Anda di halaman 1dari 7

E-Journal SPEKTRUM Vol. 2, No.

4 Desember 2015

Analisis Pengaruh Model Propagasi dan Perubahan Tilt


Antena Terhadap Coverage Area Sistem Long Term
Evolution Menggunakan Software Atoll
Putra, T.G.A.S.1, Sudiarta, P.K.2, Diafari, I.G.A.K.3
1,2,3
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Udayana
1 2 3
Email: tjok.aris@gmail.com , sudiarta@unud.ac.id , igakdiafari@yahoo.com

Abstrak
Performansi jaringan komunikasi seluler sistem LTE dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah
satu faktornya adalah coverage area dari Base Transceiver Station. Jauh dekatnya coverage area
ini dipengaruhi oleh power transmitter, frekuensi, spesifikasi perangkat, dan sudut kemiringan (tilt)
antena. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu perhitungan dan simulasi menggunakan
software Atoll untuk menentukan coverage area yang dihasilkan pada frekuensi 900 MHz dengan
model propagasi Okumura-Hatta dan ITU-R P.529, dan frekuensi 1800 MHz dengan model propagasi
Cost-231 Hatta dan Standard Propagation Model, serta mengubah tilt antena hingga 10º untuk
mengetahui perubahan jarak jangkauannya. Hasil yang didapatkan adalah pada frekuensi 900 MHz
model propagasi Okumura-Hatta menghasilkan jarak jangkauan yang lebih jauh dibandingkan
dengan model propagasi ITU-R P.529, dan pada frekuensi 1800 MHz Standard Propagation Model
menghasilkan jarak jangkauan yang lebih jauh jika dibandingkan dengan Cost-231 Hatta. Dengan
menambah sudut kemiringan (tilt) antena,maka jarak jangkauan yang dihasilkan semakin kecil.
Dengan perubahan sudut 10º jarak jangkauan pada frekuensi 900 MHz dan 1800 MHz berkurang
sebesar 3,491 km dan 1,606 km. Simulasi perencanaan yang dilakukan di Kota Semarang
memerlukan 15 site untuk mendapatkan coverage area yang menyeluruh dengan sistem jaringan
LTE 900 MHz.
Kata Kunci: Coverage area, model propagasi, tilt antena, Long Term Evolution, Atoll

1. PENDAHULUAN besar 1º. Pengurangan jarak jangkauan pada


Performansi jaringan komunikasi seluler antena dengan cara menambah tilt antena
dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu dilakukan pada tahap optimasi untuk meng-
faktor tersebut adalah coverage area dari hindari overlapping pada masing-masing sek-
Base Transceiver Station (BTS). Jauh dekat- tor antena.
nya coverage area ini dipengaruhi oleh Penelitian berikutnya adalah membuat
beberapa aspek seperti power transmitter, perencanaan site untuk mendapatkan cove-
frekuensi, spesifikasi perangkat, dan sudut rage area menyeluruh pada suatu wilayah. Se-
kemiringan antena [1]. Menggunakan tek- tiap daerah memiliki kontur wilayah yang ber-
nologi Long Term Evolution (LTE) yang me- beda-beda sehingga jika hanya menggunakan
rupakan teknologi seluler terbaru yang me- perhitungan saja hasil yang didapatkan tidak
miliki kecepatan akses tinggi. optimal, maka dibuatlah simulasi perencanaan
Penelitian ini dilakukan dengan mem- menggunakan peta wilayah yang berkontur
bandingkan pengaruh model propagasi, per- sehingga saat melakukan perencanaan dapat
ubahan frekuensi, dan perubahan tilt antena terlihat wilayah yang memiliki ketinggian yang
terhadap coverage area yang dihasilkan, serta berbeda dan seluruhnya dapat tercakupi oleh
melakukan perencanaan cell pada suatu sistem jaringan seluler yang direncanakan.
wilayah untuk mendapatkan coverage area Metode yang digunakan pada penelitian
menyeluruh. ini yaitu perhitungan dan simulasi meng-
Penelitian terhadap pengaruh model gunakan software Atoll untuk menentukan
propagasi dan frekuensi ini dilakukan karena coverage area yang dihasilkan pada frekuensi
terdapat model propagasi yang secara karak- 900 MHz dengan model propagasi Okumura-
teristik perhitungannya sama misalnya ditinjau Hatta dan ITU-R P.529, dan frekuensi 1800
dari rentang frekuensi yang digunakan, se- MHz dengan model propagasi Cost-231 Hatta
hingga dapat dilihat perubahan coverage area dan Standard Propagation Model, serta meng-
yang terjadi. ubah tilt antena hingga 10º untuk mengetahui
Penelitian mengenai pengaruh perubahan perubahan jarak jangkauannya.
tilt antena bertujuan untuk mengetahui se- Penelitian ini dibuat dengan meng-
berapa jauh pengurangan jarak jangkauan embangkan penelitian yang pernah dilakukan
antena pada setiap penambahan sudut se- mengenai perbandingan model propagasi

Surya Putra, T.G.A., Sudiarta, P.K., Diafari, I.G.A.K 46


E-Journal SPEKTRUM Vol. 2, No. 4 Desember 2015

secara perhitungan, perencanaan perhitungan 2.2 Maximum Allowable Path Loss


tilt antena, dan penelitian mengenai peren- (MAPL)
canaan coverage jaringan LTE pada suatu Maximum Allowable Path Loss adalah
wilayah. Pengembangan yang dibuat pada nilai maksimum dari perhitungan redaman
penelitian ini adalah membuat simulasi meng- propagasi dari perangkat eNodeB dan mobile
gunakan software Atoll dengan mengambil station. Nilai perhitungan MAPL ini dibagi
topik penelitian sebelumnya yaitu perbanding- menjadi dua yaitu untuk MAPL arah uplink dan
an pengaruh model propagasi, tilt antena, dan downlink. Nilai uplink digunakan untuk me-
perencanaan coverage jaringan dimana hasil nentukan nilai maksimum redaman propagasi
perbandingan yang dilakukan digunakan untuk dari mobile station ke eNodeB, dan nilai
membuat simulasi perencanaan sistem LTE downlink merupakan nilai maksimum redaman
pada suatu wilayah. propagasi dari eNodeB ke mobile station agar
tetap dapat melayani keperluan dari ko-
2. TINJAUAN PUSTAKA munikasi untuk seluruh user dalam suatu
Tinjauan pustaka pada penelitian ini cakupan daerah[3].
mengacu kepada beberapa literatur yang
terkait dengan penelitian yang dilakukan. Teori 2.3 Model Propagasi Okumura-Hatta
yang diambil berupa teori teknologi LTE, Model propagasi Okumura-Hata diguna-
MAPL, model-model propagasi, tilt antena, kan untuk mengetahui radius sel pada wilayah
dan Atoll. urban dan sub urban. Range frekuensi yang
digunakan adalah 150 hingga 1500 MHz. Per-
2.1 Teknologi Long Term Evolution samaan untuk menghitung redaman propagasi
LTE atau Long Term Evolution merupa- di daerah urban yakni sebagai berikut [4].
kan generasi teknologi seluler keempat yang
rd
dikembangkan oleh 3GPP (3 Generation 𝐿𝑢 = 69,55 + 26,16 log 𝑓 − 13,83 log ℎ𝑏 +
Partnership Project) yang merupakan teknolo- 𝑎(ℎ𝑚 ) + (44,9 − 6,55 log ℎ𝑏 ) log 𝑑 ........(1)
gi lanjutan dari UMTS (Universal Mobile
Telephone Standard). Organisasi 3GPP me- Persamaan tersebut digunakan untuk kondisi
mutuskan kriteria teknologi LTE sebagai be- berikut.
rikut [2].
1. Kecepatan data puncak downlink men- 150 ≤ 𝑓 ≤ 1500 MHz
R

capai 100 Mbps saat pengguna bergerak 30 ≤ ℎ𝑏 ≤ 200 m


cepat dan 1 Gbps saat bergerak pelan 1 ≤ 𝑑 ≤ 20 km
R

atau diam. Sementara untuk uplink kece-


patan data puncak mencapai 50 Mbps 𝑎(ℎ𝑚 ) adalah faktor koreksi antenna mobile
2. Delay sistem berkurang hingga 10 ms yang nilainya adalah sebagai berikut.
3. Efisiensi spektrum meningkat hingga
empat kali lipat dari teknologi 3.5 G High 𝑎(ℎ𝑚 ) = 3,2 (log 11,75 ℎ𝑚 )2 − 4,97 𝑑𝐵 .......(2)
Speed Packet Access (HSPA)
4. Migrasi sistem yang hemat biaya dari 𝐿𝑢 = Path loss rata-rata (dB)
HSPA ke LTE 𝑓 = frekuensi ( MHz)
5. Meningkatkan layanan broadcast ℎ𝑏 = tinggi antena Base Station (m)
6. Bandwidth yang fleksibel mulai dari 1,4 ℎ𝑚 = tinggi antena Mobile Station (m)
MHz,3 MHz, 5 MHz, 10 MHz, 15 MHz, 𝑑 = jarak antara MS dan BS (km)
hingga 20 MHz
7. Dapat bekerja di berbagai spektrum
frekuensi.
2.3 Model Propagasi Cost-231 Hatta
8. Dapat bekerjasama dengan sistem 3GPP Model propagasi COST 231 Hatta digu-
maupun sistem non 3GPP. nakan untuk mengetahui radius sel pada wila-
yah urban. Range frekuensi yang digunakan
LTE memiliki kecepatan downlink 100 adalah 1500 - 2000 MHz. Adapun persamaan
Mbps dan downlink 50 Mbps dengan teknologi untuk menghitung redaman propagasi di da-
akses yang digunakan adalah Orthogonal erah urban adalah sebagai berikut [4].
Frequency Division Multiplexing (OFDM) pada
arah downlink dan Single Carrier Frequency 𝐿𝑢 = 46,3 + 33,9 log 𝑓 − 13,82 log ℎ𝑏 +
Division Multiplex (SC-FDMA) pada arah 𝑎(ℎ𝑚 ) + (44,9 − 6,55 log ℎ𝑏 ) log 𝑑 + 𝐶𝑚 (3)
uplink, yang digabungkan dengan peng-
gunaan Multiple Input Multiple Output (MIMO). Persamaan tersebut digunakan untuk kondisi
berikut.

Surya Putra, T.G.A., Sudiarta, P.K., Diafari, I.G.A.K 47


E-Journal SPEKTRUM Vol. 2, No. 4 Desember 2015

1500 ≤ 𝑓 ≤ 2000 MHzR


Tabel 1 K-Parameter Untuk Wilayah Asia
K Dense Urban Sub- Rural Highways
30 ≤ ℎ𝑏 ≤ 200 mR

Values Urban Urban


1m ≤ ℎ𝑚 ≤ 10 m K1 68,02 69,02 69,02 57,02 78,02
1 ≤ 𝑑 ≤ 20 km
R
K2 48 45,9 44,9 48 40,1
K3 34,9 34,9 34,9 34,9 34,9
𝐶𝑚 = 3 dB (daerah urban) K4 8,2 8,2 8,2 8,2 8,2
K5 -6,55 -6,55 -6,55 -6,55 -6,55
𝑎(ℎ𝑚 ) adalah faktor koreksi antena mobile K6 0 0 0 0 0
K clutter 5 5 5 5 5
yang nilainya sebagai berikut.

𝑎(ℎ𝑚 ) = 3,2 (log 11,75 ℎ𝑚 )2 − 4,97 𝑑𝐵 ...... (4)


2.6 Tilting Antena
Tilt antena merupakan besar sudut
kemiringan pada antena dengan satuan de-
2.4 Model Propagasi ITU-R P.529 rajat, semakin besar sudutnya maka posisi
Model propagasi ITU-R P.529 merupakan antena akan semakin turun/menunduk. Proses
modifikasi dari model propagasi Hatta yang mengubah tilt antena dinakamakan tilting
bertujuan untuk memperbaiki berbagai keter- antena. Tilting antena merupakan tahapan
batasan yang dimiliki oleh model Hatta. Model optimasi yang dapat langsung dilakukan
propagasi ITU-R P.529 bekerja pada rentang setelah mengadakan drive test. Tilting antena
frekuensi 150-1500 MHz, Adapun persamaan bertujuan untuk menambah jangkauan yang
untuk menghitung propagasi di daerah urban dapat dijangkau oleh antena. Tilting terbagi
adalah sebagai berikut [5]. menjadi dua yaitu mechanical tilting dan
electrical tilting [7].
𝐿𝑢 = 69,82 + 7,37 log 𝑓 + 13,82 log ℎ𝑏 −
𝑎(ℎ𝑚 ) + (44,9 − 6,55 log ℎ𝑏 ) log 𝑑 ……(5) 1. Mechanical tilting adalah mengubah
azimuth antenna dan tingkat kemiringan
𝑎(ℎ𝑚 ) = (1,1 log 𝑓 − 0,7) ℎ𝑚 − 1,56 log 𝑓 − 0,8 antena secara fisik. Dampak yang d-
.......................................................(6) ihasilkan oleh mechanical tilting adalah
berubahnya luas coverage area secara
2.5 Standard Propagation Model keseluruhan.
Standard propagation model merupakan 2. Electrical tilting adalah kegiatan meng-
model propagasi yang didasarkan dari model ubah daya pancar antenna dengan cara
propagasi Okumura-Hatta yang mendukung mengatur parameter kelistrikan pada an-
frekuensi yang lebih tinggi dari 1500 MHz. tena. Berbeda dengan mechanical tilting,
Standard propagation model didasari oleh perubahan pada electrical tilt hanya akan
persamaan 7 [6]. berdampak pada ukuran main lobe yang
dipancarkan oleh antenna.
𝐿𝑢 = 𝐾1 + 𝐾2 log 𝑑 + 𝐾3 log 𝐻𝑇𝑥𝑒𝑓𝑓 + 𝐾4 +
𝐾5 (log 𝑑)(log 𝐻𝑇𝑥𝑒𝑓𝑓 ) + 𝐾6 𝐻𝑅𝑥𝑒𝑓𝑓 + 2.7 Software Radio Planning Atoll
𝐾𝑐𝑙𝑢𝑡𝑡𝑒𝑟 .................................................(7) Atoll merupakan sebuah software radio
planning yang menyediakan satu set alat dan
K merupakan konstanta yang digunakan pada fitur yang komperhensif dan terpadu yang
Standard Propagation Model dengan ke- memungkinkan user untuk membuat suatu
terangan seperti berikut. proyek perencanaan microwave ataupun pe-
rencanaan radio dalam satu aplikasi. Bebera-
𝐾1 = Frekuensi konstan (dB) pa prediksi study dari cakupan area dapat
𝐾2 = Jarak redaman konstan dikonfigurasikan sesuai kehendak perancang
𝑑 = jarak antara transmitter dan receiver [8]. Study yang disuguhkan diantaranya.
𝐾3 , 𝐾4 = Koefisien koreksi dari tinggi mobile
station 1. Coverage by signal level : Menghitung
𝐾5 , 𝐾6 = koefisien koreksi dari tinggi antenna area yang tertutupi oleh level sinyal dari
base station tiap cell.
𝐾𝑐𝑙𝑢𝑡𝑡𝑒𝑟 = koefisien koreksi dari redaman 2. Coverage by C/(I+N) level (DL) : Meng-
clutter hitung area yang tertutupi oleh SINR
𝐻𝑇𝑥𝑒𝑓𝑓 R = tinggi efektif dari transmitter pada downlink. SINR adalah perbandingan
base station antara kuat sinyal dengan kuat inter-
𝐻𝑅𝑥𝑒𝑓𝑓 = dan receiver pada mobile station ferensi ditambah noise yang dipancar-
kan oleh cell.
Nilai dari parameter K dapat dilihat pada Tabel 3. Coverage by C/(I+N) level (UL) : Meng-
1 berikut hitung area yang tertutupi oleh SINR
uplink.

Surya Putra, T.G.A., Sudiarta, P.K., Diafari, I.G.A.K 48


E-Journal SPEKTRUM Vol. 2, No. 4 Desember 2015

4. Coverage by throughput (DL) : Meng- 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


hitung area yang tertutupi oleh through- Penelitian pengaruh model propagasi dan
put downlink. perubahan tilt antena terhadap coverage area
5. Coverage by throughput (UL) : Meng- dilakukan dengan perhitungan dan simulasi
hitung area yang tertutupi oleh through- menggunakan Atoll. Data yang digunakan
put uplink. adalah spesifikasi standar sistem LTE yang
direkomendasikan 3GPP dengan meng-
3. METODOLOGI PENELITIAN gunakan power transmitter berbeda dari 30 –
Metode yang digunakan pada penelitian 43 dBm. Perhitungan dan simulasi redaman
ini yaitu dengan perhitungan dan simulasi model propagasi dilakukan pada frekuensi 900
menggunakan software Atoll untuk menen- MHz dengan model propagasi Okumura-Hatta
tukan coverage area yang dihasilkan pada dan ITU-R P.529, dan frekuensi 1800 MHz
frekuensi 900 MHz untuk model propagasi dengan model propagasi Cost-231 Hatta dan
Okumura-Hatta dan ITU-R P.529, dan fre- Standard Propagation Model untuk men-
kuensi 1800 MHz untuk model propagasi dapatkan jarak jangkauan antena dari masing-
Cost-231 Hatta dan Standard Propagation masing frekuensi dan model propagasi. Hasil
Model, serta pada sudut kemiringan yang ber- perhitungan dan simulasi untuk masing-
beda. Data spesifikasi antena yang digunakan masing frekuensi dan model propagasi diban-
adalah spesifikasi standar LTE yang dire- dingkan berdasarkan frekuensi yang sama
komendasikan oleh 3GPP. Untuk lebih jelas- untuk model propagasi yang berbeda, serta
nya, flowchart penelitian dapat dilihat pada frekuensi dan model propagasi yang berbeda.
Gambar 1 berikut.
4.1 Pengaruh Perubahan Model
Mulai Propagasi Terhadap Jarak Jangkauan
Antena
Studi Literatur Perhitungan dan simulasi yang dilakukan
untuk frekuensi 900 MHz dan 1800 MHz pada
masing-masing model propagasi dan power
transmitter didapatkan hasil seperti Gambar 2
1. Mengidentifikasi parameter
antena dan Gambar 3 berikut.
2. Menentukan model propagasi
3. Mempersiapkan software radio
planning Atoll

Menghitung jarak Membuat simulasi


jangkauan pada jarak jangkauan
masing-masing model pada masing-masing
propagasi model propagasi

Menganalisa hasil perhitungan dan


simulasi jarak jangkauan antena
Gambar 2. Grafik Perbandingan Jarak Jangkauan Antena
pada Frekuensi 900 MHz
Membuat simulasi pengaruh perubahan
tilt antena terhadap jarak pancar antena Gambar 2 merupakan grafik perbanding-
an jarak jangkauan antena pada frekuensi 900
Menganalisa hasil simulasi perubahan tilt MHz dari hasil perhitungan dan simulasi.
antena terhadap jarak jangkauan antena Model propagasi Okumura-Hatta menghasil-
kan jarak jangkauan yang lebih jauh jika
dibandingkan dengan model propagasi ITU-R
Membuat simulasi perencanaan sistem
LTE P.529 baik secara perhitungan maupun
simulasi. Dengan power maximum 43 dBm
secara perhitungan dan simulasi model
Menganalisa hasil simulasi perencanaan
sistem LTE propagasi Okumura-Hatta menghasilkan jarak
jangkauan sebesar 5,69 km dan 5,828 km,
sedangkan model propagasi ITU-R P.529
Seles
menghasilkan jarak jangkauan sebesar 4,57
km dan 4,671 km.
Gambar 1. Flowchart Penelitian

Surya Putra, T.G.A., Sudiarta, P.K., Diafari, I.G.A.K 49


E-Journal SPEKTRUM Vol. 2, No. 4 Desember 2015

Gambar 3. Grafik Perbandingan Jarak Jangkauan Antena Gambar 4. Grafik Perbandingan Jarak Jangkauan Antena
pada Frekuensi 1800 MHz Berdasarkan Perubahan Tilt Antena

Gambar 3 merupakan grafik perbanding- Gambar 4 merupakan grafik perbanding-


an jarak jangkauan antena pada frekuensi an jarak jangkauan antena berdasarkan per-
1800 MHz dari hasil perhitungan dan simulasi. ubahan tilt antena pada frekuensi 900 MHz
Model propagasi Standard Propagation Model dan 1800 MHz. Pada frekuensi 900 MHz de-
menghasilkan jarak jangkauan yang lebih jauh ngan tilt 0º jarak jangkauannya sebesar 5,828
jika dibandingkan dengan model propagasi km dan dengan tilt 10º jarak jangkauannya
Cost-231 Hatta baik secara perhitungan sebesar 2,337 km. Pada frekuensi 1800 MHz
maupun simulasi. Dengan power maximum 43 dengin tilt 0º jarak jangkauannya sebesar 2,74
dBm secara perhitungan dan simulasi model km dan dengan tilt 10º jarak jangkauannya
propagasi Standard Propagation Model meng- sebesar 1,134 km.
hasilkan jarak jangkauan sebesar 2,57 km dan Tilt antenna berpengaruh terhadap jarak
2,74 km, sedangkan model propagasi Cost- jangkauan antena, dimana dengan semakin
231 Hatta menghasilkan jarak jangkauan besar tilt antena maka posisi antena akan
sebesar 1,6 km dan 1,744 km. semakin menunduk sehingga mengakibatkan
Gambar 2 dan Gambar 3 menunjukkan, jarak jangkauan antena yang semakin kecil.
setiap model propagasi mendapatkan hasil Pada tiap-tiap perubahan sudut mengalami
jarak jangkauan yang berbeda walaupun perubahan jarak yang tidak konstan, artinya
menggunakan frekuensi dan spesifikasi per- setiap satu derajat perubahan sudut untuk
angkat yang sama. Perbedaan ini disebabkan sudut 1º, 2º, 3º, hingga 10º terjadi perubahan
karena persamaan yang digunakan dalam jarak yang tidak sama, ini berlaku di kedua
perhitungan model propagasi yang berbeda. frekuensi yang diujikan. Secara keseluruhan
Seperti pada model propagasi Okumura-Hatta dengan perubahan sudut 10º jarak jangkauan
dengan ITU-R P.529 meskipun menggunakan pada frekuensi 900 MHz dan 1800 MHz
parameter yang sama dalam perhitungan berkurang sebesar 3,491 km dan 1,606 km.
seperti frekuensi, tinggi antena base station,
dan tinggi mobile station tetapi variabel yang 4.3 Simulasi Perencanaan Sistem LTE
digunakan yang berbeda serta penggunaan Simulasi jarak jangkauan berdasarkan
tanda hitung yang berbeda seperti yang model propagasi, frekuensi, dan sudut ke-
terlihat pada Persamaan 1 dan 5. miringan antena yang sudah dilakukan me-
rupakan simulasi dalam kondisi ideal dimana
4.2 Pengaruh Perubahan Tilt Antena tidak memperhitungkan kontur wilayah peren-
Terhadap Jarak Jangkauan Antena canaannya. Untuk simulasi perencanaan sis-
Pengaruh perubahan tilt antena terhadap tem LTE akan dilakukan dengan memper-
jarak jangkauan dilakukan dengan simulasi. hitungkan kontur wilayah dengan mengambil
Simulasi dilakukan pada frekuensi 900 MHz wilayah perencanaan pada Kota Semarang.
dan 1800 MHz, model propagasi yang di- Perencanaan yang dibuat adalah perencana-
gunakan adalah Okumura-Hatta untuk fre- an sistem LTE 900 MHz dengan model
kuensi 900 MHz dan Standard Propaation propagasi Okumura-Hatta untuk mendapatkan
Model untuk frekuensi 1800 MHz. Tilt antena coverage menyeluruh pada wilayah Kota
yang digunakan adalah 0º sampai 10º. Semarang.
Simulasi yang dilakukan pada masing- Luas coverage area untuk satu site
masing frekuensi didapat hasil seperti pada berdasarkan hasil simulasi coverage area
Gambar 4. pada frekuensi 900 MHz dengan model

Surya Putra, T.G.A., Sudiarta, P.K., Diafari, I.G.A.K 50


E-Journal SPEKTRUM Vol. 2, No. 4 Desember 2015

propagasi Okumura-Hatta adalah sebesar perhitungan dan simulasi. Hasil perhitungan


88,309 km. Dengan luas coverage area hanya memerlukan 5 site sedangkan hasil
sebesar 88, 309 km maka diperlukan 5 site simulasi memerlukan 15 site untuk mencakupi
untuk dapat mencakupi seluruh wilayah Kota seluruh wilayah kota Semarang. Hal ini
Semarang. disebabkan kondisi kontur kota Semarang
Hasil tersebut merupakan hasil perhitung- tidak diperhitungkan saat melakukan per-
an tanpa memperhitungkan kontur ketinggian hitungan sedangkan dalam melakukan si-
pada wilayah tersebut. Kota Semarang me- mulasi, kontur wilayah diperhitungkan karena
miliki kontur ketinggian wilayah yang berbeda- menggunakan peta wilayah yang memiliki
beda sehingga dapat mempengaruhi coverage kontur ketinggian. Perbedaan ketinggian
area yang dihasilkan. Maka dari itu perlu wilayah akan berpengaruh terhadap coverage
dilakukan lagi simulasi untuk mendapatkan area yang dihasilkan, dimana jika pada wil-
hasil pemetaan yang dapat digunakan sebagai ayah dengan kontur yang rata coverage area
acuan dalam realisasinya. akan mencakupi wilayah secara maksimum
Hasil simulasi perencanaan yang di- seperti pada Gambar 7 berikut
lakukan dapat dilihat pada Gambar 5 dan
Gambar 6 berikut

Gambar 7. Hasil Coverage Area pada Daerah yang


Landai
Gambar 5. Hasil Perhitungan Coverage Pada Atoll
Gambar 7 merupakan hasil perencanaan
Gambar 5 merupakan hasil perencanaan pada wilayah dengan permukaan yang landai.
yang ditampilkan pada software Atoll. Dapat dilihat pada gambar 7 bahwa coverage
area pada tingkat ketinggian yang sama akan
mendapatkan hasil yang merata pada tiap-tiap
sektor. Sementara hasil coverage untuk da-
erah yang memiliki tingkat ketinggian yang
berbeda dapat dilihat pada Gambar 8 berikut.

Gambar 6. Hasil Perencanaan Pada Google Earth

Gambar 6 merupakan hasil perencanaan


yang sudah dikonversi dan ditampilkan pada
aplikasi Google Earth.
Pada Gambar 5 dan Gambar 6 terlihat Gambar 8. Hasil Coverage Area pada Daerah dengan
bahwa kota Semarang telah tercakupi oleh Ketinggian Berbeda
jaringan yang direncanakan. Untuk men- Gambar 8 merupakan hasil perencaan
dapatkan coverage menyeluruh pada kota
pada wilayah yang memiliki ketinggian yang
Semarang dibutuhkan 15 site tiga sektor
berbeda. Dapat dilihat pada Gambar 8 bahwa
dengan jari-jari cell dan spesifikasi yang me-
pada daerah dengan tingkat ketinggian yang
ngacu pada analisis yang telah dilakukan berbeda coverage yang dihasilkan dari
sebelumnya. masing-masing sektor akan berbeda ter-
Terdapat perbedaan hasil jumlah site
gantung dari kontur di sekitarnya. Dengan
yang digunakan jika dilakukan secara kondisi seperti ini maka diperlukan lebih

Surya Putra, T.G.A., Sudiarta, P.K., Diafari, I.G.A.K 51


E-Journal SPEKTRUM Vol. 2, No. 4 Desember 2015

banyak site untuk menutupi wilayah yang tidak [2] Hikmaturokhman, A., Wardhana, L. 2014.
terjangkau akibat adanya penghalang karena 4G Handbook. Jakarta
kontur ketinggian. Hal inilah yang me- Selatan: www.nulisbuku.com.
nyebabkan site yang diperlukan untuk men- [3] Dewi, K.L.K. 2014. Perencanaan
cakupi seluruh wilayah menjadi lebih banyak Coverage Pada Sistem Long Term
jika dibandingkan dengan perhitungan secara Evolution 700 Mhz di Kota Denpasar
teoritis saja yang mengabaikan kontur wilayah. (tugas akhir). Denpasar : Universitas
Jadi dari perencanaan yang telah dilakukan Udayana
dapat disimpulkan bahwa kontur wilayah saat [4] Primadasa, I.G.P.B. 2014. Perencanaan
melakukan perencanaan akan berpengaruh Coverage Jaringan LTE 1900 MHz Di
terhadap coverage area yang dihasilkan. Wilayah Kota Denpasar Dengan
Hasil perencanaan yang dilakukan, Kota Memperhitungkan Offered Bit Quantity
Semarang telah tercakupi seluruhnya dengan (OBQ) (tugas akhir). Denpasar :
jaringan yang diinginkan. Walaupun masih Universitas Udayana
terdapat beberapa blank spot dikarenakan [5] Spectrum Planning Team. 2001.
Kota Semarang merupakan kota yang memiliki Investigation of Modified Hata
ketinggian wilayah yang berbeda-beda, tetapi Propagation Models (spectrum planning
wilayah tersebut merupakan wilayah hutan report). Radiofrequency Planning Group
dan perbukitan yang sifatnya tidak urgent Australian Communications Authority
untuk mendapat coverage jaringan seluler. [6] Rani, M.S., Behara, S., Suresh, K. 2012.
Selain itu untuk memastikan wilayah tersebut Comparison of Standard Propagation
dikategorikan blank spot atau tidak, maka Model (SPM) and Stanford University
perlu dilakukan pengukuran langsung di- Interim (SUI) Radio Propagation Models
lapangan setelah melakukan realisasi peren- for Long Term Evolution (LTE). India :
canaan. Department of ECE, Chaitanya
Engineering College Visakhapatnam.
5. SIMPULAN [7] Kautsar, F.A. 2009. Optimasi Pelayanan
Kesimpulan yang dapat diambil dari Jaringan Berdasarkan Drive Test. (tugas
pembahasan yang telah dilakukan adalah akhir). Jakarta: Universitas Indonesia.
sebagai berikut. [8] Fauzi, M.R., Sukiswo. 2014.
1. Pada frekuensi 900 MHz model propagasi Perencanaan Jaringan Lte (Long Term
Okumura-Hatta menghasilkan jarak jang- Evolution) Menggunakan Software Radio
kauan yang lebih jauh dibandingkan de- Planning (Atoll) (tugas akhir). Semarang :
ngan model propagasi ITU-R P.529, dan Universitas Diponegoro.
pada frekuensi 1800 MHz Standard
Propagation Model menghasilkan jarak
jangkauan yang lebih jauh jika dibanding-
kan dengan Cost-231 Hatta.
2. Perubahan sudut kemiringan antena
berpengaruh terhadap jarak jangkauan
yang dihasilkan, dimana semakin besar
tilt antena maka jarak jangkauan yang
dihasilkan akan semakin kecil. Dengan
perubahan sudut 10º jarak jangkauan
pada frekuensi 900 MHz dan 1800 MHz
berkurang sebesar 3,491 km dan 1,606
km.
3. Simulasi perencanaan yang dilakukan di
Kota Semarang memerlukan 15 site un-
tuk mendapatkan coverage area yang
menyeluruh dengan sistem jaringan LTE
900 MHz.

6. DAFTAR PUSTAKA
[1] Purba, B.D., Santoso, I., Christyono, Y.
2008. Simulasi Prediksi Cakupan Antena
pada BTS (tugas akhir). Semarang :
Universitas Diponegoro

Surya Putra, T.G.A., Sudiarta, P.K., Diafari, I.G.A.K 52