Anda di halaman 1dari 25

KEPERAWATAN KOMUNITAS

“ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DENGAN


PENYAKIT KRONIS DI MASYARAKAT”

DOSEN PENGAMPU : Ns. NETHA DAMAYANTHIE,


M.Kep
DISUSUN OLEH :
BELLA TIARA W PO.71.20.1.15.124
NOFRIDAWATI PO.71.20.1.15.136
NURUL ALFATARISYA PO.71.20.1.15.138
RIMA NARULITA PO.71.20.1.15.142
SILVA FITRIA PO.71.20.1.15.143
SONDANG YULIANA SINAGA PO.71.20.1.15.144

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAMBI


PRODI D-IV JURUSAN KEPERAWATAN
T.A 2017/2018
KONSEP TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DENGAN
PENYAKIT KRONIS

1. Pengertian Penyakit Kronis


Penyakit kronis merupakan jenis penyakit degeneratif yang
berkembang atau bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama, yakni
lebih dari enam bulan. Orang yang menderita penyakit kronis cenderung
memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan cenderung mengembangkan
perasaan hopelessness dan helplessness karena berbagai macam
pengobatan tidak dapat membantunya sembuh dari penyakit kronis
(Sarafino, 2006). Rasa sakit yang diderita akan mengganggu aktivitasnya
sehari-hari, tujuan dalam hidup, dan kualitas tidurnya (Affleck et al. dalam
Sarafino, 2006).

2. Jenis-jenis Penyakit Kronis di Masyarakat dan Fenomena Kejadian


Menurut artikel, jenis-jenis penyakit kronis yang ada di masyarakat yaitu :
a. Stroke
Fenomena kejadian stroke saat ini yaitu stroke merupaka penyakit
yang sering dikaitkan dengan penyakit orang tua tetapi
kenyataannya, stroke bisa menyerang seseorang di usia muda.
b. Batu Ginjal
c. Hipertensi
Fenomena kejadian hipertensi yaitu hipertensi dapat menyerang
kelompok umur manapun. Bila dibawah 30 tahun, dicurigai adanya
hipertensi sekunder.
d. Serangan Jantung
Fenomena serangan jantung yaitu biasanya banyak menyerang pria
berusia di atas 30 tahun, namun mereka yang berusia dbawah 30
tahun juga bisa kena, terutama faktor herediter.
e. Radang Sendi
f. Melanoma
g. Osteoporosis
h. Kanker Payudaraalzheimer
i. Asam Urat (Gout)
j. Diabetes Tipe 2

3. Gambaran Angka Kejadian Penyakit Kronis


a. Hipertensi
Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di
pembuluh darah meningkat secara kronis. Hal tersebut dapat terjadi
karena jantung bekerja lebih keras memompa darah untuk
memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh. Jika dibiarkan,
penyakit ini dapat mengganggu fungsi organ-organ lain, terutama
organ-organ vital seperti jantung dan ginjal. Didefinisikan sebagai
hipertensi jika pernah didiagnosis menderita hipertensi/penyakit
tekanan darah tinggi oleh tenaga kesehatan (dokter/perawat/bidan)
atau belum pernah didiagnosis menderita hipertensi tetapi saat
diwawancara sedang minum obat medis untuk tekanan darah tinggi
(minum obat sendiri). Kriteria hipertensi yang digunakan pada
penetapan kasus merujuk pada kriteria diagnosis JNC VII 2003,
yaitu hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau
tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Kriteria JNC VII 2003 hanya
berlaku untuk umur ≥18 tahun, maka prevalensi hipertensi
berdasarkan pengukuran tekanan darah dihitung hanya pada
penduduk umur ≥18 tahun. Mengingat pengukuran tekanan darah
dilakukan pada penduduk umur ≥15 tahun maka temuan kasus
hipertensi pada umur 15-17 tahun sesuai kriteria JNC VII 2003
akan dilaporkan secara garis besar sebagai tambahan informasi.
Dari tabel 3.5.3 terlihat prevalensi diabetes dan hipertiroid
di Indonesia berdasarkan wawancara yang terdiagnosis dokter
sebesar 1,5 persen dan 0,4 persen. DM terdiagnosis dokter atau
gejala sebesar 2,1 persen. Prevalensi diabetes yang terdiagnosis
dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta
(2,5%), Sulawesi Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%).
Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter atau gejala, tertinggi
terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%), Sulawesi Utara (3,6%),
Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara Timur 3,3 persen.
Prevalensi hipertiroid tertinggi di DI Yogyakarta dan DKI Jakarta
(masing-masing 0,7%), Jawa Timur (0,6%), dan Jawa Barat
(0,5%).
Prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat melalui
pengukuran pada umur ≥18 tahun sebesar 25,8 persen, tertinggi di
Bangka Belitung (30,9%), diikuti Kalimantan Selatan (30,8%),
Kalimantan Timur (29,6%) dan Jawa Barat (29,4%). Prevalensi
hipertensi di Indonesia yang didapat melalui kuesioner terdiagnosis
tenaga kesehatan sebesar 9,4 persen, yang didiagnosis tenaga
kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9,5 persen. Jadi, ada 0,1
persen yang minum obat sendiri. Responden yang mempunyai
tekanan darah normal tetapi sedang minum obat hipertensi sebesar
0.7 persen. Jadi prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 26,5
persen (25,8% + 0,7 %).
Dari tabel 3.5.4 terlihat prevalensi diabetes melitus
berdasarkan diagnosis dokter dan gejala meningkat sesuai dengan
bertambahnya umur, namun mulai umur ≥65 tahun cenderung
menurun. Prevalensi hipertiroid cenderung meningkat seiring
bertambahnya umur dan menetap mulai umur ≥45 tahun.
Prevalensi hipertensi berdasarkan terdiagnosis tenaga kesehatan
dan pengukuran terlihat meningkat dengan bertambahnya umur.
Prevalensi DM, hipertiroid, dan hipertensi pada perempuan
cenderung lebih tinggi dari pada laki-laki. Prevalensi DM,
hipertiroid, dan hipertensi di perkotaan cenderung lebih tinggi dari
pada perdesaan.
Prevalensi DM cenderung lebih tinggi pada masyarakat
dengan tingkat pendidikan tinggi dan dengan kuintil indeks
kepemilikan tinggi. Prevalensi hipertensi cenderung lebih tinggi
pada kelompok pendidikan lebih rendah dan kelompok tidak
bekerja, kemungkinan akibat ketidaktahuan tentang pola makan
yang baik.
Pada analisis hipertensi terbatas pada usia 15-17 tahun
menurut JNC VII 2003 didapatkan prevalensi nasional sebesar 5,3
persen (laki-laki 6,0% dan perempuan 4,7%), perdesaan (5,6%)
lebih tinggi dari perkotaan (5,1%).

b. PJK dan Stroke


c. DM
4. Peran Puskesmas Dalam Menanggulangi Penyakit Kronis di
Masyarakat
a. Pemberdayaan
Pemberdayaan sebagai salah satu strategi dasar utama promosi
kesehatan, dikembangkan sesuai sasaran, kondisi puskesmas dan
tujuan dari promosi tersebut. Pada penyakit hipertensi pemberdayaan
mengacu pada strategi dasar utama promosi kesehatan, yang meliputi
pemberdayaan individu, pemberdayaan keluarga dan pemberdayaan
masyarakat.
b. Bina Suasana
Bina Suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang
mendorong individu anggota masyarakat untuk mau melakukan
perilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan terdorong untuk mau
melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial di mana pun ia berada
(keluarga di rumah, organisasi siswa/mahasiswa, serikat
pekerja/karyawan, orang-orang yang menjadi panutan/idola,
kelompok arisan, majelis agama dan lain-lain, dan bahkan masyarakat
umum) menyetujui atau mendukung perilaku tersebut.
Di Puskemas harus tersedia media cetak dalam bentuk poster-
poster yang berkaitan dengan faktor-faktor pencetus hipertensi seperti
poster tentang merokok, aktivitas fisik dan poster tentang jantung
sehat, Dalam upaya menciptakan suasana yang kondusif yang
menunjang terbentuknya perilaku yang sehat sebagai tindakan
preventif terhadap penyakit hipertensi, program kegiatan pelatihan
kepada petugas pemegang program pun turut memegang peranan
penting,
c. Advokasi
Kebijakan untuk pengendalian PTM khususnya penyakit
hipertensi. Pengetahuan petugas tentang kebijakan PTM mendukung
terlaksananya sosialisasi kebijakan PTM di tingkat puskesmas
maupun masyarakat. Advokasi ini padahal sangat penting untuk
mendapatkan bantuan dan dukungan pendanaan terkait pengendalian
PTM.
d. Kemitraan
Kemitraan merupakan suatu kerjasama formal antara individu-
individu, kelompok kelompok atau organisasi-organisasi untuk
mencapai pengendalian PTM dan faktor risiko PTM di masyarakat
(Anonim 2007).
Dodani (2011) dalam penelitiannya tentang Partisipatif Berbasis
Masyarakat untuk Pengendalian dan Pencegahan Hipertensi di
Gereja-gereja Afrika Amerika. Community Basic Health Promotion
(CBHP) atau program promosi kesehatan berbasis masyarakat yaitu
program kolaboratif dengan gereja-gereja dan organisasi keagamaan
lainnya. Departemen Kesehatan bermitra dengan gereja dan kelompok
luar menjadi proyek yang saat ini dikembangkan sebagai program
kolaboratif di 16 gereja Asia Afrika, menunjukkan tingginya antusias
dan partisipasi dari para peserta. Program CBHP ini juga mendapat
perhatian lebih dari para pembuat kebijakan.
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DENGAN PENYAKIT
HIPERTENSI

Pengkajian Tahap 1
1. Geografi
a. Keadaan tanah: tanah kering namun tidak berdebu
b. Luas daerah: 8 Ha
c. Batas wilayah:
Utara : desa Demakan
Barat : desa Wirun
Selatan: RT 1 RW 2
Timur : desa Demakan
2. Demografi
a. Jumlah KK: 47 KK
b. Jumlah penduduk keseluruhan: 508 jiwa
c. Jumlah Lansia : 100 orang
d. Mobilitas penduduk: penduduk jarang di rumah ketika pagi dan siang hari
karena bekerja, sedangkan anak-anak pada sekolah
e. Jumlah keluarga: 47 keluarga
f. Kepadatan penduduk: padat
g. Tingkat pendidikan penduduk:
1) Perguruan tinggi: 10 orang
2) TK : 17 – 20 orang
3) SMA : 16 orang
4) SMP : 15 orang
5) SD : 20 orang
6) Lansia tidak bersekolah : 30
7) Lansia tamat SD: 50
8) Lansia tamat SMP : 10
9) Lansia tamat SMA : 5
10) Lansia tamat perguruan tinggi : 5
h. Pekerjaan:
1) PNS : 10% jumlah penduduk
2) Buruh : 10% jumlah penduduk
3) Pedagang : 70% jumlah penduduk
4) IRT : 10% jumlah penduduk
h. Pendapatan rata-rata:
1) Rp 800.000,- : 20%
2) Rp 800.000,- s/d Rp 2.000.000.- : 50%
3) Rp 2.000.000,- : 30%
i. Tipe masyarakat: Masyarakat niaga
j. Agama: 100% Islam
Pengkajian Tahap 2
1. Lingkungan fisik
a. Perumahan: permanen dan rata-rata dalam kategori baik
b. Penerangan: di lingkungan penerangan pada malam hari sudah cukup, tapi
banyak rumah warga yang kurang pencahayaannya pada siang hari
c. Sirkulasi udara: lingkungan sejuk karena banyak pohon yang ditanam
warga sekitar tetapi banyak perumahan warga yang ventilasi rumahnya
kurang memadahi seperti kurangnya jumlah jendela dan dekatnya jarak
antar rumah.
d. Kepadatan penduduk: Tergolong padat.
e. Edukasi
2. Status pendidikan: SMA sederajat, yang terdiri dari:
a. Perguruan tinggi: 10 orang
b. TK : 17 – 20 orang
c. SMA : 16 orang
d. SMP : 15 orang
e. SD : 20 orang
Sarana pendidikan: terdapat 1 taman kanak-kanak
3. Keamanan dan keselamatan
a. Pemadam kebakaran: tidak ada
b. Polisi: tidak ada namun terdapat siskamling secara rutin
c. Sarana transportasi: sepeda ontel, motor dan mobil pribadi
d. Keadaan jalan: jalanan sudah diaspal dan ramai akan kendaraan bermotor
Pemilihan ketua RT/ RW dengan cara voting bersama
4. Struktur Pemerintahan
a. Masyarakat swadaya yang terdiri dari 1 RW dan 4 RT
b. Pamong desa: 1 orang
c. Kader desa: 5 orang
d. PKK: ada dan masih berjalan aktif tiap bulan
e. Kontak tani: tidak ada
f. Karang taruna: ada dan berjalan aktif tiap bulan
g. Kumpulan agama: ada dan aktif di masyarakat
5. Sarana dan Fasilitas Kesehatan
a. Pelayanan kesehatan: Tidak terdapat praktik bidan swasta maupun praktik
klinik swasta yang lain.
b. Tenaga kesehatan: 2 perawat dan 1 bidan
c. Tempat ibadah: terdapat masjid dan mushola
d. Sekolah: terdapat 1 taman kanak-kanak
e. Panti sosial: tidak terdapat
f. Pasar: tidak ada, namun terdapat banyak toko kelontong yang
menyediakan banyak kebutuhan dari masyarakat sekitar
g. Tempat pertemuan: terletak di rumah ketua RW dalam setiap acara yang
diadakan oleh lokasi setempat
h. Posyandu: terdapat posyandu lansia (tiap minggu ke 2)
Sering hadir: 35 % lansia
Jarang hadir : 25 % Lansia
Tidak pernah hadir : 40 %
dan posyandu balita (tiap minggu pertama) berjalan aktif setiap sebulan
sekali.
i. Hygiene perumahan: sanitasi warga RW 1 dalam kategori baik
j. Sumber air bersih: air sumur galian
k. Pembuangan air limbah: dialirkan lancar ke selokan dan tidak
menggenang
l. Jamban: 80% sudah mempunyai jamban di rumah masing-masing
m. Sarana MCK: semua dilakukan di kamar mandi masing masing dan
hampir tidak ada yang di sungai
n. Pembuangan sampah: dibuang dan dikumpulkan di TPS dekat makam
setempat
o. Sumber polusi: air selokan
6. Komunikasi
Terdapat infrastruktur komunikasi yang memadai dan modern seperti
internet, ponsel, koran, majalah, radio dan televisi. Masyarakat juga bisa
menggunakan alat-alat komunikasi tersebut. Untuk papan informasi untuk
menyampaikan kabar berita dari desa maupun dari yang disediakan tempat di
dekat rumah pak RW.
7. Ekonomi
Keadaan ekonomi masyarakat RW 1 desa Bekonang dalam kategori baik dan
diatas garis kemiskinan. Warga masyarakat juga tidak ada yang menganggur
di rumah. Rata-rata pekerjaan warga setempat adalah pedagang, baik di rumah
maupun masyarakat. Rata-rata gajih:
a. Rp 800.000,- : 20%
b. Rp 800.000,- s/d Rp 2.000.000.- : 50%
c. Rp 2.000.000,- : 30%
8. Rekreasi
Karang taruna dari wilayah setempat sering mengadakan wisata
bersama-sama ke suatu tempat. Kelompok khusus seperti anggota kader juga
sering mengadakan rekreasi bersama yang diharapkan dapat mengurangi
stresor dan beban pikiran.
Distribusi penyakit dengan agregat lansia dengan hipertensi
Dari rekapitulasi data bulan Maret-Mei di puskesmas mojolaban 90 lansia
yang bekunjung/periksa. Dari jumlah tersebut ada 3 penyakit dengan distribusi
terbesar yaitu:
1. Hipertensi : 50 orang atau 45 %
2. Atritis : 15 orang atau 13,5 %
3. DM: 25 orang atau 22,5 %
Dari data kesehatan di RW 1 didapatkan data bahwa :
1. Jumlah lansia keseluruhan : 100 orang
2. Jumlah lansia dengan hipertensi : 50 orang atau sekitar 50 %
3. Jumlah lansia dengan artritis: 15 orang atau sekitar 15 %
4. Jumlah lansia dengan DM : 25 orang atau sekitar 25 %

2. Analisa Data
NO DATA FOKUS PROBLEM ETIOLOGI
.
1. DS : Resiko tinggi Kurangnya
1. Dari hasil wawancara peningkatan pengetahuan
dengan ketua RW 1 angka kejadian
mengatakan bahwa rata- hipertensi pada
rata lansia yang lansia
menderita hipertensi
sekitar 50 %
DO :
1. Berdasarkan data dari
puskesmas mojolaban
pada bulan Maret sampai
bulan Mei di kelurahan
bekonang dukuh
mojosari RW 1 45%
Lansia menderita
hipertensi.
2. 85% kemampuan lansia
dalam mengenali secara
dini penyakit hipertensi
kurang baik.
3. 40% warga yang
menderita hipertensi
tidak pernah
mendapatkan penyuluhan
tentang hipertensi

3. Diagnosis Keperawatan
a. Resiko tinggi peningkatan angka kejadian hipertensi pada lansia
berhubungan dengan Kurangnya pengetahuan.
4. Intervensi

Data Diagnosa Tujuan Noc Nic


Masalah Domain 1 : Tujuan : Prevensi Primer Prevensi Primer;
Kesehatan Promosi
Resiko Kesehatan Berkurangny Domain IV Pengetahuan Domain 3; Perilaku
peningkatan a perilaku kesehatan dan perilaku.
hipertensi Kelas 2; berisiko Kelas S; Pengetahuan Kelas S; Edukasi klien
pada lansia Manajemen meningkatny kesehatan  5510: Pendidikan
Hasil angket Kesehatan a hipertensi kesehatan (210)
:  Defisiensi dan Level 3: Intervensi  5520: Memfasilitasi
kesehatan meningkatny  1844: Pengetahuan; pembelajaran (244).
1. 85% komunitas a efektifitas manajemen sakit akut.  5604: Pengajaran
kemampuan (00215). pemeliharaan  1803: Pengetahuan; kelompok (372)
lansia dalam  Perilaku kesehatan proses penyakit.  5618: Pengajaran
mengenali kesehatan pada agregat  1805: Pengetahuan; prosedur/tindakan
secara dini cenderung resiko perilaku sehat. (371).
penyakit berisiko meningkatny  1823: Pengetahuan;
hipertensi (00188). a hipertensi promosi kesehatan. Domain 4; Keamanan
kurang baik.  Ketidakefektif  1854: Pengetahuan; Kelas U; Manajemen
2. 40% a pemeliharaan diet sehat krisis
warga yang kesehatan  1855: Pengetahuan;  6240: P3K (194)
menderita (00099). gaya hidup sehat.  6366:Triase; telepon
hipertensi (399)
tidak pernah
mendapatka Domain 7; Komunitas
n Kelas C; Promosi
penyuluhan kesehatan
tentang komunitas
hipertensi
3. Level 3: Intervensi
Berdasarkan
 7320: Manajemen
data dari
kasus (113).
puskesmas
 8500: Pengembangan
mojolaban
kesehatan masyarakat
pada bulan
(129).
Maret
 8700:Pengembangan
sampai
program (313).
bulan Mei di
 8750: Pemasaran
kelurahan
sosial di masyarakat
bekonang
(351).
dukuh
mojosari
RW 1 45%
Lansia
menderita
hipertensi.

Prevensi sekunder Prevensi sekunder;


Domain IV; Pengetahuan Domain 3: Perilaku
kesehatan dan perilaku.
Kelas O; Terapi perilaku
Kelas Q; Perilaku sehat Level 3; Intervensi
Level 3: Intervensi  4350:Manajemen
 1600:Kepatuhan perilaku (92)
perilaku  4360:Modifikasi
 1621:Kepatuhan perilaku (95)
perilaku; diet sehat.
 1602:Perilaku Kelas V; Manajemen
promosi kesehatan . resiko
 1603:Pencarian Level 3; Intervensi
perilaku sehat .  6486:Manajemen
 1606:Partisipasi lingkungan;
dalam pengambilan keamanan (179).
keputusan perawatan
kesehatan . Domain 6; Sistem
 1608:Kontrol gejala . kesehatan
Kelas Y; Mediasi
Kelas R; Health Beliefs terhadap sistem
 1704:Health beliefs; kesehatan
perceived Threat  7320:Manajemen
 1705:Orientasi kasus (113)
kesehatan  7400:Panduan
sistem kesehatan
Kelas FF; Manajemen (212).
kesehatan
 3100:Manajemen Kelas A; Manajemen
individu; sakit sistem kesehatan
akut .  7620:Pengontrolan
Kelas T; Kontrol resiko berkala (132).
dan keamanan  7726:Preceptor;
 1908:Deteksi faktor peserta didik (306).
resiko.  7890:Transportasi;
antar fasilitasi
Domain V; Kesehatan kesehatan.
yang dirasakan  7880:Manajemen
. teknologi (387).
Kelas U; Kesehatan dan
Kualitas Hidup Domain 6: Sistem
 2008:Status Kesehatan
kenyamanan.
 2006:Status Kelas D; Manajemen
kesehatan individu . resiko komunitas.
 2000:Kualitas hidup  6520:Skrining
 2005:Status kesehatan (213)
kesehatan peserta
didik .

Kelas V; Status gejala


 2109:Tingkatan
ketidaknyamanan .
 1306:Nyeri;
Tingkat Respon
fisik
 2102:Level nyeri.
 2103:Tingkatan
gejala .

Kelas EE; Kepuasan


terhadap perawatan
 3014:Kepuasan
klien.
 3015:Kepuasan
manajemen kasus .
 3012:Kepuasan
terhadap pengajaran
 3015:Kepuasan
manajemen kasus
 3003:Kepuasan
keberlanjutan
perawatan
 3016: Kepuasan
manajemen nyeri
 3007:Kepuasan ;
lingkungan fisik
 3011:Kepuasan klien
; kontrol gejala

Domain VI; Kesehatan


keluarga
Kelas Z; Kualitas hidup
keluarga
 2606:Status
kesehatan keluarga

Kelas X; Family well


being.
 2600: Koping
keluarga
 2602:Fungsional
keluarga .
 2606:Status
kesehatan keluarga .
 2605:artisipasi
keluarga dalam
perawatan .

Prevensi Tersier; Prevensi Tersier;


Domain VI; Kesehatan Domain 5; Keluarga
keluarga
Kelas X; Perawatan
Kelas Z; Kualitas hidup siklus kehidupan.
keluarga  7140: Dukungan
 2605:Partisipasi tim keluarga (193).
kesehatan dalam  7120:Mobilisasi
keluarga . keluarga (190).

Domain 6: Sistem
Kesehatan
Kelas B; Manajemen
informasi
 7910: Konsultasi
(131).
 7920:Dokumentasi
(151).
 7980:Pencatatan
insidensi kasus
 8080: Test diagnostik
.
 8100:Rujukan (320).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2016. http://scribd. 306645991-Askep-Komunitas-Hipertensi.doc diakses pada 22-10-
2018.
Anonim. 2018. http://axa.co.id/inspirasi/penyakit-kronis-yang-dapat-menyerang-di-usia-muda/
diakses pada 22-10-2018.
Anonim. 2014. www.infodatin-diabetes.pdf diakses pada 22-10-2018.
Supriyanto, dkk. 2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013 diakses pada 22-10-2018.