Anda di halaman 1dari 17

Prodi Teknik Geologi

Joko Hartadi FTM UPN “Veteran” Yogyakarta

Ilmu Ukur Tanah


Posisi Horisontal
Jarak
(Pertemuan/minggu ke-4
POSISI HORISONTAL

Pengukuran Jarak

Jarak adalah panjang garis horisontal yang diukur antara dua titik. Jika antara dua titik
yang diukur jaraknya mempunyai tinggi yang berbeda, jarak yang dimaksud adalah
panjang garis horisontal antara garis unting-unting di kedua titik tersebut.

Panjang garis dapat dinyatakan dengan berbagai macam satuan. Satuan yang biasa
dipakai di Indonesia adalah metrik – meter, dengan berbagai macam pecahannya
maupun kelipataannya.

Metode Pengukuran Jarak

Dikenal beberapa metode pengukuran jarak, antara lain : metode langkah, pembacaan
odometer, pengukuran jarak optis, metode takimetri (stadia), metode subtense bar
(batang ukur), pengukuran jarak dengan pita, dan pengukuran jarak dengan EDM
(Electronic Distance Measurement).
Metode Langkah

Pengukuran jarak dengan langkah banyak digunakan untuk berbagai tujuan, antara
lain : rekayasa, geologi, pertanian, perhutanan, dan sebagainya. Di samping untuk
keperluan-keperluan di atas, pengukuran jarak dapat juga digunakan sebagai kontrol
terhadap kemungkinan terjadinya kesalahan besar pada pengukuran jarak dengan
pita maupun metode optis. Pelangkah yang berpengalaman dapat mengukur jarak +
30 m (100 ft) atau lebih dengan ketelitian 1/50 sampai 1/100 pada topografi yang
terbuka dan datar.

Prosedur yang harus dilakukan sebelum melakukan pengukuran jarak adalah


melakukan konversi langkah (setiap pelangkah tidak sama). Konversi dilakukan
dengan melangkah pada jarak tertentu (misalnya 50 m – diukur dengan pita) pada
topografi yang datar. Misalkan saja pada jarak 50 m seorang pelangkah
menempuhnya sebanyak 80 langkah. Nilai 80 langkah tersebut sudah tentu
merupakan nilai rata-rata, karena dalam melakukan konversi sebaiknya dilakukan
beberapa kali pada jarak 50 m di atas. Setelah diperoleh nilai rata-rata 80 langkah,
selanjutnya dapat dihitung lebar langkahnya, yaitu 0,625 meter. Nilai 0,625 meter
inilah yang digunakan sebagai pengali dalam pengukuran jarak dengan langkah.
Ada kalanya - bahkan sering jarak yang diukur menpunyai kemiringan, untuk itu ada
koreksih yang harus diberikan, karena melangkah pada topografi miring, baik turun
B’
maupun u naik mempunyai pengaruh terhadap langkah – umumnya menjadi lebih
pendek. Adapun nilai koreksi untuk topografi yang tidak datar dapat dilihat pada
tabel berikut.

Sudut
lereng 0o 5o 10o 15o 20o 25o 30o
Melangkah
naik 1,000 0,907 0,799 0,717 0,625 0,542 0413
Melangkah
turun 1,000 0,959 0,929 0,905 0,860 0,753 0,591

AB’ = AB cos h
Permukaan tanah

h
A
B’
Jarak dengan Ordometer
• Ilustrasi pengukuran jarak dengan ordometer dapat disamakan dengan jarak yang
ditempuh seperti yang ditunjukkan spedometer pada sepeda motor/mobil.
• Prinsipnya adalah fungsi jari-jari roda dengan banyaknya putaran roda.

J = 2R x B

Jarak Optis

• Prinsip pengukuran jarak optis dapat dibayangkan jika melihat suatu obyek dengan
teropong tangan. Hanya saja pada lenda okuler pada guratan benang (semacam
benang silang pada teodolit).
• Menggunakan alat pemokus (focusing) – manakala obyek terlihat menjadi jelas –
jarak antara teropong sampai obyek dapat diperkirakan.
Metode Takimetri

• Metode pengukuran jarak Takimetri merupakan pengukuran jarak tidak langsung - dilakukan
dengan membidik melalui teropong yang dilengkapi dengan benang silang horisontal yang
berjarak tertentu.
• Benang atas, benang tenang dan benang bawah terlihat dan dapat dibaca melalui pelantara
rambu ukur yang dipegang vertikal pada titik yang diinginkan.
• Jarak dari teropong ke rambu diperoleh dari hubungan perbandingan dua segitiga sebangun.

Theodolit

Bacaan Rambu
Latihan Soal2
Metode subtence bar (tongkat ukur)
Sama sebagaimana metode takimteri, metode batang ukur merupakan pengukuran jarak tidak
langsung padamana sudut di muka jarak tertentu antara dua tanda pada ujung-ujung tongkat
horisontal (misalnya tongkat ukur) dibaca dengan teodolit.

• Tongkat ukur dipasang pada statif dan diatur sedemikian rupa sehingga tegak lurus garis bidik
teodolit pada bagian atas tongkat.
• Ujung-ujung tongkat yang akan dibidik berjarak tepat 2 m.
• Sudut horisontal antara ujung-ujung tongkat diukur menggunakan teodolit

a
a
J  cotg
J 2

2m
Metode Pita Ukur (meteran)
• Pita ukur umumnya terbuat dari kain, plastik, fiber, dan baja.
• Masing-masing bahan mempunyai keunggulan sendiri-sendiri.
• Di samping alat utama pita ukur, pengukuran jarak metode ini menggunakan alat bantu, antara
lain : jalon dan pen ukur.

Topografi relatif datar

Enam langkah yang harus dilakukan :

1. Pelurusan,
2. Pendataran pita,
3. Pemberian tegangan,
4. Menandai pita,
5. Membaca pita,
6. Mencatat jarak.
Pelurusan
Pelurusan harus dilakukan jika panjang jarak yang akan diukur lebih panjang dari pita yang
digunakan. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu mengukur jarak/membentangkan
meteran benar-benar lurus pada jalur antar dua titik yang akan diukur jaraknya.

J1 J4 J3
J2

P
Q
Misalkan saja akan dilakukan pelurusan antara titik P dan Q, pada titik P dan Q
masing-masing didirikan rambu J1 dan J2. Orang pertama berdiri dibelakang salah
satu jalon (dalam contoh di belakang rambu J2). Orang kedua berdiri diantara jalon
J1 dan J2 sambil membawa jalon J3. Dengan melihat jalon J2 dan J1 orang bertama
memberi aba-aba kepada orang kedua agar bergerak ke kiri – ke kanan, sampai jalon
J3 lurus pada garis J2-J1, setelah lurus jalon ditancapkan. Cara sama dilakukan pada
jalon J4, begitu seterusnya kalau memang jarak masih panjang.
Pedataran pita
Ada kalanya jarak yang akan diukur mempunyai kemiringan. Penarikan pita harus diusahakan bahwa
dalam satu bentangan – pita ukur benar-benar horisontal. Jatuhnya ujung pita bisa dibantu dengan
unting-unting.

Pemberian tegangan
Pemberian tegangan umumnya dilakukan pada pita ukur yang terbuat dari baja atau fiber. Caranya
dengan menarik meteran dikedua ujungnya – diusahakan datar, salah satu ujungnga dikaitkan dengan
alat pengukur tegangan. Tegangan yang diberikan umumnya 10, 12, 15, 20, atau 25 lb.

Menandai Pita
Menandai pita dilakukan dengan cara menancapkan pen ukur di lapangan di ujung akhir pita yang
ditarik lurus – menyentuh jalon pada jalur pelurusan dan sudah barang tentu sudah diberi tegangan.
Begitu selanjutnya sampai mendekati titik akhir (ujung) dari titik yang jaraknya akan diukur

Membaca pita
Membaca pita cukup dilakukan pada akhir penarikan pita, yaitu pada mulai dari pen ukur terakhir
sampai titik akhir. Pembacaan dilakukan sampai fraksi terkecil sesuai dengan skala terkecil pembacaan
pita ukur.

Mencatat jarak
Mencatat jarak merupakan proses akhir dari pengukuran jarak dengan pita ukur. Jarak yang dicatat di
lapangan diperoleh dari perhitungan menggunakan rumus berikut (perhatikan juga gambar).
J1
J = bP + S J2

Pen ukur

P Q

dalam hal ini,


J = jarak antar titik,
b = banyak bentangan penuh (bisa dilihat dari banyaknya paku yang ditancapkan),
P = panjang pita ukur penuh, dan
s = bacaan pita – mulai dari pen terakhir sampai titik akhir.

Catatan :
Untuk keperluan praktis, hanya dua prosedur yang dilakukan pada pengukuran jarak dengan pita ukur, yaitu :
pelurusan dan pengukuran jarak. Prosedur pertama sama persis dengan no.1, sedangkan prosedur kedua merupakan
gabungan antara no.2, no 4, no.5, dan no.6.
Topografi tidak datar

Jarak horisontal (JPQ) yang diinginkan diperoleh dengan menjumlahkan semua bacaan pita
pada tiap-tiap bentangan, dengan catatan setiap bentangan - bacaannya tidak mesti sama.
Latihan Soal2
Jarak Elektronik (EDM, TS)
Dasar kerja dari alat ini adalah gelombang energi (gelombang cahaya, microwave, gelombang
radio) yang dipancarkan dari pemancar di A (transmitter) dan di B dipantulkan oleh alat pemantul
(relector) dan diterima kembali oleh alat penerima (receiver) di A.

Jm

Jarak yang diperoleh merupakan jarak miring,


sehingga diperlukan pengukuran sudut tegak (h
atau z) untuk memperoleh jarak mendatar
(horisontal).

z = sudut zenit,
Z h = sudut
h
helling.
z + h = 90o
TOTAL STATION DAN ASSESORIS
TERIMA KASIH

Sampai bertemu
lagi minggu
depan, …

Wassalam