Anda di halaman 1dari 4

Untuk kamu, sebuah nama yang masih sering kuucap saat rindu.

Izinkan aku berucap

Untuk sekali kesempatan

Walau hati berkata benci

Dan telingamu sudah tertutup

Mendengar basi suara mulutku

Ada cerita di dua kota yang berbeda

bersama tokoh yang tidak sengaja terbentuk

melalui harmoni suasana dan keterlibatan yang teratur

bernama kita

satu langkah menyusuri kegelisahan,

diantara bus dan siang yang menyapa

saat itu, deru napasmu belum terdengar

mata elangmu belum terjangkau

gerak tubuhmu masih tertutup bayangan

dan pertanda kehadiranmu masih semu

dan alam menyambut kita

bersama satu atap yang terpantul langit putih

hamparan bumi ikut menjadi saksi langkah

detik, menit maupun jam

berputar searah merangkul kita

seakan tidak ingin lepas


Saat itu aku belum sadar

Kehadiranmu membuat ruang tersendiri

Menampakkan sedikit celah diantara yang lain

Dan membuka relung terdalam yang sampai saat ini ku rasakan

Cerita di kota gudeg

Memberi makna tersirat dalam pertemuan kita yang singkat

Dalam kurun waktu tujuh hari,

aku pernah melewatkan hari tanpamu Commented [1]:

yang ketika terlintas di memori

menjadi penyesalanku saat bersamamu

menyesal karena tidak selalu disampingmu

Akan berbeda cerita saat di kotamu

Kota yang tidak pernah tidur, katamu

Sungguh, disana aku lepas, apa adanya

Melihatmu dari balik helm,

menyempatkan tanganku ke sela jarimu,

hingga kita berada di titik tertinggi di malam itu

hahaha, konyol rasanya membayangkan wajah panikmu

membagi waktu antara kewajibanmu dan aku

Ada banyak hal terdalam yang ku tahu lewat kamu,

Ada hal yang baru ku tahu tentang dirimu,

Dan aku tidak pernah menyesal mengenalmu

Karena hingga saat ini, kamu masih membuatku candu

Untuk mendengar suaramu


Untuk melihat bola matamu

Untuk merangkul kedua lenganmu

Kini, aku mengerti rasa bersalah itu

Melibatkanmu dalam perasaan yang harusnya

Bukan jadi prioritasku

Aku sudah menebak,

Bagaimana perasaanmu saat ini kepadaku

Bagaimana rasa bencimu

Bagaimana memori wajahku begitu memuakkan

Bagaimana suara terakhirku yang begitu menyakitkan

Dan bagaimana sulitnya kamu memaafkanku

Bisa jadi setelah kamu membaca ini,

Mengganggapku berlebihan,

aneh, atau bahkan gila

aku pasrah atas apa yang kamu pikirkan tentang aku

aku terima semua rasa sakitmu,

asal kamu leluasa mendengar namaku lagi

dalam bentuk memori lain

Maaf aku hanya berani mengutarakan lewat tulisan

Maaf aku sudah menyeretmu dalam benakku

Maaf aku berani mengetuk pintu hatimu

Maaf aku tidak bermaksud untuk membuatmu jatuh

Hingga tulisan ini akan berakhir,

Aku tidak segan-segan mengucap kata maaf berkali-kali


karena hanya kata itu yang berani ku tulis,

sebab tidak ada kata lagi yang kamu percaya

saat mengingatku untuk terakhir kalinya

Yogyakarta, ditulis sebulan setelah mengenalmu

Dari jarak yang terlalu jauh

Di detik-detik terakhir kuota menipis 