Anda di halaman 1dari 6

1.

Sample kasus TURNER


a. BRIDGE HEADER
RESIDENTIAL MOBILITY DI PINGGIRAN KOTA SEMARANG JAWA TENGAH

Kajian penelitian ini meliputi kajian penyebab perkembangan permukiman kumuh karena
faktor ekonomi dan faktor geografi yang berkaitan dengan penemuan fenomena baru yang
tidak sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Turner (1968).

Landasan teori Salah satu penyebab munculnya permukiman kumuh adalah

 adanya urbanisasi yang tidak terkendali, proses pengkotaan (urbanisasi) baik secara
fisik maupun karena adanya mobilitas penduduk dari luar perkotaan berakibat
terhadap adanya krisis perumahan (Drakakis- Smith,1980).
 Peningkatan kebutuhan akan lahan untuk bertempat tinggal bagi penduduk kota yang
tidak diimbangi dengan peningkatan luas lahan akan menyebabkan terjadinya
pemadatan rumah mukim (densifikasi) dan menurunnya kualitas permukiman itu
sendiri (deteriorisasi), dua hal tersebut merupakan faktor yang menyebabkan proses
taudifikasi berjalan terus menerus.
 Masuknya penduduk dengan berbagai aktifitasnya dari daerah hinterland kota ke
daerah perkotaan, ternyata tidak diimbangi dengan sikap serta kultur kota, hal ini
tercermin dari ketidaksiapan para migran yang datang kekota, baik dari segi
ketrampilan, pendidikan, maupun mental kultural. Ketidaksiapan tinggal di tempat
yang baru dengan berbagai bentuk budaya yang baru, mengakibatkan para pendatang
di perkotaan ini menjadi tidak produktif.

Metode Penelitian ini berlokasi di kota Semarang yang ditentukan berdasarkan purposive,
pertimbangan utama kota Semarang sebagai daerah penelitian adalah :

(1) Daerah penelitian telah ditentukan dengan berdasarkan pada tujuan penelitian yang akan
mengkaji penyebab berkembangnya permukiman kumuh, penyebab dari perkembangnya
permukiman kumuh ini dilihat dari faktor penyebab ekonomis, geografis.

(2) Adanya variasi keruangan di dalam struktur intern kota Semarang yakni adanya
perbukitan di daerah peri-peri, daerah dataran rendah di daerah selaput kota dan inti kota
serta daerah costal (pantai) di pinggiran sebelah utara yang tentu saja akan sangat
berbeda fenomenanya dikaji dari factor penyebab, berkembangnya permukiman kumuh,
hal ini yang sesuai dengan pendekatan keruangan dalam studi Geografi yang akan
dipergunakannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh daerah permukiman
kumuh yang ada di Kota Semarang yang luasnya meliputi 876 Ha dan tersebar di berbagai
pelosok Sampel penelitian diambil pada daerah inti kota, selaput inti kota dan daerah
pinggiran kota, penentuan daerah sampel ini berdasarkan pembagian zone kota- Desa
oleh Bintarto (1989). Daerah sample penelitian meliputi Kelurahan Mrican yang berada di
Pusat kota, Kelurahan Pekunden yang berada di selaput inti kota, Kelurahan Karangrejo
Kecamatan Gajahmungkur yang berada di Jatingaleh dan mewakili daerah pinggir kota
yang berada di perbukitan, Kelurahan Tandang Kecamatan Tembalang yang berada di
Kuburan Cina juga sekaligus mewakili daerah pinggiran kota di dataran rendah, serta
Kelurahan Bandarharjo sebagai gambaran untuk wilayah pinggiran kota yang berada di
pantai, jumlah responden adalah sebanyak 250 kepala keluarga.
Alasan utama berdasarkan teori Turner (1972) yakni bagi masyarakat berpenghasilan rendah
dan sangat rendah, faktor jarak antara lokasi rumah dengan tempat kerja menempati prioritas
utama, ternyata hanya berlaku pada daerah penelitian yang letaknya di daerah yang dekat
pusat kegiatan dalam hal ini adalah mereka yang tinggal di Kelurahan Pekunden. Alasan utama
mereka yang menjadikan proksimitas sebagai alasan utama adalah karena mereka sebagian
besar (41,5 %) penduduknya bermata pencaharian sebagai pedagang keliling, daerah tempat
jualan tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka yakni di sekitar mal-mal, serta di tepian
atau perempatan jalan yang dekat Residential Mobility di Pinggiran Kota Semarang.

Di Kelurahan Karangrejo Kecamatan Gajahmungkur yang terletak di derah Jatingaleh, keadaan


permukiman kumuh di daerah ini paling banyak adalah rumah sederhana, yakni rumah
dengan tiang dari kayu, sedangkan hampir sebagian besar partisinya terbuat dari gedek
bambu dengan lantai masih dari tanah yang diratakan, rumah dengan kategori sementara ini
mencapai 52 %. Didalam penelitian ditemukan bahwa keberadaan rumah sementara yang
demikian banyak ini, disebabkan karena adanya social capital yang cukup besar di dalam
masyarakat. Penduduk yang bertempat tinggal di daerah tersebut dan pada saat akan
mendirikan rumah tinggal, maka para tetangga akan membantu dalam bentuk tenaga serta
materi, materi dalam hal ini adalah membantu penyediaan bambu. Faktor Geografi Faktor
geografi dalam hal ini adalah meliputi letak dan ketersediaan lahan, lahan 140 di perkotaan
khususnya untuk perumahan semakin sulit didapat dan semakin mahal, hal ini tentu saja di
luar keterjangkaun sebagian besar anggota masyarakat, sulitnya akses untuk memperoleh
lahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah antara lain disebabkan oleh spekulasi lahan,
kepemilikan lahan yang berlebihan oleh pihak-pihak tertentu, aspek hukum kepemilikan, dan
ketidak jelasan kebijaksanaan pemerintah dalam masalah lahan (Abrams; 1969). Hal inilah
yang menjadi pemicu munculnya kantong-kantong permukiman kumuh di kota-kota besar,
munculnya permukiman kumuh di kota-kota besar khususnya di Indonesia tidak terlepas dari
fenomena mobilitas penduduk yang ditengerai adanya gerakan sentry fugal dan sentry petal.
Gerakan sentripetal dan sentrifugal ini mengacu pada toeri kekuatan dinamis (dinamyc forces
theory) yang dikemukakan oleh Colby (1933).

b. CONSOLIDATOR

Penghuni Rumah Tipe Kecil Griya Pagutan Indah, Mataram


Sesuai dengan judul penelitian yaitu Dinamika Pemenuhan Kebutuhan Perumahan Masyarakat
Berpenghasilan Rendah (Studi Kasus: Penghuni Rumah Tipe Kecil Griya Pagutan Indah Mataram) maka
ruang lingkup substansi disini harus dapat menggambarkan dinamika kebutuhan perumahan pada
masyarakat berpenghasilan rendah. Yang dimaksud dinamika pemenuhan kebutuhan perumahan
masyarakat berpenghasilan rendah disini adalah suatu perubahan naik-turunnya pemenuhan
kebutuhan perumahan masyarakat berpenghasilan rendah yang dipengaruhi oleh situasi dan kondisi
yang ada. Sedangkan pemenuhan kebutuhan perumahan masyarakat berpenghasilan rendah adalah
bagaimana masyarakat berpenghasilan rendah merespon kebutuhan perumahannya. Sedangkan yang
dimaksud dengan kebutuhan perumahan adalah Kebutuhan manusia terhadap rumah,sebagaimana
disampaikan Maslow dalam Budiardjo (1994) yaitu meliputi :
1.kebutuhan fisiologis (tempat berlindung, tempat istirahat dll);

2.kebutuhan rasa aman (untuk beribadah, menyimpan barang dll);

3.kebutuhan sosial (sebagai sarana berinteraksi sosial);

4.kebutuhan harga diri, kehormatan dan ego;

5.kebutuhanaktualisasi diri.

Dalam penelitian ini ditinjau dari sisi masyarakat berpenghasilan rendah, yang mana pada studi kasus
ini adalah penghuni rumah tipe kecil Griya Pagutan Indah Mataram. Materi studi yang akan dikaji
dalam penelitianini dibatasi mengenai:Dinamisasi pemenuhan kebutuhan perumahan ditinjau dari sisi
penghuni rumah tipe kecil dengan mengidentifikasi karakteristik kawasan, pemanfaatan fasilitas,
proses tinggal pada perumahan,proses timbulnya kebutuhan perumahan,proses pemenuhan
kebutuhan perumahan,nilai rumah bagi penghunidan nilai rumah bagi penghuni rumah tipe kecil.

Ruang Lingkup Wilayah


Untuk dapat melihat dinamika yang terjadi pada kebutuhan perumahan masyarakat berpenghasilan
rendah makaruang lingkup wilayah studi kasus yang dilakukan harus terletak di kawasan perumahan
untuk masyarakat berpenghasilan sedang dan telah mempunyai cukup waktu masa huni untuk dapat
melihat perkembangan dan pertumbuhannya. Dalam hal ini pengembang perumahan untuk
masyarakat berpenghasilan rendah terbesar di Indonesia adalah Perum Perumnas. Dan untuk masa
huni yang ideal adalah lebih kurang lima belas tahun, karena dengan masa huni lima belas tahun dapat
terlihat pertumbuhan fisik perumahan yang terjadi.

Satu-satunya perumahan yang memenuhi kedua syarat tersebut adalah Perumahan Griya Pagutan
Indah Kota Mataram

. Karena pada perumahan tersebut dibangun oleh Perum Perumnas pada tahun 1994. Dan pada
kawasan tersebut terlihattingginya pertumbuhan fisikbangunan dengan berbagai macam latar
belakang penghuni. Lokasi Permahan Griya Pagutan Indahinidibatasi oleh :

-Sebelah Barat adalah Kampung Jempong dan IAIN;

-Sebelah Selatan adalah Jl. Banda Seraya;

-Sebelah Timur adalah Jl. Batu Bolong dan

-Sebelah Utara adalah Perumahan Mutiara Pagutan

Berdasarkan kajiandi atas, makadilakukansuatu penelitian tentang pemenuhan kebutuhan dinamis


perumahan pada rumah tipe kecil.Sehingga diharapkan dapat diperoleh dinamika kebutuhan
perumahan pada masyarakat berpenghasilan rendah penghuni rumah tipe kecilGriya Pagutan Indah
Mataram untuk mengatasi masalah keterbatasan ruang.
c. STATUS SEEKER
Sukolilo Dian Regency merupakan perumahan yang berada di Kelurahan Keputih, Sukolilo.
Perumahan ini di bangun di area seluas 11,8 hektar dengan jumlah 672 unit. Jenis tanah pada
lahan ini adalah tanah lunak (lumpur) sampai dengan kedalaman -20 m. Lahan perumahan
Dian Regency ini mungkin berjarak sekitar 9-10m dari lokasi tambak ikan yang masih aktif.
Perumahan Dian Regency terletak di daerah Surabaya Timur, tepatnya di Jl. Sukolilo Kasih no.
20 Surabaya. Perumahan ini dekat dengan Galaxy Mal dan East Cost serta ITS dan HangTuah.

Hanya ada satu akses untuk menuju lokasi. Perumahan Dian Regency ini mudah dijangkau
melalui Jl. Arif Rahman Hakim dan juga ada rencana pembangunan Outer East Ring Road yang
menghubungkan perumahan Dian Regency untuk mencapai Suramadu, Perak, dan Bandara
Juanda. Namun, untuk mencapai angkutan umum, lumayan jauh dijangkau dari perumahan
ini.

Karakteristik Lokasi dan Lingkungan Permukiman

Perumahan Sukolilo Dian Regency merupakan perumahan yang memiliki segmen kalangan menengah
ke atas dengan rata-rata rumah berlantai satu. Harga lahan di perumahan ini dari data yang
didapatkan pada tahun 2014 dan wawancara yaitu sebesar Rp. 2.000.000 –2.500.000/m2

Kondisi lingkungan perumahan dari segi kenyamanan cukup nyaman tidak ada penggunaan lahan yang
mengganggu lokasi perumahan seperti industri, kondisi perumahan juga relatif sepi. Dari segi
keindahan kondisi lingkungan perumahan bersih dan banyak ruang terbuka hijau. Keamanan
lingkungan perumahan ditunjang dengan adanya pos-pos keamanan di dalam lingkungan perumahan
Sukolilo Dian Regency

Fasilitas Pendidikan

Pendidikan adalah salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan kota,
termasuk tingkat kecerdasan masyarakat. Di Surabaya, pengembangan kegiatan pendidikan beserta
penyediaan fasilitasnya, tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, namun juga oleh pihak swasta dan
organisasi sosial kemasyarakatan. Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, pendidikan di Indonesia dikelompokan menjadi pendidikan formal, informal,
PAUD, kedinasan, keagamaan, pendidikan khusus dan layanan khusus. Fasilitas pendidikan di
Perumahan Sukolilo Dian Regency terdiri dari pendidikan formal. Pendidikan formal tersebut berupa
TK, SD,SMP dan SMA. Wilayah studi terdapat fasilitas pendidikan yaitu ITS ,Universitas Hang Tuah,
SMKN 10 Surabya, dan SD Muhammadiyah.

Fasilitas Peribadatan

Fasilitas peribadatan merupakan sarana yang penting untuk kebutuhan rohani manusia. Fasilitas
peribadatan di Perumahan Sukolilo Dian Regency terdapat Masjid AL-Mabruk dan Masjid Al-Ikhlas
yang berlokasi di dekat gerbang masuk dan dalam Perumahan Sukolilo Dian Regrency.

Fasilitas Kesehatan

Fasilitas kesehatan merupakan sarana yang penting untuk memberikan akomodasi bagi masyarakat
dalam hal kesehatan. Kondisi eksisting ketersediaan fasilitas kesehatan yang berada di kawasan
Perumahan Sukolilo Dian Regency adalah beberapa praktek dokter, apotek dan puskesmas pembantu.
Berikut adalah fasilitas kesehatan yang terdapat di Perumahan Sukolilo Dian Regency.
2. TEORI NJ HABRAKEH SUPPORT & INFILL