Anda di halaman 1dari 12

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum genetika yang berjudul “Alel Ganda” disusun


oleh:
nama : Nursyahida A
NIM : 1514040001
kelas : Pendidikan Biologi A
kelompok : tiga
telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada asisten/koordinator asisten, maka
dinyatakan diterima.

Makassar, November 2017


Koordinator Asisten Asisten

Ferry Irawan, S.Pd Paewa Panennungi, S.Pd

Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab

Hartati, S.Si, M.Si, Ph.D


NIP. 19740405 200003 2 002
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyusun setiap tubuh organisme terdiri dari unit yang berukuran
mikroskopis namun di dalamnya terdapat kekompleksitasan organel dengan
struktur dan fungsinya. Salah satu organel yang berperan penting dalam
pewarisan makhluk hidup yaitu nukleus. Pewarisan sifat suatu makhluk hidup
memang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan tersebut dapat dilihat dari
kekompleksitasan penyusunan dan perancangan suatu nukleotida-nukleotida
yang menyusun suatu DNA yang membawa bahan genetik (pembawa sifat)
suatu individu. DNA ini sendiri terletak pada kromosom yang berada di
nukleus atau inti sel.
Deoxyribonucleic acid atau yang dikenal DNA merupakan komponen
yang menyusun kromosom-kromosom tubuh suatu individu. DNA
mengandung bahan genetik atau gen yang membawa sifat suatu individu
misalnya sifat kepala botak. Kromosom terbagi menjadi kromosom tubuh atau
autosom dan kromosom kelamin atau gonosom. Jika gen berada pada
kromosom tubuh maka disebut autosom dengan jumlah 44 autosom. Jika gen
berada pada kromosom kelamin maka disebut gonosom yang menentukan jenis
kelamin dan berjumlah 2. Dalam kromosom juga terdapat alel yang merupakan
bentuk alternatif dari gen dalam kaitannya dengan ekspresi/fenotip. Suatu gen
memiliki sepasang alel. Namun sepasang alel ini ternyata dapat berubah
diakibatkan adanya mutasi. Sehingga karena adanya perubahan atau mutasi
menyebabkan alel pada suatu kromosom berjumlah lebih dari satu pasang (2)
yaitu menjadi 3 atau bahkan lebih. Hal ini juga menyebabkan munculnya
variasi-variasi sifat suatu individu. Sebagai seorang biologiwan kita harus
mengetahui alel ganda pada makhluk hidup meskipun dalam percobaan
sederhana.
Berdasarkan latar belakang diatas maka pada praktikum kali ini yang
berjudul alel ganda akan dilakukan dengan mengambil sampel dari beberapa
buah.
B. Tujuan
1. Untuk mengenal sifat keturunan pada manusia yang ditentukan oleh
pengaruh alel ganda
2. Untuk mencoba menetapkan genotip golongan darah dirinya sendiri
C. Manfaat
1. Agar mahasiswa dapat mengenal sifat keturunan pada manusia yang
ditentukan oleh pengaruh alel ganda
2. Agar mahasiswa dapat mencoba menetapkan genotip golongan darah
dirinya sendiri
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pewarisan sifat memiliki dasar materi seperti gen dan kromosom. Dimana
gen merupakan zat fisik nyata yang ada di dalam semua sel tubuh kita. Semua
makhluk hidup tersusun atas banyak kompartemen mikroskopis yang dinamakan
sel. Sebagian organisme misalnya bakteri dan amoeba, hanya terdiri dari satu sel
tunggal. Namun demikian, sebagian besar organisme, termasuk manusia tersusun
atas milyaran sel tunggal. meskipun sel sel memiliki ukuran dan fungsi yang
sangat bervariasi, mereka memilki rancangan dasar yang sama, di dalam sebuah
sel ada sebuah kompatemen yang dinamakan nukleus. Di dalam nukleus terdapat
kromosom yang di dalamnya terdapat gen yang tersusun secara linear. Setiap
makhluk hidup memiliki jumlah kromosom yang berbeda (Brookers, 2005).
Biasanya kita berpendirian bahwa sebuah gen itu hanya memiliki sebuah
alel saja. Misalnya gen dominan R (merah) mempunyai alel r (putih), T (tinggi)
mempunyai alel t (pendek), B (bulat) mempunyai alel b (oval). Kenyataan
menunjukkan bahwa sebuah gen dapat memiliki lebih dari sebuah alel. Peristiwa
ini disebut multipel alelomorfi, sedang alel-alelnya dinamakan alel ganda (Suryo,
2013).
Alel berasal dari kata Alleon yang berarti bentuk lain. Disebut juga versi
alternative gen yang menjelaskan adanya variasi dan pewarisan suatu sifat. Alel
adalah gen-gen yang terletak pada lokus yang sama (bersesuaian) dalam
kromosom homolog. Bila dilihat dari pengaruh gen pada fenotip, alel ialah
anggota dari sepasang gen yang memiliki pengaruh berlawanan, jadi alel adalah
gen-gen yang terletak pada lokus yang sama dan memiliki pekerjaan yang sama
atau hampir sama. Pada individu yang homozigot, pasangan kedua alel
mempunyai simbol yang sama persis, misalnya AA, BB. Sedangkan genotip
heterozigot pasangan kedua alel mempunyai simbol yang tidak sama misal Aa,
Bb, namun Ab dan aB bukan alelnya (Hartati dan Ferry, 2017).
Sebuah contoh klasik tentang adanya alel ganda ialah pada kelinci. c+
yang merupakan gen asli normal, menyebabkan kelinci berwarna kelabu. Gen ini
membentuk berbagai macam alel mutan, seperti cch yang menyebabkan kelinci
berwarna kelabu muda, karena campuran dari rambut hitam dan putih disebut
kelinci chicilla. ch penyebab kelinci berwarna putih dengan warna hitam pada
ujung-ujung hidung, telinga, kaki dan ekor dinamakan kelinci Himalaya dan c
penyebab tidak terbentuknya pigmen sama sekali, sehingga kelinci berwarna putih
dinamakan kelinci albio. Selain itu golongan darah pada manusia itu herediter
(keturunan) yang ditentukan pula oleh alel ganda. Sampai saat ini telah dikenal
cukup banyak sistem golongan darah seperti menurut sistem ABO, sistem MNSs,
sistem Rh (Suryo, 2013).
Sistem ABO merupakan sistem penggologan darah yang terkenal. Ada
tidaknya zat antigen dipermukaan membrane sel darah merah seorang individu
menyebabkan darah individu dapat dikelompok-kelompokkan, yang kita kenal
dengan golongan darah. Di dalam sel darah merah mempunyai perbedaan jenis
karbohidrat dan protein. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting
adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Sebetulnya ada 46 jenis
antigen selain antigen ABO dan Rh, namun sangat jarang. Transfusi darah dari
golongan yang tidak sesuai dapat mengalami hal yang membahayakan bagi tubuh
individu yang menerima, bahkan bias sampai kematian ( Azhar, et al. 2014).
Tahun 1927 Landsteiner dan Levine menemukan antigen baru lagi, yang
disebut antigen-M dan antigen-N. Mereka berpendapat bahwa sel darah merah
seseorang dapat memiliki salah satu atau kedua macam antigen tersebut. Jika
dilakukan tes dengan antiserum yang mengandung anti-M tampak adanya
agglutinasi sedangkan anti-N tidak maka orang itu termasuk golongan darah M.
Jika antiserumnya mengandung anti-N tampak adanya agglutinasi sedangkan
anti-M tidak maka orang itu termasuk golongan darah N.Terbentuknya antigen-M
di dalam eritrosit di tentukan oleh alel LM sedangkan antigen-N oleh alel LN.
Pada alel-alel ini tidak dikenal dominasi, sebab alel LM dan LN merupakan alel
kodominan ( Hartati dan Ferry, 2017).
Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan
antibodi yang terkandung dalam darahnya. Individu dengan golongan darah A
memiliki sel darah merah dengan antigen A dan menghasilkan antibodi terhadap
antigen B. Maka, golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari
orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif. Individu dengan golongan
darah B memiliki antigen B dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A. Maka,
orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah golongan B-
negatif atau O-negatif. Individu dengan golongan darah AB memiliki antigen A
dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Maka,
golongan darah AB-positif dapat menerima darah ABO apapun dan disebut
resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat
mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif. Individu dengan golongan
darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap
antigen A dan B. Maka, golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya
kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal.
Tapi, golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-
negatif. Darah yang paling banyakditemukan di dunia adalah golongan darah
O.Sementara yang paling jarang adalah darah AB ( Azhar, et al. 2014).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari/tanggal : Senin/ 6 November 2017
Pukul : 7.30-9.10 WITA
Tempat : Laboratorium Mikrobiologi jurusan biologi FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
1. Alat :
a. Blood lancet
b. object glass
2. Bahan :
a. darah
b. anti serum A dan B
c. alkohol
d. kapas
C. Prosedur Kerja
Bersihkan jari Tusuk jari dengan
dengan alkohol blood lancet agar
darah keluar

Letakkan darah pada


objek glass kemudian
tambahkan anti serum A
dan serum B dan
homogenkan.
Kemudian amati
perubahan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan
No Nama Golongan darah
1 Nursyahida O
2 Yulinar pratiwi A
3 NP. Sri Ramadani Alam O
3 Isnaeni thahir O
4 Reski amalia sapa B
5 Meisy dwitasari AB
6 Muhammad Nurhadi B
7 Erwi Hariadi O
8 Farahdibah aina auliyah O
9 Arna ningsih A
10 Nurdayanti B
11 Rizky yuliansari B
12 Riska damayanti O
13 Budi setiawan O
14 Rahmat baharuddin B
15 Nurul mukhlisah B
16 Citra auliyah thamrin O
17 Farhani islami B
18 Nur hanifah B
19 Pricilia mangin B
20 Nirmala jumantara B
parappa
21 Nurhidayah s AB
22 Muh. algazali O
23 Sitti ashriah O
24 Ariani arifin O
25 Nurhikmah hamka O
26 Sitti nadia A
27 Nurhasanah O
28 Elpandi A
30 Nurlisyah O
31 Widyarti azzahrah O
32 Ruaeda O
Analisis Data
Jumlah orang bergolongan darah A= 4
Jumlah orang bergolongan darah B = 10
Jumlah orang bergolongan darah AB = 2
Jumlah orang bergolongan darah O = 16
Total individu = 32
frekuensi golongan darah A(p2)= 4/32 x 100%= 12,5 %
frekuensi golongan darah B(q2)= 10/32 x 100%= 31,25 %
frekuensi golongan darah AB (2pq)= 2/32 x 100%=6, 25%
frekuensi golongan darah O (r2)= 16/32 x 100%= 50%
Rumus Hardy-Weinberg
p+q+r=1
Misalkan alel IA=p, IB=q, dan alel i=r
r2=50% atau 0,5
frekuensi alel r= √ 0,5 =0,7
frekuensi alel p= √ 0,12 =0,3
frekuensi alel q= √ 0,31 = 0,56

B. Pembahasan
Pada percobaan alel ganda ini dilakukan dengan menguji golongan darah
masing-masing mahasiswa sebagai individu dalam suatu populasi. Dimana tes
golongan darah ini dilakukan dengan uji serum. Jika darah mengalami
penggumpalan ketika ditetesi antiserum A berarti didalam darahnya terdapat
antigen A sehingga orang tersebut bergolongan darah A. Apabila darah mengalami
penggumpalan ketika ditetesi anti serum B menunjukkan bahwa dalam darahnya
terdapat anti B sehingga orang tersebut bergolongan darah B. Jika terjadi
penggumpalan pada kedua antiserum tersebut berarti darah mengandung antigen A
dan antigen B menyebabkan orang tersebut bergolongan darah B dan jika tidak
terjadi penggumpalan ketika ditetesi antigen A dan anti gen B berarti orang
tersebut bergolongan darah O. Hal ini sesuai dengan teori Azhar (2016) bahwa
golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang
terkandung dalam darahnya.
Dari hasil analisis data diperoleh bahwa jumlah individu bergolongan
darah A sebanyak 4, bergolongan darah B sebanyak 10, bergolongan darah AB
sebanyak 2, bergolongan darah O sebanyak 16 orang. Data ini kemudian dianalisis
dengan persamaan Hardy-Weinberg sehingga diperoleh frekuensi genotip terbesar
yaitu pada golongan darah O sebesear 50% (mendominasi setengah populasi)
sedangkan yang paling kecil yaitu golongan darh AB sebesar 6,25%. Dari hasil
tersebut dilihat bahwa alel O lebih banyak dibandingkan dengan alel lainnya. Hal
ini dikarenakan dalah golongan darah A juga tidak serta merta hanya alel A yang
terdapat dalam darahnya akan tetapi dapat juga heterozigot begitupula dengan alel
B. Dan jika terjadi perkawinan antara heterozigot maka anakannya memiliki
kemungkinan bergolongan darah O. Sedangkan untuk golongan darah AB yang
paling sedikit disebabkan karena AB hanya dapat muncul dari perkawinan A
homozigot dengan B homozigot serta A heterozigot dengan B heterozigot.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa:
1. Pola pewarisan alel ganda khususnya pada golongan darah manusia
ditentukan oleh alel yang terdapat dalam kromosom.
2. Genotip golongan arah individu dapat ditentukan dengan melakukan
pengujian golongan darah dengan sistem ABO menggunakan serum A dan
B.
B. Saran
Sebaiknya praktikan tepat waktu dalam melakukan praktikum sehingga
praktikum dapat berjalan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Azhar, Ferdian Nugraha, Putri Madona dan Tianur. 2014. Alat Pembaca Golongan
darah dan rhesus. Jurnal teknik elektro dan komputer. Vol.2, No.2

Brookes, Martin. 2005. Genetika. Jakarta :Penerbit Erlangga

Hartati dan Irawan, Ferry. 2017. Modul Genetika Berbasis pendekatan Saintifik.
Makassar: Penerbit Jurusan Biologi FMIPA UNM

Suryo. 2013. Genetika untuk Strata 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press