Anda di halaman 1dari 13

TECHNOLOGY AND OPERATION MANAGEMENT

ANNOTATED PAPER

Submitted by Group 4 (D’Crepes Case)

Agi Enra Poetra


Muthia Cita Hapsari
Febry Choirunnisa
Muhammad Dafin Almas Sumedi
Arwanda Wahyu Irawan

Lectured by
Rika Fatimah P.L., M.Sc., Ph.D.

FACULTY OF ECONOMICS AND BUSINESS


GADJAH MADA UNIVERSITY
JAKARTA
2018
I. Pendahuluan

Pada penulisan Annotated Paper ini penulis memilih untuk menggunakan 3 jurnal yaitu:

1. “Moving From Job – Shop To Production Cells Without Losing Flexibility : A


Case Study From The Wooden Frames Industry”
2. “Shifting from Conveyor Lines to Work Cell Based Systems: the Case of
Consumer Electric Products Manufacturer in Brazil.”
3. “Critical Analysis of Layout Concepts: Fuctional Layout,Cell Layout,Product
Layout,Modular layout,Fractal Layout,Small Factory Layout.”

Jurnal “Moving From Job – Shop To Production Cells Without Losing Flexibility : A Case
Study From The Wooden Frames Industry” karya J. Dinis Carvalho dan A.C.Alves serta R.M
Sousa menjelaskan metode pendekatan secara cellular yang biasa di sebut sebagai suatu
paradigma gabungan antara job – shop dan flow – line. Metode Cellular dipandang sebagai
metode yang dapat mengatasi rendahnya produktivitas dari job – shop dan kurangnya
fleksibilitas variasi produk dari flow – line. Jurnal ini menjelaskan bagaimana implementasi
dari layout cell terhadap unit produksi yang mengadopsi metode job – shop, dapat
meningkatkan kinerja tanpa mengurangi fleksibilitas dalam menghadapi permintaan pasar.
maka jurnal ini dapat memberikan gambaran serta kelebihan dalam pengimplementasian layout
cell yang dilakukan pada industri manufaktur.
Jurnal selanjutnya yang penulis pilih untuk membuat annotated paper ini adalah “Shifting
from Conveyor Lines to Work Cell Based Systems: the Case of Consumer Electric Products
Manufacturer in Brazil.” Karya Drio Ikuo Miyae dan Renato de Lima Sanctis serta Felipe
Salomao Banci. Pada jurnal ini mereka membahas bahwa penggunaan Conveyor belt dalam
dalam proses produksi yang memiliki pembagian tugas dengan siklus pendek sudah sangat
membebani perusahaan karena terutama dalam pola operasional manufaktur. Apalagi saat ini
kebanyakan perusahaan manufaktur di hadapkan dengan tantangan untuk memproduksi
barang-barang dengan permintaan yang beragam dan dengan volume yang tinggi.
Dengan menggunakan Mixed-Model Assembly Lines mereka dapat memperpanjang
tingkat penggunaan Conveyor Belt akan tetapi sebagian perusahaan malah mengabaikan hal
tersebut dan malah memilih untuk berpindah system dan mengadopsi sistem work cell. Oleh
karena itu kami melihat bahwa paper tersebut dapat kami pilih dan lakukan analisis untuk
pembuatan annotated paper ini karena menurut studi yang dilakukan penulis paper tersebut
pada perusahaan elektronik di Jepang bahwa dengan penggantian sistem tersebut dari
Conveyor Lines System ke metode work cell semakin menambah produktifitas kapasitas
produksinya.
Pada Jurnal yang berjudul “CRITICAL ANALYSIS OF LAYOUT CONCEPTS:
FUNCTIONAL LAYOUT, CELL LAYOUT, PRODUCT LAYOUT, MODULAR LAYOUT,
FRACTAL LAYOUT, SMALL FACTORY LAYOUT” Karya Alessandro Lucas da Silva dan
Edwin Cardoza membahas mengenai konsep tentang Traditional layout dan New layout dan
cara menganalisanya dari perspektif Lean Production Philosophy. Konsep tradisional Layout
terdiri dari Cell Layout, Positional Layout dan Product Layout sedangkan konsep New Layout
terdiri dari Modular layout, Fractal Layout, dan Small factory Layout. Filosofi Lean
Production system di kembangkan pada Toyota Motor Company oleh Taichi ohno dan saat ini
banyak perusahaan telah mengadopsi hal tersebut. Menganalisis Layout berdasarkan analisis
kriteria seperti aliran kontinu, inventaris, transportasi, manajemen visual dan lainnya. Variabel-
variabel inilah yang menjadi poin penting dalam lean production system. Jadi, berdasarkan
poin-poin tersebut akan ditentukan layout mana yang mendekati lean production system.

Dari ke enam model layout di atas, model cell layout lah yang paling mendekati konsep
lean production system. Hal ini dikarenakan aliran yang kontinu, pengurangan dalam pekerjaan
di tingkat proses dan membuat manajemen visual lebih baik. Sehingga membuat kontrol
terhadap kualitas lebih sederhana dan efisien. Cell layout juga didasarkan pada penggunaan
tenaga kerja secara multifungsi dan penjadwalan produksi dalam model ini menjadi sederhana
dikarenakan peralatan tersebut di tujukan sesuai dengan aliran produk.

Masalah dari cell layout yaitu low flexibility pada fluktuasi dalam produk mix. Seperti tata
letak produk dan mesin-mesin yang digunakan sehingga jika akan membuat produk baru yang
memiliki aliran yang berbeda harus menyesuaikan lagi layout nya. Dan hal ini akan sulit
disebabkan biaya, waktu dll. Hal ini juga lah yang dialami oleh D’crepes, penambahan produk
tidak dapat di lakukan sebab akan dilakukan penyesuaian lagi, produk hanya dapat di lakukan
perubahan berupa inovasi di bagian topping.

Dari jurnal ini kita dapat melihat dan membandingkan kelebihan dan kekurangan dari ke
enam model layout tersebut sehingga perusahaan dapat memilih mana layout yang paling
sesuai digunakan pada model bisnisnya.
II. Research Method
Pada jurnal yang pertama yaitu “Moving From Job – Shop To Production Cells Without
Losing Flexibility : A Case Study From The Wooden Frames Industry” karya J. Dinis Carvalho
dan A.C.Alves serta R.M Sousa menggunakan metode riset yaitu secara umum mereka
melakukan tinjauan pustaka di awal untuk melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing
jenis layout beserta kegunaan nya dari sisi kompleksitas dan kebutuhan permintaan yang harus
di penuhi pabrik tersebut dalam memproduksi barang pada berbagai macam tipe menufaktur
suatu barang di pabrik.sebagai contoh dalam tipe layout Job Shop biasanya di gunakan pada
industri yang menuntut perubahan pada permintaannya secara cepat dan produk yang memiliki
beragam variasi untuk memenuhi berbagai permintaan di pasar. Sementara itu pada layout
Flow Shops di rancang untuk memenuhi produksi barang dengan kekhususan tertentu sehingga
memungkinkan tingkat produktifitas yang tinggi dan kualitas yang baik pula karena dengan
layout ini memungkinkan proses produksi terfokus pada suatu jenis produk tertentu dan pada
layout ini memiliki beberapa kekurangan yaitu konfigurasinya tidak flexible sehingga susah
dalam mengikuti perubahan permintaan pada pasar. Jenis layout selanjutnya yang biasa di
pakai dalam suatu proses produksi adalah cellular layout yaitu suatu bentuk layout yang
memungkinkan arus barang dan pekerjaan bisa cepat dan efektif dari sisi waktu, luasan tempat,
dan juga informasi. Pada sistem layout ini memiliki berbagai keunggulan yaitu pergerakan
transport material menjdi lebih sedikit dari sisi jarak dan juga terdapat peningkatan pada level
of involvement dan juga motivasi, komitmen dan juga tanggung jawab pada operator layout
celular yang meningkatkan kualitas dan menurunkan biaya.
Metode riset selanjutnya yang digunakan adalah melakukan penelitian langsung di pabrik
atas penggunaan perubahan layout di dalam aplikasi industri frame kayu untuk keperluan
dekorasi yang memiliki layout terpasang saat ini adalah berbentuk Job Shop atau Fuctional
Layout dan saat ini dengan menggunakan layout tersebut memiliki performance seperti:

Indicator Existing Production Unit


Occupied Area 880 M2
WIP 1385 Units
Throughput Time 1 Working Week (5 Days)
Production Rate 277 Units/Day
Workers 8
Productivity 35 Units/Day/ Worker
Value Adding Time 0,12 %
Distance Travelled by Products 100 m

Setelah pengaplikasian sistem workcell mereka melihat adanya peningkatan performa produksi
seperti:

Setelah penggunaan layout Cellular maka terjadi peningkatan pada berbagai aspek seperti:

Dan production parameter seperti di bawah ini:

Untuk pengaplikasian pada jurnal “Shifting from Conveyor Lines to Work Cell Based
Systems: the Case of Consumer Electric Products Manufacturer in Brazil”, metode riset
berdasarkan dari pembelajaran studi kasus yang ada. Kasus yang dipelajari pada jurnal ini
melibatkan produk elektronik pabrikan ternama di Brasil. Pada tahun 2005, perusahaan
membuat proyek untuk membentuk konsep baru yang dapat menggantikan sistem lama yang
sudah diterapkan oleh perusahaan dengan basis work – cell. Dua penulis jurnal ini terlibat
langsung dalam proses tersebut dan tergabung ke dalam tim CEPM-Br yang melakukan proyek
ini. Tidak hanya penulis dapat mengamati secara langsung dan mendapatkan akses data,
penulis juga dapat mengikuti perkembangan secara nyata dan dapat memahami isu – isu yang
berkaitan beserta konsep dasarnya.
Studi ini dilakukan dalam dua tahap yang dilakukan dalam rentang satu tahun. Pada
tahap pertama, salah satu penulis sudah mengikuti proyek ini dari awal ketika masih mengikuti
program intern. Hal ini memungkinkan untuk dapat memahami proses awal, perubahan yang
terjadi, dan realisasi deskripsi rinci tentang kasus ini. Pada tahap kedua, ketika proses
perubahan sudah berkembang secara substansial, penulis kedua berperan menjadi agen
perubahan dalam kontribusi yang ada dan menilai ex – post kasus serta hasilnya. Analisa kasus
juga didukung oleh tiga sumber informan lainnya. Sebuah perusahaan manajer senior yang
mendukung proses perubahan ini, dan oleh dua anggota staf yang dipekerjakan di unit analisis
yang berpartisipasi dalam proses perubahan sebagai analis dukungan kaizen. Oleh karena itu,
ketiganya memiliki pemahaman mendalam tentang aspek operasional dari kasus ini. Informasi
tambahan juga dapat langsung dikumpulkan dari memoranda tiga tamu kunjungan peneliti
utama dari proyek ini. Sumber-sumber primer lainnya seperti laporan internal dan presentasi,
video dokumenter, dan data spreadsheet juga menjadi penujang dalam studi kasus ini.

Pada Jurnal “CRITICAL ANALYSIS OF LAYOUT CONCEPTS: FUNCTIONAL LAYOUT,


CELL LAYOUT, PRODUCT LAYOUT, MODULAR LAYOUT, FRACTAL LAYOUT, SMALL
FACTORY LAYOUT” ini mengacu pada bagaimana membandingkan ke enam model layout
dengan criteria untuk mengevaluasi layout tersebut sehingga di dapatkan hasil yang paling
mendekati Lean Production System. Kriteri-kriteria yang di gunakan dalam membandingkan
yaitu :

1. Handling and transport. Adalah 2 hal yang dharus di hilangkan dari perspektif Lean
Production. Jadi letak mesin harus minimum pergerakan material dan produk di dalam
pabrik.
2. Continous flow. Rother dan Harris (2002) mencatat bahwa continous flow adalah hal
yang utama dalam Lean Production. Sehingga layout harus direncanakan sesuai dengan
tujuan produksi, dan memungkinkan produk mengalir lancar dan terus menerus
diantara workstation.
3. Visual Manajemen. Layout harus memungkinkan untuk divisualisasikan sehingga
mudah untuk terliat, setidaknya langkah-langkah dari suatu proses produksi bisa jelas.
4. Flexibility. Permintaan akan produk yang berbeda dan musiman dalah factor yang
mendorong perusahaan untuk fleksibel. Artinya layout harus memungkinkan untuk
perusahaan agar dapar menyesuaikan dengan cepat dan efisien bauran produksi dan
volume produksi sesuai dengan banyaknya permntaan.
5. Inventory . Penempatan peralatan harus meminimalkan jarak antar mesin sehingga
lebih efektif.
6. Quality . Dampak layout dalam kualitas produksi yang baik adalah memungkinkan
aliran produk dapat berjalan lancar sehingga proses menjadi lebih cepat.
7. Utilization of multifungtional workforce. Kedekatan workstation dapat
memungkinkan suatu operator untuk bekerja pada banyak perangkat secara bersamaan.
Walaupun bukan satu-satunya alasan yang memngkinkan agar tenaga kerja dapat
bekerja secara multi fungsi, namun hal ini adalah salah variable yang membuat tenaga
kerja dapat bekerja secara mlti fungsi.
8. Complexity level of production scheduling. Tingkat kompleksitas penjadwalan
produksi berkorelasi dengan aliran produksi. Jadi semakin besar kompleksitasnya maka
semakin sulit penjadwalan workstation produksi.

Sehingga dari kriteria-kriteria di atas dapat disimpulkan bahwa Cell Layout lah yang paling
mendekati Lean Production system.

III. Results Findings


“Shifting from Conveyor Lines to Work Cell Based Systems: the Case of
Consumer Electric Products Manufacturer in Brazil” Sistem perakitan work cell
memungkinkan banyaknya produksi berskala kecil dan menjadikan Pabrik dapat beroperasi
lebih responsif. Sistem produksi baru memungkinkan produksi secara simultan dengan jumlah
yang lebih besar, yaitu 5 produk lebih banyak dari 3 di sistem sebelumnya. Implementasi work
cell pilot dan perubahan sistem produksi secara keseluruhan dapat mengungkap limbah dan
masalah yang melekat pada sistem konveyor lama. Selanjutnya, pengalaman ini menunjukkan
bahwa sistem perakitan yang berbasis work cell dapat menjadi pendorong utama untuk
mencapai tujuan strategis dari tim CEPM-Br, meningkatkan keunggulan operasional, dan
memperkuat daya saingnya.

Gambar 1.1

Layout conveyor line assembly vs pilot work cell assembly

Dalam periode kasus ini, mata uang Brasil mengalami penguatan apresiasi sekitar
10,5% terhadap dolar AS. Hal ini memicu adanya dampak yang serius terhadap kapasitas
ekspor produsen di negeri ini. Meski begitu, efisiensi yang diperoleh dengan adanya adopsi
sistem produksi baru memungkinkan untuk mempertahankan daya saing harga produk yang
berorientasi kepada ekspor CEPM-Br dan mencegah terjadinya pemindahan produksi ke
negara-negara yang lebih rendah. Migrasi sistem lama ke sistem work cell ini dilakukan
mengingat keuntungan yang signifikan dan keuntungan operasional yang diamati dalam tahap
inisiasi awal, potensi yang ada, dan kompetensi substansial yang dikembangkan oleh proyek
yang melibatkan tim. Manajemen puncak CEPM-Br telah menetapkan rencana untuk
mengadopsi sistem baru ini di situs manufaktur lainnya di Brasil yang melibatkan proses
perakitan akhir produk. Di tingkat korporat, CEPM sedang mempertimbangkan penerapan
pendekatan ini di unit manufaktur yang berlokasi di belahan dunia lainnya . Lebih lanjut, hal
ini menunjukkan kemungkinan pengalihan sistem lama ke sistem berbasis work cell.
Gambar 1.2

Task time conveyor line vs pilot work cell

Terlepas dari potensi penerapan ruang lingkup yang luas, penting untuk diperhatikan
bahwa adopsi sistem ini seharusnya tidak dianggap sebagai satu – satunya cara yang paling
efisien dan efektif. Bahkan, manajer CEPM-Br mengakui bahwa tergantung pada keadaan,
pemanfaatan sistem conveyor line harus tetap disimpan sebagai pengganti sistem berbasis work
cell. Mengingat bahwa jalur produksi yang didedikasikan untuk satu standar produk (atau
keluarga produk yang terdiri dari variasi minimum) dimana proses yang sangat spesifik,
membutuhkan investasi modal besar dalam fabrikasi dan teknologi perakitan. Karena dari
sudut pandang pengembalian investasi, pergeseran kepada pendekeatan work cell tidak akan
dibenarkan,

Dengan memperkuat kemampuan operasional dalam proses perakitan, Manajemen


CEPM-Br kini telah menetapkan tujuan untuk memperkenalkan kembali produk dengan model
volume rendah yang sempat dihapus dari katalog, sekaligus meluncurkan produk baru dengan
elemen yang dapat dikostumisasi. Mempertimbangkan masalah mengenai pendekatan
organisasi produksi yang menyerupai sistem work cell oleh pabrikan Jepang, studi pada kasus
ini mendukung transferabilitas dan kelayakan pelaksanaan yang efektif dalam pengaturan
industri produk listrik konsumen di Brasil. CEPM-Br akan membangun lebih banyak sistem
hemat biaya yang memungkinkan produksi dalam jumlah yang lebih kecil dan untuk
meningkatkan kualitas produk.

Tabel
Data perbandingan hasil

Jurnal yang berjudul “Critical Analysis of Layout Concepts: Functional Layout, Cell
Layout, Product Layout, Modular Layout, Fratural Layout, Small Factory Layout” Karya
Alessandro Lucas da Silva dan Edwin Cardoza.
Jurnal ini menjelaskan setelam meng-compare dengan kriteria-kriteria diatas maka
ditemukan lah bahwa model cell layout lah yang paling mendekati konsep lean production
system. Hal ini dikarenakan aliran yang kontinu, pengurangan dalam pekerjaan di tingkat
proses dan membuat manajemen visual lebih baik. Namun perlu di garis bawahi bahwa Biaya
tetap menjadi factor yang memberikan dampak yang sangat besar. Sehingga tidak ada cara
menentukan layout apa yang dapat digunakan untuk banyak situasi yang berbeda. Maka dari
itu penting untuk menganasis setiap situasi dan menerapkan konsep layout yang paling sesuai
dengan situasi tersebut.
Begitu pula di d crepes, penempatan dan bentuk layout di tiap lokasi berbeda satu dan
yang lainnya. Hal ini karena kesadaran manajemen d crepes bahwa perlunya analisis situasi
yang ada dengan penerapan konsep layout yang berbeda di tiap tempatnya. Hal ni untuk
menunjang efektifitas dan efisiensi serta meminimalkan biaya yang merupakan faktor yang
paling berpengaruh ditiap tempatnya.
Pada jurnal “Moving From Job Shop to Production Cells Without Losing Flexibility: A
Case Study From the Wooden Frames Industry” disini mereka menemukan bahwa semua
elemen yang dikembangkan untuk mencapai kesuksesan implementasi sistem Work Cell. Dan
terdapat beberapa keunggulan mengapa penerapan Work Cell pada industri kayu dan cermin
ini bisa menghasilkan performa yang lebih baik dan pada objek penelitian ini adalah pekerja
yang di interview oleh penulis sebanyak 7-8 orang yang ikut dalam proyek tersebut dalam
layout kerja sebelumnya yaitu Job-Shop Production Unit.
Beberapa perkembangan yang terkait dengan performa perusahaan dalam hal kapasitas
produksi dapat di tunjukkan pada tabel berikut:

Dan dari penerapan sistem Work-Cell ini berdampak pada penurunan tenaga kerja
dari 8 orang menjadi 3 orang sehingga konsekuensinya terjadi peningkatan produktifitas
sebesar 242,9 Cent sebagai akibat dari penghilangan beberapa aktivitas yang non-value.
Beberapa contoh aktifitas yang hilang diantaranya adalah:
1. Transporting material dari satu station ke station yang lainnya
2. Handling empty pallets
3. Reworking due to previous operation errors
4. Handling products from pallet to machines and machines to pallet
5. Searching for the pallet truck
Dampak dari penerapan Workcell ini adalah peningkatan production parameter yaitu:

IV. Recommendation
Setelah kami membaca tiga jurnal di atas kami menyimpulkan bahwa penerapan
Work Cell sangat membantu dalam meningkatkan produktifitas. Dari dua jurnal diatas yang
berjudul “Shifting from Conveyor Lines to Work Cell Based Systems: the Case of Consumer
Electric Products Manufacturer in Brazil” dan “Moving From Job Shop to Production
Cells Without Losing Flexibility: A Case Study From the Wooden Frames Industry”
terbukti bahwa penerapan work cell dalam menggantikan sistem conveyor line mengurangi
tingkat non-value activities, seperti perpindahan material dan memindahkan pallet kosong
untuk di isikan kembali produk yang akan di transport .
Hal ini juga sesuai dengan jurnal “Critical Analysis of Layout Concepts: Functional
Layout, Cell Layout, Product Layout, Modular Layout, Fratural Layout, Small Factory
Layout” yang menunjukkan bahwa cell layout mempunyai keunggulan dari layout – layout
lainnya. Hal ini disebabkan sesuai dengan konsep Lean Production yang di perkenalkan
pertama kali oleh Toyota, Cell layout lah yang paling mendekati konsep tersebut. Hal ini
dikarenakan aliran yang kontinu, pengurangan dalam pekerjaan di tingkat proses dan
membuat manajemen visual lebih baik. Sehingga sesuai dengan konsep bisnisnya, Cell
Layout sudah sangat tepat di gunakan pada perusahaan D’crepes.
REFERENSI

Heizer,J. And Render,B. 2013, Operation Management. 11th Edition. Prentice Hall

Critical Analysis of Layout Concepts: Functional Layout, Cell Layout, Product Layout,
Modular Layout, Fratural Layout, Small Factory Layout”, Alessandro Lucas da Silva and
Edwin Cardoza.

Moving From Job – Shop To Production Cells Without Losing Flexibility : A Case Study
From The Wooden Frames Industry” J. Dinis Carvalho dan A.C.Alves serta R.M Sousa

“Shifting from Conveyor Lines to Work Cell Based Systems: the Case of Consumer
Electric Products Manufacturer in Brazil.” Drio Ikuo Miyae dan Renato de Lima Sanctis
serta Felipe Salomao Banci