Anda di halaman 1dari 19

SEJARAH AGAMA HINDU

Tahun 2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan

rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan

makalah SEJARAH AGAMA HINDU ini sebatas pengetahuan dan kemampuan yang

dimiliki. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah

wawasan serta pengetahuan kita mengenai Sejarah Agama Hindu. Kami juga

menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan

dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran

dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang

membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami

sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila

terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan

saran yag membangun demi kebaikan masa depan.


BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Pada mulanya melalui Dewa Brahma sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi

menurunkan Sabda kepada tujuh orang Rsi, yang oleh tujuh Rsi tersebut Sabda tersebut

disebut Wahyu. Selanjutnya Wahyu yang terkumpul tersebut, atas inisiatif Rsi Wyasa

dibantu oleh empat orang muridnya dibukukan menjadi Weda / Catur Weda. Catur Weda

diterjemahkan oleh para Rsi menjadi Lontar, atau gubahan lain yang tujuannya agar lebih

mudah sampai pada umat yang latar belakang kemampuannya berbeda.

Bertolak dan kenyataan ini maka tidak ada alasan bagi umat Hindu untuk tidak

mengenal Weda, yang meskipun dalam bentuk gubahan atau terjemahan. Weda diturunkan di

India tepatnya di lembah sungai suci Sindhu, kemudian sampai pada kita di Indonesia melalui

beberapa proses atau fase-fase.

Zaman ini dimulai dan datangnya Bangsa Arya, + 2500 SM ke India, dengan

menempati lembah Sungai Sindhu yang dikenal dengan nama Punjab (daerah lima aliran

sungai). Bangsa Arya tergolong ras Indo Eropa yang terkenal sebagai Bangsa yang gemar

mengembara tetapi cerdas, tangguh dan trampil. Selanjutnya pada zaman ini merupakan

zaman mulainya penulisan Wahyu suci yang pertama yaitu Reg Veda. Kehidupan beragama

pada zaman ini didasarkan atas ajaran-ajaran yang tercantum pada Veda Samhita, yang lebih

banyak menekankan pada pembacaan perafalan ayat-ayat Veda secara oral, yaitu dengan

menyanyikan dan mendengarkan secara berkelompok.

Veda adalah kitab suci Agama Hindu yang dturunkan oleh ida Sang Hyang Widhi

Wasa kepada umat Hindu melalui para Rsi (Sapta Rsi) yaitu Rsi Grtsamada, Rsi Viswamitra,

Rsi Atri, Rsi Bharadvaja, Rsi Vasistha, Rsi Kanva dan Rsi Vamadeva. Selanjutnya setelah
wahyu tersebut diterima, maka atas jasa Maharsi Vyasa dan empat orang muridnya

membukukan wahyu tersebut menjadi empat bagian yang sampai sekarang dikenal dengan

nama Catur Veda, terdiri dari:

a) Maharsi Pulaha membukukan Reg Veda

b) Maharsi Jaimini membukukan Sama Veda -

c) Maharsi Vaisampayana membukukan Yajur Veda

d) Maharsi Sumantu membukukan Atharva Veda

1.2. Tujuan Makalah

1.2.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui sejaah perkembangan Agama Hindu di dunia

1.2.2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui sejarah Agama Hindu di India

b. Untuk mengetahui sejarah Agama Hindu di Indonesia

c. Untuk mengetahui perkembangan Agama Hindu sekarang

d. Untuk mengetahu peninggalan sejarah Agama hindu di dunia

e. Untuk mengetahui pelaksanaan Agama Hindu

1.3. Manfaat

Untuk menambah wawasan tenteng Agama Hindu dan pelaksanaaan agama Hindu di

Indonesia
BAB II

TINJAUAN PUSAKA

2.1. Pengertian Veda

Veda adalah kitab suci Agama Hindu yang dturunkan oleh ida Sang Hyang Widhi

Wasa kepada umat Hindu melalui para Rsi (Sapta Rsi) yaitu Rsi Grtsamada, Rsi Viswamitra,

Rsi Atri, Rsi Bharadvaja, Rsi Vasistha, Rsi Kanva dan Rsi Vamadeva. Selanjutnya setelah

wahyu tersebut diterima, maka atas jasa Maharsi Vyasa dan empat orang muridnya

membukukan wahyu tersebut menjadi empat bagian yang sampai sekarang dikenal dengan

nama Catur Veda, terdiri dari:

e) Maharsi Pulaha membukukan Reg Veda

f) Maharsi Jaimini membukukan Sama Veda -

g) Maharsi Vaisampayana membukukan Yajur Veda

h) Maharsi Sumantu membukukan Atharva Veda

2.2. Pembagian Veda

2.2.1. Reg Veda,

merupakan kitab tertua dan terpenting. Isinya dibagi atas 10 Mandala, menunjukkan

kebenaran yang mutlak. Mantranya terdiri dari 10.552 yang diucapkan untuk mengundang,

mendekatkan Tuhan dan manifestasinya yang dipuja agar hadir pada saat upacara

Pengucapan mantra adalah pemimpin upacara yang disebut Hotr.

2.2.2. Sama Veda,

isinya diambil dan Reg Veda, kecuali beberapa nyanyian suci yang dinyanyikan pada saat

upacara dilakukan. Jumlah mantranya terdiri atas 1.875. Yang menyanyikan lagu pujaan ini

disebu Udgatr.
2.2.3. Yajur Veda,

terdiri dan 1.975 mantra, berbentuk prosa yang isinya berupa rafal dan doa pengucapannya

adalah pemimpin upacara bernama Adhvaryu pada saat pelaksanaan upacara korban. Fungsi

rafal adalah bukan memuja para Dewa melainkan mengubah upacara korban yang

dipersembahkan menjadi makanan yang dapat diterima oleh para Dewa dengan pengucapan

berulang-ulang disertai dengan menyebutkan nama manifestasi Dewa yang hendak

dihadirkan.

2.2.4. Atharva Veda,

terdiri dan 5.987 mantra berbentuk prosa yang isinya berupa mantra-mantra yang kebanyakan

bersifat magis, yang memberikan tuntunan hidup sehari-hari berhubungan dengan

keduniawian seperti tampak dalam sihir, tenung, pedukunan. Isi sihir-sihir dimaksud

bertujuan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat, mencelakakan

musuh dan lain sebagainya.

2.3. Perkembangan Agama Hindu di India pada zaman Upanisad

Zaman Upanisad ini merupakan reaksi terhadap yang terjadi pada zaman Brahmana.

Dimana sejalan dengan berjalannya waktu, Agama Hindu terus berkembang yang meskipun

pada akhirnya umat terpecah mengikuti aliran yang berbeda, yang secara keseluruhan disebut

aliran Nawa Darsana, yaitu enam aliran tergabung dalam kelompok Astika (kelompok yang

masih menerima Veda sebagai kitab suci Agama Hindu) dan tiga aliran tergabung dalam

kelompok Nastika (kelompok yang menolak Veda sebagai kitab suci Agama Hindu). Aliran

Nastika inilah secara otomatis keluar dan Agama Hindu sedangkan Aliran Astika tetap

mengikuti Agama Hindu dan kembali pada Veda sebagai sumber segalanya bagi umat Hindu

secara keseluruhan.
BAB III

PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI NEGARA LAIN

Beberapa bukti peninggalan sejarah dan kepercayaan masyarakat dunia dapat kita

pergunakan sebagai dasar untuk menyatakan dan mempelajari bahwa agama Hindu pernah

berkembang di negara-negara lain selain India antara lain sebagai berikut.

3.1. Afghanistan

Di Afghanistan telah ditemukan arca ganesa dari abad ke-5 M yang ditemukan di Gardez,

afghanistan sekarang (Dargah Pir Rattan Nath, Kabul). Pada arca tersebut terdapat tulisan

’’besar dan citra indah mahavinayaka’’ disucikan oleh Shahi Raja Khingala. Arca Ganesa

tersebut menunjukkan bahwa agama hindu merupakan agama yang dianut oleh masyarakat di

Afghanistan pada abad ke-5 hingga abad ke-7.

Di Kampuchea saat ini terdapat taman wisata arkeologis angkor wat, yaitu kompleks kuil-

kuil yang terdiri dari angkor wat, bayon, dan banteay srey. Angkor Wat merupakan candi

Hindu yang dibangun sebagai penghormatan kepada Dewa Wisnu dan sebagai simbol

kosmologi hindu. Angkor pernah menjadi kota suci tujuan para peziarah dari seluruh

kawasan asia tenggara

3.2. Filipina

Bukti-bukti pengaruh Hindu di Filipina, yaitu dengan ditemukannya prasasti

tembaga laguna atau disebut juga keping tembaga laguna. Prasasti tembaga laguna adalah

dokumen tertulis pertama ditemukan dalam bahasa filipina. Piring itu ditemukan pada tahun

1989 oleh E. Alfredo Evangelista di laguna de Bay, di Metroplex, Manila, filipina. Prasasti

tersebut bertuliskan tahun 822 saka. Dalam prasasti tersebut terdapat banyak kata dari bahasa

sanskerta, jawa kuno, Malaya Kuno, dan Bahasa Tagalog Kuno.

3.3. Mesir ( Afrika )

Sebuah prasasti dalam bentuk inskripsi yang berhasil digali di Mesir


berangka tahun 1280 SM. Isinya memuat perjanjian antara Raja Ramses II dan bangsa Hittite.

Dalam perjanjian yang dilaksanakan oleh Raja Ramses II dengan bangsa Hittite tersebut,

Mattravaruna sebagai dewa kembar dalam Weda telah dinyatakan sebagai saksi (H.R. hal

’’ancient history of the new east’’, hal 364). Maitravaruna adalah sebutan dari Tuhan Yang

Maha Esa dalam konsep ke-Tuhanan agama Hindu. Raja-raja Mesir di zaman purbakala

mempergunakan nama-nama, seperti Ramses I, Ramses II, Ramses II, dan seterusnya. Kata

ramses mengingatkan kita kepada Rama yang terdapat dalam kitab Ramayana. Rama, oleh

umat Hindu diyakini sebagai penjelmaan atau awatara Dewa Wisnu, yaitu manifestasi dari

Tuhan sebagai pemelihara, Wisnulah yang menyelamatkan dunia ini dari ancaman

keangkaramurkaan.

3.4. Meksiko

Meksiko terbilang negeri yang sangat jauh dari india. Masyarakat negeri ini dikatakan

telah trbiasa merayakan sebuah hari raya pestaria yang disebut dengan hari Rama-Sita. Waktu

hari pestaria ini memiliki hubungan erat dengan waktu hari suci Dussara atau Navaratri

dalam agama hindu. Penggalian-penggalian peninggalan bersejarah yang dilakukan di negeri

Meksiko telah menghasilkan penemuan beberapa patung ganesa ( baron humbolt dan harlas

sanda ’’hindu superiority’’, hal 151).

Penduduk zaman purbakala yang ada di daerah-daerah ’’Meksiko’’ adalah orang-orang

Astika, yaitu orang-orang yang percaya dengan keberadaan weda-weda. Kata astika adalah

sebuah istilah yang saat ini masih dipergunakan oleh masyarakat Meksiko sebagai salah

ucapan dari kata Aztec.

Festival Rama-Sita yang dirayakan oleh masyarakat Meksiko dapat disamakan dengan

percaya hari dussara atau Navaratri. Penemuan patung ganesa kita hubungkan dengan arca

ganesa sebagai putra dewa siwa dalam mitologi Hindu. Masyarakat Astika adalah suku
bangsa Astec itu sendiri yang kebanyakan di antara mereka memiliki kepercayaan memuja

dewa siwa.

3.5. Peru

Di sebelah barat-daya amerika latin terdapat negeri yang disebut dengan peru.

Penduduknya melakukan pemujaan trhadap dewa matahari. Hari-hari raya tahunan

masyarakat ini jatuh pada hari-hari Soltis. Masyarakat negeri peru dikenal dengan bangsa

inca. Kata inca berasal dari kata ina yang berarti Matahari.

Soltis jatuh pada tanggal 21 juni dan 22 desember, yaitu pada hari-hari ketika matahari

telah sampai pada titik deklanasinya di sebelah selatan dan di sebelah utara untuk kembali

lagi pada peredarannya. Sebagaimana biasa mulai tanggal 21 juni matahari ada di titik bumi

belahan utara ’’utarayana’’, waktu yang dipandang baik untuk melaksanakan upacara yang

berkaitan dengan dewa yadnya. Tanggal 22 desember matahari berada di titik bumi belahan

selatan ’’daksinayana’’ saat waktu itu dipandang baik untuk melaksanakan upacara yang

berhubungan dengan Bhuta Yadnya. Dewa matahari menurut keyakinan umat hindu

indonesia ’’bali’’ disebut Siwa Raditya =surya= matahari. Pemujaan kehadapan dewa

matahari ’’surya raditya’’ terbiasa dilakukan oleh umat hindu kita, sebagaimana juga

dilaksanakan oleh bangsa Inca di Peru.

3.6. Kota Kalifornia

Kalifornia adalah sebuah kota yang terdapat di amerika serikat. Nama kota ini

diperkirakan memiliki hubungan dengan kata kapila aranya. Di kota kalifornia terdapat cagar

alam taman gunung abu ’’ash mountain park’’ dan sebuah pulau kuda ’’horse island’’ di

alaska, amerika utara.

Kita mengenal kisah dalam kitab purana tentang keberadaan raja segara dan enampuluh

ribu putra-putranya yang dibakar habis hingga menjadi abu oleh maharsi kapila. Raja sagara

memerintahkan putra-putranya untuk menggali bumi menuju ke patala-loka dalam rangka


kepergian mereka mencari kuda untuk persembahan. Oleh putra-putra raja sagara, kuda yang

di cari itu diketemukan di lokasi maharsi kapila sedang mengadakan tapa brata. Oleh karena

kedatangan para putranya mengganggu proses tapa brata beliau, akhirnya maharsi kapila

memandang putra-putra raja itu dengan pandangan amarah sampai mereka musnah menjadi

abu.

Kata patala-loka memiliki arti negeri di balik india, yaitu benua amerika. Kata kalifornia

memili kedekatan dengan kata kapila aranya. Kondisi ini memungkinkan sekali karena secara

nyata dapat kita ketahui bahwa di amerika terdapat cagar alam taman gunung abu yang

kemungkinan sekali berasal dari abunya putra-putra raja sagara yang berjumlah

enampuluhribu dan nama pulau kuda yang diambil dari nama kuda persembahan raja sagara.

3.7. Australia

Penduduk negeri kanguru ini memiliki jenis tarian tradisional yang disebut dengan siwa

dance atau tarian siwa. Siwa dance adalah semacam tarian yang berlaku di antara penduduk

asli Australia (spencer dan gillen ’’the native of central australia’’, halaman 621. Macmillan,

1899). Hasil penelitiannya menjelaskan bahwa para penari ‘’siwa dance’’ menghiasi dahinya

dengan hiasan mata yang ketiga. Hal ini merupakan suatu bukti yang dapat dijadikan sumber

memberikan informasi kepada kita bahwa penduduk asli negeri kanguru ‘’australia’’ ini telah

mengenal atau mendengar dongeng-dongeng weda dan nama-nama dewa dalam kitab suci

weda.
BAB IV

Agama Hindu di Indonesia

Berdasarkan beberapa pendapat, diperkirakan bahwa Agama Hindu pertamakalinya

berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. Dilembah sungai inilah para Rsi menerima

wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda. Dari lembah sungai

sindhu, ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia, yaitu ke India Belakang,

Asia Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Ada beberapa teori dan

pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia.

1. Krom (ahli - Belanda), dengan teori Waisya.

Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis", menyebutkan bahwa

masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang

dilakukan oleh golongan pedagang (Waisya) India.

2. Mookerjee (ahli - India tahun 1912).

Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para

pedagang India dengan armada yang besar. Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka

mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya.

Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India. Kontak yang

berlangsung sangat lama ini, maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia.

3. Moens dan Bosch (ahli - Belanda)

Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran

agama Hindu dari India ke Indonesia. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang

dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia.

Bersamaan dengan berkembangnya pengaruh agama Hindu ke seluruh dunia termasuk

indonesia, terjadilah akulturasi antara kebudayaan asli indonesia dan kebudayaan india yang

dijiwai oleh agama hindu.


Pengaruh agama hindu. Dapat diterima oleh bangsa indonesia dengan damai. Dengan

demikian, perkembangan agama hindu di indonesia menjadi subur dan bervariasi,

sebagaimana bukti-bukti yang ada dan kita ketahui, seperti berikut.

a. Kutai

Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantarayang memiliki bukti sejarah

tertua. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman,Kalimantan Timur, tepatnya di hulusungai

Mahakam. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam

menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa

raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam

yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Aswawarman mungkin adalah raja pertama Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Ia juga

diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang

artinya pembentuk keluarga.

Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam

peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.

b. Kalimantan Selatan

1. Kerajaan Tanjung Puri1

Sekitar abad ke 5-5 M di kalimantan selatan telah berdiri kerajaan tanjung puri sebagai pusat

kolonisasi orang-orang Melayu yang berasal dari kerajaan sriwijaya. Kerajaan tanjung puri

merupakan kerajaan tertua di kalimantan selatan. Kerajaan ini letaknya cukup strategis yaitu

di Kaki Pegunungan Meratus dan di tepi sungai besar sehingga di kemudian hari menjadi

bandar yang cukup maju. Kerajaan Tanjung Puri bisa juga disebut Kerajaan Kahuripan, yang
cukup dikenal sebagai wadah pertama hibridasi, yaitu percampuran antarsuku dengan segala

komponennya.

2. Kerajaan Negara Dipa

Kerajaan Negara Dipa adalah kerajaan yang berada di pedalaman Kalimantan Selatan.

Kerajaan ini adalah pendahulu Kerajaan Negara Daha. Kerajaan Negara Daha terbentuk

karena perpindahan ibukota kerajaan dari Amuntai (ibukota Negara-Dipa di hulu) ke Muhara

Hulak (di hilir). Sejak masa pemerintahan Lambu Mangkurat wilayahnya terbentang dari

Tanjung Silat sampai Tanjung Puting.

Kerajaan Negara Dipa semula beribukota di Candi Laras (Distrik Margasari) dekat hilir

sungai Bahan tepatnya pada suatu anak sungai Bahan, kemudian ibukotanya pindah ke hulu

sungai Bahan yaitu Candi Agung (Amuntai), kemudian Ampu Jatmika menggantikan

kedudukan Raja Kuripan (negeri yang lebih tua) yang mangkat tanpa memiliki keturunan,

sehingga nama Kerajaan Kuripan berubah menjadi Kerajaan Negara Dipa. Ibukota waktu itu

berada di Candi Agung yang terletak di sekitar hulu sungai Bahan (= sungai Negara) yang

bercabang menjadi sungai Tabalong dan sungai Balangan dan sekitar sungai Pamintangan

(sungai kecil anak sungai Negara). Kerajaan ini dikenal sebagai penghasil intan pada

zamannya.

3. Kerajaan Negara Daha

Kerajaan ini tidak ada hubungannya dengan Kerajaan Daha di Jawa, yang lebih dikenal

sebagai Kerajaan Janggala.

Kerajaan Negara Daha adalah sebuah kerajaan Hindu yang pernah berdiri di Kalimantan

Selatan. Pusat ibukota kerajaan ini berada di kota Negara (kecamatan Daha Selatan, Hulu

Sungai Selatan).

Kerajaan Negara Daha merupakan kelanjutan dari Kerajaan Negara

Dipa.
c. Jawa Barat

Kerajaan Tarumanegara

Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di

wilayah baratpulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Taruma merupakan salah satu

kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah. Dalam catatan sejarah dan

peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma

adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu

Prasasti yang ditemukan

1. Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi

milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor

2. Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya,

Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut isinya

menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai

Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.Penggalian sungai

tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering

terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim

kemarau.

3. Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiang yang

mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian

kepada Raja Purnawarman.

4. Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor

5. Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor

6. Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor

7. Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor

d. Jawa Tengah
Suburnya perkembangan agama hindu di jawa tengah dapat kita ketahui dari ditemukannya

prasasti tukmas. Prasasti ini ditulis dengan huruf pallawa dan berbahasa sanskerta dengan tipe

tulisan berasal dari tahun 650 masehi. Prasasti tukmas memuat gambar-gambar atribut : dewa

tri murti, seperti trisula lambang dewa siwa, kendi lambang dewa brahma, dan cakra lambang

dewa wisnu. Prasasti ini juga menjelaskan adanya sumber mata air yang jernih dan bersih

yang dapat disamakan dengan sungai gangga.Sumber berita cina berasal dari masa

pemerintahan dinasti tang tahun 618-696 masehi. Dari berita cina dapat diketahui di jawa

tengan telah berdiri kerajaan kaling yang pada tahun 674 masehi diperintah oleh raja

perempuan bernama ratu sima yang memiliki sistem pemerintahan sangat jujur.

d. Jawa Timur

Keberadaan kerajaan kanjuruan dapat kita pergunakan sebagai salah satu landasan untuk

mengetahui perkembangan agama hindu di jawa timur. Prasasti dinoyo merupakan bukti

peninggalan sejarah kerajaan kanjuruan. Prasasti ini banyak membicarakan perkembangan

agama hidu di jawa timur. Prasasti dinoyo ditulis mempergunakan huruf kawi dengan bahasa

sanskerta menuliskan angka tahun 760 masehi. Dikisahkan bahwa pada abad ke-8 M raja di

kanjuruan bernama simha.

f. Bali

Keberadaan agama hindu di bali merupakan kelanjutan dari agama hindu yang berkembang di

jawa. Agama hindu yang datang ke bali disertai oleh agama buddha. Dalam

perkembangannya, kedua agama tersebut berakulturasi dengan harmonis dan damai. Kejadian

ini sering disebut dengan sinkritisme siwa – buddha. Sebelum pengaruh hindu berkembang di

bali, masyarakat telah mengenal sistem kepercayaan dan pemujaan seperti berikut.

a. Kepercayaan kepada gunung sebagai tempat suci.

b. Sistem kubur yang mempergunakan sarkofagus (peti mayat).

c. Kepercayaan adanya alam sekala dan niskala.


d. Kepercayaan adanya penjelmaan (punarbawa).

e. Kepercayaan bahwa roh nenek moyang orang bersangkutan dapat setiap saat memberikan

perlindungan, petunjuk, sinar, dan tuntunan rohani kepada generasinya.

Demikianlah, sistem kepercayaan masyarakat bali sebelum pengaruh ajaran hindu datang ke

bali. Sistem kepercayaan masyarakat bali tampak memiliki pola sangat sederhana. Setelah

datangnya maharsi markhandeya di bali, pola kepercayaan yang sederhana itu kembali

disempurnakan.

g. Nusa Tenggara Barat

Perkembangan agama hindu di nusa tenggara barat ( lombok) dapat kita ketahui dari

perjalanan suci (dharmayatra) dang hyang nirartha. Di lombok, beliau dikenal dengan sebutan

pangeran sangupati. Banyak peninggalan tempat suci dan sastra hindu yang dapat digunakan

sebagai refrensi bahwa hindu pada masa itu telah berkembang sampai di nusa tenggara barat.

Keberadaan agama hindu di NTB juga tidak lepas dari peran serta kekuasaan raja-raja

karangasem pada masa itu.


BAB VI

PENINGGALAN SEJARAH AGAMA HINDU

6.1.Mesir

Sebuah prasasti dalam bentuk incripsi yang berhasil digali di Mesir berangka tahun 1280

S.M. Isinya memuat tentang perjanjian antara raja Ramases II dengan bangsa Hittite. Dalam

perjanjian yang dilaksanakan oleh Raja Ramases II dengan bangsa Hittite tersebut,

Maitravaruna sebagai dewa kembar dalam weda telah dinyatakan sebagai saksi (H.R. Hall

“Ancient History of the New East”, hal 364). Maitravaruna adalah sebutan dari Tuhan Yang

Maha Esa dalam konsep ke Tuhanan agama Hindu. Raja-raja Mesir dijaman purbakala

mempergunakan nama-nama seperti; Ramesee I, Rameses II, Rameses III dan seterusanya.

Tentang kata Rameses, mengingatkan kita kepada Rama yang terdapat dalam kitab

Ramayana. Rama, oleh umat Hindu diyakini sebagai penjelmaan atau awatara Vishnu, yaitu

manifestasi dari Tuhan sebagai pemelihara. Vishnu-lah yang menyelamatkan dunia ini dari

hancaman keangkara-murkaan.

6.2.Mexico

Penggalian-penggalian peninggalan bersejarah yang dilakukan di negeri Mexico telah

menghasilkan penemuan beberapa patung Ganesa (Baron Humbolt dan Harlas Sanda “Hindu

Superiority” halaman 151).

Penduduk jaman purbakala yang ada di daerah-daerah “Mexico” adalah orang-orang Astika

yaitu orang-orang yang percaya dengan keberadaan weda-weda. Kata Astika adalah sebuah

istilah yang sampai saat ini masih terdengar oleh kita dipergunakan oleh masyarakat disana,

sebagai salah ucapan dari kata Aztec.

Festipal Rama-Sita yang dirayakan oleh masyarakat Mexico dapat disamakan dengan

perayaan hari Dussara atau Navaratri. Penemuan patung Ganesa kita hubungkan dengan arca
Ganesa sebagai putra Dewa Siwa dalam mithelogi Hindu. Masyarakat Astika adalah suku

bangsa Aztec itu sendiri yang kebanyakan diantara mereka memiliki kepercayaan memuja

Dewa Siwa.

6.3.Peru

Penduduknya melakukan pemujaan terhadap Dewa Matahari. Hari-hari raya tahunan

masyarakat ini jatuh pada hari-hari Soltis. Masyarakat negeri Peru dikenal dengan bangsa

Inca. Kata Inca berasal dari kata Ina yang berarti matahari (Asiatic Researches, Jilid I

halaman 426).

Soltis jatuh pada tanggal 21 Juni dan 22 Desember, yaitu pada hari-hari dimana matahari

telah sampai pada titik deklanasinya di sebelah selatan dan di sebelah utara untuk kembali

lagi pada peredarannya. Sebagaimana biasa mulai tanggal 21 Juni matahari ada dititik bumi

belahan utara “Utarayana”, waktu yang dipandang baik untuk melaksanakan upacara yang

berkaitan dengan Dewa Yajna. Sedangkan tanggal 22 Desember matahari berada di titik bumi

belahan selatan “Daksinayana” dimana waktu ini dipandang baik untuk melaksanakan

upacara yang berhubungan dengan Bhuta Yajna. Dewa Matahari menurut keyakinan umat

Hindu Indonesia “Bali” menyebut Siwa Raditya = Surya = Matahari. Pemujaan kehadapan

Dewa Matahari “Surya Raditya” terbiasa dilakukan oleh umat Hindu kita, sebagaimana juga

dilaksanakan oleh bangsa Inca sebagai penduduk negeri Peru.

6.4.Kalifomia

Kalifornia adalah sebuah Kota yang terdapat di Amerika. Nama Kota ini diperkirakan

memiliki hubungan dengan kata Kapila Aranya. Di Kota Kalifornia terdapat Cagar Alam

Taman Gunung Abu “Ash Mountain Park” dan sebuah Pulau Kuda “Horse Island” di Alaska

- Amerika Utara.

6.5.Australia

Penduduk negeri Kangguru ini memiliki jenis tarian tradisional yang disebut dengan “Siwa
Dance” atau “Tari Siwa”. Siwa Dance adalah semacam tarian yang umum berlaku diantara

penduduk asli Australia (Spencer dan Gillen “The Native Tribes of Central Australia”

halaman 621. Macmillan, 1899). Hasil penelitiannya menjelaskan bahwa para penari “Siwa

Dance” menghiasi dahinya dengan hiasan mata yang ke tiga. Hal ini merupakan suatu bukti

yang dapat dijadikan sumber memberikan informasi kepada kita bahwa penduduk asli negeri

Kangguru “Australia” ini telah mengenal atau mendengar dongeng-dongeng weda dan nama-

nama Dewa dalam kitab suci weda.


BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

Agama Hindu merupakan agama yang mempunyai usia tertua dan merupakan agama

yang pertama kali dikenal oleh manusia. Agama Hindu pertama kali dikenal di India.

Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 Jaman/fase,

yakni Jaman Weda,Jaman Brahmana, Jaman Upanisad danJaman Budha

Agama Hindu makin lama semakin menyebar mulai dari India Selatan hingga keluar dari

India dengan berbagai cara, sterutama melalui perdagangan bebas Internasional.

7.2. Saran

Kita harus menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya