akan dilakukan
digunakan 8. Memilih kegiatan sesuai pasien dirumah adanya bersama perawat
8. Menetapkan atau kemampuan keluarga dan lingkungan d. Agar tidak
memilih kegiatan 9. Melakukan kegiatan yang terdekat pasien menambah
yang sesuai dengan sudah dipilih d. Beri pujian yang realistis masalah pada
kemampuan 10. Merencanakan kegiatan dan hindarkan setiap kali pasien, karena
9. Melatih kegiatan yang sudah dilakukan bertemu dengan pasien jika kita memberi
yang sudah dipilih, penilaian yang negatif pujian yang
sesuai kemampuan 7. Nilai kemampuan yang dapat berlebihan akan
10. Merencanakan dilakukan saat ini membuat pasien
kegiatan yang sudah d. Diskusikan dengan pasien berhalusnasi

47
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

dilatihnya kemampuan yang masih 7.


digunakan saat ini d. Agar perawat
e. Bantu pasien dapat
menyebutkannya dan menggali
memberi penguatan potensi yang
terhadap kemampuan diri ada pada diri
yang diungkapkan pasien pasien
f. Perlihatkan respon yang sehingga
kondusif dan menjadi kegiatan
pendengar yang aktif yang akan
8. Pilih kemampuan yang akan direncanakan
dilatih sesuai
c. Diskusikan dengan pasien dengan
beberapa aktivitas yang kemampuan
dapat dilakukan dan pasien
dipilih sebagai kegiatan e. Agar pasien
yang akan pasien lakukan lebih percaya

48
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

sehari-hari diri dengan


d. Bantu pasien menetapkan kemampuann
aktivitas mana yang dapat ya
pasien lakukan secara f. Agar pasien
mandiri merasa
5) Aktifitas yang dihargai
memerlukan bantuan 8.
minimal dari keluarga c. Agar bisa
6) Aktifitas apa saja yang menjadwalka
perlu bantuan penuh n kegiatan
dari keluarga atau yang pasien
lingkungan terdekat inginkan
pasien d. Agar pasien
7) Beri contoh cara dapat
pelaksanaan aktivitas melakukan
yang dapat dilakukan aktivitas nya
pasien secara

49
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

8) Susun bersama pasien mandiri


aktivitas atau kegiatan 9. Untuk melihat
sehari-hari pasien. tingkat
9. Nilai kemampuan pertama kemampuan
yang telah dipilih yang pertama
d. Diskusikan dengan pasien dipilih sudah
untuk menetapkan urutan meningkat atau
kegiatan (yang sudah belum
dipilih pasien) yang akan 10. Agar kegiatan
dilatihkan. yang dilakukan
e. Bersama pasien dan pasien lebih
keluarga memperagakan teratur
beberapa kegiatan yang
akan dilakukan pasien.
f. Berikan dukungan dan
pujian yang nyata sesuai
kemajuan yang

50
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

diperlihatkan pasien.
10. Masukkan dalam jadwal
kegiatan pasien
g. Beri kesempatan pada
pasien untuk mencoba
kegiatan.
h. Beri pujian atas aktivitas
yang dapat dilakukan
pasien setiap hari.
i. Tingkatkan kegiatan
sesuai dengan toleransi
dan setiap perubahan.
j. Susun daftar aktivitas
yang sudah dilatihkan
bersama pasien dan
keluarga.
k. Berikan kesempatan

51
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

mengungkapkan
perasaannya setelah
pelaksanaan kegiatan.
l. Yakinkan bahwa keluarga
mendukung setiap
aktivitas yang dilakukan
pasien.
SP 2 5. Untuk
5. Evaluasi kegiatan yang lalu mengetahui
(SP 1) apakah
6. Pilih kemampuan kedua yang kegiatan yang
dapat dilakukan lalu sudah
7. Latih kemampuan yang tercapai
dipilih 6. Untuk
8. Masukkan dalam jadwal menambah
kegiatan pasien kegiatan yang
dapat dilakukan

52
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

pasien
7. Untuk
mengembangka
n kemampuan
8. Agar kegiatan
yang dilakukan
tersusun
dengan baik
SP 3 4. Untuk
4. Evaluasi kegiatan yang lalu mengetahui
(SP 1 dan 2) apakah
5. Memilih kemampuan ketiga kegiatan yang
yang dapat dilakukan lalu sudah
6. Masukkan dalam jadwal tercapai
kegiatan pasien 5. Untuk
menambah
kegiatan yang

53
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

dapat dilakukan
pasien
6. Agar kegiatan
yang dilakukan
tersusun
dengan baik

Keluarga mampu : Setelah 3 kali pertemuan keluarga SP 1 6. Agar perawat


Merawat pasien dengan mampu : 6. Identifikasi masalah yang dapat
harga diri rendah dirumah 8. Mengindentifikasi dirasakan dalam merawat membantu
dan menjadi sistem kemampuan yang dimiliki pasien mengatasi
pendukung yang efektif pasien 7. Jelaskan proses terjadinya masalah yang
bagi pasien. 9. Menyediakan fasilitas HDR dirasakan
untuk pasien melakukan 8. Jelaskan tentang cara keluarga
kegiatan merawat pasien 7. Untuk memberi
10. Mendorong pasien 9. Main peran dalam informasi

54
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

melakukan kegiatan merawat pasien HDR tentang HDR


11. Memuji pasien saat pasien 10. Susun RTL keluarga atau kepada
dapat melakukan kegiatan jadwal keluarga untuk keluarga
12. Membantu melatih pasien merawat pasien 8. Agar keluarga
13. Membantu menyusun pasien mampu
jadwal kegiatan pasien merawat pasien
14. Membantuperkembangan secara mandiri
pasien 9. Untuk
membantu
perawat dalam
melakukan
perawatan pada
pasien
10. Untuk
memudahkan
keluarga kapan
saatnya bisa

55
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

membantu
perawatan
terhadap pasien
SP 2 4. Untuk
4. Evaluasi kemampuan SP 1 mengetahui
5. Latih keluarga langsung tingkat
ke pasien kemampuan
6. Menyusun RTL keluarga keluarga pasien
atau jadwal keluarga dalam merawat
untuk merawat pasien pasien
5. Untuk melatih
kemampuan
keluarga
6. Untuk
memudahkan
keluarga kapan
saatnya bisa

56
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

membantu
perawatan
terhadap pasien
SP 3 4. Untuk
4. Evaluasi kemampuan mengetahui
keluarga tingkat
5. Evaluasi kemampuan kemampuan
pasien keluarga dalam
6. RTL keluarga : merawat pasien
c. Follow up 5. Untuk
d. Rujukan mengetahui
tingkat
kemampuan
pasien
6. Untuk
mengingatkan
kepada

57
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

keluarga jadwal
kegiatan
keperawatan
pasien
Tujuan: Setelah 3 kali pertemuan klien 5. Bimbingan ibadah 5. Agar pasien
3. Untuk bisa lebih mampu: 6. Bimbing pasien untuk tidak melupakan
menenangkan 3. Pasien lebih bisa berdzikir disaat pasien kewajiban
pasien menenangkan dirinya merasa gelisah. ibadah sesuai
4. Untuk bisa dengan cara ibadah 7. Bimbing pasien untuk keyakinannya
mendekatkan pasien membaca al-quran setelah 6. Agar pasien
kepada sang Maha 4. Pasien lebih bisa selesai sholat. merasa lebih
Pencipta mendekatkan diri kepada 8. Diberikan tayangan yang tenang dan
sang Maha Pencipta berhubungan dengan selalu
kajian makna hidup dalam mengingat
agama. Allah.
7. Agar pasien
tetap fasih

58
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

dalam membaca
ayat-ayat al-
quran.
8. Agar pasien
dapat lebih
termotivasi dan
memuhasabah
diri.
Pasien mampu: Setelah dilakukan terapi aktivitas 4. Meminta pasien menuliskan 4. Agar pasien
3. Menetapkan tujuan kelompok selama 30 menit pasien tujuan hidup pasien di kertas. selalu
hidup yang realistis. dapat: 5. Meminta pasien untuk berani bersemangat dan
4. Mampu meningkatkan 3. Pasien mengetahui pentinganya membacakan tujuan hidupnya optimis dalam
harga diri. menetapkan tujuan hidup di depan audience yang lain. menjalankan
4. Pasien menetapkan tujuan 6. Memberikan pujian setelah hidupnya.
hidup yang realistis pasien berbicara didepan 5. Menimbulkan
audience. rasa percaya diri
pasien.

59
PERENCANAAN
DX
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI RASIONAL

6. Untuk
menghargai
usaha yang telah
dilakukan oleh
pasien.

14. Implementasi

DIAGNOSA KEPERAWATAN IMPLEMENTASI

Isolasi sosial SP 1:
1. Mengidentifikasi penyebab
2. Menanyakan keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain.
3. Melatih berkenalan
4. Memasukkan jadwal kegiatan pasien
SP 2:
1. Mengevaluasi (SP.1)
2. Melatih berhubungan sosial secara bertahap
3. Memasukan dalam jadwal kegaitan pasien
SP 3:

60
1. Mengevaluasi (SP. 1 & SP. 2)
2. Melatih cara berkenalan dengan dua orang atau lebih
3. Memasukkan dalam jadwal kegiatan pasien
Harga Diri Rendah SP1

1. Mengidentifikasi kemampuan positif yang dimiliki


2. Menilai kemampuan yang dapat dilakukan saat ini
3. Memilih kemampuan yang akan dilatih
4. Menilai kemampuan pertama yang telah dipilih
5. Memasukkan dalam jadwal kegiatan pasien
SP 2

1. Melakukan evaluasi kemampuan SP 1


2. Melatih keluarga langsung ke pasien
3. Menyusun RTL keluarga atau jadwal keluarga untuk merawat pasien
SP 3
1. Melakukan evaluasi kemampuan keluarga
2. Melakukan evaluasi kemampuan pasien
3. RTL keluarga :
a. Follow up
b. Rujukan
1. Melakukan bimbingan ibadah kepada pasien

61
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Isolasi sosial adalah suatu gangguan hubungan interpersonal yang
terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan
perilaku maladaptif dan menganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial.

B. Saran
Semoga dari makalah yang telah kelompok kami buat, dapat
bermanfaat dan bisa di aplikasikan pada masyarakat nanti. Juga dapat menjadi
bahan referensi untuk tugas berikutnya yang berhubungan dengan asuhan
keperawatan pada pasien dengan isolasi sosial juga untuk mahasiswa lain
yang membutuhkan informasi mengenai materi gangguan keperawatan jiwa
isolasi sosial.

62
DAFTAR PUSTAKA

Anna, Budi, et al. 2012. Keperawatan Jiwa Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta:EGC.
Damaiyanti, Mukhripah, dkk. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika
Aditama.
Dermawan, Deden, dkk. 2013. Keperawatan Jiwa Konsep dan Kerangka Kerja
Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Yosep, Iyus. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama.

63